Anda di halaman 1dari 14

HUKUM KEDUA TERMODINAMIKA

Kita telah belajar mengenai hukum pertama termodinamika tentang kekekalan energy.
Menurut hokum kekekalan energy, energy tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, melainkan
hanya dapat diubah dari suatu bentuk energy ke bentuk energy lainnya. Tapi ternyata, perubahan
bentuk energy tidak dapat berlangsung sembarangan. Perbandingan hokum kenol, pertama dan
kedua thermodinamika, dapat dilihat dalam bagan berikut.

Dalam transformasi energy itu sendiri ada proses reversible dan irreversible. Proses
secara reversible berarti dapat balik, dari keadaan awal keakhir dan berputar begitu pula
sebaliknya. Pernyataan yang membatasi perubahan mana yang dapat berlangsung dan mana yang
tidak dapat berlangsung dinyatakan pada hukum kedua termodinamika. Reversible Processes
adalah proses yang dapat dibalik tanpa meninggalkan jejak pada lingkungannya. Ireversible
Processes adalah kebalikan dari proses reversible. Contoh :

1. Balok meluncur pada bidang, tenaga mekanik balok dikonversikan ke tenaga internal
balok & bidang (kalor) saat gesekan. Proses tersebut termasuk proses tak terbalikkan
(irreversible). Kita tidak dapat melakukan proses sebaliknya.
2. Gelas yang pecah, tak akan kembali kebentuk semula. Sebab mengalami perubahan
permanen.

Contoh proses reversible :


proses reversible didekati jika mengalami sebuah siklus

Pengertian siklus
Gas yang berada dalalm ruangan tertutup dapat mengalami proses termodinamika
sehingga dapat melakukan usaha. Kemampuan gas melakukan usaha karena pada system
termodinamika terjadi perubahan bentuk energy dari energy kalor menjadi energy
mekanik.
Menngubah usaha menjadi kalor dapat dilakukan secara terus menerus, tetapi
mengubah kalor menjadi usaha tidak demikian halnya karena terbatas pada ruangan
tempat gas. Untuk dapat mengubah kalor menjadi usaha secara terus menerus harus
diussahakan agar gas itu kembali ke keadaan semula sehingga gas tersebut dapat
meakukan usaha kembali. Proses semacam ini disebut proses siklus. Jadi, yang dimaksud
dengan proses siklus gas adalah, gas setelah mengalami seerangkaian proses
termodinamika akan kembali ke keadaan semula.
P
P2 A

P1 C B
V
V1 V2
Gammbar disamping menunjukan satu proses siklus, yaitu dari keadaan awal A
mengalami proses isothermal ke B, lalu mengalami proses penyusutan isobaric mengubah
keadaan system dari B ke C. akhirnya, proses pemampatan isokhorik mengembalikan
system ke keadaan awwalnya (keadaan A).
Besarnya usaha yang diilakukan pada suatu siklus dapat dihitung sebagai berikut.

Dari hasil perhitungan diatas dapat kita simpulkan bahwa usaha yang dilakukan pada
suatu siklus sama dengan luas siklus tersebut.
HUKUM KEDUA TERMODINAMIKA

Hokum ini dapat dinyatakan dalam berbagai cara antara lain dinyatakan dalam aliran
kalor, mesin kalor, dan entropi

1. Hukum Kedua Termodinamika tentang Aliran Kalor


Hukum kedua termodinamika tentang aliran kalor secara spontan dinyatakan
pertamakali oleh pakar fisika berkebangsaan Jerman Rudolf Clausius (1822-1888)
sehingga dikenal sebagai Rumusan Clausius tentang hokum kedua termodinamika, yaitu:
Kalor mengalir secara spontan dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu
rendah dan tidak mengalir secara spontan terhadap kebalikannya.

