Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Biota Vol. 1 No.

1 Edisi Agustus 2015 | 33

PENGARUH FAKTOR ABIOTIK TERHADAP HUBUNGAN


KEKERABATAN TANAMAN Sansevieria trifasciata L.
Anita Restu Puji Raharjeng

Dosen Prodi pendidikan Biologi , Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Raden Fatah Palembang, Jl. Prof.
K.H. Zainal Abidin Fikri No1A KM 3.5, Palembang 30126, Indonesia

*E-mail: anita_bio2002@yahoo.com
Telp: +6281234761510

ABSTRACT

Sansevieria trifasciata L. (Agavaceae) is a plant that can be grown in all places, both in lowland and
highland. Malang with its heights ranging from the coast to 1,200 m asl is interesting to be studied because it
has great potential for the diversity of Sansevieria. Altitude affects the soil and climatic conditions, so that the
altitude affects the phenotype of the plant. The aim of this study was to investigate the influence of abiotic
factors on the relationship of Sansevieria trifasciata L. that grow at different altitude. Sansevieria samples were
taken from 23 locations in Malang in lowland and highland. The observation was on the morphology, and it
abiotic factors, ie altitude, temperature, humidity, soil pH, precipitation, and light intensity. The results showed
that the abiotic factors have little effect on the morphology of Sansevieria trifasciata L. that grows in the
highlands and lowlands.

Keywords: Analisis kekerabatan; Analisis faktor abiotik; Lidah Mertua; Sansevieria trifasciata L.

PENDAHULUAN udara yang tidak lembab, agar terhindar dari


Saat ini, tanaman Sansevieria telah memiliki penyakit busuk daun. Sansevieria mudah beradaptasi
banyak ragam. Semakin meningkatnya perhatian dan dapat hidup dengan baik di segala tempat, mulai
terhadap Sansevieria disebabkan oleh banyaknya dari dataran rendah, dataran sedang, hingga dataran
hasil persilangan yang membuat penampilan tinggi. Sansevieria merupakan tanaman sukulen atau
Sanseviera menjadi sangat menarik bahkan menjadi gurun (xerophitic plant) yang habitatnya berada di
primadona di kalangan petani bunga dan tanaman tempat kering dan memiliki kemampuan menyimpan
hias. Selain mudah untuk dikembangbiakkan, harga air. Namun sansevieria masih dapat tumbuh dengan
Sansevieria juga cenderung meningkat. Fakta ini baik di lingkungan dengan kelembaban tinggi asal
mendorong para ilmuwan tertarik untuk melakukan media tumbuhnya tidak tergenang air.
riset yang lebih lanjut dan mendalam demi Lingga (2005) dan Sudarmono (1997)
terbentuknya temuan Sansevieria varietas baru yang menyatakan bahwa tanaman Sansevieria yang
bernilai ekonomi tinggi. mendapatkan cahaya matahari langsung, maka
Mudahnya perkembangbiakan Sansevieria warna hijau pada daunnya akan muncul dengan lebih
disebabkan oleh kemampuannya untuk bertahan gelap dan jelas, sedangkan di tempat yang teduh,
hidup pada rentang suhu dan cahaya yang luas, biasanya warnanya akan menjadi agak pudar.
meskipun demikian, umumnya pada siang hari Perbedaan warna dan morfologi yang terjadi akibat
tanaman ini membutuhkan suhu antara 24C - 30C perbedaan tempat tumbuh, tentunya akan
dan pada malam hari 21C - 26C (Trubus, 1998). mempertinggi keragaman plasma nutfah pada
Sansevieria membutuhkan cahaya sebesar 1.000 Sansevieria. Kontribusi dari perbedaan morfologi
10.000 foot candle. Hal tersebut dapat diartikan terhadap produktivitas bahan-bahan aktif dan
bahwa Sansevieria dapat bertahan hidup pada segala kandungan serat tentunya ada, hanya saja belum
kondisi pencahayaan, meskipun idealnya diketahui besarnya.
membutuhkan sinar matahari sekitar 4.000 6.000 Sebagai salah satu bagian penting dalam
foot candle (Tahir dan Maloedyn, 2008). ekosistem Sansevieria perlu dilindungi dan
Triharyanto, (2007) menyebutkan bahwa syarat dilestarikan, sebab jika kurang diperhatikan maka
tumbuh tanaman ini adalah pada kondisi media dan keberadaannya akan semakin terdesak, bahkan
Jurnal Biota Vol. 1 No. 1 Edisi Agustus 2015 | 34

