Anda di halaman 1dari 12

PPN & PPnBM

PPN atas Kegiatan Sewa Guna Usaha (Leasing)

Oleh:

Kelompok 1 :

Triany Yulinda (16073410


Putu Laksminata Prabhawati (16073410
Kadek Rahwayu Kubera (1607341046)
Putu Ayu Wulantari (1607341049)
Ni Wayan Eka Wari (1607341055)
Putu Bella Suandewi Putri Subrata (1607341085)
I Putu Bayu Astarika (1607341088)

Program Studi Diploma III Perpajakan

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Udayana

2017
DAFTAR ISI

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara yang tingkat pertumbuhan ekonominya terus berkembang


dari waktu ke waktu. Namun untuk mengembangkan potensi usaha tersebut tentulah aspek
pendanaan sangat penting. Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, saat ini semakin
banyak orang yang mendirikan suatu lembaga pembiayaan yang bergerak di bidang
penyediaan dana ataupun barang yang akan dipergunakan oleh pihak lain di dalam
mengembangkan usahanya.

Untuk menjalankan suatu usaha maka kita memerlukan modal yang tidak sedikit.
Apalagi kita juga membutuhkan barang-barang modal untuk menjalankan suatu usaha
tersebut, agar kita dapat menjalankan suatu usaha dengan lancar maka kita membutuhkan
suatu lembaga untuk memperoleh suatu dana usaha, lembaga ini dinamakan leasing.
Leasing atau sewa-guna-usaha adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam
bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk
jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan
hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan
atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa uang yang telah disepakati
bersama. Dengan melakukan leasing perusahaan dapat memperoleh barang modal dengan
jalan sewa beli untuk dapat langsung digunakan berproduksi, yang dapat diangsur setiap
bulan, triwulan atau enam bulan sekali kepada pihak lessor.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan kegiatan sewa guna usaha?


2. Apa sajakah jenis-jenis leasing?
3. Apakah yang dimaksud dengan PPN atas sewa guna usaha dengan hak opsi?
4. Apakah yang dimaksud dengan PPN atas sewa guna usaha tanpa hak opsi?
5. Apa yang dimaksud dengan penyetoran dan pelaporan PPN?

1
1.3 Tujuan Penulisan

1. Menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan kegiatan sewa guna usaha
2. Menjelaskan jenis-jenis leasing
3. Menjelaskan tentang PPN atas sewa guna usaha dengan hak opsi
4. Menjelaskan tentang PPN atas sewa guna usaha tanpa hak opsi
5. Memberi informasi tentang penyetoran dan pelaporan PPN

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sewa Guna Usaha

Defenisi sewa guna usaha (leasing) adalah setiap kegiatan dalam pembiyaan
dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan
untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala
disertai dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal
yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa
uang yang telah disepakati bersama.

2.2 Jenis-Jenis Leasing

Dari jenis-jenis leasing yang ada, Maka dapat dapat diklafikasikan kedalam
beberapa jenis berikut:

1. Capital Lease
Perusahaan leasing pada jenis ini berlaku sebagai suatu lembaga keuangan.
Lessee yang akan membutuhkan suatu barang modal menentukan sendiri jenis serta
spesifikasi dari barang yang dibutuhkan. Lessee juga mengadakan negoisasi langsung
dengan supplier mengenai harga, syarat-syarat perawatan serta hal-hal lain yang
berhubungan dengan pengoperasian barang tersebut.
Lessor akan mengeluarkan dananya untuk membayar barang tersebut kepada
supplier dan kemudian barang tersebut diserahkan kepada lessee. Sebagai imbalan
atas jasa pengguanaan barang tersebut lessee akan membayar secara berkala kepada
lessor sejumlah uang yang berupa rental untuk jangka waktu tertentu yang telah
disepakati bersama.
Jumlah rental ini secara keseluruhan akan meliputi harga barang yang dibayar
oleh lessor ditambah faktor bunga serta keuntungan pihak lessor. Selanjutnya capital
atau finance lease masih bisa dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Direct finance lease
Transaksi ini terjadi jika lessee sebelumnya belum pernah memiliki
barang yang dijadikan objek lease. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa lessor
membeli suatu barang atas permintaan lessee dan akan dipergunakan oleh lessee.

