Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam peraturan jurusan Teknik Elektro dengan sub jurusan Teknik
Tenaga Listrik akademik Institut Teknologi Nasional. Mahasiswa yang
mengambil mata kuliah Trafo dan Mesin DC wajib mengikuti praktikum
Trafo dan Mesin DC. karena apabila kuliahnya lulus tetapi praktikumnya
tidak lulus, maka mata kuliah tersebut dianggap tidak lulus.
Sebagai salah satu syarat lulus praktikum adalah menyelesaikan laporan
dari setiap praktikum. Berdasarkan hal tersebut, penulis menulis sebuah
laporan praktikum Trafo dan Mesin DC tentang modul 1 yang berjudul
Transformator.
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak dapat secara langsung
menggunakan listrik dari PLN hal ini dikarenakan keluaran listrik dari PLN
sangat besar sehingga kita membutuhkan alat yang mampu menurunkandaya
listrik tersebut. Alat yang mampu menurunkan atau pun menaikkan tegangan
seringkali disebut transformator.
Transformator atau sering juga disebut trafo adalah komponen
elektronika pasif yang berfungsi untuk mengubah (menaikkan/menurunkan)
tegangangan listrik bolak-balik (AC). Bentuk dasar transformator adalah
sepasang ujung pada bagian primer dan sepasang ujung pada bagiansekunder.
Bagian primer dan skunder adalah merupakan lilitan kawat yangtidak
berhubungan secara elektris. Kedua lilitan kawat ini dililitkan padasebuah inti
yang dinamakan inti trafo. (Zuhal, Dasar Tena ga Listrik, ITB Bandung,
1991)
Berdasarkan pemaparan diatas mahasiswa melakukan praktikum
Transformator dan Mesin DC bertujuan agar mahasiswa dapat memahami apa
itu transformator, prinsip kerja transformator, karakteristik transformator dan
rangkaian ekivalen transformatorpada beban nol. Setelah praktikum ini
diharapkan mahasiswa dapat menmbah pengetahuan mahasiswa dalam energi
elektrik.

1
1.2 Tujuan
1. Mempelajari prinsip kerja trafo dan karakteristiknya.
2. Mengetahui rangkaian ekivalen transformator pada beban nol, hubung
singkat, hubung bintang, dan hubung delta.

1.3 Pembatasan Masalah


1. Prinsip kerja transformator
2. Karakteristik transformator
3. Rangkaian ekivalen transformator

1.4 Teknik Pengumpulan Data


Dalam penyusunan laporan praktikum Transformator dan Mesin DC ini
penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data, antara lain :
1. Metoda pustaka dan studi literature
Studi literatur adalah metoda yang dilakukan dengan membaca dan
mempelajari sumber-sumber yang berhubungan dengan topik yang penulis
sajikan dalam hal ini adalah modul Praktikum Trafo dan Mesin DC.
Institut Teknologi Nasional..
2. Metoda Pengujian
Pengujian di Laboratorium Teknik Energi Elektrik Institut Teknologi
Nasional Bandung.

1.5 Sistematika Pembahasan


BAB I : Pendahuluan

2
Menguraikan latar belakang masalah, tujuan , pembatasan
masalah, metoda pengambilan data dan sistematika pembahasan.
BAB II : Teori Dasar
Menguraikan teori tentang Transformator .
BAB III : Landasan Praktikum
Menguraikan alatalat, prosedur percobaan, data hasil
pengamatan ,dan pengolahan data
BAB IV : Analisa dan Tugas Akhir
Menguraikan tentang analisa dari hasil percobaan dan berisikan
tugas akhir dan jawaban yang di telah diberikan.
BAB V : Kesimpulan dan Saran
Berisikan kesimpulan mengenai hasil yang diperoleh dari
praktikum yang telah dilakukan.

3
BAB II
TEORI DASAR

2.1 Transformator
2.1.1 Pengertian Transformator
Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan dan
mengubah energi listrik dari suatu atau lebih ragkaian listrik ke
rangkaian listrik yang lain melalui suatu gandengan magnet dan
berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik.
Berdasarkan frekuensi trafo dibedakan menjadi :

1. Frekuensi Daya, 50 60 c/s.


2. Frekuensi Pendengaran, 50 c/s 20 kc/s.
3. Frekuensi Radio, diatas 30 kc/s.

Dalam bidang tenaga listrik pemakaian transformator dibedakan


menjadi :
1. Transformator Daya.
2. Transformator Distribusi.
3. Transformator pengukuran yang terdiri dari transformator arus dan
transformator tegangan.