punah dan hal ini dapat mengancam koleksi plasma Alat yang digunakan adalah sentrifuse, mortar
nutfah tanaman di Indonesia. Belum cukup dan pistle, erlenmeyer, beaker glass, tabung/tube
memadainya informasi mengenai Sansevieria eppendorf, pipet, water bath, incubator, kuvet,
trifasciata L. mengakibatkan perlu dilakukan freezer, UV trasiluminator, pH meter, oven, GPS
penelitian mengenai Pengaruh Faktor Abiotik dan kamera. Pengamatan Sansevieria dilakukan
Terhadap Kekerabatan Tanaman Lidah Mertua dengan cara mencatat karakter Sansevieria antara
(Sansevieria trifasciata L.) pada Ketinggian Tempat lain meliputi tinggi keseluruhan Sansevieria,
yang Berbeda di Malang Raya. panjang dan lebar daun dengan menggunakan
METODOLOGI mistar, selain itu dihitung pula jumlah tanaman
Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai dalam kelompok kemudian sampel Sansevieria
November 2010. Eksplorasi Sansevieria dilakukan dibawa ke Kebun Raya Purwodadi untuk
di beberapa lokasi di wilayah Malang Raya dengan diidentifikasi jenisnya.
ketinggian yang berbeda. Dataran rendah diwakili Faktor Abiotik pada dua kelompok ketinggian
oleh Ds. Krajan Kec. Bantur Kab. Malang (208 yang berbeda (dataran tinggi dan dataran rendah)
mdpl), Ds. Sumbermanjing Kec. Sumbermanjing seperti temperatur, kelembaban udara curah hujan
wetan Kab. Malang (342 mdpl), Dsn. Bunder Ds. dan intensitas cahaya dicatat berdasarkan data
Sidorahayu Kec. Wagir Kab. Malang (445 mdpl), klimatologi tahun 2010 dari Badan Meteorologi
dan Kel. Menjing Kec. Lowokwaru Kota Malang Klimatologi dan Geofisika dari Stasiun Klimatologi
(513 mdpl). Karangploso, Malang.
Dataran tinggi diwakili oleh Ds. Dadaprejo Menganalisis korelasi antara faktor abiotik
Kec. Junrejo Kota Batu (667 mdpl), Ds. Beji Kec. dengan karakter morfologi Sansevieria dengan
Junrejo Kota Batu (774 mdpl), Ds. Tlekung Kec. menggunakan program SPSS, sedangkan analisis
Junrejo Kota Batu (880 mdpl), Ds. Toyomarto Kec. kekerabatan Sansivieria berdasarkan data
Singosari Kab. Malang (940 mdpl), Ds. Ngaglik morfologinya.
Kec. Batu Kota Batu (1024), dan Ds. Songgoriti
Kec. Batu Kota Batu (1153 mdpl). Identifikasi HASIL DAN PEMBAHASAN
tanaman dilakukan saat eksplorasi, diikuti dengan Berdasarkan data yang telah diukur pada
pengamatan morfologi dan pengukuran pH tanah di daerah dataran rendah dan dataran tinggi dari 23 titik
Laboratorium Ekologi, kemudian dilanjutkan dengan sampel, maka diketahui bahwa pH tanah di daerah
analisis secara molekuler di Laboratorium Biologi dataran rendah maupun dataran tinggi pada lokasi
Molekuler, Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, pengambilan sampel cenderung basa (Gamb.1)
Universitas Brawijaya, Malang.

8,2 25 437,8
8,07 25,5 500
8,1 25 360
8 400
24,5
Derajat Celcius

7,9
milimeter

24 300
7,8 23,5 Curah Hujan
7,7 . pH Tanah
23 22,5
Temperatur 200
7,56
7,6 22,5 100
7,5 22
0
7,4 21,5
7,3 A 21 B Dataran
Rendah
Dataran
Tinggi
C
D ataran R endah D ataran Tinggi Dataran Rendah Dataran Tinggi

0,8502 0,85 68 67
0,85
66
0,8498
0,8496 64
Persen
Persen

0,8494
Kelembaban 62 Intensitas Cahaya
0,8492 0,849 60,13
0,849 60
0,8488
58
0,8486
0,8484 56
Dataran Rendah Dataran Tinggi D Dataran Rendah Dataran Tinggi
E
Gambar 1 Grafik Perbandingan Faktor Abiotik di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi . A. Grafik Perbedaan pH
Tanah B. Grafik Perbedaan Temperatur C. Grafik Perbedaan Curah Hujan D. Grafik Perbedaan
Kelembaban Udara E. Grafik Perbedaan Intensitas Cahaya
Jurnal Biota Vol. 1 No. 1 Edisi Agustus 2015 | 35

