Anda di halaman 1dari 4

1.

Konsep Lingkungan Hidup


Konsep dasar lingkungan hidup berarti pengertian dasar tentang lingkungan
hidup. Lingkungan secara umum memiliki arti segala sesuatu di luar individu
merupakan system yang kompleks sehingga dapat mempengaruhi satu sama
lain. Kondisi yang saling mempengaruhi ini membuat lingkugan selalu dinamis
dan dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan seberapa besar komponen
lingkungan itu dapat mempengaruhi dengan kuat.

2. Lingkungan merupakan kesatuan holistic dan integral


lingkungan hidup merupakan konsep holistik yang meliputi: (a) lingkungan hidup fisik
(physical environment); (b) lingkungan hayati atau biotis (biological environment); dan
lingkungan sosial termasuk lingkungan lingkungan binaan (social/cultural environment).
Sering pula disebut sebagai ABC lingkungan (Abiotic, Biotic, and Culture environment).

Konsep Menyeluruh (integral) dalam arti memperhatikan segala aspek, memperhatikan


sektor-sektor yang terkait dengan sumber daya alam: air, hutan, migas, ikan di laut.

Contohnya adalah Lingkungan hidup adalah suatu konsep holistik dan integral yang
berwujud di bumi ini dalam bentuk susunan, dan fungsi interaktif antar semua komponen
yang ada, baik yang insani (biotik), maupun yang ragawi (abiotik), dan sosial. Ketiganya
saling mempengaruhi, menentukan, dan sating interaksi, sehingga senantiasa
lingkungan berada dalam dinamika, perubahan, dan ketidakpastian. Lingkungan
hidup tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, untuk kesejahteraan manusia,
tetapi tanpa melupakan makhluk hidup lainnya. Pada kehidupan manusia,
manusia mempunyai kemampuan adaptasi lebih besar daripada makhluk hidup
lainnya melalui adaptasi kultural, oleh karenanya lingkungan sosial budaya
menjadi penting bagi manusia.

3. Deklarasi stockholm sebagai embrio pembangunan berkelanjutan karena keputusan dari


konferensi tersebut adalah merupakan suatu legitimasi dasar (basic legetimation)
penanganan hukum bagi negara-negara di dunia. Setelah terlaksananya
konfrensi Stockholm hukum lingkungan telah memperoleh posisi yang kuat, baik
pada tingkat nasional, regional maupun internasional. Suatu manfaat yang besar,
adalah mulai tumbuhnya kesatuan, pengertian dan bahasa diantara ahli hukum
lingkungan dengan menggunakan Deklarasi Stockholm sebagai referensi
pertama.

4. Pengendalian pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup berdasarkan UU No. 32


Tahun 2009 dilaksanakan dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan
hidup. Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana
dimaksud pada undang-undang tersebut meliputi:
a. pencegahan; b. penanggulangan; dan c. pemulihan.

a. Instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup terdiri


atas: a. KLHS; b. tata ruang; c. baku mutu lingkungan hidup; d. kriteria baku
kerusakan lingkungan hidup; e. amdal; f. UKL-UPL; g. perizinan; h. instrumen
ekonomi lingkungan hidup; i. peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan
hidup; j. anggaran berbasis lingkungan hidup; k. analisis risiko lingkungan hidup; l.
audit lingkungan hidup; dan m. instrumen lain sesuai dengan kebutuhan dan/atau
perkembangan ilmu pengetahuan
b. Penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana
dimaksud dilakukan dengan:
a. pemberian informasi peringatan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
hidup kepada masyarakat;
b. pengisolasian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup;
c. penghentian sumber pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup; dan/atau
d. cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
c. Pemulihan fungsi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
dengan tahapan:
a. penghentian sumber pencemaran dan pembersihan unsur pencemar;
b. remediasi;
c. rehabilitasi;
d. restorasi; dan/atau
e. cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
5. Hukum lingkungan bercorak Berorientasi Kepada Lingkungan (environment oriented law)
Karena hukum lingkungan modern berorientasi kpada lingkungan, sehingga sifat dan wataknya
juga mengikuti sifat dan watak dari lingkungan sendiri, serta dengan demikian lebih banyak
yang berguru pada ekologi. Dengan orientasi kepada lingkungan ini, kemudian hukum
lingkungan modern memiliki sifat utuh menyeluruh, artinya selalu berada dalam dinamika
dengan sifat dan wataknya. Sebaliknya hukum lingkungan klasik bersifat sektoral dan sukar
berubah.

6. Peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup dalam UU Pengelolaan


Lingkungan Hidup bahwa Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka
pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Peran sebagaimana dimaksud dalam UU ini meliputi peran dalam proses pengambilan
keputusan, baik dengan cara mengajukan keberatan, maupun dengar pendapat atau dengan
cara lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Peran tersebut dilakukan
antara lain dalam proses penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau
perumusan kebijakan lingkungan hidup. Pelaksanaannya didasarkan pada prinsip
keterbukaan. Dengan keterbukaan dimungkinkan masyarakat ikut memikirkan dan
memberikan pandangan serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan di bidang
pengelolaan lingkungan hidup. Ketentuan-ketentuan tersebut di atas menunjukan perlunya
peran serta setiap orang sebagai anggota masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup ,
apabila diinginkan program-program di bidang pelestarian fungsi lingkungan berhasil dengan
baik. Apabila tindakan-tindakan perlindungan lingkungan hidup diambil untuk kepentingan
masyarakat dan apabila masyarakat diharapkan untuk menerima dan patuh kepada tindakan-
tindakan tersebut, maka masyarakat harus diberi kesempatan untuk mengembangkan dan
mengutarakan pendapatnya.

7. responsibility digunakan untuk kewajiban (duty), atau menunjukkan pada standar


pemenuhan suatu pencemaran lingkungan hidup yang ditetapkan oleh sistem hukum
tertentu, sedangkan liability digunakan untuk menunjuk pada konsekuensi dari suatu
kesalahan atau kegagalan untuk melaksanakan suatu kewajiban atau untuk memenuhi
suatu standar tertentu yang telah ditetapkan seperti baku mutu lingkungan hidup dan
standar-standar lingkungan lainnya.

8. UU No. 32 Tahun 2009 merupakan suatu kebijakan pemerintah yang mengatur segala
sesuatu yang berkaitan tentang pengelolaan dan pengendalian lingkungan hidup agar
bersinergi denga pembangunan mulai dari rencana hingga penindakan hukumnya.
Perbedaan mendasar antara Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan

Lingkungan Hidup dengan Undang-Undang ini adalah adanya penguatan yang terdapat dalam

Undang-Undang ini tentang prinsip-prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup

yang didasarkan pada tata kelola pemerintahan yang baik karena dalam setiap proses

perumusan dan penerapan instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan

lingkungan hidup serta penanggulangan dan penegakan hukum mewajibkan pengintegrasian

aspek transparansi, partisipasi, akuntabilitas, dan keadilan

Secara umum, perbedaan antara UUPLH, 1997 Dengan Rencana Undang-Undang Perlindungan Dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup (RUUPPLH), 2009 dapat dibagi menjadi 2, yaitu

1. PERBEDAAN STRUKTUR (BATANG TUBUH)

A. UUPLH (UU No 23/1997) terdiri dari 11 bab dan 52 pasal

B. RUU Pengelolaan Lingkungan Hidup, 2009 yang telah disahkan tanggal 8 September 2009 terdiri
atas 18 bab dan 86 pasal

1. PERBEDAAN MATERI

A. UUPLH (UU No 23/1997)

1. Isi UUPLH saat ini (UU No 23/1997) lebih menitik beratkan pada isu pencemaran lingkungan

hidup (brown issue), sedangkan pengelolaan sumberdaya alam meskipun telah diatur dalam

berbagai Undang-undang, namun terbatas pada masing-masing komoditas (hutan, tambang,

perkebunan), sedangkan implikasi terhadap dampak negatif kumulatif di wilayah tertentu,

belum ada yang mengaturnya.

