Anda di halaman 1dari 9

Pemetaan Zona Polusi Tinggi Untuk Penentuan Tindakan Mengurangi Polusi

Dalam Upaya Mewujudkan Kota Hijau Di Provinsi DKI Jakarta


Hanri Bawafi

Mahasiswa Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang

hanribawafi@gmail.com

Abstrak

Kota hijau merupakan kota dengan suasana yang masih mempertahankan dan
memaksimalkan keberadaan tumbuhan untuk mengurangi polusi udara, polusi udara salah
satunya berasal dari emisi gas buang kendaraan bermotor. Beberapa upaya yang dapat
dilakukan untuk mengurangi polusi udara diantaranya dengan membangun Ruang Terbuka
Hijau berupa taman kota atau hutan kota, menekan jumlah kendaraan bermotor dengan
menggunakan fasilitas transportasi angkutan umum dan mematikan mesin kendaraan
bermotor ketika sedang tidak digunakan juga merupakan salah satu dari upaya tersebut. Ada
banyak manfaat dari mematikan mesin kendaraan bermotor pada saat menunggu lampu
merah maupun ketika lalu lintas macet total diantaranya yaitu dapat mengurangi polusi,
kemudian dapat menghemat pemakaian bahan bakar dan dapat menghemat pengeluaran
karena dengan mematikan mesin dapat mengurangi pemakaian bahan bakar serta
mengurangi ongkos untuk membeli bahan bakar. Polutan yang mencemari udara berupa gas
dan asap. Gas dan asap tersebut berasal dari hasil proses pembakaran bahan bakar yang tidak
sempurna, yang dihasilkan oleh mesin-mesin pabrik, pembangkit listrik dan kendaraan
bermotor. Selain itu, gas dan asap tersebut merupakan hasil oksidasi dari berbagai unsur
penyusun bahan bakarAda beberapa polutan yang dapat menyebabkan pencemaran udara,
antara lain Karbon monoksida, Nitrogen dioksida, Sulfur dioksida, Partikulat, Hidrokarbon,
CFC, Timbal dan Karbondioksida. Kadar polutan yang tinggi di udara dapat mengakibatkan
pemanasan global, penipisan lapisan ozon, hujan asam dan berdampak bagi kehidupan
makhluk hidup.

