Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MERANGKUM HASIL PENELITIAN TENTANG HUBUNGAN NEGARA

MUSLIM TERHADAP KRIMINAL

Disusun Oleh : 1. Isna 5. Rusijo


2. Kasilah 6. Slamet
3. Susi 7. Nurwidi
4. Angga 8. Ribut Riyanto

Kelas : ES A Wates Kulon Progo

Nama Dosen : Rusni Istiqomah

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI YOGYAKARTA


2017
Rangkuman

1. Angka pembunuhan di Negara muslim lebih rendah dibandingkan dengan non muslim.
2. Proporsi dari Negara yang berisi umat muslim sangat bagus sebagai predictor untuk
angka pembunuhan, dengan persepsi bahwa semakin tinggi populasi muslim di suatu
Negara, maka semakin rendah angka pembunuhannya. Pendapat ini sangat terbukti
ketika kita melakukan control terhadap factor determinan dari pembunuhan.
3. Perhitungan untuk alasan mengapa angka pembunuhan di Negara muslim itu rendah
sangat sulit untuk dilakukan.
4. Banyak hasil penelitian yang tidak bisa hasilnya negative secara perhitungan empiris.
Banyak penelitian yang menyatakan bahwa muslim cenderung untuk melakukan
pembunuhan dibandingkan dengan non muslim karena Negara muslim itu lebih miskin
tidak terbukti benar.
5. Angka pembunuhan di Negara muslim rendah disebabkan karena hukuman yang berat
terhadap pelaku pembunuhan juga tidak benar.
6. Ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa Negara yang mempunyai keadaan
sosioekonomi yang rendah berkorelasi terhadap tingginya angka pembunuhan. Namun
itu tidak terjadi di Negara muslim.
7. Banyak Negara muslim yang keadaan sosioekonominya rendah namun angka
pembunuhan tetaplah rendah.
8. Menurut Durkheim, masyarakat yang mempunyai integrasi sosial yang tinggi akan
berkontribusi terhadap turunnya angka pembunuhan dan criminal. Sayangnya kita tidak
punya cukup data jika Negara muslim itu mempunyai angka integrasi sosial yang tinggi
sehingga angka pembunuhan di Negara muslim rendah.
Translate :

KRIMINAL

Kita telah menginvestigasi korupsi di bab sebelumnya, sebuah fenomena yang jelas
namun sulit untuk diamati meskipun menggunakan data survey dari para ahli. Marilah kita
sekarang menuju ke kejadian real, dan terukur secara jelas dan marilah kita lihat bagaimana
muslim memang berbeda.

Hipotesis pada muslim dan criminal

Pertama tama, marilah kita buat hipotesis bahwa muslim cenderung untuk berbuat
criminal. Persepsi ini sangat umum untuk dijumpai pada Negara-negara yang mempunyai
penduduk muslim sebagai kaum minoritas. Sebgai contoh adalah Negara belanda. Seperti di
tahun 2000an, Theo Van Gogh terbunuh oleh orang islam yang merasa diserang oleh pembuat
film dari belanda. Pim Fortuyn terbunuh oleh pembunuh yang tidak suka politikus oposisi yang
merupakan islam garis keras. Feminis Ayaan Hirsi Ali diancam dibunuh oleh orang belanda
yang beragama islam. Kejadian-kejadian itu membuat orang-orang barat menyimpulkan bahwa
muslim cenderung berbuat criminal. Orang barat mengira tindakan criminal yang dilakukan
muslim disebabkan karena pembunuh akan merasa dihormati, atau membunuh adalah cara
terbaik untuk mengadili, atau factor lain, yang menyebabkan para muslim berbuat criminal
yang sangat parah.

Hipotesis yang berlawanan adalah muslim cenderung untuk tidak melakukan tindakan
criminal. Pada bab sebelumnya diketahui bahwa muslim sangat menjunjung tinggi moral. Di
bab sebelumnya kita bisa ketahui bahwa tingkat korupsi pada muslim itu rendah. Temuan-
temuan tersebut membuat kita beranggapan bahwa tingkat criminal pada muslim akan rendah.
Mungkin karena moral orang islam yang tinggi sehingga mampu mengontrol perbuatan
criminal.