1. kelembagaan pemerintah, termasuk hubungan pusat dan daerah, belum mempunyai

sinergi dan kapasitas untuk menjalankan kebijakan, baik yang terkait dengan
pengelolaan sumberdaya alam maupun pengelolaan lingkungan hidup.

2. Ruang lingkup pengelolaan lingkungan hidup sebatas pada pencegahan, pengendalian,

dan penanggulangan pencemaran lingkungan


3. Azas subsidaritas

B. RUU Pengelolaan Lingkungan Hidup, 2009

1. Dalam Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup, ada pengaturan yang

memberikan kewenangan kuat kepada penyidik pegawai negeri sipil. Wewenangnya mulai dari
memeriksa kebenaran laporan, dokumen, hingga menangkap dan menahan pelanggar

lingkungan.

2. PPNS. Pada Bab XV tentang Penyidikan, terdapat sembilan kewenangan PPNS, seperti memeriksa

kebenaran laporan, memeriksa orang/badan hukum, meminta keterangan dan bukti, serta

memeriksa pembukuan, catatan, dan dokumen. Lainnya, menyita bahan dan barang hasil

pelanggaran, meminta bantuan ahli terkait penyidikan, memasuki lokasi untuk memotret, dan

membuat rekaman video. Terakhir, wewenang menangkap dan menahan tersangka pelanggar

lingkungan.

3. Dalam RUU PLH yang baru terkandung keinginan untuk memberi mandat yang lebih luas kepada

lingkup pengelolaan lingkungan. Ranah pengelolan lingkungan hidup yang semula sebatas pada

urusan kebijakan pencegahan, pengendalian dan penanggulangan pencemaran lingkungan;

tampak diperluas ke: i) alokasi dan fungsi ruang; dan ii) pemanfaatan dan/atau pencadangan

sumberdaya alam.[1] Pasal 5, 6, 7, dan 8

4. Dalam RUU PLH, pemulihan diletakkan sebagai bagian elemen pengendalian (bagian keempat

dari Bab V Pengendalian, Pasal 23 dan 24), disamping itu pemulihan atas kerusakan dan

pencemaran yang selama ini telah terjadi belum secara eksplisit dinyatakan untuk diatasi oleh

negara dalam Pasal 23 dan 24. Dalam RUU PLH, pemantauan hanya diletakkan sebagai bagian

dari kewenangan pejabat pengawas (Pasal 30). DalamPasal 7. kewajiban pemerintah pusat dan

pemerintah daerah membuat Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KHLS). Hal ini tidak terdapat

dalam UU No. 23 Tahun 1997. Dari penerapan KHLS dalam UU PPLH diharapkan pembangunan

berkelanjutan sebagai dasar dan integrasi suatu kebijakan, rencana, dan program

pembangunan.

5. penguatan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). Upaya itu diharapkan mencegah

kerusakan lingkungan dengan peningkatan akuntablitas, penerapan sertifikasi kompetensi

penyusun dokumen Amdal, penerapan sanksi hukum bagi pelanggar bidang Amdal, dan Amdal

sebagai persyaratan utama memperoleh izin lingkungan sebagai prasyarat memperoleh izin

usaha/kegiatan dan izin usaha/kegiatan.

6. Sistem hukum dapat ditegakkan oleh pejabat pengawas dengan penghentian pelanggaran di

lapangan dengan pemberlakukan UU PPLH. Begitu pula penangkapan, penahan, hasil penyidikan

dapat dilakukan oleh penyidik PNS yang dibawa ke jaksa penuntut umum (JPU) bersama

kepolisian. Pemberi izin lingkungan tidak sesuai prosedur dan pejabat yang tidak melaksanakan

tugas pengawasan lingkungan dapat dipidana. (bila pejabat publik yang berwenang dengan

sengaja melakukan tindakan yang menimbulkan kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup
dapat dipidana setahun dan didenda Rp1 miliar,)