Gambar 2.1 Prinsip kerja trafo


Keterangan :
V1 = Tegangan Jepit primer. Huruf kecil adala nilai
sesaat
V2 = Tegangan Jepit Skunder. Huruf besar adalah nilai
efektif

4
E1 = GGL Primer
E2 = GGL skunder
N = Jumlah Lilitan
= Fluksi

Kumparan primer dihubungkan dengan tegangan sumber V1 yang


berbentuk sinus (v1 = v1 sin t). Maka akan mengalirlah arus primer I o
yang juga sinusoida dan dengan menganggap belitan N1 reaktif murni,Io
akan tertingggal 90o dari V1.Arus primer Io menimbulkan fluks yang
sefasa dan juga berbentuk sinusoida,sehingga
= cos t.
d
Menurut hukum faraday secara umum : e = -N 10-8 Volt.
dt
Maka pada kumparan primer :
d d ( cost )
e = -N = -N = N1 sin t.
dt dt
GGL ini akan maksimum bila Sin t = 1, jadi e1 max = e1 = N1 =
N1 2f.
nilai max
Nilaiefektif =
2

N1 2f
Jadi E1 eff = = 4,44 N1 f Volt.
2

Dengan perhitungan yang sama pada kumparan sekunder didapatkan :


E2 = 4,44 N2 f Volt.
Sedangkan perbandingannya :
E1 N1
=
E2 N2

5
Rangkaian trafo ekivalen pada beban nol :

Gambar 2.2 Rangkaian ekivalen beban nol

Keterangan :
V1 = Tegangan jepit pada keadaan beban nol.
I1 = Io = Arus beban nol.
Ic = Arus rugi-rugi inti.
Ij = Arus magetisasi.
Rc = Tahanan karena adanya rugi-rugi inti.
Xm = Reaktansi yang menimbulkan fluksi utama.

Pada kaadaan beban nol arus yang mengalir pada kumparan


primer sama dengan arus beban nol, sedangkan arus yang mengalir
pada kumparan sekunder sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Arus
yang mengalir sangat kecil disebabkan oleh rangkaian yang terbuka,
dengan demikian daya yang msuk pada keadaan beban nol hanya cukup
untuk mengatasi rugi-rugi.
V 12
Rugi-rugi beban nol : Po =
Rc

6
Rangkaian ekivalen trafo hubung singkat :

Gambar 2.3 Rangkaian ekivalen hubung singkat

Keterangan :
V1 = Tegangan jepit pada kumparan.
I = Arus yang mengalir pada rangkaian hubungan singkat.
Re = Tahanan ekivalen pada keadaan hubungan singkat.
Xe = Reaktansi ekivalen pada keadaan hubungan singkat.
Pada keadaan hubung singkat arus yang mengalir pada rangkaian
magnetisasi sangat kecil dibandingkan rangkaian utama, sehingga arus
yang mengalir pada magnetisasi dapat diabaikan.
Rugi-rugi hubungan singkat (Phs) : Phs = I2 Re.

2.1.2 Prinsip Kerja Transformator


Prinsip kerja dari sebuah transformator adalah ketika kumparan
primer dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik, perubahan
arus listrik pada kumparan primer menimbulkan medan magnet yang
berubah. Medan magnet yang berubah diperkuat oleh adanya inti besi
dan dihantarkan inti besi ke kumparan sekunder, sehingga pada ujung-
ujung kumparan sekunder akan timbul ggl induksi. Efek ini dinamakan
induktansi timbal-balik (mutual inductance).

7
Gambar 2.4 Skema kumparan terhadap medan magnet

Gambar 2.5 Transformator

Gambar diatas memperlihatkan bentuk fisik dari transformator,


dimana tegangan masukan (V1) dihubungkan pada gulungan primer
(N1). Arus arus masukan (I1) mengakibatkan aliran fluk () pada
gulungan (N1) maupun gulungan (N2). Fluk pada gulungan sekunder
(N2) menyebabkan aliran arus (I2) dan tegangan (V2).

