Anda di halaman 1dari 8

BONGKAR KEBIASAAN LAMA!

JAUHI PORNOGRAFI, HINDARI KECANDUAN SEKS


(Viky Yudi Alvian, Exodus)
Pornografi, hampir semua orang sudah tidak asing dengan kata tersebut. Setiap ada
kasus yang berkaitan dengan pornografi, media massa sering sekali
memberitakannya dan bahkan dijadikan headline. Sebelum saya melangkah lebih
jauh, terlebih dahulu saya akan berikan sedikit penjelasan mengenai pornografi
kepada pembaca. Menurut Undang-Undang No. 44 tahun 2008, pornografi adalah
gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi,
kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk
media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan
atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat1. Saya
rasa penjelasan dari undang-undang tersebut sudah cukup jelas. Namun dari sini,
kita bisa melihat bahwa pornografi sudah dianggap sebagai bentuk ancaman bagi
kehidupan berbangsa dan bernegara karena pemerintah bersama DPR RI sampai
rela bersidang cukup lama untuk menyusun undang-undang ini.
Siapa yang tidak mengakui bahwa konten pornografi selalu menjadi hal yang
menarik untuk disimak. Terutama bagi kaum laki-laki, yang selalu dilanda rasa
penasaran dengan hal tersebut. Untuk menuntaskan rasa penasaran itu, mereka
sampai rela menjejali harddisk pada laptop mereka dengan konten pornografi.
Memang tidak semua laki-laki sampai melakukan hal tersebut, tetapi saya yakin
bahwa setiap laki-laki pasti pernah menikmati konten semacam itu.
Pada paragraf sebelumnya, saya sudah sempat menyebutkan bahwa kaum laki-laki
merupakan konsumen utama konten pornografi. Bagaimana dengan kaum
perempuan? Well, pasti ada saja tetapi saya tidak yakin jumlahnya akan sebanyak
laki-laki. Alasannya kita bisa lihat dalam pergaulan sehari-hari, kaum laki-laki
umumnya menganggap perkataan-perkataan kotor dan tidak pantas yang terucap
dalam suatu obrolan sebagai hal yang lumrah. Lain halnya dengan perempuan,
mereka cenderung risih dan berusaha menghindari perkatan-perkataan kotor dan
tidak pantas itu terlontar dari mulut mereka. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata
dugaan saya benar. Sebab, sebuah survei menyatakan bahwa 2 dari 3 pengakses
situs porno di internet adalah laki-laki2. Tidak mengejutkan memang, tapi dari hasil
survei tersebut kita juga bisa mengetahui bahwa 1 dari 3 pengakses situs porno
adalah perempuan. Jumlah yang cukup besar dan di luar dugaan saya sebelumnya.
Derasnya berbagai macam informasi yang mengalir pada era globalisasi ini
semakin sulit untuk dipilah dan disaring. Ditambah lagi dengan semakin
canggihnya berbagai perangkat informasi dan komunikasi seperti laptop, tablet, dan
smartphone membuat faktor risiko terpaparnya seseorang dengan konten
pornografi semakin meningkat. Saya tidak memungkiri bahwa saya sendiri pun
sudah pernah tercemar dengan konten pornografi. Tunggu, mengapa saya
menyebut pornografi itu sebagai pencemaran sedangkan konten pornografi itu
sendiri sangat menarik untuk dinikmati? Mari kita ulas bersama!
Pencemaran berasal dari kata dasar cemar yang artinya kotor dan ternoda3. Jadi,
pencemaran adalah sebuah proses, cara, maupun perbuatan yang membuat sesuatu
menjadi kotor dan ternoda. Pada umumnya, pencemaran akan menimbulkan
dampak yang buruk. Jika merujuk pengertian tersebut, menurut saya pornografi
sangat layak diberi gelar pencemaran. Oke, jadi sebenarnya apa saja dampak
buruk dari pornografi? Banyak!. Tapi dalam bahasan kali ini, saya tertarik untuk
memperkenalkan final boss yang harus kita hadapi ketika sudah sangat
kecanduan dengan konten pornografi. Sambutlah dia... The Hypersexual
Disorder!

