Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Terdapat beberapa perbedaan pendekatan dalam memahami istilah
kecerdasan. Pandangan psikometrik merupakan pandangan yang paling
tradisional. Menurut pandangan ini, terdapat hanya satu kecedasan yang sering
disebut dengan kecerdasan umum ( general intelligences). Setiap individu
dilahirkan dengan suatu kecerdasan tertentu yang paling menonjol dan sulit
diuba. Para psikolog dapat meng ukur intelegensi seseorang melalui
tes jawaban pendek, atau dengan mengukur waktu yang
dibutuhkan seseorang untuk bereaksi terhadap kilatan cahaya atau keberadaan
pada gelombang otak tertentu (Gardner dalam Hernndez, 2010). Akan tetapi
ternyata hasil tes IQ tersebut tidak memuaskan sehingga para peneliti
mengembangkan beberapa alternatif teori yang kesemuanya menyatakan
bahwa kecerdasan merupakan hasil dari sejumlah kemampuan yang berkontribusi
terhadap kinerja manusia.
Pada tahun 1983, seorang peneliti dan profesor di Universitas Harvard,
Howard Gardner mengajukan sebuah sudut pandang baru mengenai
kecerdasan.Dalam bukunya Frames of Mind Gardner menemukakan teorinya
yang disebut dengan multiple intelligences (MI) atau kecerdasan majemuk.
Gardner dalam teori kecerdasan majemuknya, mengemukakan bahwa
kecerdasan manusiamempunyai banyak dimensi yang harus diakui dan dikembang
kan dalam pendidikan. Ia menganggap bahwa tes IQ hanya mengukur
kemampuan logika dan bahasa, tanpa tipe kecerdasan lainnya yang juga penting.
Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai sebuah potensi biopsikologis.
Kecerdasan tidak dapat dilihat atau dihitung. Kecerdasan merupakan proses
informasi yang dapat diaktifkan dalam sebuah latar kultural tertentu untuk
menyelesaikan masalah atau membuat produk yang bernilai dalam masyarakat
tersebut. Aktivasi potensial ini bergantung padanilai suatu budaya, dan
kesempatan berkembang dalam budayatersebut.Teori MI tidak hanya

1|Multiple Intelegence and Assesment


bermanfaat bagi perkembangan peserta didik. Guru yang mengetahui
kecerdasannya sendiri yang menonjol akan lebih dapat mengajar dengan lebih
efektif karena menemukan gaya mengajar yang paling sesuai. Sebaliknya kadang-
kadang peserta didik dapat membantu guru dengan kecerdasan yang dimilikinya
yang tidak dimiliki oleh guru.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Multiple Intelegensi itu?
2. Bagaimana Evaluasi dan Assesment dalam Multiple Intelegensi?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Multiple Intelegensi itu?
2. Bagaimana Evaluasi dan Assesment dalam Multiple Intelegensi?

2|Multiple Intelegence and Assesment


BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori Multiple Intelegensi (MI)
Gardner mengemukakan sebuah kerangka analitis acuan keterbakatan yang
merupakan acuan pandangannya akan kecerdasan dan nilai kemampuan manusia.
Istilah Lingkungan Faktor usia Domain/Status Isu relevan
pengaruh Bidang
Intelligences Biopsikologi Semua usia - -
Giftedness Biopsikologi Pemuda Predomain Kristalisasi
pengalaman
Prodigiousness Biopsikologi Pemuda Domain saat ini Pencaria dan
pemamfaatan
pemikiran yang luas
Expertise Domain saat Postadolescence Domain Pengetahuan/keterampi
ini menerima lan Komulatif
Creativity Domain Postadolescence Bertentangan Asinkroni yang sukses
masa depan dengan domain
Genius Domain yang Manusia Dewasa Universal Berkaitan dengan masa
luas kecil

Gardner mendefinisikan istilah dalam tabel sebagai berikut (a) seseorang


yang berbakat (Gifted) adalah orang yag menunjukkan kecerdasan tertentu, (b)
prodigy dipahami sebagai seseorang yag menunjukkan kualitas kematangan di
atas usia normalnya, (c) An expert (ahli) adalah pencapai tingkat tinggi (a high-
level achiever) yag sangat kompeten dalam suatu domain, dan (d) Creativity
ditunjukkan oleh seseorang yag dapat memecahkan masalah atau menciptakan
produk dalam sebuah domain yang sesuai. Sedangkan istilah genius bukan
diajukan oleh Gardber sendiri.
Gardner dalam Amstrong (2009) mengelompokkan kecerdasan yang
dimiliki manusia ke dalam delapan kategori yang meliputi:
1. Kecerdasan linguistik, merupakan kemampuan untuk menggunakan kata-
katasecara efektif baik secara oral maupun tulisan. Kecerdasan ini

3|Multiple Intelegence and Assesment


mencakup kemampuan untuk memanipulasi sintaks atau struktur bahasa,
fonologi,semantik (arti kata) dan penggunaan bahasa. Termasuk juga
retorika (penggunaan bahasa untuk meyakinkan orang lain melakukan
sesuatu, mnemonic (penggunaan bahasa untuk mengingat informasi),
penjelasan (menggunakan bahasa untuk menyampaikan informasi) dan
matalanguage (penggunaan bahasa untuk membicarakan bahasa itu sendiri)
2. Logika matematika, merupakan kemampuan untuk mengolah angka secara
efektif dan menalar dengan baik. Kecerdasan ini meliputi
kepekaan pola 4logika dan hubungan, pernyataan dan proposisi, fungsi
dan abstraksi lainnya. Proses yang digunakan yaitu pengkategorian,
klasifikasi, menyimpulkan, menggeneralisasikan, menghitung dan menguji
hipotesis
3. Spasial, adalah kemampuan menerjemahkan dunia visual-spasial secara
akurat. Kecerdasan ini mencakup kepekaan terhadap warna, garis,
bangun, bentuk, ruang dan hubungan yang ada di antara elemen.
4. Kinetetik, ahli dalam menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan
ide dan perasaan. Kecerdasan ini meliputi keterampilan fisik
yang spesifik seperti koordinasi, keseimbangan, ketangkasan,
kekuatan, fleksibilitas, dan kecepatan.
5. Musikal, merupakan kemampuan untuk merasakan, membedakan,
mengubah, dan mengekspresikan musik. Kecerdasan ini mencakup
sensitivitas terhadap ritme, melodi, dan warna nada sebuah karya musik.
6. Interpersonal, yaitu kemampuan untuk merasakan dan membedakan
suasanahati, perhatian, motivasi dan perasaan orang lain. Kecerdasan ini
mencakupsensitivitas terhadap ekspresi wajah, suara, dan bahasa tubuh
orang lain.
7. Intrapersonal, adalah pemahaman terhadap diri sendiri dan
kemampuanuntuk bertindak berdasarkan pengetahuan seseorang.
Kecerdasan inimencakup kesadaran akan kekuatan dan kelemahan diri,
kesadaran akansuasana hati, motivasi, temperamen dan keinginannya.

