Anda di halaman 1dari 58

Asuhan Kebidanan Ibu Hamil dengan Blighted ovum

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Berbagai komplikasi yang dialami oleh ibu hamil mungkin saja terjadi dan memiliki peluang
untuk terjadi pada semua ibu hamil. Komplikasi-komplikasi ini bila dapat dideteksi lebih awal
maka akan dapat ditangani dengan baik. Blighted ovum atau kehamilan kosong merupakan
salah satu komplikasi atau kelainan dalam kehamilan yang dapat menyebabkan perdarahan
dalam kehamilan trimester dini.

Sebuah Blighted Ovum (kehamilan kosong) merupakan salah satu jenis keguguran yang
terjadi pada awal kehamilan. Disebut juga anembryonic pregnancy, blighted ovum terjadi
ketika telur yang dibuahi berhasil melekat pada dinding rahim, tetapi tidak berisi embrio,
hanya terbentuk plasenta dan kulit ketuban. Sebagian besar kasus Blighted Ovum akan
dikeluarkan secara alamiah, tetapi kadang-kadang jaringan dalam rahim memerlukan
tindakan medis.

Blighted Ovum umum terjadi pada kehamilan. Bahkan, terjadi sedikitnya 60% dari semua
keguguran dari setiap trimester kehamilan. Namun, karena BO terjadi sangat awal, banyak
wanita tidak menyadari bahwa mereka sedang hamil ketika mereka menderita Blighted
Ovum. Akibatnya banyak wanita tidak sadar akan kondisinya.

Pada ibu hamil dengan Blighted Ovum, kantung uterus akan berhenti perbesarannya. Pada
waktu itu embrio tiada lagi berkembang lalu mati. Kemudian, gugurlah bahan-bahan atau
produk kehamilan. Proses keguguran itu bisa berlangsung berminggu-minggu, dimulai
dengan hadirnya bercak-bercak kecoklatan hingga perdarahan dalam jumlah banyak. Tak
jarang keguguran berlangsung secara spontan. Berdasakan penelitian, hamil yang
keguguran spontan sekitar 50% merupakan kehamilan blighted ovum. Jadi janin memang
tidak berkembang dan mekanisme tubuh secara alami mengeluarkannya.

Oleh sebab itu penulis tertarik mengambil kasus ini, dengan harapan dapat memberikan asuhan dan perawatan
sebagai salah satu usaha untuk menghindari resiko pada ibu.

1.2 Tujuan

1.2.1 Umum

Mahasiswa mampu memahami asuhan kebidanan pada ibuhamil dengan blighted ovum

1.2.2 Khusus

Setelah melakukan asuhan kebidanan pada klien dengan diagnosa kehamilan blighted ovum, maka diharapkan
siswa mempunyai bekal kemampuan :
1. Mengidentifikasi data klien dengan kehamilan blighted ovum.

2. Merumuskan diagnosa kebidanan atau identifikasi masalah pada klien dengan blighted ovum.

3. Merumuskan rencana tindakan kebidanan pada ibu hamil dengan blighted ovum

4. Melaksanakan rencana tindakan pada pasien blighted ovum.

5. Mampu mengevaluasi hasil tindakan kebidanan.

1.3 Ruang Lingkup

Ruang lingkup asuhan kebidanan dalam makalah ini hanya pada masalah kehamilan
blighted ovum.

1.4 Metode Penulisan

Metode penulisan data yang digunakan penulis pada asuhan kebidanan menggunakan
metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif dengan melakukan tinjauan kasus melalui
:

a. Wawancara / anamnesa

Komunikasi langsung yang bertujuan untuk mencari informasi guna melengkapi data pasien
maupun keluarga pasien untuk memperoleh data yang adekuat.

b. Observasi

Dengan cara mengatasi perilaku dan keadaan pasien untuk memperoleh data
tentang kesehatan pasien.

c. Studi dokumentasi

Mempelajari dan melengkapi data dengan jalan melihat catatan atau status pasien

d. Studi pustaka

Dari buku-buku penunjang

BAB II

KONSEP DASAR

2.1 KONSEP DASAR BLIGHTED OVUM

2.1.1 Definisi Blighted Ovum

Blighted ovum adalah keadaan dimana seorang wanita merasa hamil tetapi tidak ada bayi di dalam kandungan.
Seorang wanita yang mengalaminya juga merasakan gejala-gejala kehamilan seperti terlambat menstruasi, mual
dan muntah pada awal kehamilan (morning sickness), payudara mengeras, serta terjadi pembesaran perut,
bahkan saat dilakukan tes kehamilan baik test pack maupun laboratorium hasilnya pun positif.

Pada saat konsepsi, sel telur (ovum) yang matang bertemu sperma. Namun akibat berbagai faktor maka sel telur
yang telah dibuahi sperma tidak dapat berkembang sempurna, dan hanya terbentuk plasenta yang berisi cairan.
Meskipun demikian plasenta tersebut tetap tertanam di dalam rahim. Plasenta menghasilkan hormon HCG
(human chorionic gonadotropin) dimana hormon ini akan memberikan sinyal pada indung telur (ovarium) dan
otak sebagai pemberitahuan bahwa sudah terdapat hasil konsepsi di dalam rahim. Hormon HCG yang
menyebabkan munculnya gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah, ngidam dan menyebabkan tes
kehamilan menjadi positif. Karena tes kehamilan baik test pack maupun laboratorium pada umumnya mengukur
kadar hormon HCG (human chorionic gonadotropin).

2.1.2. Etiologi

Hampir 60% kehamilan kosong disebabkan adanya kelainan kromosom dalam proses pembuahan sel telur dan
sel sperma.

Meskipun prosentasenya tidak terlalu besar, infeksi rubella, infeksi TORCH, kelainan imunologi, dan sakit
kencing manis/diabetes melitus yang tidak terkontrol. Pada ibu hamil dapat menjadi menyebabkan terjadinya
kehamilan kosong.

Kian tua usia istri dan suami serta semakin banyak jumlah anak yang dimiliki juga dapat memperbesar peluang
terjadinya kehamilan kosong.

Kadang-kadang Blighted Ovum disebabkan rendahnya kadar hormon dalam tubuh, akan tetapi penyebab utama
kondisi ini nampaknya karena faktor kromosom. Blighted Ovum terjadi ketika kromosom kromosom yang
membentuk janin rusak atau terganggu, mengakibatkan kerusakan genetik yang parah. Kemudian tubuh anda
mengenali abnormalitas kromosom ini dan secara alami berusaha untuk mengakhiri kehamilan.

2.1.3 Tanda Gejala

Sebagian besar wanita yang menderita Blighted Ovum sering tidak menyadari bahwa mereka hamil pada saat
itu. Gejala dapat ringan atau bahkan tidak ada. Seringkali wanita terlambat haid dan hasil tes urin positif,
kehamilan berjalan normal sampai kemudian secara tidak sengaja diketahui bahwa kehamilan kosong saat
pemeriksaan USG oleh spesialis kandungan saat usia kehamilan lebih dari 8 minggu. Wanita yang mendapatkan
tes kehamilan positif kemungkinan akan mengalami gejala umum kehamilan biasa, kemudian dapat timbul
gejala tidak khas yaitu perdarahan spotting coklat kemerah-merahan, kram perut, dan bertambahnya ukuran
rahim yang lambat.

2.1.4. Diagnosis

Satu-satunya cara untuk memastikan diagnosa Blighted Ovum adalah melalui pemeriksaan USG. USG
abdominal atau transvaginal akan mengungkapkan ada tidaknya janin yang berkembang dalam rahim Anda.

2.1.5. Pencegahan

Melakukan imunisasi pada si ibu untuk menghindari masuknya virus rubella ke dalam tubuh. Selain imunisasi,
ibu hamil pun harus selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggalnya.
Sembuhkan dahulu penyakit yang diderita oleh calon ibu. Setelah itu pastikan bahwa calon ibu benar-benar
sehat saat akan merencanakan kehamilan.

Melakukan pemeriksaan kromosom

Tak hanya pada calon ibu, calon ayah pun disarankan untuk menghentikan kebiasaan merokok dan memulai
hidup sehat saat prakonsepsi.

Periksakan kehamilan secara rutin. Sebab biasanya kehamilan kosong jarang terdekteksi saat usia kandungan
masih di bawah delapan bulan.

2.1.6. Kehamilan Selanjutnya

Sebagian besar wanita yang menderita Blighted Ovum mendapatkan kehamilan sehat di masa depan. Meskipun
ada kemungkinan untuk menderita abortus / keguguran berulang, ini sangat dimungkinkan ada beberapa
penyebab / masalah reproduksi. Untuk memberikan waktu tubuh Anda untuk normal kembali, disarankan
menunggu satu sampai tiga siklus haid sebelum mencoba untuk hamil kembali. Gunakan kontrasepsi selama
waktu tersebut untuk mencegah kehamilan terlebih dahulu.

Jika Anda telah mengalami lebih dari dua kali keguguran berurutan, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan
spesialis kandungan/ahli reproduksi. Anda atau pasangan Anda mungkin menderita suatu masalah yang
mengganggu kehamilan, sehingga diperlukan pemantauan dan terapi khusus yang dapat membantu Anda untuk
mencegah keguguran selanjutnya dan membawa kehamilan sampai genap bulan.

2.2 KONSEP DASAR KURETASE

2.2.1 Pengertian Kuretase

Kuratase adalah cara membersihkan hasil konsepsi memakai alat kuratase (sendok kerokan). Sebelum
melakukan kuratase, penolong harus melakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan letak uterus, keadaan
serviks dan besarnya uterus gunanya untuk mencegah terjadinya bahaya kecelakaan misalnya perforasi
(Harnawatiaj, 2008).

Sebuah kuret adalah alat bedah yang dirancang untuk mengorek jaringan biologis atau puing di sebuah biopsi,
eksisi, atau prosedur pembersihan. (Michelson, 1988).

2.2.2 Tujuan Kuretase

Menurut ginekolog dari Morula Fertility Clinic, RS Bunda, Jakarta, tujuan kuret ada dua yaitu:

a. Sebagai terapi pada kasus-kasus abortus. Intinya, kuret ditempuh oleh dokter untuk membersihkan rahim dan
dinding rahim dari benda-benda atau jaringan yang tidak diharapkan.

b. Penegakan diagnosis. Semisal mencari tahu gangguan yang terdapat pada rahim, apakah sejenis tumor atau
gangguan lain. Meski tujuannya berbeda, tindakan yang dilakukan pada dasarnya sama saja. Begitu juga
persiapan yang harus dilakukan pasien sebelum menjalani kuret.

2.2.3 Persiapan Sebelum Kuretase


A. Prosedur Kuretase

Persiapan Pasien Sebelum Kuretase

1. Puasa

Saat akan menjalani kuretase, biasanya ibu harus mempersiapkan dirinya. Misal,
berpuasa 4-6 jam sebelumnya. Tujuannya supaya perut dalam keadaan kosong sehingga kuret bisa dilakukan
dengan maksimal.

.2. Persiapan Psikologis

Setiap ibu memiliki pengalaman berbeda dalam menjalani kuret. Ada yang bilang
kuret sangat menyakitkan sehingga ia kapok untuk mengalaminya lagi. Tetapi ada pula yang biasa-biasa saja.
Sebenarnya, seperti halnya persalinan normal, sakit tidaknya kuret sangat individual. Sebab, segi psikis sangat
berperan dalam menentukan hal ini. Bila ibu sudah ketakutan bahkan syok lebih dulu sebelum kuret, maka
munculnya rasa sakit sangat mungkin terjadi. Sebab rasa takut akan menambah kuat rasa sakit. Bila
ketakutannya begitu luar biasa, maka obat bius yang diberikan bisa tidak mempan karena secara psikis rasa
takutnya sudah bekerja lebih dahulu.

Sebaliknya, bila saat akan dilakukan kuret ibu bisa tenang dan bisa mengatasi
rasa takut, biasanya rasa sakit bisa teratasi dengan baik. Meskipun obat bius yang diberikan kecil sudah bisa
bekerja dengan baik. Untuk itu sebaiknya sebelum menjalani kuret ibu harus mempersiapkan psikisnya dahulu
supaya kuret dapat berjalan dengan baik. Persiapan psikis bisa dengan berusaha menenangkan diri untuk
mengatasi rasa takut, pahami bahwa kuret adalah jalan yang terbaik untuk mengatasi masalah yang ada. Sangat
baik bila ibu meminta bantuan kepada orang terdekat seperti suami, orangtua, sahabat, dan lainnya.

3. Minta Penjelasan Dokter

Hal lain yang perlu dilakukan adalah meminta penjelasan kepada dokter
secara lengkap, mulai apa itu kuret, alasan kenapa harus dikuret, persiapan yang harus dilakukan, hingga
masalah atau risiko yang mungkin timbul. Jangan takut memintanya karena dokter wajib menjelaskan segala
sesuatu tentang kuret. Dengan penjelasan lengkap diharapkan dapat membuat ibu lebih memahami dan bisa
lebih tenang dalam pelaksanaan kuret

(Fajar, 2007).

B. Persiapan Tenaga Kesehatan Sebelum Kuretase

Melakukan USG terlebih dahulu, mengukur tekanan darah pasien, dan


melakukan pemeriksaan Hb, menghitung pernapasan, mengatasi perdarahan, dan memastikan pasien dalam
kondisi sehat dan fit (Damayanti, 2008).

C. Persiapan Alat

. Alat tenun,

1) Baju operasi

2) Laken

3) Doek kecil,

. Alat kuretase

1) Spekulum dua buah (Spekullum cocor bebek (1) dan SIM/L (2) ukuran S/M/L)
2) Sonde penduga uterus

a. Untuk mengukur kedalaman rahim

b. Untuk mengetahui lebarnya lubang vagina

3) Cunam muzeus atau cunam porsio

4) Berbagai ukuran busi (dilatator) Hegar

5) Bermacam-macam ukuran sendok kerokan (kuret 1 set)

6) Cunam tampon satu buah

7) Kain steril dan handscoon 2 pasang

8) Tenakulum 1 buah

9) kom

10) Lampu sorot

11) Larutan antiseptik

12) Tensimeter, stetoskop, sarung tangan DTT

13) Set infus, aboket, cairan infus

14) Kateter karet 1 buah

15) Spuit 3 cc dan 5 cc

16) Oksigen dan regulator (Yara, 2011).

D. Saat Kuretase

Sebelum dilakukan kuretase, biasanya pasien akan diberikan obat anestesi (dibius)
secara total dengan jangka waktu singkat, sekitar 2-3 jam. Setelah pasien terbius, barulah proses kuretase
dilakukan.Ketika melakukan kuret, ada 2 pilihan alat bantu bagi dokter. Pertama, sendok kuret dan
kanula/selang. Sendok kuret biasanya dipilih oleh dokter untuk mengeluarkan janin yang usianya lebih dari 8
minggu karena pembersihannya bisa lebih maksimal. Sedangkan sendok kanula lebih dipilih untuk
mengeluarkan janin yang berusia di bawah 8 minggu, sisa plasenta, atau kasus endometrium.

Alat kuretase baik sendok maupun selang dimasukkan ke dalam rahim lewat vagina.
Bila menggunakan sendok, dinding rahim akan dikerok dengan cara melingkar searah jarum jam sampai bersih.
Langkah ini harus dilakukan dengan saksama supaya tak ada sisa jaringan yang tertinggal. Bila sudah berbunyi
krok-krok (beradunya sendok kuret dengan otot rahim) menunjukkan kuret hampir selesai. Sedikit berbeda
dengan selang, bukan dikerok melainkan disedot secara melingkar searah jarum jam. Umumnya kuret memakan
waktu sekitar 10-15 menit (Fajar, 2007).

E Teknik Kuretase

Tentukan Letak Rahim

Yaitu dengan melakukan pemeriksaan dalam. Alat alat yang dipakai umumnya terbuat dari metal dan biasanya
melengkung karena itu memasukkan alat alat ini harus disesuaikan dengan letak rahim. Gunanya supaya
jangan terjadi salah arah (fase route) dan perforasi.
Penduga Rahim (sondage)

Masukkan penduga rahim sesuai dengan letak rahim dan tentukan panjang ataudalamnya penduga
rahim. Caranya adalah, setelah ujung penduga rahim membentur fundus uteri, telunjuk tangan kanan diletakkan
atau dipindahkan pada portio dan tariklah sonde keluar, lalu baca berapa cm dalamnya rahim.

. Dilatasi dan Kuretase

Setelah pasien ditidurkan dalam letak litotomi dan dipersiapkan sebagaimana mestinya, dilakukan pemeriksaan
bimanual untuk sekali lagi menentukan besar dan letaknya uterus serta ada atau tidaknya kelainan disamping
uterus.

Sesudah premedikasi diberikan, infus glukosa 5 % intravena dengan 10 satuan oksitosin dipasang dan
diteteskan perlahan-lahan untuk menimbulkan kontraksi dinding uterus dan mengecilkan bahaya perforasi.
Kemudian anastesi umum, misalnya dengan penthotal sodium, diberikan. Setelah spekulum vagina dipasang,
satu atau dua serviks menjepit dinding depan porsio uteri. Spekulum depan diangkat dan spekulum belakang
dipegang oleh seorang pembantu. Cunam dipegang dengan tangan kiri si penolong untuk mengadakan fiksasi
pada serviks uteri dan untuk dapat mengatur kekuatan untuk dapat memasukkan busi Hegar melalui ostium uteri
internum. Sonde uterus dimasukkan dengan hati-hati untuk mengetahui letak dan panjangnya kavum uteri.
Sesudah itu dilakukan dilatasi kanalis servikalis dengan busi hegar dari nomer kecil hingga yang secukupnya,
tetapi tidak lebih dari busi nomer 12 pada seorang multipara. Panjang busi yang dimasukkan tidak boleh
melebihi panjang sonde uterus yang dapat masuk sebelumnya. Dilatasi pada seorang primigravida lebih sulit dan
mengandung lebih besar terjadinya luka pada serviks uteri, sehingga lebih baik dilakukan pada kehamilan yang
lebih muda dan diadakan dilatasi yang sekecil-kecilnya.

Pada kehamilan sampai 6 atau 7 minggu pengeluaran isi rahim dapat dilakukan dengan kuret tajam. Harus
diusahakan agar seluruh kavum uteri dikerok, agar ovum kecil tidak terlewat, kerokan dilakukan secara
sistematis menurut puteran jarum jam.

Apabila kehamilan melebihi 6-7 minggu, digunakan kuret tumpul sebesar yang dapat dimasukkan. Setelah hasil
konsepsi untuk sebagian besar lepas dari dinding uterus, maka hasil tersebut dapat dikeluarkan sebanyak
mungkin dengan cunam abortus, kemudian dilakukan kerokan hati-hati dengan kuret tajam yang cukup besar.
Apabila perlu, dimasukkan tampon kedalam kavum uteri dan vagina, yang harus dikeluarkan esok harinya.

. Dilatasi dengan dua tahap

Pada seorang primigravida, atau pada seorang multipara yang memerlukan pembukaan kanalis servikalis
yang lebih besar (misalnya untuk mengeluarkan mola hidatidosa) dapat dilakukan dilatasi dalam dua tahap.
Dimasukkan dahulu ganggang laminaria dengan diameter 2-5 mm dalam kanalis servikalis dengan ujung
atasnya masuk sedikit kedalam kavum uteri dan ujung bawahnya masih di vagina, kemudian dimasukkan
tampon kasa kedalam vagina.

Ganggang laminaria memiliki kemampuan untuk mengabsorpsi air, sehingga diameternya bertambah dan
mengadakan pembukaan dengan perlahan-lahan pada kanalis servikalis. Sesudah 12 jam ganggang dikeluarkan
dan pembukaan dapat dibesarkan dengan busi hegar, bahaya pemakaian ganggang laminaria adalah infeki dan
perdarahan mendadak.

Kuretase dengan cara penyedotan (suction curettage)

Dalam tahun-tahun terakhir cara ini lebih banyak digunakan oleh karena perdarahan tidak seberapa banyak dan
bahaya perforasi lebih kecil.

Setelah diadakan persiapan seperlunya dan letak serta besarnya uterus ditentukan dengan pemeriksaan bimanual,
bibir depan serviks dipegang dengan cunam serviks, dan sonde uterus dimasukkan untuk mengetahui panjang
dan jalannya kavum uteri. Anastesi umum dengan penthotal sodium, atau anastesia paracervikal block dilakukan
dan 5 satuan oksitosin disuntikkan pada korpus uteri dibawah kandung kencing dekat pada perbatasannya pada
serviks. Sesudah itu, jika perlu diadakan dilatasi pada serviks agar dapat memasukkan kuret penyedot yang
besarnya didasarkan pada tuanya kehamilan (diametr antara 6 dan 11 mm). Alat tersebut dimasukkan sampai
setengah panjangnya kavum uteri dan kemudian ujung luar dipasang pada alat pengisap (aspirator).

Penyedotan dilakukan dengan tekanan negatif antara 40-80 cm dan kuret digerakkan naik turun sambil memutar
porosnya perlahan-lahan. Pada kehamilan kurang dari 10 minggu abortus dapat diselesaikan dalam 3-4 menit.
Pada kehamilan yang lebih tua, kantong amnion dibuka dahulu dengan kuret dan cairan serta isi lainnya diisap
keluar. Apabila masih ada yang tertinggal, sisa itu dikeluarkan dengan kuret biasa (Prawirohardjo, 2007).

Cunam Abortus

Pada abortus inisipiens, dimana sudah kelihatan jaringan, pakailah cunam abortus untuk
mengeluarkannya yang biasanya diikuti oleh jaringan lainnya. Dengan demikian sendok kuret hanya dipakai
untuk membersihkan sisa sisa yang ketinggalan saja.

Perhatian : Memegang, mamasukkan dan menarik alat alat haruslah hati hati. Lakukanlah dengan lembut
sesuai dengan arah dan letak rahim (Harnawatiaj, 2008).

3. Perawatan Setelah Kuretase

Perawatan usai kuretase pada umumnya sama dengan operasi-operasi lain. Harus menjaga bekas operasinya
dengan baik, tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat, tidak melakukan hubungan intim untuk jangka waktu
tertentu sampai keluhannya benar-benar hilang, dan meminum obat secara teratur. Obat yang diberikan biasanya
adalah antibiotik dan penghilang rasa sakit. Jika ternyata muncul keluhan, sakit yang terus berkepanjangan atau
muncul perdarahan, segeralah memeriksakan diri ke dokter. Mungkin perlu dilakukan tindakan kuret yang
kedua karena bisa saja ada sisa jaringan yang tertinggal. Jika keluhan tak muncul, biasanya kuret berjalan
dengan baik dan pasien tinggal menunggu kesembuhannya.

Hal-hal yang perlu juga dilakukan:

1. Setelah pasien sudah dirapihkan, maka perawat mengobservasi keadaan pasien dan terus memastikan apakah
pasien sudah bernapas spontan atau belum

2. Setelah itu pasien dipindahkan ke recovery room

3. Melakukan observasi keadaan umum pasien hingga kesadaran pulih

4. Pasien diberikan oksigen 2 liter/menit melalui nasal kanule dan tetap observasi keadaan pasien sampai
dipindahkan ke ruangan perawatan.

5. Konseling pasca tindakan

6. Melakukan dekontaminasi alat dan bahan bekas operasi

4. Dampak Setelah Kuretase

Terkadang kuret tidak berjalan lancar. Meskipun telah dilakukan oleh dokter kandungan yang sudah dibekali
ilmu kuret namun kekeliruan bisa saja terjadi. Bisa saja pada saat melakukannya dokter kurang teliti, terburu-
buru, atau jaringan sudah kaku atau membatu seperti pada kasus abortus yang tidak ditangani dengan cepat.
Berikut adalah dampaknya:

a. Perdarahan
Bila saat kuret jaringan tidak diambil dengan bersih, dikhawatirkan terjadi perdarahan. Untuk itu jaringan harus
diambil dengan bersih dan tidak boleh tersisa sedikit pun. Bila ada sisa kemudian terjadi perdarahan, maka kuret
kedua harus segera dilakukan. Biasanya hal ini terjadi pada kasus jaringan yang sudah membatu. Banyak dokter
kesulitan melakukan pembersihan dalam sekali tindakan sehingga ada jaringan yang tersisa. Namun biasanya
bila dokter tidak yakin sudah bersih, dia akan memberi tahu kepada si ibu, Jika terjadi perdarahan maka segera
datang lagi ke dokter.

b. Cerukan di Dinding Rahim

Pengerokan jaringan pun harus tepat sasaran, jangan sampai meninggalkan cerukan di dinding rahim. Jika
menyisakan cerukan, dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan rahim.

c. Gangguan Haid

Jika pengerokan yang dilakukan sampai menyentuh selaput otot rahim, dikhawatirkan akan mengganggu
kelancaran siklus haid.

d. Infeksi

Jika jaringan tersisa di dalam rahim, muncul luka, cerukan, dikhawatirkan bisa memicu terjadinya infeksi.
Sebab, kuman senang sekali dengan daerah-daerah yang basah oleh cairan seperti darah.

2.3. KONSEP DASAR MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN

2.3.1 Pengkajian Data

Dilakukan di (tempat) ...... tgl ...... jam ......

a. Data Subyektif

1. Biodata

Untuk mengetahui nama ibu dan suami, agama, pendidikan, pekerjaan ibu dan suami serta alamat ibu dan suami
sekarang.

2. Alasan datang

Alasan ibu menemui petugas kesehatan

3. Keluhan utama

Apa yang menjadi keluhan ibu saat ini.

4. Riwayat kesehatan sekarang

Apakah ibu sekarang sedang menderita penyakit menular (TBC, Hepatitis), menurun (DM,
Hipertensi, Asma), PMS (Kondiloma,Sifilis HIV/AIDS dll) dan menahun (Jantung).

5. Riwayat kesehatan yang lalu


Apakah ibu pernah menderita penyakit/ tidak sedang menderita penyakit menular(TBC,
Hepatitis), menurun (DM, Hipertensi, Asma), PMS (Kondiloma,Sifilis, HIV/AIDS dll) dan
menahun (Jantung).

6. Riwayat kesehatan keluarga

Apakah dalam keluarga ibu ada yang menderita penyakit /tidak sedang menderita penyakit
menular (TBC, Hepatitis), menurun (DM, Hipertensi, Asma), PMS (Kondiloma,Sifilis
HIV/AIDS dll) dan menahun (Jantung).

7. Riwayat haid

Menanyakan umur pertama menstruasi, berapa lama menstruasi, teratur / tidak, ada keluhan / tidak selama
menstruasi.Untuk mengetahui HPHT / TP, keluhan saat hamil, keputihan atau tidak.

8. Riwayat pernikahan

Status pernikahan, berapa kali menikah, umur pertama kali menikah dan lama menikah.

9. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu

Kehamilan : - kehamilan yang ke berapa

- ANC berapa kali

- saat UK berapa, ibu tahu dirinya hamil

- keluhan saat hamil

Persalinan : - melahirkan pada UK

- di mana, apakah normal / dengan tindakan

Nifas : - ada / tidak kelainan saat nifas

- bagaimana pengeluaran lokhea

- bagaimana pengeluaran ASI

10. Riwayat kehamilan sekarang

Trimester I : apakah ibu mengalami keluhan yang biasanya terjadi pada hamil muda
seperti mual muntah, periksa ke mana, sebanyak berapa kali dan mendapattablet tambah
darah,vitamin lain

Trimester II : apakah ibu mengalami keluhan , apakah ibu sudah merasakanadanya


gerakan janin, periksa sebanyak berapa kali, mendapat TT berapa kali apakah
ibu mengikuti senam hamil dan melakukan perawatan payudara.

Trimester III : apakah ibu mengalami keluhan seperti merasakan sesak, sering kencing,
dll. Periksa kemana,apakah ibu sudah merasakan kenceng-kenceng dan mengeluarkan
cairan darah/lendir dari kemaluannya.

11. Riwayat KB

Ibu pernah menggunakan kontrasepsi apa, apa rencana KB, alasan memilih KB tersebut dan ingin berapa lama.
12. Pola kebiasaan sehari-hari

a. Pola nutrisi

Berhubungan dengan persiapan kuretase, pasien diharuskan untuk puasa sebelum


operasi karena berhubungan dengan proses anastesi terhadapsaluran pencernaan yang
dapat berpengaruh terhadap jalannyakuretase.

b. Pola eliminasi

Sebelum dilakukan operasi, harus dilakukan lavemen/huknah untuk mengosongkan usus


(saluran pencernaan) tujuannya agar pada waktudilakukan operasi, feses tidak keluar
karena pengaruh anastesi sehingga kesterilan ruangan tetap terjaga.

c. Personal hygiene

Berhubungan dengan kebersihan tubuh, terutama alat reproduksi (dariarah depan ke


belakang), berapa kali ibu mandi, ganti pakaian atau membersihkan genetalianya.

d. Pola istirahat/tidur

Berhubungan dengan kecukupan kebutuhan istirahat, normalnya 9-10


jam.Polaaktivitas berhubungan dengan kegiatan ibu sehari-hari, apakah mempengaruhi
kehamilan dan janinnya.

e. Pola seksual

Terutama hormon progesteron yang tidak cepat turun walaupun UKcukup, sehingga
kepekaan uterus terhadap oksitoxin kurang. Dan yangpaling menentukan adalah produksi
prostaglandin kurang yang menyebabkan his tidak kuat / tidak ada.

f. Pola kebiasaan lain

Berhubungan dengan kebiasaan minum alkohol, jamu-jamuan yang dapat mempengaruhi


proses persalinan.

13. Data psikososial

Bagaimana hubungan ibu dan keluarga, apakah ibu terlibat dalam kegiatan:

a. sosial di sekitar rumah. Bagaimana tanggapan keluarga terhadap kehamilan sekarang.

b. Data Obyektif

1. Pemeriksaan Umum

Untuk mengetahui keadaan ibu, apakah normal / tidak

KU : baik, cukup, sedang

Kesadaran : CM, apatis, somnolen, koma.

TTV dalam batas normal


TD : 90/60 130/90 mmHg

Nadi : 80 88 x/mnt

Suhu : 36,5 37,5 C

RR : 16 24 x/mnt

TB : > 145 cm

BB : Kenaikan BB normal 9 13,5 kg selama hamil

2. Pemeriksanaan Khusus

a. Inspeksi

Kepala : Apakah bersih, rambut rontok

Muka : Apakah pucat, apakah odem, adakah kloasma gravidarum

Mata : Apakah konjungtiva pucat, sklera kuning / tidak, penglihatan normal / tidak

Hidung : Simetris, ada sekret / tidak

Telinga : Simetris, ada serumen / tidak

Mulut : Bersih / tidak, pucat / tidak, caries gigi / tidak, stomatitis / tidak

Leher : Apakah ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis

Abdomen : Ada bekas operasi/ tidak, ada striae livida / albican, linea nigra / tidak

Genetalia : Bersih / tidak, ada varises / tidak, lochea

Anus : Ada hemoroid

Ekstrimitas : Simetris, ada odem, tidak varises, ada nyeri tekan / tidak

b. Palpasi

Leher : Apakah ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis

Payudara : Adakah benjolan abnormal/tidak, colostrum /+

Abdomen : Apakah kembung, terdapat pus, TFU berapa, UC

Ekstrimitas : Adanya odem / tidak, varises ada / tidak

c. Auskultasi

Dada : Apakah ada wheezing / ronchi.

Perut : Bagaimana bising usus, kembung

3. Data Penunjang

USG: Hasil : kehamilan kosong hanya terlihat kantong kehamilan dengan cairan didalamnya.
2.3.2 Identifikasi Diagnosa dan Masalah

Dx : GII P1001 Ab000 UK 10-12 minggu dengan blighted ovum

Ds : - Ibu mengatakan keluar darah sedikit kemarin pagi jam 05.30 WIB

-Ibu mengatakan perutnya sakit dan mules tapi hilang timbul

-Ibu mengatakan kemarin melakukan USG dan janinnya tidak berkembang dan harus dikuret

Do :

Keadaan Umum : ..

Kesadaran : ..

Tanda tanda vital

T : ..mmHg

N : ..x/menit

S : ..oC

RR : ..kali/menit

Inspeksi

Abdomen : tampak linea nigra dan linea alba

Genitalia : Ada bercak darah keluar sedikit, tidak berbau

Palpasi

Abdomen : TFU belum teraba, ballottement (+)

2.3.3 Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial

Pada ibu

Perdarahan pervaginam

Infeksi setelah kuretase

2.3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera

- Kolaborasi dokter dalam pemberian terapi.

- KIE motivasi dan dukungan moral ibu


2.3.5 Intervensi

Dx : GII P1001 Ab000 UK 10-12 minggu dengan blighted ovum

Tujuan : Kuretase berjalan normal tanpa komplikasi.

Kriteria hasil : - Tanda-tanda vital dalam batas normal.

Keadaan umum ibu baik

Intervensi

1. Lakukan pendekatan pada pasien dan keluarga.

R/ Membina hubungan yang harmonis sehingga proses asuhan dapat berjalan lancar dan ibu kooperatif.

2. Observasi tanda-tanda vital.

R/ Sebagai indikator untuk mengetahui adanya penyimpangan

3. Jelaskan pada ibu atas kehamilannya yang merupakan kehamilan kosong

R/ untuk memberikan pandangan bahwa janinnya tidak berkembang dan harus diterminasi

4. Beri konseling pada ibu tentang tindakan kuretase yang harus dilakukan demi
keselamatan ibu karena kehamilan tersebut tidak normal.

R/ sebagai dasar bahwa yang dilakukan untuk keselamatan ibu

5. Siapkan ibu, untuk persiapan tindakan kuretase

R/ segala bentuk persiapan dilakukan sebelum kuretase dilakukan

6. Melakukan tindakan kuretase oleh dokter spesialis

R/ untuk mengakhiri kehamilan

2.3.6 Implementasi

Sesuai dengan intervensi

2.3.7 Evaluasi

Mengacu pada kriteria hasil

BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN

PADA NY A GII P1001 AB000 UK 10-12 MINGGU DENGAN BLIGHTED OVUM

DI RS MANU HUSADA
3.1 Pengkajian

Tanggal : 08 Maret 2014 Tgl MRS :08 Maret 2014

Jam : 15.50 WIB Jam MRS :15.35 WIB

Tempat : RS MANU HUSADA

A. Data Subyektif

1. Biodata

Nama klien : Ny A Nama suami : Tn S

Umur : 30 tahun Umur : 31tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMP Pendidikan : SMP

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Sales

Alamat : Jl.Pelabuhan Selilir Alamat :Jl.Pelabuhan Selilir, Wagir

2. Keluhan utama

Ibu mengatakan keluar bercak darah sedikit kemarin pagi jam 05.30 dan merasa sakit perut (mules) hilang
timbul.

3. Riwayat kesehatan yang lalu

Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit menular (TBC,), menurun (DM, Hipertensi,
Asma), dan menahun (Jantung).

4. Riwayat kesehatan sekarang

Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit menular(TBC), menurun seperti (DM,Hipertensi,Asma),dan
menahun (Jantung),ibu hanya pernah sakit batuk filek dan tidak pernah masuk RS.

5. Riwayat penyakit keluarga

Ibu mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit menular(TBC,),menurun (DM,
Hipertensi, Asma),dan menahun (jantung), serta tidak ada riwayat kembar.

6. Riwayat haid

Menarche : 13 tahun
Siklus : 30 hari

Lama : 7 hari

Banyaknya : ganti pembalut 2-3/ hari

Keluhan waktu haid : Tidak ada keluhan

HPHT : 18-12-13

TP : 25-09-14

7. Riwayat perkawinan

Status perkawinan : Kawin

Kawin ke : 1 tahun

Lama : 9 tahun

Umur saat menikah : 21 tahun

8. Riwayat KB

Jenis : Suntik 3 bulan danPil KB

Lama : 1 tahun

Keluhan : terkadang sering ganti-ganti KB suntik 3 bulan dan pil KB

9. Rencana KB yang akan datang :

Jenis : belum ingin KB karena ingin punya anak

10. Riwayat kehamilan, pesalinan, dan nifas yang lalu

No Hamil Persalinan Anak MASALAH

Nifas

H.ke Jenis Pnlg Cara Pnykt sex BB/PB H/M Umur HR ASI

1 I tunggal bidan normal - P 2.800g/49 H 7 th 40 lancar -


cm hr

2 Hamil
ini -

10 Riwayat kehamilan dan persalinan sekarang

Riwayat Kehamilan

Trimester I : Ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya ke bidan sebanyak 1 kali


mengeluh kadang mual muntah

HE : Jangan makan-makanan yang memicu mual, banyak istirahat, makan sedikit-sedikit tapi
sering.

Terapi : Hasil Plano Test (+) , Fe,Kalk, dan Vitamin BC.

11. Pola Kebiasaan Sehari-hari

Kebiasaan Sebelum Hamil Saat Hamil

Nutrisi Makan 3/hari (pagi, siang, Makan 2-3x/hari.Makan


sore) dengan komposisi : sedikit karena kurang
nasi, lauk dan sayur. Minum nafsu makan dikarenakan
air putih 1000 l ( 8 mual-mual. Minum air 6-
gelas/hari), teh 500 cc ( 2 7 gelas/hari, kadang
gelas/hari), ditambah susu minum the dan susu, Di
RS ibu dipuasakan.

Pola Eliminasi BAB 1-2 /hari rutin, BAB 1-2 /hari rutin,
konsistensi lunak, warna konsistensi lunak, warna
kuning, bau khas feses. kuning, bau khas feses.
BAK 52-3/hari, warna BAK 5-6/hari, warna
kuning jernih, bau khas. kuning jernih, bau khas.
Di RS, ibu BAK 1x
sebelum dikuretase.

Kebersihan Ibu mandi 2/hari, keramas Ibu mandi 2/hari,


2 hari sekali, ganti baju dan keramas 2 hari sekali,
celana dalam sehabis mandi. ganti baju dan celana
dalam sehabis mandi.

Di RS Ibu hanya
Ibu mengatakan kebiasaan berbaring di atas tempat
di rumah mengerjakan tidur,karena akan
Aktivitas pekerjaan rumah tangga, dilakukan kuretase
seperti memasak, mencuci
dan membersihkan rumah

Rekreasi Ibu mengatakan waktu ibu menggunakan waktu


luangnya digunakan untuk luangnya untuk
menonton TV dan mengobrol dengan
berbincang-bincang dengan keluarga.
keluarga dan tetangga.

12. Keadaan Psikososial, Spiritual dan Budaya

1. Psikologis

Ibu mengatakan cemas dengan tindakan kuretase yang akan dialaminya

2. Sosial

Hubungan ibu dengan suami, keluarga, dan tetangganya baik.

3. Spiritual

Ibu mengatakan beragama islam, Ibu selalu menjalankan Ibadah (sholat 5 waktu), saat ini
Ibu hanya bisa berdoa sambil berbaring

4. Budaya

Ibu tidak pernah mengkonsumsi jamu dan jika sakit berobat ke petugas kesehatan.

B. Data Objektif

1. Pemeriksaan Umum

Keadaan umum : baik Kesadaran : CM

Tanda-tanda vital

TD : 110/70 mmHg

Nadi : 87 x/mnt TB : 150 cm


Suhu : 36,5oC BB : 50 kg

RR : 20 x/mnt lila :25 cm

2. Pemeriksaan Fisik

a. Inspeksi

Kepala : Bulat, tidak ada luka, kulit kepala bersih.

Rambut : Hitam, lurus tidak rontok, bersih.

Muka : tidak Pucat, tidak ada oedem, ekspresi wajah grimace / meringis,cloasma gravidarum tidak ada.

Mata : Simetris, sklera tidak icterus, konjungtiva merah muda, tidak ada gangguan penglihatan.

Telinga : Simetris, tidak ada serumen, tidak ada gangguan pendengaran.

Hidung : Bersih, tidak ada secret,tidak ada polip.

Mulut : Bibir kering, tidak pecah-pecah.

Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada bendungan vena jugularis.

Dada : Simetris, tidak ada retraksi dada.

Payudara : Simetris, tidak ada hiperpigementasi areola dan papila mammae tidak menonjol, bersih,

Perut : Tidak ada pembesaran abnormal, tidak ada strie gravidarum,

Genetalia : Vulva vagina terlihat bercak darah warna kecoklatan ,tidak ada kelainan pada vulva,

Anus : Tidak ada hemoroid.

Ekstremitas : Tidak ada oedem dan varises.

Palpasi

Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, limfe dan bendungan vena jugularis.

Payudara : Tidak terdapat benjolan abnormal, ASI belum keluar, tidak ada nyeri tekan.

Perut : Kembung (-), TFU belum teraba, ballottement +, ada nyeri tekan

Pemeriksaan Penunjang

- plano tes (+)

- USG Hasil : kehamilan kosong hanya terlihat kantong kehamilan dengan cairan didalamnya.

3.2 Identifikasi Diagnosa danMasalah

Dx : Ny A GII P1001 Ab000 UK 10-12 minggu dengan blighted ovum


Ds : Ibu mengatakan keluar bercak darah sedikit sejak kemarin pagi dan merasa sakit perut (mules)
hilang timbul.

Do : K/U : baik

Kesadaran :composmentis

Tanda-tanda vital :

TD : 110/70 mmHg

Nadi : 87 x/mnt TB : 150cm

Suhu : 36,5o C BB : 50 kg

RR : 20 x/mnt lila :24 cm

Inspeksi

Abdomen : tidak ada linea alba dan linea ngra, tidak ada luka bekas operasi

Genitalia :tampak keluar bercak darah, tidak ada tanda-tanda PMS.

Palpasi

Abdomen : TFU belum teraba, ballottement +

Ekstremitas : Tidak oedema

Auskultasi

Dada : Tidak ada wheezing / ronchi.

Perut : Bising usus(-)

Perkusi

Perut : kembung (-)

3.3 Identifikasi Diagnosadan Masalah Potensial

Pada ibu

o Perdarahan pervaginam

o Infeksi setelah kuretase

3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera

- Kolaborasi dokter dalam penanganan blighted ovum dengan dilakukakn Curetase


- Kolaborasi dalam pemberian terapi analgesic dan antibiotik.

3.5 Intervensi

Tanggal :08 maret 2014 Jam : 16.00 WIB

Tempat : RS MANU HUSADA

Dx : Ny AGII P1001Ab000UK 10-12 minggu dengan blighted ovum

Tujuan : Setelah dilakukan Asuhan kebidanan dalam 24 jam diharapkan

Tidak terjadi infeksi

Kriteria hasil :

Keadaan umum :baik Kesadaran : CM

TTV :

TD : 90/60 130/90 mmHg

N : 70 90x/mnt

S : 36,5 37,5C

RR : 16 24x/mnt

- Kebutuhan pasien terpenuhi ( nutrisi, kebersihan, elliminasi, istirahat dan psikologis )

- Tidak terdapat tanda infeksi seperti demam, .

Intervensi

1. Lakukan pendekatan pada pasien dan keluarga.

R/ Membina hubungan yang harmonis sehingga proses asuhan dapat berjalan lancar dan ibu kooperatif.

2. Observasi tanda-tanda vital.

R/ Sebagai indikator untuk mengetahui adanya penyimpangan

3. Jelaskan pada ibu atas kehamilannya yang merupakan kehamilan kosong

R/ untuk memberikan pandangan bahwa janinnya tidak berkembang dan harus diterminasi

4. Beri konseling pada ibu tentang tindakan kuretase yang harus dilakukan demi
keselamatan ibu karena kehamilan tersebut tidak normal.

R/ sebagai dasar bahwa yang dilakukan untuk keselamatan ibu

5. Siapkan ibu, untuk persiapan tindakan kuretase

R/ segala bentuk persiapan dilakukan sebelum kuretase dilakukan


6. Lakukan pemasangan oksigen sebelum kuretase

R/ memenuhi kebutuhan oksigen selama kuretase dilakukan

7. Lakukan tindakan kuretase oleh dokter spesialis

R/ untuk mengakhiri kehamilan

8. Observasi Tensi, SpO2, dan nadi pasien selama kuretase dilakukan

R/ mengidentifikasi adanya penyimpangan

9. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat

10. Melakuan pemantauan keadaan ibu pasca kuretase.

3.6 Implementasi

Tanggal :08 maret 2014 Jam : 16.55 WIB

1 Melakukan pendekatan pada keluarga guna untuk membina


hubungan yang harmonis sehingga proses asuhan dapat berjalan
lancar dan ibu kooperatif.

2 Mengobservasi tanda-tanda vital

Nadi : 87 x/menit

Suhu : 36.5 C

RR : 20x/menit

TD : 100/70 mmHg

3 Menjelaskan pada ibu atas kehamilannya yang merupakan


kehamilan kosong

Ibu mengerti bahwa kehamilannya saat ini merupakan kehamilan


kosong, ibu mencemaskan kehamilannya

4 Memberi konseling pada ibu tentang tindakan curretage yang harus


dilakukan demi keselamatan ibu karena kehamilan tersebut tidak
normal. Ibu mengerti, ibu dan suami bersedia dilakukan tindakan
curretage,

5 Menyiapkan ibu, untuk persiapan tindakan kuretase

Pasien siap ditempat tidur


6 Melakukan pemasangan oksigen sebelum kuretase

Oksigen terpasang dengan tekanan 1 liter/mnt

7 Melakukan tindakan curretage oleh dokter spesialis

kuretase telah dilakukan tgl 08 Maret 2014 jam 17.00-17.16,


kuretase berjalan lancar.

Perdarahan : 80 cc, didapatkan selaput ketuban, cairan amnion,


dan jaringan

Mengobservasi Tensi, SpO2 pasien selama curretage dilakukan

8 TD: 70/60 mmHg

SpO2 : 100

9 Kolaborasi dengan dokter pemberian obat selama curretage:

- Injeksi Prrimperan 1 ampul (IV)

- injeksi Gentamicin 1 ampul (IV)

- injeksi metergin 0,2 mg, 1 ml (IV)

10 Melakuan pemantauan keadaan ibu pasca curretage.

Keadaan ibu dipantau dengan lembar observasi

Hasil: TD:100/70 perdarahan : 20 cc

N : 72 x/mnt

3.7 Evaluasi

Tanggal : 08 Maret 2014

Jam : 18.10 WIB

Dx : Pada Ny A GIIP1001 Ab000 UK 10-12 minggu dengan post curretage

S : ibu mengatakan kepalanya masih pusing dan serasa mengantuk setelah dikuretase,

O :- Keadaan umum : lemah


- Kesadaran : samnollen

- Ekspresi wajah : grimace / meringis

- TTV dalam batas normal :

TD : 100/70 mmHg Perdarahan : 20 cc

N : 72 x/menit

S : 36.5

RR : 20 x/menit

- ibu belum BAK/BAB

- ibu belum makan/minum

A : Pada Ny A GIIP1001 Ab000 UK 10-12 minggu dengan post curretage

Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi (10)

Catatan Perkembangan

Tanggal : 08 maret 2014 jam: 19.00 WIB

Dx : Pada Ny A GIIP1001 Ab000 UK 10-12 minggu dengan post curretage

Ds : - ibu sudah tidak pusing lagi

- Ibu sudah bisa duduk ditempat tidur

Do : Keadaan umum : baik

- Kesadaran : composmentis

- TTV dalam batas normal :

TD : 100/70 mmHg Perdarahan : 20 cc

N : 78 x/menit

S : 36.5

RR : 18 x/menit

- Ibu sudah BAK, BAB (-)

- Ibu sudah makan dan minum

A : masalah teratasi

P : 1. Anjurkan ibu untuk mobilisasi duduk dan berjalan.


2. KIE tentang nutrisi (gizi seimbang)

3. Observasi perdarahan ibu

4. jelaskan bahwa perdarahan ibu akan berhenti beberapa hari setelah kuretase

5. berikan konseling tentang rencana kehamilan selanjutnya

6. berikan ibu obat oral :

- Amoxan3x1 Dosis 500 mg

- Pospargin 3 x1/hari

BAB IV

PEMBAHASAN

Kuretase dapat dilakukan atas indikasi blighted ovum Setelah dilakukan pengkajian data pada NYA
didapatkan bahwa NYA GII P1001 Ab000 dengan Blighted Ovum.

Dari hasil pengkajian didapatkan diagnosa NYA GII P1001 Ab000 dengan Blighted Ovum . Untuk mencegah
terjadinya komplikasipasca kuretase maka dilakukan identifikasi kebutuhan segera yaitu : Observasi TTV,
Observasi perdarahan, Observasi cairan infus, Observasi kesadaran, melakukan KIE dan kolaborasi dengan
dokter SpOG dalam pemberian terapi.

Dari diagnosa diatas direncanakan tindakan perawatan yaitu : Melakukan observasi TTV
sebagai indikator untuk mengetahui penyimpangan, , melakukan observasi cairan infus,
memotivasi ibu untuk mobilisasi bertahap guna untuk mempercepat pemulihan kondisi ibu,
memotivasi ibu untuk makan makanan bergizi, melakukan kolaborasi dengan dokter SpOG
dalam pemberian terapi, adapun terapi yang diberikan untuk NYA adalah injeksi :
Primperan,Gentamicin. obat oral: Amoxan3x1 Dosis 500 mg, Pospargin 3 x1/hari,.Rencana
tindakan diatas semuanya dilakukan pada NYA,berjalan lancar sesuai rencana tanpa ada
masalah. Setelah diberikan penanganan dan dievaluasi NYA membaik dan diijinkan pulang
. Nasihat yang diberikan pada NYA sebelum pulang antara lain : Personal hygenis,
aktivitas yang berat dihindari, menjaga kebersihan dirii, dan pola nutrisi. Hasil yang
didapatkan NYA paham tentang cara perawatan dirinya, dan NYA kooperatif dalam
tindakan yang dilakukan.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Blighted ovum adalah keadaan dimana seorang wanita merasa hamil tetapi tidak ada bayi di
dalam kandungan. Seorang wanita yang mengalaminya juga merasakan gejala-gejala
kehamilan seperti terlambat menstruasi, mual dan muntah pada awal kehamilan (morning
sickness), payudara mengeras, serta terjadi pembesaran perut, bahkan saat dilakukan tes
kehamilan baik test pack maupun laboratorium hasilnya pun positif. Pada kasus didapatkan
nyA GII P1001 Ab000 dengan blighted ovum dilakukan terminasi kehamilan dengan
dilakukan kuretase.

5.2 Saran

Tenaga Kesehatan

Diharapkan dapat meningkatkan pelayanan serta harus mampu mengenali tanda- tanda bahaya yang terjadi pada
ibu post partum sehingga dapat memberikan pelayanan yang cepat dan tepat sehingga dapat mencegah
terjadinya komplikasi.

http://midwifest.blogspot.co.id/2015/04/asuhan-kebidanan-ibu-hamil-dengan.html

Siti Jumainah3 April 2015 00.49

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Blighted Ovum

1. Pengertian

Blighted ovum atau BO adalah kehamilan tanpa dijumpai adanya pertumbuhan embrio.

(Dr. Andon Hestiantoro, SpOG (K). 2008)

Blighted Ovum adalah kehamilan tanpa janin (anembryonic pregancy), jadi cuma ada
kantong gestasi (kantong kehamilan) dan air ketuban saja.

(Hanifa W. 2006)

Blighted Ovum adalah kehamilan dimana embrio tidak berkembang normal


semestinya dan menyebabkan kehamilan kosong dan hanya ada air ketuban saja.

(Mochtar R. 2008)

2. Etiologi

Hingga saat ini tidak ada penyebab pasti yang dapat menyebabkan terjadinya Blighted Ovum,
tapi ada beberapa faktor yang turut menjadi pemicu terjadinya Blighted Ovum, antara lain:
- Kelainan kromosom pada saat proses pembuahan sel telur dan sel sperma (kualitas sel
telur yang tidak bagus.)

- Infeksi dari torch, kelainan imunologi dan penyakit diabetes dapat ikut menyebabkan
terjadinya blighted ovum

- Faktor usia
Semakin tinggi usia suami atau istri, semakin tinggi pula peluang terjadinya blighted ovum.