Hypersexual Disorder/Penyakit Hiperseksual


Keinginan atau dorongan untuk berhubungan seksual bagi manusia sejatinya
merupakan suatu hal yang wajar. Menjadi tidak wajar ketika dorongan tersebut
terlalu menggebu-gebu dan sampai membuat kita tidak lagi bisa berpikir secara
jernih dan menjadi hantu dalam pikiran kita. Coba bayangkan jika setiap detik,
menit, jam, dan hari-hari yang kita lalui selalu dihantui oleh dorongan seksual
yang bergentayangan dalam pikiran kita. Apakah pikiran anda sudah mulai
dikunjungi oleh hantu tersebut?. Sebelum semuanya terlambat ada baiknya anda
mengetahui jurus ampuh untuk mengusir dan mencegah masuknya hantu yang
bernama hypersexual disorder itu ke dalam pikiran anda.
Saya rasa, cukup banyak dari kita yang masih asing dengan istilah hypersexual
disorder atau penyakit hiperseksual. Sebenarnya, dari kata hiperseksual kita sudah
mendapatkan sekilas gambaran mengenai penyakit ini. Penyakit hiperseksual
adalah sebuah sindrom klinis yang dicirikan dengan berkurangnya kendali atas
dorongan, perilaku, dan imajinasi seksual yang biasanya disertai dengan dampak
buruk dan berbagai permasalahan pribadi4. Sekilas penyakit ini cukup
menyeramkan, karena penyakit ini tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga
berpotensi merugikan orang lain jika kita tidak bisa mengendalikan dorongan
seksual kita.
Cukup jarangnya kita mendengar penyakit ini sebenarnya cukup beralasan. Sebuah
penelitian menyebutkan bahwa penyakit ini hanya menyerang 3 sampai 6 orang
dari 100 orang yang diteliti5. Kaum lelaki menjadi mayoritas dalam daftar tersebut
karena terdapat 3-5 orang penderita laki-laki untuk setiap 1 orang penderita
perempuan6. Meski begitu, data tersebut hendaknya tidak dijadikan alasan bagi kita
untuk meremehkan penyakit yang satu ini. Jangan sampai kita terjerat dan
mendaftarkan diri untuk menjadi korban berikutnya.
Lantas, apa sajakah gejala gejala yang harus diwaspadai?. Secara umum, gejala
penderita hiperseksual dibagi menjadi 2 yatu gejala perilaku dan gejala kognitif.
Gejala perilaku tersebut antara lain:
a. Seringnya terlibat dalam perilaku seksual sampai ke tingkat yang lebih lanjut
atau dalam waktu yang lebih lama dari yang diharapkan
b. Berusaha keras untuk mengurangi, mengontrol, atau menghentikan perilaku
seksual,
c. Banyaknya jumlah waktu yang dihabiskan untuk melakukan aktivitas seksual,
berkurangnya aktivitas sosial, pekerjaan, maupun rekreasi yang disebabkan
oleh perilaku tersebut,
d. Berlanjutnya perilaku seksual tersebut meskipun si penderita mengetahui
bahwa dirinya menghadapi masalah sosial, psikologis, atau fisik yang
diakibatkan oleh perilaku seksualnya tersebut5.
Perilaku seksual yang dimaksud antara lain masturbasi secara berlebihan, seks di
dunia maya, penggunaan pornografi, telepon seks, kunjungan ke klub malam
striptis, dan mencari pasangan seksual yang baru5,6. Sedangkan gejala kognitif yang
terjadi antara lain pikiran terhadap seks yang berlebihan, ada perasaan bersalah
terkait perilaku seks yang telah dilakukan, merasa sendiri, kebosanan, hilangnya
kepercayaan diri, hilangnya keintiman dalam melakukan hubungan seksual, dan
hilangnya kontrol dalam banyak aspek kehidupan
Ya, gejala yang cukup buruk menurut saya. Jika gejalanya sudah buruk bagaimana
dengan dampak yang ditimbulkan?. Dampak buruk hiperseksual mirip dengan
dampak buruk yang ditimbulkan oleh penyakit-penyakit adiksi (kecanduan)
lainnya5. Namun, ada juga risiko langsung yang dikaitkan dengan hubungan seksual
yang tidak terlindungi seperti HIV/AIDS, penyakit menular seksual, dan kehamilan
yang tidak diinginkan8. Pria dan wanita hiperseksual juga terlibat dalam berbagai
macam perilaku berisiko seperti penggunaan tembakau, alkohol, dan
penyalahgunaan obat-obatan terlarang6.