4|Multiple Intelegence and Assesment


8. Naturalistik, , memiliki keahlian dalam pengenalan dan pengklasifikasian
spesies di lingkungan sekitar. Kecerdasan ini mencakup kepekaan terhadap
fenomena alam dan membedakan objek tak hidup.
Perlu ditekankan bahwa MI bukanlah mata pelajaran dan bukan pula
kurikulum. Kesalahpahaman banyak terjadi ketika kecerdasan matematis-logis
disamakan dengan bidang studi matematika, linguistik disamakan dengan bahasa
Indonesia dan seterusnya. MI sebenarnya merupakan teori kecerdasan dalam
ranah psikologi yang ketika ditarik ke dalam dunia pendidikan menjadi
strategi pembelajaran yang berupa rangkaian aktivitas belajar dan merujuk pada
indikator hasil belajar yang telah ditentukan dalam silabus (Chatib, 2012)
Selain deskripsi masing masing intelegensi dan teori dasarnya, terdapat
beberapa poin yang penting untuk diingat dalam pembahasan MI. Poin poin
tersebut meliputi:
1. Setiap orang memiliki kedelapan intelegensi. Teori MI bukanlah
untuk menentukan salah satu intelegensi yang paling cocok. Teori ini
merupakan sebuah teori fungsi kognitif dan menganggap bahwa masing-
masing individu mempunyai kapasitas pada semua jenis intelegensi yang
berfungsi bersama dalam sebuah cara yang unik.
2. Kebanyakan orang dapat mengembangkan masing masing intelegensi
hingga tingkat kompetensi tertentu. Perkembangan dapat terjadi
dengan dukungan, pengayaan, dan instruksi yang tepat.
3. Intelegensi berfungsi bersama dalam sebuah mekanisme
yang kompleks. Intelegensi selalu berinteraksi satu sama lain. Misalkan
ketika seseorang melakukan pengamatan terhadap tumbuhan pada tingkat
divisi tertentu dibutuhkan kecerdasan linguistik (membaca dan memahami
teori), kecerdasan naturalistik (membedakan satu spesies
dengan spesies lain), dan kecerdasan spasial (menggambar morfologi)
4. Terdapat berbagai cara untuk menjadi cerdas dalam setiap
kategori. Tidak ada serangkaian atribut standar yang harus dimiliki
seseorang untuk memiliki kecerdasan tertentu. Misalnya seseorang mungkin
tidak bisa membaca, namun ia memiliki kecerdasan linguistik yang tinggi

5|Multiple Intelegence and Assesment


karena dapat menceritakan sesuatu yang menarik atau memiliki banyak kosa
kata lisan.
B. Evaluasi dan Assesment dalam MI
1. Pengertian penilaian
Penilaian didefinisikan sebagai proses pengumpulan informasi tentang
kinerja siswa, untuk digunakan sebagai dasar dalam membuat keputusan
(Weeden, Winter, dan Broadfoot: 2002; Bott: 1996; Nitko: 1996; Mardapi:
2004).
Penilaian merupakan komponen yang sangat penting dalam
penyelenggaraan pendidikan. Upaya meningkatkan kualitas pendidikan dapat
ditempuh melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas sistem
penilaiannya.
Menurut Mardapi, (2004), penilaian dan pembelajaran adalah dua
kegiatan yang saling mendukung, upaya peningkatan kualitas pembelajaran
dapat dilakukan melalui upaya perbaikan sistem penilaian.
Sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas belajar yang
baik. Kualitas pembelajaran ini dapat dilihat dari hasil penilaiannya.
Selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong pendidik untuk
menentukan strategi mengajar yang baik dalam memotivasi peserta didik untuk
belajar yang lebih baik. Oleh karena itu, dalam upaya peningkatan kualitas
pendidikan diperlukan perbaikan sistem penilaian yang diterapkan.
Pada saat membicarakan masalah penilaian, kita sering menggunakan
beberapa istilah seperti tes, pengukuran, asesmen, dan evaluasi yang digunakan
secara tumpang tindih (over lap). Untuk itu berikut ini akan disajikan beberapa
pengertian dari istilah-istilah tersebut.
a. Tes
Tes dapat didefinisikan sebagai seperangkat pertanyaan atau tugas
yang direncanakan unutk memperoleh informasi tentang trait atau sifat
atau atribut pendidikan dimana dalam setiap butir pertanyaan tersebut
mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar. Dengan
demikian maka setiap tes menuntu siswa memberi respons atau jawaban.

