Anda di halaman 1dari 9

Tujuan dari penegakan hukum, yaitu:

a. Untuk memenuhi keadilan. Keadilan memang tertuju bagi orang-orang yang terkait
dalam sebuah delik hukum, baik korban maupun pelaku, tapi yang lebih mendasar
adalah keadilan publik. Pihak yang berkepentingan terhadap proses penegakan
hukum tidak hanya pelaku dan korban, tapi juga publik yang merasakan dampak,
baik langsung maupun tidak langsung, sebuah perbuatan yang telah dilakukan.
b. Menegakan hukum yang bertujuan untuk mencapai pemanfaatan hukum.
Pemanfaatan hukum maksudnya lebih ditujukan pada terpenuhinya kepentingan
masyarakat, bangsa, dan negara, bukan demi kepentingan pribadi atau kelompok.
Penegakan hukum perspektif etika adalah penegakan hukum yang benar-benar
diusahakan hingga menghasilkan keadilan. Etika Penegakan Hukum yang
Berkeadilan dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa tertib sosial,
ketenangan dan keteraturan hidup bersama hanya dapat diwujudkan dengan
ketaatan terhadap hukum dan seluruh peraturan yang berpihak pada keadilan.
Keseluruhan aturan hukum yang menjamin tegaknya supremasi dan kepastian
hukum sejalan dengan upaya pemenuhan rasa keadilan yang hidup dan
berkembang di dalam masyarakat. Etika ini meniscayakan penegakan hukum secara
adil, perlakuan yang sama dan tidak diskriminatif terhadap setiap warganegara di
hadapan hukum, dan menghindarkan penggunaan hukum secara salah sebagai alat
kekuasaan dan bentuk-bentuk manipulasi hukum lainnya.

