Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu komplikasi terbanyak pada kehamilan ialah terjadinya
perdarahan. Perdarahan dapat terjadi pada setiap usia kehamilan. Bila seorang
wanita hamil muda mengalami perdarahan, dimungkinkan merupakan salah
satu tanda dari adanya gangguan kehamilan yang mungkin terjadi yaitu
abortus, kehamilan ektopik terganggu (KET), atau mola hidatidosa. Sehingga
ketiganya merupakan ancaman bagi kesejahteraan janin ataupun keselamatan
ibu karena perdarahan.
Abortus merupakan ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan abortus ialah kehamilan kurang
dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Langkah pertama dari
serangkaian kegiatan penatalaksanaan abortus adalah penilaian kondisi klinik
pasien. Penilaian ini juga terkait dengan upaya diagnosis dan pertolongan awal
kegawatdaruratan. Melalui langkah ini, dapat dikenali dengan berbagai
komplikasi yang dapat mengancam keselamatan pasien seperti syok,
infeksi/sepsis, perdarahan hebat (masif) atau trauma intraabdomen. Pengenalan
ini sangat bermanfaat bagi penyelamatan jiwa pasien. Walaupun tanpa
komplikasi, abortus merupakan ancaman serius bila tidak dilakukan
penanganan dengan baik.
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar rahim (uterus).
Apabila terjadi ruptur di lokasi implantasi kehamilan, maka akan terjadi
keadaan perdarahan masif dan nyeri abdomen akut yang disebut kehamilan
ektopik terganggu.
Mola hidatidosa adalah bagian dari penyakit trofoblastik gestasional, yang
disebabkan oleh kelainan pada villi khorionik yang disebabkan oleh proliferasi
trofoblastik dan edem. Apabila mola hidatidosa tidak ditangani dengan baik
maka akan menyebabkan masalah kesehatan pada ibu.

1
Oleh karena itu, kemauan dan keterampilan tenaga medis dalam
penanganan awal kegawatdaruratan pada kasus perdarahan di kehamilan muda
sangat dibutuhkan. Dalam makalah ini akan dibahas bagaiman penatalaksanaan
awal kegawatdaruratan pada abortus, kehamilan ektopik terganggu dan mola
hidatidosa yang mana ketiga kasus ini mempunyai tanda dan gejala yang
spesifik.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penanganan awal kegawatdaruratan pada abortus imminens,
insipient, inkomplit dan abortus komplit?
2. Bagaimana penanganan awal kegawatdaruratan pada kehamilan ektopik
terganggu (KET)?
3. Bagaimana penanganan awal kegawatdaruratan pada molahidatidosa?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui penanganan awal kegawatdaruratan pada kasus abortus
imminens, insipient, inkomplit dan abortus komplit.
2. Untuk mengetahui penanganan awal kegawatdaruratan pada kasus
kehamilan ektopik terganggu (KET).
3. Untuk mengetahui penanganan awal kegawatdaruratan pada kasus
molahidatidosa.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Abortus
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat
hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu
atau berat janin kurang dari 500 gram.

Faktor Predisposisi
Faktor predisposisisi abortus mencakup beberapa faktor, antara lain:
1. Faktor dari janin (fetal yang terdiri dari: kelainan genetik (kromosom)
2. Faktor dari ibu (maternal, yang terdiri dari: infeksi, kelainan hormonal seperti
hipotiroidisme, diabetes melllitus, malnutrisi, penggunaan obat-obatan,
merokok, konsumsi alkohol, faktor immunologis dan defek anatomis seperti
uterus didelfis, inkompetensia serviks (penipisan dan pembukaan serviks
sebelum waktu inpartu, umumnya pada trimester kedua) dan sinekhiae uteri
karena sindrom Asherman.
3. Faktor dari ayah (paternal): kelainan sperma