3. Patofisiologi

Pada saat pembuahan, sel telur yang matang dan siap dibuahi bertemu sperma. Namun
dengan berbagai penyebab (diantaranya kualitas telur/sperma yang buruk atau terdapat
infeksi torch), maka unsur janin tidak berkembang sama sekali. Hasil konsepsi ini akan tetap
tertanam didalam rahim lalu rahim yang berisi hasil konsepsi tersebut akan mengirimkan
sinyal pada indung telur dan otak sebagai pemberitahuan bahawa sudah terdapat hasil
konsepsi didalam rahim. Hormon yang dikirimkan oleh hasil konsepsi tersebut akan
menimbulkan gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah dan lainya yang lazim dialami
ibu hamil pada umumnya.

4. Pathway

5. Manifestasi Klinis

Blighted ovum sering tidak menyebabkan gejala sama sekali. Gejala dantanda-
tanda mungkin termasuk:

- Periode menstruasi terlambat

- Kram perut

- Minor vagina atau bercak perdarahan

- Tes kehamilan positif pada saat gejala

- Ditemukan setelah akan tejadi keguguran spontan dimana muncul keluhan perdarahan

- Hampir sama dengan kehamilan normal


6. Komplikasi

- Infeksi saluran kemih

- Perubahan status psikis

7. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan Penunjang yang biasanya dapat menjadi acuan ialah dengan USG, diagnosis
pasti bisa dilakukan saat kehamilan memasuki usia 6 7 minggu. Sebab saat itu diameter
kantung kehamilan sudah lebih besar dari 16 mm sehingga bisa terlihat lebih jlas. Dari situ
juga akan tampak adanya kantung kehamilan dan tidak berisi janin. Diagnosis kehamilan
anembriogenik dapat ditegakkan bila pada kantong gestasi yang berdiameter sedikitnya
30mm tidak dijumpai struktur mudigah dan kantong telur.

8. Pencegahan

- Menghindari masuknya virus rubella ke dalam tubuh. ibu hamil pun harus menjaga
kebersihan diri dan lingkungan tepat tinggalnya.

- Pastikan calon ibu hamil benar bena sehat saat akan merencanakan kehamilan.
- Bukan hanya calon ibu hamil, tetapi calon ayah pun harus memulai pola hidup sehat dan
meninggalkan kebiasaan buruk seperti merokok

- pemeriksaan kehamilan secara rutin. Sebab kehamilan kosong jarang terdeteksi saat usia
kandungan masih di bawah 8 bulan.

9. Penatalaksanaan

Jika telah didiagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya adalah mengeluarkan hasil
konsepsi dari rahim (kuretase).

Hasil kuretase akan dianalis untuk memastikan apa penyebab blighted ovum lalu mengatasi
penyebabnya.

- Jika karena infeksi maka maka dapat diobati agar tidak terjadi kejadian berulang.

- Jika penyebabnya antibodi maka dapat dilakukan program imunoterapi sehingga kelak
dapat hamil sungguhan.

Penyebab blighted ovum yang dapat diobati jarang ditemukan, namun masih dapat
diupayakan jika kemungkina penyebabnya diketahui. Sebagai contoh, tingkat hormon yang
rendah mungkin jarang menyebabkan kematian dini ovum. Dalam kasus ini, pil hormon
seperti progesteron dapat bekerja. Namun efek samping dari pemakaian hormon adalah sakit
kepala dan perubahan suasana hati, dll. Jika terjadi kematian telur di awal kehamilan secara
langsung, maka pembuahan buatan mungkin efektif dalam memproduksi kehamilan. Dalam
hal ini perlu donor sperma atau ovum untuk memiliki anak. Akan tetapi, pembuahan itu
mahal dan tidak selalu bekerja dan risiko kelahiran kembar seiringkali lebih tinggi.

Pada pasien diterapi dengan pemberian preparat misoprostol, setelah terjadi dilatasi serviks
kemudian dilakukan kuretase.

10. Konsep Asuhan Keperawatan Keperawatan

A. Pengkajian

- Identitas klien meliputi : nama, umur, agama, pekerjaan, pendidikan, alamat, status
perkawinan

- Data umum kesehatan meliputi: tinggi badab, berat badan, masalah kesehatan khusus,
obat-obatan.

- Perdarahan, haid terakhir dan pola siklus haid

- Pemeriksaan Fisik Umum

Keadaan umum, TTV, jika keadaan umum buruk lakukan resusitasi dan stabilisasi segera.

- Pemeriksaan genikologi
Ada tidaknya tanda akut abdomen jika memungkinkan, cari sumber perdarahan, apakan dari
dinding vagina atau dari jaringan servik.

- Pemeriksaan vaginal touche: bimanual tentukan besat dan letak uterus, tantukan juga
apakah satu jari pemeriksa dapat dimasukkan kedalam ostium dengan mudah atau tidak.

B. Diagnosa yang mungkin muncul

1. Perubahan perfusi jaringan perifer b.d. syok hipovolemik

2. Intoleransi aktifitas b.d kelemahan umum

3. Kecemasan b.d perubahan status kesehatan

4. Risiko infeksi b.d tindakan kuretase

Daftar Pustaka

Doenges M. E. (2003). Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Jakarta: EGC.

Hanifa W. (2006). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Mochtar R. (2008). Sinopsis Obstetri Fisiologi dan Patologi. Ed 2. Jakarta: EGC

Bobak. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta:EGC

Restiana Setyorini
Amd.Kep
Friday, September 13, 2013

LAPORAN PENDAHULUAN BLIGHTED OVUM (KEHAMILAN


KOSONG)

BLIGHTED OVUM (KEHAMILAN KOSONG)

1. Definisi

Blighted Ovum (BO) adalah kehamilan tanpa janin (anembryonic pregancy), jadi cuma ada kantong
gestasi (kantong kehamilan) dan air ketuban saja.

Blighted Ovum (BO) Kehamilan Kosong adalah gejala dimana rahim/kandungan ibu membesar
seperti orang hamil walaupun di dalam rahim tersebut tidak terdapat janin sama sekali.

Blighted ovum adalah keadaan dimana seorang wanita merasa hamil tetapi tidak ada bayi di dalam
kandungan. Seperti kehamilan pada umumnya, ibu yang mengalami kehamilan kosong ini juga
mengalami terlambat menstruasi, mual dan muntah diawal kehamilan serta terjadi pembesaran
perut. Selain itu juga saat dilakukan tes kehamilan baik test pack maupun laboratorium hasilnya pun
positif.

2. Etiologi

a. Kelainan kromosom pada saat proses pembuahan sel telur dan sel sperma (kualitas sel telur
yang tidak bagus.)

b. Infeksi dari torch, kelainan imunologi dan penyakit diabetes dapat ikut menyebabkan terjadinya
blighted ovum

c. Faktor usia

Semakin tinggi usia suami atau istri, semakin tinggi pula peluang terjadinya blighted ovum.

3. Patogenesis

Pada saat konsepsi, sel telur (ovum) yang matang bertemu sperma. Namun akibat berbagai faktor
maka sel telur yang telah dibuahi sperma tidak dapat berkembang sempurna, dan hanya terbentuk
plasenta yang berisi cairan. Meskipun demikian plasenta tersebut tetap tertanam di dalam rahim.
Plasenta menghasilkan hormon HCG (human chorionic gonadotropin) dimana hormon ini akan
memberikan sinyal pada indung telur (ovarium) dan otak sebagai pemberitahuan bahwa sudah
terdapat hasil konsepsi di dalam rahim. Hormon HCG yang menyebabkan munculnya gejala-gejala
kehamilan seperti mual, muntah, ngidam dan menyebabkan tes kehamilan menjadi positif. Karena
tes kehamilan baik test pack maupun laboratorium pada umumnya mengukur kadar hormon HCG
(human chorionic gonadotropin) yang sering disebut juga sebagai hormon kehamilan.

Hingga saat ini belum ada cara untuk mendeteksi dini kehamilan blighted ovum. Seorang wanita
baru dapat diindikasikan mengalami blighted ovum bila telah melakukan pemeriksaan USG
transvaginal. Namun tindakan tersebut baru bisa dilakukan saat kehamilan memasuki usia 6-7
minggu. Sebab saat itu diameter kantung kehamilan sudah lebih besar dari 16 milimeter sehingga
bisa terlihat lebih jelas. Dari situ juga akan tampak, adanya kantung kehamilan yang kosong dan
tidak berisi janin.

Karena gejalanya yang tidak spesifik, maka biasanya blighted ovum baru ditemukan setelah akan
tejadi keguguran spontan dimana muncul keluhan perdarahan. Selain blighted ovum, perut yang
membesar seperti hamil, dapat disebabkan hamil anggur (mola hidatidosa), tumor rahim atau
penyakit usus.

Sekitar 60% blighted ovum disebabkan kelainan kromosom dalam proses pembuahan sel telur dan
sperma. Infeksi TORCH, rubella dan streptokokus, penyakit kencing manis (diabetes mellitus) yang
tidak terkontrol, rendahnya kadar beta HCG serta faktor imunologis seperti adanya antibodi
terhadap janin juga dapat menyebabkan blighted ovum. Resiko juga meningkat bila usia suami atau
istri semakin tua karena kualitas sperma atau ovum menjadi turun.

Jika telah didiagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya adalah mengeluarkan hasil konsepsi
dari rahim (kuretase). Hasil kuretase akan dianalisa untuk memastikan apa penyebab blighted
ovum lalu mengatasi penyebabnya. Jika karena infeksi maka dapat diobati sehingga kejadian ini tidak
berulang. Jika penyebabnya antibodi maka dapat dilakukan program imunoterapi sehingga kelak
dapat hamil sungguhan.

Untuk mencegah terjadinya blighted ovum, maka dapat dilakukan beberapa tindakan pencegahan
seperti pemeriksaan TORCH, imunisasi rubella pada wanita yang hendak hamil, bila menderita
penyakit disembuhkan dulu, dikontrol gula darahnya, melakukan pemeriksaan kromosom terutama
bila usia di atas 35 tahun, menghentikan kebiasaan merokok agar kualitas sperma/ovum baik,
memeriksakan kehamilan yang rutin dan membiasakan pola hidup sehat.

Pada saat pembuahan, sel telur yang matang dan siap dibuahi bertemu sperma. Namun dengan
berbagai penyebab (diantaranya kualitas telur/sperma yang buruk atau terdapat infeksi torch),
maka unsur janin tidak berkembang sama sekali. Hasil konsepsi ini akan tetap tertanam didalam
rahim lalu rahim yang berisi hasil konsepsi tersebut akan mengirimkan sinyal pada indung telur dan
otak sebagai pemberitahuan bahawa sudah terdapat hasil konsepsi didalam rahim. Hormon yang
dikirimkan oleh hasil konsepsi tersebut akan menimbulkan gejala-gejala kehamilan seperti mual,
muntah dan lainya yang lazim dialami ibu hamil pada umumnya.

4. Manifestasi Klinis

a. Pada awal kehamilan berjalan baik dan normal tanpa ada tanda-tanda kelainan

b. Kantung kehamilan terlihat jalas, tes kehamilan urin positif

c. Blighted ovum terdeteksi saat ibu melakukan USG pada usia kehamilan memasuki 6-7 minggu.

5. Pencegahan

a. Menghindari masuknya virus rubella ke dalam tubuh. Selain imunisasi, ibu hamil pun harus
selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggalnya.

b. Sembuhkan dahulu penyakit yang diderita oleh calon ibu. Setelah itu pastikan bahwa calon ibu
benar-benar sehat saat akan merencanakan kehamilan.

c. Melakukan pemeriksaan kromosom

d. Tak hanya pada calon ibu, calon ayah pun disarankan untuk menghentikan kebiasaan merokok
dan memulai hidup sehat saat prakonsepsi.

e. Periksakan kehamilan secara rutin. Sebab biasanya kehamilan kosong jarang terdekteksi saat
usia kandungan masih di bawah delapan bulan.

6. Pemeriksaan Penunjang

Tes kehamilan: Positif

Pemeriksaan DJJ

Pemeriksaan USG abdominal atau transvaginal akan mengungkapkan ada tidaknya janin yang
berkembang dalam rahim

7. Asuhan Keperawatan

a. Pengkajian

Identitas klien meliputi : nama, uumr, agama, pekerjaan, pendidikan, alamat, status perkawinan

Data umum kesehatan meliputi: tinggi badab, berat badan, masalah kesehatan khusus, obat-
obatan.
Perdarahan, haid terakhir dan pola siklus haid

b. Pemeriksaan fisik umum

Keadaan umum, TTV, jika keadaan umum buruk lakukan resusitasi dan stabilisasi segera.

c. Pemeriksaan genikologi

Ada tidaknya tanda akut abdomen jika memungkinkan, cari sumber perdarahan, apakan dari dinding
vagina atau dari jaringan servik.

d. Jika diperlukan ambil darah untuk pemeriksaan penunjang

e. Pemeriksaan vaginal touche: bimanual tentukan besat dan letak uterus, tantukan juga apakah
satu jari pemeriksa dapat dimasukkan kedalam ostium dengan mudah atau tidak.

8. Diagnosa Keperawatan

1. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan

2. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan

3. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase

DAFTAR PUSTAKA
Doenges M. E. (2001). Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Jakarta: EGC.

Hanifa W. (2006). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Mochtar R. (1998). Sinopsis Obstetri Fisiologi dan Patologi. Ed 2. Jakarta: EGC

Bobak. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta:EGC

Rabu, 17 April 2013

ASKEP BLIGHTED OVUM

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. KONSEP TEORI BLIGHTED OVUM

1. Pengertian

a. Blighted Ovum (BO) adalah kehamilan tanpa janin (anembryonic pregancy), jadi cuma ada kantong gestasi (kantong
kehamilan) dan air ketuban saja.
b. Kehamilan anembryonic mengacu pada kehamilan di mana kantung kehamilan berkembang di dalam rahim, namun
kantungkosong dan tidak mengandungembrio. Penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa embrio berhenti berkembang
pada tahap yang sangat awal dan itu kembali diserap. Kehamilan Anembryonic" berarti kehamilan tanpa embrio.

c. Dikenal sebagai "kehamilan anembryonic" terjadi ketika telur yang telah dibuahi menempel pada dinding rahim, tetapi
embrio tidak berkembang.Sel berkembang untuk membentuk kantung kehamilan, tetapi tidak embrio itu sendiri.

d. Blighted ovum adalah jenis umum keguguran. Ini terjadi ketika telur dibuahi di dalam rahim tetapi embrio yang dihasilkan
berhenti berkembang sangat awal atau tidak terbentuk sama sekali. (Dr Umesh Jindal)

e. Blightedovum (anembryonic pregnancy) terjadi pada saat ovum yang sudah dibuahi menempel ke dinding uterus, tapi
embrio tidak berkembang. Sel-sel berkembang membentuk kantong kehamilan, tapi tidak membentuk embrio itu sendiri.
Blightedovum biasanya terjadi pada trimester pertama sebelum wanita tersebut mengetahui tentangkehamilannya.

2. Etiologi

a. Kelainan kromosom pada saat proses pembuahan sel telur dan sel sperma (kualitas seltelur yang tidak bagus).

b. Blightedovum merupakan penyebab sekitar 50% kegugurantrimester pertama dan biasanya merupakan akibat dari
masalahkromosom. Tubuh wanita mengenali kromosom abnormal pada janin dan secara alami tidak mencoba untuk
melanjutkan kehamilan karena janin tidak akan berkembang menjadi bayi yang sehat. Hal ini dapat disebabkan oleh
pembelahan sel abnormal, atau kualitas sperma yang buruk atau telur.

c. Infeksi dari torch, kelainan imunologi dan penyakit diabetes dapat ikut menyebabkan terjadinya blighted ovum.

d. Faktor usia semakain tinggi usia suami atau istri, semakin tinggi pula peluang terjadinya blightedovum.

e. Meskipun prosentasenya tidak terlalu besar, infeksi rubella, infeksi TORCH, kelainan imunologi, dan sakit kencing
manis/diabetes melitus yang tidak terkontrol pada ibu hamil dapat menjadi menyebabkanterjadinya kehamilan kosong.

f. Sekitar 60% blighted ovum disebabkan kelainan kromosom dalam proses pembuahansel telur dan sperma. Tubuh ibu
mengenali adanya kromosom yang abnormal pada janin dan secara alami tubuh berusaha untuk tidak
melanjutkan kehamilan karena janin tidak akan berkembang menjadi bayi normal yang sehat. Hal ini dapat
disebabkan oleh pembelahansel yang abnormal, atau kualitas sperma atau telur yang kurang baik. Infeksi TORCH dan
streptokokus, penyakit kencingmanis (diabetes mellitus) yang tidak terkontrol, rendahnya kadar beta HCG serta faktor
imunologis seperti adanya antibodi terhadap janin juga dapat menyebabkan blightedovum. Risiko juga meningkat bila usia
suami atau istri semakin tua karena kualitas sperma atau ovum menjadi turun.

3. Patogenensis

Pada saat pembuahan, sel telur yang matang dan siap dibuahi bertemu sperma. Namun dengan berbagai penyebab
(diantaranya kualitas telur/sperma yang buruk atau terdapat infeksi torch), maka unsur janintidak berkembang sama sekali. Hasil
konsepsi ini akantetap tertanam didalam rahim lalu rahim yang berisi hasil konsepsi tersebut akanmengirimkan sinyal pada
indung telur danotak sebagai pemberitahuan bahawa sudah terdapat hasil konsepsi didalam rahim. Hormon yang dikirimkan
oleh hasil konsepsi tersebut akan menimbulkan gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah dan lainya yang lazim dialami ibu
hamil pada umumnya hal ini disebabkan Plasenta menghasilkan hormone HCG (human chorionic gonadotropin) dimana
hormonini akanmemberikan sinyal pada indung telur (ovarium) dan otak sebagai pemberitahuan bahwa sudah terdapat hasil
konsepsi di dalam rahim. Hormon HCG yang menyebabkan munculnya gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah, ngidam
dan menyebabkan tes kehamilanmenjadi positif.Karena tes kehamilan baik test pack maupun laboratorium pada umumnya
mengukur kadar hormon HCG (human chorionic gonadotropin) yang sering disebut juga sebagai hormon kehamilan.

4. Manifestasi Klinis

a. Pada awal kehamilan berjalanbaik dan normal tanpa ada tanda-tanda kelainan

b. Kantungkehamilan terlihat jalas, tes kehamilan urin positif

c. Blightedovum terdeteksi saat ibu melakukan USG pada usia kehamilanmemasuki 6-7 minggu.

d. Kemungkinanmemilikikram perut ringan, dan atau perdarahanbercak ringan.

e. Blightedovum sering tidak menyebabkan gejala sama sekali. Gejala dan tanda-tanda mungkintermasuk :

1) Periode menstruasiterlambat

2) Kram perut

3) Minor vagina atau bercak perdarahan

4) Tes kehamilan positif pada saat gejala

5) Ditemukan setelah akan tejadi keguguran spontan dimana muncul keluhan perdarahan

6) Hampir sama dengan kehamilan normal

7) Gejala tidak spesifik (perdarahan spotting coklat kemerah-merahan, kram perut,bertambahnya ukuran rahim yang lambat)

8) Tidak sengaja ditemukan dengan USG

5. Diagnosa

a. Anamnesis (tanda - tanda kehamilan)

b. Pemeriksaan fisik

c. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan penunjang (USG) Diagnosis kehamilanan embrionik bisa dilakukansaat kehamilan
memasuki usia 6-7minggu. Sebabsaat itu diameter kantung kehamilan sudah lebih besar dari 16 milimeter sehingga bisa terlihat
lebih jelas. Dari situ juga akan tampak, adanya kantung kehamilan yang kosong dan tidak berisi janin. Diagnosis kehamilan
anembriogenik dapat ditegakkan bila pada kantong gestasi yang berdiameter sedikitnya 30 mm, tidak dijumpai adanya struktur
mudigah dan kantong kuning telur.

Hingga saat ini belum ada cara untuk mendeteksi dini kehamilan blighted ovum. Seorangwanita baru dapat diindikasikan
mengalami blightedovum bila telah melakukan pemeriksaan USG transvaginal. Karena gejalanya yangtidak spesifik,
makabiasanya blightedovum baru ditemukan setelah akantejadi keguguranspontan dimanamuncul keluhan perdarahan.
Selain blightedovum, perut yang membesar seperti hamil,dapat disebabkan hamil anggur (mola hidatidosa), tumor rahim atau
penyakit usus.

6. Penatalaksanaan

Jika telah di diagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya adalah mengeluarkan hasil konsepsi dari rahim (kuretase). Hasil
kuretase akan dianalisa untuk memastikan apa penyebab blightedovum lalumengatasi penyebabnya . Jika karena infeksi maka
dapat diobati sehingga kejadian ini tidak berulang. Jika penyebabnya antibodi maka dapat dilakukan program imunoterapi
sehingga kelak dapat hamil sungguhan. Lebih pentingadalah trauma mental untuk pasangan. Hal ini membutuhkan konseling
dan meyakinkan mereka bahwa proses inisangat umum. Hal ini lebih baik untuk menghindari kehamilan selama 2 bulan dan
dapat mencoba lagi. Tidak perlu menunggu sangat lama.Umumnya sel telur blighted adalah kejadian acak dankemungkinan
pengulangan cukupkurang.

7. Pencegahan

a. Dalam banyak kasus blightedovum tidak bisa dicegah. Beberapa pasanganseharusnya melakukan tes genetika dan
konseling jika terjadi keguguran berulang di awalkehamilan. Blighted ovum seringmerupakan kejadian satu kali, dan jarang
terjadi lebih dari satukali pada wanita.

b. Untuk mencegahterjadinya blighted ovum, maka dapat dilakukan beberapa tindakan pencegahan seperti pemeriksaan
TORCH, imunisasi rubella pada wanita yang hendak hamil, bila menderita penyakit disembuhkan dulu, dikontrol gula darahnya,
melakukan pemeriksaan kromosom terutama bila usia di atas 35 tahun, menghentikankebiasaan merokok agar kualitas
sperma/ovum baik, memeriksakan kehamilan yang rutin dan membiasakan pola hidup sehat.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

PengkajianTanggal : tanggal dilakukan

Pengkajian Jam : jam dilakukan

PengkajianTempat : tempat dilakukan poengkajian

A. Data Subyektif

1) Biodata
Nama Istri / Suami : Untuk mengetahui identitas.

Umur : Untuk mengetahui umur pasien, menentukan konseling dan resiko.

Agama : Untuk memudahkan bidan dalam melakukan pendekatan dalam memberikan asuhan

Pendidikan : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan yang digunakan sebagai dasar dalam memberikan
asuhan

Pekerjaan : Untuk menggetahui status ekonomi dan aktifitas ibu.

Alamat : Untuk mengetahui tempat tinggal pasien sehingga memudahkan kunjungan rumah.

2) Keluhan Utama

Apa yang dikeluhkan pasien saat pengkajian:

Pada kasus blightedovum kemungkinanmengalami kram perut ringan, dan atau perdarahan bercak ringan.

Keluhan padaTrimester I : Chloasma gravidarum, mual dan muntah (akan hilang pada kehamilan 12-14 minggu) sering
kencing, pusing, ngidam, obstipasi.

3) Riwayat Kesehatan Dahulu

Untuk mengetahui apakah klien pernah atau tidak pernah menderita penyakit menular (seperti TBC, kusta), penyakit menurun
(DM, HT, asma, dll) serta serta penyakit infeksiseperti TORCH.

Infeksi dari torch, kelainan imunologi dan penyakit diabetes dapat ikutmenyebabkan terjadinya blighted ovum.

4) Riwayat Kesehatan Sekarang

Untuk mengetahui bagaimana keadaan kesehatan klien saat ini, apakahklien sedang menderita menular (seperti TBC, kusta),
penyakit menurun (jantung, Diabetes,hipertensi, asma, dll) serta penyakit infeksi seperti TORCH.

Infeksi dari torch, kelainan imunologi dan penyakit diabetes dapat ikutmenyebabkan terjadinya blighted ovum.

5) Riwayat Kesehatan keluarga

Untuk mengetahui apakah dalam keluarganya/ keluarga suaminya ada atau tidak yang mempunyai penyakit menurun(seperti
DM, HT, asma, dll), penyakit menular(TBC, Kusta) serta ada atau tidak yang mempunyai keturunankembar, bila ada siapa. Perlu
dikaji untuk mengetahui penyakit yang diderita keluarga yang dapat menurunatau menular pada ibu sehingga mempengaruhi
masa kehamilan.

6) Riwayat Pernikahan
Menikah : kali

Umur pertama menikah : tahun

Lama menikah : tahun

Ditanyakan kawin berapa kali, umur/ lama perkawinan, jarak perkawinan dengankehamilan, perkawinan pada masyarakat
pedesaan sering terjadi pada usia muda,yaitu sekitar usia menarche resiko melahirkan BBLR sekitar 2 kali lipat dalam 2 tahun
setelahmenarche disamping itu akan terjadi kompetisi makanan antara janin dan ibunya sendiri yang masih dalam masa
pertumbuhan dan adanya perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan. Semua ini akanmenyebabkan kebanyakan
wanita di negara berkembangmempunyai TB yang pendek.

7) Riwayat Menstruasi

Ditanyakan kapan pertama kali klien mendapat haid (menarche), apakah haidnya teratur atau tidak, berapa hari siklus haidnya,
berapa lama haidnya, berapa banyak darah haid yang keluar selama haid, bagaimana warna darah haidnya, bagaimanabaunya
dan konsistensinya. Juga ditanyakan keluhan apa saja yang dialami klien saathaid. Apakah dismenorhoe, bila ya, kapan : apakah
klien saat haid, apakah dismenorhoe, bila ya, kapan : apakah klien pernah mengalami flour albus, bila ya kapan, bagaimana
warna flour albus, apakah berbauatau gatal, bagaimana konsistensinya dan jumlahnya. Menarche sekitar umur 13-16 tahun
Siklus 28-30 hariLama 3-5 hari Jumlah + 50 cc.

8) Riwayat Kehamilan, Persalinan danNifas Yang Lalu

Untuk mengetahui adakahpenyulit-penyulit yangmenyertai kehamilan, persalinan, dan nifas, serta kelainan pada masa
kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu.

Riwayat kehamilan sebelumnya

Apakah ada masalah selama persalinan atau kelahiran sebelumnya (bedah caesar, persalinan dengan ekstraksi vakum atau
vorseps, induksioksitosin, hipertensi yang diinduksioleh kehamilannya, preeklampsi/ eklampsia, perdarahan pasca persalinan)?

Berapa berat badan bayiyang paling besar pernah ibu lahirkan?

Apakah ibumempunyai bayi bermasalah pada kehamilan/ persalinansebelumnya?

9) Riwayat Kehamilan, Persalinan danNifas sekarang

Kehamilan

Apakah selama hamil ada penyakit yangmenyertai kehamilan seperti hipertensi, anemia , penyakit jantung, asma, TBC, kencing
manis.adakahmasalah yangdiderita ibu selama hamil, misalnya hiperemesis gravidarum yang dapatmenyebabkan anemia.
Frekuensi ibu ANC ditanganioleh tenaga kesehatan, obat atauvitamin yang dikonsumsi ibu saat hamil

Blightedovum terdeteksi saat ibu melakukan USG pada usia kehamilan memasuki 6-7 minggu.
Persalinan

Ibu melahirkan tanggal dan jam berapa, pada usia kehamilan berapa, dimana,ditolong oleh siapa, jenis kelamin anaknya, berat
dan panjangnya, spontan ataut indakan, anak lahir langsungmenangis atau tidak, adakah penyulit selama proses persalinan
seperti inersia uteri, tetania uteri, perdarahan atauKPD

Nifas

Bagaimana keadaan nifas ibu saat ini, apakah ibumengalami demam atauperdarahan, apakah ibu menyusui bayinya

10) Riwayat KB

Ditanyakan apakahklien pernah ikut KB atau tidak, jenis ataumetode KB apa yang digunakan, berapa lama menggunakan
menggunakanmetode KB dari apakah klienmengalami efek samping akibat KB tersebut, bila iya, efek samping apa yang dialami,
apa yang dilakukan klien terhadap efek samping tersebut, apa rencana KB klien setelahmelahirkan

11) Pola Kebiasaan Sehari-hari selama Hamil.

a. Pola Nutrisi

Sebelum Hamil : Berapa kali ibumakan dalam sehari, bagaimana porsi makannya, dan apa saja menunya, serta adakah
tambahan makananselain nasi.

Selama hamil : Berapa kali ibu makan dalam sehari, bagaimana porsi makannya, dan apa saja menunya, serta adakah
tambahan makananselain nasi. Jumlah tambahan kalori yang dibutuhkan pada ibu hamiladalah300 kalori per hari, dengan
komposisi menu seimbang(cukupmengandung karbohidrat, protein, lemak,vitamin, mineral, air)

b. Pola Eliminasi

Sebelum hamil :

BAB : Berapa kali sehari, warna tinjanya apa, konsistensinyalunak atau keras, ada keluhan atau tidak saat BAB, kalau
adaapa keluhannya

BAK : Frekuensi BAK berapa kali dalam sehari, bagaimana warnanya.

Saat hamil :

BAB : Berapa kali sehari, warna tinjanya apa, konsistensinyalunak atau keras, ada keluhan atau tidak saat BAB, kalau
adaapa keluhannya.

BAK : FrekuensiBAK berapa kali dalam sehari,bagaimana warnanya.


c. Pola Aktifitas

Sebelum hamil : Aktifitas apa saja yang bisa dikerjakan ibu sehari-hari.

Saat hamil : Aktifitas apa saja yang bisa dikerjakan ibu sehari-hariselama kehamilan inib.

d. Pola Istirahat/Tidur

Sebelum hamil : Bagaimana pola kebiasaan istirahat ibu, baik siangmaupun malam.

Saat hamil : Bagaimana pola kebiasaan istirahat ibu, baik siangmaupun malam pada kehamilan ini.

e. Pola Personal Hygiene

Saat hamil : Bagaimana ibu menjaga hygiennya, ibu mandi berapa kali sehari, gosok gigi berapa kali sehari, keramas
berapa kali sehari.

B. Data Obyektif

1. Pemeriksaan umum

a. Bagaimana keadaan umum penderita, keadaan gizi, kelainan bentuk badan, kesadaran.

b. Adanya anemia, cynose, loterus atau dypnoe.

c. Reflek terutama lutut.

d. Tanda-tanda vital :

TD : Tidak bolehmencapai 140/90 mmHg, perubahan 30 sistole dan15 diastole diatas tekanan darah sebelum hamil
menekankan toxemia gravidarum.

Nadi : 80-100 x/menit.

Suhu : 36,5-37,5

RR : 16-20 x/menit.-

e. Berat badan

Pada akhir kehamilan pertambahan berat badan total adalah9-12 kg. Bila terdapat kenaikanyang berlebih, perlu diperkirakan
adanya resiko bengkak, kehamilan kembar, hidroamnion, atau bayi besar.

f. Tinggi Badan

Tinggi badan kurang dari rata-rata merupakan faktor resiko untuk ibu hamil/bersalin, jika tinggi badan kurang dari 145 cm
dimungkinkan ibu memiliki panggul sempit.
g. LILA

Lila kuramng dari23,5 cm merupakan indikator kuat untuk status gizi yang kurang /buruk, ibu beresiko untuk
melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah.

h. Pemeriksaan laborat, meliputi: air kencing, darah dan feses

i. Pemeriksaan Fisik

Inspeksi :

Kepala dan Wajah : Meliputi keadaan rambut, apakah ada edema pada wajah , warna pada sklera mata,warna konjungtiva.

Leher : Apakah ada pembesaran kelenjar tiroid, pembesran pembuluh limfe, dan pembesaranvena jugularis.

Payudara : Mengamatibentuk, ukuran, dankesimetrisannya, puting susu menonjol atau masuk ke dalam. Adanya
kolostrum atau cairan lainnya, misalnnya ulkus, retraksi akibat adanya lesi,masa atau pembesaran pembuluh limfe.

Abdomen : Terdapat linea nigra, striae uvidae/albican,dan terdapat pembesaran abdomene.

Genetalia : Apakah terdapat varices pada vulva dan vagina, oedema, condilomatalata, condylomaacuminata,
pembesarankelenjar skene dan bartholini, keputihan dan untuk mengetahui adanya kelainan alat reproduksi

Diagnosa Keperawatan

1. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan

2. Ansiatas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

3. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase

Intervensi keperawatan

Rencana Tindakan
Diagnosa
No Tujuan Intervensi Rasional TTD
Keperawatan
Keperawatan

1. Intoleransi Setelah dilakukan 1. Monitor vital sign 1. Mengetahui


aktifitas b.d. tindakan sebelum dan sesudah perubahan pola aktifitas
kelemahan keperawatan latihan dan lihat yang terjadi pada pasien
umum selama 3x24 jam, respon pasien saat
masalah latihan
keperawatan
intoleransi 2. Monitor lokasi
aktifitas teratasi ketidaknyamanan / 2. Mengetahui faktor
dengan indikator: nyeri selama gerakan penyebab intoleransi
1. Klien mampu atau aktifitas aktifitas dan
menunjukkan menentukan intervensi
3. Kaji kemampuan
kemampuan dengan tepat
berpindah pasien dalam aktifitas
3. Mengetahui sejauh
2. Klien 4. Latih pasien dalam mana batasan aktifitas
menunjukkan pemenuhan
pasien
kemampuan kebutuhan ADL secara
ambulasi : mandiri sesuai 4. Mengoptimalkan
berjalan/kursi kebutuhan kemampuan pasien
dalam aktifitas
roda 5. Dampingi dan
3. Tidak terdapat bantu pasien saat
adanya tanda dan mobilisasi dan bantu
gejala gangguan pemenuhan
sirkulasi akibat kebutuhan ADL 5. Memberikan rasa
aktifitas yang aman pada pasien saat
6. Berikan alat bantu
terbatas bila pasien melakukan aktifitas dan
meningkatkan rasa
membutuhkan
percaya diri pasien
7. Ajarkan
6. Menurunkan resiko
bagaimana merubah
posisi dan berikan terjadinya cidera
bantuan bila 7. Menghindari
diperlukan terjadinya cidera dan
melancarkan sirkulasi
darah dalam tubuh

Rencana Tindakan
Diagnosa
No Tujuan Intervensi Rasional TTD
Keperawatan
Keperawatan

2. Ansietas b.d. Setelah dilakukan 1. Gunakan 1. Membina hubungan


perubahan tindakan pendekatan yang saling percaya guna
status keperawatan menyenangkan mendapatkan
kesehatan selama 2x24 jam, informasi adekuat yang
masalah dibutuhkan perawat
keperawatan
cemas teratasi 2. Penilaian seseorang
terhadapt stres dan
dengan indikator: 2. Pahami perspektif mekanisme kopingnya
pasien terhadap tidak selalu sama
1. Klien
stress
menunjukkan 3. Faktor dukungan
kecemasan moral dapat membuat
berkurang pasien merasa aman
3. Temani pasien dan menurunkan
2. Secara verbal untuk memberikan
kecemasan
klien mengatakan kemanan
cemas dapat 4. Informasi adekuat
teratasi pada level akan membuat pasien
yang dapat 4. Berikan informasi ikut berpartisipasi
ditangani oleh adekuat mengenai dalam tindakan
pasien sendiri diagnosis, tindakan keperawatan dan
dan prognosis menurunkan tingkat
kecemasan pasien

5. Menghindari
perilaku isolasi sosial
karena faktor
5. Dorong keluarga
perubahan kondisi
untuk menemani
tubuh dan kesehatan
pasien
dan meningkatkan rasa
aman pasien

6. Pengetahuan yang
adekuat sehingga
6. Bantu pasien pasien mampu memilih
mengenali situasi mekanisme koping
yang menimbulkan yang tepat terhadap
kecemasan stress

7. Relaksasi pikiran
menstimulasi rangsang
7. Instruksikan
saraf agar menjadi
pasien menggunakan
tenang dan rileks
teknik relaksasi

Diagnosa Rencana Tindakan


No Rasional TTD
Keperawatan Tujuan Intervensi
Keperawatan

3. Risiko infeksi Setelah dilakukan 1. Bersihkan 1. Mencegah invasi


b.d prosedur tindakan lingkungan atau alat- bakteri di sekitar
pembedahan keperawatan alat setelah dipakai lingkungan pasien
(kuretase) selama 3x24 jam, oleh pasien
masalah
keperawatan risiko 2. Instruksikan
pengunjung untuk 2. Mencegah
infeksi teratasi terjadinya
dengan indikator: mencuci tangan
sebelum dan sesudah penyebaran infeksi
1. Tidak menengok pasien nosokomial
didapatkan tanda
3. Cuci tangan
terjadinya infeksi
sebelum dan sesudah 3. Mencegah
2. Tidak tindakan keperawatan terjadinya
didapatkan fatigue penyebaran bakteri
kronis baik bagi pasien
3. Temperatur 4. Gunakan universal maupun perawat
badan sesuai yang precaution / APD
selama kontak dengan 4. Sebagai standar
diharapkan dengan prosedur tindakan
interval 36,5C kulit yang luka
dan mencegah invasi
37,5C 5. Tingkatkan intake bakteri
nutrisi dan cairan
5. Nutrisi adekuat
6. Observasi dan meningkatkan
laporkan tanda dan kesembuhan luka
gejala infeksi seperti lebih efektif
kemerahan, panas,
dan nyeri 6. Acuan intervensi
dengan tepat bagi
7. Kaji temperatur kondisi pasien dan
tiap 4 jam mencegah keparahan
infeksi

7. Mengetahui pola
8. Pastikan teknik
normal metabolik
perawatan luka yang
tepat 8. Mencegah infeksi
terjadi pada luka pada
9. Anjurkan pasien
pasien
istirahat adekuat
9. Proses istirahat
adekuat akan
10. Kolaborasi dengan membantu proses
dokter untuk regenerasi jaringan
pemberian antibiotik dalam tubuh

10.Tahap penanganan
infeksi dan
menurunkan risiko
penyebaran infeksi

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E, Mary Frances Moorho use. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi Edisi
2. Jakarta : EGC

Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Buku Ajaran Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP

Mansjoer, Arif Dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta : Media Aesculapius

Mitayani. 2009. Asuhan KeperawatanMaternitas. Jakarta : Salemba Medika

Diposting oleh Arina Susiyanto di

ASUHAN KEPERAWATAN ABORTUS APLIKASI


NANDA, NOC, NIC

A. PENGERTIAN

Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu
atau berat janin kurang dari 500 gram.
B. ETIOLOGI

Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu :

Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada kehamilan


sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah :

Kelainan kromosom

Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna

Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau dan alkohol.

Kelainan pada plasenta

Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan berat dan
toksoplasmosis.

Kelainan traktus genitalia, seperti inkompetensi serviks, mioma uterus dan kelainan
bawaan uterus.

