Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Proses kehamilan dan persalinan ibaratnya seperti akan melakukan


suatu perjalanan. Banyak hal yang harus dipersiapkan, terutama oleh calon
ibu. Seorang calon ibu tentunyaakan mengharapkan suatu keadaan optimal
supaya dirinya dan bayi yang di kandungannya dapat melalui proses
persalinan dengan aman dan selamat.

Menurut WHO, tujuan pelayanan kebidanan adalah menjamin, agar


setiap wanita hamil dan wanita yang menyusui bayinya dapat memelihara
kesehatannya sesempurna-sempurnanya agar wanita hamil melahirkan bayi
sehat tanpa gangguan apapun dan kemudian dapat merawat bayinya dengan
baik. Oleh karena itu, para tenaga medis dituntut untuk mampu mengenali
dengan cepat serta menangani keadaan-keadaan yang dinilai dapat
membahayakan ibu maupun janin.

Dari berbagai faktor yang berperan pada kematian ibu dan bayi,
kemampuan kinerja petugas kesehatan berdampak langsung pada
peningkatan kualitas pelayanan kesehatan maternal dan neonatal terutama
kemampuan dalam mengatasi masalah yang bersifat kegawatdaruratan.
Semua penyulit kehamilan atau komplikasi yang terjadi dapat dihindari
apabila kehamilan dan persalinan direncanakan, diasuh dan dikelola secara
benar. Untuk dapat memberikan asuhan kehamilan dan persalinan yang cepat
tepat dan benar diperlukan tenaga kesehatan yang terampil dan profesional
dalam menanganan kondisi kegawatdaruratan.

1
1.2 Rumusan Masalah

1 Apa definisi dari kegawatdaruratan maternal dan neonatal ?

2 Apa saja tanda dan gejala kegawatdaruratan ?

3 Apa saja penyebab kegawatdaruratan ?

4 Apa saja wewenang bidan dalam kegawatdaruratan ?

1.3 Tujuan Penulisan

1 Untuk Memahami definisi dari kegawatdaruratan maternal dan neonatal.

2 Untuk Memahami tanda dan gejala kegawatdaruratan.

3 Untuk Mengetahui penyebab kegawatdaruratan.

4 Untuk Mengetahui wewenang bidan dalam kegawatdaruratan.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan


medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih
lanjut (UU No. 44 tahun 2009).[1]

Kegawatdaruratan merupakan keadaan yang bermanifestasikan gejala-


gejala akut akan adanya suatu keparahan pada tingkatan tertentu, dimana
apabila pada keadaan tersebut tidak diberikan perhatian medis yang memadai,
dapat membahayakan keselamatan individu bersangkutan, menyebabkan
timbulnya gangguan serius fungsi tubuh ataupun terjadinya disfungsi organ
atau kecacatan.(ACEP, 2013).

Kasus gawat darurat obstetri adalah kasus obstetri yang apabila tidak
segera ditangani akan berakibat kematian ibu dan janinnya. Kasus ini menjadi
penyebab utama kematian ibu janin dan bayi baru lahir. (Saifuddin, 2002).

Kasus gawat darurat neonatus ialah kasus bayi baru lahir yang apabila
tidak segara ditangani akan berakibat pada kematian bayi. Kegawatdaruratan
neonatal adalah situasi yang membutuhkan evaluasi dan manajemen yang
tepat pada bayi baru lahir yang sakit kritis ( usia 28 hari) membutuhkan
pengetahuan yang dalam mengenali perubahan psikologis dan kondisi
patologis yang mengancam jiwa yang bisa saja timbul sewaktu-waktu
(Sharieff, Brousseau, 2006).

a. Pasien Gawat Darurat

Pasien yang tiba-tiba dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan
terancam nyawanya dan atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila
tidak mendapatkan pertolongan secepatnya.

3
b. Pasien Gawat Tidak Darurat

Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan


darurat. Misalnya pasien dengan kanker.

c. Pasien Darurat Tidak Gawat

Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba, tetapi tidak mengancam


nyawa dan anggota badannya.

d. Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat

Pasien yang tidak mengalami kegawatan dan kedaruratan. Misalnya pasien


batuk, pilek.

2.2 Tanda dan Gejala Kegawatdaruratan [2]

Kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap


saat. Sekarang ini secara umum sudah diterima bahwa setiap kehamilan
membawa risiko bagi ibu. World Health Organization (WHO)
memperkirakan bahwa sekitar 15% dari seluruh wanita yang hamil akan
berkembang menjadi komplikasi yang berkaitan dengan kehamilannya, serta
dapat mengancam jiwanya. Dari 5.600.000 wanita hamil di Indonesia,
sebagian besar akan mengalami komplikasi atau masalah yang bisa menjadi
fatal. Survei Demografi dan Kesehatan yang dilaksanakan pada tahun 1997
menyatakan bahwa dari tahun 1992-1997, 26% wanita dengan kelahiran
hidup mengalami kompikasi. Bidan-bidan akan menemukan wanita hamil
dengan komplikasi-komplikasi yang mungkin dapat mengancam jiwanya.

