Anda di halaman 1dari 8

Peraturan pemerintah

Kota Semarang sebagai salah satu kota besar di Indonesia sekaligus ibukota dari Provinsi Jawa
Tengah tak luput dari permasalahan air limbah. Persebaran penduduk kota Semarang paling padat
berada di dekat pusat kota. Kebutuhan air bersih yang berbanding lurus dengan air limbah buangan
yang dihasilkan. Menurut Syafrudin (2014), penanganan air limbah greywater di Kota Semarang
sebanyak 94,06% dibuang ke saluran drainase dan 5,94% diresapkan ke dalam tanah. Untuk blackwater,
atau air limbah dari toilet, langsung dialirkan menuju septik tank atau tangki septik, sedangkan air
limpasan dari tangki septik diresapkan ke tanah atau dibuang kesaluran umum.

Menurut Peraturan Pemerintah Indonesia nomor 82 tahun 2001, air limbah adalah air buangan
yang berasal dari rumah tangga termasuk tinja manusia dari lingkungan permukiman. Air limbah
domestik di bagi menjadi dua yaitu greywater dan blackwater. Greywater merupakan jenis air limbah
domestik yang proses pengalirannya tidak melalui toilet, seperti air bekas mandi, air bekas cuci pakaian,
air bekas cuci piring. Blackwater adalah jenis air limbah domestik yang proses pengalirannya melalui
toilet atau yang mengandung kotoran manusia. Greywater yang dibuang langsung ke saluran drainase
tanpa pengolahan terlebih dahulu dapat menyebabkan penipisan oksigen, peningkatan kekeruhan,
eutrofikasi, serta kontaminasi mikroba dan bahan kimia terhadap badan air (Tilley dan Peters, 2008).

Pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019
telah disebutkan bahwa target yang akan dicapai adalah 100% pelayanan air minum, 0% kawasan
pemukiman kumuh, dan 100% sanitasi yang layak. Sanitasi yang dimaksud mencakup air limbah,
drainase dan persampahan. Untuk penanganan air limbah, sasaran yang direncanakan adalah
penambahan infrastruktur, air limbah system terpusat, pengolahan air limbah komunal, dan
peningkatan pengelolaan lumpur tinja melalui pembangunan IPLT di berbagai kota/kabupaten di
Indonesia.

Menurut Peraturan Daerah Kota Semarang No.12 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Dinas Daerah Kota Semarang dan juga Peraturan Daerah Kota Semarang No.13 tahun 2008 terdapat5
instansi yang memiliki tupoksi sebagai pengelola air limbah Kota Semarang yaitu : 1. Dinas Kebersihan
dan Pertamanan 2. Badan Lingkungan Hidup 3. Dinas Tata Kota dan Perumahan 4. Dinas Kesehatan 5.
Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (PSDA dan ESDM).

Menurut Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah tahun 20112031, rencana system pembangunan ipal komunal diarahkan untuk semua
kecamatan dengan kepadatan tinggi, salah satunya adalah Kecamatan Semarang Barat. Sistem
penyaluran air limbah untuk sistem komunal menggunakan shallow sewer. Sistem penyaluran ini lebih
sederhana, murah, dan dapat menjangkau lebih banyak rumah tangga dibandingkan dengan
conventional gravity sewerage yang diperuntukkan untuk sistem terpusat.

Sistem Penyaluran Air Limbah

Secara hidrolis, pengaliran air limbah dapat dilakukan secara gravitasi, bertekanan, dan vakum.
1. Gravitasi
Pada sistem ini, penyaluran air limbah memanfaatkan gaya gravitasi berdasarkan topografi yang
ada di daerah perencanaan.

2. Bertekanan

Sistem ini menggunakan pipa bertekanan yang memanfaatkan pompa dalam penyaluran air limbah.
Metode ini dilakukan apabila penyaluran air limbah secara gravitasi tidak memungkinkan

3. Vakum

Metode ini menggunakan pompa vakum dimana diciptakan suatu kondisi hampa udara pada tempat
aliranakan diarahkan.