Dataran rendah mencapai pH 8,07 sedangkan (360 mm/bulan) (Gamb.1C). Curah hujan dan
dataran tinggi mencapai 7,56. pH tanah tekstur tanah berhubungan erat dengan ketersediaan
menunjukkan derajat keasaman tanah atau air di dalam tanah, karena pemenuhan kebutuhan
keseimbangan antara konsentrasi H+ dan OH- dalam unsur bagi tumbuhan diperoleh melalui penyerapan
larutan tanah. pH tanah sangat menentukan oleh akar dari tanah bersamaan dengan penyerapan
pertumbuhan dan produksi daun, bahkan air. Air dibutuhkan tanaman untuk fotosintesis,
berpengaruh pula pada kualitas kehijauan daun. pH tekanan turgor sel, mempertahankan suhu tubuh
tanah yang optimal bagi pertumbuhan kebanyakan tumbuhan, transportasi, dan medium reaksi
tanaman adalah antara 5.6 6.0. Bila tanah enzimatis.
bersuasana basa (pH>7.0) biasanya tanah tersebut Dengan daunnya yang tebal dan banyak
kandungan kalsiumnya tinggi, sehingga terjadi mengandung air, Sansevieria mampu untuk bertahan
fiksasi terhadap fosfat dan tanaman pada tanah basa pada kondisi dengan curah hujan yang rendah.
seringkali mengalami defisiensi unsur P Purwanto (2006) menyebutkan bahwa kebutuhan air
(Rachmawati, 2009). Sesuai dengan Pramono (2008) untuk Sansevieria adalah 30 mm/ tanaman/ minggu.
keasaman media tanam yang ideal untuk sansevieria Jika curah hujan di dataran rendah adalah 360
adalah berkisar antara 5.5 7.5, meski demikian mm/bulan dan di dataran tinggi adalah 437,8
tanaman ini masih dapat bertoleransi pada rentang mm/bulan, maka curah hujan yang ada melebihi
pH 4.5 8.5. kebutuhan air Sansevieria, namun demikian
Berdasarkan data temperatur, diketahui bahwa banyaknya kandungan air dalam tanah tersebut tidak
di dataran rendah memiliki temperatur udara yang sampai merusak atau mengganggu pertumbuhan
lebih tinggi daripada dataran tinggi (Gamb. 5.1B). Sansevieria, karena tekstur tanahnya yang
Di dataran rendah temperatur udaranya adalah berporositas tinggi dengan kandungan batu kerikil
sekitar 25C dan di dataran tinggi temperatur dan atau pasir yang banyak.
udaranya adalah sekitar 22C. Kondisi ini sesuai Laju transpirasi dipengaruhi oleh kelembapan
dengan Williams et al. (1980) menyatakan bahwa udara. Jika kelembapan udara rendah maka
ketinggian tempat akan mempengaruhi kondisi tanah transpirasi akan meningkat. Hal ini memacu akar
dan iklim. Lebih lanjut Rukmana (1997) menyatakan untuk menyerap lebih banyak air dan mineral dari
bahwa dataran rendah biasanya memiliki curah dalam tanah. Meningkatnya penyerapan nutrien oleh
hujan rendah (< 1.500 mm/th), tingkat kelembaban akar akan meningkatkan pertumbuhan tanaman
rendah (30 40%) dan suhu udara tinggi (> 25C). (Rachmawati, 2009). Di daerah dataran rendah,
Kondisi tanah dataran rendah umumnya remah, kelembabannya adalah lebih tinggi dibandingkan
gembur, cenderung lempung sampai liat berpasir dan dengan dataran tinggi (Gamb.1C). Purwanto (2006)
menggumpal dengan kadar bahan organik rendah menyebutkan bahwa Sansevieria dapat tumbuh
sampai sedang dan tingkat produktivitas rendah. dengan baik dilingkungan dengan kelembapan tinggi
Sedangkan daerah dataran tinggi memiliki curah asal media tumbuhnya tidak tergenang air.
hujan yang tinggi (> 1.500 mm/th), tingkat Kelembaban udara di dataran rendah dan dataran
kelembapan tinggi (65 70%) dan suhu udara tinggi lokasi sampel adalah termasuk kelembaban
rendah (< 25C). Kondisi tanahnya remah, gembur, sedang, sehingga Sansevieria dapat tumbuh dengan
lempung berdebu dan kadar bahan organik tinggi baik.
dengan produktivitas sedang sampai tinggi. Intesitas cahaya di dataran tinggi (67%) adalah
Sansevieria mampu bertahan hidup pada lebih tinggi 7% dibandingkan dengan intensitas
rentang suhu yang luas, meskipun demikian, cahaya di dataran rendah (60,13%) (Gamb. 1E).
umumnya pada siang hari tanaman ini membutuhkan Kualitas, intensitas, dan lamanya radiasi yang
suhu antara 24C - 29C dan pada malam hari 18C mengenai tumbuhan mempunyai pengaruh yang
- 21C (Pramono, 2008). Suhu udara erat kaitannya besar terhadap berbagai proses fisiologi tumbuhan.
dengan laju penguapan dari jaringan tumbuhan ke Cahaya mempengaruhi pembentukan klorofil,
udara. Jika semakin tinggi suhu udara, maka laju fotosintesis, fototropisme, dan fotoperiodisme. Efek
transpirasi akan semakin tinggi. Jika suhu berada di cahaya meningkatkan kerja enzim untuk
luar batas toleransi, maka kegiatan metabolisme memproduksi zat metabolik untuk pembentukan
tumbuhan akan terganggu atau malah terhenti. klorofil. Sedangkan, pada proses fotosintesis,
Curah hujan di dataran tinggi (437,8 intensitas cahaya mempengaruhi laju fotosintesis
mm/bulan) adalah 77,8 mm lebih tinggi saat berlangsung reaksi terang. Jadi cahaya secara
dibandingkan dengan curah hujan di dataran rendah tidak langsung mengendalikan pertumbuhan dan
Jurnal Biota Vol. 1 No. 1 Edisi Agustus 2015 | 36

