Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM ANFISMAN GOLONGAN PRAKTIKUM R

KELOMPOK 1

SELASA (15.30-17.30 WIB)

SISTEM ENDOKRIN

NAMA PENANGGUNG JAWAB LAPORAN : Lina K.D. (2443017011)

Nama Anggota Kelompok :

1. Adam Bilal Utama (2443017003)


2. Dase Adell Astika (2443017006)
3. Lina Kusuma Dewanti (2443017011)
4. Melicia Inzanny Kriswanto (2443017014)
5. Linda Setyowati (2443017019)
LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA
SISTEM ENDOKRIN

Disusun Oleh :

Adam Bilal Utama NRP. 2443017003

Dase Adell Astika NRP. 2443017006

Lina Kusuma Dewanti NRP. 2443017011

Melicia Inzanny Kriswanto NRP. 2443017014

Linda Setyowati NRP. 2443017019

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

2017
BAB 1. TUJUAN PRAKTIKUM

1. Memahami metabolisme dan hormon tiroid.


2. Memahami glukosa darah, insulin, dan diabetes militus.
3. Memahami terapi sulih hormon.
4. Memahami pengukuran kortisol dan hormon adrenokortikotropik.

BAB 2. LANDASAN TEORI

Sistem endokrin terdiri dari kelenjar endokrin tanpa duktus. Meskipun


kelenjar-kelenjar endokrin secara anatomis tidak berhubungan namun secara
fungsional kelenjar-kelenjar tersebut membentuk suatu sistem. Semua kelenjar
endokrin melaksanakan fungsinya dengan mengeluarkan hormon kedalam darah,
dan terdapat banyak interaksi fungsional diantara berbagai kelenjar endokrin.
Setelah dikeluarkan, hormon mengalir kedalam darah ke sel sasaran ditempat
yang jauh, tempat bahan ini mengatur atau mengarahkan fungsi tersebut.
Disfungsi endokrin terjadi jika hormon dihasilkan terlalu banyak atau terlalu
sedikit atau ketika responsivitas sel sasaran terhadap hormon berkurang
(Sherwood, 2001).

Hormon tiroid menghambat sekresi lebih lanjut TSH oleh hipofisis


anterior. Umpan balik negatif menjamin bahwa jika sekresi kelenjar tiroid telah
dinyalakan oleh TSH, maka sekresi tersebut tidak akan berlanjut tetapi akan
dipadamkan jika kadar hormon bebas dalam darah telah mencapai tingkat yang
telah ditentukan. Karena itu, efek susatu hormon dapat menghambat sekresinya
sendiri. Umpan balik negatif adalah gambaran menonjol pada sistem kontrol
hormon. Secara sederhana, umpan balik negatif dijumpai jika keluaran sistem
melawan perubahan pada masukan, sehingga variabel terkontrol berasa dalam
kisaran sempit di seketir titik patokan tertentu (Sherwood, 2001).

Anabolisme adalah pembentukan atau sintesis makromolekul organik yang


lebih besar dari subunit molekul organik kecil. Reaksi anabolik umumnya
membutuhkan asupan energi dalam bentuk ATP. Katabolisme mencakup dua
tingkat penguraian, hidrolisis makromolekul organik besar sel menjadi subunit-
BAB 3. ALAT DAN BAHAN

Piranti lunak PhysioEx 9.0 dan komputer

BAB 4. PROSEDUR KERJA

4.1 Metabolisme dan Hormon Tiroid


a. Membuka software PhysioEx dan mengklik Exercise 4: Endrocine System
Physiology.
b. Mengklik activity 1: Metabolism and Thyroid Hormone
c. Mengklik introduction kemudian menjawab pre-lab quiz
d. Mengklik tab experiment dan mulai melakukan percobaan
e. Mengikuti intruksi percobaan dalam software
f. Menjawab post-lab quiz
g. Menyimpan dalam bentuk PDF

4.2 Glukosa Darah, Insulin, dan Diabetes Militus


a. Membuka software PhysioEx dan mengklik Exercise 4: Endrocine System
Physiology.
b. Mengklik activity 2: Plasma Glucose, Insulin, and Diabetes Melitus
c. Mengklik introduction kemudian menjawab pre-lab quiz
d. Mengklik tab experiment dan mulai melakukan percobaan
e. Mengikuti intruksi percobaan dalam software
f. Menjawab post-lab quiz
g. Menyimpan dalam bentuk PDF

