Anda di halaman 1dari 31

Mass Concrete

a. Pengertian Mass Concrete


Mass Concrete adalah pekerjaan pengecoran masal dengan jumlah beton yang
sangat besar .Pekerjaan mass concrete memerlukan pengendalian thermal yang mana
dalam hal ini pengecoran beton dengan volume besar mengakibatkan terjadinya
proses hidrasi semen atau proses pengerasan dimana beton akan mengeras dengan
cara mengeluarkan hidrasi yang besar sehingga berpotensi beton menjadi retak dan
beton menjadi tidak konjugasi.
b. Definisi Mass Concrete
( Berdasarkan ACI 207 ) :
Mass concrete adalah segala volume beton dengan dimensi yang cukup
besar sehingga perlu pengendalian thermal tehadap panas yang ditimbulkan
oleh proses hydrasi semen.
Potensial Problem Mass Concrete :
Masalah yang biasa terjadi pada Mass concrete adalah Retak Thermal
yaitu retak pada beton yang disebabkan adanya perbedaan temperatur beton
antar lapisan maupun dengan suhu lingkungan 20 oC (ACI, Jurnal Vol. 94
No 2, 1997), dan kenaikan maksimum atau penurunan suhu yang
menyebabkan kontraksi dan mengakibatkan crack adalah
40 oC/Jam.
c. Persyaratan Teknis Mass Concrete
1. Supply beton yang kontinyu.
2. Kecepatan pengecoran yang memadai.
3. Jenis dan kapasitas peralatan yang memadai.
4. Kapasitas tenaga kerja yang mencukupi.
5. Metode pengecoran yang tepat untuk menghindari cold joint.
6. Mix design beton yang sesuai.
7. Schedule pengecoran yang tepat dengan mempertimbangkan kondisi lalu
lintas dan lamanya pengecoran.
8. Pengendalian thermal dengan pemasangan thermocouple untuk monitoring
suhu beton.
d. Material Mass Concrete

MATERIAL VOLUME SATUAN

Besi Beton U-50 1.034.821,52 Kg

Volume Besi 131,82 m3

Volume Mass Concrete 4404,11 m3

Volume Beton Mass Concrete 4272,28 m3

Floor Hardener (out of scop) 1617,9 m2

Wiremesh 184 Lembar

Kawat Ayam 790 m2

Plywood

Waterstop

Pipa/Besi untuk Tiang Thermo couple 3 buah

Plastic Cor 1617,9 m2

Sterofoam + Lakban 1617,9 m2

Thermo couple 9 buah (3 -


titik)

Kawat Harmonika 537,6 m2

Mantel Jas Hujan, Senter, HT Sesuai -


kebutuhan
e. Peralatan Pendukung Untuk Pekerjaan Mass Concrete

ALAT VOLUME SATUAN

Mesin Trowel 1 unit

Concrete Pump 4 + 1 cadangan unit

Pompa Air (engine) + selang 3 inch 5 unit

Vibrator, Selang Vibrator (@16 unit) 4 + 3 cadangan unit

Thermo Couple 3 unit

Tenda 1620 m2

Compressor 1 Unit

Kesediaan Power Panel 8 Panel

Genset Cadangan 250 kVA 1 Unit

Penerangan Lampu HPIT 400 watt 33 Buah


f. Perhitungan Waktu dan Produktivitas

PERHITUNGAN MASS CONCRETE

Tebal Mass Concrete : 2,50 m


Jumlah Pompa : 4,00 bh
Kapasitas Pompa : 28,00 m3/jam
Volume Mass Concrete : 4.404,11 m3
Volume Besi Mass Concrete : 133,82 m3
Volume Beton Mass Concrete : 4.270,29 m3
Kapasitas Produksi Mass Concrete : 112,00 m3/jam
Lama Pelaksanaan Mass Concrete : 38 jam
: 1,59 hari

Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan jika Mass Concrete dapat


diselesaikan dalam 1,59 hari.

g. Perhitungan Cycle Time Truck Mixer

DATA

Volume beton mass concrete = 4.270,73 m3


Jumlah Pompa = 4,00 bh
Kapasitas Pompa = 28,00 m3/jam
Kapasitas Produksi Mass Concrete = 112,00 m3/jam
Lama Pelaksanaan Mass Concrete = 38 jam
Kapasitas Truck Mixer = 7,00 m3

PERHITUNGAN

Jumlah Truck Mixer untuk 1 pompa = 4,00 Truck/jam


Jumlah total Truck Mixer = 16,00 Truck/jam
Cycle Time kedatangan Truck Mixer = 4,00 menit

h. Persiapan dalam Menjaga Kontinuitas Pengiriman Beton


a. Persiapan alat, personel dan infrastruktur proyek (jalan akses, lahan parkir dan
manuver serta area cuci TM)
b. Kapasitas Batching Plant
Kapasitas Batching Plant harus kapasitas bongkar proyek
c. Cycle time dari batching plant ke lokasi proyek
Cycle time terdiri atas :
1. Waktu loading beton
2. Waktu mixing beton
3. Waktu perjalanan berangkat ke lokasi
4. Waktu parkir, manuver dan tunggu di proyek
5. Waktu bongkar (cor)
6. Waktu cuci TM di proyek
7. Waktu perjalanan pulang dari proyek
d. Jumlah kebutuhan minimal Truck Mixer

i. Batching Plant Support


1. PLANT ROMOKALISARI
Lokasi : Jl. Tambak Langon 23 B, Gresik
Kapasitas Batching Plant : 60 m3/jam
Kapasitas Silo : Cement 180 Ton, Fly Ash 90 Ton
Armada Truk Mixer : 25 units
Whell Loader : 2 Units
Stock Yard Materials : 2500 m3

ACTIVITY
CAPACITY 60 M3 / HOUR
DISTANCE 23 KM
LOADING 10 MINUTES
TRIP TO SITE 70 MINUTES
SLUMP AND TEMPERATURE CHECK 5 MINUTES
UNLOADING 12 MINUTES
CLEANING 5 MINUTES
TRIP BACK TO PLANT 70 MINUTES

TOTAL TM (3 CP) @25 M3/HOUR 25 UNITS


2. PLANT KARANG PILANG
Location : Komplek Wira Jatim, Karang Pilang Surabaya
Batching Plant Cap. : 60 m3/jam + 60 m3/jam
Silo Cap. : Cement 360 Ton, Fly Ash 360 Ton
Mixer Truck : 40 units
Whell Loader : 2 Units
Stock Yard Materials : 6000 m3
ACTIVITY
CAPACITY 60 M3 / HOUR
DISTANCE 13 KM
LOADING 10 MINUTES
TRIP TO SITE 70 MINUTES
SLUMP AND TEMPERATURE CHECK 5 MINUTES
UNLOADING 12 MINUTES
CLEANING 5 MINUTES
TRIP BACK TO PLANT 60 MINUTES

TOTAL TM (3 CP) @25 M3/HOUR 40 UNITS

Rute rute perjalanan dari plant ke proyek


a. Plant romokalisari
plant proyek
(jarak tempuh 23 km)
b. Plant karangpilang
plant proyek
(jarak tempuh 13 km)
c. Plant kedung cowek (cadangan)
jl. Kedung cowek 219 kel. Tanah kali kec. Kedinding rt.03 rw.
05 - surabaya)
d. Plant karang andong (cadangan)
ds. Driyorejo kec. Driyorejo kab. Gresik
j. Manajemen Komunikasi Order Beton

k. Proses Quality Control


l. Persiapan alat, APD dan K3 yang dibutuhkan

m. Kontrol Kualitas Beton


Meliputi :
1. Pengukuran suhu beton segar
2. Pengukuran slump beton
3. Pengambilan benda uji

Kriteria penerimaan beton :


Pembacaan suhu beton segar dilaksanakan
1. Suhu beton segar 30 C
secara random satu kali dari lima buah
2. Slump beton 12 2 cm
mixer.

Pengambilan benda uji setiap 120 m3


(18 truk mixer) diambil 1 set (4 benda uji).
1 benda uji untuk umur 7 hari
2 benda uji untuk umur 28 hari
1 benda uji untuk umur 56 hari (cadangan)
Pengujian slump sesuai dengan ASTM C143-96
Pengujian slump di lapangan dengan memperhatikan ketentuan-
ketentuan sebagai berikut:
Beton dapat dikembalikan bila ternyata slump beton melebihi batas
atas ketentuan yang ditetapkan (> 140mm).
Bila slump beton berada lebih rendah dari batas bawah (< 100mm),
maka akan dilakukan penambahan admixture untuk penyesuaian slump
beton.
Sesuai SNI 03-2847-2002 mengenai frekuensi pengambilan benda uji untuk
"mass concrete yaitu satu set untuk setiap 120M atau setiap 18 truk
(1 set = 4 benda uji). Hal ini berdasarkan akumulatif volume beton secara
menyeluruh untuk masing-masing group pompa beton. Pengujian:
1 benda uji - 7 hari
2 benda uji - 28 hari
1 benda uji - cadangan

n. Metode Pelaksanaan Mass Concrete

START START

Pengajuan Shop
Pendatangan Material
Drawing
Tidak

Pengambilan Sampel
Ya / Tidak
Benda Uji
Ya

Pengujian Tidak Shop Drawing

Sesuai dengan Mutu


Pengajuan Ijin Kerja
dan Syarat Teknis
Tidak

Ya / Tidak Ya / Tidak

Ya Ya

Besi dapat digunakan Pelaksanaan

FINISH FINISH
Pengangkatan besi ke area pile cap tower (mass concrete) menggunakan
tenaga manusia dan Mobile Crane / Tower Crane.

START

Pembesian

Check List Pembesian


(Partial)
Tidak

Ya / Tidak

Ya

Siap untuk Pengecoran

Pengecoran

FINISH

Pengecoran baru dilaksanakan setelah dilaksanakan proses check list


pembesian (pembesian sudah sesuai dengan rencana).

Personel pengecoran (4 group)


1 Orang Mandor
1 Group :
- Tukang finishing : 4 orang
- Tukang cor & vibrator : 2 orang
Pemadatan dan Pengecoran
Pemadatan dilakukan dengan mengunakan vibrator dengan metode yang
benar tanpa menyentuh permukaan bekisting. Kecepatan pengecoran dan
kontinuitas pengecoran perlu diperhatikan. Pengecoran dilakukan layer-layer
tanpa cold joint.

Gambar Penempatan Vibrator pada Gundukan Beton

Hanya dipermukaan yang


terpadatkan

Beton tak terpadatkan

Cara yang salah

Posisi ke 2

Posisi ke 3 Posisi ke 1

Gundukan beton
sewaktu dituang

Cara yang benar


Alat pemadat beton (vibrator) yang digunakan yaitu tipe Elektrik, sehingga
diperlukan untuk menarik kabel listrik ke area pile cap tower pada saat
pengecoran.

Alat vibrator yang disediakan sebanyak 4 buah.

- Mengeluarkan udara yang terjebak didalam beton.

- Beton segar mengandung 5 20% udara terjebak.

Proses :

1. Mengkonsilidasikan partikel agregat dan sampai rata pada level atas (3 5


detik).

2. Mengeluarkan udara terjebak (7 15 detik).

Diameter head vibrator yang digunakan ukuran 40 60 mm.


Pengecoran dibuat full depth
Asumsi beton setting 3 jam Vol Beton = 3 x 112 m3 = 336 m3
Dengan tebal mass concrete 2,5 m,
maka tiap 1 zona dapat dikerjakan sebanyak +336 m3
o. Site Installation dan Traffic Management

Traffic Management Mass Concrete (Alternatif 1)


Traffic Management Mass Concrete (Alternatif 2)

Traffic Management Mass Concrete


p. Item dan Urutan Pekerjaan

Metode Pengecoran full Depth 2,5 m


Pengecoran Raft Foundation area Tower dilakukan 1 kali.
Luas Area Mass Concrete : 1617.92 m2
Volume Mass Concrete : 4.404 m3
Menggunakan Bekisting Precast
1. Pekerjaan Bekisting Pit Lift & Lean Concrete

Bekisting pit lift menggunakan material batako atau puing potongan tiang
pancang yang dipecah-pecah

Sedangkan lean concrete menggunakan material beton B0 atau campuran


mortar biasa setebal 5 cm

2. Tahapan Pembuatan Precast Dinding Mass Concrete

1. Siapkan dan bersihkan lahan fabrikasi precast.

2. Buat dasar cetakan menggunakan phenolfilm.

3. Buat cetakan menggunakan besi hollow 5x5 yg ukuran dan bentuk cetakan
dapat disesuaikan sesuai kebutuhan.

4. Pasang wiremesh M4 sebagai tulangan dan besi D10 sebagai lifting loop.

5. Olesi cetakan dengan minyak bekisting.

6. Pengecoran precast Dinding dengan mutu k 300 setebal 7cm(selimut beton


raft).

7. Setelah matang (Usia beton 24jam), angkat precast dan letakkan di


stockyard dengan rapi.
3. Tahapan Pemasangan Precast Dinding Raft Foundation

1. Urugan pasir pada mass concrete sebagai landasan untuk lantai kerja.
2. Lantai kerja tebal 5 cm pada dasar Mass Concrete.
3. Pemasangan dinding precast Raft Foundation diangkut oleh tenaga
manual menggunakan alat angkat.
4. Penimbunan tanah diluar dinding mas concrete.

Denah Precast Raft


Detail Precast Raft

Bekisting Pit Lift


4. Pekerjaan Pembesian

Pemasangan stek tulangan kolom sesuai shopdrawing

Pemasangan separator besi untuk memisahkan tulangan atas dan bawah

Digunakan besi Dia 13-19 dengan jarak tertentu

Pemasangan dudukan relat, terbuat dari besi siku dan dilas ke tulangan

Level dari dudukan relat ini ditentukan oleh tim surveyor yang disesuaikan dengan
level beton raft
5. Pemasangan Tenda dan Thermocouple
Pembuatan Pos Monitoring Pendatangan Beton & Tes Benda Uji
1. Pos dibuat dengan menyewa tenda ataupun dengan membuat
sendiri dengan bahan yang ada di proyek.
2. Pos dibuat dengan kokoh,stabil, dan teduh.
Pembuatan Tenda Terpal
1. Tenda Pelindung berfungsi sebagai Pelindung beton dari hujan dan
panas setelah dicor.
Rangka : Besi Pipa/Hollow
Pengencang : Besi D10
Bahan : Terpal
6. Pengecoran Pit Lift
1. Persiapan sebelum Pengecoran
Pemasangan plastik cor pada stek tulangan kolom dan shearwall untuk
melindungi tulangan tersebut dari percikan beton pada saat pengecoran.

Pengendalian Retak Termal dengan Pemasangan Thermocouple


Pemasangan Penerangan
Penerangan cukup untuk proses pengecoran di malam hari
Dipasang 33 titik lampu berdaya 400 Watt

Trial Lokasi Pompa


Trial Pompa bertujuan untuk mensimulasikan lokasi pompa
sesuai dengan perencanaan site plan
Setelah didapatkan lokasi pompa yang sesuai maka lokasi
tersebut dimarking/ditandai agar mempercepat proses setting
lokasi pompa pada saat hari H
Kegiatan ini dilakukan 1 hari sebelum pelaksanaan mass
concrete
Karena lokasi pompa beralas tanah, maka digunakan plat baja
untuk memudahkan manufer dan pengoperasian kendaraan
Trial Lokasi Manufer Truck Mixer
Kegiatan ini bertujuan untuk mensimulasikan pola manufer
truck dan memastikan apakah manufer bisa lancar
Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan proses trial posisi
pompa
Pengecekan jalan kerja, pastikan jalan kerja cukup untuk lewat
dan proses manufer truck mixer.
Jalan kerja yang menggunakan plat baja tebal 5 mm
Trial Setting Pompa
Setting pompa dilakukan sekitar 12 jam sebelum mass
concrete dimulai
Pompa diletakkan pada lokasi yang sudah ditentukan pada saat
trial / simulasi perletakan pompa beton pada hari sebelumnya
Pasang terpal di bagian belakang bawah untuk menampung
tumpahan beton pada saat pengecoran

2. Pelaksanaan Pengecoran
Tes Slump
Tes Slump : 1 benda uji setiap truck mixer
Tes Tekan Benda uji : sepasang benda uji setiap 10 truck mixer
(Sesuai spesifikasi proyek)
Pengecoran Mass Concrete
Proses penuangan beton dari pipa tremi ke lokasi cor
Proses perataan beton dengan menggunakan jidar aluminium
yang bertumpu pada pipa relat, dari proses ini akan didapatkan
elevasi beton yang rata, seragam dan sesuai dengan yang
direncanakan
Jika volume beton yang dicor sudah mencapai dari total,
maka dilakukan opname bersama dengan suplier untuk
menghitung sisa volume beton yang harus dikirim ke site
Dengan opname ini akan didapatkan berapa sisa volume beton
(real dan lebih akurat) yang harus dikirim ke site
Perataan permukaan beton
Monitoring elevasi permukaan beton dengan menggunakan alat
waterpass
Penggosokan permukaan beton sebelum ditrowel
Talang ditutup dengan terpal agar tidak perlu cuci
talang di lingkungan proyek. Ban Truck mixer dicuci sebelum
meninggalkan lokasi proyek dilokasi washing bay. Untuk
menjaga agar proses mass concrete berjalan continue dan
lancar, salah satunya adalah dengan menjaga keamanan proyek
serta proses-proses perijinan. Untuk itu diperlukan koordinator
petugas keamanan dan perijinan.
3. Setelah Pengecoran
Floor Hardener dan Finish Trowel
Finishing pengecoran dilakukan dengan menaburkan floor
hardener dan finish trowel
Setelah permukaan beton mulai mengeras (namun masih
mengandung air), taburkan serbuk floor hardener
Hati-hati, jangan sampai beton mengeras, karena serbuk floor
hardener tidak bisa melekat pada permukaan beton sehingga
proses floor hardener akan mengalami kegagalan
Kemudian digosok dengan menggunakan alat trowel
Curing Beton
Curing beton bertujuan untuk menjaga agar tidak terjadi
perbedaan yang ekstrim antara permukaan dan bagian dalam beton.
Perbedaan suhu yang terlalu ekstrim akan menyebabkan crack pada
permukaan beton. Dan dalam hal ini digunakan plastik cor, dan
styrofoam 3 cm untuk menjaga suhu panas permukaan beton.

Monitoring Suhu
Alat yang digunakan adalah Kabel Thermocouple di cor pada
beton, kabel penghubung thermocouple, dan alat pengukur suhu.
Pembacaan suhu dilaksanakan setelah pengecoran usai sebagai berikut :
Untuk 24 jam pertama pembacaan dilaksanakan setiap 2 jam
Untuk 2 x 24 jam berikutnya pembacaan dilaksanakan setiap 3 jam
Selanjutnya dilaksanakan selama 4 kali pagi 09.00, siang 12.00,
sore 17.00 dan malam 20.00 selama 7 hari.
Pembacaan suhu dihentikan setelah dicapai delta suhu konstan < 20
derajat C
Pemasangan sterofoam sebagai isolasi panas sehingga dapat
menahan & melepas panas secara perlahan-lahan agar pendinginan
permukaan dapat terkendali. Selama selisih suhu 20 derajat celsius
retak thermal dapat dihindari.

q. Kontrol Suhu Mass Concrete


Tujuan : Mengeliminasi retak thermal dengan mengontrol perbedaan suhu dan
suhu campuran (sebelum, pada saat dan setelah pengecoran
Kontrol ini harus juga dievaluasi antara biaya dengan manfaatnya
Scope : Thermal conctrol ini akan diaplikasikan pada mass concrete raft
foundation di Tower Caspian Grand Sungkono Lagoon

r. Metode Alternatif
1. Optimasi Mix Desain
Penggunaan semen low heat misalnya semen tipe 2
Penggunaan fly ash atau slag sebagai pengganti porsi semen
Penggunaan rasio air semen yang rendah
Mengurangi penggunaan semen pada campuran
2. Insulinasi Permukaan Beton
Untuk mengontrol perbedaan suhu antara bagian core dengan permukaan
beton
Metode ini menggunakan material plastik dan stereofoam yg digelar pada
permukaan mass concrete
Insulasi juga bisa dilakukan dengan mempertahankan bekisting samping untuk
tidak segera dibuka, agar panas pada permukaan beton tidak terlalu cepat lepas

s. Thermal Control Plan


Batasan Suhu maksimum : 90o C
Batasan beda suhu : 20o C
Untuk menjamin tidak dilampauinya batasan di atas, PP akan melakukan thermal
control plan dengan mencoba semua alternatif metode yang sudah disebutkan
sebelumnya :
o Optimasi mix desain campuran beton (By Batching Plan)
o Cooling material, alat, dan beton sebelum pengecoran (By Batching Plan)
o Insulasi permukaan beton (By PP)
o Temperature monitoring & report (By PP)