Kelahiran bayi merupakan peristiwa penting bagi kehidupan seorang ibu


dan keluarganya. Sebagai bidan, kita beruntung dapat berbagi peristiwa ini
dengan keluarga. Kita juga berada pada posisi yang unik untuk meningkatkan
kemampuan ibu dalam melahirkan, sebagaimana juga kemampuan menemani
ibu dalam proses kelahiran untuk memberikan dukungan dan dorongan.

4
Sangat penting untuk diingat bahwa persalinan merupakan proses yang
normal, serta merupakan suatu kejadian yang sehat. Akan tetapi, potensi
komplikasi yang mengancam nyawa juga kan selalu ada sehingga bidan harus
mengamati ibu an bayi dengan ketat sepanjang kelahiran.

Jika dilihat dari data-data di atas, maka sangat penting bagi bidan untuk
mengetahui bagaimana cara mendeteksi dini penyulit dan komplikasi selama
masa kehamilan dan masa persalinan, sebagai upaya menurunkan angka
mortalitas dan morbiditas pada ibu dan bayi.

Informasi penting yang dikumpulkan pada setiap kunjungan antenatal


(Pusdiknakes WHO, 2001) adalah sebagai berikut .

1. Trimester I

a. Membina hubungan saling percaya.

b. Mendeteksi masalah yang dapat diobati.

c. Mencegah masalah (suntik tetanus toksoid, anemia zat besi,


penggunaan praktik tradisional yang merugikan).

d. Memulai persiapan persalinan dan siap menghadapi komplikasi.

e. Mendorong perilaku sehat (nutrisi, atihan kebersihan, istirahat, dan


sebagainya).

2. Trimester II

Sama seperti trimester I, ditambah kewaspadaan khusus mengenai


preeklamsia (teliti tanda-tandanya).

3. Trimester III

Sama seperti semester I dan II, ditambah palpasi abdomen untuk


mendeteksi kehamilan ganda.

4. Trimester IV

5
Sama seperti trimester I,II, dan III, ditambah deteksi kelainan letak atau
kondisi yang memerlukan kelahiran di rumah sakit.

A. Tanda-tanda dan Gejala Kegawatdaruratan pada Maternal

Pada setiap kunjungan antenatal, bidan harus mengajarkan kepada ibu


bagaimana mengenali tanda-tanda bahaya dan menganjurkan untuk datang
ke klinik dengan segera jika ia mengalami tanda-tanda bahaya tersebut.
Namun, akan lebih baik lagi jika memberikan pendidikan tidak hanya
kepada ibu, tetapi juga pada anggota keluarganya, khususnya pembuat
keputusan utama sehingga siibu akan didampingi untuk mendapatkan
asuhan.

Enam tanda bahaya selama periode antenatal adalah sebagai berikut.

1. Perdarahan pervaginam

2. Sakit kepala yang hebat, menetap yang tidak hilang.

3. Perubahan visual secara tiba-tiba (pandangan kabur, rabun senja)

4. Nyeri abdomen yang hebat.

5. Bengkak pada muka atau tangan.

6. Bayi kurang bergerak seperti biasa.

Jika bidan mengidentifikasi/menemukan suatu tanda bahaya, maka


langkah berikutnya adalah melaksanakan semua investigasi untuk
membuat suatu assessment/diagnosis dan membuat suatu rencana
pentalaksanaan yang sesuai.

6
PENYULIT PERSALINAN

Penyulit persalinan adalah hal-hal yang berhubugan langsung dengan


persalinan yang menyebabkan hambatan bagi persalinan yang lancer.

1. Kategori penyulit persalinan kala I sampai dengan kala IV adalah sebagai


berikut.

a. Distosia

b. Atonia uteri

c. Retensio Plasenta

d. Robekan Jalan Lahir

e. Perdarahan kala IV (primer)

f. Emboli air ketuban.

g. Inversio Uteri

h. Syok Obstetrik

7
2. Masalah dan penyulit pada kala I s.d. kala IV persalinan.

