Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

BAYI BARU LAHIR (BBL)

Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners


Departemen Maternitas di Puskesmas Kepanjen Kabupaten Malang

Oleh:
Puput Lifvaria Panta A.
NIM: 1700703011111048

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
A. Definisi

Neonatus adalah masa sejak lahir hingga 28 hari (Bobak dan Jensen, 2005
: 572). Sedangkan Hamilton, Persis (2005 : 217) berpendapatan neonatus atau bayi
atau baru lahir adalah dari lahir sampai usia 1 bulan.
periode neonatal atau neonatus adalah bulan pertama kehidupan dan selama
periode neonatal bayi mengalami pertumbuhan dan perubahan yang amat
menakjubkan.
Periode baru lahir atau neonatal adalah bulan pertama kehidupan
(Maryunani & Nurhayati, 2008). Berat rata-rata bayi yang lahir cukup bulan adalah 3,5
3,75 kg dan panjang 50 cm (Simkin, Penny., et al)
Bayi baru lahir memiliki kompetensi perilaku dan kesiapan interaksi sosial.
Periode neonatal yang berlangsung sejak bayi lahir sampai usianya 28 hari,
merupakan waktu berlangsungnya perubahan fisik yang dramatis pada bayi baru lahir
(Bobak dkk, 2005). Pada masa ini, organ bayi mengalami penyesuaian dengan
keadaan di luar kandungan, ini diperlukan untuk kehidupan selanjutnya (Maryunani &
Nurhayati, 2008).
B. Periode dan ciri bayi baru lahir
Periode-periode bayi baru lahir menurut Varney, 2002:
1. Periode I adalah periode reaktivasi pertama yang dimulai pada saat lahir, berlangsung
selama 30 menit pertama setelah lahir. Pada periode ini bayi terjaga dengan mata
terbuka, memberikan respon terhadap stimulus, menghisap dengan penuh semangat
dan menangis. Kecepatan pernafasan sampai dengan 82 kali, denyut jantung sampai
180 kali/menit dan bising usus aktif. perawatan khusus yaitu jaga bayi agar hangat
dengan menggunakan selimut hangat atau lampu penghangat saat ditempat tidur bayi.
2. Periode II adalah periode tidur yang tidak berespon yang berlangsung 30 menit sampai
2 jam setelah lahir. Dalam periode ini bayi berada dalam tidur yang nyenyak. Denyut
jantung menurun selama periode ini hingga kurang dari 140 kali/menit dan kecepatan
pernafasan lambat dan tenang. Bayi mungkin mengeluarkan mekonium dan urin.
Periode ini berakhir ketika lendir pernafasan telah berkurang.
3. Periode III merupakan periode reaktivitas kedua atau periode stabilisasi yang
berlangsung 2 sampai 6 jam setelah lahir. Pada periode ini bayi lebih mudah untuk
tidur dan terbangun. Tanda-tanda vital stabil, kulit berwarna kemerahan dab hangat.
o ciri-ciri bayi baru lahir normal menurut Vaney (2002):
1. Berat badan 2500-4000 gram
2. Panjang badan 48-53
3. Lingkar dada 30,5-33
4. Lingkar kepala 31-35,5
5. Nadi 120-150 X per menit
6. Pernafasan 30-60 per menit
7. Tekanan darah 80-60/45-40 mmHg pada saat lahir dan 100/50 mmHg sampai hari
ke-10
8. Warna kulit berwarna merah muda dan bersih
9. Genetalia wanita labia dan klitoris sering terlihat menonjol, fornik tampak pada
lipatan labia, introitus vagina terlihat kadang-kadang ditemukan lendir (mocoid
show)
10. Reflek hisap dan menelan sudah dibentuk
11. Eliminasi baik, urine, mukonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium
berwarna kuning kecoklatan.
C. Adaptasi Fisiologis
1. Perubahan sistim pernapasan / respirasi
Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui
plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru paru.
a. Perkembangan paru-paru
Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang bercabang
dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus proses
ini terus berlanjut sampai sekitar usia 8 tahun, sampai jumlah bronkus dan alveolus
akan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya gerakan
napas sepanjang trimester II dan III. Paru-paru yang tidak matang akan mengurangi
kelangsungan hidup BBL sebelum usia 24 minggu. Hal ini disebabkan karena
keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru-paru dan
tidak tercukupinya jumlah surfaktan.
b. Awal adanya napas
Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah :
Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang
merangsang pusat pernafasan di otak.
Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru - paru selama
persalinan, yang merangsang masuknya udara ke dalam paru - paru secara
mekanis. Interaksi antara system pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf
pusat menimbulkan pernapasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut
yang diperlukan untuk kehidupan.
Penimbunan karbondioksida (CO2)
Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam darah dan akan merangsang
pernafasan. Berurangnya O2 akan mengurangi gerakan pernafasan janin, tetapi
sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah frekuensi dan tingkat gerakan
pernapasan janin.
Perubahan suhu
Keadaan dingin akan merangsang pernapasan.
c. Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernapas
Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
o Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
o Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali.
o Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat survaktan (lemak lesitin
/sfingomielin) yang cukup dan aliran darah ke paru paru. Produksi surfaktan
dimulai pada 20 minggu kehamilan, dan jumlahnya meningkat sampai paru-paru
matang (sekitar 30-34 minggu kehamilan). Fungsi surfaktan adalah untuk
mengurangi tekanan permukaan paru dan membantu untuk menstabilkandinding
alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasan.
Tidak adanya surfaktan menyebabkan alveoli kolaps setiap saat akhir
pernapasan, yang menyebabkan sulit bernafas. Peningkatan kebutuhan ini
memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa. Berbagai peningkatan ini
menyebabkan stres pada bayi yang sebelumnya sudah terganggu.
o Fungsi sistem pernapasan dan kaitannya dengan fungsi kardiovaskuler
Oksigenasi yang memadai merupakan faktor yang sangat penting dalam
mempertahankan kecukupan pertukaran udara. Jika terdapat hipoksia, pembuluh
darah paru-paru akan mengalami vasokontriksi. Jika hal ini terjadi, berarti tidak ada
pembuluh darah yang terbuka guna menerima oksigen yang berada dalam alveoli,
sehingga menyebabkan penurunan oksigen jaringan, yang akan memperburuk
hipoksia. Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas
dalam alveolus dan akan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan
merangsang perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim. Mekanisme
dijelaskan dalam bagan berikut (Verney, 2010)
2.Perubahan pada sistem peredaran darah
Setelah lahir darah BBL harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan
mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan. Untuk
membuat sirkulasi yang baik, kehidupan diluar rahim harus terjadi 2 perubahan besar:
1. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung
2. Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan aorta.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistem
pembuluh. Oksigen menyebabkan sistem pembuluh mengubah tekanan dengan
cara mengurangi /meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistem
pembuluh. Oksigen menyebabkan sistem pembuluh mengubah tekanandengan cara
mengurangi /meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah. Dua
peristiwa yang merubah tekanan dalam system pembuluh darah:
1. Pada saat tali pusat dipotong resistensi pembuluh sistemik meningkat dan
tekanan atrium kanan menurun, tekanan atrium menurun karena berkurangnya
aliran darah ke atrium kanan tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan volume
dan tekanan atrium kanan itu sendiri. Kedua kejadian ini membantu darah
dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-paru untuk menjalani proses
oksigenasi ulang (Henderson, 2006).
2. Pernafasan pertama menurunkan resistensi pada pembuluh darah paru-paru dan
meningkatkan tekanan pada atrium kanan oksigen pada pernafasan ini
menimbulkan relaksasi dan terbukanya system pembuluh darah paru.
Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan volume darah
dan tekanan pada atriumkanan dengan peningkatan tekanan atrium kanan ini
dan penurunan pada atrium kiri, toramen kanan ini dan penusuran pada atrium
kiri,foramen ovali secara fungsional akan menutup (Henderson, 2006). Vena
umbilikus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusatmenutup secara
fungsional dalam beberapa menit setelah lahir dan setelahtali pusat diklem.
Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung 2-3 bulan.
Sirkulasi darah pada bayi menurut Farrer 2009:
a) Vena umbulicalis : membawa darah yang kaya oksigen dari plasenta ke
permukaan dalam hepar. Vena hepatica meninggalkan hepar dan
mengembalikan darah ke vena cava inferior
b) Ductus venosus : adalah cabang cabang dari vena umbilicalis dan
mengalirkan sejumlah besar darah yang mengalami oksigenasi ke dalam vena
cava inferior
c) Vena cava inferior : telah mengalirkan darah yang telah beredar dalam
ekstremitas inferior dan badan fetus, menerima darah dari vena hepatica dan
ductus venosus dan membawanya ke atrium dextrum
d) Foramen ovale : memungkinkan lewatnya sebagian besar darah yang
mengalami oksigenasi dalam ventriculus dextra untuk menuju ke atrium sinistra,
dari sini darah melewati valvula mitralis ke ventriculuc sinister dan kemudian
melaui aorta masuk kedalam cabang ascendensnya untuk memasok darah bagi
kepala dan ekstremitas superior. Dengan demikian hepar, jantung dan
serebrum menerima darah baru yang mengalami oksigenase
e) Vena cava superior : mengembalikan darah dari kepala dan ekstremitas
superior ke atrium dextrum. Darah ini bersama sisa aliran yang dibawa oleh
vena cava inferior melewati valvula tricuspidallis masuk ke dalam venriculus
dexter
f) Arteria pulmonalis : mengalirkan darah campuran ke paru - paru yang
nonfungsional, yanghanya memerlukan nutrien sedikit
g) Ductus arteriosus : mengalirkan sebagian besar darah dari vena ventriculus
dexter ke dalam aorta descendens untuk memasok darah bagi abdomen, pelvis
dan ekstremitas inferior
h) Arteria hypogastrica : merupakan lanjutan dari arteria illiaca interna, membawa
darah kembali ke plasenta dengan mengandung leih banyak oksigen dan
nutrien yang dipasok dari peredaran darah maternal. Perubahan pada saat lahir:
1) Penghentian pasokan darah dari plasenta
2) Pengembangan dan pengisian udara pada paru-paru
3) Penutupan foramen ovale
4) Fibrosis
a) Vena umbilicalis
b) Ductus venosus
c) Arteriae hypogastrica
d) Ductus arteriosus
3. Sistem Gastrointestinal
Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Reflek
gumoh dan reflek batuk yang matang sudah terbentuk baik pada saatlahir. Kemampuan
bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencernamakanan (selain susu) masih
terbatas. Hubungan antara esofagus bawah danlambung masih belum sempurna yang
mengakibatkan gumoh pada bayi baru lahir dan neonatus, kapasitas lambung masih
terbatas kurang dari 30 ccuntuk bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini
akan bertambah secara lambat bersamaan dengan tumbuhnya bayi baru lahir.
Pengaturan makanan yang sering oleh bayi sendiri penting contohnya memberi ASI on
demand.
Aktivitas adaptasi sistem GI
1. Kapasitas lambung BBL sgt bervariasi & tgt pd ukuran by, sktr 30 90 ml.
2. Pengosongan dimulai dlm bbrp mnt pd saat pemberian makanan & selesai
antara 2 4 jam stlh pemberian makanan
3. Suara bowel terdengar dalam waktu 1 jam
4. Aktifitas peristaltik yang tidak terkontrol pada esophagus terjadi dalam
beberapa hari
5. Enzim pencernaan dapat mencerna karbohidrat sederhana, protein dan lemak
6. Mekoneum keluar dalam 12-24 jam
4. Sistem Imun
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan
neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang
akan memberikan kekebalan alami maupun yang didapat. Kekebalan alami terdiri dari
struktur pertahanan tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi.
Berikut beberapa contoh kekebalan alami:
1. perlindungan oleh kulit membran mukosa
2. fungsi saringan saluran napas
3. pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus
4. perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung

Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel yaitu oleh sel darah yang
membantu BBL membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada BBL se-sel darah ini
masih belum matang, artinya BBL tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi
infeksi secara efisien.
Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. BBL dengan kekebalan pasif
mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibodi keseluruhan terhadap
antigen asing masih belum dapat dilakukan sampai awal kehidupan anak. Salah satu
tugas utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan sistem kekebalan
tubuh.
Neonate tergantung pada 3 immunoglobins: IgA, IgG, and IgM. IgG dari placenta dan
ditemukan pada fetus di trimester 3 berfungsi melindungi newborn untuk melawan infeksi
bakteri dan viral
5. Faal Ginjal
Bayi baru lahir mengekresi sejumlah kecil urin pada 48 jam pertama kehidupan,
sering kali hanya sebanyak 30 60 ml. Protein atau darah tidak boleh terdapat di dalam
urin bayi baru lahir. Bidan harus senantiasa ingat bahwa masa abdomen yang
ditemukan pada pemeriksaan fisik acapkali sebenarnya ginjal dan bisa jadi sebuah
tumor, pembesaran atau penyimpangan pertumbuhan ginjal (Behrman, 2000).
Ginjal sudah berfungsi, tetapi belum sempurna.
BBL harus BAK dalam 24 jam pertama, jumlah urin 2030 ml/hari dan
meningkat menjadi 100200 ml/hari pada akhir minggu pertama
D. Pengkajian Awal

Pengkajian pertama pada seorang bayi dilakukan pada saat lahir dengan
menggunakan nilai apgar dan melalui pemeriksaan fisik singkat. Pengkajian nilai
apgar didasarkan pada lima aspek yang menunjukkan kondisi fisiologis neonatus
yakni, denyut jantung, dilakukan dengan auskultasi menggunakan stetoskop.
Pernafasan, dilakukan berdasarkan pengamatan gerakan dinding dada.
Tonus otot dilakukan berdasarkan derajat fleksi dan pergerakan ekstremitas.
Pergerakan iritabilitas refleks, dilakukan berdasarkan respon terhadap tepukan
halus pada telapak kaki. Warna, dideskripsikan sebagai pucat diberi nilai 0,
sianotik nilai 1, atau merah muda nilai 2.
Evaluasi dilakukan pada menit pertama dan menit kelima setelah bayi
lahir. Sedangkan pengkajian usia gestasi dilakukan dua jam pertama setelah lahir
(Bobak dkk, 2005). Pengukuran antropometri dengan menimbang berat badan
menggunakan timbangan, penilaian hasil timbangan dengan kategori sebagai
berikut, bayi normal BB 2500-3500 gram, bayi prematur <2500 gram dan bayi
marosomia >3500 gram (Maryunani & Nurhayati, 2009).
Penilaian APGAR skor dilakukan pada menit pertama kelahiran untuk
memberi kesempatan kepada bayi memulai perubahan kemudian menit ke-5
serta pada menit ke-10. Penilaian dapat dilakukan lebih sering jika ada nilai yang
rendah dan perlu tindakan resusitasi. Penilaian menit ke-10 memberikan indikasi
morbiditas pada masa mendatang, nilai yang rendah berhubungan dengan
kondisi neurologis.
APGAR SCORE
E. Perawatan Bayi Baru Lahir