Mengukur criminal

Disini kita akan focus pada satu tipe dari perbuatan criminal, yaitu pembunuhan. Untuk
beberapa alasan, perbuatan ini sangat bagus untuk investigasi. Pembunuhan adalah disebut
sebgai perbuatan criminal terbesar. Lebih lanjut, pembunuhan secara universal bertemu dengan
kehinaan. Selain itu, data dari pembunuhan itu lebih baik dan lebih cukup dibandingkan
dengan data dari tindak criminal lain. Informasi penyerangan dan alat-alat yang digunakan
untuk membunuh sangat cukup jika dilihat di Negara-negara industry yang maju, tetapi biasa
saja bahkan sangat rendah di Negara-negara lain. Pemerkosaan sangat sulit untuk dihitung
jumlahnya, dan terjadi sangat banyak di Negara dengan sosioekonomi rendah. Banyak Negara
berkembang yang tidak punya wadah khusus yang melakukan investigasi dan penelitian
tentang tindak criminal. Tetapi secara umum, pembunuhan adalah tndakan criminal yang
mendapatkan perhatian dan selalu dicatat angkanya. Meskipun orang yang tidak penting yang
terbunuh, akan mengakibatkan hal yang menyedihkan bagi keluarga atau orang terdekat
lannya.

Disini kita mengukur rata-rata pembunuhan per 100.000 orang. Kebanyakan data yang
dipakai disini adlah data dari setengah decade pertama pada tahun 2000an.

Mengukur hubungan antara muslim dan tingkat pembunuhan

Tingkat pembunuhan kita jadikan sebagai variable bebas. Kita akan buka kemungkinan
islam akan mempengaruhi variable bebas tersebut. Table 4.7 menunjukkan rata-rata angka
pembunuhan di Negara muslim dan non muslim. Table 4.8 menunjukkan angka Negara muslim
dan Negara Kristen yang terbesar.

Perbedaan yang terjadi sangat dramatis. Masyarakat muslim mempunyai angka


pembunuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat non muslim. Perbedaan ini
ditunjukkan dengan sangat jelas pada table 4.7. Angka pembunuhan pada masyarakat muslim
adalah 2.4 per 100.000 orang sedangkan non muslim adalah 7.5 per 100.000. Dan lihat di table
4.8 bahwa angka paling buruk di Negara muslim, jauh di bawah rata-rata angka pembunuhan
di Negara non muslim.
Perbedaan antara Negara muslim dan non muslim dapat dilihat di table 4.3. Angka
distribusi di Negara muslim berkisar antara 0-10 dengan median 1.3, sementara non muslim
berkisar antara 0-60 dengan median sekitar 3.5.

Untuk melihat perbedaan tersebut, secara lebih jelas, kita membutuhkan variable
control. Keadaan ekonomi atau sosioekonomi lah dianggap sebagai variable control yang
terbaik. Negara berkembang akan dihilangkan. Negara maju juga akan membuat taraf hidup
menjadi tinggi sehingga mengurangi stress social dan juga gesekan social sehingga mengurangi
angka criminal. Disamping itu, tingkatan sosial tradisional yang kuat, dan masyarakat sosial
yang rendah akan menambah angka criminal. Perbedaan etnis juga akan membuat angka
criminal mnjadi tinggi. Tingkat kesamarataan yang tinggi juga akan meningkatkan
kemungkinan terjadinya tindakan criminal. Kita mengukur perbedaan etnis diatas. Kurangnya
tingkat/kualitas sosioekonomi akan menimbulkan efek. Masyarakat yang tidak berkualitas juga
akan meningkatkan angka pembunuhan. Sosioekonomi diukur menggunakan skala gini yang
berkisar antara 1-100. Skala gini ini akan mampu mengukur perbedaan pendapatan secara
akurat. Terahir, iklim politik mungkin akan mempengaruhi angka pembunuhan. Kususnya
pada Negara-negara demokrasi yang gagal dalam mengendalikan criminal. Ada persepsi yang
umum bahwa non demokrasi jauh lebih mampu mengendalikan criminal. Demokrasi
dipandang lebih lunak dalam melakukan hukuman bagi para pelaku criminal. Namun, efek
samping dari demokrasi ini adalah kebebasan. Kebebasan ini lah yang membuat tingkat
krimnal akan naik. Kita mengukur level dari demokrasi menggunakan skala freedom house
rating.