Gejala dan Tanda


Untuk wanita yang masih dalam usia reproduksi, sebaiknya dipikirkan suatu
abortus inkomplit apabila:
1. Terlambat haid (tidak datang haid lebih dari satu bulan, dihitung dari haid
terakhir)
2. Terjadi perdarahan per vaginam
3. Spasme atau nyeri perut bawah (seperti kontraksi saat persalinan)
4. Keluarnya massa kehamilan (fragmen plasenta)
Apabila tidak terdapat gejala diatas sebaiknya pertimbangkan diagnosis
misalnya infeksi panggul). Upaya pengakhiran kehamilan secara paksa
dilakukan dengan memasukkan kayu, karet, batang plastik atau benda-benda
tajam lainnya kedalam kavum uteri dan ini menjadi penyebab utama dari
berbagai komplikasi serius abortus inkomplit. Karena berbagai alasan tertentu

3
(normatif, pribadi, sosiokultural, hukum) kebanyakan pasien abortus
provokatus, segan atau sengaja menyembunyikan penyebab abortus yang dapat
membahayakan atau mengancam keselamatan jiwa pasien. Diagnosis dapat
ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan ultrasonografi.

Penapisan Komplikasi Serius


Bila seorang pasien datang dengan dugaan suatu abortus inkomplit, penting
sekali untuk segara menentukan ada-tidaknya komplikasi berbahaya (syok,
perdarahan hebat, infeksi/sepsis dan trauma intraabdomen/perforasi uterus). Bila
ditemui komplikasi yang membahayakan jiwa pasien maka harus segera
dilakukan upaya stabilisasi sebelum penanganan lanjut/merujuk ke fasilitas
kesehatan rujukan.

Riwayat Medik
Informasi khusus tentang reproduksi, yang harus diperoleh diantaranya:
1. HPHT dan kapan mulai terlambat haid.
2. Alat kontrasepsi yang sedang digunakan (amenore akibat kontrasepsi
hormonal dapat dikelirukan dengan abortus bila kemudian terjadi menoragia)
3. Perdarahan pervaginam (lama dan jumlahnya)
4. Demam, menggigil atau kelemahan umum
5. Nyeri atau punggu/bahu (berkaitan dengan trauma intrabdomen)
6. Riwayat vaksinasi dan kemungkinan risiko tetanus (abortus provokatus)

Infomasi medik yang penting meliputi:


1. Alergi obat (anestesi dan antibiotika)
2. Gangguan hematologi (anemia bulan sabit/sickle cell anemia, thalasemia,
hemofilia, atau gangguan pembekuan darah)
3. Penggunaan obat jangka panjang (misalnya kortikosteroid)
4. Minum jamu atau obat-obatan yang tidak jelas komposisi dan khasiatnya
apabila bersifat toksik, dapat menimbulkan efek samping yang serius)
5. Kondisi gangguan kesehatan lain (misalnya, malaria dan kehamilan)

4
Pemeriksaan fisik
Penting untuk diperhatikan:
1. Periksa dan catat tanda vital
2. Ganggguan kesehatan umum (anemia, kurang gizi, keadaan umum jelek)
3. Periksa keadaam paru, jantung dan ektremitas

Pemeriksaan Abdomen
Periksa adanya:
1. Massa atau kelainan intraabdomen lainnya
2. Perut kembung dengan bising usus melemah
3. Nyeri ulang-lepas
4. Nyeri atau kaku dinging perut (pelvik/suprapublik)

Pemeriksaan Panggul
Tujuan utama pemeriksaaan panggul atau bimanual adalah untuk mengetahui
besar, arah konsistensi uterus, nyeri goyang serviks, nyeri tekan parametrium,
pembukaan ostium serviks. Melihat sumber perdarahan lain (trauma
vagina/serviks) selain akibat sisa konsepsi.
Pemeriksaan dnegan spekulo (inspekulo)
Sebelum memasukkan spekulum perhatikan:
1. Daerah genetalia eksterna, perhatikan sifat dan jumlah perdarahan
pervaginam
2. Darah yang bercampur dengan sekret yang berbau
Setelah selesei melakukan pengamatan bagian luar, masukkan spekulum untuk
melihat dinding vagina dan serviks. Bersihkan bekuan darah/massa kehamilan
dalam lumen vagina atau terjepit ostium serviks. Apabila diperlukan, awetkan
jaringan/sisa konsepsi untuk pemeriksaan histopatologi. Tentukan apakah darah
keluar melalui ostium atau dari dinding vagina. Bila diduga atau jeals terjadi
infeksi lakukan pemeriksaan bakteriologis dan uji resistensi. Pasien segra diberi
antibiotika spektrum luas secara adekuat, sebelum melakukan prosedur AVM.