Q1 Q1

Reservoir

Suhu tinggi

Reservoir

Suhu rendah

Q2 Q2

Proses ini dapat terjadi proses ini tidak mungkin terjadi

2. Hukum Kedua Termodinamika tentang Mesin Kalor


Dalam pembahasan tentang mesin Carnot kita ketahui bahwa mesin dengan
efisiensi 100% tidak mungkin dibuat karena kondisi semacam itu hanya mungkin
tercapai bila mesin melepaskan kalor pada suhu Reservoir rendah (T2) sama dengan 0 K.
Suhu yang sangat rendah ini tidak akan pernah dicapai. Jadi, dalam setiap siklus mesin
kalor yang di ambil dari reservoir suhu tinggi tidak seluruhnya dapat diubah menjadi
usaha luar, tetapi ada sebagian kalor yang dibuang pada reservoir suhu rendah.
Berdasarkan kenyataan ini, Lord Kelvin dan Planck merumuskan hukum kedua
termodinamika yang dikenal sebagai perumusan Kelvin-Planck tentang hukum kedua
termodinamika, yaitu:
tidak mungkin membuat suatu mesin yang bekerja dalam suatu siklus yang
menyerap seluruh kalor dan mengubah seluruh kalor tersebut menjadi usaha
luar

Q1 Q1

Reservoir

Suhu tinggi
W W

Reservoir

Suhu rendah
Q2

Proses ini dapat terjadi proses ini tidak mungkin terjadi

3. Hukum Kedua Termodinamika Dinyatakan dalam Entropi

secara umum boleh dikatakan bahwa mesin yang bekerja secara ireversibel
menyebabkan kehilangan sebagaian kalor sehingga mesin masih mampu melakukan
usaha. Bagian kalor yang hilang dapat dinyatakan dengan suatu variable keadaan
termodinamika yang disebut entropi.

Entropi adalah suatu ukuran banyaknya kalor atau energy yang tidak dapat diubah
menjadi usaha. Perhatikan kembali persamaan hubungan antara kalor dan suhu mutaknya
dalam siklus Carnot, yaitu:

Di mana: besaran disebut entropi, yang diberi symbol S


Dengan demikian, dapat dikatakan jika suatu system pada suhu mutlak (T)
mengalami proses reversible dengan menyerap sejumlah kalor (Q) maka perubahan
entropi suatu system dapat dirumuskan sebagai:

reversibel

Di mana: S = perubahan entropi (J/S)

Dari persamaan diatas terlihat bahwa entropi merupakan suatu fungsi keadaan
dari suatu system (sama seperti energy dalam) maka perubahan entropi (entropi
keadaan akhir dikurangi entropi keadaan awal) hanya bergantung pada keadaan awal dan
keadaan akhir system dan tidak bergatung pada lintasan yang ditempuh system untuk
mencapai keadaan akhir.

Proses reversible

Sejak mesin karnot bekerja, kalor Q1 keluar dari reservoir panas pada suhu mutlak T1
sehingga entropi panas berkurang. Perubaha entropi reservoir panas dapat dinyatakan
dengan:

Tanda minus menunjukan pengurangan entropi karena Q1 menyatakan besaran mtlak


kalor.

Sebaliknya , kalor Q2 masuk ke reservoir dingin pada suhu mutlak T 2 sehingga entropi
dingin bertambah. Perubahan entropi reservoir dingin dapat dinyatakan dengan:

Namun demikian, total perubahan entropi (S) sama dengan nol.


= 0, karena

Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa untuk sembarang proses reversible terjadi
perubahan entropi jagat raya sama dengan nol.

Berarti bahwa memperhitungkan perubahan entropi semua bagian system

dan semua bagian dari lingkungan. Jadi, proses reversible tidak mengubah total entropi
dari jagat raya.

Proses ireversibel

Proses reversible tidak mengubah entropi jagat raya ( S jagatraya


0 ), sebaliknya pada
proses ireversibel ( atau dapat digunakan pada semua jenis proses) sehingga kelakuan
entropi jagat raya merupakan pernyataan umum lengkap dari hukum kedua
termodinamika, yaitu:

total entropi jagat raya tidak berubah ketika proses reversible terjadi (S jagat raya=0)dan
bertambah ketika proses ireversibel terjadi (Sjagat raya>0).