Tabel 1.1 Masalah dan penyulit pada kala I persalinan


No. Temuan-temuan Anamnesis dan/atau Pemeriksaan
1. Perdarahan pervaginam selain dari lender bercampur darah (bloody show)
2. Kurang dari 37 minggu (persalinan kurang bulan)
3. Ketuban pecah disertai degan keluarnya mekonium kental.
4. Ketuban pecah bercampur dengan sedikit mekonium disertai dengan dengan tanda-
tanda gawat janin.
5. Ketuban telah pevah (lebih dari 24 jam) atau ketuban pecah pada kehamilan kurang
bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu).
6. Tanda-tanda atau gejala-gejala infeksi: temperature tinggi >38C, menggigil, nyeri
abdomen, cairan ketuban yang berbau.
7. Tekanan darah >160/100 mmHg dan/atau terdapat protein dalam urine
8 Tingi fundus 40 cm atau lebih
9. Tekanan darah <100 atau >180x/menit pada dua kali penilaian dengan jarak 5 menit.
10. Primipara dalam persalinan fase aktif dengan palpasi kepala janin masih 5/5
11. Presentasi bukan belakang kepala (sungsang, letak lintang, dan lain-lain)
12. Presentasi ganda/majemuk (adanya bagian janin, seperti lengan atau tangan,
bersamaan dengan presentasi belakang kepala.
13. Tali pusat menumbung (jika tali pusat masih berdenyut)
14. Tanda dan gejala syok:
Nadi cepat, lemah (>110x/menit)
Tekanan darah rendah (sistolik < 90mmHg)
Pucat
Berkeringat atau kulit lembap, dingin
Napas cepat (>30x/menit)
Cemas, bingung, atau tidak sadar
Produksi urine sedikit (<30ml/jam)
15. Tanda dan gejala persalinan dengan fase laten yang memanjang:
Pembukaan serviks kurang dari 4cm setelah 8 jam.
Kontraksi teratur (lebih dari 2 dalam 10 menit)
16. Tanda dan gejala belum inpartu:
Kurang dari 2 kontraksi dalam 10 menit, berlangsung kurang dari 20 detik
Tidak ada perubahan serviks dalam waktu 1 sampai 2 jam
17. Tanda dan gejala partus lama:
Pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan ke sebelah kanan garis
waspada.
Pembukaan serviks kurang dari 1 cm per jam
Kurang dari 2 kontraksi dalam waktu 10 menit, masing masing berlangsung
kurang dari 40 detik.

8
Tabel 1.2 Masalah dan penyulit pada kala II persalinan
No. Temuan-temuan Anamnesis dan/atau Pemeriksaan
1. Dalam 2 jam ibu dipimpin meneran bayi tidak lahir/tidak ada kemajuan penurunan
kepala (kemungkinan disproporsi kepala-panggul).
2. Antisipasi kemungkinan terjadinya distosia bahu.
Kepala bayi tidak melakukan putar paksi luar
Kepala bayi keluar kemudian tertarik lagi ke dalam vagina (kepala kura-kura)
Bahu bayi tidak lahir
3. Tanda dan gejala syok
Nadi cepat dan lemah (> 110x/menit)
Tekanan darah rendah (sistolik >90x/menit)
Pucat
4. Tanda atau gejala dehidrasi
Nadi cepat (>110x/menit)
Urine pekat
Produksi urine pekat
5. Tanda atau gejala infeksi
Nadi cepat (>110x/menit)
Suhu >38C
Menggigil
Air ketuban atau cairan vaginan berbau
6. Tanda atau gejala preeklamsia ringan
Tekanan darah diastolik 90-110 mmHg
Proteinuria 2+

Tanda atau gejala preeklamsia berat


Tekanan darah diastolik 110mmHg atau lebih
Tekanan darah diastolik 90mmHg atau lebih dengan kejang
Nyeri kepala
Gangguan penglihatan
Kejang (eklamsia)
7. Tanda atau gejala inersia uteri
Kurang dari 3 kontraksi dalam waktu 10 menit, lama kontraksi kurang dari 40
detik
8 Tanda gawat janin
DJJ <120 atau lebih dari 160x/menit mulai waspada tanda awal gawat janin
DJJ <100 atau >180x/menit (kriteria untuk di rumah sakit)
9. Cairan ketuban mengandung mekonium
10. Tali pusat menumbung (teraba atau terlihat saat periksa dalam), lilitan tali pusat.
11. Kehamialn kembar tidak terdeteksi