1. Mempertahankan Bersihan Jalan Napas


Bayi dipertahankan dalam posisi berbaring miring dengan selimut diletakkan
pada punggung bayi untuk memfasilitasi drainase. Apabila terdapat lendir berlebih di
jalan napas bayi, jalan napas bayi dapat dihisap melalui mulut dan hidung dengan
sebuah bulb syringe. Bayi yang tersumbat oleh sekresi lendir, harus ditopang
kepalanya agar menunduk ( Bobak dkk, 2005).
2. Suhu Tubuh
Setiap kali prosedur apa pun yang dilakukan pada bayi, upayakan untuk
mencegah atau mengurangi hilangnya panas. Stres dingin (cold stress) akan
mengganggu kesehatan bayi baru lahir. Temperatur ruang sebaiknya 24 0C. Bayi
baru lahir harus dikeringkan dan dibungkus dengan selimut hangat segera setelah
lahir, perhatikan supaya kepala juga harus diselimuti selama bayi digendong orang
tuanya. Bayi dapat segera diletakkan di atas abdomen atau dada ibu, dikeringkan,
dan dibungkus dengan selimut hangat ( Bobak dkk, 2005).
3. Perawatan Organ Tubuh Bayi
Pada organ kepala lingkar kepala diukur dengan menggunakan meteran
(Maryunani & Nurhayati, 2008). Kepala bayi juga dilakukan palpasi dan memantau
fontanel.
Mata harus bersih, tanpa drainase dan kelopak mata tidak bengkak,
perdarahan konjungtiva mungkin ada (Ladewigs et al, 2006). Untuk membersihkan
mata, gunakan kapas paling lembut. Jangan memaksa mengeluarkan kotoran di mata
jika sulit. Jika sudah dibersihkan pastikan mata bayi bersih dari sisa kapas (Bonny &
Mila, 2003).
Bayi cukup usia mempunyai dua per tiga ujung pinna yang tidak melengkung.
Rotasi telinga harus ada di garis tengah, dan tidak mengenai bagia
depan atau bagian belakang (Ladewigs et al, 2006). Untuk membersihkan telinga,
bagian luar dibasuh dengan lap atau kapas.
Bagian dalam hidung mempunyai mekanisme membersihkan sendiri. Jika ada
cairan atau kotoran keluar, bersihkan hanya bagian luarnya saja. Gunakan cotton bad
atau tisu yang digulung kecil, jika menggunakan jari pastikan jari benar-benar bersih.
Jika hidung bayi mengeluarkan lendir sangat banyak karena pilek, sedotlah keluar
dengan menggunakan penyedot hidung bayi, atau letakkan bayi dalam posisi tengkurap
untuk mengeluarkan cairan tersebut (Bonny & Mila, 2003).
Kebersihan mulut bayi harus diperhatikan, karena bercak putih pada lidah
(oral thurust) dapat menjadi masalah jika diikuti dengan tumbuhnya jamur (Musbikin,
2005).
Untuk membersihkan mulut bayi digunakan kapas yang sudah direndam dengan
air masak, diperas dan mulut bayi dibersihkan dengan hati-hati serta mengeluarkan
lendir yang ada di mulut bayi. Dapat juga dilakukan dengan menggunakan kain kasa
atau waslap yang sudah dibasahi dengan air matang hangat lalu dibalut pada jari
telunjuk, kemudian membersihkan mulut dari bagian luar, yaitu bibir dan sekitarnya.
Setelah itu bagian gusi belakang hingga depan, lalu membersihkan lidah bayi dengan
perlahan-lahan. Posisi bayi sebaiknya terbaring agar lebih mudah dibersihkan
(www.ayahbunda.co.id, 2010).
Kuku jari yang panjang dapat menimbulkan luka garukan pada wajah bayi dan
luka ini bisa terinfeksi. Kuku yang panjang dapat pula terkoyak karena sekalipun
panjang, tetapi kuku tersebut sangat lunak. Jika kuku tersebut terkoyak, jaringan di
bawahnya yang sensitif terhadap infeksi dapat terpajan. Bayi dapat menggunakan
sarung tangan atau dengan melakukan pemotongan kuku dengan hati-hati (Farrer,
1999).
4. Merawat Tali Pusat
Menurut Penny dkk. (2007) tali pusat bayi umumnya berwarna kebiruan dan
panjangnya 2,5 cm sampai 5 cm sesudah dipotong. Klem tali pusat akan dipasang untuk
menghentikan perdarahan. Klem tali pusat dibuka jika tali pusat sudah kering. Sebelum
tali pusat lepas jangan memandikan bayi dengan merendamnya dan jangan membasuh
tali pusat dengan lap basah. Sebelum melakukan perawatan pada tali pusat harus
mencuci tangan bersih-bersih. Membersihkan sisa tali pusat terutama pangkalnya
dilakukan dengan hati-hati jika tali pusat masih berwarna merah.
Tujuan perawatan tali pusat adalah mencegah dan mengidentifikasi perdarahan
atau infeksi secara dini. Setiap hari harus melakukan pemeriksaan untuk menemukan
tanda-tanda infeksi (Bobak dkk, 2005).
5. Higiene dan Perawatan Kulit
Higiene bayi dapat terjaga dengan mandi. Mandi memiliki beberapa tujuan yaitu
membersihkan seluruh tubuh, mengobservasi keadaan, memberi rasa nyaman, dan
mensosialisasikan orang tua, anak dan keluarga (Bobak dkk, 2005)
Memandikan bayi dilakukan di tempat yang aman, dengan suhu yang hangat
(Bonny & Mila, 2003). Menurut Helen dkk. (2007) perawatan kulit yang ditutup oleh
popok sangat penting untuk mencegah terjadinya ruam popok.
6. Alat Genitalia dan Anus
Genitalia bayi laki-laki dibersihkan dengan menggunakan air sabun. Gunakan
kapas basah untuk membersihkan lipatan-lipatannya jangan memaksa menarik kulit luar
dan membersihkan bagian dalam atau menyemprotkan antiseptik karena sangat
berbahaya. Kecuali ketika kulit luar sudah terpisah dari gland, sesekali bisa ditarik dan
membersihkan bawahnya. Bagian anus dan bokong dibersihkan dari luar ke dalam.