2.3 Implementasi Etika Penegakan Hukum yang Berkeadilan dalam Birokrasi


Indonesia

Membahas tentang penegakan hukum di negara kita indonesia sebaiknya


terlebih dahulu kita mengetahui tentang asal dan usul hukum dinegara kita. Hukum
adalah suatu kata yang memiliki makna tentang sekumpulan peraturan yang berisi
perintah atau larangan yang dibuat oleh pihak yang berwenang sehingga dapat
dipaksakkan pemberlakuannya berfungsi untuk mengatur masyarakat demi
terciptanya ketertiban disertai dengan sanksi bagi pelanggarnya.
Penegakkan hukum di Indonesia saat ini masih jauh dari harapan. Suatu gambaran
diperoleh dalam penegakkan hukum di Indonesia, yakni hukum akan ditegakkan manakala
pihak -pihak yang terlibat adalah masyarakat
lemah.Namun hukum akan kehilangan
fungsinya manakala pihak yang terlibatmenyangkut atau ada sangkut pautnya
dengan oknum aparat penegak hukum, penguasa dan pengusaha (orang kaya).
Memahami penegakan hukum yang terjadi, berbagai media masa
memberitakan bagaimana semakin menjauhnya keadilan dari masyarakat. Berbagai
putusan pengadilan belum memberikan rasa keadilan bagi masyarakat. Pada saat
hukum telah menjauh dari rasa keadilan masyarakat, maka eksistensi dan legitimasi
hukum patut dipertanyakan
Berbicara mengenai hukum di Indonesia saat ini, maka hal pertama yang
tergambar ialah ketidakadilan. Sungguh ironis ketika mendengar seorang yang
mencuri buah dari kebun tetangganya karena lapar harus dihukum kurungan
penjara, sedangkan para pihak yang jelas-jelas bersalah seperti koruptor yang
merajalela di negara ini justru dengan bebas berlalu lalang di pemerintahan, bahkan
menempati posisi yang berpengaruh terhadap kemajuan dan perkembangan negara
kita ini. jika pun ada yang tertangkap, mereka justru mendapatkan fasilitas yang
tidak seharusnya mereka peroleh.
Contoh lainnyanya, pencuri anak ayam dijebloskan 3 bulan ke dalam
tahanan, sedangkan koruptor miliaran rupiah seperti dalam kasus Bantuan Likuiditas
Bank Indonesia dibiarkan bebas. Malah ada debitor kakap yang diantar dengan
sangat bersahabat memasuki istana kepresidenan oleh pihak berwajib. Jangan
heran pula ketika melihat tiga direktur Bank Mandiri, E.C.W. Neloe, I Wayan Pugeg,
dan Tasripan, yang sudah dipenjarakan kemudian dibebaskan.
Kasus yang lain seperti seorang maling ayam yang harus dijatuhi hukuman
kurungan penjara dalam hitungan Tahun. Ini sangat berbeda dengan para pejabat
pemerintah atau mereka yang mempunyai banyak uang yang memang secara
hukum terbukti bersalah namun dengan mudahnya membeli keadilan dan
mempermainkan hukum sesuka mereka. Keduanya dalam kondisi yang sama
namun dapat kita lihat bagaimanakah hukum itu berjalan dan dimanakah hukum itu
berlaku.
Seharusnya pemerintah Indonesia dapat bertindak lebih adil dan untuk
kalangan atas lebih memperhatikan lagi dengan segala aspek dalam hukum yang
ada dalam negara kita ini. Bertindaklah seadil-adilnya, agar tidak ada pihak yang
dirugikan maupun diuntungkan.
Contoh diatas adalah sebagian kecil dari hal-hal yang terjadi disekitar kita.
Namun dari hal tersebut yang akhirnya membuat orang-orang di negara ini akan
mengagmbarakan bahawa hukum negara kita tidak adil. Begitu banyak penyebab
sistem hukum di Indonesia bermasalah mulai dari sistem peradilannya, perangkat
hukumnya, dan masih banyak lagi. Diantara hal-hal diatas, hal yang terutama
sebenranya adalah ketidak konsistenan penegakan hukum. Seperti contoh kasus
diatas. Hal tersebut sangat mengggamabarakan sangat kurangnya konsistensi
penegakan hukum di negara ini, dimana hukum seolah-olah bahkan dapat dikatakan
