Anda di halaman 1dari 21

Contoh Cerpen

Arin berasal dari keluarga yang cukup harmonis yang terdiri dari ayah ibu dan dengan 2
anak perempuan mereka yaitu Arin dan Raty. Karena keterbatasan dana, sejak SMP Arin
sudah bersekolah jauh dari orang tuanya. Dia tinggal bersama saudara dikeluarga ibunya.
Seringkali ia merasa ingin bersekolah bersama keluarga, ibu, ayah dan 1 adiknya. Tapi
sayangnya, ia sudah terlanjur meminta kepada orang tuanya untuk tinggal dan bersekolah
dengan bibinya yang tinggal sangat jauh dari tempatnya berada.

Tiga tahun sudah berlalu, Arin meminta kepada orangtuanya supaya setelah lulus SMP ia
melanjutkan kesekolah negeri dekat dengan orang tuanya. Permintaan itu dikabulkan oleh
ibunya tetapi ayahnya sedikit keberatan. kenapa kamu pindah, Rin ? apakah ada masalah
di sekolahmu sehingga kamu ingin pindah? tanya ayahnya. Tidak yah, Arin ingin
pindah sekolah karna Arin ingin mencari pengalaman lebih banyak lagi di sekolah lain
jawab Arin. Lalu bagaimana dengan bibi mu, apakah dia setuju dengan keputusanmu
itu? tanya ayahnya. Dengan berat hati Arin menjawab, Aku belum bicara kepad bibi,
tetapi pasti aku akan mengatakan padanya segera

Arin sebenarnya tahu jika orang tuanya merasa keberatan bukan karena dia harus tinggal
bersama bibinya. Namun karena mereka tidak mampu untuk mensekoahkan Arin di sana.
Arin pun bimbang dan ragu. Di satu sisi dia ingin kumpul lagi bersama orang tuanya, di
sisi lain dia tahu ayahnya tak punya uang untuk menyekolahkannya. Hari demi hari
berlalu, Arin semakin rindu kepada keluarga kecilnya. Tak jarang dia selalu menangis
hingga larut malam.

Bibi Arin pun menyadari apa yang Arin rasakan saat ini. Kamu kenapa nak? tanya
bibinya. Aku baik-baik saja kok bulek, aku hanya sedang kelelahan, jawab Arin.
Sebenarnya Bibinya pun sudah mengetahui apa yang sedang Arin rasakan tetapi dia tak
mau menambah beban Arin saat ini. Nak bibi akan selalu mendoakanmu, Bibi juga akan
selalu mendukung apa yang ingin kau lakukan, berusahalah dengan giat untuk
mendapatkan keinginanmu, nasehat bibinya. Setelah mendapatkan nasehat itu, Arin
menjadi semangat. Meskipun Arin belum membicarakan masalah kepada bibinya, dia
tahu bahwa bibinya akan selalu mendukungnya.

Beberapa hari setelah itu, Arin mendapat kabar bahwa sekolah SMAN 1 Bumi Putera di
dekat rumah orang tuanya mengadkan lomba pidato dan pemenangnya akan diterima
bersekolah disana dan mendapatkan beasiswa. Arin pun mengikuti lomba pidato itu dan
akhirnya keluar sebagai pemenang. Dia pun memberitahukan kabar gembira itu kepada
orang tua dan Bibinya.

Pada awalnya mereka belum menyetujuinya. Namun setelah mendapatkan penjelasan dari
Arin, akhirnya permintaanny diperbolehkan oleh orangtua dan bibinya. Tapi sayang,
pihak sekolah sempat menahan Arin karena prestasi-prestasi dari dirinya. Sekolah tidak
mengizinkan Arin pindah ke SMA lain karna ia membawa prestasi cemerlang. Tetapi
setelah mendesak kepala pimpinannya, akhirnya Arin diperbolehkan pindah. Ia sangat
senang sekali. Ia juga sedih ketika ia berpamitan dengan teman-temannya yang sayang
padanya. Arin berpesan kepada teman-temannya untuk selalu semangat dan giat dalam
belajar dan juga tidak melupakannya.

Ketika masuk tahun ajaran baru, Arin pun bisa kembali berkumpul bersama orang tuanya.
Ia berkumpul bersama ayah, ibu, dan adiknya. Rasa rindu yang sangat mendalam dapat
berkumpul bersama keluarga walaupun makan dengan lauk sambal akan terasa lebih
nikmat bila berkumpul bersama.

Unsur Intrinsiknya

1. Tema : Kebersamaan keluarga

2. Latar

Tempat : Rumah bibi, Sekolah Arin, dan Rumah Arin


Suasana : Sedih (Tak jarang dia selalu menangis hingga larut malam), Bahagia
(Dia pun memberitahukan kabar gembira itu kepada orang tua dan Bibinya), Haru
(Ia juga sedih ketika ia berpamitan dengan teman-temannya yang sayang padanya)
Waktu : Malam (Terbukti saat Arin menangis karena rindu keluarganya), Pagi
hari (Terlihat ketika Arin mengikuti lomba pidato dan berpamitan kepada
temannya)

3. Alur : Maju

4. Tokoh : Arin (Antagonis), Bibi & Ayah (Tritagonis), Tidak ada tokoh antagonis karena
konflik yang terjadi merupakan konflik batin dari tokoh utamanya

5. Penokohan :

Arin : Penyayang, Pintar, dan Berkemauan tinggi


Bibi : Penyayang dan Baik
Ayah : Pesimis dan Baik

6. Sudut pandang : Orang ke-3 (tiga) tunggal

7. Gaya Bahasa : Pengarang menyampaikaan ceritanya dengan bahasa yang mudah


untuk dimengerti tanpa kiasan sehingga cerita mudah dimengerti

8. Moral Value: Jangan menyerah dengan keadaan karena setiap masalah pasti ada jalan
keluarnya

Unsur Ekstrinsiknya

1. Nilai-nilai dalam cerita

Moral : Saat tokoh Bibi mendukung apa yang akan dilakukan oleh Arin.
Perjuangan : Saat Arin tak berputus asa dengan nasibnya.
Kekeluargaan : Saat Arin berkumpul bersama keluarganya.

2. Latar belakang penulis

Penulis menjumpai beberapa fenomena di masyarakat tentang terpisahkannya keluaraga


yang di akibatkan keadaan. Fenomena ini banyak terjadi di masyarakat, oleh karena itu
penulis ingin menginspirasi semua masyarakat dan khususnya yang memiliki keadaan
yang sama untuk terus berjuang karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
ANALISIS CERPEN "DUNIAKU HARTAKU"

Dunia ini sangat kental dengan yang namanya uang. Uang merupakan zat pewarna yang
selalu menghiasi indahnya kehidupan manusia setiap detiknya. Uang juga dapat menjadi
racun dunia bagi makhluknya yang menyembah keindahan dan kemilaunya.
Tuti masih terduduk diam dalam lamunannya. Dia sangat menikmati indahnya khayalan
itu, hingga diapun tak sadar kalau di sampingnya sudah ada seseorang yang boleh
dibilang sangat mengejutkan dirinya, seseorang yang salah satu muncul di setiap
lamunannya. Seseorang yang selalu menghantui di setiap angan-angannya, sebut saja
Rendi, laki-laki yang sangat kaya, laki-laki yang sangat tahu akan kebutuhan wanita
zaman sekarang, laki-laki yang menjadi idaman wanita baik kalangan bawah maupun
kalangan atas.
Hei!!! Tiba-tiba Rendi menyadarkan lamunan Tuti.
Ehehmkamu Ren? Bikin kaget aja deh, ngapain ke sini? Tanya Tuti.
Ciah.ngelamunin apa ni? Kayaknya seru banget deh, ikut dunk! goda Rendi.
Ngelamunin jadi..apa ya? udah ahmau tahu aja kamu. Mau ke mana?
Biasajalan yuk!!!ajak Rendi.
Jalan ke mana? Aku sih mau aja asal seperti biasa juga. Pinta Tuti (sambil tersenyum
nakal).
Iya tahu lah, nggak mungkin dunk aku yang ngajak tapi membiarkan cewek yang bayar
semuanya, udah kamu tenang aja, kamu mau apa aja pasti aku kasih deh. Rendi
meyakinkan Tuti.
Oce deh, makasih ya sahabatku tersayang. Rayu Tuti.
Hari itu, Tuti dan Rendi asyik dengan acara mereka, asyik dengan belanjaan, Rendi pun
tidak segan-segan untuk membayar semua belanjaan Tuti karena menurutnya tidak
menuruti kehendak Tuti sama saja dengan tidak beribadah satu tahun. Rendi selalu
memanjakan Tuti dengan segala keperluan yang dibutuhkan Tuti, Rendi tidak pernah
mempermasalahkan apa yang sudah ia berikan untuk sahabatnya itu. Namun, dibalik
semua kebaikan yang ia lakukan Rendi menyimpan imbalan yang suatu saat nanti Tuti
harus menggantikannya, imbalanya yang harus dituruti Tuti.
Ren, makasih ya atas semuanya, ucap Tuti.
Udah nggak usah dipikirin, aku senang kok bantuin kamu, buat aku itu adalah
kewajibanku untuk memenuhi kebutuhanmu, eits.jangan tersinggung dulu, aku tidak
pernah menganggap kamu remeh, atau apalah, aku ngelakuin ini semua untuk kamu.
Makasih Ren, aku tahu mungkin kalau tidak karena kamu aku tidak akan bisa memiliki
ini semua, karena kamu tahu sendiri, uangku hanya cukup untuk makan senin kamis, itu
aja kadang aku makan sama kamu. Keluh Tuti
Seiring berjalannya waktu, maka sering pula pertemuan itu mereka lakukan sehingga
tidak disangka terpupuk juga rasa-rasa diantara mereka, tapi walaupun mereka tidak
saling mengungkapkan, mereka tahu apa yang mereka rasakan adalah perasaan yang
sama, perasaan yang selalu ingin bersama, perasaan yang selalu membuat mereka tidak
ingin jauh dari satu sama lain.
Hingga tiba pada waktunya terjadi hal-hal yang membuat mereka tidak bisa untuk
menerima semua kenyataan ini, rendi akan dibawa orang tuanya untuk pindah keluar
kota, mereka sama-sama tidak ingin hal itu terjadi, sehingga membuat mereka harus
melakukan sesuatu, terlebih-lebih Tuti, dia sangat takut kehilangan rendi, karena selain
dia mencintai Rendi dia juga tidak munafik akan apa yang dimiliki Rendi, Tuti pun
dengan segala nafsu yang terjadi pada dirinya berani untuk melakukan perbuatan yang
sangat hina, dia menyerahkan semua keperawanannya untuk Rendi tidak lain dan tidak
hal agar dia selalu bersama Rendi, begitupun dengan Rendi, ibarat kata pepatah, buah
yang ada di pohon saja masih sanggup diambil untuk dinikmati hasilnya, apalagi buah
yang sudah disuguhkan di depan mata tidak mungkin akan ditolaknya.
Dengan perasaan yang sangat menyesal perbuatan mereka diketahui orang tua mereka.
Namun walaupun mereka telah melakukan perbuatan yang sangat hina itu, orang tua
Rendi tetap akan membawa Rendi pergi ke luar kota, karena menurut orang tua Rendi
kalau sampai Rendi masih terus bersama Tuti maka Rendi tidak akan pernah bahagia.
Rendi dan Tuti sangat bingung apa yang harus mereka perbuat, mereka tidak ingin
berpisah, tapi apa jua orang tua yang harus memaksa mereka agar tetap tidak
berhubungan lagi.
Maafkan aku Tuti, bukan aku yang menginginkan ini semua, aku ingin kita selalu
bersama, canda tawa bersama, dan hidup bersama, ungkap Rendi di stelpon.
Tapi Ren, gimana dengan aku, apa kamu tidak kasihan padaku, apa kamu tidak
tersentuh sedikitpun untuk berpikir dan membicarakan baik-baik dengan orang tuamu,
aku tidak ingin kita berpisah (tabgis Tuti makin menjadi).
Bukan aku tidak mau Tuti, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, jawab
Rendi.
Dengan terpaksa Rendi menutup gagang teleponnya.
Keesokan harinya Tuti mendengar kabar kalau Rendi sudah tidak ada lagi, Rendi sudah
pindah ke luar kota, Tutipun sangat kecewa kepada Rendi. Karena tak sedikitpun Rendi
mempertahankan perjuangan mereka, hingga akhirnya Tuti pun memaksa untuk mencari
tahu alamat Rendi sebenarnya. Dalam pencariannya itu, Tuti tidak sia-sia karena Tuti
menemukan Rendi di salah satu Supermarket, di sana rendi sangat terkejut dengan apa
yang dilihatnya.
Rendi!!! panggil Tuti
Rendi tunggu! pinta Tuti.
Tuti, kok kamu bisa ada di sini? Tanya Rendi kaget.
Rendi, aku ingin bicara sebentar dengan kamu, aku minta waktumu sedikit saja, setelah
itu aku janji aku tidak akan mengganggumu lagi. Pinta Tuti.
Baiklah, kita cari tempat yang lebih nyaman, ajak Rendi.
Ren, maafkan aku bila menurutmu aku lancing untuk menemuimu, tapi aku sangat
membutuhklanmu Ren, aku janji setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi. Lirih
Tuti
Ada apa Tuti? Sepertinya kamu sangat membutuhkan pertolonganku. Tanya Rendi
lagi
Ren, aku mohon padamu, aku butuh bantuanmu, jujur aku malu harus bicara apa
padamu, tapi aku ras aku harus mengatakan ini semua, Renaku butuh uang, karena
ibuku sangat membutuhkannya, ibuku terlilit hutang dengan rentenir, pabila kami tidak
membayar hutang-hutang itu, maka aku yang akan menjadi taruhannya, aku yang harus
menikah dengan rentenir itu, aku tidak mau Ren, isak Tuti.
Tuti, aku pasti akan membantumu, kamu tenang saja, aku tidak mungkin
membiarkanmu tersiksa dari semua masalah ini.
Makasih Ren, aku janji aku tidak akan meminta pertanggungjawaban apa-apa
denganmu karena aku juga tahu kalau aku yang salah, aku yang sudah menyerahkannya
tubuhku untukmu, bukan kamu yang memintanya
Eits..kamu jangan bicara seperti itu Tuti, aku sangat bersalah apa yang sudah aku
lakukan padamu, tidak seharusnya aku menuruti semua nafsuku, tidak seharusnya aku
meninggalkanmu setelah apa yang aku lakukan padamu, aku sangat menyesal Tuti.
Sudahlah Ren, kamu tidak salah, aku tidak akan menuntut apa-apa darimu, aku datang
ke sini hanya butuh bantuanmu agar hutang-hutang ibuku lunas, dan aku tidak
dinikahkan pada rentenir itu, rentenir jelek, rentenir bodoh, dan rentenir sombong itu.
Ucap Tuti.
Sudahlah Tuti, ini aku ada sedikit uang untuk membantumu semoga uang ini cukup
untuk membayar semua hutang-hutang ibumu.
Makasih Ren, jujur aku sangat malu atas apa yang aku lakukan, aku malu seolah-olah,
apa yang aku lakukan ini adalah sebagai bentuk penjualan diri.
Tuti, kamu tidak boleh bicara seperti itu, maafkan aku Tuti, aku memang laki-laki
tidak jantan yang lari dari tanggung jawab, aku janji aku pasti bertanggungjawab atas
semua perbuatanku. Ucap Rendi.
Makasih Rendi, kalau kamu memang benar-benar ingin bertanggungjawab, aku tidak
tahu harus ku letakkan di mana mukaku ini. Dengan berlinang air mata Rendi memeluk
Tuti.
Oh, Tuhan terima kasih atas semua karuniamu, maafkan aku Tuhan yang salah dalam
melangkah. Maafkan aku yang selalu tidak pernah mengahargai apa yang sudah aku
miliki, maafkan aku Tuhan yang sudah mengecewakan-Mu, orang tuaku dan orang yang
berada di sekitarku. Lirih Tuti dalam hati.
Harta benda yang tak punya batas, membunuh manusia perlahan dengan kepuasan
yang berbisa. Kasih sayang membangunkannya dan pedih perih nestapa membuka
jiwanya.

Analisis cerpen Duniaku Hartaku

1. Tema pada Cerpen Duniaku Hartaku yaitu harta tidak selamanya membawa
kebahagiaan

2. Tokoh/penokohan :
a. Tuti,
- Manja, terdapat pada kalimat :
Jalan ke mana? Aku sih mau aja asal seperti biasa juga. Pinta Tuti (sambil tersenyum
nakal)
- Menghalalkan segala cara (ambisius), terdapat pada kalimat :
Hingga tiba pada waktunya terjadi hal-hal yang membuat mereka tidak bisa untuk
menerima semua kenyataan ini, rendi akan dibawa orang tuanya untuk pindah keluar
kota, mereka sama-sama tidak ingin hal itu terjadi, sehingga membuat mereka harus
melakukan sesuatu, terlebih-lebih Tuti, dia sangat takut kehilangan rendi, karena selain
dia mencintai Rendi dia juga tidak munafik akan apa yang dimiliki Rendi, Tuti pun
dengan segala nafsu yang terjadi pada dirinya berani untuk melakukan perbuatan yang
sangat hina, dia menyerahkan semua keperawanannya untuk Rendi tidak lain dan tidak
hal agar dia selalu bersama Rendi...

b. Rendi,
- Sahabat Tuti, terdapat pada kalimat :
Rendi selalu memanjakan Tuti dengan segala keperluan yang dibutuhkan Tuti, Rendi
tidak pernah mempermasalahkan apa yang sudah ia berikan untuk sahabatnya itu.

- Baik dan pengertian, terdapat pada kalimat :


Iya tahu lah, nggak mungkin donk aku yang ngajak tapi membiarkan cewek yang
bayar semuanya, udah kamu tenang aja, kamu mau apa aja pasti aku kasih deh. Rendi
meyakinkan Tuti.

- Kaya dan tajir, terdapat pada kalimat :


Seseorang yang selalu menghantui di setiap angan-angannya, sebut saja Rendi, laki-laki
yang sangat kaya, laki-laki yang sangat tahu akan kebutuhan wanita zaman sekarang,
laki-laki yang menjadi idaman wanita baik kalangan bawah maupun kalangan atas.

- Patuh dan penurut, terdapat pada kalimat :


Maafkan aku Tuti, bukan aku yang menginginkan ini semua, aku ingin kita selalu
bersama, canda tawa bersama, dan hidup bersama, ungkap Rendi di telepon
Bukan aku tidak mau Tuti, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, jawab
Rendi.
3. Alur : maju

Tahap perkenalan
Tahap ini menceritakan Tuti yang sedang melamun/menghayal memiliki banyak uang.
Tiba-tiba datanglah Rendi sahabatnya yang memperhatikan Tuti melamun.
Tahap konflik awal dimana masalah mulai muncul
Masalah muncul ketika Tuti dan Rendi saling memendam perasaan satu sama lain yaitu
perasaan yang sulit diungkapkan oleh mereka.

Tahap konflik mulai menajam dan permasalahan mulai lebih serius


Kenyataan pahit harus diterima oleh keduanya di mana orang tua Rendi berniat membawa
pulang Rendi. Tentu saja niat kedua orang tua Rendi ditentang oleh Tuti. Dengan berbagai
cara Tuti melakukan hal yang tidak pantas dan hina.

Tahap klimaks dimana pada tahap ini merupakan puncak dari permasalahan
Tahap ini terjadi ketika mereka berdua kebingungan atas keputusan kedua orang tua
Rendi untuk tetap membawa Rendi pindah. Tapi berbagai cara mereka tempuh tetap tidak
bisa membuat kedua orang tua Rendi luluh. Akhirnya, Rendi pun menuruti keinginan
kedua orang tuanya untuk pergi.

Tahap resolusi (penyelesaian) dimana pada tahap ini konflik telah selesai dan telah
menemui penyelesaian
Penyelesaian cerita ini adalah ketika Tuti mencari Rendi di tempat tinggalnya yang baru.
Tidak sia-sia pencarian Tuti, akhirnya mereka bertemu di Supermarket. Rendi pun
terkejut melihat Tuti dan tak menyangka bisa bertemu lagi.

4. Latar/setting
Latar tempat
1) Rumah, bukti :
Tuti masih terduduk diam dalam lamunannya. Dia sangat menikmati indahnya khayalan
itu, hingga diapun tak sadar kalau di sampingnya sudah ada seseorang yang boleh dibilang
sangat mengejutkan dirinya, seseorang yang salah satu muncul di setiap lamunannya.
2) Supermarket, bukti :
Dalam pencariannya itu, Tuti tidak sia-sia karena Tuti menemukan Rendi di salah satu
Supermarket, di sana rendi sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Latar waktu
1) Hari itu, bukti :
Hari itu, Tuti dan Rendi asyik dengan acara mereka, asyik dengan belanjaan,.....
2) Esok hari, bukti :
Keesokan harinya Tuti mendengar kabar kalau Rendi sudah tidak ada lagi, .....

Latar suasana
1) Menyenangkan, bukti :
Hari itu, Tuti dan Rendi asyik dengan acara mereka, asyik dengan belanjaan, Rendi pun
tidak segan-segan untuk membayar semua belanjaan Tuti....
2) Sedih, bukti :
Tapi Ren, gimana dengan aku, apa kamu tidak kasihan padaku, apa kamu tidak
tersentuh sedikitpun untuk berpikir dan membicarakan baik-baik dengan orang tuamu,
aku tidak ingin kita berpisah (tangis Tuti makin menjadi).
3) Takut, bukti :
Hingga tiba pada waktunya terjadi hal-hal yang membuat mereka tidak bisa untuk
menerima semua kenyataan ini, rendi akan dibawa orang tuanya untuk pindah keluar kota,
mereka sama-sama tidak ingin hal itu terjadi, sehingga membuat mereka harus melakukan
sesuatu, terlebih-lebih Tuti, dia sangat takut kehilangan rendi, karena selain dia mencintai
Rendi dia juga tidak munafik akan apa yang dimiliki Rendi,...
4) Bingung :
Rendi dan Tuti sangat bingung apa yang harus mereka perbuat, mereka tidak ingin
berpisah, tapi apa jua orang tua yang harus memaksa mereka agar tetap tidak berhubungan
lagi.
5) Menyesal, bukti :
Oh, Tuhan terima kasih atas semua karuniamu, maafkan aku Tuhan yang salah dalam
melangkah. Maafkan aku yang selalu tidak pernah mengahrgai apa yang sudah aku
miliki, maafkan aku Tuhan yang sudah mengecewakan-Mu, orang tuaku dan orang yang
berada di sekitarku. Lirih Tuti dalam hati.

5. Sudut pandang
Cerpen ini mempunyai sudut pandang orang ketiga serba tahu, karena penulis tidak
menceritakan tentang dirinya, tetapi menceritakan tentang kisah orang lain.

Kutifannya : Seseorang yang selalu menghantui di setiap angan-angannya, sebut saja


Rendi, laki-laki yang sangat kaya, laki-laki yang sangat tahu akan kebutuhan wanita
zaman sekarang, laki-laki yang menjadi idaman wanita baik kalangan bawah maupun
kalangan atas.
6. Amanat
1) Jangan mudah terbuai dengan harta/duniawi.
2) Jangan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan impian.
3) Kita harus berpikir panjang sebelum mengambil keputusan agar tidak menyesal di
kemudian hari.

4) Kita harus mendengarkan nasehat orang tua agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di
inginkan
Sebuah Analisis Cerpen Persahabatan Sunyi
Karangan Harris Effendi

Pada pukul 15.00 WIB saya disuruh menganalisis cerpen yang berjudul Persahabatan
Sunyi karangan Harris Effendi Thahar. Cerpen ini sangat bagus sekali, beberapa
hikmah dapat kita ambil dari isi cerpen tersebut. Cerita ini berkisah seputar seorang
lelaki separuh umur dan seorang bocah perempuan ingusan yang menjalani kerasnya
kehidupan kota Jakarta.

Sebenarnya, tulisan ini adalah tugas yang diberikan oleh Ibu Elina Syarif, selaku
Widyaiswara di PPPPTK Bahasa. Kebetullan hari ini pada pukul 14.00 WIB tadi materi
tentang sastra, maka kami disuruh menganalisis. Semoga saja dengan apa yang saya
analisis pada cerpen ini bermanfaat bagi kita semua. dan jika ada yang tidak sependapat
dengan saya, tolong berikan saran dan kritikan yang sifatnya membangun dari jamaah
fesbukiyah sekalian.

Analisis Cerpen yang Berjudul Persahabatan Sunyi karya Harris Effendi Thahar

Sinopsis Cerpen Persahabatan Sunyi

Lelaki setengah umur yang kelihatan cukup sehat itu akan tutup praktik ketika
matahari mulai tergelincir ke Barat. Ditemani oleh seekor anjing betina kurus, ia turun
dengan langkah pasti menuju lekukan sungai hitam di pinggir jalan, mendapatkan
gerobak dorong kecil beroda besi seukuran asbak. Dari dalam gerobak yang penuh
dengan buntelan dan tas-tas berwarna seragam dengan dekil tubuhnya.

Lelaki itu lewat begitu saja mendorong gerobak bermuatan anjing dan buntelan-
buntelan kumal miliknya sambil mencari puntung-puntung rokok yang masih berapi di
pinggir jalan. Tiba-tiba saja ada seorang bocah perempuan ingusan yang memegang
krincingan dari tutup botol munuman melempari anjing itu. Lelaki itu berkacak
pinggang, menatap bocah perempuan itu dengan tajam. Bocah perempuan itu balas
menantang sambil berkacak pinggang. Dan lelaki itu akhirnya meninggalkan tempat itu
dengan mendorong kembali gerobak kecilnya. Namun, bocah perempuan dengan
kerincingan itu mengikutinya dari belakang dengan jarak sepuluh meteran.
Malam telah larut. Bocah perempuan ingusan itu terbirit-birit dikejar gerimis yang
mulai menghajarnya. Rambutnya yang nyaris gimbal itu kini melekat lurus-lurus di kulit
kepalanya yang disiram gerimis. Bocah itu mengeluarkan lilin dan korek api dari dalam
kantong plastik. Berkali-kali menggoreskan korek api, padam lagi oleh tiupan angin
yang bertempias. Lalu ia mendekat ke arah lelaki itu agar terlindung oleh angina dan
berhasil menyalakan lilin. Bocah itu melihat ujung lipatan kardus tersembul dari dalam
gerobak kecil di atas kepala lelaki setangah umur itu. Ia berusaha menariknya keluar
tanpa menimbulkan suara berisik dan membangunkan lelaki itu.setelah berhasil, ia
membaringkan dirinya yang setengah menggigil karena pakaiannya basah. Merapat
pada tubuh lelaki yang memunggunginya itu sekedar mendapatkan imbasan panas dari
tubuh lelaki itu.
Deru mesin mobil yang melintas jembatan beton di atas mereka justru menimbulkan
rasa tenteram, rasa hidup di sebuahn kota yang sibuk. Lelaki setengah umur itu juga
sedang bermimpi tidur dengan seorang perempuan. Ketika ia membalikkan badannya, ia
menangkap erat-erat tubuh bocah yang setengah basah itu dan melanjutkan mimpinya.
Sebelum subuh, pasukan tramtib itu dating lagi, lengkap dengan polisi dan beberapa
truk mengangkut gelandangan. Mimpi lelaki itu tersangkut bersama gerobaknya di atas
bak truk. Begitu juga bocah perempuan itu.
Rawamangun, 3 Oktober 2004

Unsur Intrinsik Cerpen Persahabatan Sunyi


1. Tema
Tema pada cerpen tersebut adalah tentang perjuangan hidup.

2. Latar dan alur


Latar cerita di dalam cerpen itu adalah Kota Jakarta. Cerita tersebut menggunakan alur
maju.

3. Tokoh
Tokoh di dalam cerita itu adalah Lelaki setengah umur dan Bocah perempuan
4. Karakter lelaki setengah umur
Penyayang:
Pembuktian dari tokoh lelaki setengah umur ini penyayang adalah pada kutipan cerita
sebagai berikut:
.Lelaki setengah umur itu mengambil sebuah piring plastik dari dalam buntelan lalu
memberi makan yang didapatnya dari rumah makan tadi. Keduanya makan dengan
lahap tanpa menoleh kanan kiri.

Dari kutipan cerita di atas didapatkan bahwa si Lelaki setengah umur itu memiliki sifat
penyayang terhadap bocah perempuan kecil yang membawa kerincingan dari tutup
botol minuman itu walaupun mereka tidak saling mengenal. Dengan rela ia berbagi
makanan dengan gadis itu agar mereka berdua tidak kelaparan.
Pembuktian sifat penyayang lainnya yang dimiliki oleh lelaki itu adalah sebagai berikut:
. Deru mesin mobil yang melintas jembatan beton di atas mereka justru
menimbulkan rasa tenteram, rasa hidup di sebuahn kota yang sibuk. Lelaki setengah
umur itu juga sedang bermimpi tidur dengan seorang perempuan. Ketika ia
membalikkan badannya, ia menangkap erat-erat tubuh bocah yang setengah basah itu
dan melanjutkan mimpinya.

Dari kutipan cerita di atas didapatkan pembuktian bahwa si tokoh (lelaki setengah
umur) itu memang benar-benar penyayang. Dia berusaha menghangatkan bocah
perempuan yang kedinginan tidur dengan cara mendekapnya, agar si bocah perempuan
itu merasa hangat.

5. Karakter Bocah Perempuan


Karakter Bocah Perempuan itu adalah pemberani, hal ini terdapat pada kutipan berikut:
Seorang bocah perempuan ingusan yang memegang kerincingan dari kumpulan
tutup botol minuman telah melempari anjing itu. Lelaki itu berkacak pinggang enatap
bocah perempuan itu dengan tajam. Bocah perempuan itu balas menantang sambil
berkacak pinggang.
6. Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan penulis pada cerpen tersebut menggunakan sudut
pandang orang ketiga.

7. Amanat
Amanat yang disampaikan oleh penulis dalam cerpen itu adalah:
a. jangan pantang menyerah dalam menjalani hidup dan mensyukuri atas karunia yang
diberikan Tuhan kepadanya.
b. berikanlah kasih sayang kepada makhluk hidup.

Unsur ekstrinsik
Unsur ekstrinsik yang terdapat pada cerpen itu adalah adanya nilai sosial, yakni:
1. Di dalam cerpen itu digambarkan bahwa tokoh mau berbagi tempat tidur dengan
bocah perembuan yang selalu mengikutinya.
.. Bocah itu melihat ujung lipatan kardus tersebut dari dalam gerobak kecil di atas
kepala lelaki setengah umur itu. Ia berusaha menariknya keluar tanpa menimbulkan
suara berisik dan membangunkan lelaki itu. Setalah berhasil, ia membaringkan dirinya
yang setengah menggigil karena pakaiannya basah. Merapat pada tubuh lelaki yang
memunggunginya itu, sekedar mendapatkan imbasan panas dari tubuh lelaki itu.

2. Adanya perjuangan hidup yang digambarkan di dalam cerpen itu, yakni:


a. Perjuangan hidup Lelaki setengah umur dengan cara memulung dan mencari sisa-sisa
makanan di restoran.
b. Perjuangan hidup Bocah perempuan mencari makan dengan cara mengamen dan ia
terus mengikuti si Lelaki setengah umur dari belakang untuk mengharap belas kasih dan
perlindungan.
CINTA ITU SOAL KETULUSAN

Dion dan Rani merupakan sahabat semasa kecil. Mereka berdua menghabiskan
banyak waktu untuk bermain bersama.Tapi ternyata benar kata pepatah tidak ada
persahabatan yang murni antara laki-laki dan wanita kecuali didalamnya terbesit rasa
cinta walaupun cinta yang bertepuk sebelah tangan.Memang hanya Dion yang merasakan
cinta itu, tapi mereka berdua tetap menjalani semua yang mereka biasa lakukan seperti
apa adanya.
Seiring berjalannya waktu mereka masuk kesebuah Sekolah Menengah Atas dan
ternyata Dion dan Rani menjadi teman sekelas. Hingga suatu hari Rani menemukan
seorang lelaki bernama Fian yang mampu membuatnya jatuh hati. Setiap hari Rani lebih
banyak meluangkan waktunya untuk Fian tanpa menghiraukan Dion yang mulai sakit hati
karena sahabatnya, bahkan cintanya direbut begitu saja. Setelah 5 bulan Fian dan Rani
menjadi sangatdekat walaupun hubungan mereka tidak memiliki status dan sebuah
kejadian yang tak diinginkan terjadi. Fian terjebak 2 cinta.Dia mencintai Rani teman
dekatnya saatini dan Anisa cinta pertamanya yang datang kembali. Kali ini Fian sangat
dilemma, dia mencintai Rani namun tidak bisa melupakan Anisa. Hingga akhirnya setelah
beberapa minggu Fian berpikir ia pun menjatuhkan pilihannya kepada Anisa. Karena
dalam hati Fian untuk apa aku mencintai wanita lain jika cinta lama ku masih tidak bisa
aku lupakan.
Rani sangat sedih saat mengetahui keputusan Fian. Ia merasakan kekecewaan
yang amat sangat mendalam. Diapun berlari memeluk Dion yang ia anggap sahabat. Rani
menangis dengan kencang dalam dekapan sahabat laki-lakinya itu. Dion menerima air
mata yang Rani tuangkan untuknya tanpa memikirkan rasa sakit hatinya melihat orang
yang sangat ia cintai membuang air matanya untuk lelaki lain.
Rani yang saat itu mulai terpuruk hingga jatuh sakit, tetap ditemani oleh Dion.
Lelaki yang selalu menggenggam erat tangan Rani. Memberikan kasih sayang belaian
lembut dan perhatiannya. Setelah keadaan Rani mulai membaik, entah rasa apa yang
membuat Rani tidak pernah ingin jauh dari Dion. Merekapun banyak menghabiskan
waktu berdua selayaknya orang yang berpacaran hingga pada suatu hari Fian datang
menyatakancintanya kepada Rani yang saat itu sudah mulai mencintai Dion.
Pada siang hari sepulang sekolah, rani mengendarai kendaraannya untuk
pulang ke rumah. Tapi.... di jalan, Rani kembali pada fase dilemma, dimana dia terus
bertanya tanya pada dirinya sendiri harus memilih dion apa fian. sepanjang jalan
sepulangnya dari sekolah ia terus melamun hingga ada mobil dengan kecepatan tinggi
menabrak kendaraannya dan membuat ia terpental bersimbah darah dan hilang kesadaran.
Rani pun dilarikan kerumah sakit dengan keadaan kritis ditambah lagi ginjal kirinya yang
dinyatakan rusak oleh dokter.Dion dan Fian merasa sangat sedih dan merasa dalam
keadaan frustasi. Namun Dion mendatangi dokter untuk memohon agar dapat
memberikan ginjal yang ia punya kepada Rani. Walaupun dokter sempat menolak
keinginan Dion karena Dion memiliki ginjal yang tidak normal, ginjal kanannya tidak
berfungsi dengan baik dari kecil .Namun cinta yang tulus membuat Dion bersi keras untuk
tetap mendonorkan ginjalnya. 2 bulan kemudian Rani dinyatakan sembuh total, ia mulai
bisa melakukan aktifitas seperti biasanya. Namun ia sangat membenci kesembuhannya
ketika mendengar cerita kedua orang tuanya tentang Dion yang rela berkorban untuknya.
Kedua orang tuanya ditemani Fian mengantarkan nya kesebuah pemakaman umum dan
mamanya menunjukkan satu tempat sambil berkata di situ lah tempat Dion beristirahat.
Rani menangis sambil memeluk batu nisan bertulis kan nama Dion. Ia mencium
nisan itu berkali-kali sambil berkata aku gadis paling beruntung memiliki sahabat
bahkan teman hidup yang rela mengorbankan kebahagiaan bahkan jiwa raga untuk wanita
seperti aku yang hanya mengingat mu ketika aku dalam keadaan rapuh.
Kini Dion hanya bisa tersenyum, tersenyum bahagia disana melihat cinta
kecilnya rani yang sangat baik tumbuh besar dan mengetahui segala cinta yang ia pendam
sedari masak anak-kanak.

Analisis Cerpen Cinta itu Soal Ketulusan


1. Unsur Intristik Teks Cerpen
A. Tema : pengorbanan yang tulus untuk seseorang yang di cintai.
Halini ditunjukan atas tindakan dion yang rela mengorbankan dirinya untuk rani.
B. Latar :
a. Tempat
Di jalan, sesuai dengan kutipan:
sepanjang jalan sepulang sekolah ia terus melamun hingga ada mobil dengan kecepatan
tinggi menabraknya
Di rumah sakit, sesuai dengan kutipan:
ranipun dilarikan ke rumah sakit dengan keadaan kritis di tambah lagi ginjal kirinya
yang dinyatakan rusak oleh dokter
Di pemakaman umum, sesuai dengan kutipan:
kedua orangtuanya mengantarkannya ke sebuah pemakaman umum
b. Waktu : siang hari
Sesuai dengan kutipan:
pada siang hari, sepulang sekolah rani mengendarai kendaraannya untuk pulang ke
rumah
c. Suasana:
Kekecewaan, sesuai dengan kutipan:
Ia merasakan kekecewaan yang sangat mendalam. Dia pun berlari memeluk dion yang
ia anggap sahabatnya
Sedih, sesuai dengan kutipan:
ranipun dilarikan ke rumah sakit dengan keadaan kritis di tambah lagi ginjal kirinya
yang dinyatakan rusak oleh dokter. Dion dan Fian marasa sedih dan dalam keadaan
frustasi.

C. Penokohan :
Ada beberapa tokoh dalam cerita tersebut, tokoh tokoh beserta wataknya yang
terdapat pada cerpen tersebut adalah:
Dion, dengan watak: perhatian , penyayang dan rela berkorban
Watak tersebut dapat dilihat pada kutipan cerpen sebagai berikut:
Rani yang saat itu mulai terpuruk hingga jatuh sakit, tetap ditemani oleh Dion lelaki
yang selalu menggenggam erat tangan rani, memberikannya kasih sayang belaian
lembut dan perhatiannya (kutipan ini menggambarkan sikap dion yang penyayang dan
perhatian)
Namun Dion mendatangidokteruntukmemohon agar dapatmemberikanginjal
yang iapunyakepada Rani. Walaupundoktersempatmenolakkeinginan Dion karena
Dion memilikiginjal yang tidak normal,
ginjalkanannyatidakberfungsidenganbaikdarikecil.Namuncinta yang tulusmembuat
Dion bersikerasuntuktetapmendonorkanginjalnya. (kutipan ini menggambarkan sikap
dion yang rela berkorban untuk orang yang ia cintai)
Rani, dengan watak: baik hati
Watak tersebut digambarkan pada kutipan cerpen sebagai berikut:
Kini Dion hanya bisa tersenyum, tersenyum bahagia disana melihat cinta
kecilnya rani yang sangat baik tumbuh besar dan mengetahui segala cinta yang ia
pendam sedari masak anak-kanak.
Fian, dengan watak: setia
Watak tersebut dapat dilihat pada kutipan cerpen sebagai berikut:
untuk apa aku mencintai wanita lain, jika cinta lamaku masih tak bisa ku lupakan
Metode yang digunakan dalam penentuan watak tokoh adalah metode Dramatik atau
metode tidak langsung. Watak watak tokoh dalam cerpen tersebut diketahui dengan
cara cara brikut :
Melalui perbuatan atau tingkah laku tokoh
Hal ini dapat di buktikan dalam cuplikan cerpen sbagai berikut:
Rani yang saat itu mulai terpuruk hingga jatuh sakit, tetap ditemani oleh Dion lelaki
yang selalu menggenggam erat tangan rani, memberikannya kasih sayang belaian
lembut dan perhatiannya (kutipan ini menggambarkan sikap dion yang penyayang dan
perhatian)
Namun Dion mendatangidokteruntukmemohon agar dapatmemberikanginjal
yang iapunyakepada Rani. Walaupundoktersempatmenolakkeinginan Dion karena
Dion memilikiginjal yang tidak normal,
ginjalkanannyatidakberfungsidenganbaikdarikecil.Namuncinta yang tulusmembuat
Dion bersikerasuntuktetapmendonorkanginjalnya. (kutipan ini menggambarkan sikap
dion yang rela berkorban untuk orang yang ia cintai)
Melalui pemikiran sang tokoh atau tokoh lain
Hal ini dapat di buktikan dalam cuplikan cerpen sbagai berikut :
Kini Dion hanya bisa tersenyum, tersenyum bahagia disana melihat cinta
kecilnya rani yang sangat baik tumbuh besar dan mengetahui segala cinta yang ia
pendam sedari masak anak-kanak. ( dalam cuplikan ini kita dapat mengetahui bahwa
tokoh rani berwatak baik hati )
Karena dalam hati Fian untuk apa aku mencintai wanita lain jika cinta lama ku masih
tidak bisa aku lupakan. (cuplikan ini membuat kita mengetahui bahwa watak tokoh
fian itu setia)
D. Konflik : konflik batin
Dalam cerpen tersebut , konflik yangterjadi adalah konflik batin. Dimana konflik ini
dialami rani yang bertanya tanya pada dirinya sendiri yang harus memilih dion apa
fian. Hal ini terdapat dalam cuplikan :
Rani kembali pada fase dilemma, dimana dia terus bertanya tanya pada dirinya
sendiri harus memilih dion apa fian.
E. Sudut pandang : Orang ketiga serba tau
Karna pada teks cerpen tersebut menggunakan sudut pandang dia,
Yang merupakan ciri khas dari sudut pandang orang ketiga dan juga menggunakan
nama tokoh seperti rani, dion, dan fian.
Contoh kutipannya dalam cerpen:
Rani yang saatitumulaiterpurukhinggajatuhsakit, tetapditemanioleh Dion.Lelaki yang
selalumenggenggamerattangan
Rani.Memberikankasihsayangbelaianlembutdanperhatiannya.Setelahkeadaan Rani
mulaimembaik, entah rasa apa yang membuat Rani tidakpernahinginjauhdari Dion.
Merekapunbanyakmenghabiskanwaktuberduaselayaknya orang yang
berpacaranhinggapadasuatuhariFiandatangmenyatakancintanyakepada Rani
yangsaatitusudahmulaimencintai Dion.
F. Alur atau plot : maju
Karena peristiwa yang terjadi pada cerpen tersebut berjalan sesuai urutan waktu yang
maju , tanpa ada menceritakan masa lalu sang tokoh dan tidak juga mengulang ulang
masa lalu tokoh.
Contoh kutipannya dalam cerpen
Dion dan Rani merupakansahabatsemasakecil.
Merekaberduamenghabiskanbanyakwaktuuntukbermainbersama yang mengawali alur
maju dan di lanjutkan dalam paragraf ke dua
SeiringberjalannyawaktumerekamasukkesebuahSekolahMenengahAtasdanternyata
Dion dan Rani menjaditemansekelas.
G. Amanat :
Cintailah pasanganmu dengan ketulusan.
Hiduplah untuk orang lain, jangan untuk diri mu sendiri.
H. Gaya bahasa : komunikatif
Karna bahasa yang digunakan mudah di pahami atau menggunakan bahasa sehari hari.
Contoh kutipannya pada cerpen:
Kali iniFiansangat dilemma, diamencintai Rani namuntidakbisamelupakanAnisa.
HinggaakhirnyasetelahbeberapamingguFianberpikiriapunmenjatuhkanpilihannyakepada
Anisa.
2. Unsur Ekstrinsik
A. Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam cerpen tersebut adalah bahasa komunikatif. Karna bahasa
yang digunakan mudah di pahami atau menggunakan bahasa sehari hari. Contoh
kutipannya pada cerpen:
Kali iniFiansangat dilemma, diamencintai Rani namuntidakbisamelupakanAnisa.
Hingga akhirnyasetelah beberapa mingguFian berpikir iapunmenjatuhkan pilihannyakep
ada Anisa.
B. Nilai Nilai Yang Terkandung dalam Karya Sastra:
Nilai Moral
Nilai moral yang dapat di petik dari cerpen diatas yaitu bersikap sabar, hal ini di
tunjukan oleh sikap dion yang bersabar menanti rani, meskipun hatinya telah di sakiti
rani.
Nilai Sosial
Berkorban demi orang lain, dalam cerpen tersebut tokoh dion rela mengorbankan
hidupnya demi orang yang sangat ia cintai.