C. PATOGENESIS

Pada awal abortus terjadi perdarahan desidua basalis, diikuti nekrosis jaringan sekitar
yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus.
Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.

Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, vili korialis belum menembus desidua secara
dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14
minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan
menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin
dikeluarkan lebih dahulu dari pada plasenta. Hasil konsepsi keluar dalam berbagai
bentuk, seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tak jelas bentuknya
(blighted ovum), janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus,
maserasi atau fetus pspiraseus.

D. MANIFESTASI KLINIK

1. Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu

2. Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun,
tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu
badan normal atau meningkat.

3. Perdarahan pervagina, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi.

4. Rasa mulas atau kram perut di daerah atas simpisis, sering disertai nyeri pinggang
akibat kontraksi uterus.
5. Pemeriksaan ginekologi :

Inspeksi vulva : perdarahan pervagina, ada/tidak jaringan hasil konsepsi,


tercium/tidak bau busuk dari vulva

Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup,
ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada/tidak jaringan berbau busuk dari ostium.

Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan
dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri
saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, kavum Douglasi tidak
menonjol atau tidak nyeri.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Tes kehamilan positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus

2. Pemeriksaan Doopler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup

3. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

F. KOMPLIKASI

1. Perdarahan, perforasi, syok dan infeksi

2. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan
pembekuan darah

G. PENATALAKSANAAN

1. Abortus imminen

Istirahat baring agar aliaran darah ke uterus bertambah dan rangsang mekanik
berkurang

Periksa denyut nadi dan suhu badan dua kali sehari bila pasien tidak panas dan tiap
empat jam bila pasien panas

Tes kehamilan dapat dilakukan,. Bila hasil negatif, mungkin janin sudah mati.
Pemeriksaan USG untuk menentukan apakah janin masih hidup.

Berikan obat penenang, biasanya fenobarbital 3x30 mg. berikan preparat hematinik
misalnya sulfas ferosus 600-1000 mg.

Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C.


Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptik untuk mencegah
infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat.

2. Abortus insipien

Bila perdarahan tidak banyak., tunggu terjadinya abortus spontan tanpa


pertolongan selam 36 jam dengan diberikan morfin.

Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang biasanya disertai perdarahan, tangani
dengan pengosongan uterus memakai kuret vakum atau cunam abortus, disusul dengan
kerokan memakai kuret tajam. Suntikan ergometrin 0,5 mg intramuskuler.

Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infus oksitosin 10 IU dalam dekstrose
5% 500 ml dimulai 8 tetes per menit dan naikkan sesuai kontraksi uterus sampai terjadi
abortus komplit.

Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran
plasenta secara manual.

3. Abortus inkomplit

Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infus cairan NaCL fisiologis atau
ringer laktat dan selekas mungkin tranfusi darah.

Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret tajam lalu suntikan ergometrin
0,2 mg intramuskuler

Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran
plasenta secara manual.

Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi.

4. Abortus komplit

Bila kondisi paisen baik, berikan ergometrin 3x1 tablet selama 3-5 hari.

Bila pasien anemia, berikan hematinik seperti sulfas ferosus atau transfusi darah.

Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi

Anjurkan pasien diit tinggi protein, vitamin dan mineral

5. Missed abortion

Bila kadar fibrinogen normal, segera keluarkan jaringan konsepsi dengan cunam
ovum lalu dengan kuret tajam

Bila kadar fibrinogen rendah, berikan fibrinogen kering atau segera sesaat sebelum
atau ketika mengeluarkan konsepsi
Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, lakukan pembukaan servik dengan gagang
laminaria selama 12 jam lalu lakukan dilatasi servik dengan dilator Hegar. Kemudian
hasil konsepsi diambil dengan cunam ovum lalu dengan kuret tajam.

Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan dietilstilbestrol 3x5 mg lalu infus
oksitosin 10 IU dalam dekstrose 5% sebanyak 500 ml mulai 20 tetes per menit dan
naikkan dosis sampai ada kontraksi uterus. Oksitosin dapat diberikan sampai 100 IU
dalam 8 jam. Bila tidak berhasil, ulang infus oksitosin setelah pasien istirahat satu hari.

Bial tinggi fundus uteri sampai 2 jari bawah pusat, keluarkan hasil konsepsi dengan
menyuntik garam 20% dalam cavum uteri melalui dinding perut.

6. Abortus septik

Abortus septik harus dirujuk ke rumah sakit

Penanggulangan infeksi

Tingkatkan asupan cairan

Bila perdarahan banyak, lakukan transfusi darah

Dalam 24 jam sampai 48 jam setelah perlindungan antibiotik atau lebih cepat lagi
bila terjadi perdarahan , sisa konsepsi harus dikeluarkan dari uterus.

DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL

Konflik pengambilan keputusan yang berhubungan dengan : ancaman yang dirasakan


terhadap sistem nilai

Ketakutan yang berhubungan dengan prosedur aborsi, komplikasi potensial, implikasi


untuk kehamilan di masa datang

Berduka antisipasi yang berhubungan dengan distres akibat kehilangan dan atau
perasaan bersalah

Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan efek prosedur, kurang pemahaman
tentang perawatan diri praoperasi dan pasca operasi

Nyeri akut yang berhubungan dengan efek prosedur dan atau peristiwa pasca operasi.

Defisit self care berhubungan dengan prosedur terapi tirah baring, nyeri
FORMAT ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S

DENGAN DIAGNOSA MEDIS ABORTUS INCOMPLET

DI BANGSAL ALAMANDA II RUANG 8 RSUD PANEMBAHAN SENOPATI

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. S

Umur : 37 tahun

Status perkawinan : kawin

Agama : Islam

Suku : Jawa

Pendidikan : SLTA

Nama suami : Tn. SM

Umur : 40 tahun

Alamat : Karasan Palbapang Bantul

Pekerjaan : Swasta

Diagnosa medis : Abortus inkomplit

Tanggal MRS : 11 Oktober 2007 jam 00.15

II. STATUS KESEHATAN SAAT INI

a. Keluhan utama

Klien mengeluh keluar darah lewat vagina sejak hari senin, terasa nyeri pada perut dan
pinggang, kenceng-kenceng, nyeri tidak menyebar, skala 7

b. Faktor pencetus

Kurang lebih 1 minggu sebelum masuk rumah sakit sekarang ini, klien pernah dirawat di
rumah sakit dengan diagnosa abortus imminent. Klien hamil 5 bulan/20 minggu,
G2 P1 A0

c. Timbulnya keluhan : bertahap

d. Usaha yang dilakukan untuk mengurangi keluhan


Pasien di rumah bedrest, tapi tetap nyeri di perut dan pinggang, masih terasa kenceng-
kenceng dan akhirnya dibawa ke rumah sakit.

e. Riwayat obstetri

Menarche usia : 12 tahun

Menstruasi : teratur setiap bulan selama 8 hari

Karakteristik : nyeri pada hari pertama menstruasi

III. RIWAYAT KELUARGA

Keluarga tidak ada yang menderita penyakit serius

Keterangan : = laki-laki = pasien

= perempuan = garis keturunan

= meninggal = garis perkawinan

----- = tinggal serumah

IV. RIWAYAT KESEHATAN

a. Penyakit yang pernah dialami : tidak ada

b. Kecelakaan/operasi : tidak ada

c. Alergi : tidak ada

d. Imunisasi : vaksin TT

e. Kebiasaan yang merugikan : tidak ada

V. PEMERIKSAAN FISIK

a. Keadaan Umum : compos mentis


b. BB : 60kg

TB : 158 cm

c. Tanda vital : TD = 100/70 mmHg RR = 28X/menit

N = 92 X/menit S = 37 C

d. Kepala : mesochepal

e. Leher : tidak ada peningkatan JVP

tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

f. Telinga : simetris kiri dan kanan, tidak ada serumen, bersih

dan tidak bau

g. Hidung : simetris, jalan nafas lancar

h. Tenggorokan : tidak ada gangguan menelan

i. Dada : payudara tidak mengeluarkan ASI

j. Abdomen : tidak ada pembesaran vena abdomen, nyeri tekan

nyeri tekan pada abdomen

k. Genetalia : keluar lendir darah, warna merah, tidak ada

tidak ada hemoroid, terpasang DC ukuran 16 sejak

11 Oktober 2007

l. Muskuloskeletal : gerakan normal, tidak ada gangguan, tidak ada

edema, tangan kiri terpasang infus RL 20 tpm.

VI. PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

a. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan

Bila sakit, klien selalu memeriksakan kesehatannya ke puskesmas, selama hamil, klien
pernah dirawat di RSUD Panembahan Senopati pada bulan September dengan diagnosa
abortus imminent.

b. Nutrisi dan metabolisme

Diet RS habis tiap porsi, pasien minum 5-6 gelas per hari

c. Eliminasi
Pasien BAB satu kali per hari, konsistensi lunak, warna kuning bau khas feses. Pasien
terpasang DC ukuran 16 sejak 11 Oktober 2007

d. Aktivitas dan latihan

Selama hamil pasien melakukan aktivitas mandiri, tetapi setelah didiagnosa abortus
imminent, pasien bedrest selam beberapa hari, tapi setelah itu pasien aktivitas lagi
seperti semula, akhirnya klien masuk rumah sakit. Selama di rumah sakit pemenuhan
ADL pasien dibantu oleh keluarganya

e. Istirahat dan tidur

Sebelum masuk rumah sakit, klien tidur 6-7 jam sehari,. Setelah masuk rumah sakit dan
post kuretase klien tidur 5-6 jam sehari

f. Persepsi dan kognitif

Pasien pendidikannya SLTA, pertanyaan yang di ajukan oleh perawat dijawab dengan
lancar

g. Persepsi terhadap diri sendiri

Klien merasa sedih karena anak yang dikandungnya mengalami keguguran, padahal
pasien ingin punya anak lagi

h. Hubungan dan peran

Hubungan klien dengan keluarga baik dan hubungan klien dengan masyarakat juga baik

i. Seksual dan reproduksi

Selama hamil melakukan hubungan seksual kadang 1-2 minggu sekali, tetapi setelah
didiagnosa abortus imminent, klien tidak melakukan hubungan seksual lagi karena takut
terjadi apa-apa dengan janinnya.

j. Stres dan koping

Jika ada masalah, klien selalu melakukan musyawarah dengan suaminya.

k. Kepercayaan dan nilai

Klien beragama islam dan rajin beribadah

VII. PROFIL KELUARGA

Klien anak kedua dari lima bersaudara, orang tua klien sudah meninggal. Suaminya
adlah anak ketiga dari empat bersaudara, orang tuanya juga sudah meninggal dunia.
Klien mempunyai 1 orang anak laki-laki berusia 13 tahun.
VIII. KELUARGA BERENCANA

Selama 7 tahun setelah kelahiran anak pertama, klien menggunakan IUD. Setelah itu
klien melepas IUD karena ingin punya anak lagi.

IX. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 11 Oktober 2007

Hb : 10,6 gr%

AL : 13,8 ribu

AT : 308 ribu

Gol. Darah :O

PPT : 13,1detik

APTT : 34,6 detik

Control PPT : 13,8 detik

Control APTT : 35,7 detik

HbsAg : negative

X. TERAPI

Hari/tanggal Jenis terapi Rute Dosis Indikasi

Kamis Amoxicilin Oral 3X1 Antibiotik

11-10-2007 Asam Oral 3X500 mg Analgetik


mefenamat

Transfusi darah
IV Penambah darah

Jumat Amoxicillin Oral 3X1 Antibiotik

12-10-2007 Asam Oral 3X500 mg Analgetik


mefenamat

Transfusi darah
IV Penambah darah

XI. ANALISA DATA


Data Etiologi Masalah

DS :

Pasien mengatakan nyeri sekali pada Kontraksi uterus Nyeri akut


perut bagian bawah dan pada
pinggang, durasinya 5 menit,
rasanya mules sekali dan skalanya 7

DO :

- pasien meringis menahan sakit

- gelisah, merintih kesakitan

- fokus pada diri sendiri

- tingkah laku berhati-hati

- posisi untuk mengurangi nyeri

DS :

Pasien mengatakan sejak senin pagi Perdarahan PK anemia


keluar darah cair dan menggumpal

DO :

- konjungtiva anemis

- pasien tampak pucat

- pasien lemah

DS :

Pasien mengatakan takut dengan apa Perubahan status Cemas


yang akan terjadi nanti kesehatan

DO :
- kontak mata buruk

- gelisah

- pandangan sekilas

- pergerakan tangan kaki tidak


bermakna
DS : -

DO:

- tindakan kuretase Prosedur invasif Resiko infeksi

- terpasang infuse RL pada tangan


kiri sejak 11 Oktober 2007

- terpasang DC ukuran 16 sejak 11


Oktober 2007

DS :

Pasien mengatakan semua kegiatan Kelemahan Defisit self care


dibantu oleh suami karena badan
lemah

DO :

- pasien lemah

- Pasien bedrest

- Makan minum di bantu

- Toileting dibantu

- Mobilisasi dibantu

Diposting oleh Rizki Kurniadi Hari Maret 03, 2012

http://asuhankeperawatanonline.blogspot.co.id/2012_03_03_archive.htm
l