Anda di halaman 1dari 14

PENGAMATAN ASAM MALAT PADA TUMBUHAN CAM

Oleh:
Sekar Tyas Pertiwi B1A016080
Eliningsih B1A016081
Riama Kustianingrum B1A016082
Heri Priyanto B1A016091
Rombongan :I
Kelompok :1
Asisten : Rezti Arvina Widyaputri

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN I

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tumbuhan adalah mahluk hidup yang dapat membuat makanannya sendiri


dengan fotosintesis. Ada 3 jenis tumbuhan dilihat dari cara berfotosintesis dan gula
yang dihasilkan. Tipe pertama adalah tumbuhan C3. C adalah lambing kimia untuk
karbon, yang berarti tanaman tersebut menghasilkan gula berkarbon 3. Sekitar 80%
tumbuhan di dunia menggunakan proses ini. Mereka mengambil CO2 saat siang hari.
Jenis kedua adalah tumbuhan C4. Sesuai dengan tipenya, tumbuhan ini menghasilkan
gula berkarbon 4. Tumbuhan tipe C4 ini juga mengambil CO2 pada siang hari. Ada
kurang lebih 15% tumbuhan yang mengunakan tipe ini. Tipe crassulacean acid
metabolism (CAM) merupakan tipe yang terakhir. Tanaman ini mengambil CO2 pada
malam hari dan mengunakannya untuk fotosistensis pada siang harinya. Meski tidak
mengeluarkan oksigen di malam hari, namun dengan memakan CO2 yang beredar,
tanaman ini sudah membantu kita semua menghirup udara bersih, lebih sehat,
menyejukkan dan menyegarkan bumi, tempat tinggal dan ruangan. Tumbuhan CAM
yang dapat mudah ditemukan adalah nanas, kaktus, dan bunga lili (Budiarti, 2008).
Tumbuhan CAM (Crassulation Acid Metabolisme) pada dasarnya adalah
tumbuhan sukulen yaitu tumbuhan yang berdaun atau berbatang tebal yang
bertranspirasi rendah. Dalam kondisi kering, stomatanya pada malam hari akan
terbuka untuk mengabsorbsi CO2 dan menutup pada siang hari untuk mengurangi
transpirasi. Fiksasi CO2 tanaman CAM sama seperti tanaman C4, hanya saja
terjadinya pada malam hari dan energi yang dibutuhkan diperoleh dari glikolisis.
Namun dalam kondisi cukup lemah, banyak spesies CAM mengubah fungsi
stomata dan karboksilasi seperti tumbuhan C3. Tumbuhan CAM (Crassulation
Acid Metabolisme) juga mempunyai metode fisiologis untuk mereduksi
kehilangan air dan menghindari kekeringan (Salisburry, 1998).
Jenis asam banyak ditemukan pada beberapa jenis tanaman, terutama
tanaman buah-buahan. Asam-asam ini terdapat dalam jumlah kecil dan merupakan
hasil antara (intermediete) dalam metabolisme, yaitu dalam siklus kreb (siklus asam
trikarboksilat), siklus asam glioksilat, dan siklus asam shikiamat. Rasa asam yang
ada juga dapat disebabkan oleh adanya vitamin C. Buah yang mempunyai kandungan
gula tinggi biasanya juga disertai adanya asam. Pada buah klimaterik, asam organik
menurun segera setelah proses klimaterik terjadi. Jumlah asam akan berkurang
dengan meningkatnya aktivitas metabolism buah tersebut. Selama penyimpanan
keasaman buah bervariasi tergantung tingkat kematanggan, jenis dan suhu
penyimpanan. Biasanya buah yang masih muda memiliki kandungan asam yang
lebih tinggi (Andrawulan & Koswara, 1992).