4.3 Terapi Sulih Hormon


a. Membuka software PhysioEx dan mengklik Exercise 4: Endrocine System
Physiology.
b. Mengklik activity 3: Hormone Replacement Therapy
c. Mengklik introduction kemudian menjawab pre-lab quiz
d. Mengklik tab experiment dan mulai melakukan percobaan
e. Mengikuti intruksi percobaan dalam software
f. Menjawab post-lab quiz
g. Menyimpan dalam bentuk PDF

4.4 Pengukuran Kortisol dan Hormon Adrenokortikotropik


a. Membuka software PhysioEx dan mengklik Exercise 4: Endrocine System
Physiology.
b. Mengklik activity 3: Measuring Cortisol and Adrenocorticotropic
Hormone
c. Mengklik introduction kemudian menjawab pre-lab quiz
d. Mengklik tab experiment dan mulai melakukan percobaan
e. Mengikuti intruksi percobaan dalam software
f. Menjawab post-lab quiz
g. Menyimpan dalam bentuk PDF
BAB 5. HASIL PRAKTIKUM

5.1 Metabolisme dan Hormon Tiroid

Dari praktikum ini akan dilihat efek thyroxine, TSH, dan PTU pada tiga tikus
yang berbeda yaitu tikus normal, tikus tyroidectomized, dan tikus
hypophysectomized. Pada saat none injected, dari data pengamatan terlihat bahwa
tikus normal (Normal) memiliki laju metabolik lebih tinggi dibandingkan tikus
tyroidectomized (Tx) dan tikus hypophysectomized (Hypox). Sedangkan tikus Tx
memiliki laju metabolik yang relatif sama dengan tikus Hypox.
Pada saat pemberian tiroksin, data yang diperoleh menunjukkan kenaikan laju
metabolik pada semua kelompok tikus. Pada tikus normal tetap menunjukkan
angka laju yang paling tinggi. Untuk tikus Tx dan tikus hypox laju metaboliknya
meningkat karena yang pada awalnya tidak terdapat tiroksin pada tubuhnya yang
membuat laju metaboliknya rendah kini pada tubuhnya terdapat tiroksin sehingga
laju metaboliknya menjadi meningkat.
Pada saat pemberian TSH, data percobaan yang diperoleh menunjukkan
terjadinya kenaikan laju metabolik hanya pada tikus normal dan tikus hypox. Pada
tikus Tx tidak terjadi kenaikan laju metabolik. Sedangkan pada saat pemberian
PTU, data yang diperoleh menunjukkan adanya penurunan laju metabolik pada
tikus normal sedangkan pada tikus Tx tidak ada peningkatan dan tikus hypox ada
sedikit peningkatan laju metabolik.
BAB 6. PEMBAHASAN

6.1. Pembahasan Hasil Praktikum

6.1.1 Metabolisme dan Hormon Tiroid

Praktikum kali ini ada tiga tikus yang berbeda yaitu tikus normal, tikus
tyroidectomized, dan tikus hypophysectomized. Tikus normal adalah tikus
percobaan yang kondisinya normal, tikus ini berfungsi untuk mengetahui laju
metabolik tikus normal. Tikus tyroidectomized (Tx) adalah tikus yang telah
kehilangan kelenjar tiroidnya sehingga di dalam tubuhnya tidak dihasilkan
hormon tiroksin, sedangkan tikus hypophysectomized (Hypox) adalah tikus yang
telah kehilangan kelenjar hipofisisnya sehingga tidak menghasilkan hormon TSH.
Pada setiap tikus akan di injeksi tiroksin, TSH, dan PTU. Jumlah penggunaan
oksigen tiap jam dianalogikan sebagai laju metabolisme. Penggunaan oksigen ini
mencerminkan laju metabolisme karena proses metabolisme hewan percobaan
mutlak memerlukan oksigen sehingga laju metabolisme dapat dianaolgikan
dengan penggunaan oksigen per jam.