9
No. Temuan-temuan Anamnesis dan/atau Pemeriksaan
1. Tanda atau gejala retensio plasenta
Plasenta tidak lahir dalam waktu >30 menit
2. Tanda atau gejala avulsi (putus) tali pusat
Tali pusat putus dan plasenta tidak lahir
3. Tanda atau gejala atonia uteri
Perdarahan pascasalin
Uterus lembek
4. Tanda atau gejala robekan vagina, perineum/serviks:
Perdarahan pascasalin
Plasenta lengkap
Uterus berkontraksi
5. Tanda atau gejala bagian plasenta yang tertahan:
Bagian permukaan plasenta yang menempel pada ibu hilang
Bagian selaput ketuban hilang/robek
Perdarahan pascasalin
Uterus berkontraksi
6. Tanda atau gejala kandung kemih penuh
Bagian bawah uterus sulit dipalpasi
Tinggi fundus di atas pusat
Uterus terdorong/condong ke satu sisi
7. Tanda dan gejala syok
Nadi cepat dan lemah (> 110x/menit)
Tekanan darah rendah (sistolik >90x/menit
Pucat
8 Tanda atau gejala dehidrasi
Nadi cepat (>110x/menit)
Suhu >38C
Menggigil
Air ketuban atau cairan vaginan berbau
9. Tanda atau gejala infeksi
Nadi cepat (>110x/menit)
Suhu >38C
Menggigil
Air ketuban atau cairan vaginan berbau
10. Tanda atau gejala preeklamsia ringan
Tekanan darah diastolik 90-110 mmHg
Proteinuria 2+
11. Tanda atau gejala preeklamsia berat
Tekanan darah diastolik 110mmHg atau lebih
Tekanan darah diastolik 90mmHg atau lebih dengan kejang
Nyeri kepala

10
Gangguan penglihatan
Kejang (eklamsia)
Tabel 1.3 Masalah dan penyulit pada kala III dan IV persalinan

KOMPLIKASI MASA NIFAS

Komplikasi masa nifas adalah gangguan-gangguan yang terjadi pada masa


nifas. Komplikasi ini dideteksi segera setelah persalinan berlangsung.

1. Kategori komplikasi masa nifas adalah sebagai berikut


a. Perdarahan postpartum
b. Infeksi nifas
c. Gangguan psikologis masa nifas

2. Monitoring masa nifas


Hal-hal yang harus dimonitor pada masa nifas

Waktu Deteksi Dini Temuan Abnormal


6-8 jam setelah Suhu tubuh, nadi, tekanan darah, tanda anemia
persalinan Puting susu dan pengeluarannya
Posisi uterus, tinggi fundus, ukuran kandung kemih
Pengeluaran lokea, penjahitan laserasi atau luka episiotomi,
pembengkakan, hemoroid.
Mencegah perdarahan karena atonia uteri
Penyebab lain perdarahan: rujuk bila perdarahan berlanjut
6 hari setelah Suhu tubuh, nadi, tekanan darah, tanda anemia, tanda
persalinan edema/tromboflebitis.
Puting susu, pengeluarannya, nyeri tekan, abses, pembengkakan.
Pengeluaran lokia, penjahitan laserasi atau luka episiotomi,
pembengkakan, hemoroid.
Involusio uterus (tanda normal: uterus berkontraksi, fundus bawah
umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau)
2 minggu setelah Suhu tubuh, nadi, tekanan darah, tanda anemia, tanda
persalinan edema/tromboflebitis.
Puting susu, pengeluarannya, nyeri tekan, abses, pembengkakan.
Pengeluaran lokia, penjahitan laserasi atau luka episiotomi,
pembengkakan, hemoroid.

11
Involusio uterus (tanda normal: uterus berkontraksi, fundus bawah
umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau)
6 minggu setelah Suhu tubuh, nadi, tekanan darah, tanda anemia, tanda
persalinan edema/tromboflebitis.
Puting susu, pengeluarannya, nyeri tekan, abses, pembengkakan.
Tabel 1.4 Monitoring masa nifas

B. Tanda-tanda dan Gejala Kegawatdaruratan pada Neonatal

1. Afiksia

Tanda dan gejala afiksia neonatorum yang khas antara lain :

1. Tidak bernapas atau napas megap-megap atau pernapasan lambat (kurang


dari 30 kali per menit)

2. Pernapasan tidak teratur, dengkuran atau retraksi (tarikan dada),


pernafasan cuping hidung.

3. Tangisan lemah atau merintih.

4. Warna kulit pucat atau biru (sianosis)

5. Tonus otot lemas atau ekstremitas lemah

6. Denyut jantung tidak ada atau lambat (bradikardi) (kurang dari 100 kali
per menit).

2. Hipotermia

Hipotermia dapat di klasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu hipotermia


sedang dan hipotermia berat.

Hipotermia sedang terjadi apabila ditemukan suhu tubuh bayi sekitar 36-
36,5 derajat celcius serta kaki atau tangan teraba dingin yang dapat disertai
adanya gerakan pada bayi yang kurang normal.

