Anda di halaman 1dari 15

I.

Tujuan Percobaan

1. Untuk mengukur dan menentukan perbandingan jumlah kumparan sisi primer

dan sekunder.

2. Untuk menentukan error perbandingan belitan transformator antara name

plate dan pengukuran.

3. Untuk mengetahui tapping pada transformator dan kegunaannya

II. Teori Dasar

Tujuan dari pengetesan perbandingan belitan (windng ratio) pada

transformator adalah untuk memastikan bahwa semua belitan memiliki jumlah lilitan

(belitan) sesuai dengan desain atau yang tersebut dalam name plate. Jika

transformator memiliki beberapa tapping maka pada transformator tersebut juga

perlu dilakukan pengujian perbandingan transformator pada setiap tapping-nya.

Berdasarkan standard ANSI dan IEEE bahwa ratio tegangan terukur antara

dua belitan berada sekitar 0.5% dari yang tercantum pads name plate.

Rasio yang akan dibandingkan adalah nilai awal (nilai desainnya, factory

report atau site test report) dengan nilai pengujian terakhir. Sehingga dapat

diketahui rasio dari alat listrik tersebut masih sesuai atau tidak.

Prinsip kerja transformator adalah mentransformasikan tegangan atau besaran

listrik lainnya dengan menggunakan teori induktansi dan atau kapasitansi. Ratio

Transformator dapat dilihat dengan perbandingan sebagai berikut:


Gambar 1. Ratio Transformator

Persamaan dasar transformator adalah :

yang mana :

N2 adalah banyaknya belitan pada sisi sekunder.

N1 adalah banyaknya belitan pada sisi primer.

E1 adalah tegangan pada sisi primer.

E2 adalah tegangan pada sisi sekunder.

K adalah konstanta Transformator atau rasio transformator.

Jika N2 > N1 atau K > 1 maka trafo tersebut berfungsi sebagai penaik

tegangan atau step-up transformer, demikian sebaliknya bila N2 < N1 atau

K<1 berfungsi sebagai trafo penurun tegangan atau step-down transformator.

Idealnya tranformator mempunyai daya input sama dengan daya output, dalam

persamaan : Input VA = Output VA


III. Alat dan Bahan

3 unit transformator 1 phasa atau 1 unit transformator 3 phasa

2 buah Voltmeter (Analog/Digital)

Kabel penghubung secukupnya

Sumber tegangan 3 phasa

IV. Rangkaian Percobaan

Gambar 2. Rangkaian Percobaan Transformer Ratio 1 Sisi Sekunder 3(L-N)


Gambar 3. Rangkaian Percobaan Transformer Ratio 1 Sisi Sekunder 3(L-L)

Gambar 4. Rangkaian Percobaan Transformer Ratio 1 Sisi Sekunder 2 (L-N)


Gambar 5. Rangkaian Percobaan Transformer Ratio 1 Sisi Sekunder 2 (L-L)

Gambar 6. Rangkaian Percobaan Transformer Ratio 1 gabungan Sisi Sekunder

3 dan 2 (L-N)
Gambar 7. Rangkaian Percobaan Transformer Ratio 1 gabungan Sisi Sekunder

3 dan 2 (L-L)

Gambar 8. Rangkaian Percobaan Transformer Ratio 2 Sisi Sekunder 2(L-N)


Gambar 9. Rangkaian Percobaan Transformer Ratio 2 Sisi Sekunder 3(L-L)

Gambar 10. Rangkaian Percobaan Transformer Ratio 2 Sisi Sekunder 2 (L-N)


Gambar 11. Rangkaian Percobaan Transformer Ratio 2 Sisi Sekunder 2 (L-L)

Gambar 12. Rangkaian Percobaan Transformer Ratio 2 gabungan Sisi Sekunder

3 dan 2 (L-N)
Gambar 13. Rangkaian Percobaan Transformer Ratio 2 gabungan Sisi Sekunder

3 dan 2 (L-L)

V. Prosedur Percobaan

1. Menyiapkan alat dan bahan percobaan.

2. Mengkalibrasi alat ukur yang akan digunakan.

3. Merangkai alat percobaan yaitu transformator dan kabel hubung sesuai

dengan gambar 2-13.