5
Pemeriksaan bimanual
Apabila periksa luar, sulit menentukan tinggi fundus uteri maka lakukan periksa
dalam (besar,arah, dan konsistensi uterus).

Nilai besar dan posisi uterus


Temuan yang pasti tentang besar uterus, sangat menetukan keamanan dan
keberhasilan prosedur klinik yang akan dijalankan. Bila uterus lebih besar dari
dugaan usia kehamilan, kemungkinannya adalah:
1. Usia kehamilan memang lebih besar dari HPHT
2. Hamil kembar/ganda
3. Uterus dipenuhi bekuan darah (sindroma pascakeguguran)
4. Hamil mola
5. Mioma uteri dengan kehamilan
Uterus retroversi, obesitas atau kekakuan dinding perut, akan menyulitkan
perabaan uterus. Penting seklai untuk mengetahui besar dan arah uterus sebelum
melakukan prosedur AVM.

Uterus Anteversi
Prosedur evakuasi massa kehamilan pada uterus sangat anteversi atau antefleksi
sebaiknya dilakukan dengan hati-hati karena uterus retroversi memiliki
risikoperforasi yang cukup tinggi.

Gambar 1. Palpasi Uterus anterversi

6
Uterus Retroversi
Retrovesi lebih mudah ditentukan melalui pemriksaan rektovaginal.kejadian
perforai sering disebabkan oleh ketidakmampuan operator mengenali uetrus
hiperretroversi/retrofleksi terus.

Gambar 2. Palpasi Uterus retorversi

Uterus Lateroposisi
Apabila oleh sebab tertentu, uetrus berada atau terdorong ke lateral maka
operator haru mneyesuaikan arah kanula pada saat melakukan proses evakuasi,
untuk menghindarkan terjadinya perforasi.

Derajat Abortus
Dengan memperhatikan temuan dari pemeriksaan panggul, tentukan derajt
abortus yang dialami pasien.
Tabel 1. Evaluasi Medik
Riwayat medik Tanya dan catat :
Lamanya tidak datang haid(HPHT dan dugaan
usia kehamilan)
Perdarahan pervaginam (lama dan jumlahnya)
Apakah sedagnmenggunkan alat kontrasepsi
(AKDR, implant,Suntik, Pil)
Spasme atau kram (lama dan intensistasnya)
Nyeri abdomen atau punggng
Jaringan yang keluar (massa kehamilan)

7
Alergi obat
Gangguan pembekuan darah atau perdarahan
Minum jamu atau bahan berbahaya lainnya
Kondisi kesehatan lainnya
Pemeriksaan Periksa dan catat tanda vital
fisik Nilai keadaan umum (kurang gizi anmeia,
kelemahan)
Pariksa janutng,paru, dan abdomen (cembung,
tagang dan nyeri tekan/peritonitis lokal, lokasi,
intensitas nyeri, nyeri ulang lepas, tumor, bising
usus)
Pemeriksaan Bersihkan bekuan darah dan massa kehamilan
panggul dalam lumen vagina dan ostium serviks
Perhatikan adanya sekret yang berbau
Sifat dan jumlah perdarahan
Pembukaan serviks
Besar (sesuaikan dengan HPHT), konsistensi dan
arah uetrus
Nyeri goyang serviks atau nyeri tekan
parametrium atau nyeri pada oragan genetalia
dalam lain (lokas, intensitas)
Tumor pelvik