Kata kunci : Ruang Terbuka Hijau, polusi udara, emisi gas kendaraan bermotor

Latar Belakang

Pencemaran lingkungan atau polusi adalah proses masuknya polutan ke dalam suatu
lingkungan sehingga dapat menurunkan kualitas lingkungan tersebut. Menurut Undang-undang
Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 tahun 1982, pencemaran lingkungan atau polusi
adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke
dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses
alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan
lingkungan menjadi tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Yang dikatakan
sebagai polutan adalah suatu zat atau bahan yang kadarnya melebihi ambang batas serta berada
pada waktu dan tempat yang tidak tepat, sehingga merupakan bahan pencemar lingkungan,
misalnya: bahan kimia, debu, panas dan suara. Polutan tersebut dapat menyebabkan lingkungan
menjadi tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan akhirnya malah merugikan manusia
dan makhluk hidup lainnya. Berdasarakan lingkungannya, pencemaran terhadap lingkungan
dibagi menjadi tiga yaitu pencemaran air, pencemaran tanah dan pencemaran udara.
Pencemaran lingkungan yang paling mempengaruhi keadaan iklim dunia adalah
pencemaran udara. Pencemaran udara ini menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kehidupan
di muka bumi. Salah satu dampaknya yaitu menipisnya lapisan ozon di bagian stratosfer oleh gas
Chloroflourocarbon (CFC), semakin menipisnya lapisan ozon adalah salah satu dampak yang
harus diwaspadai karena dapat meningkatkan intensitas cahaya matahari yang masuk ke bumi
sehingga suhu udara di bumi semakin panas, selain itu meningkatnya suhu udara di bumi juga
disebabkan oleh gas Carbondioksida (CO2) yang sebagian besar dihasilkan dari aktivitas manusia
terutama kendaraan bermotor dan industri, gas ini apabila jumlahnya besar di atmosfer maka
akan menimbulkan suatu efek seperti rumah kaca, karena gas ini jika berada di atmosfer akan
memantulkan energi panas dari permukaan bumi, baik itu energi panas dari aktivitas manusia
maupun energi panas dari matahari. Ini berarti menyangkut lestarinya keanekaragaman hayati,
kelangsungan makhluk hidup di bumi dan keberadaan bumi itu sendiri.
Provinsi DKI Jakarta merupakan ibukota Republik Indonesia dimana segala kegiatan
manusia berlangsung, kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia ini beberapa diantaranya
menimbulkan dampak terhadap lingkungan termasuk polusi yang tinggi, kemacetan dan suhu
udara yang tinggi. DKI Jakarta sebagai ibu kota negara Indonesia memiliki luas lahan
keseluruhan mencapai 661.52 km2. Pertumbuhan Kota Jakarta sangat pesat baik dari sektor
ekonomi, transportasi, penduduk, yang juga berdampak kepada pertumbuhan pemukiman.
Menurut data Statistik Indonesia laju pertumbuhan penduduk Jakarta pada tahun 2000 2010
mencapai 1.42% dengan jumlah penduduk 9.607.787 juta jiwa, tentu saja peningkatan jumlah
penduduk itu akan berdampak terhadap peningkatan pertumbuhan perumahan yang berarti akan
mengurangi luas lahan terbuka yang seharusnya diperuntukkan untuk ruang terbuka hijau
sehingga mampu mengurangi polusi udara. Suhu udara rata-rata Jakarta pada tahun 2010 yaitu
28-30C. Kemudian dampak lebih lanjutnya yaitu akan meningkatnya permintaan untuk
kendaraan bermotor karena alasan mobilitas, rata-rata penduduk Jakarta dan sekitarnya memiliki
jarak dari tempat tinggal ke tempat kerja maupun sekolah yang lebih dari 2 kilometer sehingga
banyaknya permintaan untuk kendaraan bermotor dan yang paling mendominasi adalah
kendaraan bermotor roda dua pada tahun 2009 yaitu sejumlah 7.518.098 unit, kemudian untuk
mobil penumpang berjumlah 2.116.282 unit, untuk mobil pengangkut barang berjumlah 550.924
unit, dan jumlah bis 309.385 unit, sehingga totalnya adalah 10.494.689 unit. Jumlah ini bahkan
lebih banyak daripada jumlah penduduk DKI Jakarta, tentunya dapat meningkatkan kadar
polutan di udara. Salah satu usaha untuk mengurangi kadar polutan di udara yaitu membangun
ruang terbuka hijau di lokasi yang strategis, untuk tahun 2010 luas hutan lindung dan cagar alam
di DKI Jakarta 1.454,30 hektar, kemudian luas hutan kota yaitu 639,84 hektar. Usaha lainnya
yaitu menerapkan filter pada knalpot kendaraan bermotor dan mengurangi frekuensi mesin
kendaraan bermotor dalam kondisi idle, kondisi idle adalah dimana kondisi mesin tetap hidup
namun tanpa menghasilkan pergerakan, dalam hal ini berarti mesin masih mengkonsumsi bahan
bakar dan mengeluarkan gas hasil emisi bahan bakar tersebut namun dalam keadaan kendaraan
yang tidak bergerak. (Jakarta Dalam Angka 2011)
Umumnya, polutan yang mencemari udara berupa gas dan asap. Gas dan asap tersebut
berasal dari hasil proses pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna, yang dihasilkan oleh
mesin-mesin pabrik, pembangkit listrik dan kendaraan bermotor. Selain itu, gas dan asap tersebut
merupakan hasil oksidasi dari berbagai unsur penyusun bahan bakar, yaitu CO2
(karbondioksida), CO (karbonmonoksida), SOx (belerang oksida) dan NOx (nitrogen oksida).
Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan bersifat racun.
Dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna pada bahan bakar fosil, misalnya gas buangan
kendaraan bermotor, gas ini mampu mengikat Hb (hemoglobin) sehingga pasokan O2 ke
jaringan tubuh terhambat. Hal tersebut menimbulkan gangguan kesehatan berupa rasa sakit pada
dada, nafas pendek, sakit kepala, mual, menurunnya pendengaran dan penglihatan menjadi
kabur. Selain itu, fungsi dan koordinasi motorik menjadi lemah. Bila keracunan berat (70 80%
Hb dalam darah telah mengikat CO), dapat menyebabkan pingsan dan diikuti dengan kematian.
Nitrogen dioksida (NO2) adalah gas yang paling beracun. Dihasilkan dari pembakaran batu bara
di pabrik, pembangkit energi listrik dan knalpot kendaraan bermotor, gas ini dapat menyebabkan
timbulnya serangan asma dan menyebabkan iritasi pada paru-paru, mata dan hidung. Timbal (Pb)
yaitu logam berat yang digunakan manusia untuk meningkatkan pembakaran pada kendaraan
bermotor, gas ini menyebabkan gangguan pada tahap awal pertumbuhan fisik dan mental serta
mempengaruhi kecerdasan otak. Hasil pembakaran tersebut menghasilkan timbal oksida yang
berbentuk debu atau partikulat yang dapat terhirup oleh manusia. Karbon dioksida (CO2) Gas
yang dihasilkan dari pembakaran sempurna bahan bakar kendaraan bermotor dan pabrik serta gas
hasil kebakaran hutan. Dan Ozon (O3) dapat menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan
terasa terbakar dan memperkecil paru-paru.