Kemudian keringkan dengan tisu lembut, jangan buru-buru memakai popok, tetapi
biarkan terkena udara sejenak. Genitalia perempuan dibersihkan menggunakan sabun
dan air. Gunakan gulungan kapas untuk membersihkan bagian bawah kelamin, lakukan
dari arah depan ke belakang. Bagian anus dan bokong dibersihkan dari arah anus
keluar. Kemudian keringkan dengan tisu lembut. Lipatan kulit dan bokong boleh diolesi
krim (Bonny & Mila, 2003).
7. Nutrisi
Nutrisi yang baik pada bayi memungkinkan kesehatan yang baik, pertumbuhan
dan perkembangan yang optimal selama beberapa bulan pertama kehidupan dan juga
membiasakan bayi agar memiliki kebiasaan makan yang baik pada masa selanjutnya.
Pemenuhan nutrisi pada bayi baru lahir sebaiknya dengan memberikan Air Susu Ibu
(ASI), namun jika adanya kendala-kendala khusus dapat diberikan susu formula (Bobak
dkk, 2005). Kebutuhan nutrien yang diperlukan yaitu meliputi energi, karbohidrat, lemak,
protein, cairan, mineral dan vitamin.
Menurut Hubertin Sri (2004 dalam Saragih, 2010), perawat mempunyai
kewajiban untuk memberikan pelayanan kesehatan penerapan ASI eksklusif agar bayi
mendapatkan nutrisi yang adekuat untuk tumbuh kembangnya. Keputusan untuk
memberikan bayi susu botol adalah logis jika ibu tidak ingin menyusui karena berbagai
alasan yang tepat (Helen, 2007).
F. Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir
Ketika melakukan pemeriksaan fisik pada bayi lahir normal hal- hal yang harus
diperhatikan oleh petugas adalah informasikan prosedur terlebih dahulu pada orang
tua, gunakan tempat yang hangat dan bersih untuk pemeriksaan, cuci tangan sebelum
dan sesudah pemeriksaan, gunakan sarung tangan dan bertindak lembut pada saat
menangani bayi, lepaskan pakaian hanya pada area yang diperiksa, untuk mencegah
kehilangan panas, lakukan prosedur yang mengganggu seperti menguji refleks pada
tahap akhir, lakukan secara cepat untuk menghindari stress pada bayi
Tujuan Pemeriksaan Fisik pada bayi baru lahir :
(1) Mengidentifikasi riwayat kesehatan bayi
(2) Mengobservasi karakteristik bayi
(3) Memperkirakan usia gestasi
(4) Mengkaji perilaku bayi
(5) Mengkaji integritas neuromuscular
(6) Mengidentifikasi masalah kesehatan
Langkah langkah dalam pemeriksaan fisik pada bayi
(1) Pemeriksaan umum
Pemeriksaan umum dilakukan pada bayi baru lahir adalah pengukuran Anthopometri
yaitu pengukuran lingkar kepala yang dalam keadaan normal berkisar 33 35 cm,
lingkar dada 30,5 33 cm, panjang badan 45 50 cm, berat badan bayi 2500 gram
4500 gram.
(2) Pemeriksaan tanda tanda vital
Suhu tubuh, nadi, pernapasan bayi baru lahir bervariasi dalam berespon terhadap
lingkungan.
a. Suhu tubuh
Pada saat lahir suhu tubuh bayi hampir sama dengan suhu tubuh ibunya. Namun
demikian bayi memiliki sedikit lemak, luas permukaan tubuh yang besar dan
sirkulasi pernapasan yang belum sempurna, sehingga bayi mudah jatuh dalam
kondisi hipotermi. Suhu bayi dalam keadaan normal berkisar antara 36,5 derajat
celcius - 37,5 derajat celcius pada pengukuran diaksila.
b. Nadi
Denyut nadi bayi tergantung dari aktivitas bayi. Nadi dapat menjadi tidak teratur
karena adanya rangsangan seperti menangis, perubahan suhu yang tiba tiba.
Denyut nadi bayi yang normal berkisar 120 140 kali permenit.
c. Pernapasan
Pernapasan pada bayi baru lahir tidak teratur kedalaman, kecepatan, iramanya.
Pernapasannya bervariasi dari 30 sampai 60 kali permenit. Pernapasan juga
dipengaruhi oleh aktivitas bayi seperti menangis, serta perubahan suhu yang
tiba-tiba.
d. Tekanan darah
Tekanan darah bayi baru lahir rendah dan sulit untuk diukur secara akurat.
Meskipun tidak secara rutin diukur pada waktu lahir, tekanan darah yang
dilakukan dengan ultrasonografi Doppler merupakan metode yang paling akurat
pada bayi. Metode ini mengukur sistolik dan diastolik serta tekanan arteri rata
rata tekanan darah pada waktu lahir adalah 80/ 46 mmHg.
(3) Pemeriksaan fisik secara sistematik (head to too)
Pemeriksaan fisik secara sistematik pada bayi baru lahir dimulai dari :
a. Kepala
Raba sepanjang garis sutura dan fontanel, apakah ukuran dan tampilannya
normal. Sutura yang berjarak lebar mengindikasikan bayi preaterm, moulding
yang buruk atau hidrosefalus. Pada kelahiran spontan letak kepala, sering terlihat
tulang kepala tumpang tindih yang disebut moulding atau moulase. Keadaan ini
normal kembali setelah beberapa hari sehingga ubun ubun mudah diraba.
Perhatikan ukuran dan ketegangannya. Fontanel anterior harus diraba, fontanel
yang besar dapat terjadi akibat prematuritas atau hidrosefalus, sedangkan yang
terlalu kecil terjadi pada mikrosefali. Jika fontanel menonjol, hal ini diakibatkan
peningkatan tekanan intracranial, sedangkan yang cekung dapat terjadi akibat
dehidrasi. Terkadang teraba fontanel ketiga antara fontanel anterior dan
posterior, hal ini terjadi karena adanya trisomi 21.
b. Telinga
Periksa dan pastikan jumlah, bentuk dan posisinya. Pada bayi cukup
bulan, tulang rawan sudah matang. Daun telinga harus berbentuk sempurna
dengan lengkungan yang jelas dibagian atas.

