Anda di halaman 1dari 3

KASUS MEGAPROYEK e-KTP

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan mantan Direktur


Pengelola Informasi dan Administrasi Kependudukan Direktorat Jenderal
Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Dukcapil
Kemdagri) Sugiharto sebagai tersangka kasus korupsi megaproyek pengadaan
Kartu Tanda Penduduk (KTP) berbasis elektronik atau e-KTP.
Dalam pengembangan pengusutan kasus ini, KPK juga menetapkan
mantan Dirjen Dukcapil Irman sebagai tersangka. Irman diduga bersama-sama
dengan Sugiharto melakukan tindakan melawan hukum dan menyalahgunakan
kewenangan terkait megaproyek tersebut.
Akibatnya keuangan negara ditaksir mengalami kerugian hingga Rp 2
triliun dari nilai proyek hingga Rp 6,6 triliun. KPK juga telah membidik mantan
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi atas keterlibatannya.
Megaproyek e-KTP dikerjakan oleh konsorsium yang terdiri dari Percetakan
Negara Republik Indonesia (PNRI), PT Quadra Solution, PT LEN Industri, PT
Sucofindo (Persero), dan PT Sandipala Arthapura sebagai pemenang tender
proyek e-KTP.
Penerapan e-KTP hingga kini sangat memprihatinkan dan dalam kondisi
amburadul. Pemerintah sekarang ibaratnya terpaksa cuci piring dan terkena
dampak buruknya. Megaproyek e-KTP ternyata belum dapat menyelesaikan
masalah kependudukan yang canggih dan terintegrasi.
Eksistensiya masih sebatas sebagai alat identitas diri yang masih
konvensional. Belum terintegerasi secara cerdas terhadap aspek lain seperti sistem
kesehatan nasional, sistem elektronik pemilu, jaminan sosial, hingga sistem
perbankan. Hingga kini perangkat e-KTP belum bisa melakukan konsolidasi
database yang cerdas untuk aktivitas bernegara di bidang sosial, demokrasi,
ekonomi, pendidikan dan hankam.
Kejanggalan megaproyek e-KTP terlihat dari keputusan pelaksana yang
memilih interface nirkontak (contactless) pada cip. Keputusan yang kurang logis
itu telah membengkakkan anggaran. Padahal di dunia perbankan yang memiliki
prinsip kehati-hatian yang sangat tinggi saja tidak perlu menggunakan interface
nirkontak untuk kartu kredit dan ATM.

1
Begitu juga dengan sistem e-KTP di negara tetangga Malaysia dan
Thailand yang hanya menggunakan interface kontak. Disisi lain, manfaat
langsung e-KTP bagi warga negara Malaysia dan Thailand lebih besar dan lebih
berarti dibanding pemegang e-KTP di negeri ini. Lagi pula manfaat kartu e-KTP
di negeri ini sangat minim sehingga kartu jarang digesek. Lalu kenapa harus
memilih spesifikasi mahal dengan interface nirkontak. Akibatnya menimbulkan
selisih total alias pemborosan hingga Rp 1,7 triliun dibanding dengan interface
kontak.

Penuh keganjilan
Tahapan dan proses megaproyek e-KTP yang dimulai dari tahun 2009
penuh keganjilan dan sarat korupsi. Megaproyek itu sejak awal melibatkan KPK
dan LKPP tapi setengah hati dan hanya sebatas basa-basi politik. Kini e-KTP
menimbulkan masalah krusial bagi pemerintah sekarang. Masalah krusial itu
antara lain berupa krisis pengadaan blangko e-KTP di berbagai daerah. Krisis itu
merupakan bukti buruknya perencanaan dan kinerja vendor terkait e-KTP. Sejak
semula megaproyek e-KTP sudah penuh keganjilan. Namun pemerintah saat itu
mengabaikan saran para pakar dan kritik masyarakat.
Sejak awal terlihat pihak vendor e-KTP tidak menggunakan perangkat
lunak sumber terbuka atau open source. Akibatnya, Kemdagri kesulitan
mengembangkan lebih lanjut sistem tersebut dan kegiatan pemeliharaan selalu
tergantung vendor sepanjang waktu. Selain itu masih banyak terjadi kesalahan
database terkait kolom isian dalam e-KTP.
Kondisi proyek e-KTP yang sangat amburadul dan sangat merugikan
negara itu telah diusut oleh KPK. Sistem dan perangkat e-KTP mestinya tidak
boleh melalui pengadaan nasional yang monopolistik dan bernuansa kolusi oleh
vendor.Mestinya megaproyek itu melibatkan sebanyak mungkin pengembang dan
perusahaan dalam negeri. Kemudian proyek e-KTP yang melibatkan langsung
pemerintah pusat hanya terkait sistem business intelegent terkait dengan data base
dan analisis kependudukan untuk pembangunan dan kondisi darurat.
Dengan situasi yang terlanjur amburadul seperti sekarang ini, kesalahan
pemilihan teknologi e-KTP mengakibatkan negara tersandera oleh vendor.
Tingginya komponen impor dalam proyek e-KTP juga sangat menyedihkan jika

2
kita menengok realitas industri elektronika di negeri ini yang hidup segan mati tak
mau. Harusnya pemerintah menjadikan SIAK aplikasi terpusat yang bisa diakses
dari tempat perekaman data penduduk (TPDK) yang berbasis di kecamatan.
Aplikasi itu hendaknya tidak bersifat konformitas dan monopoli dari segi
teknologi.
Publik sering bertanya, sejauh mana manfaat e-KTP untuk meningkatkan
tatakelola kependudukan dan kesejahteraaan sosial di negeri ini. Dalam
pandangan masyarakat awam, e-KTP memang berhenti kepada wujud blangko e-
KTP yang materialnya terbuat dari bahan polietelin dan tertanam chip di dalam
blangko. Serta dirancang dengan keamanan pencetakan dengan hologram.
Masyarakat awam belum memahami nilai tambah blangko e-KTP yang harganya
kelewat mahal itu.
Eksistensi e-KTP di negeri ini dalam konteks global menjadi minimalis
fungsinya dan bernuasa pemborosan yang luar biasa. Hingga saat ini fungsi
strategis e-KTP masih kabur. Kalau cuma untuk membuat nomor kependudukan
tunggal dan untuk mendukung DPT (Daftar Pemilih Tetap) Pemilu, mestinya hal
itu bukan manfaat yang esensial. Fungsi esensial bagi masyarakat adalah manfaat
pasti e-KTP terkait hak kesejahteraan dan terkelolanya aspek kependudukan
secara efektif dan multiguna yang nyata. Fungsi esensial yang lain adalah dengan
e-KTP proses pembangunan di segala bidang memiliki tingkat akurasi,
transparansi dan analisis yang baik karena berbasis data kependudukan yang real
time.
Spesifikasi perangkat keras dan lunak e-KTP yang terdiri dari cip, reader
atau writer chip pada blangko, Automated Fingerprint Identification System
(AFIS) yang terdiri dari perangkat server, klien, sistem AFIS, pemindai sidik jari
(fingerprint scanner) dan aplikasi ternyata tidak memiliki utilisasi yang baik
terkait kebutuhan Pemilu. AFIS juga belum bersifat kompatibel dengan sistem
informasi pemilu yang antara lain untuk menentukan akurasi DPT dan bebas dari
manipulasi pemilih.