Mesin Carnot
Mesin carnot merupakan mesin kalor yang dapat mengubah energi (kalor) menjadi bentuk
lainnya (usaha mekanik). Disamping mesin carnot, terdapat pula mesin-mesin lain yang
digolongkan dalam mesin kalor sperti mesin uap, mesin diesel dan bensin, mesin jet dan reactor
atom. Pada prinsipnya cara kerja mesin kalor ada tiga proses penting yaitu

1. Proses penyerapan kalor dari sumber panas yang sering disebut sebagai reservoir
(tandon) panas.
2. Usaha yang dilakukan oleh mesin.
3. Proses pembuangan kalor pada tempat yang bersuhu rendah, tempat ini sering disebut
reservoir (tandon) dingin.

Pada tahun 1824 seorang insinyur prancis Sadi Carnot (1796-1832) mengusulkan mesin ideal
yang dapat melakukan usaha secara maksimal dan efisien dibandingkan dengan mesin-mesin
kalor lainnya. Ia membuktikan secara teoritis bahwa tidak ada mesin yang lebih efisien dari
mesin ideal ini, walaupun pada kenyataannya mesin idealini tidak dapat dibuat.
Mesin carnot bekerja berdasarkan suatu siklus yang disebut siklus carnot. Siklus ini terjadi pada
sebuah silinder berisi gas yang dinding-dindingnya terisolasi secara temal ( panas tidak dapat
menembus dinding silinder). Bahan atau zat yang dilibatkan dalam msin kalor berdasarkan silkus
carnot adalah suatu gas ideal. Proses termodinamika yang terlibat dalam siklus carnot terdiri dari
dua proses isothermal dan dua proses adiabatic. Proses ini dapat dilihat pada grafik:

PA A Q

PB B

PD D

PC Q2 C

VA VD VB VC

A B : proses isothermal

B C : proses adiabatic

C D : proses isothermal

D A : proses adiabatik

1. Proses AB

Pada proses ini, gas dikontakkan dengan reservoir panas bersuhu T 1 melalui dasar
silinder. Kemudian beban sedikit demi sedikit dikurangi sehingga piston (penghisap)
terangkat dan gas akan memuai (berekspansi) secara isothermal pada suhu T 1. Selama
proses ini gas menyerap kalor sejumlah Q1 dan melakukan usaha (WAB) Dengan
menaikkan piston keatas.

2. Proses BC

Pada proses ini, dasar silinder yang semula dikontakkan pada reservoir panas sekarang
diberi dinding yang terisolasi terhadap lingkungan. Sedikit demi sedikit beban dikurangi
dan membiarkan gas memuai (mengembang = berekspansi) secara adiabatik. Selama
proses inisuhu gas turun dari T1 menjadi T2 dan gas melakukan usaha sebanyak WBC yang
ditunjukkan dengan naiknya piston.

3. Proses CD

Pada proses ini, gas dikontakkan dengan reservoir dingin bersuhu T 2 melalui dasar
silinder. Kemudian beban ditambahkan sedikit demi sedikit sehingga piston turun dan
membiarkan gas termampatkan (terkompres) secara isothermal pada suhu T 2. Selama
proses ini gas akan membuang kalor sebanyak Q2 dan menerima usaha (berarti usaha
negatif) dari luar sebesar WCD.

4. Proses DA

Pada proses ini, dasar silinder kembali di isolasikan terhadap lingkunagn. Sedikit demi
sedikit, beban ditambahkan dan biarkan gas termampatkan secara adiabatic. Selam proses
ini suhu gas naik dari T 2 menjadi T1 dan gas menerima usaha dari luar sebanyak W DA
yang ditunjukkan dengan turunnya piston.

