Anda di halaman 1dari 3

PROSPECTIVE ANALYSIS : VALUATION THEORY AND CONCEPTS

DEFINING VALUE FOR SHAREHOLDER

Menurut Palepu et al (2008), valuasi adalah suatu proses mengubah peramalan ke dalam
estimasi nilai suatu perusahaan atau sebagaian dari komponen dari perusahaan. Pada
berbagai tingkat tertentu, tiap keputusan bisnis melibatkan valuasi. Dalam perusahaan
anggaran modal memperhitungkan bagaimana proyek tertentu mempengaruhi perusahaan. Di
luar perusahaan, analis sekuritas mempertimbangkan valuasi untuk mendukung keputusan
menjual atau membeli, Pembeli potensial mengestimasi nilai perusahaan sinergi dengan apa
yang mereka tawarkan.
Menurut Subramanyam (2014), analisis prospektif juga merupakan pusat penilaian
sekuritas. Arus kas bebas dan model penilaian sisa pendapatan yang dijelaskan dalam Bab 1
membutuhkan perkiraan laporan keuangan di masa depan. Analisis prospektif ini juga
berguna untuk memeriksa kelayakan rencana strategis perusahaan. Untuk ini, kita
menganalisis apakah perusahaan akan mampu menghasilkan arus kas yang cukup dari operasi
untuk membiayai pertumbuhan yang diharapkan atau apakah perusahaan akan diminta untuk
mencari utang atau pembiayaan ekuitas di masa depan. Dengan memprediksi kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang cukup, maka shareholder akan mendapatkan
sebuah informasi yang berguna tentang kemampuan perusahaan tersebut untuk
mensejahterakannya.
Sedangkan menurut Foster (1986), model penilaian ekuitas dapat berfokus pada setidaknya
satu atau lebih dari empat atribut berikut:

a. Aliran pendapatan masa depan


b. Aliran arus kas masa depan
c. Aliran dividen masa depan
d. Nilai aktiva dan kewajiban masing-masing yang dimiliki atau dikuasai oleh
perusahaan

Keempat atribut jelas tidak independen satu sama lain. Namun, pendekatan penilaian yang
berfokus tunggal pada salah satu atribut ini dapat ditemukan dalam literatur dan dalam
praktek.
Dalam praktiknya, berbagai jenis metode valuasi digunakan. Beberapa metode itu adalah:
1. Dividen diskonto. Pendekatan ini menunjukkan nilai modal ekuitas perusahaan
dengan nilai sekarang dari dividen masa depan.
2. Diskonto laba abnormal. Dengan pendekatan ini nilai ekuitas perusahaan
diekspresikan sebagai jumlah dari nilai bukunya dan peramalan didiskontokan laba
abnormal.
3. Valuasi didasarkan kelipatan harga. Dengan pendekatan ini pengukuran terkini atas
kinerja atau peramalan tunggal kinerja dikonversikan ke dalam sebuah nilai melalui
aplikasi kelipatan harga untuk dibandingkan dengan perusahaan lainnya.
4. Analisis aliran kas yang didiskontokan (DCF). Pendekatan ini menghasilkan rincian,
peramalan multiple-year aliran kas. Peramalan didiskontokan atas estimasi biaya
modal perusahaan
Seluruh pendekaan di atas, bisa dilakukan dengan dua cara. Pendekatan pertama
dengan menilai ekuitas perusahaan, di mana para analis sangat tertarik akan hal ini di dalam
mengestimasi. Kedua, adalah dengan mengestimasi nilai aset perusahaan, yaitu dengan
mengurangkannya dengan nilai kewajiban bersih sehingga menghasilkan nilai ekuitas.
Nilai pemegang saham adalah nilai sekarang atas pembayaran dividen di masa yang
akan datang. Definisi ini diimplementasikan dengan peramalan dan dikonto dividen yang
akan datang secara langsung.

THE DISCOUNTED DIVIDENDS VALUATION METHOD

Menurut Palepu et al (2008), Pemegang saham menerima kas dalam bentuk pembayaran
dividen, sehingga nilai pemegang saham adalah nilai kini pembayaran dividen yang akan
datang.
Equity Value = PV of expected future dividends
Equity Value=DIV1/(1+re)1+DIV2/(1+re)2+DIV3(1+re)3+
Dengan asumsi bahwa perusahaan akan berjalan untuk waktu yang tidak ditentukan
tanpa mengalami kebangkrutan.
Jika perusahaan memiliki pertumbuhan dividen yang konstan (gd), formulanya akan
berbentuk:
Equity Value= DIV1re-gd
Model di atas dinamakan model dividend discount. Model ini disusun atas dasar
sebagian besar pendekatan teoritis populer penilaian saham.
Menurut Foster (1986), dengan asumsi holding period tak terbatas dalam pengaturan
kepastian, rumus untuk nilai pasar dari sekuritas berdasarkan aliran dividen masa depan
adalah
+1 +2 +
Vi.t = + (12.4)
(1++1) (1++1)(1++2) (1++1)(1++2)(1++)

Dimana
V itu = nilai pasar perusahaan i pada akhir periode t
d t = dividen yang dibayarkan pada periode t
r t = tingkat bunga pasar pada periode t untuk investasi tanpa risiko
Salah satu isu yang muncul dengan (12.4) adalah memperkirakan r t + 1, r t + 2, ..., r t + n (struktur
istilah suku bunga). Kebanyakan lembaga yang memanfaatkan model penilaian berbasis
dividen menganggap struktur jangka adalah flat (yaitu, r1 = r2 = r3 ... = rn). Dengan asumsi
ini, (12.4) menjadi
+1 +2 +n
Vi.t = + ++ (12.5)
(1+) (1+)2 (1+)

Alasan khas yang ditawarkan untuk asumsi struktur flat ini adalah sulitnya memperkirakan
pola suku bunga selama n tahun .
Upaya untuk asumsi kepastian (12.4) dan (12.5) biasanya melakukannya melalui penyesuaian
tingkat diskonto. Ketika ketidakpastian diakui dengan cara ini, tingkat diskonto
mencerminkan preferensi waktu investor ditambah dinilai risiko yang terkait dengan seri
dividen perusahaan i.