Abortus iminens Abortus insipiens Abortus inkomplit Abortus komplit

Gambar 3. Macam-macam abortus

8
Tabel jenis dan derajat abortus
Diagnosis Perdarahan Uterus Serviks Gejala khas Gejala lain
Abortus Sediki- Sesuai usia Tertutup lunak Tidak ada Pt positif
Iminens sedang gestasi ekspulsi jaringan Kram
konsepsi Uterus lunak
Abortus Sedang- Sesuai usia Terbuka lunak Tidak ada Kram
insipiens banyak kehamilan ekspulsi jaringan sedang/kuat
atau lebih konsepsi uterus lunak
kecil
Abortus Sedikit- Lebih kecil Terbuka lunak Ekspulsi Kram kuat
inkomplit banyak dari usia sebagian jaringan Keluar jaringan
gestasi konsepsi Uterus lunak
Abortus Sedikit/ Lebih kecil Lunak Ekspulsi seluruh Sedikit/tak kram
komplit tidak ada dari usia (Terbuka/ jaringan konsepsi keluar jaringan
gestasi tertutup) Uterus kenyal

Tatalaksana umum
1. Lakukan penilaian awal secara cepat mengenai keadaan umum ibu termasuk
tanda-tanda vital( nadi,tekanan darah, pernafasan, suhu).
2. Periksa tanda-tanda syok (akral dingin, pucat, takikardi, tekanan sistosil <90
mmHg). Jika terdapat syok lakukan tatalaksana awal syok. Jika tidak terlihat
tanda-tanda syok, tetap pikirkan kemungkinan tersebut saat penolong
melakukan evaluasi mengenai kondisi ibu karena kondisinya dapat
memburuk dengan cepat. Bila terdapat dugaan sepsis/dugaan aborus dengan
komplikasi, berikan antibiotika sampai ibu bebas demam untuk 48 jam:
a. Ampicillin 2 g IV/IM kemudia 1 g diberikan setiap 6 jam
b. Gentamicin 5 mg/kgBB IV setiap 24 jam
c. Metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam
3. Segera rujuk ibu ke rumah sakit
4. Semua ibu yang mengalami abortus perlu mendapatkan dukungan emosional
dan konseling kontrasepsi pasca keguguran.
5. Lakukan tatalaksana selanjutnya sesuai jenis abortus

9
B. Abortus Imminens
Tatalaksana khusus:
1. Pertahankan kehamilan
2. Tidak perlu pengobatan khusus
3. Jangan melakukan aktivitas fisik berlebihan atau hubungan seksual
4. Pasien harus diistirahatkan atau tirah baring total selama 24-48 jam.
5. Jika perdarahan berhenti, pantau kondisi ibu selanjutnya pada pemeriksaan
antenatal termasuk pemantauan kadar Hb dan USG panggul serial setiap 4
minggu. Lakukan penilaian ulang bila perdarahan terjadi lagi.
6. Jika perdarahan tidak berhenti nilai kondisi janin dengan USG. Nilai
kemungkinan adanya penyebab lain pasien harus dievaluasi ulang
7. Bila keadaannya membaik, pasien dipulangkan dan dianjurkan periksa ulang
1 hingga 2 minggu mendatang.

C. Abortus Insipient
Tatalaksana khusus:
1. Lakukan konseling untuk mennjelaskan kemungkinan risiko dan rasa tidak
nyaman selama tindakan evakuasi (pengeluaran hasil konsepsi), serta
memberikan informasi mengenai kontrasepsi pascakeguguran.
2. Jika usia kehamilan kurang dari 16 minggu : lakukan evakuasi isi uterus. Jika
evakuasi tidak dapat dilakukan segera : berikan ergometrin 0,2 mg IM (dapat
diulang 15 menit kemudian bila perlu), rencanakan evakuasi segera
3. Jika kehamilan lebih dari 16 minggu:
a. Tunggu pengeluaran hasil konsepsi secara spontan dan evakuasi sisa hasil
konsepsi dari dalam uterus
b. Bila perlu berikan infus 40 IU oksitosin dalam 1 liter NaCl 0,95 % atau
Ringer Laktat dengan kecepatan 40 tetes per menit untuk membantu
pengeluaran konsepsi.
4. Lakukan pemantauan pascatindakan setiap 30 menit selama 2 jam. Bila
kondisi ibu baik, pindahkan ibu ke ruang rawat.