12
Hipotermia berat apabila ditemukan adanya suhu tumuh yang kurang dari
36 drajat celcius, seluruh tubuh teraba dingin, dan disertai salah satu tanda
seperti mengantuk atau letargis atau terdapat bagian tubuh bayi berwana
merah dan mengeras (sklerema).

3. Tetanus Neonatorum

Manifestasi awal yang ditemukan pada tetanus neonatorum dapat dilihat


ketika bayi malas minum dan menangis yang terus menerus. Bayi kemudian
akan kesulitan hingga tidak sanggup menghisap dan akhirnya mengalami
gangguan menyusu. Hal tersebut menjadi tanda khas onset penyakit ini.
Kekakuan rahang (trismus) mulai terjadi, dan mengakibatkan tangisan bayi
berkurang dan akhirnya berhenti. Mulai terjadi kekakuan pada wajah
(bibir tertarik kearah lateral, dan alis tertarik ke atas) yang disebut risus
sardonicus. Kaku kuduk, disfagia dan kekakuan pada seluruh tubuh akan
menyusul dalam beberapa jam berikutnya.

Awalnya kekakuan tubuh yang terjadi bersifat periodik, dan dipicu oleh
rangsangan-rangsangan sensoris (suara atau sentuhan). Kemudian kejang
akan terjadi secara spontandan akhirnya terus menerus. Spasme dan kejang
berulang atau terus menerus yang terjadiakan mempengaruhi sistem saraf
simpatik sehingga terjadi vasokonstriksi pada saluran napas dan akan terjadi
apneu dan bayi menjadi sianosis. Hal ini merupakan penyebab kematian
terbesar pada kasus tetanus neonatorum.

Pada saat spasme dan kejang berlangsung, kedua lengan biasanya akan
fleksi pada siku dan tertarik ke arah badan, sedangkan kedua tungkai
dorsofleksi dan kaki akan mengalami hiperfleksi. Spasme pada otot punggung
menyebabkan punggung tertarik menyerupai busur panah (opisthotonos).

13
2.3 Penyebab Kegawatdaruratan

Kegawatdaruratan dapat terjadi dimana dan kapan saja. Ada banyak


faktor yang dapat menyebabkan kegawatdaruratan tersebut. Penyebab-
penyebab tersebut antara lain:

a) Kecelakaan (Accident)

Suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai factor yang datangnya


mendadak, tidak dikehendaki sehinga menimbulkan cedera (fisik, mental,
sosial).

b) Cedera Masalah kesehatan yang didapat/dialami sebagai akibat


kecelakaan. Kecelakaan dan cedera dapat diklasifikasikan menurut :

1. Tempat kejadian

a. kecelakaan lalu lintas

b. kecelakaan di lingkungan rumah tangga

c. kecelakaan di lingkungan pekerjaan

d. kecelakaan di sekolah

e. kecelakaan di tempat-tempat umum lain seperti halnya: tepat


rekreasi, perbelanjaan, di arena olah raga dan lain-lain.

2. Mekanisme kejadian

Cedera akibat kecelakaan dapat terjadi akibat mekanisme tertumbuk,


jatuh, terpotong, tercekik oleh benda asing, tersengat, terbakar baik
karena efek kimia, fisik maupun listrik atau radiasi.

3. Waktu kejadian

a. Waktu perjalanan (traveling/trasport time)

b. Waktu bekerja, waktu sekolah, waktu bermain dan lain- lain.

14
c) Bencana Alam

Peristiwa atau rangkaian peritiwa yang disebabkan oleh alam dan atau
manusia yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia. Kerugian
harta benda, kerusakan Iingkungan, kerusakan sarana dan prasarana umum
serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan
masyarakat dan pembangunan nasional yang memerlukan pertolongan dan
bantuan merupakan akibat dari peristiwa tersebut.

d) Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau


kegagalan dan salah satu sistem/organ di bawah ini yaitu :

1. Susunan saraf pusat.

2. Pernapasan.

3. Kardiovaskuler.

4. Hati

5. Ginjal

6. Pancreas

Penyebab Kegagalan Organ :

1. Trauma/cedera3

2. lnfeksi

3. Keracunan (poisoning)

4. Degenerasi (failure)

5. Asfiksia

6. Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar (excessive loss of


wafer and electrolit)

7. Shock

15
8. perdarahan akut

9. tumor / kanker

Kegagalan system organ susunan saraf pusat, kardiovskuler,


pernapasan dan hipoglikemia dapat menyebabkan kematian dalam
waktu singkat (4-6 menit), sedangkan kegagalan sistim/organ yang lain
dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang lebih lama.[4]

A. Neonatal

1) Asfiksia

Perinatal asfiksia (berasal dari bahasa Yunani sphyzein yang artinya


"denyut yang berhenti") merupakan kondisi kekurangan oksigen pada
pernafasan yang bersifat mengancam jiwa. Keadaan ini bila dibiarkan
dapat mengakibatkan hipoksemia dan hiperkapnia yang disertai
dengan metabolik asidosis. [1] Asfiksia timbul karena adanya depresi
dari susunan saraf pusat (CNS) yang menyebabkan gagalnya paru-paru
untuk bernafas. [5]

2) Hipotermia

Hipotermia adalah kondisi dimana suhu tubuh < 360C atau kedua
kaki dan tangan teraba dingin.