Ketika factor control mencangkup determinan dari hipotesis dari angka pembunuhan,
sangat tidak mungkin untuk mngontrol seluruh factor determinan yang akan mempengaruhi
angka pembunuhan. Alasannya adalah berkaitan dengan data. Peneliti yang meneliti tentang
pembunuhan di amerika serikat, telah menghitung efek dari kesibukan, dinamika keluarga, dan
gelombang fluktuasi, sebagai factor penyebab pembunuhan. Ketika variable ini dianggap
penting, sangat sulit untuk mengukur dan membandingkan satu Negara dengan Negara lain.
Beberapa factor yang telah dihitung harus dikeluarkan dari analisis. Sebagai contoh, Ineke
Marshall dan Carolyn Block telah menemukan bahwa korelasi antara porsi pemuda yang tidak
puas terhadap pendapatannya dengan pembunuhan. Penelitian marshal dan block ini
mempunyai subjek Negara industry maju seperti asia, afrika, dan amerika latin.

Tabel 4.9 menunjukkan negative binomial model dari angka pembunuhan pada
hipotesis predictor. Dapat diketahui pemasukan per kapita tidak mempengaruhi tindakan
pembunuhan sedangkan Negara yang mempunyai kekurangan sosialekonomi yang besar
cenderung untuk lebih banyak melakukan pembunuhan. Perbedaan etnis dan iklim politik juga
secara signifikan mempengaruhi angka pembunuhan.

Seperti terlihat di table 4.3, angka pembunuhan di Negara non mulim sangat tinggi.
Untuk mengetes hasil tersebut, kita hitung kembali Negara-negara yang mempunyai angka
pembunuhan tinggi (22.7 dan lebih) yang mengcangkup sampai 95%. Alternative model ini
mencangkup Colombia, El Salvador, Guatemala, Honduras, Jamaica, Lesotho, South Africa
and Venezuela (outliers). Table 4.10 mencangkup Negara-negara diluar Negara yang akangka
pembunuhannya tinggi tersebut. Ternyata temuannya sama dengan table 4.9. meskipun ukuran
koefisien untuk persentase muslim berkurang. Dalam model yang tidak memasukkan Negara
berangka pembunuhan yang tinggi, koefisien untuk pemasukan perkapita yang kurang adalah
signifikan pada angka dibawah table 4.9. hal itu mungkin disebabkan karena di table 4.9
negara-negara dengan angka pembunuhan tinggi tersebut, mempunyai pemasukan yang sangat
rendah.
Koefisien dari negative binomial model tidak bisa diartikan secara langsung. Oleh
karena itu harus ada temuan implikatif substantive yang berupa grafik prediksi angka
pembunuhan. Figur 4.4 memberikan ilustrasi tentng prediksi angka pembunuhan di Negara-
negara dengan populasi muslim yang berbeda-beda. Dua grafik didasarkan model 3 di table 4.9
dan model 3 di table 4.10. Predictor didasarkan pada pemegangan variable control di dalam
model constant pada rata-ratanya. Menggunakan seluruh data yang tersedia, rata-rata
pembunuhan yang terjadi pada muslim per tahun adalah 7 per 100.000, sedangkan prediksinya
cuman 2 per 100.000. Di figure 4.4 menunjukkan nilai prediksi ketika Negara-negara berangka
pembunuhan yang tinggi dimasukkan. Angka prediksi pembunuhan pada muslim yang terjadi
meningkat menjadi 5.5 per 100.000. Meskipun Negara-negara berangka pembunuhan tinggi
tersebut dimasukkan, nilai pembunuhan yang terjadi di Negara-negara muslim tetap rendah.

Temuan ini selaras dengan hasil penelitian Jerome Neapolitan dalam penelitiannya
tentang hubungan antara muslim dengan pembunuhan yang dia lakukan di berbagai Negara di
dunia. Temuan ini bertentangangan dengan temuan Byron Groves, Graeme Newman, and
Charles Corrado yang menyatakan bahwa agama tidak ada hubungannya dengan angka
pembunuhan. Terbukti bahwa muslim dapat mengontrol dan mengurangi angka pembunuhan.
Hal ini disebabkan karena Byron Groves, Graeme Newman, and Charles Corrado hanya
memasukkan factor sosioekonomi. Atau mungkin data yang digunakan oleh Byron Groves,
Graeme Newman, and Charles Corrado data yang tua, yaitu data tahun 1974an. Byron Groves,
Graeme Newman, and Charles Corrado menganalisa cuman 47 negara, sedangkan saya
menggunakan sampel yang lebih banyak.