Sebelum melakukan percobaan terapi hormon, terlebih dahulu dibuat


standar laju metabolisme. Standar laju ini dibuat untuk mengetahui laju
metabolisme ketiga kelompok tikus pada kondisi normal yaitu dengan mengukur
penggunaan oksigen selama satu menit lalu dengan perhitungan ditentukan laju
metabolisme berupa penggunaan oksigen perjam per kilogram berat badan tikus.
Tikus ditempatkan pada suatu chamber tertutup yang terhubung pada alat
pengukur tekanan selama satu menit, kemudian chamber tersebut diisi kembali
dengan udara dari luar dengan volume yang diketahui hingga tekanan udara
kembali seperti semula. Volume tersebut yang selanjutnya dimasukkan ke dalam
perhitungan untuk menentukan laju metabolisme. Laju metabolisme pada kategori
standar laju selanjutnya digunakan sebagai pembanding untuk terapi hormon yang
diterapkan pada masing-masing kelompok hewan percobaan. Perbedaan nilai laju
metabolisme yang signifikan baik itu meningkat atau menurun menunjukkan
adanya pengaruh dari perlakuan terapi hormon dan pengganti hormon pada hewan
percobaan. Dari data pengamatan terlihat bahwa tikus normal (Normal) memiliki
laju metabolik yang jauh berbeda dibandingkan tikus tyroidectomized (Tx) dan
tikus hypophysectomized (Hypox). Tikus normal memiliki laju metabolik yang
paling tinggi sedangkan tikus Tx memiliki laju yang relatif sama dengan tikus
hypox. Hal ini karena tikus Tx sudah tidak memiliki kelenjar tiroid yaitu kelenjar
yang menghasilkan hormon tiroksin, hormon yang berperan dalam proses
metabolisme, sehingga proses metabolismenya menjadi lambat. Sedangkan tikus
hypox tidak lagi memiliki kelenjar hipofisis yang merupakan kelenjar yang
berfungsi melepaskan TSH (thyroid-stimulating hormone) yaitu hormon yang
menstimulasi pelepasan hormon tiroksin sehingga tidak ada tiroksin yang
dilepaskan. Oleh karena itu, laju metabolik tikus Tx dan tikus hypox rendah. Laju
metabolik tikus normal tinggi karena pada tikus tersebut masih dihasilkan hormon
tiroksin sebab tikus tersebut masih memiliki kelenjar tiroid dan kelenjar hipofisis
sehingga regulasi hormon berjalan normal. Pemberian tiroid pada tikus Tx dan
tikus hypox dapat membuat laju metabolis normal.

Percobaan selanjutnya dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian


tiroksin terhadap laju metabolik ketiga kelompok tikus. Hormon-hormon tiroid,
termasuk tiroksin, berfungsi meningkatkan metabolisme sel dan penggunaan
oksigen, juga mendorong sintesis protein di dalam sel. Prosedur yang dilakukan
sama dengan prosedur pada penentuan laju metabolik standar hanya pada
percobaan ini semua tikus terlebih dahulu diberikan injeksi tiroksin sebelum
penentuan laju metaboliknya. Data yang diperoleh menunjukkan kenaikan laju
metabolik pada semua kelompok tikus. Pada tikus normal tetap menunjukkan
angka laju yang paling tinggi karena memiliki kadar tiroksin yang paling tinggi
juga. Hal ini karena pada tikus normal kadar tiroksin pada awalnya normal dan
setelah dilakukan injeksi tiroksin kadar tiroksinnya menjadi lebih tinggi sehingga
laju metaboliknya meningkat. Untuk tikus Tx dan tikus hypox laju metaboliknya
meningkat menjadi angka normal karena yang pada awalnya tidak terdapat
tiroksin pada tubuhnya yang membuat laju metaboliknya rendah kini pada
tubuhnya terdapat tiroksin sehingga laju metaboliknya menjadi meningkat. Oleh
karena itu, dapat kita ketahui bahwa pemberian hormon tiroksin dapat
meningkatkan laju metabolisme tubuh.
Percobaan ketiga bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian TSH
terhadap laju metabolik tikus. TSH adalah suatu hormon yang dihasilkan oleh
kelenjar hipofisis yang berfungsi menstimulasi pelepasan hormon tiroksin oleh
kelenjar tiroid. Tidak adanya TSH menyebabkan tidak adanya hormon tiroksin
yang dilepaskan oleh kelenjar tiroid. Percobaan ini dilakukan dengan memberi
injeksi TSH pada setiap tikus kemudian dihitung laju metaboliknya. Hasil
percobaan yang diperoleh menunjukkan terjadinya kenaikan laju metabolik hanya
pada tikus normal dan tikus hypox. Pada tikus normal karena hormon stimulan
menjadi lebih banyak sehingga hormon tiroksin yang dilepaskan oleh kelenjar
tiroid juga lebih banyak sedangkan pada tikus hypox kenaikan terjadi karena
terjadi stimulasi pelepasan hormon tiroksin yang pada awalnya tidak ada stimulasi
sama sekali. Pada tikus Tx tidak terjadi kenaikan laju metabolik bila dibandingkan
dengan standar laju meski tikus telah diberi injeksi TSH karena tikus Tx tidak
memiliki kelenjar tiroid yang dapat menghasilkan hormon tiroksin sehingga
pemberian TSH tidak akan menimbulkan pengaruh terhadap tikus tersebut karena
TSH yang diinjeksikan tidak dapat menemukan reseptornya sehingga TSH
tersebut tidak berfungsi. Oleh karena itu, tidak terjadi kenaikan pada laju
metabolik tikus Tx.