c. Mata
Periksa jumlah, posisi atau letak mata. Periksa adanya strabismus yaitu
koordinasi mata yang belum sempurna
d. Hidung dan mulut
Bibir bayi baru lahir harus kemerahan dan lidahnya harus rata dan simetris.
Bibir dipastikan tidak adanya sumbing, dan langit langit harus tertutup. Refleks
hisap bayi harus bagus, dan berespons terhadap rangsangan. Kaji bentuk dan
lebar hidung, pada bayi cukup bulan lebarnya harus lebih dari 2,5 cm.
e. Leher
Ukuran leher normalnya pendek dengan banyak lipatan tebal. Periksa
kesimetrisannya. Pergerakannya harus baik. Jika terdapat keterbatasan
pergerakan kemungkinan ada kelainan tulang leher. Periksa adanya trauma
leher yang dapat menyebabkan kerusakan pada fleksus brakhialis.
f. Dada
Kontur dan simetrisitas dada normalnya adalah bulat dan simetris.
Payudara baik pada laki laki maupun perempuan terlihat membesar karena
pengaruh hormone wanita dari darah ibu. Periksa kesimetrisan gerakan dada
saat bernapas.
g. Bahu, lengan dan tangan
Gerakan normal, kedua lengan harus bebas bergerak, jika gerakan kurang
kemungkinan adanya kerusakan neurologis atau fraktur. Periksa jumlah jari.
h. Perut
Bentuk, penonjolan sekitar tali pusat pada saat menangis, perdarahan tali
pusat. Perut harus tampak bulat dan bergerak secara bersamaan dengan
gerakan dada saat bernapas. Kaji adanya pembengkakan, jika perut sangat
cekung, kemungkinan terdapat hernia diafragmatika, perut yang membuncit
kemungkinan karena hepato-splenomegali atau tumor lainnya. Jika perut
kembung kemungkinan adanya enterokolitis vesikalis, omfalokel atau duktus
omfaloentriskus persisten.
i. Kelamin
Pada wanita labia minora dapat ditemukan adanya verniks dan smegma
(kelenjar kecil yang terletak di bawah prepusium mensekresi bahan yang seperti
keju) pada lekukan. Labia mayora normalnya menutupi labia minora dan klitoris.
Klitoris normalnya menonjol. Menstruasi palsu kadang ditemukan, diduga
pengaruh hormon ibu disebut juga psedomenstruasi. Normalnya terdapat umbai
himen. Pada bayi laki-laki rugae normalnya tampak pada skrotum dan kedua
testis turun kedalam skrotum. Meatus urinarius normalnya terletak pada ujung
glands penis.
j. Ekstremitas atas dan bawah
Ekstremitas bagian atas normalnya fleksi dengan baik, dengan gerakan
yang simetris. Refleks menggenggam normalnya ada. Kelemahan otot parstial
atau komplet dapat menandakan trauma pada pleksus brakhialis. Nadi brakhialis
normalnya ada.
k. Punggung
Periksa spina dengan cara menelungkupkan bayi, cari adanya tanda-tanda
abnormalitas seperti spina bifida, pembengkakan atau cekungan, lesung atau
bercak kecil berambut yang dapat menunjukkan adanya abnormalitas medulla
spinalis atau kolumna vertebra.
l. Kulit
Verniks (tidak perlu dibersihkan karena adanya untuk menjaga kehangatan
tubuh bayi), warna, pembengkakan atau bercak-bercak hitam, tanda tanda
lahir. Perhatikan adanya lanugo, jumlah yang banyak terdapat pada bayi kurang
bulan.
m. Refleks
Refleks berkedip, batuk, bersin, dan muntah ada pada waktu lahir dan tetap
tidak berubah sampai masa dewasa. Beberapa refleks lain normalnya ada waktu
lahir, yang menunjukkan imaturitas neurologis, refleks refleks tersebut akan
hilang pada tahun pertama. Tidak adanya refleks refleks ini menandakan
masalah neurologis yang serius.
Reflek memberikan informasi tentang maturitas dari sistem. Reflek primitif
penting untuk survival dan keamanan. Tidak ada, lemah dan asimetri
mengindikasikan keabnormalan.
G. Refleks Pada Bayi
1. Refleks menghisap (sucking reflex)
Ada dua tahapan dari reflek ini, yaitu :
Tahap expression : dilakukan pada saat puting susu diletakkan diantara bibir bayi
dan disentuhkan di permukaan langit-langitnya. Bayi akan secara langsung
menekan (mengenyot) puting dengan menggunakan lidah dan langit-langitnya
untuk mengeluarkan air susunya.
Tahap milking : saat lidah bergerak dari areola menuju puting, mendorong air susu
dari payudara ibu untuk ditelan oleh bayi
2. Refleks menggenggam (palmar grasp reflex)
Grasping Reflex adalah refleks gerakan jari-jari tangan mencengkram benda-benda
yang disentuhkan ke bayi, indikasi syafar berkembang normal hilang setelah 3-4
bulan Bayi akan otomatis menggenggam jari ketika Anda menyodorkan jari telunjuk
kepadanya.