3) Hipertermia

Hipertermia adalah kondisi suhu tubuh tinggi karena kegagalan


termoregulasi. Hipertermia terjadi ketika tubuh menghasilkan atau
menyerap lebih banyak panas dari pada mengeluarkan panas. Ketika
suhu tubuh cukup tinggi, hipertermia menjadi keadaan darurat medis
dan membutuhkan perawatan segera untuk mencegah kecacatan dan
kematian.

4) Hiperglikemia

16
Hiperglikemia atau gula darah tinggi adalah suatu kondisi dimana
jumlah glukosa dalam plasma darah berlebihan.

5) Tetanus neonaturum

Tetanus neonaturum adalah penyakit tetanus yang diderita oleh


bayi baru lahir yang disebabkan karena basil klostridium tetani.

B. Maternal

1) Perdarahan

a) Abortus

Abortus adalah istilah yang diberikan untuk semua kehamilan


yang berakhir sebelum periode viabilitas janin, yaitu yang berakhir
sebelum berat janin 500 gram. Bila berat badan tidak diketahui,
maka perkiraan lama kehamilan kurang dari 20 minggu lengkap (139
hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir normal yang dapat
dipakai.[6]

b) Molahidatidosa

Molahidatidosa adalah suatu keadaan patologik dari korion yang


ditandai dengan:

1. Degenerasi kistik dari vili, disertai dengan pembengkakan


hidropik

2. Avaskularitas, atau tidak adanya pembuluh darah janin

3. Proliferasi jaringan trofoblastik[6]

c) Kehamilan Ekstrauteri (Ektopik)

Adalah kehamilan dimana sel telur yang dibuahi berimplantasi


dan tumbuh diluar endometrium kavum uterus. Termasuk dalam
kehamilan ektopik ialah kehamilan tuba, kehamilan

17
ovarial,kehamilan intraligamenter, kehamilan servikal, dan
kehamilan abdominal primer atau sekunder.[7]

d) Plasenta previa

Plasenta previa adalah tertanamnya bagian plasenta dalam


segmen bawah uterus.Istilah ini menggambarkan hubungan
anatomic antara letak plasenta dengan segmen bawah uuterus. Suatu
plasenta previa telah melewati batas atau menutupi (secara lengkap
atau tidak lengkap) ostium uteri internum.[3]

e) Solusio (Abrupsio) Plasenta

Solusio plasenta adalah lepasnya sebagian atau seluruh jaringan


plasenta yang berimplantasi normal pada kehamilan di atas 22
minggu dan sebelum anak lahir. (Cunningham, Obstetri Williams:
2004)

f) Retensio Plasenta (Plasenta Inkompletus)

Belum lepasnya plasenta dengan melebihi waktu setengah jam.


Keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya
sebagian plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan
plasenta manual dengan segera. Bila retensio plasenta tidak diikuti
perdarahan maka perlu diperhatikan ada kemungkinan terjadi
plasenta adhesive, plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta
perkreta. (Manuaba (2006:176).

g) Ruptur Uteri

Ruptur uterus adalah robekan pada uterus, dapat meluas ke


seluruh dinding uterus dan isi uterus tumpah ke seluruh rongga
abdomen (komplet), atau dapat pula ruptur hanya meluas ke
endometrium dan miometrium, tetapi peritoneum di sekitar uterus
tetap utuh (inkomplet).

18
2) Syok sepsis

Syok sepsis merupakan syok yang disebabkan oleh infeksi bakteri


yang menyebar luas biasanya terjadi penurunan tekanan darah (sistolik
<90 mmHg atau penurunan tekanan darah sistolik >40 mmHg) disertai
dengan kegagalan sirkulasi. Bukti klinisnya berupa suhu tubuh yang
abnormal (>38C atau <36C); takikardi; asidosis metabolic; biasanya
disertai dengan alkalosis respiratorik terkompensasi dan takipneu; dan
peningkatan atau penurunan jumlah sel darah putih. Sepsis juga dapat
disebabkan oleh infeksi virus atau jamur.