Percobaan keempat dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian


propiltiourasil terhadap laju metabolik tikus. Propiltiourasil adalah suatu senyawa
yang dapat menghambat secara langsung sintesis hormon tiroid dengan jalan
menghambat enzim peroksidase sehingga mencegah pengikatan iodium pada
tirosin atau penggandengan mono- dan diiodotirosin menjadi T3/T4. Prosedur
dilakukan dengan terlebih dahulu dilakukan pemberian propiltiourasil pada setiap
tikus sebelum penentuan laju metaboliknya. Data yang diperoleh menunjukkan
adanya penurunan laju metabolik pada tikus normal sedangkan pada tikus Tx dan
tikus hypox tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Penurunan laju metabolik
pada tikus normal dikarenakan terjadinya penghambatan proses pembentukan
hormon tiroksin oleh propiltiourasil sehingga hormon yang diproduksi menjadi
menurun dan mengakibatkan laju metabolik menjadi lebih lambat. Tidak adanya
respon yang berarti terhadap pemberian propiltiourasil pada
6.2. Pembahasan Pertanyaan Buku Petunjuk Praktikum

6.2.1 Part 1
1. Tikus mana yang memiliki tingkat metabolisme basal tercepat (BMR)?
Tikus normal yang diinjeksi oleh tiroksin memiliki tingkat metabolisme basal
tercepat.
2. Mengapa tingkat metabolisme berbeda antara tikus normal dan tikus yang
dioperasi dengan pembedahan? Seberapa baik hasilnya bandingkan dengan
prediksi anda?
Karena pada tikus Tx tiroidnya diambil (hilang). Dimana kelenjar ini
menghasilkan hormon tiroksin yang dapat membantu proses metabolisme
tubuh. Apabila kelenjar ini dihilangkan, maka metabolisme tubuh akan
terganggu sehingga prosesnya akan berjalan lambat dan mempengaruhi
hasilnya.
3. Jika seekor hewan telah tyroidectomized, hormon apa yang hilang dalam
darahnya?
Apabila hewan mengalami tyroidectomized, maka hormon yang hilang
adalah tiroksin.
4. Jika hewan telah hypophysectomized, efek apa yang akan anda harapkan
untuk melihat kadar hormon di dalamnya tubuhnya?
Sekresi hormon-hormon akan terganggu. Seperti yang kita ketahui bahwa
kelenjar hipofisis salah satunya menghasilkan hormon gonadotropin dan
TSH. Dimana hormon gonadotropin akan menghasilkan estrogen,
progesteron, dan testosteran. Sedangkan, hormon TSH berfungsi
menstimulasi kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroksin. Apabila
sekarang seseorang kehilangan kelenjar hipofisisnya, maka yang
terganggung adalah perkembangan dari gonad dan produksi tiroksinnya.
Sehingga orang tersebut akan menderita hipotiroid.
6.2.2 Part 2
5. Apa efek injeksi tiroksin pada BMR tikus normal?
Injeksi tiroksin pada tikus normal menyebabkan BMR meningkat dari
sebelum di injeksi. Efek dari injeksi tiroksin pada tikus yang normal
adalah tikus tersebut akan mengalami hipertiroid namun tidak akan
gondok.
6. Apa efek injeksi tiroksin pada BMR tikus tyroidectomized? Bagaimana
BMR dalam hal ini dibandingkan dengan BMR tikus normal? Apakah
dosis tiroksin dalam suntik terlalu besar, terlalu kecil, atau tepat?
Injeksi tiroksin pada tikus tyroidectomized menyebabkan BMR meningkat
dari sebelum di injeksi. Efek dari injeksi tiroksin pada tikus yang Tx
adalah tikus tersebut mengalami hipertiroid. Awalnya tikus tersebut
mengalami hipotiroid, namu setelah diinjeksi dengan hormon tiroksin
menjadi hipertiroid. Hal ini kemungkinan terjadi karena dosis yang
diberikan terlalu banyak.
7. Apa efek injeksi tiroksin pada BMR tikus hypophysectomized? Bagaimana
BMR dalam hal ini dibandingkan dengan BMR tikus normal? Apakah
dosis tiroksin dalam suntik terlalu besar, terlalu kecil, atau tepat?
Injeksi tiroksin pada tikus hypophysectomized menyebabkan BMR
meningkat dari sebelum di injeksi. Efek dari injeksi tiroksin pada tikus
hypox adalah tikus tersebut menjadi hipertiroid. Dimana awalnya tikus ini
mengalami hipotiroid, tetapi setelah diinjeksi tiroksin menjadi hipertiroid.
Mungkin saja hal ini terjadi karena dosis yang diberikan terlalu banyak.