3. Refleks mencari (rooting reflex)


Rooting reflex terjadi ketika pipi bayi diusap (dibelai) atau di sentuh bagian pinggir
mulutnya. Sebagai respons, bayi itu memalingkan kepalanya ke arah benda yang
menyentuhnya, dalam upaya menemukan sesuatu yang dapat dihisap. Refleks
menghisap dan mencari menghilang setelah bayi berusia sekitar 3 hingga 4 bulan

H. Komplikasi Yang Sering Terjadi Pada Bayi Baru Lahir


Komplikasi pada bayi baru lahir dan neonates,antara lain:
Prematuritas dan BBLR
Asfiksia
Infeksi bakteri
Kejang
Ikterus
Diare
Hipotermi
Tetanus neonatorum
Masalah pemberian ASI
Trauma lahir
Sindroma gangguan pernafasan
Kelainan congenital

1. Prematuritas Dan BBLR


BBLR Bayi Berat Lahir Rendah dibedakan menjadi :
- BBLSR Bayi Berat Lahir Sangat Rendah bila lahir berat lahir kurang dari 1.500
gram,
- BBLR Bayi Berat Lahir Rendah bila berat lahir antara 1.501-2.499 gram.
Sedangkan bayi prematur adalah bayi yang dilahirkan kurang dari usia kehamilan 37
minggu.
Penyebab BBLR dan kelahiran prematur sangatlah multifaktorial, antara lain asupan
gizi ibu sangat kurang pada masa kehamilan, gangguan pertumbuhan dalam
kandungan (janin tumbuh lambat), faktor plasenta, infeksi, kelainan rahim ibu,
trauma, dan lainnya
Faktor Resiko BBLR
- asfiksia atau gagal untuk bernapas secara spontan dan teratur saat atau beberapa
menit setelah lahir.
- Sindrom Gawat Napas salah satu disebabkan karena faktor paru yang belum
matang tau TRDN sesak sementara pada bayi baru lahir karena cairan paru yang
berlebihan.
- hiportemia (suhu tubuh 6,5 167 C).
Penanganan umum perawatan BBLR atau prematur setelah lahir adalah
mempertahankan suhu bayi agar tetap normal, pemberian minum, dan pencegahan
infeksi. Bayi dengan BBLR juga sangat rentan terjadinya hiportemia, karena tipisnya
cadangan lemak di bawah kulit dan masih belum matangnya pusat pengatur panas
di otak. Untuk itu, BBLR harus selalu dijaga kehangatan tubuhnya
Upaya yang paling efektif mempertahankan suhu tubuh normal adalah sering
memeluk dan menggendong bayi. Ada suatu cara yang disebut metode kangguru
atau perawatan bayi lekat, yaitu bayi selalu didekap ibu atau orang lain dengan kontak
langsung kulit bayi dengan kulit ibu atau pengasuhnya dengan cara selalu
menggendongnya. Cara lain, bayi jangan segera dimandikan sebelum berusia enam
jam sesudah lahir , bayi selalu diselimuti dan ditutup kepalanya, serta menggunakan
lampu penghangat atau alat pemancar panas
Minum sangat diperlukan BBLR dan prematur, selain untuk pertumbuhan juga
harus ada cadangan kalori untuk mengejar ketinggalan beratnya. Minuman utama
dan pertama adalah air susu ibu (ASI) yang sudah tidak diragukan lagi keuntungan
atau kelebihannya. Disarankan bayi menyusu ASI ibunya sendiri, terutama untuk bayi
prematur. ASI ibu memang paling cocok untuknya, karena di dalamnya terkandung
kalori dan protein tinggi serat elektrolit minimal.
BBLR dan bayi prematur sangat rentan terhadap terjadinya infeksi sesudah lahir.
Karena itu, tangan harus dicuci bersih sebelum dan sesudah memegang bayi, segera
membersihkan bayi bila kencing atau buang air besar, tidak mengizinkan menjenguk
bayi bila sedang menderita sakit, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),
dan pemberian imunisasi sesuai dengan jadwal.
Untuk tumbuh dan berkembang sempurna bayi BBLR dan prematur harus
mendapat asupan nutrien berupa minuman mengandung karbohidrat, protein, lemak,
serta vitamin yang lebih dari bayi bukan BBLR. Penting dipertahikan agar zat tersebut
betul-betul dapat digunakan hanya untuk tumbuh, tidak dipakai untuk melawan
infeksi. Biasanya BBLR dapat mengejar ketinggalannya paling lambat dalam enam
bulan pertama.
2. Asfiksi
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara
spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan
mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan
gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang
mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan.
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas
secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam
uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam
kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan
bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna.
Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan
hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul.
3. Kejang
Kejang, spasme, atau tidak sadar dapat di sebabkan oleh asfiksia
neonatorum, hipoglikemi atau merupakan tanda meningitis atau masalah pada
susunan syaraf. Diantara episode kejang yang terjadi, bayi mungkin tidak sadar,
letargi, rewel atau masih normal. Spasme pada tetanus neonatorum hamper mirip
dengan kejang, tetapi kedua hal tersebut harus dibedakan karena manajemen
keduanya berbeda.
4. Ikterus
Ikterus adalah warna kuning yang ditemukan pada hari ke-3 sampai ke-14,
tidak disertai tanda dan gejala ikterus patologis (Muslihatun, 2010).
Ikterus adalah keadaan transisional normal yang mempengaruhi hingga 50%
bayi aterm yang mengalami peningkatan progresif pada kadar bilirubin tak
terkonjugasi dan ikterus pada hari ketiga (Myles, 2009).
Ikterus adalah kadar bilirubin yang tak terkonjugasi pada minggu pertama > 2
mg/dl (Kosim, 2008).
5. Hipotermi
Hipotermi pada bayi baru lahir adalah suhu tubuh dibawh 36,5oC pengukuran
dilakukan pada ketiak selama 3-5 menit.
Hipotermi disebabkan oleh :
1. Evaporasi, terjadi apabila bayi lahir tidak segera dikeringkan.
2. Konduksi, terjadi apabila bayi diletakkan ditempat dengan alas yang dingin,
seperti pada waktu menimbang bayi.
3. Radiasi, terjadi apabila bayi diletakkan diudara lingkungan dingin.
4. Konveksi, terjadi apabila bayi berada dalam ruangan ada aliran udara karena
pintu, jendela terbuka.
Cara Mengatasi Hipotermi
Ganti pakain yang dingin dan basah dengan pakain yang hangat dan kering,
memakai topi dan selimut yang hangat.
Bila ada ibu/ pengganti ibu anjurkan menghangatkan bayi dengan
melakukankontak kulit dengan kulit.
Periksa ulang suhu bayi 1 jam kemudian, bila suhu naik pada batas normal
(36,5 -37,5o C), berarti usaha meenghangatkan berhasil.
Anjurkan ibu untuk menyusui lebih sering. Bila bayi tidak dapat menyusu,
berikan ASI peras.
Rujuk apabila terdapat salah satu keadaan :
1. Jika setelah menghangatkan selama 1 jam tidak ada kenaikan suhu (membaik).
2. Bila bayi tidak dapat minum
3. Terdapat gangguaan nafas atau kejang.
4. Bila disertai salah satu tanda tanpak mengantuk/ letargis atau ada bagian tubuh,
bayi yang mengeras.
Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat minum dengan baik serta
tidak ada masalah lain yang memerlukan pengawasan, bayi tidak perlu dirujuk.
Nasihati ibu cara merawat bayi lekat/ metode Kanguru dirumah.
6. Tetanus Neonatorum
Tetanus Neonatorum Adalah penyakit yang dideritaolehbayibarulahir
(neonatus). Tetanus neonatorum penyebabkejang yang seringdijumpaipada BBL
yang bukan karena trauma Kelahiran atauasfiksia, tetapi disebabkan infeksiselama
masa neonatal, yang antara lain terjadi akibat pemotongan tali pusat atau perawatan
tidak aseptic (IlmuKesehatanAnak, 1985)
7. Sindroma Gangguan Pernafasan Nafas
Merupakan kumpulan gejala yang terdiri dispnea, frekuensi pernafasan yang
lebih dari 60 kali per menit ,adanya sianosis, adanya rintihan bayi saat ekspirasi serta
adanya retraksi suprasternal,interkostal,epigastrium saat inspirasi.Penyakit ini
merupakan penyakit membrane hialin,dimana terjadi perubahan atau kurangnya
komponen surfaktan pulmoner komponen ini merupakan suatu zat aktif pada alveoli
yang dapat mencegah kolapnya paru.
Fungsi surfaktan itu sendiri adalah merendahkan tegangan permukaan
alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara pada akhir
ekspirasi. Penyakit ini terjadi pada bayi mengingat produksi surfaktan yang kurang .
Pada penyakit ini kemampuan paru untuk mempertahankan stabilitas menjadi
terganggu dan alveolus akan kembali kolaps pada setiap akhir ekspirasi dan pada
pernafasan selanjutnya dibutuhkan tekanan negative intra thorak yang lebih besar
dengan cara inspirasi yang lebih kuat . Keadaan kolapsnya paru dapat menyebabkan
gangguan pentilasi yang akan menyebabkan hipoksia dan asidosis.
Gangguan pernapasan pada bayi baru lahir dapat terjadi oleh beberapa
sebab,apabila gangguan pernapasan tersebut disertai dengan tanda-tanda hipoksia
(kekurangan oksigen),maka proknosisnya buruk dan merupakan penyebab kematian
bayi baru lahir. Kalau seandainya bayi selamat dan tetap hidup akan beresiko tinggi
dan terjadi kelainan neorologis dikemudian hari.
Penyebab Gangguan Pernafasan
o penyakit parenkim paru-paru, misalnya penyakit membran hialin atelektatis
o kelainan perkembangan organ misalnya agenesis paru paru ,hemia
diafragmatika
o obstruksi jalan nafas , misalnya trakeomalasia , makrolasia .
Penilaian
Tanda tanda gangguan pernafasan pada bayi baru lahir dapat diketahui dengan
cara menghitung frekuensi pernafasan dan melihat tarikan dinding iga serta warna
kulit bayi.
Ciri Ciri Bayi Yang Mengalami Gangguan Pernafasan
a) Nafas bayi berhenti lebih 20 detik
b) Bayi dengan sianosis sentral ( biru pada lidah dan bibir )
c) Frekuensi nafas bayi kurang 30 kali / menit
d) Frekuensi nafas bayi lebih 60 kali /menit , mungkin menunjukan tanda tambahan
gangguan nafas.
Penatalaksanaan
Tindakan Yang Harus Dilakukan Pada Bayi Yang Mengalami Gangguan Pernafasan
Antara Lain:
1. Beri oksigen dengan kecepatan sedang
2. Jika bayi menglami apnea :
Bayi dirangsang dengan mengusap dada atau punggung bayi
Bila bayi tidak mulai bernafas atau mengalami sianosis sentral , nafas megap
megap atau bunyi jantung menetap kurang dari 100 kali /menit,lakukan resusitasi
dengan memakai balon dan sungkup.
3. Kaji ulang temuan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik
4. Periksa kadar glukosa darah.Bila kadar glukosa kurang dari 40 mg, tangani
sebagai hipoglikemia .
5. Berikan perawatan selanjutnya dan tentukan gangguan nafas berat manejemen
spesifik menurut jenis gangguan nafasnya
6. Tentukan apakah gangguan nafas berat,sedang atau ringan
Cara Mencegah Terjadinya Gangguan Pernafasan:
Jadi untuk mencegah terjadinya ganguan pernapasan Segera lakukan
resusitasi pada bayi baru lahir, apabila bayi :
- tidak bernapas sama sekali / bernapas dengan megap-megap
- bernapas kurang dari 20 kali per menit
8. Icterus neonatorum
Kira-kira 1/3 dari bayi yang baru lahir , memperlihatkan icterus antara Hari ke 2 dan
ke 5 yang dinamakan icterus fisiologis yang ditimbulkan oleh hyperbilirubinaemia
yang disebabkan oleh :