Hubungan Pornografi dengan Hypersexual Disorder


Pada dasarnya, konsumsi pornografi secara berlebihan merupakan bagian dari
hiperseksual. Seseorang yang telah menjadi pecandu pornografi dikhawatirkan juga
akan mengalami gejala-gejala hiperseksual lain seperti yang sudah saya sebutkan
sebelumnya. Tentunya hal ini sangat merugikan karena waktu yang semestinya bisa
dimanfaatkan dalam kegiatan-kegiatan yang produktif justru dihabiskan dengan
melakukan berbagai perilaku seksual yang tidak perlu.
Lalu, apakah hiperseksual bisa diobati?. Seperti penyakit adiksi lainnya, terapi yang
dilakukan bisa melalui pendekatan psikologis maupun melalui obat-obatan9. Terapi
melalui obat-obatan sampai saat ini memiliki bukti keberhasilan yang masih
terbatas5. Menurut berbagai penelitian, ada beberapa jenis obat yang berpotensi
mengurangi perilaku seks yang berlebihan yaitu citalopram10, naltrexone11, dan
topiramate12. Sedangkan terapi psikologis yang dapat dilakukan antara lain
konseling motivatif, terapi perilaku kognitif, dan terapi oleh keluarga dan pasangan
menunjukkan hasil yang menjanjikan walaupun masih memerlukan penelitian yang
lebih lanjut5.
Ada pepatah lama yang mengatakan kalau mencegah itu lebih baik daripada
mengobati. Saya sangat setuju dengan pepatah tersebut dan berlaku untuk semua
penyakit yang ada, termasuk hiperseksual. Mengingat dampaknya yang sangat
buruk dan berpotensi merusak masa depan seseorang maka ada baiknya jika kita
berusaha untuk menghindari dan mencegah penyakit ini. Menurut saya, langkah
pencegahan yang efektif dilakukan yaitu dengan melepaskan diri dari belenggu
pornografi. Bagaimana caranya? Akan saya jelaskan pada bagian selanjutnya.

Saatnya BONGKAR Kebiasaan Lama!