B. Tujuan

Tujuan acara praktikum pengamatan asam malat pada tumbuhan CAM kali
ini adalah untuk mengetahui fluktuasi kandungan asam malat pada tanaman CAM.
II. TELAAH PUSTAKA

Tumbuhan CAM adalah tumbuhan yang dapat berubah seperti tumbuhan C3


pada saat pagi hari (suhu rendah) dan dapat berubah seperti tumbuhan C4 pada siang
dan malam hari (Gardner, 1991). Tumbuhan CAM merupakan tumbuhan yang
membuka stomata pada malah hari dan menutup pada siang hari. Tumbuhan CAM
mengambil CO2 pada malam hari dan menggunakannya untuk fotosintesis pada
siang hari. Tumbuhan ini memiliki laju fotosintesis yang rendah bila dibandingkan
dengan tananaman C3 dan C4. Tumbuhan CAM yang mudah ditemukan adalah
nanas, kaktus dan bunga lili (Lakitan, 2004).
CAM merupakan adaptasi fotosintetik yang paling penting. Adaptasi
fotosintetik berguna untuk kondisi yang gersang telah berkembang pada tumbuhan
sukulen (tumbuhan penyimpanan air), bermacam-macam kaktus, nanas dan
perwakilan beberapa familia tumbuhan lainnya. Tumbuhan-tumbuhan ini membuka
stomatnya pada malah hari dan menutupnya pada siang hari, yang merupakan seperti
kebalikan perilaku tumbuhan lain. Menutupnya stomata pada siang hari membantu
tumbuhan gurun menghemat air, tetapi juga mencegah CO2 memasuki daunnya.
Selama malam hari, ketika stomata terbuka, tumbuhan ini mengambil CO2 dan
memasukkannya ke dalam berbagai asam organik. Cara fiksasi karbon ini disebut
metabolisme asam krasulase atau crassulacean acid metolism (CAM) (Campbell,
2000).
Asam malat pada tumbuhan dihasilkan dari dua tahap terakhir siklus asam
sitrat (siklus Krebs), dimana terjadi reaksi fumarat menjadi malat. Malat yang
terbentuk selanjutnya dioksidasi oleh enzim Malat Dehidrogenase (MDH) dengan
bantuan kofaktor organic Nikotinamid Adenin Dinukleotida (NAD+) menjadi oksalo
asetat dan menghasilkan satu molekul NADH.
Fumarat + H2O Malat
Malat+ NAD+ OAA + NADH + H+
Metode pengukuran asam malat dapat dilakukan dengan cara titrasi dan enzimatik.
Pengukuran melaui titrasi menggunakan Phenolphtalin 1% sebagai indicator asam
dan NaOH 0.01 N sebagai titernya, tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan
karena terdapat beberapa kekurangan seperti penetapan warna titrasi yang terlalu
subjektif dan sensitifitas serta akurasinya yang rendah (Fajarwati, 2007).
Perbedaan antara tumbuhan C3 dengan C4 berdasarkan pengamatan anatomi
dapat diketahui dengan keberadaan seludang pembuluh ketika dibuat sayatan secara
melintang. Potongan melintang daun C3 menunjukkan mayoritas sel yang
mengandung kloroplas, mesofil. Sebaliknya, C4 memiliki dua tipe sel yang
mengandung kloroplas, mesofil dan bundle sheath (Taiz & Eduardo, 2002).
Tumbuhan C4 cenderung memiliki suhu optimum yang lebih tinggi (30-450C)
dibandingkan tumbuhan C3 (20-250C). Tidak seperti tumbuhan C3, fotosintesis pada
C4 tidak terhambat oleh oksigen dan memiliki CO2 compensation point yang lebih
rendah. CO2 compensation adalah banyaknya konsentrasi CO2 yang diambil untuk
fotosintesis dengan CO2 yang digunakan untuk respirasi. C3 berkisar antara 20
hingga 100 l CO2 per liter sedangkan C4 berkisar 0 hingga 5 l l-1 (Hopkins &
Norman, 2008).
Jaringan parenkim fotosintetik C3 tersusun dari dua jenis jaringan, palisade
dan bunga karang yang memiliki rongga daun yang lebar. Daun C4, umumnya lebih
tipis dari C3, pembuluh vaskuler lebih rapat dan rongga daun lebih sempit. Contoh
adalah Poa sp. (a grass). Contoh tumbuhan C4 adalah tebu (Saccharum ofcinarum),
sorghum (Sorghum bicolor), jagung (Zea mays). Contoh tumbuhan CAM antara lain
bangsa kaktus dan nanas, euphorbiaceae. Anatomi C4 memungkinkan penangkapan
CO2 secara terpisah berbeda dengan C3, sedangkan ada CAM semuanya, Calvin dan
Fotosistem, terjadi pada sel yang sama dan terjadi pada waktu yang berbeda. Pada
CAM, tidak ada siklus tertutup seperti pada C4, dan pada kondisi air yang cukup
serta suhu tidak terlalu tinggi, CAM akan berlaku seperti C3, kemampuan ini
berkenaan dengan rasio transpirasi untuk CAM berkisar antara 50-100, dimana lebih
rendah dari C3 dan C4, yang memungkinkan untuk hidup di lingkungan ekstrim.
Rasio transpirasi C4 secara umum 200-350 sedangkan C3 500-1000 (Hopkins &
Norman, 2008).
Perlakuan konsentrasi asam malat memberikan pengaruh yang nyata
(=0.05) pada hasil analisis aktivitas antioksidan, total fenol, vitamin C, pH, total
asam, kelarutan, kecepatan kelarutan, derajat kecerahan (L*), derajat kemerahan
(a*), dan derajat kekuningan (b*). Sedangkan perlakuan suhu proses memberikan
pengaruh yang nyata (=0.05) pada hasil analisis kadar air, aktivitas antioksidan,
total fenol, vitamin C, derajat kecerahan (L*), derajat kemerahan (a*), dan derajat
kekuningan (b*). Hasil perlakuan terbaik berdasarkan parameter fisik dan kimia
adalah perlakuan konsentrasi asam malat 20 % dengan suhu proses pada suhu
freezer yang menghasilkan nilai kadar air 8.73 %, aktivitas antioksidan 63.33 %,
total fenol 34.74 mgGAE/100g, vitamin C 27.42 mg/100g, pH 4.48, total asam 0.35
%, kecepatan larut 5.14 detik/gram, kelarutan 98.53 % dan kecerahan warna 40.50.
Sedangkan perlakuan terbaik berdasarkan parameter organoleptik adalah perlakuan
konsentrasi asam malat 30 % dengan suhu proses pada suhu refrigerator yang
menghasilkan nilai warna serbuk 5.60, warna minuman 5.55, rasa minuman 5.85
dan aroma minuman 5.80 (Regiarti, 2015)
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah enlenmeyer, buret,
statif, pipet tetes, gelas ukur, cutter atau gunting, kertas saring, kompor, ice box
atau freezer, alat tulis dan label.
Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah potongan daun
nanas, larutan NaOH 0,01 N, indikator pp dan aquadest.

