Anda di halaman 1dari 11

1

ASPEK HUKUM DAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN


FLEBOTOMI

Disusun Oleh :

Sri Wahyuni

Virgin Yaumil

Siti Aisyah

Siti Hartinah

Siti Nurchalifah A.P


2

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puji dan
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT.Karena berkat nikmat dan kasih
sayangnya makalah ini dapat diselesaikan. Shalawat era salam kami sanjugkan atas
keharibaan Nabi besar Muhammad SAW. Beserta keluarga dan para sahabatnya
yang telah berjuang dan berkorban demi tegaknya syiar islam yang pengaruh dan
manfaatnya hingga kini masih terasa.

Makalah imi disusun selain sebagai tugas kelompok juga agar dapat
menambah pengerahuan dan pemahaman pembaca dan penyusun pada khususnya,
terhadap materi yang dikaji yaitu mengenai PHLEBOTOMY (ASPEK HUKUM
DAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN FLEBOTOMI).Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan. Ole sebab itu,
saran dan kritik sangat kami harapkan, agar makalah ini dapat lebih baik untuk
kedepannya.

Wassalamualaikum, wr.wb

Makassar, 18 September 2017

Penulis
3

DAFTAR ISI

Halaman Judul.. 1

Kata Pengantar. . 2

Daftar Isi... 3

1. Pendahuluan... 4
2. Undang-undaang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004..
3. Hak Pasien.
4. Kewajiban Pasien.
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 411/MENKES/PER/III/2010
6. Kelalaian
7. Perundang-undangan dalam Bidang Kesehatan
8. Pembinaan dan Pengawasan Pelaksanaan Phlebotomi
9. Tanggungjawab Hukum
10.Aspek Hukum dan Prundangan Phlebotomi
4

1. PENDAHULUAN

Phlebotomi berkaitan dengan kegiatan mendapatkan spesimen darah dari


pasien untuk diperiksa secara laboratorium. Di dalam tindakan phlebotomi,
seorang phlebotomis (pelaksana phlebotomi) perlu mengetahui darah apa yang
akan diambil, peralatan apa yang akan dipakai, dibagian anatomi mana
mengambilnya, adakah iv-line yang sudah terpasang, bagaimana mencegah infeksi,
bagaimana mencegah atau mengurangi rasa sakit, bagaimana berkomunikasi
dengan pasien, termasuk memperoleh persetujuannya, bagaimana prosedur
pelaksanaan yang benar agar tepat mengenai vena, dan faktor keselamatan (safety).
Oleh sebab itu, masalah medikolegal yang dapat ditarik adalah masalah siapa
pelaksana phlebotomi (kompetensi dan kewenangannya), bagaimana prosedur
standarnya, perlukah supervisi, dan siapa yang bertanggungjawab atas risiko yang
terjadi.Di dalam praktek, phlebotomi di rumah sakit atau di laboratorium dapat
dilakukan oleh perawat atau analis laboratorium atau orang yang dilatih khusus
untuk itu, yang selanjutnya akan disebut sebagai teknisi phlebotomi.

Kemampuan atau kompetensi diperoleh seseorang dari pendidikan atau


pelatihannya, sedangkan kewenangan atau authority diperoleh dari penguasa atau
pemegang otoritas di bidang tersebut melalui pemberian ijin.Kewenangan memang
hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kemampuan, namun adanya
kemampuan tidak berarti dengan sendirinya memiliki kewenangan.Sebagai dokter,
perawat, dan bidan, kompetensi dalam melakukan tindakan phlebotomi telah
dimilikinya dan kewenangan melakukannya pun telah dimilikinya, tanpa
disebutkan secara eksplisit di dalam sertifikasi kompetensinya dan atau surat ijin
praktek profesinya. Sedangkan bagi analis laboratorium dan teknisi phlebotomi,
kompetensi mereka diperoleh dari pendidikan menengah atau pelatihan atau
kursus, sehingga kompetensinya harus dinyatakan secara tegas di dalam sertifikat
5

kompetensinya.Sertifikat kompetensi tersebut harus dikeluarkan oleh lembaga


pendidikan yang terakreditasi atau oleh lembaga sertifikasi tertentu.Pendidikan
analis laboratorium dan teknisi phlebotomi bukanlah pendidikan profesi, bukan
pula pendidikan vokasi.

Dalam peraturan perundangundangan di Indonesia belum diatur tenaga


kesehatan yang disebut sebagai teknisi phlebotomi, oleh karena itu teknisi
phlebotomi belum sah sebagai salah satu tenaga kesehatan. Ada kecenderungan
bahwa suatu pekerja di bidang kesehatan akan lebih mudah diakui sebagai tenaga
kesehatan apabila pendidikannya setidaknya mencapai D3. Hal ini perlu dilakukan
agar konsumen kesehatan terjamin kepentingan dan keselamatannya

2. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIANOMOR 29 TAHUN 2004

PASAL 1

Penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilakukan oleh dokter dan dokter gigi
yang memiliki etik dan moral yang tinggi, keahlian dan kewenangan yang secara
terus menerus harus ditingkatkan mutunya melalui pendidikan.

PASAL 2

Praktik kedokteran dilaksanakan berdasarkan Pancasila dan didasarkan pada nilai


ilmiah, manfaat, keadilan, kemanusiaan, keseimbangan serta perlindunan dan
keselamatan pasien.
6

3. HAK PASIEN

1. Atas informadi
2. Memberi persetujuan
3. Memilih dokter
4. Memilih sarana kesehatan
5. Atas rahasia kedokteran
6. Menolak/menghentikan pengobatan dan perawatan
7. Menolak tindakan medik tertentu
8. Second opinion
9. Melihat rekam medis
10.Atas ganti rugi

4. KEWAJIBAN PASIEN

1. Menaati peraturan dan tata tertib


2. Mematuhi instruksi dokter dan perawat
3. Memberikan informasi secara jujur dan lengkap
4. Melunasi imbalan jasa
5. Memenuhi kesepakatan
7

5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 411/MENKES/PER/III/2010

PASAL 35

Dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi mempunyai
wewenang melakukan praktik kedokteran sesuai dengan pendidikan dan kompetesi
yang dimiliki, yang terdiri atas :

a. Menentukan pemeriksaan penunjang


b. Menegakkan diagnosis

6. KELALAIAN

PASAL 359 KUHP

Barang siapa karna kelalaiannya menyebabkan orang mati, dipidana dengan


penjara paling lama 5 tahun atau pidana kurungan maksimal 1 tahun.

CARA MEMBUKTIKAN KELALAIAN

Sudah sesuai PROTAP


Sudah sesuai dengan standar profesi?
Bagaimana isi rekam medis
Bagaimana hasil visum
Bagaimana pendapat ahlinya
8

7. PERUNDANG-UNDANGAN DALAM BIDANG KESEHATAN

Tidak semua peraturan atau peraturan itu diwujudkan dalam bentuk undang-
undang (UU). Undang-undang umumnya menyangkut hal-hal yang besar misalnya
:

1. UU RI No. 23 tahun 1992 mengenai Kesehatan


2. UU RI No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
3. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
4. UU RI No. 44 tahun 2009 tenang Rumah Sakit
5. Permenkes: No. 411 tahun 2010 tentang Laboratoriun Klinik

8. PEMBINAAN dan PENGAWASAN PELAKSANAAN PHLEBOTOMI

Organisasi profesi membuat kode etik dan standar profesi, mengawasi


pelaksanaannya, dan memberikan sanksi bagi mereka yang melanggarnya dengan
atau tanpa adanya korban atau kerugian.Semuanya itu ditujukan untuk melindungi
masyarakat, khususnya pengguna jasa profesi.Upaya itu merupakan bagian dari
akuntabilitas profesi.Majelis atau Dewan Kehormatan Etik-lah yang melakukan
pengawasan, pemeriksaan dan pemberian sanksi atas pelanggaran etik dan disiplin
profesi.