dengan pasti dapat dibeli.
Faktor penyebab ketidakadilan Hukum di Indonesia, antara lain:
1. Tingkat kekayaan seseorang
Tingakatan kekayaan seseorang itu mempengaruhi berapa lama hukum yang ia
terima
2. Tingkat jabatan seseorang
Orang yang memiliki jabatan tinggi apabila mempunyai masalah selalu penyelesaian
masalahnya dilakukan dengan segera agar dapat mencegah tindakan hukum yang
mungkin bisa dilakukan. Tetapi berbeda dengan pegawai rendahan. Pihak
kejaksaan pun terkesan mengulur-ulur janji untuk menyelesaikan kasus tersebut.
3. Nepotisme
Mereka yang melakukan kejahatan namun memiliki kekuasaan atau peranan
penting di negara ini dapat dengan mudahnya keluar dari vonis hukum. Ini sangat
berbeda dengan warga masyarakat biasa yang akan langsung divonis sesuai hukum
yang berlaku dan sulit unutk membela diri atau bahkan mungkin akan dipersulit
penyelesaian proses hukumnya.
4. Ketidakpercayaan masyarakat pada hukum
Ketidakpercayaan masyarakat terhadap hukum muncul karena hukum itu lebih
banyak merugikannya. Dilihat dari yang diberitakan ditelevisi pasti masalah itu selalu
berhubungan dengan uang. Seperti faktor yang dijelaskan di atas membuat
kepercayaan masyarakat umum akan penegeakan hukum menurun.
Ketika birokrasi institusi hukum hanya menghasilkan produk-produk
ketidakadilan, maka yang harus ditinjau ulang adalah cara berhukum itu sendiri.
Cara berhukum yang benar adalah dengan menerima bahwa hukum itu juga tumbuh
berkembang dalam interaksi masyarakat dan mengakui bahwa hukum ada tidak
semata-mata untuk dirinya sendiri, tetapi untuk tujuan dan makna sosial yang
melampaui logika hukum. Dengan cara berhukum seperti ini maka kepercayaan
masyarakat terhadap hukum akan pulih kembali. Oleh karenanya tugas dari pelaku
hukum dan ahli hukum dalam konteks Indonesia dewasa ini adalah bagaimana
mencapai keadilan hukum, bukan melulu kepastian hukum. Masyarakat sangat
menunggu adanya hokum yang berpihak kepada rakyat.
Hukum serta perasaan keadilan dalam pengertian yang sesungguhnya itu
hanya akan ditemukan di dalam nurani tiap-tiap insan, dan ia akan selalu
mendampingi, terutama manakala mereka akan menetapkan atau mengambil
sebuah keputusan termasuk putusan hukum itu sendiri. Hukum sesungguhnya
dibuat dan ditegakkan untuk mewujudkan keadilan. Namun hukum dan keadilan
memang tidak selalu sejalan. Hal itu terjadi karena keadilan sebagai nilai tidak
mudah diwujudkan dalam norma hukum. Nilai keadilan yang abstrak dan tidak selalu
bersifat rasional tidak dapat seluruhnya diwadahi dalam norma hukum yang
preskriptif. Hukum dirumuskan secara umum untuk mewadahi variasi peristiwa
hukum serta kemungkinan hukum berkembang di masa yang akan datang.
Perlu dipertanyakan, apakah negara sudah menyediakan perangkat hukum
dan menegakkan keadilan bagi rakyatnya. Apakah perangkat hukum yang
disediakan oleh negara dan penegakan hukumnya telah mencerminkan keadilan
dalam masyarakat. Penegakan hukum merupakan pusat dari seluruh aktivitas
kehidupan hukum. Menegakkan keadilan bukanlah sekadar menjalankan prosedur
formal dalam peraturan hukum yang berlaku di suatu masyarakat, menegakkan nilai-
nilai keadilan lebih utama daripada sekadar menjalankan berbagai prosedur formal
perundang-undangan. Rasa keadilan tidak hanya tegak bila penegak hukum hanya
menindak berlandaskan pasal dalam UU secara kaku dan tidak mengenali nilai
keadilan yang substantif (Keadilan dalam hal ini bukan hanya keadilan hukum positif,
tetapi juga meliputi nilai keadilan yang diyakini dan berkembang dalam masyarakat).