a. Penghancuran erytrocyt yang hebat.


Kehidupan intra uterin terdapat polycytaemia untuk mengimbangi kadar O2 yang
rendah. Sedangkan untuk kehidupan diluar tidak diperlukan sedemikian banyak
erythrocyt
b. Hati bayi belum berfaal baik, sehingga tidak dapat mengubah Bilirubin Imenjadi
bilirubin II.Pada anak premature icterus biasanya lebih hebat dan lebih lama lagi
karena faal hati masih sangat kurang.
9. Kehilangan Berat Badan
Selama 3 atau 4 hari yang pertama bayi boleh dikatakan hampir tidak
kemasukan cairan (ASI belum lancar).Sedangkan bayi mengeluarkan faeces, urine
dan peluh dengan cukup banyak maka BB bayi turun.Kehilangan BB tidak boleh lebih
dari 10%.
I. Asuhan keperawatan bayi baru lahir normal
1. Pengkajian
a. Identitas
Nama, usia, tanggal lahir, jenis kelamin, nama ibu, nama bapak, alamat
b. Pengkajian fisik
1) Pengukuran umum :
Lingkar kepala 33-35 cm,
Lingkar dada 30,5-33 cm,
Lingkat kepala 2-3 cm > dari linkar dada,
Panjang kepala ke tumit 48-53 cm,
BBL 2700-4000 gram
2) Tanda vital :
Suhu 36,50C-370C (aksila),
Frekwensi jantung 120-140 x/m (apical),
Pernafasan 30-60x/m
Tekanan darah
3) Kulit :
Saat lahir: merah terang, menggembung, halus
Hari kedua-ketiga: merah muda, mengelupas, kering
Vernik kaseosa
Lanugo
Edema sekitar mata, wajah, kaki, punggung tangan, telapak, dan skrotum
atau labia.
4) Kepala
Fontanel anterior: bentuk berlian, 2,5-4,0 cm
Fontanel posterior:bentuk segitiga 0,5-1 cm
Fontanel harus datar, lunak danpadat
Bagian terlebar dari fontanel diukur dari tulang ke tulang, bukan dari sututa
ke sutura.
5) Mata :
Kelopak biasanya edema, mata tertutup
Warna agak abu-abu, biru gelap, coklat
Tida ada air mata
Ada refleks merah, reflek pupil (repon cahaya), refleks berkedip (respon
cahaya atau sentuhan)
Fiksasi rudimenter pada obyek dan kemampuan mengikuti ke garis tengah.
6) Telinga :
Posisi puncak pinna berada pada garis horizontal bersama bagian luar
kantus mata
Reflek moro atau refleks terkejut ditimbulkan oleh bunyi keras dan tiab-tiba
Pina lentur adanya kartilago.
7) Hidung :
patensi nasal, rabas nasal-mukus putih encer, bersin
8) Mulut dan tenggorok :
Utuh, palatum arkus-tinggi, uvula di garis tengah, frenulum lidah, frenulum
bibir atas
Reflek menghisap kuat dan terkoordinasi, reflek rooting
Refleks gag, refleks ekstrusi
Salivasi minimal atau tidak ada, menangis keras.
9) Leher :
Pendek, gemuk, biasanya dikelilingi oleh lipatan kulir, reflek leher tonik,
refleks neck-righting, refleks otolith righting
10) Dada :
Diameter anterior posteriordan lateral sama
Retraksi sternal sedikit terlihat selama inspirasi
Terlihat prosesusxifoideus pembesaran dada.
11) Paru-paru :
Pernafasan utamanya adalah pernafasan abdominal
Reflek batuk tidak ada saat lahir, ada setelah 1-2 hari.
Bunyi nafas bronchial sama secara bilateral
12) Jantung :
Apeks: ruang intercostal ke4-5, sebelah lateral batas kiri sternum
Nada S2 sedikit lebih tajam dan lebih tinggi daripada S1
13) Abdomen :
Bentuk silindris
Hepar: dapat diraba 2-3 cm dibawah marjin kostal kanan
Limpa: puncak dapat diraba pada akhir minggu pertama
Ginjal: dapat diraba 1-2 cm diatas umbilicaus
Pusat umbilicus: putih kebiruan pada saat lahir dengan 2 arteri dan 1 vena
Nadi femoral bilateral sama
14) Genetalia
15) Punggung dan rektum :
Spina utuh, tidak ada lubang masa, atau kurva menonjol
Refleks melengkung, batang tubuh
Wink anal
Lubang anal paten
keluar mekonium dalam 36 jam
16) Ekstrimitas :
10 jari kaki dan tangan
rentang gerak penuh
punggung kuku merah muda, dengan sianosis sementara segera setelah
lahir
fleksi ekstremitas atas dan bawah
telapak biasanya datar
ekstrimitas simetris
tonus otot sama secara bilateral, terutama tahanan pada fleksi berlawanan
nadi brakialis bilateral sama.
17) Sistem neuromuskuler:
Ekstrimitas biasanya mempertahankan derajat fleksi
Ekstensi ekstrimitas diikuti dengan posisi fleksi sebelumnya.
Kelambatan kepala saat duduk, tetapi mampu menahan kepala agar tetap
tegak walaupun sementara
Mampu memutar kepala dari satu sisi kesisi lain ketika tengkuran
Mampu menahan kepala dalam garis horizontal dengan punggung bila
tengkurap.
c. Observasi status tidur dan aktivitas
Tidur regular: 4-5 jam/hari, 10-20 menit/siklus mata tertutup, pernafasan
regular, Tak ada gerakan kecuali sentakan tubuh yang tiba-tiba.
Tidur ireguler: 12-15 jam/hari, 20-45 menit/siklus tidur, mata tertutup,
pernafasan tidak teratur, sedikit kedutan pada otot.
Mengantuk: bervariasi, mata mungkin terbuka, pernafasan ireguler, gerakan
tubuh aktif.
Inaktivitas sadar: 2-3 jam/hari. Berespon terhadap lingkungan dengan
gerakan aktif dan mencari obyek pada rentang dekat.
Terbangun dan menangis: 1-4 jam/hari. Mungkin dengan merengek dan
sedikit gerakan tubuh, berlanjut pada menangis keras dan marah serta
gerakan ekstrimitas yang tidak terkoordinasi.

