Anda di halaman 1dari 11

BETON GEOPOLIMER

PENGERTIAN

Beton geopolimer adalah sebuah senyawa silikat alumino anorganik


yang disintesiskan dari bahan bahan produk sampingan seperti abu terbang (fly
ash) abu sekam padi (risk husk ash) dan lain lain, yang banyak mengandung silika
dan aluminium (Davidovits, 1997) Geopolimer merupakan produk beton geosintetik
dimana reaksi pengikatan yang terjadi adalah reaksi polimerisasi. Dalam reaksi
polimerisasi ini Alumunium
(Al) dan Silika (Si) mempunyai perana dalam ikatan polimerisasi (Davidovits, 1994)
Reaksi Al dan Si dengan alkaline akan menghasilkan AlO4 dan SiO4. Peranan unsur
silikat dan alumunium sangat penting dalam proses polimerisasi. Hal ini
ditunjukkan dalam bentuk rasio perbandingan Si/Al, semakin besar ratio Si/Al
karakter polimer semakin terbentuk kuat.

Sejarah

Professor Joseph Davidovits dari Perancis yang pertama kali mengemukakan ide
bahwa sesungguhnya piramid tidaklah dibangun menggunakan batuan yang
dipahat-seperti halnya Candi Borobudur yang kemudian disusun menjadi bangunan
yang mengundang kekaguman sepanjang masa dan menjadikannya salah satu dari
tujuh keajaiban dunia. Davidovits menyatakan teorinya bahwa batuan-batuan
penyusun piramid tersebut dicor di tempat, seperti halnya pembuatan beton yang
dikenal sekarang ini.

Davidovits memberi nama material temuannya dengan nama Geopolymer, karena


merupakan sintesa bahan-bahan alam nonorganik lewat proses polimerisasi. Bahan
dasar utama yang diperlukan untuk pembuatan material geopolymer ini adalah
bahan-bahan yang banyak mengandung unsur-unsur silikon dan aluminium.

Sifat- sifat yang dimiliki Beton geopolymer

a. Pada beton segar (fresh concrete)


Memiliki waktu setting 10 jam pada suhu -20C, dan mencapai 7 60
menit pada suhu 20C,
Penyusutan selama setting kurang dari 0.05%,
Kehilangan masa dari beton basah menjadi beton kering kurang dari
0.1%.
b. Pada beton keras (hardened concrete)
Memiliki kuat tekan lebih besar dari 90 Mpa pada umur 28 hari,
Memiliki kuat tarik sebesar 10-15 Mpa pada umur 28 hari,
Memiliki water absorption kurang dari 3%

Geopolimer memiliki kekuatan awal yang tinggi penyusutan (shrinkage) yang


rendahfreezethaw resistance, ketahanan terhadap sulfat, ketahanan terhadap korosi,
ketahananterhadap asam, ketahanan terhadap api,dan reaksi agregat alkali yang tidak
berbahaya.Semen geopolimer dapat mengeras dengan cepat pada temperatur ruang dan
memilikikekuatan tekan sekitar 20 Mpa hanya setelah 4 jam pada temperatur
20 dan sekitar 70 100 Mpa setelah 28 hari. Sebagian besar kekuatan 28 harinya
diperoleh selama 2 hari pertama selama curing.Semen geopolimer lebih unggul
daripada semen portland dalam hal ketahanan panas danapi dimana semen portland
mengalami penurunan kekuatan tekan yang cepat pada 300, sedangkan semen geopolimer
tetap stabil sampai dengan 600. Penyusutan padageopolimer jauh lebih rendah
dibandingkan semenp ortland.Keberadaan alkali dalam semen atau beton portland
dapat menimbulkan Alkali Aggregat Reaction (AAR) yang berbahaya. Namun
hal ini tidak terjadi pada geopolimer, bahkan pada geopilimer yang
memiliki kandungan alkali yang lebih tinggi. Berdasarkan
uji bar expansion, semen geopolimer dengan kandungan alkali yang jauh lebih tingg
i dibandingkan semen portland tidak menimbulkan AAR yang berbahaya.
Geoplimer juga tahan asam karena tidak seperti semen portland. Beton
geopolimerrelatif stabil dengan kehilangan berat sekitar 5 8 %. Sementara itu
beton dari portlandkehilangan 30 60 %.