Dalam pikiran para yuris, proses peradilan sering hanya diterjemahkan sebagai
suatu proses memeriksa dan mengadili secara penuh dengan berdasarkan hukum
positif semata-mata. Pandangan yang formal ini mendominasi pemikiran para
penegak hukum, sehingga apa yang menjadi bunyi undang-undang, itulah yang
akan menjadi hukumnya.
Kelemahan utama pandangan hukum secara formal ini adalah terjadinya
penegakan hukum yang kaku, cenderung mengabaikan rasa keadilan masyarakat
karena lebih mengutamakan kepastian hukum. Proses mengadili dalam
kenyataannya bukanlah proses yuridis semata. Proses peradilan bukan hanya
proses menerapkan pasal-pasal dan bunyi undang-undang, melainkan proses yang
melibatkan perilaku-perilaku masyarakat dan berlangsung dalam struktur sosial
tertentu
Pengadilan yang merupakan representasi utama wajah penegakan hukum
dituntut untuk mampu melahirkan tidak hanya kepastian hukum, melainkan pula
keadilan, kemanfaatan sosial dan pemberdayaan sosial melalui putusan-putusan
hakimnya. Kegagalan lembaga peradilan dalam mewujudkan tujuan hukum telah
mendorong meningkatnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap pranata hukum
dan lembaga-lembaga hukum. Untuk itu, suatu keputusan pengadilan harus benar-
benar dipertimbangkan dari sudut moral, yaitu rasa keadilan masyarakat.
Hakim sebagai pemegang pedang keadilan harus selalu berwawasan luas
dalam menerapkan hukum. Menjamin peraturan perundang-undangan diterapkan
secara benar dan adil. Apabila penerapan peraturan perundang-undangan akan
menimbulkan ketidakadilan, hakim wajib berpihak pada keadilan dan
mengesampingkan peraturan perundang-undangan.
Kegiatan reformasi Hukum perlu dilakukan dalam rangka mencapai
supremasi hukum yang berkeadilan. Beberapa konsep yang perlu diwujudkan antara
lain:
1. Penggunaan hukum yang berkeadilan sebagai landasan pengambilan keputusan
oleh aparatur negara.
2. Adanya lembaga pengadilan yang independen, bebas dan tidak memihak.
3. Aparatur penegak hukum yang professional
4. Penegakan hukum yang berdasarkan prinsip keadilan
5. Pemajuan dan perlindungan HAM
6. Partisipasi public
7. Mekanisme control yang efektif.
Untuk memperbaiki Penegakkan Hukum di Indonesia maka para aparat
hukum haruslah taat terhadap hukum dan berpegang pada nilai-nilai moral dan etika
yang berlaku di masyarakat. Apabila kedua unsur ini terpenuhi maka diharapkan
penegakan hukum secara adil juga dapat terjadi di Indonesia. Kejadian-kejadian
yang selama ini terjadi diharapkan dapat menjadi proses mawas diri bagi para
aparat hukum dalam penegakan hukum di Indonesia. Sikap mawas diri merupakan
sifat terpuji yang dapat dilakukan oleh para aparat penegak hukum disertai upaya
pembenahan dalam system pengakan hukum di Indonesia.
Harapan akan adanya penegakan hukum yang lebih tegas, mencerminkan
rasa keadilan rakyat, perlu segera diwujudkan oleh segenap penegak hukum di
Indonesia seperti Pengadilan, Kejaksaan, Kepolisian, Organisasi Pengacara.
Bukankah wewujudkan hukum yang berkeadilan merupakan amanat UU No. 4
Tahun 2004 dan UU No. 5 Tahun 2004, dan merealisasikan Misi Mahkamah Agung
yang menetapkan yaitu : Mewujudkan rasa keadilan sesuai dengan undang-undang
dan peraturan, serta memenuhi rasa keadilan masyarakat; Mewujudkan Peradilan
yang independen, bebas dari campur tangan pihak lain; Memperbaiki akses
pelayanan di bidang Peradilan kepada masyarakat; Memperbaiki kualitas input
internal pada proses Peradilan; Mewujudkan institusi peradilan yang efektif, efisien,
bermartabat, dan dihormati; Melaksanakan kekuasaan kehakiman yang mandiri,
tidak memihak, dan transparan. Semoga.