6.2.3 Part 3
8. Apa efek injeksi hormon thyroid-stimulating hormone (TSH) pada BMR
tikus normal?
BMR tikus normal setelah di injeksi TSH mengalami peningkatan
dibandingkan dengan sebelum di injeksi. Pemberian TSH pada tikus yang
normal menyebabkan tikus tersebut hipertiroid dan bisa menjadi gondok.
Hal ini terjadi karena tikus yang normal apabila diberi TSH akan
menyebabkan produksi tiroksinnya bertamabah. Sebagaimana yang telah
kita ketahui hormon TSH akan menstimulasi kelenjar tiroid untuk
menghasilkan tiroksin sehingga produksi tiroksin akan berlebihan.
9. Apa efek injeksi TSH pada BMR tikus tyroidectomized? Bagaimana BMR
dalam hal ini dibandingkan dengan BMR tikus biasa? Mengapa efek ini
diperhatikan?
Injeksi TSH pada tikus Tx menyebabkan hipotiroid. Dari hasil percobaan,
sebelum dan sesudah injeksi diperoleh BMR yang sama. Hal ini terjadi
karena pada tikus ini sudah tidak ada kelenjar tiroidnya sehingga TSH
tidak dapat menstimulasi. Karena disini TSH berfungsi untuk
menstimulasi kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroksin.
10. Apa efek injeksi TSH pada BMR tikus hypophysectomized? Bagaimana
BMR dalam hal ini dibandingkan dengan BMR tikus normal? Apakah
dosis TSH di suntik terlalu besar, terlalu kecil, atau tetap?
BMR tikus hypophysectomized setelah di injeksi TSH mengalami
peningkatan dibandingkan dengan sebelum di injeksi. Injeksi TSH pada
tikus hypox menyebabkan hipertiroid. Awalnya tikus ini mengalami
hipotirod, namun setelah diinjeksi menjadi hipertiroid. Walaupun tikus ini
tidak memiliki kelenjar hipofisis yang dapat mengahasilkan TSH, tetapi
dengan bantuan injeksi dapat menambah TSH yang dapat menstimulasi
kelenjar tiroid untuk menghasilkan tiroksin. Terjadinya hipertiroid
mungkin karena dosis yang diberikan terlalu banyak.

6.2.4 Part 4
11. Apa efek injeksi propylthiouracil (PTU) pada BMR tikus normal?
Mengapa tikus ini berkembang gondok yang teraba?
Efek suntikan PTU pada tikus normal adalah menurunkan BMR dari
sebelum di injeksi. Gondok yang teraba disebabkan oleh penumpukan
tiroksin.
12. Apa efek dari suntikan PTU pada BMR tikus tyroidectomized? Bagaimana
BMR dalam hal ini dibandingkan dengan BMR tikus normal? Mengapa
efek ini diperhatikan?
BMR tikus tyroidectomized setelah di injeksi PTU dibandingkan dengan
sebelum di injeksi tidak ada peningkatan atau penurunan, sedangkan pada
BMR tikus normal terdapat perubahan setelah di injeksi PTU. Efek
suntikan PTU pada tikus tyroidectomized tidak terlihat karena tidak ada
kelenjar tiroid yang akan terpengaruh.
13. Apa efek suntikan PTU pada BMR tikus hypophysectomized? Bagaimana
BMR dalam hal ini dibandingkan dengan BMR tikus normal? Mengapa
efek ini diperhatikan?
BMR tikus hypophysectomized setelah di injeksi PTU mengalami sedikit
peningkatan dibandingkan dengan sebelum di injeksi sedangkan pada
BMR tikus normal terdapat perubahan yang berarti setelah di injeksi PTU.
Efek suntikan PTU pada tikus hypophysectomized tidak terlihat karena
tikus tersebut kehilangan kelenjar pituitary.