6|Multiple Intelegence and Assesment


Respons yang diberikan siswa dapat benar atau salah. Jika respons yang
diberikan siswa benar, maka kita katakana siswa tersebut telah mencapai
tujuan pembelajaran yang kita ukur melalui butir soal tersebut tetapi jika
respons yang diberikan salah, berarti mereka belum dapat mencaai
tujuan pembelajaran yang kita ukur. Apabila ada seperangkat tugas atau
pertanyaan yang diberikan kepada siswa tetapi tidak ada jawaban yang
benar atau salah maka itu buka tes, (zainul dan nasoetion, 1997)
b. Pengukuran
Pengukuran ada dasarnya merupakan kegiatan penentuan angka
dari suatu objek yang diukur. Gronlund dan linn (1990) secara sederhana
merumuskan pengukuran sebagai measurement is limited quantitative
descriptions of pupil behavior, that is result of measurement are always
expressed in number. (pengukuran adalah uraian kwantitatif yang
terbatas dari perilaku murid, yang hasil dari pengukuran selalu berbentuk
jumlah). Penetapan angka ini merupakan suatu upaya untuk
menggambarkan karakteristik suatu objek. Untuk dapat menghasilkan
angka (yang merupakan hasil pengukuran) maka diperlukan alat ukur.
Dalam melakukan pengukuran kita harus berupaya agar kesalahan
pengukurannya sekecil mungkin. Untuk itu diperlukan alat ukur yang
dapat menghasilkan hasil pengukuran yang valid dan reliable. Jika dalam
melakukan engukuran kita tidan banyak melakukan kesalahan, maka
hasil pengukuran tidak dapat menggambarkan skor yang sebenarnya dari
objek yang kita ukur.
Kesalahan pengukuran dapat bersumber dari tiga hal yaitu dari alat
ukur yag digunakan, objek yang diukur, atau orang yang melakukan
pengukuran. Kesalahan pengukuran tersebut dapat bersifat acak (random)
atau dapat juga bersifat sistematis. Kesalahan acak dapat disebabkan
karena adanya perbedaan kondisi fisik dan mental yang diukur dan yang
mengukur, sedangkan kesalahan sistematis bersumber dari kesalahan alat
ukur, yang diukur atau yang mengukur. Contoh : guru dapat melakukan
kesalahan sistematis jika dalam memberi skor, guru tersebut cenderung

7|Multiple Intelegence and Assesment


memberi skor yang murah atau cenderung memberi skor yang mahal
pada seluruh siswa. Tetapi jika dalam memberi skor kepada siswa, gru
tidak melukannya secara konsisten maka akan terjadi bias dalam
pengukuran.
c. Asesmen
Kenyataan menunjukan bahwa banyak gur yang belum mengetahui
dengan benar konsep asesmen dan evaluasi. Satu istilah yang sering
digunakan untuk mewadahi kegiatan asesmen dan evaluasi adalah
penilaian. Penggunaan istilah penilaian untuk mewadahi kedua kegiatan
tersebut sebenarnya tidak terlalu salah karena dalam konsep asesmen
tersebut sebenarnya tidak terlalu salah karena dalam konsep asesmen dan
evaluasi mengandung unsur pengambilan kesimpulan.
Menurut hanna (1993) assessment is the process of collecting,
interpreting, and synthesizing information to aid in decision making.
Assessment synonymous with measurement plus observation. It concerns
drawing inferences from these data sources. The primary purpose of
assessment is to increase students learning and development rather than
simply to grade or rank student performance (morgan & oreilly, 1999).
Jadi asesmen merupakan kegiatan pengumpulan informasi hasil
belajar siswa yang diperolh dari berbagai jenis tagihan dan mengolah
informasi tersebut untuk menilai hasil belajar dan perkembangan belajar
siswa. Berbagai jenis tagihan yang digunakan dalam asesmen antara lain
: kuis, ulangan harian, tugas individu, tugas kelompok, ulangan akhir
semester, laporan kerja dsb.
d. Evaluasi
Jika kita bicara asesmen dan evaluasi dalam pembelajaran maka
lingkup asesmen hanya pada individu siswa dalam kelas, sedangkan
lingkup evaluasi adalah seluruh komponen dalam program pembelajaran
tersebut. Evaluasi merupakan penilaian keseluruhan program pendidikan
mulai perencanaan suatu program substansi pendidikan termasuk
kurikulum dan penilaian (asesmen) serta pelaksanaannya, engadaan dan

8|Multiple Intelegence and Assesment


peningkatan kemampuan guru, manajemen pendidikan dan reformasi
pendidikan secara keseluruhan. Evalusi bertujuan meningkatkan kualitas,
kinerja atau produktivitas suatu lembaga dalam melaksanakan
programnya. Agar dapat meningkatkan kualitas, kinerja dan produktivitas
maka kegiatan evaluasi selalu didahului dengan kegiatan pengukuran dan
asesmen.
Tyler seperti dikutip oleh mardapi, D. (2004) menyatakan bahwa
evaluasi merupakan peroses penetuan sejauh mana tujuan pendidikan
telah tercapai. Banyak definisi evaluasi yang dikembangkan oleh para
ahli tetapi pada hakekatnya evaluasi selalu memuat masalah informasi
dan kebijakan yaitu infoirmasi tentang pelaksanaan dan keberhasilan
suatu program yang selanjutnya digunakan untuk menetukan kebjakan
selanjutnya, kalau seorang guru mengevaluasi program pembelajaran
yang telah ia lakuakan, maka ia harus mengevaluasi pelaksanan dan
keberhasilan dari program pembelajaran dapat mendorong guru untuk
mengejar lebih baik mendorong siswa untuk belajar lebih baik.
2. Fungsi dan Tujuan Penilaian
Fungsi dari penilaian menurut Nana Sudjana, (1995: 4)adalah sebagai
berikut :
a. Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan intruksional.
Dengan demikian penilaian harus mengacu pada rumusan-rumusan
tujuan intruksional.
b. Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar.
Perbaikan mungkin dilakukan dalam hal tujuan intruksional, kegiatan
belajar siswa, strategi mengajar guru dan lain-lain.
c. Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para
orang tua. Dalam laporan tersebut dikemukakan kemampuan dan
kecakapan belajar siswa dalam berbagai bidang studi dalam bentuk nilai-
nilai prestasi yang dicapainya
Penilaian di sini berfungsi sebagai alat untuk mengetahui seberapa
berhasilkah proses belajar mengajar yang terjadi. Selain itu juga sebagai