2.4 Contoh Kasus Terkait Etika Penegakan Hukum yang Berkeadilan


News / Nasional

Kejamnya Keadilan "Sandal Jepit"....


Jumat, 6 Januari 2012 | 09:44 WIB

Aku seperti bemo atau sendal jepit.


Tubuhku kecil mungil biasa terjepit.
Pada siapa ku mengadu?
Pada siapa ku bertanya?
KOMPAS.com - Jauh sebelum kasus "sandal jepit" merebak, penyanyi kondang
Iwan Fals sudah teriak-teriak soal sandal jepit dalam syair lagunya "Besar dan
Kecil". Iwan menganalogikan rakyat kecil seperti jendal jepit yang selalu terjepit,
diremehkan, lemah, selalu kalah. Seperti sandal jepit, begitulah kenyataan
masyarakat kecil jika harus berurusan dengan hukum.

Tidak perlu menutup mata karena kenyataan itu ada di depan mata kita. Aparat
negeri ini terkesan lebih suka menjepit rakyat kecil yang sudah biasa menjerit karena
ketidakadilan di negeri ini. Mereka terkesan lebih senang membela pejabat dengan
kekayaan berlipat, dibandingkan rakyat kecil yang biasa hidup melarat.
Mau bukti? Tengoklah kasus Nenek Minah (55) asal Banyumas yang divonis 1,5
tahun pada 2009, hanya karena mencuri tiga buah Kakao yang harganya tidak lebih
dari Rp 10.000. Bahkan, untuk datang ke sidang kasusnya ini Nenek yang sudah
renta dan buta huruf itu harus meminjam uang Rp 30.000 untuk biaya transportasi
dari rumah ke pengadilan yang memang jaraknya cukup jauh.
Yang paling anyar, kasus pencurian sandal jepit yang menjadikan AAL (15) pelajar
SMK 3, Palu, Sulawesi Tengah, sebagai pesakitan di hadapan meja hijau. Ia dituduh
mencuri sandal jepit milik Briptu Ahmad Rusdi Harahap, anggota Brimob Polda
Sulteng. Hanya gara-gara sandal jepit butut AAL terancam hukuman kurungan
maksimal lima tahun penjara.
Proses hukum atas AAL pun tampak janggal. Ia didakwa mencuri sandal merek
Eiger nomor 43. Namun, bukti yang diajukan adalah sandal merek Ando nomor 9,5.
Selama persidangan tak ada satu saksi pun yang melihat langsung apakah sandal
merek Ando itu memang diambil AAL di depan kamar Rusdi.
Di persidangan, Rusdi yakin sandal yang diajukan sebagai barang bukti itu adalah
miliknya karena, katanya, ia memiliki kontak batin dengan sandal itu. Saat hakim
meminta mencoba, tampak jelas sandal Ando itu kekecilan untuk kaki Rusdi yang
besar.
AAL memang dibebaskan dari hukuman dan dikembalikan kepada orangtuanya.
Namun, majelis hakim memutus AAL bersalah karena mencuri barang milik orang
lain.