Kelebihan dan Kekurangan Beton Geopolimer

a. Kelebihan-kelebihan beton geopolimer :


Tahan terhadap api,
Tahan terhadap lingkungan korosif,
Tahan terhadap reaksi alkali silica.
Tidak menggunakan semen sebagai bahan perekatnya, maka dapat mengurangi
polusi udara.
Mempunyai rangkak susut yang kecil.
b. Kekurangan-kekurangan beton geopolymer :
Pembuatan beton geopolymer lebih rumit dibandingkan beton semen,
karena membutuhkan alkaline activator,
belum ada rancang campuran yang pasti
CONTOH BETON GEOPOLIMER

D. Bahan Bahan Dalam Pembuatan Beton Geopolimer

1. Solid Material Solid material adalah salah satu komponen sistem anorganik
geopolymer. Solid material untuk geopolymer dapat berupa mineral alami seperti
kaolin, tanah liat, mika, andalusit, spinel dan lain sebagainya. Alternatif lain yang
dapat digunakan adalah material yang berasal dari produk sampingan seperti fly
ash, silica fume, slag, rice-husk ash, lumpur merah, dan lain-lain.

A. Tanah Liat

Tanah Liat merupakan suatu zat yang terbentuk dari partikel-partikel yang sangat
kecil terutama dari mineral-mineral yang disebut kaolinit, yaitu pesenyawaan dari
Oksida Alumina (Al2O3), dengan Oksida Silica (SiO2) dan air (H2O).Tanah liat
dalam ilmu kimia termasuk Hidrosilika Alumina, yang dalam keadaan murni
mempunyai rumus: Al2O3 2SiO2 2H2O. Komposisi unsur kimia yang terdapat pada
Tanah Liat, adalah sebagai berikut:

Di alam hanya terdapat dua jenis tanah liat, yaitu: Tanah Liat Primer dan Tanah Liat
Sekunder.

Tanah Liat Primer


Tanah Liat Primer (residu) adalah jenis tanah liat yang dihasilkan dari
pelapukan batuan feldspatik oleh tenaga endogen yang tidak berpindah dari
batuan induk. Selain tenaga air, tenaga uap panas yang keluar dari dalam
bumi mempunyai andil dalam pembentukan tanah liat primer. Karena tidak
terbawa arus air, angin maupun gletser, maka tanah liat tidak berpindah
tempat sehingga sifatnya lebih murni diibandingkan dengan tanah liat
sekunder. Tanah liat primer cenderung berbutir kasar, tidak plastis daya
leburnya tinggi dan daya susutnya kecil. Karena tidak tercampur dengan
bahan organik seperti humus, ranting atau daun busuk dan sebagainya, maka
tanah liat berwarna putih atau kusam.
Tanah Liat Sekunder
Tanah Liat Sekunder (sedimen) adalah jenis tanah liat hasil pelapukan batuan
feldspatik yang berpindah jauh dari batuan induknya karena tenaga eksogen,
dan dalam perjalanan bercampur dengan bahan-bahan organik maupun
anorganik. Jumlah tanah liat sekunder lebih banyak dari tanah liat primer.
Transportasi air mempunyai pengaruh khusus pada tanah liat, salah
satunyaialah gerakan arus air cenderung menggerus mineral tanah liat
menjadipartikel-partikel yang semakin kecil. Karena pembentukannya
melaluiproses panjang dan bercampur dengan bahan pengotor seperti oksida
logam(besi, nikel, titan mangan dan sebagainya), dan bahan organik (humus
dandaun busuk), maka tanah liat mempunyai sifat: berbutir halus
berwarnakrem/abu-abu/merah jambu/kuning. Pada umumnya tanah liat
sekunderlebih plastis dan mempunyai daya susut yang lebih besar daripada
tanah liatprimer. Setelah dibakar, warnanya menjadi lebih terang dari krem
muda,abu-abu muda ke coklat. Semakin tinggi suhu bakarnya semakin keras
dan semakin kecil porositasnya.