3) Preeklamsi dan eklamsi

Preeklamsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu


kehamilan disertai dengan proteinuria, Hipertensi terjadi ketika tekanan
darah sistolik dan diastolik 140/90 mmHg dan dinyatakan terjadi
proteinuria apabila terdapat 300 mg protein dalam urin selama 24 jam
atau sama dengan 1+ dipstick.

Eklampsia merupakan keadaan dimana ditemukan serangan kejang


tibatiba yang dapat disusul dengan koma pada wanita hamil, persalinan
atau masa nifas yang menunjukan gejala preeklampsia sebelumnya.
Eklampsia dibedakan menjadi eklampsia gravidarum (antepartum),
eklampsia partuirentum (intrapartum), dan eklampsia puerperale
(postpartum), berdasarkan saat timbulnya serangan.

4) Persalinan macet

Partus macet adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang


mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul
komplikasi ibu maupun janin (anak). Partus macet merupakan
persalinan yang berjalan lebih dari 24 jam untuk primigravida dan atau
18 jam untuk multi gravid.

19
2.4 Wewenang dan Peran Bidan dalam Kegawatdaruratan Maternal dan
Neonatal

Bidan mempunyai peranan penting dalam menurunkan angka kesakitan


dan kematian ibu melalui kemampuannya untuk melakukan pengawasan,
pertolongan pada ibu, pengawasan bayi baru lahir (neonates) dan pada
persalinan, ibu post partum serta mampu mengidentifikasi penyimpangan
dari kehamilan da n persalinan normal dan melakukan penanganan yang
tepat termasuk merujuk ke fasilitas pelayanan yang tepat. Kematian ibu dan
bayi terjadi karena kegawatdaruratan yang tidak tertangani dengan baik,
dapat disebabkan oleh :

1. Keterlambatan dalam memutuskan untuk mencari perawatan

2. Keterlambatan mencapai fasilitas rujukan tingkat pertama

3. Keterlambatan dalam benar-benar menerima perawatan setelah tiba di


fasilitas tersebut.

Sebagai contoh : Staf di sebuah pos kesehatan pedesaan pelayanan


kegawatdaruratan dasar dengan akan kemampuan tidak diharapkan untuk
melakukan bedah caesar bagian tetapi akan diharapkan untuk membuat
diagnosis yang benar, resusitasi dan menstabilkan pasien, dan merujuk
padanya. Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktik
Bidan yang antara lain mengatur hal-hal berikut ini:

a. Pemberian kewenangan lebih luas kepada bidan dimaksudkan untuk


mendekatkan pelayanan kegawatan obstetri dan neonatal kepada setiap ibu
hamil/bersalin, nifas dan bayi baru lahir (0-28 hari), agar penanganan dini
atau pertolongan pertama sebelum rujukan dapat dilakukan secara cepat
dan tepat waktu.

20
b. Dalam menjalankan kewenangan yang diberikan, bidan harus:

1) Melaksanakan tugas kewenangan sesuai dengan standar profesi

2) Memiliki keterampilan dan kemampuan untuk tindakan yang


dilakukannya.

3) Mematuhi dan melaksanakan protap yang berlaku di wilayahnya

4) Bertanggung jawab atas pelayanan yang diberikan dan berupaya secara


optimal dengan mengutamakan keselamatan ibu dan bayi atau janin.

c. Pelayanan kebidanan dalam masa kehamilan, masa persalinan dan masa


nifas meliputi pelayanan yang berkaitan dengan kewenangan yang
diberikan. Perhatian khusus diberikan pada masa sekitar persalinan, karena
kebanyakan kematian ibu dan bayi terjadi dalam masa tersebut.

d. Pelayanan kesehatan kepada anak diberikan pada masa bayi (khususnya


pada masa bayi baru lahir), balita dan anak pra sekolah.

e. Pelayanan kesehatan pada anak meliputi:

1) Pelayanan neonatal esensial dan tata laksana neonatal sakit di luar


rumah sakit yang meliputi:

a) Pertolongan persalinan yang atraumatik, bersih dan aman

b) Menjaga tubuh bayi tetap hangat dengan kontak dini

c) Membersihkan jalan nafas,mempertahankan bayi bernafas spontan

d) Pemberian asi dini dalam 30 menit setelah melahirkan

e) Mencegah infeksi pada bayi baru lahir antara lain melalui perawatan
tali pusat secara higienis, pemberian imunisasi dan pemberian asi
eksklusif.

2) Pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir dilaksanakan pada bayi 0-


28 hari

21
3) Penyuluhan kepada ibu tentang pemberian asi eksklusif untuk bayi di
bawah 6 bulan dan makanan pendamping asi (mpasi) untuk bayi di atas
6 bulan.