Mati
Sosiolog dari Universitas Indonesia Imam Prasodjo kepadaKompas.com, Kamis
(5/1/2012) di Jakarta mengatakan, hukuman yang diberikan kepada Nenek Minah
dan AAL itu menggambarkan bahwa proses hukum yang mati dari tujuan hukum itu
sendiri. Hukum, kata dia, hanya mengikuti aturan formal, tidak memperhitungkan
subtansi dan hati nurani.
"Ancaman lima tahun dan vonis 1,5 tahun itu, bukan masalah Jaksa, Polisi, atau
Hakim saja. Tapi mereka semua telah melakukan kesesatan kolektif. Meskipun
banyak protes dari masyarakat, mereka masih juga memproses dan memutuskan
sesuatu secara tidak sedikitpun ada kesadaran dan evaluasi," kata Imam.
Sosiolog Soetandyo Wignjosoebroto pun mengatakan hal serupa. Hakim kini
dinilainya terlalu legalistik terhadap putusan bersalah rakyat kecil. Hakim tidak
mampu memahami arti dan makna sekaligus kearifan yang terkandung dalam aturan
hukum.
"Undang-undang itu dead letter law (hukum yang mati). Hukum menjadi aktif dan
dinamik melalui kata hati dan tafsir hakim. Kalau putusannya itu aneh, itu bukan
salah undang-undang, melainkan hakim. Hakimnya harus pandai memberi putusan
yang bisa diterima," kata Soetandyo.
Meskipun, seyogyanya mencuri atau mengambil barang orang lain sekecil apa pun
tanpa izin adalah perbuatan melanggar hukum. Dan hukum harus ditegakkan.
Namun, apakah hal itu sudah sesuai rasa keadilan di masyarakat?
Lihat saja bagaimana para pejabat dan koruptor berdasi putih mencuri uang rakyat
yang nilainya sebanding dengan jutaan sandal jepit dan kakao itu diperlakukan
dengan terhormat oleh aparat. Mereka dapat melanggeng bebas dari hukuman yang
tidak terlalu berat. Mereka pun dapat mangkir dari panggilan pengadilan dengan
alasan sakit yang kadang dibuat-buat.
Data Indonesian Corruption Watch (ICW) menunjukan koruptor rata-rata hanya
dihukum di bawah dua tahun. Pada 2010, sebanyak 269 kasus atau 60,68 persen
hanya dijatuhi hukuman antara 1 dan 2 tahun. Sedangkan, 87 kasus divonis 3-5
tahun, 13 kasus atau 2,94 persen divonis 6-10 tahun. Adapun yang dihukum lebih
dari 10 tahun hanya dua kasus atau 0,45 persen.
Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro Muqqodas pada pertengahan
November tahun lalu, mengakui bahwa hukuman untuk koruptor memang rendah.
Pengadilan, kata Busyro, seakan-akan tak mencerminkan ideologi hukum yang baik.
"Putusan hakim kehilangan roh untuk berpihak pada kepentingan rakyat," kata
Busyro.
Guru Besar Hukum Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana mengatakan kini
hukum hanya tajam jika kebawah dan tumpul jika berhadapan dengan kalangan
atas. Pemerintah, menurut Hikmahanto, seharusnya peka terhadap rasa
ketidakadilan yang terus dialami rakyat.
"Saya prihatin. Hakim terlalu legalistik jika pihak yang lemah menjadi terdakwa.
Untuk kasus korupsi, hakim justru tak menggunakan kacamata kuda, tetapi seolah-
olah memahami tuduhan korupsi tak terbukti dengan melihat konteks," kata
Himkmahanto di Jakarta, Kamis.
Keadilan Restoratif
Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menyarankan
agar aparat penegak hukum menggunakanrestorative justice (keadilan restoratif)
sebagai penyelesaian alternatif dalam sejumlah kasus kecil seperti yang menimpa
AAL maupun Nenek Minah.
Keadilan restoratif adalah konsep pemidanaan yang mengedepankan pemulihan
kerugian yang dialami korban dan pelaku, dibanding menjatuhkan hukuman penjara
bagi pelaku. Hal itu dimaksudkan agar penyelesaian kasus-kasus kecil tak perlu
sampai ke pengadilan, tetapi diselesaikan cukup dengan mediasi. Peradilan anak
telah digagas pemerintah belandaskan azas ini.
Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar yang turut
memperjuangkan penerapan keadilan restoratif mengaku kecewa dengan para
penegak hukum yang tidak menggunakan konsep tersebut. Ia menilai, Kementerian
Hukum dan HAM pun bertanggunjawab, karena sekarang lebih peduli pada
pencitraan, sehingga subtansi rasa keadilan masyarakat tidak tersentuh lagi.
"Sungguh disesalkan, sekarang ini semua penegak hukum mulai lagi kembali ke ego
sektoral masing-masing," kata Patrialis.
Sejumlah pandangan, fakta itu, memperlihatkan bahwa keadilan hukum di negeri ini
hanya sebatas keadilan sendal jepit, keadilan yang menjepit rakyat kecil. Sungguh
ironi, di negeri yang dalam butir-butir dasar negaranya disebut menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan dan perilaku berkeadilan ini, rakyatnya diperlakukan dalam
perbedaan kasta besar dan kecil. Penegakan hukum di negeri ini masih sangat
diskriminatif. Keras dan tegas untuk rakyat kecil, tapi loyo dan bagai agar-agar bagi
kalangan atas.