B. Fly Ash
Fly ash adalah bahan yang berasal dari sisa pembakaran batu bara
yang tidak terpakai. Material ini mempunyai kadar bahan semen yang
tinggi dan mempunyai sifat pozzolanik, yaitu dapat bereaksi dengan
kapur bebas yang dilepaskan semen saat proses hidrasi dan membentuk
senyawa yang bersifat mengikat pada temperatur normal dengan adanya
air (Himawan dan Darma 25). Komposisi dari fly ash sebagian besar
terdiri dari silikat dioksida (SiO2), alumunium (Al2O3), besi (Fe2O3) dan
kalsium (CaO), serta magnesium, potassium, sodium, titanium, sulfur,
dalam jumlah yang kecil. Komposisinya tergantung dari tipe batu bara.
Penambahan fly ash pada beton normal menunjukan adanya
peningkatan kualitas beton. Peningkatan kualitas itu disebabkan karena
kandungan unsur sililkat dan aluminat pada fly ash yang reaktif bereaksi
dengan kapur bebas pada proses hidrasi antara fly ash dan air menjadi
kalsium silikat. Keuntungan lain dari pemakaian fly ash yang mutunya
baik ialah dapat meningkatkan ketahanan atau keawetan beton terhadap
ion sulfat dan juga dapat menurunkan panas hidrasi semen.
Fly ash sendiri tidak memiliki kemampuan mengikat seperti halnya
semen. Tetapi dengan kehadiran air dan ukuran partikelnya yang halus
oksida silika yang dikandung oleh fly ash akan bereaksi secara kimia
dengan Sodium hidroksida dan menghasilkan zat yang memiliki
kemampuan mengikat (Hardjito, 2001). Selain itu secara mekanik, butiran
fly ash yang lebih halus daripada semen ini akan mengisi ruang kosong
(rongga) diantara butiran butiran agregat halus.

Menurut ACI Committee 226 dijelaskan bahwa fly-ash mempunyai


sifat:
a. Spesific gravity : 2.2 2.8
b) Ukuran : 1 mikron 1 mm, dengan kehalusan 70% - 80%
melewati saringan no. 200 (75 mikron)
c) Kehalusan :
tertahan ayakan 0.075 mm 3.5
tertahan ayakan 0.045 mm 19.3

Klasifikasi fly ash menurut ASTM C 618 96 yaitu :

a. Kelas C
fly ash yang mengandung CaO diatas 10%, dan abu terbang (fly ash)
yang dihasilkan dari pembakaran ligmit atau batu bara dengan kadar
karbon 60% atau sub bitumen.
Kadar (SiO2 + Al2O3 + Fe2O3) > 50%

b. Kelas F

Fly ash yang mengandung CaO lebih kecil 10%, dan abu terbang (fly
ash) yang dihasilkan dari pembakaran batu bara jenis anthrchacite
pada suhu 1560C. Abu terbang ini mempunyai sifat pozolan.
Kadar (SiO2 + Al2O3 + Fe2O3) > 70%
c. Kelas N
Pozzolan alam atau hasil pembakaran yang dapat digolongkan
antara lain tanah diatomic, opaline chertz, dan shales, tuff, dan abu
vulkanik, dimana biasa diproses melalui pembakaran atau tidak
melalui proses pembakaran. Selain itu juga mempunyai sifat pozzolan
yang baik

Unsur utama dalam proses geopolimerisasi adalah Si dan Al. Oleh


karena itu fly ash yang bisa digunakan sebagai geopolimer adalah jenis fly
ash yang memiliki kandungan CaO rendah dan kandungan Si dan Al lebih
dari 50%. Dari ketiga tipe fly ash diatas, yang memenuhi persyaratan tersebut
adalah fly ash tipe C dan tipe F. Berdasarkan penelitiaan yang dilakukan oleh
Kosnatha dan Prasetio (2007) kuat tekan beton geopolimer yang
menggunakan fly ash tipe C ternyata lebih tinggi daripada fly ash tipe F,baik
yang menggunakan curing dengan oven maupun suhu ruangan.

Keuntungan menggunakan fly ash pada antara lain :


Beton akan lebih kedap air karena kapur bebas yang dilepas pada hidrasi
akan terikat oleh silikat dan alumina aktif yang terkandung dalam fly ash
dan menambah pembentukan silika gel yang berubah menjadi kalsium
silikat hidrat (CSH) yang akan menutupi pori pori yang terbentuk
sebagai akibat dibebaskannya Ca(OH)2 .
Mempermudah pengerjaan beton karena beton lebih plastis.
Mengurangi jumlah air yang digunakan (fas), sehingga kekuatan beton
menigkat.
Menurunkan panas hidrasi yang terjadi, sehingga dapat mencegah
terjadinya retak.
Relatif dapat mengurangi biaya karena mengurangi pemakaian semen.

Kelemahan pemakaiaan fly ash pada beton antara lain :

Pemakaian fly ash kurang baik untuk pengerjaan beton yang memerlukan
waktu pengerasan dan kekuatan awal yang tinggi, karena proses
pengerasan dan penambahan kekuatan beton agak lambat akibat dari
lambatnya pozzolan dari fly ash.
Pengendalian mutu harus sering dilakukan karena mutu fly ash sangat
tergantung pada proses pembakaran (suhu) serta jenis batu baranya.
Penggunaan fly ash dalam adukan beton segar dapat mengurangi
terjadinya bleeding (berair) dan segregation (pemisahan). Selain itu
kehalusan dan bentuk partikel fly ash yang bulat dapat meningkatkan
workability. Pada beton keras,penggunaan fly ash dapat meningkatkan
kuat tekan beton setelah berumur 52 hari, meningkatkan durabilitas
(keawetan) beton, meningkatkan kepadatan (density) beton dan
mengurangi terjadinya penyusutan.

2. Air

Air merupakan bahan dasar penyusun mortar yang paling penting dan
paling murah. Air berfungsi sebagai bahan pengikat dan bahan pelumas
diantara butir butir agreat agar mempermudah proses pencampuran dan
pengerjaan adukan (workability). Porsi air yang sedikit akan memberikan
kekuatan pada beton, tetapi kelemasan atau daya kerjanya akan berkurang.
Secara umum air yang dapat digunakan dalam campuran adalah air yang
apabila dipakai akan menghasilkan campuran dengan kekuatan lebih dari
90% dari campuran memakai air suling. Pemakaian air untuk beton sebaiknya
memenuhi syarat baku air bersih sebagai berikut :
Tidak mengandung lumpur lebih dari 2 gram/liter
Tidak mengandung garam garam yang dapat merusak beton
lebih dari 15 gram/liter
Tidak mengandung klorida (Cl) lebih dari 0,5 gram/liter
Tidak mengandung senyawa sulfat lebih dari 1gram/liter

3. Alkali Aktivator

Aktivator merupakan zat atau unsur yang menyebabkan zat atau


unsur lain bereaksi. Dalam pembuatan beton geopolimer, aktivator yang
sering digunakan adalah unsur akali yang terhidrasi yaitu sodium hidroksida
(NaOH) dan sodium silikat (Na2SiO3 ). Sodium hidroksida berfungsi untuk
mereaksikan unsur unsur Al dan Si yang terkandung dalam fly ash
sehingga dapat menghasilkan ikatan polimer yang kuat, sedangkan sodium
silikat memiliki fungsi untuk mempercepat proses polimerisasi.reaksi terjadi
secara lebih cepat pada alkali yang banyak mengandung larutan sodium
silikat didandingkan dengan larutan alkali yang banyak mengandung larutan
sodium hidroksida.

Karakteristik fly ash geopolimer dipengaruhi oleh parameter


parameter seperti komposisi campuran, waktu curing, agregat yang
digunakan dan lain lain. Didalam komposisi campuran, diantaranya
terdapat modolus alkali dan kadar aktivator. Modolus alkali merupkan
perbandingan antara Na2O dan SiO2 . Modolus alkali diperoleh dari
perhitungan perbandingan massa Na2SiO3 dan NaOH malalui persamaan
reaksi kimia. Sedangkan kadar aktivator merupakan 13 jumlah larutan alkali
aktivator (NaOH + Na2SiO3 + air), berapa persen terhadap fly ash.