Sistem penyaluran air limbah dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu conventional sewerage,
simplified sewerage, dan solid-free sewerage (Tilley dkk, 2008):

1. Conventional Sewerage
Conventional Sewerage atau juga bisa disebut conventional gravity sewerage adalah jaringan
pipa bawah tanah yang menyalurkan pipa dari masingmasing rumah menuju pengolahan
terpusat dengan aliran gravitasi dan pompa jika diperlukan. Conventional sewer tidak
membutuhkan pre-treatment di sumber terlebih dahulu (onsite treatment / pengolahan
setempat). Karena tidak ada pengolahan di sumber, maka desain sistem ini harus dipastikan
telah memenuhi kecepatan minimum untuk selfcleansing.
2. Simplified Sewerage / Shallow Sewer
Simplified sewerage adalah sistem penyaluran air limbah yang menggunakan diameter pipa
kecil, ditanam pada kedalaman yang dangkal dengan kemiringan lebih landai dibandingkan
dengan conventional sewer. Manhole dapat diganti dengan lubang inspeksi. Sistem ini dipasang
dalam satu area atau kawasan sehingga dapat mencakup lebih banyak sambungan. Diameter
minimum yang disarankan adalah 100 mm.
Kelebihan dari sistem ini antara lain:
- Biayanya lebih murah daripada conventional sewer
- Dapat menjangkau lebih banyak penduduk yang belum memiliki sistem sanitasi,
- Dapat dikembangkan dan diadaptasi mengikuti pertumbuhan penduduk atau komunitas
tersebut.
Kekurangan dari sistem ini adalah:
- Membutuhkan perencanaan dan konstruksi dari orang yang ahli,
- Perlu dibentuk organisasi atau kepanitiaan untuk memelihara sistem penyaluran ini,
- Membutuhkan perbaikan rutin dan pembersihan sumbatan yang lebih sering daripada system
konvensional. Menurut UNCHS Habitat (1986) padatan dalam air limbah tidak akan dapat
mengendap pada kecepatan di bawah 0,3 m/detik. Kecepatan minimum yang disarankan untuk
self-cleansing adalah 0,5 m/detik.
3. Solid-Free Sewerage / Small Bore Sewerage

Solid-free sewerage mirip dengan simplified sewerage namun dengan pipa dipasang pada outflow tangki
septik. Dengan adanya pengendapan pada tangk septik maka resiko penyumbatan berkurang, saluran
tidak harus self-cleaning (minimum 0,3 - 0,5 m/s) dan dapat ditanam dengan kedalaman dangkal dan
mengikuti topografi. Diameter minimal untuk pipa adalah 10 cm.

Kelebihan sistem ini adalah

- Cocok untuk daerah dengan kepadatan tinggi yang tidak memiliki area resapan,

- Dapat membawa debit saat terisi penuh maupun setengah penuh,

- Biaya lebih murah dari sistem konvensional karena mengurangi panjang pipa, penggalian lebih dangkal,
biaya kebutuhan material lebih rendah

Kekurangan dari sistem ini adalah membutuhkan tenaga ahli dan beberapa material khusus.

Pengolahan Air Limbah

Menurut Tchobanoglous (2014) pengolahan air limbah dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam
pengolahan, yaitu fisik,kimia, dan biologi.

Pengolahan Fisik

Pengolahan secara fisik memanfaatkan proses fisik secara alami. Biasanya proses ini dilakukan pada awal
proses pengolahan. Proses pengolahan secara fisik meliputi screening, sedimentasi, flokulasi, flotasi,
filtrasi, dan adsorpsi.

Pengolahan Kimia

Pengolahan secara kimia menggunakan penambahan zatzat kimia maupun reaksi kimia untuk
menyisihkan polutan. Pengolahan secara kimia yang umum digunakan antara lain presipitasi, transfer
gas, adsorpsi dan desinfeksi.

Pengolahan Biologis

Pengolahan air limbah secara biologis mengolah air limbah dengan bantuan aktivitas biologis.
Pengolahan biologis digunakan untuk menyisihkan patikel koloid dan senyawa organic terlarut yang ada
dalam air limbah. Berdasarkan kebutuhan oksigen, pengolahan biologis dapat dibagi menjadi 2 macam,
yaitu pengolahan secara aerobic dan pengolahan secara anaerobik.

a. Pengolahan Secara Aerobik


Pengolahan secara aerobik sangat bergantung pada mikroorganisme, sehingga harus
menyesuaikan dengan kebutuhan oksigen (Tchobanoglous, 2014). Pada kondisi aerob
mikroorganisme mengambil oksigen dari udara dan makanan dari bahan organik. Bahan organik
tersebut dikonversi menjadi produk metabolisme biologi berupa CO2, H2O, dan energi (Fitria,
2008). Teknologi pengolahan aerobic yang sering diterapkan adalah sistem lumpur aktif Karena
memiliki efisiensi penyisihan tinggi dan kemudahan dalam operasionalnya (Kassab dkk, 2010).
b. Pengolahan Secara Anaerobik
Pengolahan secara anaerobic ini memanfaatkan kondisi tanpa oksigen sehingga cocok untuk
mengolah air limbah dengan beban yang besar. Keuntungan dari pengolahan secara anaerobic
sebagai alternative pengolahan antara lain kemudahan konstruksinya, mudah dioperasikan
dengan biaya efisien, produksi lumpur kecil, dapat menghasilkan energi dalam bentuk biogas
dan dapat diaplikasikan dalam skala besar maupun kecil (Kassab dkk, 2010).