10
5. Lakukan pemeriksaan jaringan secara makroskopik dan kirimkan untuk
pemeriksaan patologi ke laboratoriun.
6. Lakukan evaluasi tanda vital, peradarahan pervaginaman, tanda akut
abdomen, dan produksi urin setiap 6 jam selama 24 jam. periksa kadar
hemoglobin setelah 24 jam. Bila hasil pemantauan baik dan kadar Hb >8 g/dl
ibu dapat diperbolehkakn pulang.

D. Abortus Inkomplit
Tatalaksana khusus:
1. Lakukan konseling jika perdarahan ringan atau sedang dan usia kehamilan
kurang dari 16 minggu, gunakan jari atau forsep cincin untuk mengeluarkan
hasil konsepsi yang mencuat dari serviks.
2. Jika perdarahan berat dan usia kehamilan kurang adari 16 minggu, lakukan
evakuasi isi uterus dengan AVM atau kuretase. Aspirasi Vakum Bimanual
(AVM) adalah metode yang paling dianjurkan dari ebberapa hasil penelitian
menunjukkan resiko yang lebih rendah. Aspirasi vakum tidak memerlukan
anestasi umum dan ruang khusus (dapat dilayani secara rawat jalan).
3. Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu berikan infus 40 IU oksitosin dalam
1 liter NaCl 0,9% atau Ringer laktate dengan kecepatan 40 tets per menit
untuk membantu pengeluaran hasil konsepsi.
4. Lakukan evaluasi tanda vital, perdarahan pervaginam, tanda akut abdomen,
dan produksi setiap 6 jam selama 24 jam. periksa kadar hemoglobin setelah
24 jam. Bila hasil pemantauan baik dan kadar Hb >8 g/dl ibu dapat
diperbolehkan pulang.
Waspadalah bila tidak ditemukan adanya jaringan hasil konsepsi pada sampel
kuretase. Lakukan evaluasi ulang atau rujuk untuk memeriksa kemungkinan
adanya kehamilan ektopik.

E. Abortus Komplit
Abortus komplit adalah keluarnya Seluruh hasil konsepsi dari rahim pada
kehamilan kurang dari 20 minggu.

11
1. Tatalaksana
Pada abortus komplit tidak memerlukan penanganan khusus, yang perlu
dilakukan adalah :
a. Lakukan konseling untuk memberikan dukungan emosional
b. Menawarkan kontrasepsi pasca keguguran.
Alat Kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) Pasca Keguguran
Kesuburan dapat kembali kira-kira 14 hari setelah keguguran. Untuk
mencegah kehamilan, AKDR umumnya dapat dipasang secara aman
setelah aborsi spontan atau diinduksi. Kontraindikasi pemasangan AKDR
pasca keguguran antara lain infeksi pelvik, abortus septik, atau komplikasi
serius lain dari abortus. Teknik pemasangan AKDR masa interval
digunakan untuk abortus trimester pertama. Jika abortus terjadi di atas usia
kehamilan 16 minggu, pemasangan AKDR harus dilakukan oleh tenaga
yang mendapat pelatihan khusus.
c. Observasi keadaan ibu.
d. Apabila terdapat anemia sedang, berikan tablet sulfas ferosus 600 mg/hari
selama 2 minggu, jika anemia berat berikan transfusi darah.
e. Evaluasi keadaan ibu setelah 2 minggu.

F. Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)


Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar rahim (uterus).
Hampir 95% kehamilan ektopik terjadi di berbagai segmen tuba falopii, dengan
5% sisanya terdapat di ovarium, rongga peritoneum atau di dalam serviks.
Apabila terjadi ruptur di lokasi implantasi kehamilan, maka akan terjadi keadaan
perdarahan masif dan nyeri abdomen akut yang disebut kehamilan ektopik
terganggu.
1. Tanda dan Gejala
a. Perdarahan pervaginam dari bercak hingga berjumlah sedang
b. Kesadaran menurun
c. Pucat
d. Hipotensi dan hypovolemia

12
e. Nyeri abdomen dan pelvis
f. Nyeri goyang porsio
g. Serviks tertutup
Penegakkan diagnosis dibantu dengan pemeriksaan USG.