Mengapa angka pembunuhan dikalangan muslim itu rendah?

Analisis menunjukkan kepada kita bahwa kita harus mengatur dan merancang
penelitian sedemikian rupa agar hasil penelitian hubungan angka pembunuhan dan muslim
valid. Pertama temuan menunjukkan bahwa muslim cenderung lebih banyak melakukan
pembunuhan karena mereka miskin; pemasukan yang sedikit cenderung untuk melakukan
tindakan criminal. Kedua muslim cenderung untuk melakukan criminal, karena jika mereka
melakukan criminal maka hukuman yang akan dijalani sangat berat. Saya mengatur tingkat
demokrasi namun tingkat demokrasi tidak hubungannya dengan angka pembunuhan.

Analisis menyebutkan harus adanya aturan dalam penyebutan hasil analisis dalam
penelitian tentang hubungan antara muslim dengan pembunuhan. Kekuragan pemasukan
diidentian dengan tingginya angka pembunuhan. Hal ini menunjukkan bahwa muslim mampu
untuk mengontrol dan menurunkan angka pembunuhan karena meskipun di Negara miskin
yang muslim, angka pembunuhan tetap rendah. Muslim tetap mempunyai angka pembunuhan
yang rendah meskipun analisis sudah dikontrol dengan menggunakan variable tingkat
sosioekonomi yang rendah.

Faktor yang mempengaruhi rendahnya angka pembunuhan di Negara muslim adalah


kitab orang muslim sendiri yang memberikan sedikit penjelasan. Di seluruh kitab agama di
dunia, pembunuhan dianggap dosa besar. Quran dan injil memperklakukan pembunuh dengan
berbeda-beda.

Penelitian lintas Negara tidaklah cukup, karena banyak penelitian cuman focus pada
satu Negara saja. Di beberapa penelitian lintas Negara menunjukkan angka prediksi
pembunuhan. Secara umum, sesuatu yang sering kita sebut sebagai integrasi budaya muncul
sebagai penjelasan utama. Integrasi budaya berbebeda dengan peleburan etnis yang tidak bisa
digunakan sebagai alat untuk memprediksi angka pembunuhan. Namun integrasi budaya,
seperti norma tingkah laku, gaya hidup adalah dianggap yang paling penting dalam
mempengaruhi angka pembunuhan.
Rangkuman

Dibagian ini kita telah menginvestigasi apakah muslim itu berbeda di ranah angka
pembunuhan. Angka pembunuhan di Negara muslim lebih rendah dibandingkan dengan non
muslim. Proporsi dari Negara yang berisi umat muslim sangat bagus sebagai predictor untuk
angka pembunuhan, dengan persepsi bahwa semakin tinggi populasi muslim di suatu Negara,
maka semakin rendah angka pembunuhannya. Pendapat ini sangat terbukti ketika kita
melakukan control terhadap factor determinan dari pembunuhan.

Perhitungan untuk alasan mengapa angka pembunuhan di Negara muslim itu rendah
sangat sulit untuk dilakukan. Banyak hasil penelitian yang tidak bisa hasilnya negative secara
perhitungan empiris. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa muslim cenderung untuk
melakukan pembunuhan dibandingkan dengan non muslim karena Negara muslim itu lebih
miskin tidak terbukti benar. Angka pembunuhan di Negara muslim rendah disebabkan karena
hukuman yang berat terhadap pelaku pembunuhan juga tidak benar. Ada juga penelitian yang
menunjukkan bahwa Negara yang mempunyai keadaan sosioekonomi yang rendah berkorelasi
terhadap tingginya angka pembunuhan. Namun itu tidak terjadi di Negara muslim. Banyak
Negara muslim yang keadaan sosioekonominya rendah namun angka pembunuhan tetaplah
rendah. Menurut Durkheim, masyarakat yang mempunyai integrasi sosial yang tinggi akan
berkontribusi terhadap turunnya angka pembunuhan dan criminal. Sayangnya kita tidak punya
cukup data jika Negara muslim itu mempunyai angka integrasi sosial yang tinggi sehingga
angka pembunuhan di Negara muslim rendah.

Bab ini menjelaskan tentang dua aspek tentang kecacatan sosial, yaitu korupsi dan
pembunuhan. Kedua masalah ini sangat penting. Tetapi politik juga sangat penting. Di bab
selanjutnya kita akan diskusikan tentang investigasi kejahatan politik.