9|Multiple Intelegence and Assesment


perbaikan dalam melakukan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru
dan siswa. Dan juga sebagai laporan kemauan belajar siswa yang diberikan
kepada orang tua agar orang tuanya mengetahui hasil belajar anaknya dalam
bentuk raport yang biasanya diberikan pada akhir semester.
Fungsi penilaian yang lainnya di sini bukan hanya untuk menentukan
kemajuan belajar siswa, tetapi sangat luas. Fungsi penilaian adalah sebagai
berikut:
a. Penilaian membantu siswa merealisasikan dirinya untuk mengubah atau
mengembangkan perilakunya.
b. Penilaian membantu siswa mendapat kepuasan atas apa yang telah
dikerjakannya.
c. Penilaian membantu guru untuk menetapkan apakah metode mengajar
yang digunakannya telah memadai.
d. Penilaian membantu guru membuat pertimbangan administrasi.
(Cronbach, 1954 dalam Hamalik, 2002: 204).
Fungsi penilaian sebagai alat untuk membantu siswa dalam mewujudkan
dan mengubah perilakunya sesuai dengan tata tertib yang ada. Di sini juga
siswa mendapat kepuasan atas apa yang dikerjakannya yang berupa nilai.
Apabila mereka sungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu maka hasil yang
didapatkan akan bagus sehingga mereka akan puas dengan hasil yang
didapatkannya. Penilaian juga membantu guru dalam menetapkan metode yang
digunakan telah tepat diterapkan.
Sedangkan tujuan dari penilaian menurut Nana Sudjana, (1995: 4) adalah
sebagai berikut :
a. Mendeskripsikan kecakapan belajar siswa sehingga dapat diketahui
kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata
pelajaran yang ditempuhnya.
b. Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah,
yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para
siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.

10 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
c. Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan
dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta
strategi pelaksanaanya.
d. Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah
kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
e. Pihak yang dimaksud meliputi pemerintah, masyarakat, dan para orang
tua siswa.
Dari pendapat di atas, penilaian mempunyai tujuan mendeskripsikan hasil
belajar siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangan siswa dalam
proses pembelajaran tersebut. Selain itu juga dapat mengetahui keberhasilan
proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, di sini dapat terlihat berhasil
tidaknya guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Apabila hasilnya
kurang baik maka dapat dilakukan perbaikan dan penyempurnaan proses
pendidikan sehingga dapat memberikan pertanggungjawaban terhadap pihak
sekolah.
3. Teknik Penilaian
Beragam teknik dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi
tentang kemajuan belajar peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses
belajar maupun hasil belajar. Teknik pengumpulan informasi tersebut pada
prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik berdasarkan
standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai. Menurut BSNP,
(2007) teknik penilaian tersebut yaitu:
a. Tes tertulis
Tes tertulis adalah suatu teknik penilaian yang menuntut jawaban secara
tertulis, baik berupa pilihan atau isian. Tes yang jawabannya berupa
pilihan meliputi pilihan ganda, benar-salah dan menjodohkan, sedangkan
tes yang jawabannya berupa isian berbentuk isian singkat atau uraian.
Tes tertulis lebih banyak digunakan oleh guru untuk melakukan
penilaian.

11 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
b. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah teknik penilaian yang dilakukan
dengan menggunakan indera secara langsung. Observasi dilakukan
dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator
perilaku yang akan diamati. Misalnya tingkah laku siswa di dalam kelas
pada waktu mengikuti pelajaran.
c. Tes praktik
Tes praktik, juga biasa disebut tes kinerja, adalah teknik penilaian yang
menuntut peserta didik mendemonstrasikan kemahirannya. Tes praktik
dapat berupa tes tulis keterampilan, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes
petik kerja. Tes tulis keterampilan digunakan untuk mengukur
keterampilan peserta didik yang diekspresikan dalam kertas, misalnya
peserta didik diminta untuk membuat desain atau sketsa gambar.
d. Penugasan
Penugasan adalah suatu teknik penilaian yang menuntut peserta didik
melakukan kegiatan tertentu di luar kegiatan pembelajaran di kelas.
Penugasan dapat diberikan dalam bentuk individual atau kelompok.
Penugasan ada yang berupa pekerjaan rumah atau berupa proyek.
Pekerjaan rumah adalah tugas yang harus diselesaikan peserta didik di
luar kegiatan kelas, misalnya menyelesaikan soal-soal dan melakukan
latihan. Proyek adalah suatu tugas yang melibatkan kegiatan
perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan
dalam waktu tertentu dan umumnya menggunakan data lapangan.
e. Tes lisan
Tes lisan dilaksanakan melalui komunikasi langsung tatap muka antara
peserta didik dengan seorang atau beberapa penguji. Pertanyaan dan
jawaban diberikan secara lisan dan spontan. Tes jenis ini memerlukan
daftar pertanyaan dan pedoman pensekoran. Tes lisan ini dapat
mengetahui secara langsung sampai sejauh mana kemampuan siswa
dalam menyerap pelajaran yang telah diberikan

12 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
f. Penilaian portofolio
Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara menilai
portofolio peserta didik. Portofolio adalah kumpulan karya-karya peserta
didik dalam bidang tertentu yang diorganisasikan untuk mengetahui
minat, perkembangan, prestasi, dan/atau kreativitas peserta didik dalam
kurun waktu tertentu. Setiap akhir periode pembelajaran hasil karya atau
tugas belajar dikumpulkan dan dinilai bersama-sama antara guru dan
peserta didik, sehingga penilaian portofolio dapat memberikan gambaran
secara jelas tentang perkembangan/kemajuan belajar peserta didik.
(Mimin Haryati, 2008: 59).
g. Jurnal
Jurnal merupakan catatan pendidik selama proses pembelajaran yang
berisi informasi kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkait
dengan kinerja ataupun sikap peserta didik yang dipaparkan secara
deskriptif.
h. Penilaian diri
Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta
didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya berkaitan
dengan kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran.
Menurut Mimin Haryati (2008: 67), menilai diri dapat memberikan
manfaat/dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seorang
peserta didik diantaranya:
1) menumbuhkan rasa percaya diri, karena peserta didik diminta untuk
menilai dirinya sendiri,
2) peserta didik dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan diri sendiri,
metode ini merupakan ajang instropeksi diri,
3) memberikan motivasi untuk membiasakan dan melatih peserta didik
untuk berbuat jujur dalam menyikapi suatu hal.
i. Penilaian antarteman
Penilaian antarteman merupakan teknik penilaian dengan cara meminta
peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan temannya

13 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
dalam berbagai hal. Untuk itu perlu ada pedomanan penilaian antarteman
yang memuat indikator prilaku yang dinilai.
4. Prinsip Penilaian
Mengingat pentingnya penilaian dalam menentukan kualitas
pendidikan, maka upaya merencanakan dan melaksanakan penilaian hendaknya
memperhatikan beberapa prinsip dan prosedur panilaian.
Prinsip penilaian menurut Nana Sudjana (1995: 9) yang dimaksudkan
adalah sebagai berikut:
a. Dalam menilai hasil belajar hendaknya dirancang sedemikian rupa
sehingga jelas abilitas (segi) yang harus dinilai, materi penilaian, alat
penilaian, dan interpretasi hasil penilaian. Sebagai patokan atau rambu-
rambu dalam merancang penilaian hasil belajar adalah kurikulum yang
berlaku dan buku pelajaran yang digunakan.
b. Penilaian hasil belajar hendaknya menjadi bagian integral dari proses
belajar-mengajar. Artinya, penilaian senantiasa dilaksanakan pada setiap
saat proses belajar-mengajar sehingga pelaksanaanya berkesinambungan.
Tiada proses belajar-mengajar tanpa penilaian hendaknya dijadikan
semboyan bagi setiap guru. Prinsip ini mengisyaratkan pentingnya
penilaian formatif sehingga dapat bermanfaat baik bagi siswa maupun
guru.
c. Agar diperoleh hasil belajar yang objektif dalam pengertian
menggambarkan prestasi dan kemampuan siswa sebagaimana adanya,
penilaian harus menggunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya
komprehensif. Dengan sifat komprehensif dimaksudkan segi atau abilitas
yang dinilainya tidak hanya aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan
psikomotoris.
d. Penilaian hasil belajar hendaknya diikuti dengan tindak lanjutnya.
Dalam melakukan penilaian, guru harus berpatokan terhadap kurikulum
yang berlaku dan buku pelajaran yang digunakan. Sehingga dalam
merancang penilaian hasil belajar siswa lebih jelas. Penilaian dilakukan
pada setiap saat proses pembelajaran sehingga pelaksanaanya

14 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
berkesinambungan. Agar diperoleh hasil belajar yang objektif sesuai
dengan kemampuan siswa maka menggunakan berbagai alat penilaian.
Apabila hasil belajar siswa kurang baik maka guru bertanggungjawab
penuh terhadap siswa sampai siswa tersebut meperoleh hasil yang baik.
Depdiknas (2004 : 7) menyatakan bahwa prinsip atau kriteria
penilaian yaitu:
a. Validitas
Menilai apa yang seharusnya dinilai dan alat penilaian yang
digunakan sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan isinya
mencakup semua kompetensi yang terwakili secara proporsional.
b. Reliabilitas
Penilaian yang reliable memungkinkan perbandingan yang reliable
dan menjamin konsistensi. Misal, guru menilai dengan proyek
penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama
bila proyek itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama, untuk
menjamin penilaian yang reliable petunjuk pelaksanaan proyek dan
penskorannya harus jelas
c. Terfokus pada kompetensi
Penilaian harus terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian
kemampuan), bukan pada penguasaan materi (pengetahuan).
d. Keseluruhan atau komprehensif
Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan
alat untuk menilai beragam kompetensi atau kemampuan peserta
didik, sehingga tergambar profil kemampuan peserta didik. Sehingga
di sini jelas terlihat kemampuan yang dimiliki peserta didik.
e. Objektivitas
Penilaian harus dilaksanakan secara obyektif, untuk itu penilaian
harus adil, terencana, berkesinambungan, menggunakan bahasa yang
dapat dipahami peserta didik dan menerapkan kriteria yang jelas
dalam pembuatan keputusan atau pemberian angka. Dalam
memberikan penilaian guru tidak boleh pilih kasih.

15 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
f. Mendidik
Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran bagi
guru dan meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik.
Dalam menilai hasil belajar siswa, guru hendaknya memperhatikan
prinsip-prinsip dalam penilaian agar hasilnya sesuai baik.
5. Prosedur Penilaian
Dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas, guru harus dapat
merumuskan tujuan-tujuan pengajaran agar proses pembelajaran dapat
terlaksana dengan baik sehingga fungsi penilaian dapat terwujud dan dapat
memberikan gambaran terhadap penyusunan alat penilaian. Setelah itu guru
harus mengkaji kembali materi pengajaran, apakah sudah sesuai dengan
kurikulum dan silabus ataukah belum untuk perbaikan dalam proses
pembelajaran dan penilain. Guru harus dapat menyusun alat penilaian yang
cocok diterapkan di kelas yang sesuai dengan karakter anak didik sehingga
hasil dari penilian tersebut sesuai dengan tujuan penilaian tersebut.
Berkaitan dengan prosedur penilaian, BSNP telah mengeluarkan
pedoman penilaian untuk kelompok mata pelajaran iptek yang dapat digunakan
oleh pendidik. Adapun prosedur yang dimaksud meliputi: penentuan tujuan
penilaian, penyusunan kisi-kisi, perumusan indikator pencapaian, penyusunan
instrument, telaah instrument, pelaksanaan penilaian, pengolahan dan
penafsiran hasil penilaian, serta pemanfaatan dan pelaporan hasil penilaian.
Adapun secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Penentuan tujuan
Penentuan tujuan penilaian merupakan langkah awal dalam rangkaian
kegiatan penilaian secara keseluruhan, seperti untuk penilaian harian, tengah
semester, akhir semester. Sehingga di sini jelas apa yang akan dinilai.
b. Penyusunan kisi-kisi
Kisi-kisi penilaian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan
perencanaan pembelajaran dalam bentuk silabus dan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP). Di dalam silabus, pendidik menunjukkan keterkaitan
antara SK, KD, materi pokok/materi pembelajaran, alokasi waktu, sumber

16 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
belajar dengan indikator pencapaian KD yang bersangkutan beserta teknik
penilaian dan bentuk instrument yang digunakan
c. Perumusan indikator pencapaian
Indikator pencapaian dikembangkan oleh pendidik berdasarkan KD mata
pelajaran tersebut.
d. Penyusunan instrument
Instrument yang digunakan dalam penilaian meliputi tes dan non tes.
Langkah-langkah penyusunan instrument disesuaikan dengan karakteristik
teknik dan bentuk butir instrumennya.
e. Telaah instrument
Telaah instrument dapat dianalisis secara kualitatif ataupun kuantitatif.
Telaah instrument secara kualitatif dengan menelaah atau mereviu
instrument penilaian yang telah dibuat. Telaah mencakup substansi isi,
konsep, dan bahasa yang digunakan. Berdasarkan hasil telaah tersebut
dilakukan revisi terhadap butir soal yang kurang baik.
f. Pelaksanaan penilaian
Penilaian untuk mata pelajaran iptek dilakukan melalui ulangan harian,
ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, penugasan, dan
pengamatan dengan menggunakan instrument yang sesuai dengan SK dan
KD. Penilaian melalui ulangan dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis
dan/ tes praktik tergantung pada karakteristik mata pelajaran.
g. Pengolahan dan penafsiran hasil penilaian
Pengolahan hasil penilaian dilakukan oleh pendidik untuk memberikan
makna terhadap data yang diperoleh melalui penskoran. Sedangkan untuk
penafsiran hasil penilaian, guru membuat deskripsi hasil penilaiannya.
h. Pemanfaatan dan pelaporan hasil penilaian
Hasil penilaian bermanfaat sebagai umpan balik bagi guru dalam upaya
mengetahui tingkat keterlaksanaan dan ketercapaian program pembelajaran
yang telah dilakukan, serta untuk perbaikan proses pembelajaran
selanjutnya. Pelaporan hasil penilaian oleh pendidik dan satuan pendidikan

17 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
disampaikan dalam bentuk angka pencapaian kompetensi (nilai), disertai
dengan deskripsi dan/ profil kemajuan belajar.
Penilaian dalam MI bukan merupakan output utama. MI tidak
bergantung pada tes standar atau tes yang didasarkan pada nilai formal. Teori
ini lebih banyak mendasarkan pada penilaian autentik yang memiliki titik
acuan spesifik dan Ipsative (tes yang membandingkan prestasi peserta didik
saatinidengan prestasinya yang lalu). Pergeseran paradigma penilaian tradision
al dengan penilaian autentik terangkum dalam tabel 1
Meskipun terdapat mekanisme penilaian yang sama, namun konsep
dasar penilaian tes dalam MI agak sedikit berbeda. Soal tes yang digunakan se
bagai evaluasi adalah soal yang menantang, bukan soal dengan kriteria sulit.
Soal yang sulit dianggap akan merusak mental siswa untuk maju. Cara tepat
untuk membuat soal yang berkualitas dan menantang adalah model open Book,
Dengan model ini,seorang guru tidak akan mungkin membuat soal seperti
sebutkan urutan urutan proses pencernaan makanan?. Guru aka tertantang
membuat soal dengan taksonomi Bloom tingkat tinggi seperti Apa yang akan
terjadi dalam proses pencernaan makanan apabila seseorang memiliki
kebiasaan memakan makanan tanpa mengunyah?. Dengan demikian,
meskipun open book, daya kritis dan analisis peserta didik akan sangat
berperan dalam mencari jawabannya. Konsep lain yang perlu diperhatikan
dalam penyusunan tes yang baik adalah ability test dan discovering ability-
ability test adalah tes kemampuan yang bertujuan mengetahui kemampuan
peserta didik, bukan ketidakmampuannya (disability test). Tes
ketidakmampuan memiliki ciri-ciri 1) soal yang diberikan asing dan tidak
akrab dengan pengetahuan peserta didik, 2) tidak mempunyai batasan yang
disepakati. Discovering ability adalah aktivitas guru untuk menjelajah
kemampuan peserta didik pada saat hasil tes yang diperoleh berada di bawah
standar ketuntasan. Peserta didik dapat diminta menjawab soal yang sama
dengan cara yang lain, jika tidak berhasil barulah dilakukan remedial test
(Chatib, 2012)

18 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
Tabel 1. Pergeseran paradigma penilaian tradisional dan autentik yang
digunakan MI.
No Paradigma penilaian tradisional Paradigma penilaian autentik
1 Penilaian menekankan pada Penilaian menekankan pada
peringkat dan mengklasifikasikan kompetensi yang diajarkan
peserta didik
2 Mengesampingkan peserta didik Membantu peserta didik yang
yang tidak mampu (lemah) lemah untuk berkembang
3 Peringkat dan klasifikasi Penilaian kompetensi cenderung
cenderung mendorong kompetisi membangun semangat kerja
yang berlebihan sama.
4 Penilaian h a n ya Penilaian menitikberatkan pada
menitikberatkan p a d a aspek tiga ranah, yaitu kognitif,
kognitif (pengetahuan) psikomotorik dan afektif
5 Pengumpulan informasi nilai Pengumpulan informasi nilai
hanya dengan TES dengan TES dan NON-TES

MI tidak dapat diukur dengan tes pensil dan kertas seperti biasa.
Gardner menyebut pengukuran MI sebagai spektrum proyek (project Spectrm).
Spektrum proyek merupakan sistem pengukuran untuk anak-anak dalam kelas
dengan berbagai materi yang berbeda. Pendekatan ini akan memberikan
informasi berdasarkan aktivitas yang berarti yang menunjukkan kekuatan
beberapa kecerdasan. Meskipun validitas tes pada usia pra sekolah tidak dapat
dilihat, tugas tugas spektrum dapat menunjukkan reliabilitasnya. Sejumlah
tes juga dapat dilakukan untuk mengukur kecerdasan yang spesifik.
Tabel 2. Jenis tes untuk mengukur kecerdasan yang spesifik
Kecerdasan Jenis tes
Linguistik Tes membaca, tes bahasa, dan tes
pencapaian
Logika matematika Asesmen plagetian, tes pencapaian