2. Faktor Predisposisi
a. Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
b. Riwayat operasi di daerah tuba dan/atau tubektomi
c. Riwayat penggunaan AKDR
d. Infertilitas
e. Riwayat inseminasi buatan atau teknologi bantuan reproduktif (assisted
reproductive technology/ART)
f. Riwayat infeksi saluran kemih dan pelvic inflammatory disease/PID
g. Merokok
h. Riwayat abortus sebelumnya
i. Riwayat promiskuitas
j. Riwayat seksio sesarea sebelumnya

3. Tatalaksana
a. Tatalaksana Umum
Restorasi cairan tubuh dengan cairan kristaloid NaCl 0,9% atau
Ringer Laktat (500 mL dalam 15 menit pertama) atau 2 L dalam 2 jam
pertama. Segera rujuk ibu ke rumah sakit.
b. Tatalaksana Khusus
Segera uji silang darah dan persiapan laparotomy. Saat laparotomi,
lakukan eksplorasi kedua ovarium dan tuba fallopii:
1) Jika terjadi kerusakan berat pada tuba, lakukan salpingektomi (eksisi
bagian tuba yang mengandung hasil konsepsi)
2) Jika terjadi kerusakan ringan pada tuba, usahakan melakukan
salpingostomi untuk mempertahankan tuba (hasil konsepsi dikeluarkan,
tuba dipertahankan)

13
Sebelum memulangkan pasien, berikan konseling untuk penggunaan
kontrasepsi. Jadwalkan kunjungan ulang setelah 4 minggu. Atasi
anemia dengan pemberian tablet besi sulfas ferosus 60 mg/hari selama 6
bulan.

G. Mola Hidatidosa
Mola hidatidosa adalah bagian dari penyakit trofoblastik gestasional, yang
disebabkan oleh kelainan pada villi khorionik yang disebabkan oleh proliferasi
trofoblastik dan edem.

1. Tanda dan Gejala


a. Perdarahan pervaginam berupa bercak hingga berjumlah banyak
b. Mual dan muntah hebat
c. Ukuran uterus lebih besar dari usia kehamilan
d. Tidak ditemukan janin intrauteri
e. Nyeri perut
f. Serviks terbuka
g. Keluar jaringan seperti anggur, tidak ada janin
h. Takikardi, berdebar-debar (tanda-tanda tirotoksikosis)
Penegakkan diagnosis kehamilan mola dapat dibantu dengan pemeriksaan
USG.

2. Faktor Predisposisi
a. Usia kehamilan terlalu muda dan tua
b. Riwayat kehamilan mola sebelumnya
c. Beberapa penelitian menunjukkan penggunaan kontraseptif oral

3. Tatalaksana
a. Tatalaksana Umum
Kasus ini tidak boleh ditatalaksana pada fasilitas kesehatan dasar,
ibu harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Jika serviks
tertutup, pasang batang laminaria selama 24 jam untuk mendilatasi

14
serviks serta iapkan darah untuk transfusi, terutama pada mola
berukuran besar.
b. Tatalaksana Khusus
Lakukan evakuasi dengan menggunakan Aspirasi Vakum Manual
(AVM) dan kosongkan isi uterus secara cepat. Pastikan tersedia tiga
tabung AVM yang siap dipakai karena banyaknya jaringan yang
dievakuasi. Aspirasi vakum elektrik lebih diutamakan bila tersedia.

H. Aspirasi Vakum Manual (AVM)


Aspirasi VakumManual (AVM) merupakansalah satu cara efektif evakuasi
sisa konsepsi pada abortus inkomplit. Evakuasi dilakukan dengan mengisap
sisa konsepsi dari kavum uteri dengan tekanan negatif (vakum) sebesar 1
atm atau 660 mmHg.
Persiapan untuk prosedur AVM
1) Perlengkapan
Instrumen yang disiapkan antara lain:
a) Tabung dengan volume 60 Ml
b) Pengatur katup (1 atau 2 buah)
c) Toraks dan tangkai penarik/pendorong
d) Penahan toraks (collar stop) di pangkal tabung
e) Silikon pelumas cincin karet
f) Kanula steril dengan 2 lobang di ujungnya. Kanula terdapat dalam
ukuran kecil (4,5, dan 6 mm) dan besar (6, 7, 8, 9, 10 dan 12 mm)
2) Persiapan
a) Upaya pencegahan infeksi : cuci tangan dengan sabun atau air mengalir
(sebelum dan setelah prosedur), gunakan peralatan steril atau DTT,
usap vagina dan serviks dengan antiseptik serta gunakan teknik tanpa
sentuh.
b) Periksa fungsi isap (tekanan negatif) tabung AVM
c) Pastikan kesiapan tindakan gawatdarurat
d) Buat tekanan negatif (vakum) di dalam tabung AVM