4. Sebelum menghubungkan sumber tegangan ke rangkaian, besar tegangan

output sumber tegangan diperiksa terlebih dahulu.

5. Mencatat dan menghitung nameplate transformator ratio pada setiap tapping.

6. Menghubungkan sumber tegangan sesuai rangkaian percobaan.

7. Menyalakan sumber tegangan.

8. Menguur phasa-netral, phasa-phasa pada sisi primer untuk ketiga phasa R,S,

dan T.

9. Mengukur tegangan pada sisi sekunder, untuk semua tapping.


10. Mencatat hasil pengukuran.

11. Mengulangi langkah 3 sampai dengan 10 untuk gambar 4.2.

12. Menghitung ratio pengukuran.

13. Membandingkan hasil pengukuran dan name plate transformer ratio.

VI. Tabel Hasil Pengukuran Perbandingan Belitan Transformator

Type I(Ratio 1)

Ratio Pada Nameplate

Ratio pada nameplate ditentukan dengan rumus tegangan maksimal

pada sisi primer dibagi dengan tegangan maksimal pada sisi sekunder.

Untuk masing-masing sisi sekunder 2 & 3 yaitu:

400
Ratio = = 3.48
115

Sedangkan untuk gabungan sisi sekunder 2 & 3:

400
Ratio = = 1.74
(115 + 115)

Ratio Pada Pengukuran

Untuk ratio pada pengukuran didapatkan dengan membagikan hasil

pengukuran pada sisi primer dan sekunder, adapun persentasenya yaitu :

Niai pada
Error(%) = 100
Nilai pada

- Ratio pada sisi 1U1-N dan 3U1-N = 250 : 68 = 3.68

Adapun peresentase errornya adalah:

3.48 3.68
Error(%) = 100 = 5.70
3.48

Berdasarkan standar ANSI dan IEEE bahwa perbandingan antara rasio

pada nameplate dan pengukuran adalah 0.5%, artinya untuk sisi ini
tidak sesuai dengan standar. Cara yang sama berlaku pada sisi yang

lainnya.

Adapun table hasil percobaan dari setiap sisi adalah sebagai berikut:

Tegangan Tegangan Ratio Error


Ket
Primer(V) Sekunder(V) Pengukuran Nameplate (%)

1U1 - N 250 3U1 - N 68 3.68 3.48 5.70 TSS


1V1 - N 243 3V1 - N 68 3.57 3.48 2.74 TSS
1W1 - N 233 3W1 - N 67 3.48 3.48 0.02 SS
1U1 - 1V1 400 3U1 - 3V1 120 3.33 3.48 4.17 TSS
1V1 - 1W1 396 3V1 - 3W1 119 3.33 3.48 4.33 TSS
1W1 - 1U1 398 3W1 - 3U1 118 3.37 3.48 3.03 TSS
1U1 - N 250 2U1 - N 71 3.52 3.48 1.23 TSS
1V1 - N 243 2V1 - N 71 3.42 3.48 1.60 TSS
1W1 - N 233 2W1 - N 70 3.33 3.48 4.30 TSS
1U1 - 1V1 400 2U1 - 2V1 124 3.23 3.48 7.26 TSS
1V1 - 1W1 396 2V1 - 2W1 121 3.27 3.48 5.91 TSS
1W1 - 1U1 398 2W1 - 2U1 121 3.29 3.48 5.43 TSS
1U1 - N 250 3U1 - N 140 1.79 1.74 2.68 TSS
1V1 - N 243 3V1 - N 140 1.74 1.74 0.20 SS
1W1 - N 233 3W1 - N 138 1.69 1.74 2.92 TSS
1U1 - 1V1 400 3U1 - 3V1 242 1.65 1.74 4.96 TSS
1V1 - 1W1 396 3V1 - 3W1 240 1.65 1.74 5.13 TSS
1W1 - 1U1 398 3W1 - 3U1 239 1.67 1.74 4.25 TSS

Ket : - TSS = Tidak Sesuai Standar ANSI dan IEEE

- SS = Sesuai Standar

Berdasarkan table di atas yang sesuai dengan standar ANSI dan IEEE

hanyalah perbandingan 1W1-N : 3W1-N(sisi sekunder 3) dan 1V1-N :

3V1-N(sisi sekunder 2+3).

Type II(Ratio I1)

Ratio Pada Nameplate


Ratio pada nameplate ditentukan dengan rumus tegangan maksimal

pada sisi primer dibagi dengan akar dibagi dengan tegangan maksimal pada

sisi sekunder. Untuk masing-masing sisi sekunder 2 & 3 yaitu:

400/3
Ratio = = 2.01
115

Sedangkan untuk gabungan sisi sekunder 2 & 3:

4003
Ratio = =1
(115 + 115)

Ratio Pada Pengukuran

Untuk ratio pada pengukuran didapatkan dengan membagikan hasil

pengukuran pada sisi primer dan sekunder, adapun persentasenya yaitu :

Niai pada
Error(%) = 100
Nilai pada

- Ratio pada sisi 1U1-N dan 3U1-N = 133 : 68 = 1.92

Adapun peresentase errornya adalah:

2.01 1.92
Error(%) = 100 = 4.28
2.01

Berdasarkan standar ANSI dan IEEE bahwa perbandingan antara rasio

pada nameplate dan pengukuran adalah 0.5%, jadi perbandingan pada

sisi ini tidak sesuai dengan standar. Cara yang sama berlaku pada sisi

yang lainnya.

Adapun table hasil percobaan dari setiap sisi adalah sebagai berikut:
Tegangan Tegangan Ratio Error
Ket
Primer(V) Sekunder(V) Pengukuran Nameplate (%)
1U1 - N 256 3U1 - N 133 1.92 2.01 4.24 TSS
1V1 - N 254 3V1 - N 133 1.91 2.01 4.99 TSS
1W1 - N 253 3W1 - N 132 1.92 2.01 4.64 TSS
1U1 - 1V1 446 3U1 - 3V1 233 1.91 2.01 4.77 TSS
1V1 - 1W1 445 3V1 - 3W1 232 1.92 2.01 4.57 TSS
1W1 - 1U1 443 3W1 - 3U1 232 1.91 2.01 5.00 TSS
1U1 - N 256 2U1 - N 134 1.91 2.01 4.95 TSS
1V1 - N 254 2V1 - N 133 1.91 2.01 4.99 TSS
1W1 - N 253 2W1 - N 132 1.92 2.01 4.64 TSS
1U1 - 1V1 446 2U1 - 2V1 234 1.91 2.01 5.17 TSS
1V1 - 1W1 445 2V1 - 2W1 232 1.92 2.01 4.57 TSS
1W1 - 1U1 443 2W1 - 2U1 231 1.92 2.01 4.59 TSS
1U1 - N 256 3U1 - N 269 0.95 1.00 4.83 TSS
1V1 - N 254 3V1 - N 268 0.95 1.00 5.22 TSS
1W1 - N 253 3W1 - N 265 0.95 1.00 4.53 TSS
1U1 - 1V1 446 3U1 - 3V1 469 0.95 1.00 4.90 TSS
1V1 - 1W1 445 3V1 - 3W1 468 0.95 1.00 4.91 TSS
1W1 - 1U1 443 3W1 - 3U1 467 0.95 1.00 5.14 TSS

Ket : - TSS = Tidak Sesuai Standar ANSI dan IEEE

- SS = Sesuai Standar

Berdasarkan table di atas persentasi antara sisi primer dan sekunder pada

tapping ini secara keseluruhan tidak sesuai dengan standar IEEE dan

ANSI yaitu 0.5%

VII. Kesimpulan

1. Berdasarkan standard ANSI dan IEEE bahwa ratio tegangan terukur

antara dua belitan berada sekitar 0.5%.

2. Berdasarkan hasil pengukuran transformator dengan type 1 dan 2

diketahui bahwa belitan transformator ini tidak lagi sesuai dengan

nameplate.
3. Menurunnya peforma dari transformator bias jadi dikarenakan faktor

usia dari transformator


DAFTAR PUSTAKA

Jobsheet Praktikum Pembangkit dan Penyaluran STL

Achmad Susilo, Andhy Dharma S. Review Pengujian Elektrik Trafo

dan Interpretasinya.http://121.100.16.220/webtjbtb/wp-

content/uploads/perpustakaan/REVIEW_PENGUJIAN_ELEKTRIK_TR

AFO_DAN_INTERPRETASINYA%20280507.doc(diakses pada 9

Maret 2017)