Anda di halaman 1dari 8

Aspek Virologi Hepatitis C

Widura
Bagian Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha,
Bandung

Ringkasan
Hepatitis C mempunyai banyak persamaan dengan hepatitis B dalam epidemiologi
dan gambaran klinis. Berbeda dari virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis C (HCV) adalah
suatu virus RNA, tidak mengadakan integrasi ke dalam genom hepatosit, glikoprotein pada
envelopnya sangat mudah berubah, sehingga respons imun terhadapnya menjadi sangat tidak
efisien, dan infeksinya cenderung lebih persisten, lebih banyak yang menjadi sirosis dan
karsinoma. Selain itu, penularan HCV lebih banyak terjadi secara horizontal, di antara
penyalah-guna obat intravena. Kerusakan sel hepar pada hepatitis C terutama disebabkan oleh
sel T sitotoksik, sedangkan kerusakan jaringan ekstrahepatiknya adalah akibat aktivasi
komplemen oleh kompleks imun. Genom HCV sebenarnya adalah campuran populasi molekul
RNA HCV yang heterogen tapi masih saling berhubungan (quasispecies), terdiri atas virus
yang lengkap dan juga yang cacad, oleh karena itu, hasil immunoassay terhadap anti-HCV
belum dapat diandalkan sepenuhnya untuk diagnosis. Pemeriksaan untuk deteksi RNA HCV
yang lebih sensitif sekalipun belum memberikan hasil yang konsisten

Summary
Hepatitis C resembles hepatitis B epidemiologically and clinically, but not
virologically. Hepatitis C virus (HCV) is an RNA virus, it does not integrate into the genome
of hepatocyte, the hypervariability of glycoproteins in its envelop makes the host immune
response become very inefficient, and as a result, HCV infection tends to be more persistant,
prones to develop cirrhosis and carcinom., Besides, HCV is transmitted more prevalent
horizontally among IV drug users. Liver cell damage in hepatitis C is mainly caused by
cytotoxic T cell, and the extrahepatic tissue damage is the result of complement activation by
immune complex. HCV genome is in fact a mixed population of heterogenous yet closely related
HCV RNA molecules (quasispecies), consisting of replication competent as well as defective
virus, consequently, the immunoassays to detect anti HCV are sometimes insufficient for
diagnosis, even the detection of HCV RNA by more sensitive techniques fails to yield consistent
results.

Pendahuluan penderitanya, baru pada tahun


Pada tahun 1970-an dike- 1989, dengan bantuan teknik
nal suatu bentuk hepatitis non A DNA rekombinan, penyebabnya
- non B yang mempunyai ba- berhasil diidentifikasi oleh
nyak persamaan dengan hepati- Choo, Houghton dkk-nya di
tis B, namun tidak dijumpai USA, dan diberi nama virus he-
petanda hepatitis B dalam serum patitis C (HCV), yang merupa-

6
Aspek Virologi Hepatitis C
Widura

kan penyebab utama hepatitis sebut Hypervariable region 1


non A - non B (Brechot, C., 1994.; (HVR1). Daerah ini berbeda pa-
Collier, L. et.al, 2000). da setiap penderita, pada per-
HCV merupakan genus alihan infeksi HCV akut ke kro-
tersendiri dalam famili Flavi- nis dan selama perjalanan infek-
viridae, diameternya 60 nm dan si HCV menahun. (Kurosaki,
ber-envelop, bentuk capsidnya 1993). Oleh karena itu, in vivo,
icosahedral, mempunyai sebuah HCV merupakan suatu identitas
RNA yang linear, single-stranded kolektif, yang terdiri atas seke-
dan positive-sense, dengan 9500 lompok molekul RNA HCV
nukleotida. (Collier, L., et al., yang heterogen namun masih
2000; Fauci, A. S., et al., 1998). saling berhubungan, yang dise-
but quasispecies, yang terdiri atas
virus lengkap dan cacad. Pada
Sifat - Sifat HCV beberapa penderita, sebagian be-
Genom HCV terdiri atas sar molekul RNA HCV di dalam
sebuah reading frame (gen) ter- darah bahkan adalah virus ca-
buka yang tunggal dan besar, cad. (Brechot, C., 1994; Stuyver,
yang membawa kode bagi suatu L. 1994).
virus polyprotein dengan lebih Di lain pihak, seperti
kurang 3000 asam amino. Se- yang tampak pada Gambar 1,
perti yang tampak pada Gambar protein nonstruktural banyak
1, baik di ujung 5 maupun 3 berhubungan dengan immuno-
terdapat daerah untranslated. Se- assay untuk anti-HCV, misalnya
perti flavivirus lain, urutan gen klon HCV yang pertama, 5-1-1,
dari ujung 5 ke 3 adalah C, E1, dan sikuens nukleotida untuk
E2/NS1, NS2, NS3, NS4 dan C100-3, suatu protein virus re-
NS5. C adalah core (nucleocapsid) kombinan yang digunakan pada
dan E adalah tonjolan glikopro- immunoassay anti-HCV generasi
tein pada envelop, mereka terma- pertama, keduanya terdapat di
suk protein struktural, NS dalam gen NS4, demikian pula
adalah protein nonstruktural. NS3 pembawa kode untuk pro-
(Fauci, A. S. et.al, 1998). tease dan helikase, selain itu
Daerah untranslated di u- juga NS5 pembawa kode untuk
jung 5 dan C pada semua geno- RNA-dependent RNA polymerase.
tipe adalah sama, sedangkan di (Fauci, A. S., et al., 1998).
dalam domain E2/NS1 terdapat Replikasi virus terjadi di
daerah hipervariabel, terutama dalam sitoplasma, karena tidak
di ujung N daerah E2 yang di- melalui suatu DNA perantara,

7
JKM.
Vol.3, No.1, Juli 2003

Gambar 1. Susunan genom HCV dan protein yang bersangkutan. AA = asam amino,
C = nucleocapsid, E = envelop, NS = non-structural. Protein-protein virus
pada immunoassay generasi pertama ( C100-3 ), generasi kedua ( C200,
suatu protein gabungan dari C100-3 & C33c, dan C22-3 ), generasi ketiga (
C22-3, C200 atau C33c & C100-3, dan NS5 ), dan recombinant immunoblot
assay ( 5-1-1, C100-3, C33c, C22-3, NS5 ), masing-masing diperlihatkan di
bawah gen yang bersangkutan (Fauci, A S, et al., 1998).

ia tidak mengalami integrasi ke berbagai penelitian, simpanse


dalam genom hospes. adalah binatang percobaan yang
Genom virus bertindak sangat berharga. (Fauci, A. S., et
langsung sebagai mRNA untuk al., 1998 ).
translasi suatu poliprotein tung- Cara penularan HCV
gal yang besar, baru kemudian menyerupai HBV, tapi perban-
dipecah oleh protease virus dan dingan kelompok risikonya ber-
sel hospes. (Collier, L. et.al, beda, sebagian besar penderita
2000). Karena titer HCV yang infeksi HCV adalah penyalah-
beredar di dalam sirkulasi darah guna obat intravena. Penularan
amat rendah, partikel virus sulit seksual dan infeksi kongenital
ditemukan secara visual, se- tidak begitu penting, demikian
dangkan hasil replikasi HCV in pula peranan transfusi darah
vitro belum memberikan hasil atau penggunaan produknya,
yang meyakinkan, maka dalam karena sudah dapat dilakukan

8
Aspek Virologi Hepatitis C
Widura

skrining terhadap HCV. Selain ada, yang menandakan infeksi


itu, transplantasi organ juga da- aktif HCV yang berkepanjangan.
pat menularkan HCV. (Collier, (Brillanti, Stefano et al., 1992).
L. et.al, 2000). Oleh karena itu, keberadaan IgM
anti-HCV berhubungan dengan
Imunologi aktivitas dan keparahan infeksi
Pemeriksaan sikuens nu- HCV. (Quiroga, J.A. et al., 1991).
kleotida HCV berhasil mengi- Di lain pihak, walaupun
dentifikasi setidaknya 6 genoti- respons imun seluler tampaknya
pe yang berbeda, yang terdiri a- lebih menonjol, tapi proliferasi
tas tidak kurang dari 16 subtipe, aktif sel T helper dan T sitotok-
yaitu 1a, 1b, 1c, 2a, 2b, 2c, 3a, 3b, sik yang terjadi tetap tidak cu-
4a, 4b, 4c, 4d, 4e, 4f, 5a dan 6a, kup untuk mengatasi infeksi
sesuai dengan klasifikasi oleh maupun mencegah reinfeksi.
Simmonds pada tahun 1993 Oleh karena itu, respons imun
(Stuyver, L.; 1994). Genetic va- terhadap HCV adalah sangat ti-
riability HCV menyebabkan in- dak efisien, sehingga infeksi
feksinya cenderung persisten, akut HCV tidak menghasilkan
dan mutasi HVR1 ternyata ber- kekebalan, baik homolog mau-
kaitan dengan eksaserbasi hepa- pun heterolog, dan cenderung
titis (Brillanti, Stefano et a.l; persisten untuk jangka waktu
1992). Antibodi-antibodi terha- lama. (Collier, L., et al., 2000;
dap varian-varian baru molekul Fauci, A. S., et al., 1998)
RNA HCV akibat mutasi HVR1 Dalam keadaan biasa, ti-
terbentuk secara susul-menyu- dak ada virus hepatitis yang
sul, akhirnya terpilih varian bersifat sitopatik langsung ter-
RNA HCV yang dapat lolos dari hadap hepatosit. Banyak bukti
netralisasi oleh antibodi, sehing- menunjukkan bahwa berbagai
ga imunitas humoral menjadi ti- manifestasi klinis akibat keru-
dak efektif . (Kato, et al., 1993). sakan hepar oleh virus hepatitis
IgM anti-HCV merupa- ditentukan oleh respons imun
kan antibodi pertama yang di- hospes, terutama sel T sitotoksik
bentuk pada infeksi HCV akut, yang menimbulkan cell mediated
baik terhadap antigen strutural injury, sedangkan manifestasi
maupun nonstruktural, dan bia- ekstra-hepatiknya berhubungan
sanya akan hilang dengan sendi- dengan kerusakan jaringan aki-
rinya. (Quiroga, J.A. et al.,1991). bat aktivasi sistem komplemen
Sebaliknya pada infeksi mena- oleh kompleks imun. Di lain
hun, IgM anti-HCV akan tetap pihak, dengan molecular probe

9
JKM.
Vol.3, No.1, Juli 2003

RNA HCV yang sensitif, repli- ditemukan setelah satu tahun


kasi HCV juga dapat ditemukan atau lebih.
di dalam limfosit darah perifer Immunoassay generasi ke-
penderita infeksi HCV, akan te- dua menggabungkan protein re-
tapi, seperti halnya pada virus kombinan dari daerah nukleo-
hepatitis B (HBV), makna klinis kapsid/core, C22-3, dan daerah
infeksi limfosit oleh HCV belum NS3, C33c (diekspresikan bersa-
diketahui. (Fauci, A. S., et al., ma C100-3 sebagai C200), peme-
1998). riksaan ini lebih sensitif lebih
Beberapa genotipe HCV ku-rang 20%, dan dapat mende-
tersebar di seluruh dunia, se- teksi anti-HCV 30-90 hari lebih
dangkan genotipe tertentu ha- dini.
nya terbatas pada daerah terten- Immunoassay generasi ke-
tu saja. Masing-masing genotipe tiga, yang melibatkan protein
mempunyai patogenitas yang dari daerah NS5 dan menggu-
berbeda, dan responsnya terha- nakan peptida sintetik sebagai
dap pengobatan antiviral pun pengganti beberapa protein re-
bervariasi, genotipe 1b misal- kombinan, dapat mendeteksi
nya dilaporkan memberi res- anti-HCV lebih dini lagi.
pons yang paling buruk. Meski- Karena pemeriksaan anti-
pun demikian, dampak biologis HCV dalam klinis kurang spe-
perbedaan genotipe dan quasi- sifik, telah dikembangkan recom-
species belum sepenuhnya dapat binant immunoblot assay (RIBA)
dipastikan. (Fauci, A. S., et al., sebagai pelengkap. Hasil im-
1998) munoassay dipastikan oleh pe-
ngeraman strip nitroselulose
yang mengandung pita masing-
Diagnosis Virologi (Fauci, A. masing protein HCV sintetik a-
S., et al., 1998) tau rekombinan, sehingga terde-
Immunoassay yang perta- teksi antibodi terhadap protein
ma ditujukan untuk menemu- viral baik yang struktural mau-
kan antibodi terhadap C100-3, pun nonstruktural secara terpi-
suatu polipeptida rekombinan sah, dan hasil positif palsu yang
yang berasal dari daerah NS4 berhubungan dengan bahan bu-
genom. Pada sebagian besar kan virus dapat teridentifikasi.
penderita hepatitis C akut, anti- Pemeriksaan ini berguna untuk
bodi tersebut akan terdeteksi 1-3 mendukung validitas hasil posi-
bulan setelah onset hepatitis tif suatu sampel, terutama pada
akut, tapi kadang-kadang baru penderita dengan kemungkinan

10
Aspek Virologi Hepatitis C
Widura

infeksi yang rendah, misalnya alpha interferon. (Erlinger, S.


donor darah, atau penderita de- 1994)
ngan aktivitas sistem imun yang
tidak lazim di dalam serum, mi-
salnya adanya faktor rematoid, Kesimpulan
yang dapat memberikan hasil HCV adalah unik karena
positif palsu. genetic variability-nya, sehingga
Deteksi anti-HCV saja imunopatogenesisnya menjadi
ternyata tidak cukup untuk me- amat rumit, yang sampai seka-
nemukan semua kasus infeksi rang belum dapat dipahami se-
HCV. Indikator paling sensitif luruhnya. Ini semua membawa
kehadiran HCV ialah adanya dampak yang amat luas dalam
RNA HCV, yang memerlukan prediksi perjalanan penyakit,
amplifikasi molekuler dengan diagnosis, penatalaksanaan dan
Polymerase Chain Reaction (PCR), pencegahannya.
alternatifnya adalah branched-
chain complementary DNA hy-
bridization, yang lebih mudah di- Daftar Pustaka
lakukan secara otomatis, akan Brechot, C. 1994. Hepatitis C virus genetic
variability: clinical implications. In:
tetapi sensitivitasnya 2 tingkat Hepatitis C virus. GEMHEP. John
lebih rendah. RNA HCV dapat Libbey Eurotext. Paris. 1 - 15.
ditemukan hanya dalam bebe- Brillanti, Stefano et al. 1992. Significance of
IgM antibody to Hepatitis C virus in
rapa hari sesudah seseorang ter- patients with chronic hepatitis C.
infeksi HCV, jauh sebelum tim- Hepatology. 15: 998 - 1001. 1992.
bulnya anti-HCV, dan cende- Chemello, L, A Alberti, R Kenneth, and P
Simmonds. 1994. Hepatitis C
rung menetap selama berlang- serotype and response to interferon
sungnya infeksi HCV, tapi pada therapy. N Engl J Med. 330: 143.
Collier, L., J.Oxford and J.Pipkin.
penderita infeksi HCV mena-
2000.Human Virology. 2nd edition.
hun, kadang-kadang RNA HCV Oxford University Press. 169-171.
hanya dapat dideteksi secara Erlinger, S. 1994.Conclusion. In: Hepatitis C
virus. GEMHEP. John Libbey
intermiten. Eurotext. Paris. 107 - 109.
Penentuan genotipe dan Fauci, A S, E Braunwald, K J Isselbacher et
tingkat viremia kuantitatif al. 1998. Harrisons Principles of
Internal Medicine. 14th edition.
mungkin dapat digunakan seba- Volume 2. Mc Graw-Hill Health
gai indikator prognostik, teru- Professions Division. 1681-1682.
tama tingkat viremia, yang Kato, N, H Setiya, Y Ootsuyama et al.
1993. Humoral immune response to
mempunyai korelasi yang lebih hypervariable region 1 of the putative
baik dengan respons terhadap envelop glycoprotein (gp70) of
hepatitis C virus. J Virol 67: 3923 -
30.

11
JKM.
Vol.3, No.1, Juli 2003

Kurosaki, M. N Enomoto, F Marumo, C virus. GEMHEP. John Libbey


Sato. 1993. Rapid sequence variation Eurotext. Paris. 39 - 48.
of the hypervariable region of hepatitis Quiroga, JA et al. 1991. IgM antibody to
C virus during the course of chronic hepatitis C virus in acute and chronic
infection. Hepatology. 18: 1293 - 9. hepatitis C. Hepatology. 14: 38 - 43.
Stuyver, L. 1994. HCV genotypes and
genotyping methods. In: Hepatitis C

12
13