Pengolahan

Teknologi pengolahan limbah yang paling banyak digunakan di sistem pengolahan limbah skala
kawasan di Indonesia adalah Anaerobic Baffled Reactor (ABR) (WSP, 2013). Teknologi ini dipilih karena
memiliki beberapa kelebihan seperti biaya operasional yang rendah, efisiensi pengolahan tinggi, tidak
memakan banyak lahan karena dapat dibangun di dalam tanahn(Tilley, dkk 2014). Salah satu kelemahan
dari ABR adalah dapat terbawanya suspended solid ke outlet. Diperlukan suatu media filter pada
kompartemen akhir untuk menahan suspended solid agar tidak ikut terbawa keluar outlet. Oleh karena
itu, pada tugas akhir ini sistem pengolahan untuk skala komunal yang digunakan adalah anaerobic
baffled reactor dengan kombinasi anaerobic filter.

Pengertian Anaerobic Baffled Reactor (ABR) adalah Tangki septik yang lebih baik, terdiri dari
beberapa seri dinding antar/sekat yang menyebabkan air limbah yang datang tertekan untuk mengalir.
Kontak waktu yang lama dengan biomassa/lumpur aktif menghasilkan pengolahan yang lebih baik.
Prinsip kerja reaktor filter anaerob ini sama saja dengan AGR aerob, yang membedakan adalah kondisi
operasionalnya yang bersifat anaerob. Struktur reaktor ini terdiri dari tangki anaerob yang memiliki
lapisan media terendam sebagai tempat melekatnya mikroorganisme. Material lekat dapat berupa
kerikil, arang, atau plastik dengan bentuk (desain) tertentu yang menyediakan luas area yang besar
untuk tempat tumbuh bakteri. Semakin luas area tumbuh/lekat maka semakin cepat proses pengolahan
berlangsung.

Umumnya, sama seperti pada aerobic AGR, filter anaerob tersusun dari lapisan batuan/media lekat
berukuran besar di bagian paling bawah diikuti dengan media yang berukuran kecil di bagian yang lebih
atas. Akan tetapi, biasanya pada reaktor dengan media lekat berupa plastik ukuran media akan seragam
seluruhnya.

Di lapangan terdapat beragam jenis reaktor filter anaerob. Variasi ini tergantung dari:

Arah aliran air limbah (upflow atau downflow)


Distribusi air limbah di dalam sistem
Support material (media lekat bakteri)
Sistem ekspansi media (fixed atau fluidized/moving bed)
Konfigurasi outlet reaktor

Sebelum masuk ke dalam reaktor jenis ini, air limbah harus mengalami tahap pengolahan pendahuluan
berupa penyisihan padatan terlarut (suspended solids, SS) agar nantinya tinggal padatan terlarut
(dissolved solids) saja yang diolah di dalam reaktor filter anaerob. Hal ini bertujuan untuk
memperlambat terjadinya penyumbatan (clogging) di antara media penyaring. Sebelum dioperasikan,
diperlukan adanya proses start up. Proses ini merupakan proses dimana dilakukan seeding (input bakteri
ke dalam reaktor) agar diperoleh jumlah mikroorganisme yang stabil dan memadai serta dapat melekat
pada media penyangga.

Kelebihan yang dimiliki oleh Anaerobic Baffled Reactor (ABR)

1. Konstruksi
desainnya sederhana,
tanpa pengadukan mekanik,
biaya konstruksi rendah,
mengurangi terjadinya clogging,
biaya operasi dan pemeliharaan rendah.
2. Biomassa
tidak membutuhkan adanya lumpur granular (granular sludge)
tidak memerlukan biomassa dengan pengendapan khusus
pertumbuhan sludge rendah
solid retention time tinggi
tidak memerlukan fixed media
tidak memerlukan gas tertentu ataupun solid separation.
3. Pengoperasian
hydroulic retention time rendah,
memungkinkan pengoperasian secara intermitten,
stabil terhadap hydroulic shock loads,
pengoperasiannya panjang tanpa pembuangan lumpur,
tingkat stabilitas tinggi terhadap organik shock.

