Anda di halaman 1dari 1

A.

Penerapan Teori Belajar Piaget


Kunci utama teori Piaget yang harus diketahui guru matematika yaitu perkembangan
kognitif seorang siswa bergantung kepada seberapa jauh siswa itu dapat memanipulasi dan
aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Artinya, seberapa jauh pengetahuan atau pengalaman
barunya itu dapat dikaitkan. Keterhubungan antara pengetahuan yang satu dengan pengetahuan
lainnya itu dalam istilah Piaget disebut dengan struktur kognitif, kerangka kognitif atau
skemata (schema). Jadi, skema atau skemata adalah suatu organisasi mental yang terbentuk
pada saat seseorang berinterkasi dengan lingkungannya. Dua proses yang termasuk adaptasi
adalah asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah suatu proses dimana suatu informasi atau
pengalaman baru dimasukkan dan memperkuat kerangka kognitif yang sudah ada di benak
siswa; dan akomodasi adalah suatu proses perubahan atau pengembangan kerangka kognitif
yang sudah ada di benak siswa sebagai akibat dari informasi atau pengalaman yang baru
dialami.
Dimisalkan para siswa SD/MI sudah belajar tentang penjumlahan dan sudah menguasai
penjumlahan seperti 2 + 2 + 2 = 6. Pada pembelajaran tentang perkalian, guru dapat mengawali
kegiatan dengan menunjukkan adanya tiga piring yang berisi 2 kue pada setiap piringnya
seperti ditunjukkan gambar di bawah ini.
Ketika guru meminta siswanya untuk menentukan banyaknya kue yang ada, maka
diharapkan para siswa akan dengan mudah menentukan jawabannya. Ada beberapa cara yang
dapat digunakan siswa dan dapat diterima guru untuk menentukan hasilnya, yaitu: (1) dengan
membilang dari 1 sampai 6 atau (2) dengan menjumlahkan 2 + 2 + 2 = 6. Setelah itu guru lalu
menginformasikan bahwa notasi lain yang dapat digunakan adalah 3 2. Contoh ini
menunjukkan bahwa pengetahuan yang baru tentang perkalian sudah dikaitkan atau
disesuaikan dengan pengetahuan tentang penjumlahan yang sudah dimiliki siswa. Kata
lainnya, perkalian telah diasimilasi sebagai penjumlahan berulang. Selanjutnya, akan terjadi
juga perubahan pada kerangka kognitif si siswa. Kerangka kognitifnya tidak hanya berkait
dengan penjumlahan saja, akan tetapi sudah berkembang atau berubah dengan penjumlahan
berulang yang dapat disebut juga dengan perkalian. Dengan demikian jelaslah bahwa asimilasi
terjadi jika pengalaman baru siswa sesuai atau memperkuat struktur kognitif yang sudah ada
di benak siswa; sedangkan pada akomodasi, struktur kognitif yang sudah ada di benak siswa
berubah akibat informasi atau pengalaman barunya. Berdasar contoh yang dikemukakan guru
di atas, para siswa akan memahami bahwa untuk menentukan hasil 5 2 adalah sama dengan
menentukan banyaknya semua kue yang ada pada lima piring yang berisi 2 kue pada setiap
piringnya, seperti ditunjukkan gambar di bawah ini. Dengan cara seperti ini diharapkan para
siswa akan dengan mudah menentukan bahwa: 5 2 = 2 + 2 + 2 + 2 + 2 = 10, namun pada
struktur kognitif siswa belum ada konsep tersebut, sehingga ia harus mengubahnya yakni
perkalian menjadi penjumlahan berulang.

B. Penerapan Teori Belajar Ausubel

C. Penerapan Teori Belajar Bruner