perkembangan tanaman, karena hasil fotosintesis cm) daun Sansevieria di dataran tinggi lebih panjang
berupa karbohidrat digunakan untuk pembentukan dan lebih lebar bila dibandingkan dengan panjang
organ-organ tumbuhan (Rachmawati, 2009). (94,27 cm) dan lebar (6,73 cm) daun Sansevieria di
Perkembangan bentuk tumbuhan juga dataran rendah.
dipengaruhi oleh cahaya (fotomorfogenesis). Efek Tanaman Sansevieria yang ditumbuhkan di
fotomorfogenesis ini dapat dengan mudah diketahui bawah sinar matahari langsung akan memiliki pola
dengan cara membandingkan kecambah yang pita yang cerah, sedangkan tanaman yang
tumbuh di tempat terang dengan kecambah dari ditumbuhkan dengan pencahayaan kurang dari 2000
tempat gelap. Kecambah yang tumbuh di tempat foot-candle atau kurang akan akan memiliki warna
gelap akan mengalami etiolasi atau kecambah daun hijau tua yang kurang cerah atau sedikit pudar
tampak pucat dan lemah karena produksi klorofil (Henley, 2009). Dari 23 titik pengambilan sampel
terhambat oleh kurangnya cahaya. Sedangkan, pada Sansevieria, ditemukan adanya warna daun yang
kecambah yang tumbuh di tempat terang, daun lebih berbeda dari Sansevieria dari dataran rendah dan
berwarna hijau, tetapi batang menjadi lebih pendek dataran tinggi. Warna daun tersebut adalah 1). Hijau
karena aktifitas hormon pertumbuhan auksin muda dengan banyak strip warna putih 2). Hijau
terhambat oleh adanya cahaya. Sehingga adalah muda dengan sedikit strip warna putih 3). Hijau tua
sesuai ketika intensitas cahaya yang diterima di dengan banyak strip warna putih dan 4). Hijau tua
dataran tinggi lebih banyak daripada di dataran dengan sedikit strip warna putih.
rendah, maka panjang (122,17 cm) dan lebar (94,27

1 2 3

Gambar 2 Warna Daun Tipe 1, 2, 3 dan 4 dari Dataran Tinggi dan Dataran Rendah;
1). Hijau muda dengan banyak strip warna putih
2). Hijau muda dengan sedikit strip warna putih
3). Hijau tua dengan banyak strip warna putih dan
4). Hijau tua dengan sedikit strip warna putih

Perbedaan gradasi warna pada daun lebar (6,73 cm) daun Sansevieria di dataran rendah
Sansevieria ini diduga dipengaruhi oleh ketinggian adalah lebih rendah dibandingkan dengan panjang
tempat dengan seluruh faktor abiotik yang (122,17 cm) dan lebar (7,08 cm) daun Sansevieria
mengikutinya, terlebih hasil analisis statistik di dataran tinggi (Gamb. 5.3). Perbedaan panjang
menujukkan bahwa korelasi antara ketinggian dan lebar daun Sansevieria di kedua dataran
tempat dengan warna daun adalah cukup tinggi, kemungkinan disebabkan oleh perbedaan iklim di
yaitu 0,8502. Walaupun tidak seluruh daun kedua dataran tersebut. Pertumbuhan dan
Sansevieria di lokasi sampel memiliki warna yang perkembangan tumbuhan sangat dipengaruhi oleh
seragam namun kecenderungan pada suatu tipe faktor intrinsik dan ekstrinsik tumbuhan. Faktor
warna tertentu membuat adanya pengelompokan intrinsik antara lain adalah faktor genetik dan
warna daun Sansevieria menjadi 4 tipe warna hormon. Gen berfungsi mengatur sintesis enzim
sebagaimana gambar 2 untuk mengendalikan proses kimia dalam sel. Hal
Daun Sansevieria memiliki serat daun yang ini yang menyebabkan pertumbuhan dan
panjang, mengkilap, kuat, elastistis dan tidak perkembangan. Sedangkan, hormon merupakan
merapuh meskipun terkena air. Karena keunggulan senyawa organik tumbuhan yang mampu
sifat-sifat serat daun sansevieria tersebut, maka menimbulkan respon fisiologi pada tumbuhan.
serat tanaman ini digunakan sebagai bahan baku Faktor ekstrinsik berupa faktor lingkungan yaitu
pakaian. (Syariefa, 2008). Berdasarkan data yang ketinggian tempat, pH tanah, intensitas cahaya,
terkumpul di daerah Malang Raya, maka dapat temperatur, kelembapan, curah hujan, tekstur tanah
diperbandingkan bahwa panjang (94,27 cm) dan dan lain-lain (Rachmawati, 2009).
Jurnal Biota Vol. 1 No. 1 Edisi Agustus 2015 | 37