Kelebihan Anaerobik Filter

Tahan terhadap shock loading (organic maupun hydraulic)


Produksi lumpur rendah
Kebutuhan energi listrik relatif rendah (karena tidak memerlukan pengadukan)
Tidak menimbulkan masalah bau maupun lalat
Sesuai untuk aplikasi onsite dengan menggunakan material yang tersedia (batuan, kerikil,
arang)
Dapat dibangun dengan struktur tower, sesuai untuk lokasi dengan luas lahan terbatas
Menyisihkan padatan terlarut secara efektif

Sistem pembuangan air limbah dapat dikategorikan ke dalam: (1) Sistem pembuangan air
limbah individu (individual sewage disposal system); (2) Sistem pembuangan air limbah
perkotaan (municipal sewage disposal system). Pembuangan air limbah individu melayani
perumahan, sekolah, kampus, institusi, fasilitas pemukiman wisatawan, dan beberapa tempat
lain yang tidak didapat sistem pembuangan limbah kota. Sedangkan sistem pembuangan air
limbah kota tergolong sistem pengolahan air limbah terpadu sebagai pusat pengolahan mulai
awal sampai pembuangan akhir limbah untuk melayani seluruh masyarakat warga kota.

Sistem pembuangan air limbah individu ada yang berbentuk kolam resapan (cesspool), dan
bentuk septic tank. Sistem pembuangan air limbah individu harus dibuat dengan pertimbangan
tidak mencemari sumber air minum atau menjadi sarang yang menarik bagi vektor, demikian
juga tidak menimbulkan bau. Sistem yang menggunakan septic tank adalah yang paling
dianjurkan. Sistem ini adalah menyatukan pembuangan excreta dan air limbah ke dalam 'septic
tank Pembuangan air limbah secara individu disebut juga onsite waste water treament
(pengolahan air limbah setempat)

Kolam limbah (Cesspool)

Bentuk pembuangan air limbah bentuk kolam limbah atau kolam resapan sesungguhnya tidak
dianjurkan, tetapi untuk beberapa daerah yang memungkinkan misalnya masih banyak dijumpai
lahan yang luas, kolam limbah masih dapat diterima. Cara kerja kolam limbah adalah kebalikan
dari sumur. Air limbah yang tidak diolah dimasukkan ke dalam suatu lubang di dalam tanah,
sehingga air meresap melalui dindingnya ke dalam tanah di sekitarnya. Dinding biasanya dilapisi
dengan pasangan batu bata atau batu tanpa diberi matriks perekat (adukan semen-pasir) untuk
memudahkan peresapan. Dalam usia tertentu, dinding kolam akan tersumbat (clogging),
sehingga tidak lagi mampu meresapkan air. Apabila hal ini terjadi maka harus dibuat kolam
limbah yang baru sementara yang lama ditu-tup. Clogging akan menjadi lebih lama tidak terjadi
apabila dinding kolam sebelah luar diberi kerikil kasar dengan ketebalan 6 inci. Kolam limbah ini
berbahaya apabila dibangun pada tanah berkapur, sebab air ko-tor yang tak tersaring akan
masuk ke dalam lapisan air tanah melalui celah yang panjang atau dalam yang biasa dijumpai
pada tanah berkapur. Terhadap air tanah yang dangkal kolam ini juga berbahaya karena lebih
mudah mengontaminasi. Kolam yang tidak tertutup akan menjadi sarang atau tempat
perindukan nyamuk.

Bak Pengurai (septic tank)

Septic tank adalah pengolah air limbah sederhana dalam konstruk-sinya, dan hanya
memerlukan sedikit perhatian dalam pengoperasian-nya. Harus dipahami, bahwa septic tank
tidak berperan sebagai sewage purifier, tetapi hanya menurunkan kadar kandungan bahan
organik yang dapat berdegradasi didalamnya. Air buangannya masih mungkin mengandung
bakteri patogen. Air limbah dimasukkan ke dalam septic tank dan ditahan dan sedapat mungkin
tidak bergerak (mengalir) selama sekitar 24 jam pada septic tank rumah tangga. Selama
periode penahanan (retention period) tersebut 60-70 % padatan terlarut dicernak menjadi
lumpur (sludge) yang terakumulasi pada da-sar tanki, sedangkan air hasil pengolahan diresapkan
ke tanah sekitar yang jauh dari sumber air minum

Sistem pembuangan air limbah perkotaan


Sistem pengolahan air limbah perkotaan umumnya dilakukan untuk melayani sekelompok
perumahan dalam suatu kota, sekalipun tidak menutup kemungkinan masyarakat perkotaan
masih tetap mem-pertahankan mengolah air limbahnya secara individu menggunakan sistem
septic tank. Berbagai metode telah dikembangkan untuk menghi-langkan berbagai bentuk
polutan yang terkandung didalamnya. Sistem pengolahan air limbah perkotaan pada umumnya
mengikuti prinsip pengolahan secara fisik, biologis, dan kimia.