4) Pemantauan tumbuh kembang balita untuk meningkatkan kualitas


tumbuh kembang anak melalui deteksi dini dan stimulasi tumbuh
kembang balita.

5) Pemberian obat yang bersifat sementara pada penyakit ringan,


sepanjang sesuai dengan obat-obatan yang sudah ditetapkan dan segera
merujuk pada dokter.

f. Beberapa tindakan yang termasuk dalam kewenangan bidan antara lain:

1) Memberikan imunisasi kepada wanita usia subur termasuk remaja putri,


calon pengantin, ibu dan bayi

2) Ekstraksi vacum pada bayi dengan kepala di dasar panggul. Demi


penyelamatan hidup bayi dan ibu, bidan yang telah mempunyai
kompetensi, dapat melakukan ekstraksi vacum atau ekstraksi cunam
bila janin dalam presentasi belakang kepala dan kepala janin telah
berada di dasar panggul.

3) Resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia. Bidan diberi wewenang
melakukan resusitasi pada bayi baru lahir yang mengalami asfiksia,
yang sering terjadi partus lama, ketuban pecah dini, persalinan dengan
tindakan dan pada bayi dengan berat badan lahir rendah, utamanya bayi
prematur. Bayi tersebut selanjutnya perlu dirawat di fasilitas kesehatan,
khususnya yang mempunyai berat lahir kurang dari 1750 gram.

4) Hipotermi pada bayi baru lahir bidan diberi wewenang untuk


melaksanakan penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dengan
mengeringkan, menghangatkan, kontak dini dan metode
kangguru.[8,9,10]

22
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Kegawatdaruratan maternal dan neonatal adalah suatu kondisi yang


mengancam jiwa, yang dapat menyebabkan kematian atau kerusakan bagian
tubuh pada ibu, fetus atau bayi yang terjadi pada saat kehamilan, persalinan
dan nifas yang membutuhkan pertolongan segera. Kegawatdaaruratan
maternal sering disebabkan oleh perdarahan, preekalmsia/eklamsia, syok
sepsis/asepsis, dan persalinan yang macet. Kegawatdaruratan neonatal sering
disebabkan kerana hipotermi, hipertermi, hipoglikemi, dan tetanus
neonatorium.

Berbagai tanda dan gejala yang menandai adanya kondisi gawat darurat
adalah kejang, panas, sianosis, perut kembung, nadi cepat, tekanan darah
menurun. Penyebab-penyebab kegawatdaruratan antara lain kecelakaan
(accident), bencana alam, kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah
besar, shock, perdarahan akut, tumor / kanker.

Dalam menjalankan kewenangan yang diberikan, bidan harus


melaksanakan tugas kewenangan sesuai dengan standar profesi, memiliki
keterampilan dan kemampuan, mematuhi dan melaksanakan protap, dan juga
Bertanggung jawab atas pelayanannya.

3.2 SARAN

Dengan memahami makalah ini diharapkan kita sebagai tenaga medis


mampu untuk memberikan asuhan kehamilan, persalinan, BBL yang cepat
tepat dan benar, yaitu dengan mampu mendeteksi keadaan yang dinilai
membahayakan dan menanganinya sesuai dengan prosedur yang berlaku
dalam penanganan kondisi kegawatdaruratan.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Undang-Undang No. 44 tahun 2009

2. Fadlun, Achmad. 2013. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta: Salemba


Medika

3. Alimul, Aziz. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan


Kebidanan. Jakarta. Salemba Medika

4. Gomella, Tricia Lacy (2004). Neonatology : Management, Procedures, On-


call problems, Diseases, and Drugs. Lange. ISBN: 0-07-138918-0

5. Kliegman, Robert M. (2007). Nelson Textbook of Pediatrics. Saunders


Elsevier. ISBN: 978-0-8089-2365-7

6. Supriyadi T dan Johannes Gunawan. 2012. Kapitaseleksakedaruratan obstetric


danginekologi. EGC: Jakarta

7. Sarwono. 2007. Ilmubedahkebidanan. YBP-SP: Jakarta

8. Prof. Dr. Winjosastro Hanifa, SpOG.2005. Ilmu Kebidanan, Cetakan ketujuh,


Edisi Ketiga, Jakarta : Pustaka Sarwono Prawirohadjo. Yayasan Bina

9. Suryaningsih, 2015. Modul Siaga Bencana Maternal Neonatal, Jakarta: Pusat


Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan Badan Pengembangan dan
Pemberdayaan Sumber Daya Manusia.

10. http://www.catatanbidan.com/2016/11/materi-partus-macet-definisi-
etiologi.html (diakses pada tanggal 30 agustus 2017 pukul 16.44 wib).

24