3
b. Sale and lease back

Sesuai dengan namanya, dalam transaksi ini lessee menjual barang yang
telah dimilikinya kepada lessor. Atas barang yang sama ini kemudian dilakukan
suatu kontrak leasing antara lessee dengan lessor. Dengan memperhatikan
mekanisme ini, maka perjanjian ini memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan
dengan direct finance lease. Di sini lessee memerlukan cash yang bisa
dipergunakan untuk tambahan modal kerja atau untuk kepentingan lainnya. Bisa
dikatakan bahwa dengan sistem sale and lease back memungkinkan lessor
memberikan dana untuk keperluan apa saja kepada kliennya dan tentu saja dana
yang dibutuhkan sesuai dengan nilai objek barang lease.

2. Operating Lease
Pada operating lease, lessor membeli barang dan kemudian menyewakan
kepada lessee untuk jangka waktu tertentu. Dalam praktik lessee membayar rental
yang besarnya secara keseluruhan tidak meliputi harga barang serta biaya yang telah
dikeluarkan oleh lessor.
Di dalam menentukan besarnya pembayaran lease, lessor tidak
memperhitungkan biaya-biaya tersebut karena setelah masa lease berakhir
diharapkan harga barang tersebut masih cukup tinggi. Di sini jelas tidak ditentukan
adanya nilai sisa serta hak opsi bagi lessee.
3. Sales type lease (Lease Penjualan)
Lease penjualan biasanya dilakukan oleh perusahaan industri yang menjual
lease barang hasil produksinya. Dalam kontrak penjualan lease diakui dua macam
pendapatan yaitu pendapatan penjualan barang dan pendapatan bunga atas jasa
pembelanjaan selama jangka waktu lease.
4. Leverage Lease
Pada leasing ini dilibatkan pihak ketiga yang disebut credit provider. Lessor
tidak membiayai objek leasing hingga sebesar 100% dari harga barang melainkan
hanya antara 20% hingga 40%. Kemudian sisa dari harga barang tersebut akan
dibiayai oleh credit provider.
5. Cross Border Lease
Transaksi pada jenis ini merupakan suatu transaksi leasing yang dilakukan
dengan melewati batas suatu negara. Dengan demikian antara lessor dan lessee
terletak pada dua negara yang berbeda. Barang-barang atau peralatan yang

4
ditransaksikan dalam cross border lease meliputi nilai jutaan dollar Amerika Serikat.
Seperti Pesawat terbang bermesin jet dari Pabrikan Boeing dan Airbus.

2.3 PPN atas Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi

Transaksi Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi:


1. Dalam hal Barang Kena Pajak berupa barang modal yang menjadi objek pembiayaan
berasal dari pemasok (supplier):
a. Barang Kena Pajak tersebut dianggap diserahkan langsung oleh Pengusaha Kena
Pajak pemasok (supplier) kepada lessee;
b. Lessor tidak perlu dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak karena dianggap
hanya menyerahkan jasa pembiayaan yang merupakan jenis jasa yang tidak
dikenai Pajak Pertambahan Nilai;
c. Pengusaha Kena Pajak pemasok wajib menerbitkan Faktur Pajak kepada lessee
dengan menggunakan identitas lessee sebagai pembeli Barang Kena
Pajak/penerima Jasa Kena Pajak (tidak menggunakan metode qualitate qua (q.q.))
d. Dasar Pengenaan Pajak yang dicantumkan dalam Faktur Pajak adalah sebesar
harga jual dari PKP pemasok.

2. Dalam hal Barang Kena Pajak berupa barang modal yang menjadi objek pembiayaan
berasal dari persediaan yang telah dimiliki oleh lessor:
a. Lessor pada dasarnya melakukan dua jenis penyerahan yaitu:
1) Penyerahan jasa pembiayaan yang tidak dikenai PPN
2) Penyerahan Barang Kena Pajak yang merupakan objek PPN
b. Lessor harus dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dan harus menerbitkan
Faktur Pajak atas penyerahan BKP kepada lessee;
c. Dasar Pengenaan Pajak yang dicantumkan dalam Faktur Pajak adalah sebesar
harga jual tidak termasuk unsur bunga yang seharusnya diminta oleh lessor
karena jasa pembiayaan yang diserahkannya.