Mari berdendang bersama Iwan Fals...


Mengapa besar selalu menang.
Bebas berbuat sewenang-wenang.
Mengapa kecil selalu tersingkir.
Harus mengalah dan menyingkir.
Apa bedanya besar dan kecil?

Analisis :
Ada hal yang menarik yang terjadi di Negara ini dalam sidang kasus Sandal
Jepit dengan terdakwa siswa SMK di pengadilan Negeri Palu. Sungguh ironi, ketika
seorang anak diancam hukuman lima tahun penjara akibat mencuri sandal jepit milik
Briptu Ahmad Rusdi Harahap dan Briptu Simson Sipayung, anggota Brimob Polda
Sulteng, sehingga terjadi gerakan pengumpulan 1.000 sandal jepit di berbagai kota
di Indonesia.
Ada yang menyebut sebagai dicederainya rasa keadilan bagi masyarakat
kecil. Pada kasus Sandal jepit ini,di satu sisi,dua orang aparat yang sebenarnya
mampu membeli lagi sandal jepit baru,merasa pantas untuk menegakkan keadilan
dengan mengintrogasi bocah pencuri sandal jepit. Dan bocah tersebut mengakui
perbuatannya. Karena menggangap sang pelaku masih di bawah umur dan
Berpegang pada Undang-undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 yang
diberlakukan di wilayah hukum NKRI, kasus ini seharusnya diselesaikan melalui
proses pembinaan bukan jalur hukum. Sehingga pihak kepolisian memanggil orang
tua sang pelaku pencuri sandal jepit tersebut dengan tujuan, agar anak itu tidak
mengulangi lagi perbuatannya dan kemudian peristiwa ini dianggap selesai dengan
sanksi orangtua menegur anaknya untuk tidak mengulangi perbuatannya di depan
sang pemilik sandal jepit.
Namun di sisi lain menurut versi orang tua merasa tidak bisa menerima
pengaduan sang buah hati yaitu sang bocah pencuri sandal jepit mengaku dianiaya,
orang tua merasa tidak adanya keadilan bagi masyarakat kecil, ditandai dengan
penganiayaan atas anaknya hanya karena mencuri sandal jepit. Sehingga aksi
orangtua melaporkan aparat digambarkan sebagai berusaha bangkit menegakkan
keadilan yang akhirnya kasus tersebut diproses secara hukum. Sehingga 11 juli lalu
kasus ini dibawa ke penuntut umum dan mulai disidang, tapi tidak dilakukan
penahanan pada pelaku atas jaminan orangtuannya.
Kasus kecil yang menimpa orang kecil yang masih hangat dalam ingatan
adalah kasus yang menimpa nenek minah berusia 55 tahun yang terjadi
pertengahan agustus 2009. Nenek Minah warga desa Darmakraden, Kecamatan
Ajibarang,Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah harus dihadapkan ke Pengadilan
Negeri Purrwokerto, Kabupaten Banyumas, dengan tuduhan mencuri buah kakao
(coklat) milik perkebunan PT Rumpun Sari Antan 4. Nenek minah mengaku telah
memetik tiga buah kakao dari perkebunan tersebut. Maksudnya untuk bibit di
kebunnya yang kecil dan memang ditanami kakao. Tapi perbuatannya dipergoki
mandor perkebunan. Dia minta maaf sambil mengembalikan ketiga kakao itu kepada
sang mandor. Tapi rupanya tiada maaf bagi nenek minah,karena sang mandor
melapor ke atasan dan diteruskan ke polisi. Di proses,lantas ke Kejaksaan,dan
berakhir di Pengadilan Negeri Purwokerto. Nenek Minah dijatuhi hukuman
percobaan 1 bulan 15 hari. Dia memang tidak perlu dipenjara,tapi jangan sampai
melakukan tindak pidana. Dan sebelumnnya pun dia sudah menjalani tahanan
rumah sekjak 13 Oktober sampai 1 November 2009.
Dalam kasus sandal jepit ini, dua pendapat yang bertentangan yaitu dari
pihak aparat penegak hukum yaitu pemilik sandal jepit dan juga pendapat orangtua
dari pencuri sandal jepit. Jika kita lihat dari kacamata aparat hukum memang
tindakan aparat hukum tidak membawa kasus ini lewat jalur hukum sudah benar
karena mengangap masih dibawah umur dan masih berstatus anak. Hanya saja
yang perlu disalahkan tindakan para aparat penegak hukum kita dalam
mengintrogasi para pelaku. Demi menegakkan keadilan dan merasa dicendarainya
rasa keadilan bagi masyarakat kecil, ditandai dengan penganiayaan atas anaknya
hanya karena mencuri sandal jepit. Tindakan orang tua si anak pencuri sandal jepit
membawa kasus ini ke jalur hukum tidak lah salah tapi orang tua juga jangan
mengacuhkan begitu saja nasib si anak sehingga anak bisa diseret ke pengadilan
dan diancam hukuman lima tahun penjara.
Dari kedua kasus diatas, kasus yang menimpa bocah pencuri sandal jepit dan
nenek pencuri buah kakao jelas tidak adanya keadilan. Karena hukuman yang adil
bukan sekedar berdasarkan pasal, namun ada pertimbangan lain, ada hati nurani
dan peri kemanusiaan. Jika melihat dari sisi pasal-pasal yang tertera dalam KUHP,
sang bocah dan nenek minah memang bisa dikatakan bersalah, karena dia mencuri.
Namun dari sisi lainini dapat dikatakan penegakan hukum yang tidak berkeadilan.
Hanya mencuri tiga buah kakao yang dilakukan seorang perempuan tua, dan
pencurian sendal jepit oleh seorang anak harus dihukum, sedangkan para koruptor
yang melahap uang Negara Negara/rakyat sampai milyaran rupiah bebas karena
dianggap tidak ada bukti.
Siapa pun orangnya sama di hadapan hukum,Itu benar seratus persen.
Namun kenyataannya dinegara kita ini berbeda. Tidak semua orang sama di depan
hukum.di Negara ini jika orang besar dituduh berbuat kesalahan apalagi yang
dituduh mempunyai kekuasaan meskipun jelas ada bukti bersalah,tak langsung
menerima hukuman. Proses pengadilannya bisa diulur-ulur atau ditunda-
tunda,bahkan bisa sampai hilang di tengah jalan. Berbeda dengan orang kecil
yang dituduh berbuat kesalahan, cepat dijatuhi hukuman, padahal banyak kejadian
yang kemudian terbukti dia tidak bersalah. Tapi dia sempat menjalani hukuman
sampai bertahun-tahun. Tidak ada ganti rugi apapun dari pemerintah.