Metode penelitian

Pencemaran udara di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta pada umumnya bersumber
dari kondisi lalu lintas kendaraan bermotor (sumber bergerak). Untuk mengetahui tingkat
pencemaran udara yang disebabkan oleh lalu lintas kendaraan bermotor, yang secara otomatis
dan kontinyu mengukur dampak polusi yang ditimbulkan maka digunakan data pemantauan
kualitas udara dioperasikan melalui stasiun pemantau yang teritegrasi dengan pusat pengolah
data regional (Regional Center) kemudian mengaplikasikan data tersebut ke dalam sebuah peta
dengan zonasi tingkatan polusi berdasarkan pengaruhnya dalam jarak dari titik polusi dan
bangunan apa saja yang masuk dalam zona tersebut. Parameter-parameter yang diukur oleh
stasiun pemantau ini adalah Ozon (O3), Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2), Karbon
Monoksida (CO) dan Partikel Debu dengan diameter < 10 mikron (PM10).
Hasil dan Pembahasan

Perolehan data dilakukan pemantauan udara ambien dengan metode manual aktif pada 9
lokasi pantau di DKI Jakarta pada tanggal 8 Oktober 2013 yang mewakili peruntukkan
pemukiman, perkantoran, kawasan industri dan rekreasi. Parameter yang dipantau adalah N02,
SO2, debu, CO dan O3.

Stasiun Debu <10 SO2 CO O3 (g/m3) NO2


mikron (g/m3) (mg/m3) (g/m3)
(g/m3)
Bundaran HI 89,76 18,12 2,49 139,25 65,47
Kelapa Gading 74,43 46,16 1,11 134,63 45,53
Jagakarsa 64,89 11,54 2,07 207,64 25,59
Lubang Buaya 90,45 7,29 0,92 205,96 27,32
Kebon Jeruk 121,03 14,53 0,68 206,43 40,69
Pulogadung 82,75 13,39 1,85 391,92 53,06

Standar baku yang ditetapkan oleh Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI
Jakarta berdasarkan SK. Gubernur Nomor 551 tahun 2001 adalah sebagai berikut.

No. Parameter Baku mutu


1 Debu <10 mikron (g/m3) 150
2 SO2 (g/m3) 260
3 CO (mg/m3) 9
4 O3 (g/m3) 200
5 NO2 (g/m3) 92,5

Dari tabel hasil perolehan data yang didapat dan disesuaikan dengan standar baku mutu
untuk masing-masing parameter maka parameter yang melebihi standar baku mutu adalah gas
Ozon (O3) di empat lokasi yaitu Jagakarsa, Lubang Buaya, Kebon Jeruk dan Pulo Gadung yang
kadarnya melebihi 200 g/m3. Selanjutnya dapat dilihat pada peta yang menggunakan metode
Buffer untuk menggambarkan lokasi dan tingkatan zona pencemaran udara pada keempat lokasi
tersebut berdasarkan pengaruhnya terhadap jarak dari titik polusi.
Peta tersebut menggunakan salah satu metode dalam geoprocessing yaitu Buffer yang
merupakan salah satu alat untuk membuat zonasi pada keempat titik yang merupakan daerah
dengan tingkat pencemaran ozon diatas standar baku menurut Badan Pengelola Lingkungan
Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta berdasarkan SK. Gubernur Nomor 551 tahun 2001 bahwa
kadar ozon di udara tidak boleh melebihi 200 g/m3. Dalam peta tersebut menggambarkan
pengaruh polusi udara oleh ozon berdasarkan jarak dari titik yang merupakan daerah dengan
kadar ozon yang tinggi dan menmberikan informasi mengenai bangunan-bangunan yang masuk
dalam zona tinggi polusi tersebut berdasarkan jarak dari titik sumber polusi tinggi.