Contoh kasus Perlakukan PPN atas Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi (Leasing):

Pak Nurman selaku direktur PT Renta Investama (bergerak di bidang penyewaan


mobil dan telah dikukuhkan sebagai PKP) berencana membeli 15 unit mobil Honda Jazz
untuk menambah pangsa pasar di kalangan kawula muda. Dengan berbagai
pertimbangan, akhirnya dipilihlah metode pembelian secara leasing dengan hak opsi.

5
Pada tanggal 24 Maret 2011, Pak Nurman mewakili perusahaannya mendatangi
kantor PT Finance Lease Utama untuk merencanakan pembelian secara leasing tersebut.
Dalam pertemuan tersebut disepakati PT Finance Lease sebagai lessor akan memilih PT
Honda Utama (PKP dealer mobil honda) sebagai supplier. Namun sebelum kontrak
ditandatangani, Pak Nurman harus terlebih dahulu memastikan barang yang ia terima
benar-benar sesuai keinginannya sehingga kontrak baru dapat ditandatangani keesokan
harinya.

Akhirnya, pada tanggal 25 Maret 2011, surat perjanjian sewa guna usaha dengan
hak opsi ditandatangani. Dalam kontrak tersebut, disebutkan bahwa harga jual untuk 10
unit mobil adalah Rp. 1.500.000.000 dan bunga sebesar 9% per tahun. Pembayaran akan
dilakukan sebanyak 12 kali terhitung mulai tanggal 1 April 2011. PT Renta Investama
mulai dapat menguasai mobil Honda Jazz dari PT Honda Utama terhitung sejak ditanda
tangani nya surat perjanjian sewa guna usaha dengan hak opsi, yaitu tanggal 25 Maret
2011. Hak opsi sendiri akan diberikan pada tanggal 31 Maret 2012.

Analisis PPN:

Dalam transaksi sewa guna usaha dengan hak opsi, BKP dianggap diserahkan
langsung dari supplier ke leasee. Sesuai dengan SE 129/PJ/2010 supplier wajib
membuat faktur pajak dengan menggunakan identitas lessee sebagai pembeli Barang
Kena Pajak (tidak menggunakan metode qualitate qua (q.q.) karena BKP langsung
diserahkan dari supplier, bukan berasal dari persediaan lessor ). PPN yang terutang
merupakan pajak keluaran bagi supplier dan merupakan pajak masukan bagi lessee.

Meskipun pengalihan atau penyerahan hak atas BKP baru dilakukan tanggal 31
Maret 2012 dan pembayaran Harga Jual BKP tsb dilakukan secara bertahap sejak 1 April
2011, tetapi karena penguasaan atas BKP telah berpindah dari penjual kepada pembeli
atau dari lessor kepada lessee, maka UU PPN menentukan bahwa penyerahan BKP
dianggap telah terjadi pada saat perjanjian ditandatangani, kecuali apabila saat
berpindahnya penguasaan secara nyata atas BKP tsb terjadi lebih dahulu daripada saat
ditandatanganinya perjanjian. Untuk Transaksi diatas, PPN terutang pada tanggal 25
Maret 2011.

6
2.4 PPN atas Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi

Adalah suatu perjanjian SGU di mana lessee pada akhir masa SGU tidak memiliki
hak untuk membeli Barang Modal dileasingkan. Perlakuan PPN-nya sama seperti
transaksi sewa-menyewa. Dalam hal ini lessor memungut PPN atas Penggantian yang
dimintakan kepada lessee atas aktiva yang disewakan.

Beban sewa merupakan deductible expense bagi lessee, sementara itu beban
penyusutan merupakan deductible expense bagi lessor. Atas pembayaran sewa dari lessee
kepada lessor dipotong PPh pasal 23 oleh lessee.