Sebuah profesi dikatakan akuntabel apabila organisasinya dapat memastikan


bahwa pelayanan profesional di bidang itu hanya dilaksanakan oleh orang-orang
yang kapabel atau kompeten. Organisasi profesi dapat membentuk Dewan
Kehormatan Kode Etik yang akan melaksanakan proses persidangan, pemberian
sanksi dan pembinaan.
9

9. TANGGUNG JAWAB HUKUM

Tanggung jawab hukum kepada pasien dapat terjadi sebagai akibat dari suatu
tindakan yang melanggar hukum atau merugikan pasien.Sifatnya pun merupakan
kesengajaan atau kelalaian.Pelanggaran hukum dapat berupa tindakan tanpa
informfed concent, pelanggaran susila, pengingkaran atas janji atau jaminan, dsb.

10.ASPEK HUKUM DAN PERUNDANGAN PHLEBOTOMI

A. Legalitas Phlebotomi :

1. Keputusan MENKES No 04 / MENKES / SK / 2002 Tentang laboratorium


kesehatan swasta dituliskan bahwa salah satu tugas dan tanggung jawab perawat
yang bekerja di Laboratorium swasta adalah melakukan tindakan pengambilan
specimen.

2. Peraturan MENPAN No 08 Tahun 2006 Tentang Analis kesehatan pegawai


negeri (Pranata Lboratorium) Tugas pelayanan laboratorium kesehatan di bidang
hematologi, kimia klinik, mikrobiologi, imunoserologi, toxicology, kimia
lingkungan dan patologi anatomi.

3. Keputusan Mentri Kesehatan dan Mentri Kesejahteraan Sosial RI N0 141 /


MENKESKESOS / SK/ II/ 2001 Tentang petunjuk teknis pelaksanan pejabat
fungsional pranata laboratorium kesehatan

Point 21: mempersiapkan pasien, yaitu kegiatan yang dilakukan sebelum


pengambilan specimen, member petunjuk pada pasien tentang persiapan atau
tindakan yang harus dilakukan sampai dengan mengatur posisi pasien.
10

Point 22 :mempersiapkan peralatan dan bahan penunjangn untuk mengambil


specimen atau sample di laboratorium yaitu kegiatan yang dilakukan sebelum
mengambil specimen atau sample di laboratorium

Point 26 : mengambil specimen atau sample dengan tindakan sederhana yaitu


mengambil specimen atau sample dengan teknik atau prosedur yang mudah serta
catat identitas pasien.

B. Legalitas pelaksanaan phlebotomy

Keputusan Mentri Kesehatan RI No.04/MENKES/SK/2002

Tentang laboratorium swasta dituliskan bahwa salah satu tugas dan tanggung
jawab perawat kesehatan yang bekerja di Laboratorium swasta adalah melakukan
tindakan untuk pengambilan specimen laboratorium.

Undang-undang RI No.36 tahun 2009 : Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang
mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau
ketrampilan melalui pendidikan dibidang kesehatan yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

Peraturan MenPan No.8 tahun 2006 : Tenaga analis kesehatan sebagai pegawai
negeri memiliki jabatan sebagai pranata laboratorium yang merupakan rumpun
kesehatan.

Tugas pranata laboratorium kesehatan : Tugas pelayanan labkes dibidang


hematologi, kimia klinik, imun serologi, mikrobiologi, toksikologi, kimia
lingkungan dan patologi anatomi.
11

Rapat MenKes mengeluarkan keputusan MenKes dan Kesejahteraan social RI No.


141MenKes-Kesos/SK/2001 tentang petunjuk teknis pelaksanaan jabatan
fungsional pranata laboratorium kesehatan.

Point 21 : Mempersiapkan pasien yaitu kegiatan yang dilakukan sebagai


pengambilan specimen, memberi petunjuk kepada pasien mengenai persiapan atau
tindakan persiapan yang harus dilakukan sampai dengan mengatur posisi pasien.

Point 22: Mempersiapkan peralatan dan bahan penunjang untuk pengambilan


soesimen atau sampel di laboratoris yaitu kegiatan yang dilakukan sebelum
specimen atau sampel laboratorium.

Point 26: Mengambil specimen atau sampel dengan tindakan sederhana yaitu
mengambil specimen atau sampel dengan menggunakan teknik dan prosedur yang
m,udah serta mencatat identitas specimen.

Anda mungkin juga menyukai