B. Metode
Cara kerja dalam praktikum kali ini :
1. Sampel daun pada pukul 06.00, 09.00, 12.00, 15.00, 18.00, 21.00, 24.00 dan
03.00 ditimbang masing-masing sebanyak 1 gram, selanjutnya daun diiris-iris
dengan luas 1 mm2.
2. Sampel daun yang telah diiris-iris dimasukkan ke dalam enlermeyer 100 ml,
lalu ditambah dengan akuades sebanyak 20 mL. Ekstrasi dilakukan dengan
cara pemanasan selama 15 menit. Ekstrak dituang ke dalam enlenmeyer lain.
Ekstrasi diulangi dengan 10 mL akuades hingga sampel tampak berwarna
putih atau tidak berwarna.
3. Ekstrak dikumpulkan hingga volume ekstrak mencapai 50 mL. Apanila
volume ekstrak kurang dari 50 mL, maka ditambahkan akuades hingga
volume ekstrak 50 mL.
4. Ekstrak diambil sebanyak 10 mL dan ditambahkan 1% indikator pp sebanyak
5 tetes. Ekstrak dititrasi dengan NaOH 0,01 N, titrasi dihentikan jika
mencapai titik titrasi (terjadi perubahan warna merah jambu).
5. Kadar asam malat kemudian dihitung dengan rumus:
% asam malat = V x N x FP x 67 x 100%
W
Keterangan:
V = Volume NaOh
FP = Faktor pengenceran (bila ada)
W = Berat sampel
N = Normalitas NaOH
67 = Nilai kesetaraan asam mal
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 3.1. Kandungan Asam Malat pada Daun Nanas Rombongan I


Jam % Asam Malat Kelompok
06.00 167,5 % 1
09.00 160,8 % 2
12.00 234,5 % 4
15.00 221,1 % 4
18.00 33,5 % 1
21.00 174,2 % 2
24.00 134 % 5
03.00 174,2 % 3

Grafik 3.1. Kandungan Asam Malat pada Daun Nanas Rombongan I

% Kandungan Asam Malat


250

200
% asam malat

150

% Asam Malat
100

50

0
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00 21.00 24.00 03.00
Waktu
Gambar 3.1. Ekstrak Daun Nanas Sebelum Tritrasi

Gambar 3.2. Ekstrak Daun Nanas Setelah Titrasi


B. Pembahasan

(hasil vs pustaka)
Tumbuhan CAM mengikat CO2 menjadi asam beratom C-4 dengan PEP
karboksilase seperti tumbuhan C4, hanya bedanya terjadi pada malam hari saat
stomata terbuka dan energi yang diperlukannya diperoleh dari proses glikolisis.
Radiasi matahari pada siang hari menyebabkan penutupan stomata dan penyinaran
daun, energi ini digunakan untuk menjalankan siklus Calvin, yaitu dengan
mengambil CO2dari asam beratom C-4 seperti pada reaksi di dalam sel-sel seludang
ikatan pembuluh tumbuhan C4. Kloroplas tumbuhan CAM lebih mirip dengan
kloroplas tumbuhan C3. Dalam kelembaban yang menguntungkan, banyak
tumbuhan CAM berubah fungsi stomatanya dan karboksilasinya serupa dengan
tumbuhan C3 (Gardner, 1991).
Perilaku stomata yang unik pada tumbuhan CAM mempengaruhi
metabolisme CO2 yang berlangsung pada tumbuhan ini, selain itu terdapat pula sifat
metabolik yang istimewa dan keunikan dari tumbuhan CAM adalah pembentukan
asam malat yang berlangsung pada malam hari dan penguraiannya pada siang hari.
Pembentukan asam malat pada malam hari terlacak melalui rasa masam, diikuti
dengan penguraian gula, pati, atau polimer glukosa yang mirip dengan pati
(Salisbury & Ross, 1995).
PEP karboksilase di sitosol tumbuhan CAM merupakan enzim yang
berperan dalam penambatan CO2 menjadi malat pada malam hari (berlawanan
dengan aktivitasnya yang rendah pada siang hari, seperti pada tumbuhan C4 pada
saat gelap), tapi rubisko menjadi aktif pada siang hari, seperti pada tumbuhan C3
dan C4. Peranan rubisko serupa dengan fungsinya di berkas tumbuhan C4, yaitu
menambat kembali O2 yang hilang dari asam organik, seperti misalnya asam malat
(Salisbury & Ross, 1995).
Saat gelap (malam hari), pati dirombak melalui reaksi glikolisis sampai PEP
terbentuk. CO2 (lebih tepatnya HCO3-) bereaksi dengan PEP membentuk asam
oksaloasetat dengan bantuan enzim PEP karboksilase, yang kemudian direduksi
menjadi asam malat oleh bantuan enzim malat dehidroginase yang bergantung pada
NADH. Ion H+ dari asam malat diangkut ke vakuola pusat yang besar oleh ATPase
dan pompa pirofosfatase dan ion malat mengukuti H+ ke dalam vakuola. Disini,
asam malat terhimpun kadangkala bahkan mencapai konsentrasi 0,3 M atau lebih
sampai fajar tiba. Selama siang hari, asam malat berdifusi secara pasif keluar dari
vakuola dan di dalam sitolol asam malat didekarboksilasi untuk membebaskan
kembali CO2 oleh salah satu atau lebih dari tiga mekanisme yang juga terdapat pada
seludang berkas tumbuhan C4. Mekanismenya bergantung terutama pada spesies
tumbuhan CO2yang dilepaskan menjadi sangat terkonsentrasi di dalam sel.
CO2kemudian difiksasi kembali (tanpa fotorespirasi) oleh rubisko menjjadi 3-PGA
pada siklus Calvin yang kemudian mengarah kepada pembentukan sukrosa, pati dan
produk fotosintesis lainnya (Salisbury & Ross, 1995).
Jadi tumbuhan CAM mula-mula menggunakan PEP karboksilase dan
NADPH-malat dehidroginase untuk membentuk asam malat, kemudian
mendekarboksilasi asam tersebut untuk melepaskan CO2 dengan salah satu dari tiga
mekanisme, lalu menambat kembali CO2 menjadi produk siklus Calvin dengan
bantuan rubisko. Pada tumbuhan CAM, kedua proses tersebut terjadi pada sel yang
sama, namun satu proses terjadi pada malam hari, sedangkan yang lainnya pada
siang hari. Vakuola pusat yang besar menyimpan asam malat, jika tidak akan
menyebabkan pH sitoplasma terlalu rendah pada malam hari. Permeabilitas tonoplas
yang rendah terhadap H+ hasil ionisasi asam malat di vakuola pastinya sangat
penting, sebab pH vakuola sering mencapai 4 pada malam hari (Salisbury & Ross,
1995).
Laju fotosintesis berbagai tumbuhan yang tumbuh pada berbagai daerah
yang berbeda seperti gurun kering, puncak gunung dan hujan tropika sangatlah
berbeda. Perbedaan ini sebagian disebabkan oleh adanya keragaman air, tetapi tiap
tumbuhan menunjukkan perbedaan yang besar pada konsentrasi khusus yang
optimum bagi mereka. Tumbuhan yang tumbuh pada lingkungan yang kaya sumber
daya mempunyai kapasitas fotosintesis yang jaun lebih tinggi daripada tumbuhan
yang tumbuh pada lingkungan dengan persediaan air, hara dan cahaya yang
terbatas. Tumbuhan sukulen tumbuh lambat termasuk yang paling lambat laju
fotosintesisnya (Salisbury & Ross, 1995).
Menurut Lakitan (2004), faktor yang mempengaruhi laju fotosintesis terbagi
dua yaitu:
1. Faktor genetik
2. Faktor lingkungan
Asidifikasi tanaman nocturnal pada tumbuhan CAM merupakan rangkaian
proses fiksasi karbondioksida dari atmosfer untuk membentuk asam C4 melalui
reaksi-reaksi enzimatik. Reaksi-reaksi enzimatik tersebut antara lain karboksilasi
PEP di dalam oksaloasetat oleh enzim PEP karboksilase; reduksi oksaloasetat
menjadi malat oleh malat dehidrogenase; penyimpanan malat kedalam vakuola
sebagai asam malat. Saat masa terang, asam malat yang disimpan ini dipindahkan ke
dalam sitoplasma, dan sebagian yang lain terdekarboksilasi atau digunakan dalam
respirasi mitokondria (Rainha et al., 2006).
IV. KESIMPULAN DANSARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:


1.

B. SARAN

Saran untuk praktikum kali ini adalah sebaiknya saat melakukan


pemanasan, wadah yang digunakan tidak menggunakan panci yang terlalu besar
dan terlalu dalam karena saat pemanasan erlenmeyer yang dimasukkan ke dalam
panci sempat terbalik sehingga air yang digunakan untuk merebus ekstrasi ikut
masuk ke dalam enlermeyer. Selain itu, sebaiknya disediakan penjepit untuk
mengangkat ekstrasi yang telah direbus.
DAFTAR REFERENSI

Andarwulan, N. & Koswara, S. 1992. Kimia Vitamin. Jakarta: Rajawali.


Budiarti. 2008. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia.
Campbell, N. A. 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Fajarwati, I. 2007. Sekresi Asam Organik pada Tanaman Padi yang Mendapat
Cekaman Alumunium. Bogor: Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor.

Gardner. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta: UI Press.

Hopkins, W. G. & Norman, P. A. H. 2008. Introduction to Plant Physiology: Fourth


Edition. Hoboken: JohnWiley & Sons, Inc.
Lakitan. 2004. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Rajawali Grafindo.
Rainha, N., Medeiros, V. P., Ferreira, C., Raposo, A., Leite, J. P., Cruz, C., Pacheco, C. A.,
Ponte, D., & Silva, A. B., 2016. Leaf Malate and Succinate Accumulation are Out
of Phase throughout the Development of The CAM Plant Ananascomosus. Plant
Physiology and Biochemistry, 1(100), pp. 47-51.
Regiarti, U. & Wahono, H. S. 2015. Pengaruh Konsentrasi Asam Malat dan Suhu
terhadap Karakteristik Fisik Kimia dan Organoleptik Effervescent Ekstrak
Daun Mengkudu (Morinda citrifolia L.). Jurnal Pangan dan Agroindustri,
3(2), pp. 638-649.
Salisbury, F. B. & Ross, C. W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. Bandung: ITB.
Salisbury, F. B. & Ross, C. W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Bandung: ITB.
Taiz, L. & Eduardo, Z. 2002. Plant Physiology: 3rd Edition. USA: Sinauer
Associates.