Efisiensi mesin

Prinsip kerja sebuah mesin adalah mengubah energy kalor menjadi energy mekanik(usaha). Oleh
karena tidak semua energy kalor dapat diubah menjadi usaha maka dikenal istilah efisiensi
mesin. Efisiensi mesin (diberi lambing ) didefinisikan sebagai perbandingan antara usaha (W)
yang dilakukan oleh mesin dengan kalor yang diserap mesin (Q1). Secara matematika dinyatakan
sebagai berikut

efisiensi sering dinyatakan dalam persen(%) sehingga persamaan diatas dapat ditulis

dengan menggantikan W dengan Q1-Q2 persamaan diatas dapat ditulis

dimana :
Tc
Carnot 1 x100%
= efisiensi mesin Th

Q1 = kalor yang diberikan pada gas


Inilah efisiensi tertinggi secara teori
yang dimiliki oleh mesin carnot
Q2 = kalor yang dilepaskan oleh gas

Pada siklus Carnot, kalor masuk (Q1) dan kalor keluar (Q2) berkaitan dengan tendon yang
bersuhu mutlak T1 dan T2. Apakah ada hubungan untuk kedua proses besaran tersebut? Untuk
menjawab pertanyaan ini, kita tinjau kembali proses-proses yang terlibat dalam siklus carnot.

Mesin pendingin

Hukum kedua thermodinamika menyatakan secara tegas bahwa kalor secara alamiah
mengalir dari bendap bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah. Tapi, ketika kalor dialirkan dari
reservoir suhu rendah ke reservoir suhu tinggi adalah tidak mungkin tanpa disertai suatu usaha
yang dikerjakan padanya. Peralatan yang system kerjanya berdasarkan konsep ini adalah mesin
pendingin. Mesin pendingin memiliki proses yang berlawanan dengan mesin kalor. Meskipun
demikian, karena energy adalah kekal selama pendinginan seperti halnya pada mesin kalor ,
Q1=Q2+W.

Contoh keseharian yang terkait dengan mesin pendingin, yaitu, kulkas, AC(air
conditioner).

Ukuran kinerja atau performa sebuah sebuah mesin pendingin bias diperoleh lewat perbandingan
kalor bersuhu tinggi dengan uswa yang dibutuhkan. (koefisien performansi)
Dalam pengakajian mendalam, jika proses yang terjadi adalah reversible, secara teori kita
dapatkan sebuah peralatan ideal yang disebut pendingin carnot. Secara teori, koefisien
performansi paling besar dimiliki oleh mesin pendingin carnot.

Koefisien performansi mesin pendingin


carnot
ENERGI DALAM

Energi dalam (E) adalah total energi kinetik (Ek) dan energi potensial (Ep) yang ada di
dalam sistem. Oleh karena itu energi dalam bisa dirumuskan dengan persamaan E = Ek + Ep.
Namun karena besar energi kinetik dan energi potensial pada sebuah sistem tidak dapat diukur,
maka besar energi dalam sebuah sistem juga tidak dapat ditentukan, yang dapat ditentukan adalah
besar perubahan energi dalam suatu sistem.

Perubahan energi dalam dapat diketahui dengan mengukur kalor (q) dan kerja (w), yang akan
timbul bila suatu sistem bereaksi. Oleh karena itu, perubahan energi dalam dirumuskan dengan
persamaan E = q + w.

Jika sistem menyerap kalor, maka q bernilai positif. Jika sistem mengeluarkan kalor, maka q bernilai
negatif.

Jika sistem melakukan kerja, maka w pada rumus tersebut bernilai positif. Jika sistem dikenai kerja
oleh lingungan, maka w bernilai negatif.

Jadi bila suatu sistem menyerap kalor dari lingkungan sebesar 10 kJ, dan sistem tersebut juga
melakukan kerja sebesar 6 kJ, maka perubahan energi dalam-nya akan sebesar 16 kJ.