a. Sodium Hidroksida
Sodium hidroksida (NaOH) berfungsi untuk mereaksikan unsur unsur
Al dan Si yang terkandung dalam fly ash sehingga dapat
menghasilkanikan ikatan polimer yang kuat. Sodium hidroksida yang
tersedia umumnya berupa serpihan dengan kadar 98 %. Sebagai aktivator,
Sodium hidroksida harus dilarutkan terlebih dahulu dengan air sesuai
dengan molaritas yang diinginkan. Larutan ini harus dibuat dan
didiamkan setidaknya satu malam sebelum pemakaiaan. Campuran
antara fly ash dengan sodium hidroksida jika diamati dalam ukuran
mikroskopis terlihat bahwa campuran antara fly ash dengan sodium
hidroksida membentuk ikatan yang kurang kuat tetapi menghasilkan
ikatan yang lebih padat dan tidak retakan retakan antar
mikrostrukturnya.
b. Sidium Silikat
Sodium silikat merupakan salah satu bahan tertua dan paling aman yang
sering digunakan dalam industri kimia. Karena proses produksinya lebih
sederhana maka sejak 1818, sodium silikat berkembang dengan cepat.
Sodium silikat dapat dibuat dengan dua proses, yaitu proses kering dan
proses basah. Pada proses kering, pasir dicampur dengan sodium
karbonat atau dengan pottasium carbonate pada temperatur 1100
1200. Hasil reaksi tersebut menghasilkan kaca yang dilarutkan dalam air
dengan tekanan tinggimenjadi cairan yang agak kering dan kental.
Sedangkan pada proses basah, pasir dicampur dengan sodium hidroksida
melalui proses filtrasi dan akan menghasilkan sodium silikat yang murni.
Sodium silikat terdapat dalam dua bentuk, yaitu padatan dan larutan
dimana untuk campuran beton lebih banyak digunakan bentuk larutan.
Sodium silikat atau yang lebih dikenal dengan water glass, pada mulanya
digunakan sebagai campuran dalam pembuatan sabun. Tetapi dalam
perkembangannya, sodium silikat dapat digunakan untuk berbagai
macam keperluan, antara lain untuk bahan campuran semen, pengikat
keramik, coating, campuran cat serta dalam keperluaan industri, seperti
kertas, tekstil dan serat. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa
sodium silikat dapat digunakan untuk bahan campuran dalam beton. 14
Campuran antara fly ash dengan sodium silikat jika diamati dalam
ukuran mikroskopis, terlihat bahwa campuran antara fly ash dan sodium
silikat yang membentuk ikatan yang sangat kuat namun terjadi banyak
retakan retakan antar mikrostukturnya.

4. Agregat

Agregat adalah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan


pengisi dalam campuran beton atau mortar. Agregat dikelompokan menjadi

a. Berdasarkan Sumbernya
Agregat Alam
Agregat alam diambil dari endapan alam tanpa merubah keadaan aslinya
selama produksi, kecuali pemecahan, penyaringan, penentuan ukuran
butiran atau pencucian. Dalam kelompok ini batu pecah, kerikil dan pasir
merupakan agregat alam yang biasa digunakan, walaupun batu apung,
kerang, biji besi dan batu gamping dapat pula dimasukkan ke dalam
kelompok ini.
Agregat Buatan
Agregat buatan adalah agregat yang dihasilkan sebagai produk tambahan
dari pembuatan produk lain. Agregat ringan dianggap sebagai agregat
buatan, umpamanya terak lempung, batu tulis, kerang atau terak dapur
tinggi. Terak dapur tinggi yang didinginkan dalam udara menghasilkan
beton yang sama kekuatannya dengan beton yang menggunakan agregat
biasa, akan tetapi dengan daya tahan terhadap api yang lebih baik.

b. Berdasarkan Berat Isinya


agregat Berat,
yaitu agregat dengan berat jenis lebih dari 2.9. Karena sangat berat dapat
digunakan untuk konstruksi yang harus memiliki berat sendiri yang
tinggi, seperti pada dinding penahan tanah, tanggul penahan longsor,
atau dapat pula digunakan untuk jenis beton yang harus menahan radiasi,
sehingga dapat memberi perlindungan terhadap sinar x, sinar dan
neutron. Efektifita beton berat dengan bobot isi antara 3000 5000 kg/m,
tergantung pada jenis agregat yang dipakai bisa dari batuan hematit,
batuan barit, serta pada derajat kepadatannya. Untuk beton berat sering
dihadapi kesukaran dalam pengadukan, karena perbedaan yang jauh
antara berat jenis agregat dan pasta semen, sehingga beton mengalami.
Segregasi atau pemisahan butiran, 15 agregat cenderung turun ke bawah,
sedangkan pasta semennya mengapung ke atas.

Agregat Normal,
yaitu agregat dengan berat jenis antara 2.4 sampai dengan 2.9. yang
menghasilkan beton dengan bobot isi antara 2200 2700 kg/m.Agregat
ini merupakan agregat yang paling banyak digunakan untuk campuran
beton normal, atau pemakaian beton dengan tujuan yang biasa, tidak
khusus. Sumber batuannya sangat banyak, diantaranya batuan andesit,
granit, basalt, dan lainlain

Agregat Ringan,
Jenis agregat ini banyak dipakai untuk pembuatan beton ringan. Memiliki
berat jenis kurang dari 2.0 dan menghasilkan beton dengan bobot isi
kurang dari 1800 kg/m3. Dengan bobot beton yang ringan dapat
menghemat banyak tulangan, karena berat sendiri pada beton tersebut
relatif kecil, sehingga momen yang bekerjanya juga relatif kecil. Beton
ringan juga memiliki karakteristik kedap suara dan panas, tetapi
penyerapan airnya lebih tinggi berkisar antara 20 sampai dengan 25 %,
kekuatan tekan pada betonnya juga relatif rendah, tergantung dari jenis
agregat ringannya. Dengan menggunakan lempung bekah kuat tekannya
bisa mencapai 200 kg/cm2. Agregat ringan digunakan dalam bermacam
macam produk beton, baik sebagai beton partisi maupun beton bertulang
atau bahkan beton pra-tekan.

c. Berdasarkan Besar Butiran


Agregat Halus
Agregat ini biasanya disebut pasir dan mempunyai ukuran butir antara
4,75 sampai 0,075 mm. Partikel dengan ukuran lebih kecil dari 0,075 mm
disebut Lumpur.

Agregat Kasar
Agregat ini mempunyai ukuran lebih besar dari 4,75 mm dan ukuran
maksimumnya sangat bervariasi tergantung dari kebutuhan betonnya.
Pada umumnya ukuran maksimum agregat kasar adalah 10 mm, 20 mm,
30 mm, 40 mm, 80 mm, dan 100 mm.

5. Bahan tambah (Superlasticise Sika Viscocrete- 10)

Alkalin aktivator yang digunakan adalah Sodium silikat dan sodium


hidroksida. Sodium silikat berfungsi untuk mempercepat reaksi polimerisasi,
sedangkan sodium hidroksida berfungsi untuk mereaksikan unsur-unsur Al
dan Si yang terkandung dalam fly ash sehingga dapat menghasilkan ikatan
polymer yang kuat. Bahan Tambah (Superlasticize Sika Viscocrete-10) Bahan
tambah (Admixture) didefinisikan sebagai material selain air, agregat, semen
dan fiber yang digunakan 16 dalam campuran beton atau mortar, yang
ditambahkan dalam adukan segera sebelum atau selama pengadukan
dilakukan.

Superplasticizer adalah bahan tambah yang digunakan sebagai salah


satu cara meningkatkan kemudahan pelaksanaan pekerjaan pengecoran
(workability) beton dengan menggunakan air sesedikit mungkin.
Penggunaan superplasticizer mulai dikembangkan di Jepang dan Jerman
pada tahun 1960-an dan menyusul kemudian di Amerika Serikat pada 1970-
an.

Dalam penelitian ini Superplasticizer yang digunakan adalah Sika


Viscocrete-10 yaitu bahan tambah berupa cairan yang ditambahkan pada
campuran beton dalam jumlah tertentu untuk mengubah beberapa sifat
beton.

Bahan tambah Sika Viscocrete-10 termasuk Tipe F Water Reducing,


High Range Admixtures yaitu bahan tambah yang berfungsi untuk
mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk meng-hasilkan
beton dengan konsistensi tertentu dan meningkatkan nilai slump sehingga
mudah untuk dikerjakan (workability). Jenis bahan tambah ini adalah berupa
Superplasticizer, dosis yang disarankan adalah 0,4% - 1,5% dari berat semen.
Dosis yang berlebihan akan menyebabkan menurunnya kuat tekan beton.

E. Pembuatan Beton Geopolimer

Pembuatan dilakukan satu hari sebelum pengadukan dengan cara


menimbang kebutuhan Sodium hidroksida sesuai dengan mix design. Setelah
itu mencampurkan Sodium hidroksida dengan Sodium silikat (waterglass)
sampai merata. Setelah teraduk dengan rata masukan larutan alkaline
activator dan didiamkan selama 24 jam.

Setelah larutan alkaline activator didiamkan selama 24 jam dilakukan


pembuatan sampel beton dengan cara menimbang fly ash, pasir, dan kerikil
terlebih dahulu sesuai dengan mix design yang dibuat. Setelah itu masukan
fly ash ke dalam molen, setelah itu masukan larutan alkaline activator ke
dalam molen bersamaan dengan berputarnya molen, ketika fly ash dan
larutan bercampur hingga berbentuk pasta masukan pasir ke dalam molen.
Kemudian masukan kerikil ke dalam molen sambil terus diaduk sampai
semua material tercampur rata. Kemudian tuang campuran beton ke dalam
bak dan masukan ke dalam cetakan yang sebelumnya telah dibasahi dengan
air. Simpan pada suhu ruangan. Buka cetakan setelah 24 jam pengadukan.