Zona polusi pada peta merupakan variasi jarak dari titik yang merupakan sumber polutan
tinggi. Variasi jarak tersebut digambarkan dalam berbagai tingkatan warna, warna merah dengan
jarak 100 m dari titik merupakan area sangat berbahaya karena jaraknya sangat dekat dengan
area polutan tinggi, jarak 300 m dari titik merupakan area berbahaya karena jaraknya dekat
dengan area polutan tinggi, jarak 500 m dari titik merupakan area agak berbahaya karena
jaraknya agak dekat dengan area polutan tinggi, jarak 700 m dari titik merupakan area agak aman
karena jaraknya agak jauh dari area polutan tinggi, jarak 900 m dari titik merupakan area aman
karena jaraknya jauh dari area polutan tinggi, jarak 1200 m dari titik merupakan area sangat
aman karena jaraknya sangat jauh dari area polutan tinggi. Semakin jauh dari titik sumber
polutan tinggi maka warna yang ditampilkan pada zona buffer semakin terang.

Jenis bangunan pada peta hanya memberikan informasi jenis bangunan yang masuk dalam
zona bufer atau zona polusi, sedangkan bangunan lain yang berada di luar zona tersebut tidak
dicantumkan. Berikut ini disajikan tabel mengenai bangunan-bangunan yang masuk dalam zona
berdasarkan tingkatan jarak.

Bangunan Jenis Bangunan Jarak dari Koordinat


Titik X Y
Baitur Rachman Tempat Ibadah 500 106,8927 -6,20037
SD GKPI Sekolah 500 106,8919 -6,19976
Al Ghuraba Tempat Ibadah 500 106,892 -6,19938
Rawamangun Bus Terminal Bus 500 106,8908 -6,19814
Terminal

Bangunan Jenis Bangunan Jarak dari Koordinat


Titik X Y
BCA Bank 700 106,885724 -6,201553
Ayam Balphuss Restaurant 700 106,8858 -6,201318
Riung Tenda Restaurant 700 106,885815 -6,201136
Ikan Bakar Banyuwangi Restaurant 700 106,885832 -6,200742
Dunkin donuts Restaurant 700 106,885785 -6,200093
Apotik Rini Apotek 700 106,885863 -6,199738
Hollands Bakery Toko Roti 700 106,885747 -6,199127
Mandiri Bank 700 106,886249 -6,199085
K24 Apotek 700 106,885752 -6,19903
Hoka Hoka Bento Restaurant cepat 700 106,886265 -6,198968
saji
Pizza Hut Restaurant 700 106,885766 -6,198926
BNI 46 Bank 700 106,886259 -6,198855
Jessy Bread Toko Roti 700 106,885892 -6,198294
Al-Ikhsan Tempat Ibadah 700 106,893263 -6,19816
Shelter Kebon Jeruk Halte Bus 700 106,768879 -6,194304

Bangunan Jenis Bangunan Jarak dari Koordinat


Titik X Y
Sate Ubin Toni Cirebon Restaurant 900 106,829256 -6,330934
Laboratorium Gigi Rumah Sakit 900 106,897498 -6,287472
Angkatan Udara
Jami Al-Mizan Tempat ibadah 900 106,896688 -6,200036
Warung Pasta Restaurant 900 106,885838 -6,197307
BRI Bank 900 106,885834 -6,197229
Ayam Bakar Gilimanuk Restaurant 900 106,886244 -6,197068
Pompa Bensin SPBU 900 106,781843 -6,195035
Darrussalam Tempat ibadah 900 106,891721 -6,194771