Kegiatan sewa-guna-usaha digolongkan sebagai sewa-guna-usaha tanpa hak opsi


apabila memenuhi semua kriteria berikut:

1. Jumlah pembayaran sewa-guna-usaha selama masa sewa-guna-usaha pertama tidak


dapat menutupi harga perolehan barang modal yang disewa-guna-usahakan ditambah
keuntungan yang diperhitungkan oleh lessor;
2. Perjanjian sewa-guna-usaha tidak memuat ketentuan mengenai opsi bagi lessee.

Perlakuan PPh bagi Lessor (Perusahaan Pembiayaan)


1. Seluruh pembayaran sewa-guna-usaha tanpa hak opsi yang diterima atau diperoleh
lessor merupakan obyek Pajak Penghasilan.
2. Lessor membebankan biaya penyusutan atas barang modal yang disewa-guna-
usahakan tanpa hak opsi, sesuai dengan ketentuan Pasal 11 Undang-undang Pajak
Penghasilan 1984 beserta peraturan pelaksanaannya.

Perlakuan PPh bagi lessee (Pengguna Barang Modal)


1. pembayaran sewa-guna-usaha tanpa hak opsi yang dibayar atau terutang oleh lessee
adalah biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.
2. lessee wajib memotong Pajak Penghasilan Pasal 23 atas pembayaran sewa-guna-
usaha tanpa hak opsi yang dibayarkan atau terutang kepada lessor.

Atas penyerahan jasa dalam transaksi sewa-guna-usaha tanpa hak opsi dari lessor
kepada lessee, terhutang Pajak Pertambahan Nilai.

7
2.5 Penyetoran dan Pelaporan PPN atas Kegiatan Sewa Guna Usaha (Leasing)

Pelaporan:
1. Lessor wajib menyampaikan laporan keuangan triwulanan kepada Direktorat Jenderal
Pajak dan Direktorat Jenderal Moneter. Laporan keuangan triwulan tersebut harus
sudah disampaikan paling lambat 15 (lima belas) hari setelah triwulan yang
bersangkutan berakhir.
2. Lessor wajib menyampaikan laporan operasional secara semesteran berdasarkan tahun
takwim kepada Direktorat Jenderal Moneter. Bentuk laporan dan tata cara
penyampaiannya ditetapkan oleh Direktur Jenderal Moneter.
3. Setiap perubahan anggaran dasar, pemegang saham, pengurus, tenaga ahli, dan alamat
kantor wajib dilaporkan kepada Menteri Keuangan selambat-lambatnya 15 (lima
belas) hari kerja setelah perubahan dilaksanakan.
4. Dalam hal laporan-laporan tersebut atau berdasarkan informasi lain ditemukan adanya
penyimpangan, Menteri Keuangan atau Pejabat yang ditunjuknya dapat melakukan
pemeriksaan.

8
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari kegiatan sewa guna usaha dengan hak opsi (financial lease) atas penyerahan
barang kena pajak terutang Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Oleh karena ini digunakan
perusahaan untuk proses produksi maka lessor tidak berhak mengkreditkan PPN Masukan
kepada lessee. Pada akhir masa pajak pertambahan nilai, PPN masukan ini dapat dikreditkan
dengan PPN keluaran. Lessee dalam tidak memotong pajak penghasilan pasal 23 atas
pembayaran sewa guna usaha yang dibayar atau terutang berdasarkan perjanjian sewa guna
usaha dengan hak opsi. Pembayaran leasing tanpa hak opsi atau operating lease yang dibayar
atau terutang oleh lessee adalah biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

Jadi beban sewa yang dibayar kepada lessor dianggap sebagai biaya operasional
perusahaan sehingga bisa menjadi pengurang pendapatan kotor di dalam perhitungan laporan
laba rugi. Selain itu, seperti halnya transaksi finacial lease, di dalam melakukan operating
lease, lessee dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10% dari lease yang
dibayarkan dan PPh pasal 23 yang dipotong. Pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) atas
transaksi operational lease atas penyerahan jasa dalam transaksi leasing tanpa hak opsi dari
lessor kepada lessee terutang pajak pertambahan nilai.

9
DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 1169/KMK.01/1991

10