15
3) Langkah-langkah
a) Masukkan spekulum secara halus, perhatikan serviks, apakah ditemui
robekan atau jaringan yang terjepit di ostium. Apabila terdapat jaringan
atau bekuan darah di vagina atau serviks, keluarkan dengan
klem ovum. Bila tampak benang AKDR, bersihkan dulu serviks
dengan kapas yang telah dibasahi larutan antiseptik, baru tarik
benangnya untuk mengeluarkan AKDR.
b) Bersihkan serviks, usapkan larutan antiseptik
c) Lakukan blok paraservikal (bila diperlukan)
d) Pegang bibir atas serviks (dengan tenakulum atau klem ovum),
tegangkan lalu ukur bukaan ostium serviks dengan kanula.
e) Setelah diperoleh ukuran yang sesuai, dengan hati-hati, masukkan
(rotasikan dan dorong) kanula ke dalam kavum uteri
f) Sambil memasukkan ujung kanula hingga fundus uteri, perhatikan titik-
titik pada alat yang sama dengan lobang kannula. Titik dekat ujung
kannula menunjukkan ukuran 6 cm dan setiap titik
berikutnya menunjukkan tambahan 1 cm. Dengan memperhatikan skala
pada titiktitik tersebut dapat dilakukan pendugaan yang akurat tentang
kedalaman dan besar kavum uteri. Setelah pengukuran selesai, tarik
sedikit ujung kannula dari fundus uteri.
g) Hubungkan pangkal kannula (dipegang sambil memegang tenakulum)
dengan tabung AVM (melalui adaptor)
h) Buka pengatur katup untuk menjalankan tekanan negatif (vakum) ke
dalam kavum uteri. Bila tekanan tersebut bekerja, tampak cairan darah
dan busa memasuki tabung AVM.
i) Evakuasi sisa konsepsi dengan menggerakkan kannula maju-mundur
sambil dirotasikan ke kanan-kiri secara sistematik. Gerakan rotasi
tersebut jangan melebihi 180<sup>0</sup> pada satu sisi (depan atau
belakang) Penting untuk menjaga agar kannula tidak tertarik keluar dari
ostium (kavum) uteri karena akan menghilangkan tekanan negatif
(vakum) dalam tabung. Hal yang sama juga terjadi apabila tabung AVM

16
penuh. Apabila tekanan tersebut hilang, maka lepaskan sambungan
kannula dan tabung, kemudian keluarkan isi tabung. Siapkan kembali
tekanan negatif dengan jalan menutup kembali pengatur katup, tarik
tangkai pendorong hingga ganjal terkait pada pangkal tabung.

Perhatikan! Jangan memegang tabung pada tangkai pendorong karena


dapat melepaskan kait atau ganjal sehingga tekanan negatifnya hilang.
Hal demikian tidak boleh terjadi pada keadaan kannula sudah
dihubungkan dengan tabung karena akan mendorong udara (atau isi
tabung) ke dalam kavum uteri

j) Periksa kebersihan kavum uteri atau kelengkapan hasil evakuasi.