7,2
140 122,17 7,08
7,1
120
94,27 7
100

Centi meter

Centi meter
6,9
80 Lebar Daun
Panjang Daun 6,8 6,73
60
40 6,7

20
0
A 6,6

6,5 B
Dataran Rendah Dataran Tinggi
Dataran Rendah Dataran Tinggi

Gambar 3 Grafik Perbandingan Panjang dan Lebar Daun di Daerah Dataran Tinggi dan Dataran Rendah

Hormon mempengaruhi respon pada Morfologi daun Sansevieria diduga juga


tumbuhan, seperti pertumbuhan akar, batang, pucuk, dipengaruhi oleh tekstur tanah tempat tumbuhnya.
dan pembungaan. Respon tersebut tergantung pada Akar tanaman Sansevieria membutuhkan tanah yang
spesies, bagian tumbuhan, fase perkembangan, tidak terlalu lembab dan beraerasi baik (Pramono,
konsentrasi hormon, interaksi antar hormon, dan 2008). Dari pengamatan di lapang, diketahui ada 4
berbagai faktor lingkungan. Auksin, Sitokinin dan tekstur tanah dari 23 titik pengambilan sampel
Giberelin juga dapat memacu perpanjangan dan tanaman Sansevieria. Tekstur tanah tersebut adalah
pembelahan sel, diduga bahwa hormon-hormon ini 1). Tanah gembur, lunak dan berbatu 2). Tanah
berperan penting dalam perbedaan panjang dan lebar gembur, lunak dan berpasir 3). Tanah liat, keras dan
daun Sansevieria yang ditemukan. berbatu 4). Tanah liat, keras dan berpasir.

1 2 3 4

Gambar 4 Tekstur Tanah Tipe 1.Tanah gembur, lunak dan berbatu 2. Tanah gembur, lunak dan berpasir 3. Tanah liat,
keras dan berbatu 4. Tanah liat, keras dan berpasir

Tekstur tanah erat kaitannya dengan lokasi pasir dan batu yang terdapat dalam tanah tersebut,
pengambilan sampel. Tekstur tanah tipe 1 ditemukan namun ke-empat tipe tanah tersebut mengandung
pada daerah tepi ladang, di tepian sungai, dan di pasir dan batu untuk menyediakan ruang di dalam
pemakaman pada sampel dari daerah Krajan, tanah untuk oksigen. Selain itu, porositas yang baik
Sumberagung Selatan, Sumberejo, Menjing dan juga menunjukkan drainase yang baik, sehingga
Dadaprejo. Tekstur tanah tipe 2 ditemukan pada tepi tanah tidak terlalu banyak menyimpan air yang dapat
ladang, di pemakaman, dan di hutan kota pada menyebabkan pembusukan pada akar.
sampel dari daerah Tanjungsari, Argotirto, Bunder Jenis media tanam yang sesuai untuk
dan Oro-oro dowo. Tekstur tanah tipe 3 ditemukan Sansevieria adalah media yang banyak pori,
di tepi lapangan, tepi ladang, di tepi sawah dan di brtekstur kasar dan sedikit mengandung bahan
tepi jurang, pada sampel dari daerah organik (Pramono, 2008). Hal ini sangat penting
Sumbermanjing, Wonogiri, Tlekung, Ngaglik dan mengingat Sansevieria sebagai tanaman sukulen
Songgoriti. Tekstur tanah tipe 4 ditemukan di tidak menyukai kondisi yang terlalu lembab.
pinggir jalan, di kebun teh dan di pinggir sungai Keberadaan pasir di dalam tanah yang ditemukan
pada sampel dari daerah Beji dan Toyomarto. pada sampel tanah adalah baik, karena pasir
Keempat tipe tekstur tanah yang ditemukan memiliki kapasitas tukar kation yang rendah
adalah tanah dengan porositas yang baik, karena sehingga sangat lambat dalam melepaskan unsur
walaupun belum diketahui mengenai prosentase hara (Pramono, 2008).
Jurnal Biota Vol. 1 No. 1 Edisi Agustus 2015 | 38

Dari data di lapang ditemukan bahwa pada angka yang semakin tinggi maka jumlah tanaman
ketinggian 0 200 mdpl tidak dijumpai adanya akan semakin banyak atau dengan kata lain semakin
Sansevieria trifasciata wild type. Hal ini subur pula tanahnya.
dimungkinkan karena kondisi tanah yang kurang Setelah dilakukan analisis statistik dengan
sesuai dan kadar bahan organik terlarut di dalam menggunakan SPSS, maka dibuatlah dendrogram
tanah yang rendah. Didukung pula dengan hasil hubungan kekerabatan dengan menggunakan data
analisis statistik yang menunjukkan bahwa jumlah morfologi panjang dan lebar daun tanaman
tanaman berkorelasi positif dengan tekstur tanah dan Sansevieria dari dataran rendah dan digabung
tekstur tanah berkorelasi positif dengan ketinggian dengan Sansevieria dari dataran tinggi.
tempat, maka ketika tekstur tanah menunjukkan

Krajan (DR)
Sb.manjing (DR)
Menjing (DR)

Tlekung (DT)
Dadaprejo (DT)
Ngaglik (DT)

Songgoriti (DT)
Beji (DT)
Bunder (DR)
Toyomarto (DT)

Gambar 5 Dendrogram Hubungan Kekerabatan Sansevieria di daerah Dataran


Tinggi dan Dataran Rendah Berdasarkan Panjang danLebar Daun

Jika dilihat dari dendrogram hubungan 83,6% sedangkan di Bunder adalah 84,8%, curah
kekerabatan sansevieria di daerah dataran tinggi dan hujan di Toyomarto adalah 324,6 mm/bulan
dataran rendah berdasarkan panjang dan leabr daun, sedangkan di Bunder adalah 292,4 mm/bulan, dan
maka tidak terjadi pengelompokan Sansevieria intensitas cahaya di kedua tempat juga berbeda yaitu
berdasarkan asal datarannya, misalnya Sansevieria di Toyomarto adalah 67% dan di Bunder adalah
asal Bunder dan Toyomarto adalah Sansevieria dari 58,6%. Sehingga faktor bantuan dari aliran air
dua dataran yang berbeda, namun pada dendrogram sungai untuk menyebarkan benih adalah suatu
keduanya berkerabat dekat, Bunder berasal dari kemungkinan yang besar, terlebih lagi karena
lokasi dengan ketinggian 400 mdpl dan Toyomarto keduanya berada pada aliran sungai yang sama,
berasal dari lokasi dengan ketinggian 900 mdpl, yaitu anak sungai Brantas.
sehingga diduga bahwa ada bantuan aliran air yang
membawa biji Sansevieria tersebar hingga lokasi Hubungan Antar Parameter - Parameter Iklim
yang jauh dari lokasi asal. dengan Perbedaan Morfologi Tanaman
Jika dilihat dari data faktor abiotik antara Sansevieria
Bunder dan Toyomarto, maka diketahui bahwa Ketinggian tempat tumbuh Sansevieria
keduanya memiliki perbedaan yang sangat besar, berhubungan dengan panjang dan lebar daun
yaitu pH tanah di Toyomarto adalah 6,09 sedangkan Sansevieria, namun korelasi positif itu hanya kecil
di Bunder adalah 7,91, temperatur udara di yaitu 0,303 untuk panjang daun dan 0,354 untuk
Toyomarto adalah 22C sedangkan di Bunder adalah lebar daun. Keasaman tanah yang cenderung basa
25C, kelembaban udara di Toyomarto adalah baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah
Jurnal Biota Vol. 1 No. 1 Edisi Agustus 2015 | 39

tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap cahaya, yang mana faktor-faktor tersebut hanya
panjang dan lebar Sansevieria, yaitu hanya 0,138 memberikan pengaruh yang kecil terhadap panjang
untuk panjang daun dan 0,018 untuk lebar daun, dan lebar daun.
disamping itu temperatur yang cenderung menurun Dari data faktor abiotik (Ketinggian Tempat,
seiring dengan ketinggian tempat yang semakin pH Tanah, Temperatur, Kelembaban Udara, Curah
tinggi diketahui juga tidak memberikan kontribusi Hujan dan Intensitas Cahaya) yang dicari
yang besar, terhadap panjang dan lebar daun hubungannya dengan panjang dan lebar daun
Sansevieria yaitu hanya 0,282 untuk panjang daun Sansevieria, maka dapat disimpulkan bahwa faktor
dan 0,409 untuk lebar daun. Curah hujan yang tinggi abiotik memberikan pengaruh yang kecil terhadap
di daerah sampel mengakibatkan semakin tingginya panjang dan lebar daun Sansevieria.
rerata kelembaban udara dan rata-rata intensitas

1400 10
y = -121,23x 2 + 1909,3x - 6660,2 9
1200
R2 = 0,2807 8 y = 1E-04x 2 - 0,0184x + 8,5478
1000 R2 = 0,0554
7
Ketinggian (m)

y = 0,0508x 2 - 0,708x + 10,24

pH Tanah
y = -0,0799x 2 + 21,052x - 617,38 6
800
R2 = 0,0076
R2 = 0,182 5
600 4
3
400
2
200 1
0
0
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 0 50 100 150 200
Panjang dan Lebar Daun (cm ) Panjang dan Lebar Daun (cm)
Panjang daun Lebar daun Panjang daun Lebar daun
Poly. (Panjang daun) Poly. (Lebar daun) Poly. (Panjang daun) Poly. (Lebar daun)

A B
88
30
87,5
Temperatur (Celcius)

25 87
y = 88,925e-0,0064x
86,5
Kelembaban (%)

y = 0,0004x 2 - 0,1079x + 30,183


20 2 y = 0,0063x + 84,433
y = 0,6882x - 10,864x + 65,434
R 2 = 0,1731 86 R2 = 0,0835
2
R 2 = 0,3598 R = 0,0131
15 85,5

10 85
84,5
5
84
0 83,5
0 50 100 150 200 83
Panj ang dan Lebar Daun (cm) 0 50 100 150 200
Panj ang dan Lebar Daun (cm)
Panjang daun Lebar daun Panjang daun Lebar daun
Poly. (Panjang daun) Poly. (Lebar daun) Linear (Panjang daun) Expon. (Lebar daun)

C D
68
700
2
66 y = -1,7617x + 27,109x - 38,288
600
Intensitas Cahaya (%)

2 y = -0,015x2 + 4,8946x + 58,51 2


Curah Hujan (mm/bln)

y = -24,988x + 340,61x - 742,68 64 R = 0,2227


500 2 R2 = 0,0871 2
R = 0,0433 y = -0,0013x + 0,3484x + 41,968
62
400 2
R = 0,3012
60
300
58
200
56
100
54
0 0 50 100 150 200
0 50 100 150 200 Panj ang dan Lebar Daun (cm)
Panj ang dan lebar Daun (cm)
Panjang daun Lebar daun Panjang daun Lebar daun
Poly. (Panjang daun) Poly. (Lebar daun)
Poly. (Panjang daun) Poly. (Lebar daun)
E F
Gambar 6 Hasil Analisis Hunungan Faktor Abiotik dengan Panjang dan Lebar Daun Sansevieria berdasarkan Ketinggian
Tempat (A), pH tanah (B), Temperatur (C), Kelembaban (D), Curah Hujan (E) , dan Intensitas Cahaya (F)

KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA


Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor [1] Backer, A. dan Backhuizen van den Brink
Abiotik memiliki pengaruh yang kecil terhadap Jr., R. C. 1963. Flora of Java vol 1.
morfologi tanaman Sansevieria trifasciata L. yang Groningen: N.N.P. Noordhorff.
tumbuh di dataran tinggi dan dataran rendah. [2] Bardakci, F. 2001. Random Amplified
Polymorphic DNA (RAPD) Markers. Turk:
Jurnal Biota Vol. 1 No. 1 Edisi Agustus 2015 | 40

J. Biol. Systematics. New York: Harper and Row


[3] BPS Kabupaten Malang. 2003. Kabupaten Publlisher, Inc.
Malang Dalam Angka 2002. Malang: BPS [17] Rugienius, R. 2006. Use of RAPD and
Kab. Malang. SCAR Markers of Identification of
[4] Clark, D. 2005. Molecular Biology. Strawberry Genotypes Carrying Red Stele
Amsterdam: Elsevier Crouch, H.K., J.H. (Phytopthora fragariae) Resistance Gene Rpf
1.Lithuania: Lithuanian Institute of
[5] Crouch, S. Madsen, D.R. Vuylsteke, R.
Horticulture
Ortiz. 2000. Comparative Analysis of
Phenotypic and Genotypic Diversity Among [18] Rahmawati, I. 2009. Tanggapan
Planta in Landraces (Musa spp., AAB). Pertumbuhan Sansevieria spp terhadap
Thoer Appl Genet Logam Timbal(Pb) dari Asap Kendaraan
Bermotor 2 Tak. Jogjakarta: UGM
[6] Fatchiyah, ... . 2009. Dasar-dasar Analisa
Biologi Molekuler. Malang: Universitas [19] Robiah, H.R., Sobir dan M. Surahman.
Brawijaya 2005. Analisis Pembandingan Pola
Keanekaragaman Pisang Introduksi
[7] Fauza, H. 2007. Variabilitas Genetik
Berdasarkan Penanda Fenotipik dengan
Tanaman Gambir Berdasarkan Marka
Penanda RAPD dan Pendugaan Korelasi
RAPD. Padang: Universitas Andalas
antara Keduanya terhadap
[8] Fritsch, Peter. 1993. Constancy of RAPD KomposisiGenomiknya. Bandung: IPB
Primer Amplification Strength among
[20] Sopian, T. 2008. Produksi Tanaman Karet
Distantly Related Taxa of Flowering Plants.
(Hevea brasiliensis) di Daerah Bercurah
USA: Rancho Santa Ana Botanic Garden,
Hujan Tinggi di Kabupaten Bogor.
Claremont
Purwakarta: Dinas Kehutanan dan
[9] Gergel, S.E. dan M.G. Turner. 2002. Perkebunan / Konservasi Sumber Daya Alam
Learning Landscape Ecology: A Practical Kabupaten Purwakarta
Guide to Concept and Techniques. New
[21] Stuessy, T.F. 1990. Plant Taxonomy, The
York: Springer
Systematic Evaluation of Comparative Data.
[10] Henley, R. W., A.R. Chase dan L. S. New York: Columbia University
Osborne. 2009. Sansevieria Production
[22] Sudarmono. 2006. Pendekatan Konservasi
Guide. Florida: University of Florida
Tumbuhan dengan Teknik Elektroforesis.
[11] Lodish, H., B. Arnold, S.Z. Lawrence, M.
[23] Sukartini. 2001. Analisis Jarak Genetik dan
Paul, B. David, and D. James. 2002.
Hubungan Kekerabatan Pisang (Musa spp.)
MolecularCell Biology. New York: Wh
menggunakan Penanda Morfologis dan
Freeman Company
Random Amplified Polymorphic DNA.
[12] Muladno. 2002. Teknologi Rekayasa Tesis. Malang: Pascasarjana UB
Genetika. Bogor: Pustaka Wirausaha Muda
[24] Suryo.1995. Sitogenetika. Yogjakarta: UGM
[13] Perwati, L.K. 2009. Analisis Derajat Ploidi
[25] Surzycki, S. 2000. Basic Techniques in
dan Pengaruhnya Terhadap Variasi Ukuran
Molecular Biology. Berlin: Springer-
Stomata dan Spora pada Adiantum
Verlag.
raddianum. Semarang: UNDIP
[26] Widyarti, Sri. 2008. Elektroforesis Gel
[14] Nandariyah. 2008. Kajian Keragaman
Poliakrilamid; dalam Diktat Praktikum
Kultivar Salak Jawa Berdasarkan Penanda
TABM. Malang: UBWilliams, C.N., W.Y.
Morfologi dan RAPD. Jogjakarta: UPN
Chew, J.A. Rajaratnam. 1980. Tree and Field
Veteran
Crops of the Wetter Regions of the Tropics.
[15] Nuryani, Y., C. Syukur., N. Toruan., 2000. Intermediate Tropical Agriculture Series.
Analisis Keragaman Genetik Nilam dengan Longman: Essex.
Teknik Randomly Amplified Polymorphic
[27] Wilkins, T.A. &amp; Smart, L.B.. 1996.
DNA (RAPD). Prosiding: Seminar
Isolation of RNA from Plant Tissue. Di
HasilPenelitian dan Pengembangan
dalam: Krieg, P.A. (ed). A Laboratory Guide
Bioteknologi III. Malang: UB
to RNA. Isolation, Analysis and Synthesis.
[16] Radford, A. E. 1986. Fundamental of Plant
Jurnal Biota Vol. 1 No. 1 Edisi Agustus 2015 | 41

New York: Wiley -Liss. Inc.www.batukota.go.id


[28] Williams, J.G.K, A.R. Kubelik, K.J. Livak, [29] Yasminingsih, N. A. 2009. Analisis
J.A. Rafalski, S.V. Tingey. 1990. DNA Keragaman Genetik Jarak Pagar (Jatropha
Polymorphisms Amplified by Arbitrary curcas l.) Berdasarkan Penanda Molekuler
Primers are Useful as Genetic Markers. RAPD (Random Amplified Polymorphic
Nucleic Acids Res. 18. New York: Publisher DNA). Tesis. Surakarta: