Anda di halaman 1dari 7

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

- MRI
Menggunakan kekuatan magnet dan gelombang radio. Signal dari
medan magnet memantulkan gambaran tubuh dan mengirimkannya ke
computer, dimana yang kemudian akan ditampilkan dalam bentuk gambar.
Kegunaannya :
a. Pelvimetri yang akurat, mengevaluasi arsitektur pelvis, presentasi dan
posisi janin
b. Gambaran fetal yang lebih baik
c. Gambaran jaringan lunak di panggul yang dapat menyebabkan distosia

- USG
Menggunakan gelombang suara yang dipantulkan untuk membentuk
gambaran bayi di layar komputer yang aman untuk bayi dan ibu.
Kegunaan :
a. Menilai pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan.
b. Masalah dengan plasenta. USG dapat menilai kondisi plaasenta dan
menilai adanya masalah2 seperti plasenta previa dsb.
c. Kehamilan ganda/ kembar. USG dapat memastikan apakah ada 1 / lebih
fetus di rahim.
d. Kelainan letak janin. Bukan saja kelainan letak janin dalam rahim tapi
juga banyak kelainan janin yang dapat di ketahui dengan USG, seperti:
janin besar, malpresentasi, dll.
(Prawirohardjo S. 2006)
PENATALAKSANAAN

Yang paling diutamakan dalam penanganan distosia bahu adalah menghindari


3P yaitu :

1. Panic, semua penanganan dilakukan melalui manuver sistematis dan


setiap penolong harus tenang agar dapat mendengar dan mengerti ketika
ada permintaan bantuan dan dapat dengan jelas memimpin ibu untuk
kapan mengejan dan kapan tidak mengejan.
2. (Pulling) menarik di kepala / leher - traksi lateral akan meningkatkan
resiko
cedera pleksus brakialis.
3. (Pushing) mendorong fundus, karena tidak akan membantu ketika bahu
benar-benar mengalami impaksi dan meningkatkan risiko ruptur uteri.
Tekanan dilakukan pada suprapubik untuk melepaskan impaksi bahu
anterior.

Akronim ALARMER merupakan panduan yang dapat membantu


melakukan penanganan yang tepat, yaitu :
a) Ask for help
b) Legs hyperflexed (McRoberts manoeuvre),
c) Anterior shoulder disimpaction (suprapubic pressure)
d) Rotation of the posterior shoulder (Woods screw manoeuvre)
e) Manual delivery of the posterior arm
f) Episiotomy
g) Roll over onto all fours

1. Ask for help / Meminta bantuan


Diperlukan penolong tambahan untuk melakukan manuver McRoberts dan
penekanan suprapubik.
Menyiapkan penolong untuk resusitasi neonatus.
2. Kaki hiperfleksi (manuver McRoberts)
Disiapkan masing-masing satu penolong di setiap sisi kaki ibu untuk
membantu hyperfleksi kaki dan sekaligus mengabduksi panggul
Memposisikan sakrum ibu lurus terhadap lumbal

3. Disimpksi bahu depan (tekanan suprapubik)


Bahu bayi yang terjepit didorong menjauh dari midline ibu, ditekan pada atas
simfisis pubis ibu. Tekanan suprapubik ini dilakukan untuk mendorong bahu
posterior bayi agar dapat dikeluarkan dari jalan lahir dan digunakan tumit
tangan.

4. Rotasi bahu posterior (manuver Woods screw)


Digunakan 2 jari untuk menekan sisi anterior bahu dan memutarnya hingga
1800 atau oblique, dapat diulang jika diperlukan.

5. Mengeluarkan secara manual lengan posterior


Ditentukan siku lengan posterior bayi, difleksikan dengan tekanan pada fossa
antecubital sehingga tangan bayi dapat dipegang. Tangan tersebut kemudian
ditarik hingga melewati dada bayi sehingga keseluruhan lengan dapat
dilahirkan.
6. Episiotomi
Prosedur ini secara tidak langsung membantu penanganan distosia bahu,
dengan memungkinkan penolong untuk meletakkan tangan penolong ke
dalam vagina untuk melakukan manuver lainnya.
7. Roll over on all fours
Langkah ini memungkinkan posisi bayi bisa bergeser dan terjadi disimpaksi
bahu anterior. Hal ini juga memungkinkan akses yang lebih mudah untuk
memutar bahu posterior atau bahkan melahirkannya langsung.

Jika manuver tersebut tidak ada yang berhasil, bisa disarankan untuk
mematahkan klavikula bayi, simpisiotomi, manuver Zavanelli .

1. Pematahan Klavikula
Jika semua tindakan di atas tetap tidak dapat melahirkan bahu, pilihan
lain : Patahkan klavikula untuk mengurangi lebar bahu dan bebaskan
bahu depan, kemudian Lakukan tarikan dengan mengait ketiak untuk
mengeluarkan lengan belakang

2. Simfisiotomi
Untuk melebarkan jalan lahir sehingga bahu dapat lahir.
3. Manuver Zavanelli
Manuver Zavanelli dilakukan dengan mengembalikan kepala ke dalam
rongga panggul dan kemudian melahirkan secara sesar. Bagian pertama
dari manuver ini adalah mengembalikan kepala ke posisi oksiput
anterior atau oksiput posterior bila kepala janin telah berputar dari posisi
tersebut. Langkah kedua adalah memfleksikan kepala dan secara
perlahan mendorongnya masuk kembali ke vagina, yang diikuti dengan
pelahiran secara sesar. Terbutaline dapat diberikan untuk menghasilkan
relaksasi uterus. Sandberg (1999) kemudian meninjau 103 laporan kasus
yang menerapkan manuver Zavanelli. Manuver ini berhasil pada 91
persen kasus presentasi kepala dan pada semua kasus terjepitnya
kepala pada presentasi bokong. Cedera pada janin biasa terjadi pada
keadaan-keadaan sulit yang menerapkan maneuver Zavanelli,
terdapat delapan kasus kematian neonatal, enam kasus lahir mati, dan
10 neonatus menderita kerusakan otak. Ruptur uteri juga pernah
dilaporkan.

Gambar 10. Manuver Zavanelli

Bila distosia bahu telah berhasil ditangani, maka dilakukan :

Penilaian bayi untuk mengetahui adanya trauma.


Analisa gas darah tali pusat.
Penilaian ibu untuk tears pada saluran genital.
Manajemen aktif kala III untuk mencegah perdarahan postpartum.
Mencatat manuver yang telah dilakukan.
Menjelaskan semua langkah yang telah dilakukan kepada ibu dan keluarga
yang mungkin ada pada saat dilakukan penanganan.

(SOGC, 2005).

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo S. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan


Neonatal. Jakarta: YBP-SP

Society of Obstetricians and Gynaecologists of Canada (SOGC). 2005. Advances in


Labour and Risk Management Course (ALARM) 13th edition dalam
Perinatal Outreach Program of Southwestern Ontario PERINATAL
MANUAL CHAPTER 12 SHOULDER DYSTOCIA.
.