Banyak orang yang akan bilang Ah, kamu ngomong doang mah gampang. Ya,
saya pun tahu kalau hanya sekadar bicara itu mudah. Tetapi, jika kita belum
mencoba melakukan tentunya kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi bukan?.
Begitu pula dengan tips-tips menghindari candu pornografi yang akan saya berikan
ini. Saran saya, lebih baik dicoba saja terlebih dahulu, baru kemudian memberikan
komentar.
1. Be Proactive!
Pernah membaca kalimat tersebut?. Benar, kalimat tersebut saya kutip dari salah
satu buku best seller karya Stephen R. Covey yang berjudul The 7 Habits of Highly
Effective People. Maksud dari kalimat tersebut adalah segala tindakan yang kita
lakukan dalam hidup kita sepenuhnya ada dalam kendali diri kita sendiri. Jadi, kita
harus be proactive atau melawan segala keinginan untuk melakukan tindakan
yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Misalnya, ketika anda sedang bosan dan
tidak ingin melakukan apapun, lalu dalam pikiran anda terlintas keinginan untuk
menikmati konten pornografi, anda harus bisa be proactive atau lawan keinginan
tersebut. Jika dirasa sulit, ingatlah kembali dampak buruk apa saja yang bisa anda
peroleh jika terus menerus mengonsumsi pornografi. Tentu saja be proactive
tidak bisa dilakukan sekali, tetapi harus terus dicoba dan dilatih dalam kehidupan
sehari-hari.
2. Organisasikan Diri Anda!
Saya mendefinisikan organisasikan diri ini ke dalam dan ke luar. Organisasikan diri
ke dalam artinya anda harus mulai mengatur diri anda. Anda harus mulai mengatur
apa saja yang akan anda lakukan hari ini dan hari selanjutnya. Pastikan semua waktu
yang tersedia dimanfaatkan dengan baik dan digunakan untuk melakukan hal-hal
yang produktif. Jangan sampai ada waktu yang terbuang sia-sia untuk melakukan
hal yang tidak perlu seperti menikmati pornografi. Organisasikan diri ke luar
artinya cobalah untuk bergabung dengan organisasi atau komunitas yang bisa anda
jadikan wadah untuk menyalurkan minat dan bakat anda. Dengan bergabung
dengan organisasi atau komunitas, artinya anda akan menyibukkan diri dengan
berbagai kegiatan yang akan membuat seluruh tenaga dan pikiran anda tercurah
pada kegiatan tersebut. Jadi, tidak ada lagi pikiran aneh-aneh yang mencoba masuk
ke dalam otak anda. Oh ya, pastikan anda sudah mengetahui seluk-beluk
organisasi/komunitas yang ingin anda masuki ya!
3. Ngobrol yang Berkualitas dengan Keluarga (Khususnya Orang Tua)
Memiliki quality time yang bagus dengan keluarga khususnya orang tua dapat
membantu kita menjauhi kegiatan yang negatif. Bentuk dari quality time ini banyak,
tapi yang paling sederhana adalah ngobrol atau berbincang-bincang. Ngobrol yang
berkualitas dengan orang tua tentu saja dapat meningkatkan ikatan batin antara anak
dan orang tua. Selain itu, ngobrol bersama orang tua dan keluarga juga dapat
mendorong keterbukaan antar anggota keluarga sehingga bisa saling bertukar
pikiran untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan baik. Sudah banyak kasus
yang membuktikan bahwa buruknya pola komunikasi antara anak dan orang tua
dapat menjerumuskan anak ke dalam pergaulan bebas. Hal ini disebabkan karena
sang anak merasa tidak diperhatikan dan berusaha mencari perhatian tersebut dari
lingkungannya.
4. Karungkan dan Buang!
Ini adalah senjata pamungkasnya, karungkan semua konten pornografi yang
pernah anda unduh di gadget anda lalu buang!. Kalau perlu gunakan tombol
ctrl+shift+del supaya benda tersebut tidak mengendap di recycle bin. Hal ini sangat
penting karena akan membuat akses anda dengan konten tersebut semakin sulit.
Selain itu, anda dapat meng-install aplikasi yang dapat menyaring konten
pornografi di gadget anda seperti Microsoft Family Safety. Pastikan anda
melibatkan pihak lain dalam proses instalasinya agar anda tidak bisa menonaktifkan
fitur tersebut.
Demikian sedikit tips dari saya, mudah-mudahan dapat membantu pembaca
sekalian dalam menghilangkan atau setidaknya mengurangi kecanduan terhadap
pornografi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kementerian Hukum dan HAM RI. Undang-Undang No 44 Tahun 2008
tentang Pornografi. Jakarta: Biro Hukum dan Organisasi Kementerian Hukum
dan HAM RI. 2008
2. Nielsen/NetRatings Surveys. Cable News Network (CNN). 2009. [Cited 20
November 2016]. Available from:
http://edition.cnn.com/2009/LIVING/personal/07/24/o.women.watching.porn
/.
3. Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan. Badan Bahasa Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan. 2008. [Cited 23 November 2016]. Available
from: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/index.php
4. Drew A. Kingston. Sexual Offending: Predisposing Antecedents, Assessments
and Management. New York: Springer. 2015.
5. Karila L, Wry A, Weinstein A, Cottencin O, Reynaud M, Billieux J. Sexual
Addiction or Hypersexual Disorder: Different Terms for the Same Problem? A
Review of The Literature. Current Pharmaceutical Design.
2013;3(December):4012-4020
6. Kafka MP. Hypersexual disorder: a proposed diagnosis for DSM-V. Arch Sex
Behav. 2010; 39(2): 377-400.
7. Parsons JT, Grov C, Golub SA. Sexual compulsivity, co-occurring
psychosocial health problems, and HIV risk among gay and bisexual men:
further evidence of a syndemic. Am J Public Health. 2012; 102(1): 156-62.
8. Blum K, Badgaiyan RD, Gold MS. Hypersexuality Addiction and Withdrawal:
Phenomenology, Neurogenetics and Epigenetics. Cureus. 2015;7(10):e348.
doi:10.7759/cureus.348.
9. Dawson GN, Warren DE. Evaluating and treating sexual addiction. Am Fam
Physician. 2012; 86(1): 74-6
10. Wainberg M, Muenc F, Morgenstern J, et al. A double-blind study of
citalopram versus placebo in the treatment of compulsive sexual behaviors in
gay and bisexual men. . J Clin Psychiat. 2006; 67(12):1968-73.
11. Bostwick JM, Bucci JA. Internet sex addiction treated with naltrexone. Mayo
Clin Proc 2008; 83(2): 226-30.
12. Khazaal Y, Zullino DF. Topiramate in the treatment of compulsive sexual
behavior: case report. BMC Psychiatry 2006; 6: 22.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Viky Yudi Alvian


Prodi : Kesehatan Masyarakat
Kelompok Besar : Valdemar
Kelompok Kecil : Exodus
Alamat : Perumahan Dalung Permai Blok KK 19, Kuta Utara, Badung
No. Telp/HP : 085737670882
E-mail : viky.y.alvian@gmail.com