Diagnosa dan Intervensi


Dianogsa
No Tujuan Intervensi
Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas Setelah dilakukan Manajemen Jalan Nafas :
tak efektif b.d tindakan keperawatan 1. Buka jalan nafas
obstruksi jalan nafas : selama 1X 24 jam, klien 2. Posisikan klien untuk memak-
banyaknya mucus. diharapkan mampu simalkan ventilasi
menunjukan jalan nafas 3. Identifikasi klien perlunya
Batasan yang paten dengan pemasangan alat jalan nafas buatan
karakteristik : indicator : 4. Keluarkan sekret dengan suction
- Dyspuea Status Respirasi : 5. Auskultasi suara nafas, catat adanya
- Cyanosis Patensi Jalan Nafas: suara tambahan
- Kelainan suara - Pasien tampak tenang 6. Monitor respirasi dan ststus O2
nafas (kracles) (tidak cemas) Suction Jalan Nafas:
- Mata melebar - RR: 30-60X/menit 1. Auskultasi suara nafas sebelum dan
- Produksi sputan - Irama nafas teratur sesudah suctioning
- Gelisah - Pengeluaran sputum 2. Informasikan pada keluarga tentang
- Perubahan pada jalan nafas suctioning
frekwensi dan irama - Tidak ada suara nafas 3. Berikan O2 dengan menggunakan
nafas tambahan nasal untuk memfasilitasi suction
- Warna kulit kemerahan nasotracheal
4. Gunakan alat yang steril setiap
melakukan tindakan
5. Berikan waktu istirahat pada klien
setelah kateter dikeluarkan dari naso
trakeal
6. Hentikan suction dan berikan O2
jika klien menunjukan bradikadi,
peningkatan saturasi O2, dll.
2. Resiko infeksi Setelah dilakukan Mengontrol Infeksi:
tindakan keperawatan 1. Bersihkan box / incubator setelah
Batasan selama 1X 24 jam, dipakai bayi lain
karakteristik: pasien diharapkan 2. Pertahankan teknik isolasi bagi bayi
- Prosedur invasif terhindar dari tanda dan ber-penyakit menular
- Malnutrisi gejala infeksi dengan 3. Batasi pengunjung
- Ketidakadekuatan indicator : 4. Instruksikan pada pengunjung untuk
imun buatan Status Imun: cuci tangan sebelum dan sesudah
- RR : 30-60X/menit berkunjung
- Irama napas teratur 5. Gunakan sabun antimikrobia untuk
- Suhu 36-37 C cuci tangan
- Integritas kulit baik 6. Cuci tangan sebelum dan sesudah
- Integritas nukosa baik mela-kukan tindakan keperawatan
- Leukosit dalam batas 7. Pakai sarung tangan dan baju
normal sebagai pelindung
8. Pertahankan lingkungan aseptik
selama pemasangan alat
9. Ganti letak IV perifer dan line kontrol
dan dressing sesuai ketentuan
10. Tingkatkan intake nutrisi
11. Beri antibiotik bila perlu.

Mencegah Infeksi
1. Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
2. Batasi pengunjung
3. Skrining pengunjung terhadap
penyakit menular
4. Pertahankan teknik aseptik pada bayi
beresiko
5. Bila perlu pertahankan teknik isolasi
6. Beri perawatan kulit pada area
eritema
7. Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan, panas, dan
drainase
8. Dorong masukan nutrisi yang cukup
9. Berikan antibiotik sesuai program

3. Resiko Setelah dilakukan Mengatur temperature (3900) :


ketidakseimbangan tindakan keperawatan 1. Monitor temperatur klien sampai
suhu tubuh b.d faktor selama 1X 24 jam stabil
resiko paparan dingin diharapkan klien 2. Monitor nadi, pernafasan
/ sejuk : perubahan terhindar dari ketidak- 3. Monitor warna kult
suhu intrauteri ke seimbangan suhu tubuh 4. Monitor tanda dan gejala hipotermi /
extrauteri. dengan indicator : hipertermi
Termoregulasi 5. Perhatikan keadekuatan intake cairan
Neonatus : 6. Pertahankan panas suhu tubuh bayi
- Suhu axila 36-37 C (missal : segera ganti pakaian jika
- RR : 30-60 X/menit basah)
- HR 120-140 X/menit 7. Bungkus bayi dengan segera setelah
- Warna kulit merah lahir untuk mencegah kehilangan panas
muda 8. Jelaskan kepada keluarga tanda dan
- Tidak ada distress gejala hipotermi / hipertermi
respirasi 9. Letakkan bayi setelah lahir di bawah
- Hidrasi adekuat lampu sorot / sumber panas
- Tidak menggigil 10. Jelaskan kepada keluarga cara
- Bayi tidak gelisah untuk mencegah kehilangan panas /
- Bayi tidak letargi mencegah panas bayi berlebih
11. Tempatkan bayi di atas kasur dan
berikan selimut
DAFTAR PUSTAKA

IOWA Outcomes Project, Nursing Outcomes Classification (NOC), Edisi 2, 2000, Mosby

IOWA Outcomes Project, Nursing Interventions Classification (NIC), Edisi 2, 2000, Mosby

Nelson, 1992, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian 2, EGC, Jakarta

Pusponegoro.H.D., dkk, 2004, Standar Pelayanan Medis Kesehatan anak, Edisi I, Ikatan
Dokter Anak Indonesia.

Ralph & Rosenberg, 2003, Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2005-2006,
Philadelphia USA

Wong, 2003, Keperawatan Pediatrik, EGC, Jakarta

Carpenito, rencana Asuhan dan dokumentasi Keperawatan, Edisi 2, 1995, EGC, Jakarta

Noer. S., Waspadji.S., Rachman.M., Lesmana.L.A, Widodo.D., Isbagio.I., Alwi.I.,


Husodo.U.B.,1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1, Balai Penerbit FKUI,
Jakarta.
Bobak, I. M., Lowdermilk, D. L., & Jensen, M. D. (2004). Buku ajar keperawatan maternitas.
(ed. 4). Jakarta: EGC.

Cunningham, F. G., MacDonald, P. C., & ant, N. F. (2006). Obstetri williams. (ed. 18). Jakarta:
EGC.

Deonges, M. E., & Noorhouse, M, P. (1999). Rencana perawatan maternal/bayi: Pedoman


untuk perencanaan dan dokumentasi perawatan kien. (ed. 2). Jakarta: EGC,

Lowdermilk, Wong, Wilson, Hockenberry, & Perry (2003). Maternal child nursing care.
Missouri: Mosby Elsevier.

Saifuddin, A. B. (2006). Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
(ed. 1). Cetakan 11. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo