Anda di halaman 1dari 26

AKTIVA DAN PENGUKURANNYA

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas


Mata kuliah Teori Akuntansi

Dosen : Hani Sri Mulyani, SE., M.Si

Disusun Oleh :
Kelompok 1
Dheastri Rahayu 14.06.1.0073
Fanny Ayu Lestari 14.06.1.0079
Rosi Rosmiati 14.06.1.0099
Kelas Akuntansi C

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MAJALENGKA
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan hanya kepada Allah SWT yang telah

memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah

dengan judul Aktiva dan Pengukurannya. Makalah ini diajukan untuk

memenuhi sebagai syarat kelulusan dan merupakan salah satu tugas mata kuliah

Teori Akuntansi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas

Majalengka.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang

berkompeten, saran dan kritik dari semua pihak yang sifatnya membangun sangat

kami harapkan untuk menyempurnakan makalah ini di masa yang akan datang.

Majalengka, September 2016

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................i

DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 1

1.3 Tujuan ..................................................................................................... 2

BAB II ISI

2.1 Aktiva ...................................................................................................... 3

2.1.1 Pengertian Aktiva ....................................................................... 3

2.1.2 Karakteristik Aktiva .................................................................. 3

2.1.3 Ciri dan Sifat Aktiva .................................................................. 4

2.2 Pengukuran Aktiva ................................................................................ 4

2.2.1 Pengertian Pengukuran Aktiva ................................................ 4

2.2.2 Tujuan Pengukuran Aktiva ...................................................... 5

2.2.3 Dasar Pengukuran Aktiva ......................................................... 6

2.3 Keandalan ............................................................................................... 14

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ............................................................................................ 15

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suatu perdebatan sengit sudah berlangsung selama sekian dasawarasa

mengenai bagaimana cara terbaik untuk mengukur aktiva. Perdebatan ini mungkin

rumit dan membingungkan tetapi dapat ditarik garis-garis pertempuran yang

utama, yaitu antara apa yang bisa disebut sebagai pihak yang melihat ke masa lalu

(historikus) dan pihak yang melihat ke masa depan (futuris). Beberapa perdebatan

tersebut telah menelurkan berbagai ukuran aktiva yang potensial. Banyaknya

ukuran ini mencerminkan beragamnya penggunaan akuntansi, kerna masing-

masingnya menyarankan ukuran yang berbeda. Akibatnya, walaupun ada

keuntungan yang pasti jika suatu konsep yang menyeluruh bisa diterim secara

luas, suatu analisis yang mendalam atas pola-pola penggunaan menunjukkan

bahwa satu konsep penilaian saja tidak dapat memenuhi semua tujuan dengan

sama baiknya. Konsep yang tepat dalam setiap kasus membutuhkan pengetahuan

tentang siapa yang akan menggunakan informasi dan untuk tujuan apa.

Dalam makalah ini didefinisikan proses pengukuran dalam pengertian

memberikan nilai pada atribut. Akan dibahas pula mengenai kelebihan dan

kelemahan ukuran-ukuran aktiva yang berlainan. Ukuruan-ukuran ini kemudian

ditelaah ulang dengan mengingat beberapa tujuan pelaporan keuangan serta

karakteristik-karakteristik kualitatif yang diinginkan dari informasi akuntansi.


1.2 Rumusan Masalah

a. Apakah aktiva itu ?

b. Bagaimanakah proses pengukuran dalam aktiva menurut teori akuntansi ?

c. Mengapa harus dilakukan pengukuran aktiva ?

d. Apa yang menjadi dasar pengukuran aktiva ?

e. Apa asaja metode-metode yang dapat digunakan untuk pengukuran aktiva ?

1.3 Tujuan

a. Menjelaskan berbagai dasar yang disarankan untuk pengukuran aktiva

b. Memahami metode-metode dalam pengukuran aktiva

c. Membandingkan metode-metode dalam pengukuran aktiva (nilai keluaran

dan nilai masukan)

d. Menelusuri dampak penggunaan-penggunaan yang berlainan pada pilihan

ukuran aktiva tertentu

e. Mengetahui tujuan-tujuan dalam pengukuran aktiva

f. Menjelaskan dampak berbagai tujuan akuntansi pada pilihan ukuran aktiva


BAB II

ISI

2.1 Aktiva

2.1.1 Pengertian Aktiva

1. Menurut FASB (Financial Accounting Standards Board)

Aktiva adalah manfaat ekonomi masa yang akan datang yang mungkin, yang

diperoleh atau dikendalikan oleh kesatuan usaha tertentu sebagai akibat transaksi

atau peristiwa yang terjadi di masa yang lalu.

2. Menurut IAI dalam SAK

Aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat

dari masa lalu dan darimana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan

diperoleh perusahaan .

2.1.2 Karakteristik Aktiva

Dalam pengertian aktiva di atas terdapat tiga elemen penting dalam aktiva

yang merupakan karakteristiknya, yaitu :

1. Manfaat ekonomi di masa yang akan datang

Aktiva menyimpan kemungkinan manfaat ekonomi masa yang akan datang,

secara sendiri-sendiri atau dalam kombinasi dengan aktiva lain untuk secara

langsung atau tidak langsung memberi sumbangan pada aliran masuk kas bersih

di masa depan.

Hak yang sudah kadaluwarsa atau mempunyai manfaat negatif tidak dapat

dimasukkan sebagai aktiva.


2. Pengendalian oleh kesatuan usaha

Unit usaha tertentu dapat memperoleh manfaat tersebut dan mengendalikan

akses pihak lain atas aktiva itu. Aktiva adalah sumber daya di bawah kendali unit

usaha.

3. Sebagai hasil transaksi masa yang lalu

Transaksi, kejadian atau peristiwa yang menimbulkan hak atau kendali atas

manfaat tersebut sudah terjadi. Aktiva tidak boleh mencakup manfaat yang akan

timbul di masa depan tetapi saat ini belum ada atau tidak berada dalam kendali

unit usaha.

2.1.3 Ciri dan Sifat Aktiva

Menurut Hendriksen :

1. Harus ada hak tertentu atas manfaat dan jasa potensial di masa yang akan

datang. Hak-hak ini harus mempunyai manfaat positif dan apabila hak-hak ini

mempunyai manfaat lain atau negatif maka hak-hak tersebut tidak disebut

aktiva.

2. Ketidakpastian mengenai nilai di kemudian atas suatu aktiva janganlah

digunakan untuk mengenyampingkannya dari pengertian aktiva, karena

walaupun ketidakpastian mempengaruhi penilaian tetapi hal ini tidak

mengubah sifat dari aktiva

3. Hak tersebut harus dapat diperoleh atau dikendalikan oleh orang atau kesatuan

usaha tertentu.
4. Harus ada klaim yang dapat dipaksakan secara legal atas hak atau jasa atau

bukti lain bahwa bukti penerimaan manfaat di masa yang akan datang adalah

mungkin. Manfaat ekonomi tersebut haruslah sebagai akibat atau peristiwa

yang telah terjadi.

Menurut KDPPLK (Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan

Keuangan) :

1. Digunakan sendiri maupun bersama aktiva lain dalam produksi barang dan jasa

yang dijual perusahaan.

2. Dapat dipertukarkan dengan aktiva lain.

3. Dipergunakan untuk menyelesaikan kewajiban.

4. Dibagikan kepada para pemilik perusahaan

2.2 Pengukuran Aktiva

2.1.1 Pengertian Pengukuran Aktiva

Pengukuran berarti memberi nilai-nilai numerical (kuantifikasi) dalam

satuan moneter atas aktiva, bukan pengukuran dalam satuan fisik, walaupun

pengukuran secara umum dapat dilakukan dalam satuan fisik dan dapat pula

dalam satuan moneter.

2.1.2 Tujuan Pengukuran Aktiva

1. Sebagai salah satu langkah dalam pengukuran laba

2. Sebagai salah satu langkah dalam proses penyajian posisi keuangan

3. Memenuhi kebutuhan informasi yang ingin dicapai dalam pelaporan

keuangan
4. Memenuhi kebutuhan informasi khusus yang memerlukan penilaian untuk

kepentingan manajemen

Adapun tujuan-tujuan pengukuran lainnya ialah :

a. Tujuan Sintaktis

Seleksi dipengaruhi pertama-tama oleh pendekatan terhadap pengukuran

aktiva. Dalam struktur akuntansi tradisional neraca menjadi suatu tahap antara

dua laporan rugi laba, dan penilaian aktiva menjadi proses perhitungan berapa

besar jumlah yang akan dibawa ke periode-periode masa depan. Akhir-akhir ini,

dukungan yang kuat diberikan pada laporan posisi keuangan yang didefinisikan

secara terpisah dari laporan rugi laba, berarti dukungan pada pendekatan aktiva-

kewajiban sebagai lawan pendekatan pendapatan-beban.

b. Tujuan Semantis

Salah satu cara untuk mencapai tujuan semantis adalah dengan memastikan

bahwa semua ukuran yang digunakan dalam akuntansi itu akan menghasilkan

penyajian yang jujur (representationally faithful). Istilah ini diuraikan sebagai

keterkaitan atau kesesuaian antara ukuran atau deskripsi dengan fenomena yang

seharusnya disajikan.

c. Tujuan Pragmatis

Tujuan pragmatis berfokus pada kegunaan, atau relevansi akuntansi.

Relevansi didefinisikan dalam Kerangka Dasar Konseptual sebagai kapasitas

informasi untuk menimbulkan perbedaan dalam suatu keputusan, dengan

membantu pemakai membentuk prediksi tentang hasil akhir dari peristiwa masa
lalu, masa sekarang, dan masa depn atau menegaskan atau mengoreksi harapan

sebelumnya.

2.1.3 Dasar Pengukuran Aktiva

Hendriksen (1982) menyebutkan bahwa ada dua jenis nilai pertukaran

yang dapat digunakan yaitu nilai keluaran (output values) dan nilai masukan

(input values). Nilai keluaran menunjukkan aliran dana (kas) yang diperkirakan

akan diterima perusahaan dimasa mendatang sesuai dengan harga pertukaran

output/produk yang dihasilkan perusahaan. Sedangkan nilai masukan

menunjukkan jumlah rupiah yang harus dikeluarkan perusahaan untuk

memperoleh aktiva yang akan digunakan dalam kegiatan operasi perusahaan.

Untuk memahami pengukuran aktiva, maka perlu dipahami penggolongan

aktiva, yaitu :

a) Aktiva Moneter

Yaitu klaim terhadap jumlah tertentu dari satuan mata uang pada tingkat daya

beli saat itu. Aktiva moneter memiliki nilai satuan uang tetap namun dengan daya

beli yang dapat berbeda. Sehingga aktiva moneter adalah pos-pos aktiva yang

besarnya ditentukan oleh kontrak sehingga besarnya tidak terpengaruh oleh

perubahan nilai uang. Misalnya : kas, tabungan, deposito, piutang dagang.

b) Aktiva Non-moneter

Yaitu klaim atau sejumlah uang pada suatu tanggal tertentu dimasa depan,

yang pada saat ini jumlahnya tidak dapat diketahui dengan pasti. Dengan kata

lain, aktiva non-moneter adalah pos-pos aktiva yang besarnya terpengaruh oleh

perubahan nilai uang. Misalnya : surat berharga, persediaan, aktiva tetap.


Metode Pengukuran Aktiva :

1. Exchange Output Value (Nilai Keluaran)

Metode ini mendasarkan pengukuran pada nilai keluaran artinya atas

jumlah kas (rupiah) atau penghargaan lainnya (non kas) yang diterima suatu unit

usaha apabila suatu aktiva atau potensi jasa yang keluar dari perusahaan karena

penjualan atau suatu pertukaran.

Beberapa nilai keluaran tersebut adalah :

a. Discounted future cash receipt or service potentials (Penerimaan Kas atau

Potensi Jasa Masa Depan Yang Didiskontokan)

Yaitu nilai sekarang kas masa mendatang yang akan diterima perusahaan

seandainya aktiva dijual. Dasar ini dapat digunakan apabila harapan penerimaan

kas/setaranya dapat ditaksir cukup pasti dan jangka waktu penerimaan cukup

panjang, tetapi saat/tanggal penerimaannya pasti. Konsep penilaian tersebut

memerlukan adanya taksiran terhadap jumlah yang akan diterima, faktor diskonto,

dan periode waktu penerimaan.

Meskipun dasar penilaian ini memiliki validitas dalam penilaian bagi investor,

namun penerapannya memiliki beberapa kelemahan, terutama bila diterapkan

untuk aktiva individual. Metode ini dapat digunakan pada :

1) Metode ini dapat digunakan apabila harapan tentang kepastian penerimaan

kas atau setaranya cukup tinggi dan tenggang waktu sampai penerimaan

cukup panjang tetapi saat atau tanggal penerimaannya pasti.


2) Pos yang dapat menggunakan metode ini adalah investasi dalam obligasi,

deposito berjangka, piutang wesel.

Kelemahan dalam metode ini adalah :

1) Arus kas atau service potentials sifatnya subjektif dan sulit dibuktikan (not

verifiable)

2) Sulit menentukan tingkat diskonto yang tepat

3) Bila ada dua atau lebih faktor-faktor yang mempengaruhi aliran kas

bagaimana alokasi yang logis dari faktor-faktor tersebut

4) Jumlah present value dari masing-masing aktiva tidak sama dengan nilai

perusahaan

b. Current output price (Harga Keluaran Sekarang)

Apabila produk perusahaan umumnya dijual di pasar yang teroganisir, harga

pasar sekarang merupakan dasar yang rasional untuk menilai besarnya harga jual

di masa mendatang. Sehingga hal penting yang dapat disimpulkan dalam

penggunaan metode ini ialah :

1) Dapat digunakan apabila harga jual pada saat pelaporan mencerminkan

harga di masa yang akan datang bila pos yang bersangkutan keluar dari

perusahaan

2) Metode ini dapat digunakan untuk surat berharga dan beberapa jenis

persediaan

3) Menurut metode ini persediaan harus diukur dengan harga jualnya sebagai

ukuran harga keluaran bukan biaya perolehannya

Proses pengukuran dalam metode ini :


1) Dalam pasar yang teratur harga pasar saat ini merupakan taksiran yang

layak dari harga pasar masa yang akan datang

2) Current output price merupakan pengganti discounted expected cash recept

price dari persediaan yang sudah siap dijual

3) Bagi perusahaan yang belum akan dijual dalam waktu dekat menurut

current output price harga jual persediaan di masa depan didiskontokan

4) Biaya tambahan untuk produksi dan penjualan perlu dikurangkan sehingga

didapatkan net realizable value (nilai realisasi bersih)

Kelemahan current output price :

a) Hanya berlaku bagi aktiva yang pemiliknya dimaksudkan untuk dijual

b) Current output price untuk sebagian besar aktiva menjadi harga di masa

yang akan datang dengan asumsi ceteris paribus

c) Diperlukan metode pengganti apabila ada aktiva yang tidak mempunyai

harga pasar atau harga jual sekarang

c. Current Cash Equivalent (Setara Kas Masa Berjalan)

Pada metode ini merupakan konsep pengukuran tunggal untuk semua aktiva

yang menunjukkan harga yang dapat direalisasikan sekarang (present realization

price). Metode ini juga menunjukkan jumlah kas atau daya beli umum yang dapat

diperoleh dengan menjual aktiva menurut kondisi perusahaan yang wajar (dalam

arti harga pasar barang sejenis dalam kondisi normal)

Kelebihan metode ini adalah setelah semua aktiva dinilai dengan setara kas

masa berjalan maka jumlah yang tercantum mempunyai sifat additive (tambahan).
Kesulitan utama konsep ini adalah bahwa tidak semua aktiva mempunyai harga

pasar, sehingga dalam penafsiran sempit sepertinya metode ini membenarkan

untuk mengeluarkan pos-pos yang tidak mempunyai nilai pasar dari neraca.

d. Liquidation value (Nilai Likuidasi)

Nilai Likuidasi adalah dasar pengukuran yang serupa dengan current output

price atau current cash equivalent yaitu penilaian dengan menggunakan harga

keluaran, yang berbeda adalah dalam hal kondisi pasarnya, dimana nilai likuidasi

menggunakan harga penjualan dalam keadaan likuidasi.

Metode nilai likuidasi mengasumsikan bahwa suatu penjualan yang dipaksakan

sehingga harganya diturunkan atau harga keluaran lebih rendah umumnya harga

pasar dalam kondisi normal. Penerapan nilai likuidasi biasanya menyebabkan

diturunkannya penilaian aktiva serta diakuinya kerugian.

Metode ini hanya bisa diterapkan dalam kondisi :

1) Aktiva yang bersangkutan telah kehilangan kegunaan yang lazim atau usang

atau telah kehilangan pasar dalam kondisi normal

2) Nilai likuidasi diterapkan bila ada maksud menghentikan perusahaan dalam

waktu dekat, sehingga tidak mampu menjual dalam pasar yang normal

2. Exchange Input Value (Nilai Masukan)

Metode pengukuran ini mendasarkan pengukuran pada ukuran masukan,

yang menunjukkan nilai maksimum perusahaan atau produk perusahaan tidak

memiliki harga pasar sehingga tidak mungkin untuk memperoleh nilai keluaran.
Dasar penilaian yang dapat digunakan untuk exchange input value atau nilai

masukan adalah sebagai berikut :

a. Historical Cost

Historical cost diukur dengan pembayaran yang dilakukan di masa lalu atau

yang harus dilakukan di masa yang akan datang untuk memperoleh barang atau

jasa atau memproduksi suatu barang termasuk didalamnya semua jasa yang

diperlukan untuk mendapatkan aktiva sampai dalam kondisi siap digunakan.

Pandangan lebih ke dalam arti biaya diberikan dalam tiga variasi biaya

masukan historis yang ditemukan dalam literatur. Ketiganya adalah biaya

bijaksana (prudent cost), biaya standar, dan biaya asal (original cost).

1) Biaya Bijaksana

Konsep biaya bijaksana menyatakan bahwa hanya biaya-biaya yang secara

normal dibayar untuk properti untuk manajemen yang bijaksana yang harus

dimasukkan dalam pengukuran aktiva atau aktivitas.

2) Biaya Standar

Biaya standar diterapkan pada penilaian dengan dasar berapa biaya yang

seharusnya, menurut asuransi-asuransi tertentu yang menyangkut tingkat

efesiensi produktif dan pemanfaatan kapasitas yang diinginkan.

3) Biaya Asal

Seperti yang digunakan dalam peraturan fasilitas pelayanan masyarakat,

istilah biaya asal (original cost) mengacu pada biaya properti bagi
perusahaan yang pertama-tama menyerahkannya untuk pelayanan

masyarakat.

Kelebihan metode ini adalah :

a) Paling banyak digunakan dalam akuntansi konvensional karena mudah dan

praktis berdasarkan transakis yang telah terjadi

b) Umumnya merupakan harga pertukaran barang dan jasa pada saat

perolehan, sehingga merupakan realitas

c) Keuntungan utama adalah sifat verifiable atau dapat diuji kebenarannya

Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah :

a) Akan kehilangan makna jika nilai aktiva berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Setelah waktu yang panjang maka angka historical cost tidak mempunyai

makna sebagai manfaat di masa yang akan dating

b) Tidak memungkinkan pengakuan gains (laba) atau losses (rugi) dalam

proses terjadinya, karena umumnya pengakuan laba atau rugi dilakukan

pada saat adanya penjualan

c) Ditinjau dari relevansi informasi untuk pengambilan keputusan historical

cost menjadi kurang keandalannya

b. Current Input Cost (Biaya Masa Berjalan)

Biaya masa berjalan merupakan harga pertukaran yang harus dikeluarkan saat

ini untuk memperoleh aktiva yang sama dan pertukarannya. Harga ini merupakan

harga yang diperoleh dari pasar tempat perusahaan membeli barang atau jasa

(pasar input) bukan tempat menjual (pasar output). Biaya masa berjalan telah
menjadi dasar penilaian yang penting dalam akuntansi khususnya untuk

menyajikan informasi mengenai dampak inflasi pada perusahaan.

1) Nilai Taksiran

Istilah nilai taksiran mengacu pada suatu estimasi nilai biaya masa berjalan

atau nilai masa berjalan dengan menggunakan prosedur yang sistematik.

Keuntungan utama dalam mendapatakan suatu nilai taksiran adalah bahwa

karena nilai itu biasanya dihitung oleh orang diluar perusahaan, nilai itu

dianggap lebih objektif daripada nilai penggantian yang dihitung oleh

perusahaan sendiri.

2) Nilai Wajar

Istilah nilai wajar selama ini digunakan terutama dalam bidang pelayanan

masyarakat untuk mengacu pada jumlah total yang akan mendatangkan

imbalan yang wajar bagi investor.

3) Nilai Realisasi Bersih

Bila biaya penggantian tidak tersedia, biaya itu kadang-kadang dapat

diestimasi dengan mengurangkan marjin laba kotor yang normal dari nilai

realisasi bersih (estimasi harga jual dikurangi biaya tambahan yang

diharapkan) yang digunakan untuk biaya masa sekarang.

Keuntungan penggunaan metode ini adalah :

a) Ukuran terbaik mengenai nilai input yang disesuaikan terhadap pendapatan

b) Biaya masa berjalan telah menjadi dasar penilaian paling penting dalam

akuntansi khususnya untuk menyajikan informasi mengenai dampak inflasi

pada aktiva perusahaan


Sedangkan kelemahan metode ini adalah :

Kadang-kadang kurang objektif karena tidak tersedianya harga pertukaran

untuk aktiva tertentu di masa kini, khususnya barang musim

Perubahan dalam biaya kini tidak selalu mencerminkan perubahan harga

jual masa berjalan, nilai tidak mesti berubah karena adanya perubahan biaya

c. Discounted Future Input Cost (Biaya Masukan Masa Depan Yang

Didiskontokan)

Biaya masukan masa depan yang didiskontokan merupakan nilai sekarang

pengorbanan ekonomi di masa yang akan datang seandainya potensi aktiva

tersebut tidak diperoleh di masa sekarang. Misal : fasilitas fisik dari sewa beli.

Syarat utama digunakannya metode pengukuran ini adalah adanya kepastian

tentang harga potensi aktiva di masa mendatang atau setidaknya dapat ditaksir

dengan cukup pasti.

3. Lower of Cost or Market Valuation (Nilai Terendah Antara Biaya dan

Pasar)

Prosedur penilaian yang terendah antara biaya dan pasar bukanlah konsep

penilaian keluaran dan juga bukan konsep penilaian masukan, tetapi merupakan

campuran kedua konsep itu. Istilah pasar disini mengacu pada harga keluaran dan

harga masukan. Bila konsep ini diterapkan pada persediaan, istilah pasar biasanya

mengacu pada biaya penggantian (suatu konsep masukan), tetapi mungkin

mengacu pada harga jual atau nilai realisasi bersih (konsep keluaran) dalam

kondisi-kondisi tertentu. Bila diterapkan pada penilaian investasi dalam sekuritas,

pasar biasanya mengacu pada harga jual, walaupun dalam hal ini biaya dan harga
jual didapat dari pasar yang sama; selisah antara keduanya ditunjukkan terutama

oleh biaya pembelian dan penjualan. Akan tetapi, karena sekuritas biasanya tidak

dibeli dengan tujuan untuk dijual dalam pasar yang berbeda dengan harga yang

lebih tinggi, baik biaya maupun harga jual sekuritas dapat dianggap sebagai

harga-harga keluaran.

Konsep nilai terendah antara biaya dan pasar mempunyai sejarah yang

panjang dalam akuntansi, sejak abad ke-19 dan sebelumnya. Salah satu alasan

ketenarannya adalah penekanan pada neraca sebagai laporan kepada kreditor.

Tanpa suatu laporan yang andal untuk mendasari harapan-harapan yang

menyangkut operasi masa depan, kreditor menekankan nilai konversi terendah

yang mungkin untuk aktiva-aktiva.

Ada keraguan mengenai apakah aturan nilai terendah antara biaya dan pasar

ini merupakan konsep akuntansi yang mendasar atau hanya suatu prosedur

akuntansi yang diterima. Aturan ini tidak menggunakan konsep penilaian yang

berbeda dengan konsep-konsep yang sebelumnya, tetapi karena aturan ini tidak

memakai salah satu konsep penilaian secara konsisten, aturan ini dapat dianggap

sebagai konsep yang berbeda, paling tidak dalam penerapannya, atau dapat

dianggap sebagai penerapan eklektik dari berbagai konsep penilaian. Banyak yang

percaya bahwa konsep nilai terendah antara biaya dan pasar ini tidak dapat

diterima dalam teori akuntansi untuk alasan-alasan berikut ini :

a. Sebagai metode konservatisme, konsep ini cenderung merendahsajikan

(understate) penilaian total aktiva. Penilaian aktiva individual mungkin juga


direndahsajikan, tetapi karena nilai-nilai tidak dinaikkan sampai di atas biaya

perolehan dalam kasus-kasus dimana manfaat atau nilai penjualan masa depan

meningkat, total penilaian cenderung direndahsajikan setiap kali konsep biaya

dan pasar diterapkan. Rendah saji ini mungkin tidak membahayakan kreditor,

tetapi menipu pemegang saham dan investor potensial, dan manajemen menipu

diri sendiri jika mempercayai laporannya sendiri.

b. Konservatisme dalam aktiva ditutup (offset) oleh laporan laba bersih yang tidak

konservatif dalam periode tertentu di masa depan. Penilaian aktiva yang lebih

rendah dalam periode berjalan akan menghasilkan pelaporan laba yang lebih

tinggi atau kerugian yang lebih rendah dalam periode tertentu di masa depan

ketika nilai aktiva itu dihilangkan sebagai beban. Tetapi karena keuntungan

tidak dilaporan dalam periode berjalan, laba bersih yang dihasilkan akan

berguna sebagai alat prediksi atau sebagai ukuran efesiensi.

c. Walaupun konsep biaya atau pasar dapat diterapkan secara konsisten dari tahun

ke tahun, secara internal konsep ini tidak konsisten. Tidak ada konsep penilaian

tunggal yang digunkan secara konsisten, satu konsep penilaian mungkin

diterapkan pada tahun ini dan konsep lain pada tahun berikutnya. Selain itu,

tidak ada konsep penilaian yang diterapan secara konsisten pada satu

klasifikasi aktiva dalam tahun yang sama.

d. Argumentasi yang tidak begitu meyakinkan adalah bahwa aturan biaya atau

pasar menyebabkan penurunan dalam biaya dan juga memperkecil utilitas yang

disebabkan oleh memburuknya kondisi, keusangan, atau penurunan kapasitas


menghasilkan penghasilan. Mungkin saja tidak ada perubahan dalam nilai

realisasi bersih hanya karena biaya berubah.

2.3 Keandalan

Keandalan seringkali diajukan sebagai justifikasi utama bagi biaya historis

dan argumentasi utama terhadap semua pesaingnya. Nilai masukan lebih disukai

daripada nilai keluaran karena alasan yang sama, yaitu nilai masukan diyakini

lebih dapat diuji, mungkin karena nilai ini tidak memungkinkan dilaporkannya

pendapatan sebelum direalisasi. Dengan kata lain, kita mungkin sepakat bahwa

harga pertukaran (harga pasar) itu relevan dengan laporan eksternal dan bahwa

karena keputusan ekonomi hanya bisa mempengaruhi hasil-hasil berjalan dan

masa depan, harga pertukaran masa berjalan dan masa depan secara sepintas lebi

relevan daripada harga pertukaran masa lalu. Tetapi kita tetap masih bisa

berargumentasi bahwa pembatasan-pembatasan, seperti adanya ketidakpastian

dan keinginan akan objektivitas dan keandalannya, membuat harga pasar masa

berjalan lebih andal daripada harga masa depan, dan dalam banyak kasus, harga

pertukaran masa lalu lebih andal dari masa berjalan. Biaya historis aktiva, karena

didasarkan pada satu atau lebih transaksi, jauh lebih unggul karena dapat diuji.

Karenanya, kita dapat menyimpulkan dengan alasan keandalan, bahwa harga

pertukaran masa lalu, yaitu biaya historis lebih disukai.

Relevansi dan keandalan kadang-kadang tampak berlawanan, kita bisa

mendapatkan salah satunya tetapi tidak keduanya. Hal ini tidak mesti benar.

Banyak kntrak yang ditetapkan berdasarkan harga pertukaran masa lalu. Oleh
karenanya, harga pertukaran masa lalu sama relevannya untuk pelaporan eksternal

seperti untuk pelaporan berjalan dan masa depan. Jadi keandalan dan relevansi

dalam banyak kasus berjalan berdampingan.


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam penilaian aktiva, tidak ada satu konsep atau prosedur yang ideal

dalam penyajian laporan posisi keuangan, dalam penentuan penghasilan, atau

dalam penyajian informasi lain yang relevan dengan keputusan para investor,

kreditor, dan pemakai laporan keuangan lainnya. Dari sudut pandang struktural

biaya historis kerapkali diasumsikan ideal sepanjang didasarkan pada pembukuan

double-entry yang mengharusan pencatatan semua perubahan sumberdaya dan

memungkinkan pengidentifikasian selanjutnya. Akan tetapi, struktruk-struktur

yang formal juga dapat dirumuskan untuk konsep-konsep penilaian lainnya.

Akuntansi, sebagai akaibatnya, bersifat eklektis, dan memilih nilai keluaran

dalam beberapa kasus dan nilai masukan dalan kasus-kasus lainnya. Walaupun

nilai keluaran mungkin secara konseptual lebih baik untuk penyajian laporan

keuangan, dalam banyak situasi nilai masukan dinggap lebih tepat karena nilai

masukan menunjukkan nilai maksimum bagi perusahaan atau karena tidak ada

pasar keluaran pertukaran yang tidak mungkin didapat.

Masalahnya adalah kita tidak benar-benar mengetahui ukuran-ukuran apa

yang diinginkan pemakai. Misalnya, walaupun teori menyatakan bahwa angka-

angka yang sudah disesuaikan dngan inflasi lebih disukai oleh banyak pemakai,

praktik mengungkapan bahwa angka-angka itu tidak digunakan. Atau, informasi


itu mungkin sudah tersedia di tempat lain dengan biaya yang lebih rendah,

sehingga penyajiannya dalam laporan keuangan tidak relevan. Akibatnya,

pelaporan keuangan dan perubahan harga yang memperkenalkan angka-angka ini

secara eksperimental pada akhirnya ditinggalkan.


DAFTAR PUSTAKA

Hendriksen, Eldon S. 2002. Diterjemahkan Oleh Herman Wibowo. Teori


Akunting Edisi Kelima, Buku Satu. Jakarta : Interaksara

Hendriksen, Eldon S dan Michael F Van Breda. 2002. Diterjemahkan Oleh


Herman Wibowo. Teori Akunting Edisi Kelima, Buku Dua. Jakarta :
Interaksara

Yimuliar. 2013. Teori Akuntansi Konsep Aktiva. Sumber : Situs Web

prezi. 2012. Aktiva Pengukurnya. Sumber : Situs Web

sytisahdina. 2010. Aktiva dan Pengukurannya. Sumber : Situs Web