Bangunan Jenis Bangunan Jarak dari Koordinat


Titik X Y
Polsek Pulo Gadung Kantor Polisi 1200 106,890889 -6,210437
Shelter Kelapa Dua Sasak Halte Bus 1200 106,769523 -6,205557
Nurul Hidayah Tempat Ibadah 1200 106,899611 -6,201892
Bina Nusantara Universitas 1200 106,781606 -6,201877
Binus Center Sekolah 1200 106,784122 -6,200627
Sederhana Restaurant 1200 106,882886 -6,196587
Pasar Sunan Giri Pasar 1200 106,882741 -6,196572
Shelter Pemuda Halte Bus 1200 106,891694 -6,193485
Rawamangun
Shelter Velodrome Halte Bus 1200 106,888142 -6,193463
Al-Hurriyah Tempat Ibadah 1200 106,892993 -6,192113

Berdasarkan tabel-tabel tersebut, menunjukkan bahwa tidak ada bangunan yang berjarak
100 m dan 300 m dari titik polutan tinggi, kemudian pada jarak 500 m dari titik polutan terdapat
4 bangunan yang masuk zona ini, kemungkinan penyebab pencemaran berasal dari Terminal bus
Rawamangun sehingga perlu adanya kebijakan khusus untuk mengurangi pencemaran udara di
lokasi ini seperti memberikan masker gratis di lingkungan terminal, hal ini harus ditanggapi
mengingat terdapat dua masjid dan satu gedung sekolah yang dapat mempengaruhi aktivitas
manusia di dalamnya. Pada jarak 700 m dari titik polutan terdapat 15 bangunan yang sebagian
besar adalah restaurant tepatnya 6 restaurant, restaurant tersebut perlu penanganan khusus seperti
polutan memasang filter udara pada setiap ventilasi bangunan termasuk 2 toko roti agar tidak
mencemari makanan yang disajikan. Kemudian pada jarak 900 m dan 1200 m merupakan jarak
aman dari titik polutan sehingga tidak perlu penanganan khusus.

Kesimpulan

Pencemaran udara di DKI Jakarta pada daerah Jagakarsa, Kebon Jeruk, Pulogadung dan Lubang
Buaya disebabkan oleh kadar Ozon yang tinggi melebihi ambang batas yang diperbolehkan.
Ozon (O3) dapat menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan terasa terbakar dan memperkecil
paru-paru. Berdasarkan pembuatan zona buffer pada peta, bahwa tidak ada bangunan pada jarak
100m dan 300m dari titik yang merupakan area polutan tinggi sehingga tidak ada aktivitas
manusia dalam suatu bangunan yang terganggu akibat polusi. Kemudian pada jarak 500 m
terdapat 4 bangunan dan pada jarak 700 m terdapat 15 bangunan yang membutuhkan tindakan
khusus untuk mengurangi tingkat polusi udara terutama pada Terminal bis Rawamangun yang
diduga merupakan sumber pencemaran.

Daftar Rujukan

Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta. 2011. Jakarta Dalam Angka 2011. Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta. Republik Indonesia
Tim pemantau. 2013. Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan 2012. Kementerian Lingkungan Hidup.
Republik Indonesia. http://www.menlh.go.id/DATA/evaluasi_kota_2012.pdf
Anonim. 2012. Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecenderungannya. SLHD Provinsi DKI Jakarta.
Republik Indonesia
Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 2001. Keputusan Gubernur Propinsi Daerah
Khusus Ibukota Jakarta Nomor 551/2001 Tentang Penetapan Baku Mutu Udara Ambien
dan Baku Tingkat Kebisingan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Republik Indonesia
Febrianti, Nur dkk. 2014. Ruang Terbuka Hijau Di Dki Jakarta Berdasarkan Analisis Spasial
Dan Spektral Data Landsat 8. Bidang Lingkungan dan Mitigasi Bencana, Pusfatja
LAPAN. http://sinasinderaja.lapan.go.id/wp-content/uploads/2014/06/bukuprosiding_498-
504.pdf
http://data.go.id/dataset/rekap-luas-ruang-terbuka-hijau-per-kotamadya-di-dki-jakarta
http://bplhd.jakarta.go.id/01_pantauudara.php
http://pollutiononmyearth.weebly.com/uploads/1/7/5/6/17565209/polusi-udara.pdf
http://www.antaranews.com/berita/473169/jumlah-motor-dan-mobil-di-jakarta-tumbuh-12-
persen-tiap-tahun
http://metropolitan.inilah.com/read/detail/8846/124-lampu-penghitung-di-41-persimpangan