19 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
matematika, tes penalaran
kecerdasan
Spasial Tes ingatan visual dan visual-
motor, tes bakat seni, tes kinerja
kecerdasan.
Kinestetik Tes ketangkasan, tes fisik
Interpersonal Skala kematangan sosial,
soaiogram, tes proyeksi
interpersonal
Intrapersonal Asesmen konsep diri, tes proyektif,
tes EQ
Naturalistik Tes yang mencakup pertanyaan
tentang hewan, tumbuhan atau alam
sekitar

Spektrum proyek dipandang lebih baik dibandingkan dengan asesmen


tradisional seperti tes IQ karena (1) menunjukkan komponen pemikiran yang
tidak mempertimbangkan tingkat kepintaran, (2) asesmen didasarkan pada
aktivitas hands on yang melibatkan dan berarti bagi anak usia pra sekolah
dari suatu latar belakang sosial, (3) mendokumentasikan pembelajaran dan
distribusi kekuatan dan kelemahan berbagai kecerdasan (profil
spektrum/spectrum profile).
Tabel 3. Perbedaan asesmen MI dan asesmen tradisional.
Asesmen Tradisional Asesmen MI
Kepercayaan yang lebih pada Sampel keseluruhan kecerdasan dan
logika dan linguistik, kemampuan domain
matematis dan pengukuran
Kurang fokus Mengidentifikasi kekuatan relatif
dan absolut
Nilai intrinsik suatu aktivitas atau Segera memberikan umpan balik

20 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
tugas sangat kecil kepada peserta didik, sangat berarti
dan materi yag diberikan familiar
Kinerja ditunjukkan dengan skor Skor berada pada suatu jangkauan
tunggal tugas, menjelaskan beberapa domain
untuk mesing masing kecerdasan.
Terpisahka dari konteks Validitas ekologis, permasalahan
terkini digunakan untuk kegiatan
pemecahan masalah.

6. MI dalam pembelajaran
MI dianggap dapat menyelesaikan permasalahan pendidikan di
Indonesia.Akan tetapi penerapan dan pengintegrasian MI dalam pembelajaran
tidak semudah yang dibayangkan. Chatib (2012) menganalisis beberapa
tantangan yang harus dihadapi dalam pengaplikasian MI di dunia pendidikan
Indonesia.
1. Beberapa elemen sistem pendidikan Indonesia masih kurang
sejalan dengan sistem pendidikan yang proporsional.
2. P e m a h a m a n yang salah tentang makna sekolah
unggulan.
3. D e s a i n k u r i k u l u m y a n g m a s i h s e n t r a l i s t i s .
4. P e n e r a p a n k u r i k u l u m y a n g t i d a k s e j a l a n d e n g a n
e v a l u a s i h a s i l a k h i r pendidikan.
5. M a s i h r e n d a h n y a k r e a t i v i t a s d a n k u a l i t a s g u r u .
6. Proses penilaian hanya dilakukan secara parsial pada kemampuA
n kognitif yang terbesar, dan belum menggunakan penilaian autentik
secara komprehensif.
Amstrong (2009) meneliti pengaplikasian MI pada peserta didik yang
semula menyandang disability learning, Setelah beberapa bulan belajar dengan
strategiMI ternyata mereka adalah anak-anak yang kreatif dan cerdas.
Amstrong menemukan bahwa para guru sebelumnya mengalami distechia,
(salah mengajar) yang mengandung virus T yaitu teacher talking time, task

21 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
analysis dan tracking . Teacher talking time menganggap peserta didik belajar
saat guru mengajar dengan ceramah. Task analysis artinya setiap penyampaian
materi pelajaran yang diberikan pada siswa langsung masuk ke materi tanpa
menjelaskan kegunaan materi untuk diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari.
Trackingyaitu pengelompokan peserta didik ke dalam beberapa kelas berdasark
an kemampuan kognitifnya, padahal perkembangan psikologi siswa pandai
yang masuk dalam kelas khusus anak pandai mempunyai resiko kemunduran
tingkat kecerdasan(Chatib, 2012)
Jalan terbaik untuk mengembangkan kurikulum yang menggunakan
MIadalah dengan memikirkan bagaimana cara seseorang dapat
menerjemahkanmateri yang akan diajarkan dari suatu
kecerdasan kedalamkecerdasan lainnya. Berikut tujuh langkah untuk
menyusun rencana pembelajaran (lesson plan/RPP) ataupun kurikulum MI.
1. F o k u s p a d a t u j u a n a t a u t o p i k y a n g s p e s i f i k .
2. M e n g a j u k a n pertanyaan kunci sesuai teori MI.
G a m b a r 1 menunjukkan jenis pertanyaan yang sesuai dengan tujuan
atau topik yang objektif .
3. Mempertimbagkan kemungkinan
4. Brainstorm
5. Menyeleksi aktivitas yag sesuai.
6. Merancang serangkaian rencana
7. Mengimplementasikan rencana.
Penerapan MI dalam pembelajaran memberikan beberapa keuntungan
yaitu 1) baik guru maupun siswa akan menyadari bahwa terdapat berbagai
macam cara untuk menjadi pintar, 2) semua tipe kecerdasan memiliki nama
yang sama, 3) dengan produk belajar peserta didik yang ditunjukkan ke orang
tua dan anggota lainnya, sekolah dapat lebih melibatkan orang tua dan
komunitasnya, 4) peningkatan harga diri dapat dilihat seiring dengan
peningkatan kekuatan dantugas yang sesuai dengan keahlian tertentu yang
dimiliki, dan 5) peserta didik dapat mengembangkan keterampilan
memecahkan masalah yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari hari.

22 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
Logika matematika
Spasial
Bagaimana bisa saya membawanya
Linguistik Bagaimana bisa saya
dalam bentuk angka, perhitungan,
menggunakan bantuan
Bagaimana bisa saya klasifikasi atau keterampilan berfikir
visual, visualisasi, warna
menggunakan bahasa lisan kritis?
atau metafora?
atau tulisan?

Naturalis Musik

Bagaimana bisa saya Bagaimana bisa saya


melibatkan benda hidup,
fenomena alam atau
Tujuan membawanya dalam musik
atau suara lingkungan atau
kesadaran lingkungan? serangkaian poin kunci
dalam sebuah ritme atau
kerangka melodi?
Intrapersonal Kinestetik

Bagaimana bisa saya Bagaimana bisa saya


melibatkan siswa pada peer melibatkan seluruh tubuh
Interpersonal atau menggunakan
membagkitkan perasaan
atau kenangan pribadi atau pengalaman langsung?
Bagaimana bisa saya melibatkan
memberi pilihan kepada peserta didik pada peer sharing atau
peserta didik? simulasi kelompok yang besar?

Gambar 1. Kerangka pertanyaan MI


Konsep MI dalam pembelajaran menyatakan bahwa perbedaan individual
peserta didik dapat diterima dan dilayani dengan suatu keyakinan yang berpijak
pada pernyataan Gardner yaitu kita semua begitu berbeda karena
padahakikatnya kita memiliki kombinasi intelegensi yang berbeda. Jika kita
sadari hal ini, setidaknya kita lebih berpeluang untuk mampu mengatasi
secara tepat berbagai masalah yang kita hadapi dalam kehidupan di dunia.
Aplikasi MI dalam pendidikan akan membuat pendidik lebih arif dan mampu
menghargai serta memfasilitasi perkembangan peserta didik.

23 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Gardner dalam Amstrong (2009) mengelompokkan kecerdasan yang
dimiliki manusia ke dalam delapan kategori yang meliputi: kecerdasan
linguistik, logika_matematika, spasial, kinestetik, musikal, interpersonal,
intrapersonal dan naturalistik.
2. Penilaian dalam MI bukan merupakan output utama. MI tidak
bergantung pada tes standar atau tes yang didasarkan pada nilai formal.
Teori ini lebih banyak mendasarkan pada penilaian autentik yang memiliki
titik acuan spesifik dan Ipsative (tes yang membandingkan prestasi peserta
didik saatinidengan prestasinya yang lalu).
B. Saran
Seorang pendidik harus mengetahui dan memahami ke delapan multiple
intelegensi tersebut, sehingga dapat mengetahui kemampuan dari peserta didiknya
yang paling menonjol.

24 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
DAFTAR PUSTAKA

Abas Sudjiono. (1995). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja


Grafindo Persada.
Anonim. (2006). Pedoman Model Penilaian Kelas KTSP TK-SD-SMP-SMA-SMK.
MI-MTS-MA-MAK. Jakarta: BP Cipta Jaya.
Apik Budi Santoso. (2003). Penilaian Berbasis Kelas Makalah. Semarang;
Jurusan Geografi, FIS UNNES.
Arnie Fajar. (2005). Portofolio dalam Pembelajaran IPS. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Burhanudin Tola. (2006). Penilaian Diri. Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan
Badan Penelitian Dan Pengembangan Departemen Pendidikan
Nasional.
BSNP. (2007). Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan
Dan Teknologi.
Depdiknas. (2004). Kurikulum 2004 Pedoman Penilaian Kelas. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Djemari Mardapi. (1999). Survei Kegiatan Guru dalam melakukan Penelitian di
Kelas. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UNY.
Mimin Haryati. (2008). Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan
Pendidikan. Jakarta: Gaung persada Press.
Model Penilaian Kelas SMA/MA. (2009).
Nana Sudjana. (1995). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Nana Syaodih Sukmadinata. (2006). Metode Penelitian Pendidikan., Bandung:
Remaja Rosdakarya

25 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
Multiple intelegence and assessment

OLEH :

KELOMPOK 8

NURHIKMAH MUBARAKAH (20600112016)

SITTI HASNAH (20600112021)

HADIJAH (20600112036)

FISIKA 1,2

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2015

Daftar pertanyaan:

26 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
1. Rahmatika Rasyidin
Bagaimana penilaian pada Multiple Intelegence, apakah sama atau berbeda
dengan penilaian biasa ?
Jawaban : penilaian pada multiple intelegence sama dengan penilaian yang
lainnya, hanya perbedaannya adalah pada multiple intelegence berpusat
atau fokus pada penilaian masing masing kecerdasan.
2. Ayu Abriani
Apa perbedaan antara penilaian, pengukuran dan Assesmen?
Jawaban :
- Penilaian bersifat umum, dimana penilaian merupakan proses
pengumpulan informasi tentang kinerja siswa, untuk digunakan
sebagai dasar dalam membuat keputusan.
- Pengukuran ada dasarnya merupakan kegiatan penentuan angka dari
suatu objek yang diukur. Gronlund dan linn (1990) secara sederhana
merumuskan pengukuran sebagai measurement is limited quantitative
descriptions of pupil behavior, that is result of measurement are always
expressed in number. (pengukuran adalah uraian kwantitatif yang
terbatas dari perilaku murid, yang hasil dari pengukuran selalu
berbentuk jumlah).
- Jadi asesmen merupakan kegiatan pengumpulan informasi hasil belajar
siswa yang diperolh dari berbagai jenis tagihan dan mengolah
informasi tersebut untuk menilai hasil belajar dan perkembangan
belajar siswa. Berbagai jenis tagihan yang digunakan dalam asesmen
antara lain : kuis, ulangan harian, tugas individu, tugas kelompok,
ulangan akhir semester, laporan kerja dsb.
3. Nur Cahaya
Apakah penilaian dapat diterapkan pada semua Multiple Intelegence?
Jawaban :
Penilaian dapat diterapkan pada semua Multiple Intelegence karena setiap
kecerdasan memiliki penilaian tersendiri, jadi penilaian dapat diterapkan
pada semua Multiple Intelegence.

27 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t
4. Nartina
Apakah satu penilaian dapat mewakili Multiple Intelegence?
Jawaban ;
Tidak , satu penilaian hanya dapat mewakili dua atau tiga dari Multiple
Intelence dan tidak dapat mewakili ke sembilan dari Multiple Intelence.

28 | M u l t i p l e I n t e l e g e n c e a n d A s s e s m e n t