Perubahan energi dalam bernilai 0 jika jumlah kalor yang masuk sama besar dengan jumlah kerja
yang dilakukan, dan jika kalor yang dikeluarkan sama besar dengan kerja yang dikenakan pada
sistem. Artinya, tidak ada perubahan energi dalam yang terjadi pada sistem

ENTROPI
Entropi adalah salah satu besaran termodinamika yang mengukur energi dalam sistem per satuan
temperatur yang tak dapat digunakan untuk melakukan usaha. Mungkin manifestasi yang paling
umum dari entropi adalah (mengikuti hukum termodinamika), entropi dari sebuah sistem tertutup
selalu naik dan pada kondisi transfer panas, energi panas berpindah dari komponen yang bersuhu
lebih tinggi ke komponen yang bersuhu lebih rendah. Pada suatu sistem yang panasnya terisolasi,
entropi hanya berjalan satu arah (bukan proses reversibel/bolak-balik). Entropi suatu sistem perlu
diukur untuk menentukan bahwa energi tidak dapat dipakai untuk melakukan usahapada proses-
proses termodinamika. Proses-proses ini hanya bisa dilakukan oleh energi yang sudah diubah
bentuknya, dan ketika energi diubah menjadi kerja/usaha, maka secara teoritis mempunyai efisiensi
maksimum tertentu. Selama kerja/usaha tersebut, entropi akan terkumpul pada sistem, yang
lalu terdisipasi dalam bentuk panas buangan.
ENTALPI
Entalpi adalah istilah dalam termodinamika yang menyatakan jumlah energi dari suatu sistem
termodinamika. Entalpi terdiri darienergi dalam sistem, termasuk satu dari lima potensial
termodinamika dan fungsi keadaan, juga volume dan tekanannya(merupakan besaran ekstensif.
Satuan SI dari entalpi adalah joule, namun digunakan juga satuan British thermal unit dan kalor..

Entalpi dari suatu sistem homogen didefinisikan sebagai:

di mana:

H = entalpi sistem (joule)


U = energi dalam (joule)

P = tekanan dari sistem (Pa)

V = volume sistem ( )
Entalpi adalah properti ekstensif yang berarti untuk sistem homogen, besarnya berbanding lurus
dengan ukuran sistem. Terkadang digunakan juga entalpi spesifik h =H/mdengan m adalah
massa sistem, atau entalpi molar Hm = H/n, dengan n adalah jumlah mol
(h dan Hm adalah properti intensif. Untuk sistem tak homogen, entalpi adalah jumlahan entalpi
dari beberapa subsistem

dengan k merujuk pada beberapa subsistem. Pada kasus untuk nilai p, T, dan komposisi
yang berbeda-beda maka jumlah menjadi integral:

dengan adalah densitas.

Entalpi H(S,p) dari suatu sistem homogen dapat diturunkan sebagai fungsi
karakteristik S dan tekanan p sebagai berikut: kita mulai dari hukum pertama
termodinamika untuk sistem tertutup

Disini, Q adalah sejumlah kecil panas yang ditambahkan dalam sistem dan
W adalah sejumlah kerja yang dilakukan sistem. Untuk sistem homohen hanya
proses reversibel yang dapat berlangsung sehingga hukum kedua
termodinamika menyatakan Q = TdS dengan T adalah temperatur absolut sistem.
Jika hanya kerja PV yang ada, W = pdV. Sehingga

Menambahkan d(pV) di kedua sisi sehingga menjadi

atau

Maka

Contoh :
Tinjau air panas dalam termos. Anda tidak dapat mengatakan bahwa air dalam termos mengandung banyak kalor
sebab panas yang terkandung dalam air termos bukan kalor, tetapi energi internal. Jika terjadi perpindahan panas
dari air dalam termos ke lingkungan sekitarnya atau dicampur dengan air dingin maka akan terbentuk kalor.
Besarnya kalor ini diukur berdasarkan perbedaan suhu dan dihitung menggunakan persamaan berikut.
Q = m c T
Keterangan :
Q = kalor
m = massa zat
c = kalor jenis zat
T = selisih suhu