Kavum uteri diduga cukup bersih jika dilihat dari temuan berikut:
k) Busa-busa merah (merah jambu) atau tidak terlihat lagi massa
kehamilan terhisap ke dalam tabung AVM
l) Mulut kannula melewati bagian-bagian bersabut/kasar (gritty
sensation) pada saat digerakkan melalui dinding kavum uteri
m) Uterus berkontraksi atau seperti memegang bambu
n) Keluarkan kannula, lepaskan sambungannya dengan tabung AVM
dan masukkan ke dalam wadah yang berisi larutan dekontaminasi.
Buka pengatur katup, keluarkan isis tabung AVM (dengan menekan
pendorong toraks) ke dalam wadah khusus.
o) Periksa jaringan hasil evakuasi, antara lain:
(1) Jumlah dan adanya massa kehamilan
(2) Memastikan kebersihan evakuasi
(3) Adanya kelainan-kelainan di luar massa kehamilan (misalnya
gelembung mola)
p) Setelah dipastikan kavum uteri bersih dari sisa konsepsi, lepaskan
tenakulum dan spekulum. Lakukan dekontaminasi pada peralatan bekas
pakai
q) Sementara masih menggunakan sarung tangan, kumpulkan bahan habis
pakai (kapas, kasa dsb) ke dalam tempat sampah yang telah disediakan.

17
Amankan benda tajam pada tempat yang sesuai. Buang massa/jaringan
atau hasil evakuasi ke dalam saluran pembuangan khusus.
r) Masukkan kedua sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, bersihkan
cemaran kemudian lepaskan sarung tangan secara terbalik ke dalam
wadah dekontaminasi.
s) Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir hingga bersih

Sementara proses evakuasi berlangsung, lakukan hal berikut:


1) Pasang infus oksitosin 10 unit dalam 500 ml NaCl 0.9% atau RL dengan
kecepatan 40-60 tetes/menit untuk mencegah perdarahan.
2) Ibu dianjurkan menggunakan kontrasepsi hormonal bila masih ingin
memiliki anak, atau tubektomi bila ingin menghentikan kesuburan
3) Selanjutnya ibu dipantau:
a) Pemeriksaan HCG serum setiap 2 minggu.
b) Bila hasil HCG serum terus menetap atau naik dalam 2 kali pemeriksaan
berturut-turut, ibu dirujuk ke rumah sakit rujukan tersier yang
mempunyai fasilitas kemoterapi.
c) HCG urin yang belum memberi hasil negatif setelah 8 minggu
juga mengindikasikan ibu perlu dirujuk ke rumah sakit rujukan tersier.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kehamilan merupakan kondisi alami yang bisa terjadi pada wanita setelah
terjadinya proses fertilisasi. Kehamilan dapat berjalan dengan normal namun
terkadang ada juga yang tidak berjalan dengan tidak normal. Ketidaknormalan
yang dialami dalam kehamilan muda usia kurang dari 20 minggu salah satunya
apabila terjadi perdarahan. Perdarahan tersebut merupakan suatu tanda yang
harus sangat diwaspada yang selanjutnya dikembangkan dengan gejala lainnya
baik secara subjektif maupun maupun objektif. Dari pengembangan gejala
yang dialami oleh wanita hamil pada kehamilan muda dapat dibedakan menjadi
abortus (abortus imminens, abortus insipient, abortus inkomplit serta abortus
komplit), kehamilan ektopik terganggu (KET) atau mola hidatidosa. Ketiganya
merupakan tanda bahaya atau keadaan gawat darurat pada kehamilan muda
yang harus mendapatkan pengawasan yang ketat dan penatalaksanaan yang
cepat, tepat serta sesuai dengan standar operasional prosedur.

B. Saran
Mengingat tingginya angka kematian ibu dan angka kematian bayi di
Indonesia, maka kegawatdaruratan maternal dan neonatal haruslah ditangani
dengan cepat dan tepat. Penangan yang tepat dapat meningkatkan
kesejahteraan keluarga di Indonesia. Maka, dengan mempelajari dan
memahami kegawatdaruratan maternal dan neonatal, bidan diharapkan dapat
memberikan penanganan yang maksimal dan sesuia dengan standar
operasional prosedur demi keselamatan ibu dan bayi.

19
DAFTAR PUSTAKA

JNPK-KR. 2008. PAKET PELATIHAN PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL


EMERGENSI DASAR. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Kementrian Kesehatan RI. 2015. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas
Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia

Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo

Setyarini, Didien Ika dan Suprapti. 2016. ASUHAN KEBIDANAN


KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NEONATAL. Jakarta:
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

20