8
2.1.3 Bagian Bagian Transformator
A. Bagian utama transformator, terdiri dari:
1. Inti besi
Inti besi berfungsi untuk mempermudah jalan fluks, yang
ditimbulkan oleh arus listrik yang melalui kumparan. Dibuat dari
lempengan-lempengan besi tipis yang berisolasi, untuk mengurangi
panas (sebagai rugi-rugi besi) yang ditimbulkan oleharus pusar
atau arus eddy (eddy current).

Gambar 2.6 Inti besi pada trafo

2. Kumparan transformator
Beberapa lilitan kawat berisolasi membentuk suatu kumparan,
dan kumparan tersebut diisolasi, baik terhadap inti besi maupun
terhadap kumparan lain dengan menggunakan isolasi padat seperti
karton, pertinax dan lain-lain. Pada transformator terdapat
kumparan primer dan kumparan sekunder. Jika kumparan primer
dihubungkan dengan tegangan/arus bolak-balik maka pada

9
kumparan tersebut timbul fluks yang menimbulkan induksi
tegangan, bila pada rangkaian sekunder ditutup (rangkaian beban)
maka mengalir arus pada kumparan tersebut, sehingga kumparan
ini berfungsi sebagai alat transformasi tegangan dan arus.

3. Kumparan tertier
Fungsi kumparan tertier diperlukan adalah untuk memperoleh
tegangan tertier atau untuk kebutuhan lain. Untuk kedua keperluan
tersebut, kumparan tertier selalu dihubungkan delta atau segitiga.
Kumparan tertier sering digunakan juga untuk penyambungan
peralatan bantu seperti kondensator synchrone, kapasitor shunt dan
reactor shunt, namun demikian tidak semua transformator daya
mempunyai kumparan tertier.
4. Minyak transformator
Sebagian besar dari transformator tenaga memiliki kumparan-
kumparan yang intinya direndam dalam minyak transformator,
terutama pada transformator-transformator tenaga yang
berkapasitas besar, karena minyak transformator mempunyai sifat
sebagai media pemindah panas (disirkulasi) dan juga berfungsi
pula sebagai isolasi (memiliki daya tegangan tembus tinggi)
sehingga berfungsi sebagai media pendingin dan isolasi.

Gambar 2.7 Minyak trafo

10
5. Bushing
Hubungan
antara kumparan transformator ke jaringan luar melalui sebuah
bushing, yaitu sebuah konduktor yang diselubungi oleh isolator,
yang sekaligus berfungsi sebagai penyekat antara konduktor
tersebut dengan tangki transformator.

Gambar 2.8 Bushing pada trafo

6. Tangki dan konservator


Pada umumnya bagian-bagian dari transformator yang
terendam minyak transformator berada atau (ditempatkan) di
dalam tangki. Untuk menampung pemuaian pada minyak
transformator, pada tangki dilengkapi dengan sebuah konservator.

B. Bagian pembantu transformator, terdiri dari


1. Pendingin
Pada inti besi dan kumparan-kumparan akan timbul panas,
akibat rugi-rugi besi dan rugi-rugi tembaga. Bila panas tersebut
mengakibatkan kenaikan suhu yang berlebihan, akan merusak
isolasi (di dalam trafo), maka untuk mengurangi kenaikan suhu
yang berlebihan tersebut trafo perlu dilengkapi dengan alat/system
pendingin untuk menyalurkan panas keluar trafo. Media yang
dipakai pada system pendingin dapat berupa:udara/gas, minyak,

11
dan air.Sedangkan pengalirannya (sirkulasi) dapat dengan cara
alamiah (natural) atau tekanan/paksaan.
2. Tap changer
Merupakan alat pengubah perbandingan transformasi untuk
mendapatkan tegangan operasi sisi sekunder yang konstan/stabil
(diinginkan) dari tegangan jaringan/sisi primer yang berubah-ubah.
Tap changer dapat dilakukan baik dalam keadaan berbeban (on-
load) atau dalam keadaan tak berbeban (off load) tergantung pada
jenisnya.

3. Alat pernafasan
Akibat pengaruh naik turunnya beban transformator maupun
suhu udara luar, maka suhu minyak akan berubah-ubah mengikuti
keadaan tersebut. Bila suhu minyak tinggi, minyak akan memuai
dan mendesak udara di atas permukaan minyak keluar dari dalam
tangki, sebaliknya apabila suhu turun, minyak menyusut maka
udara luar akan masuk ke dalam tangki.
4. Pengaman
Rele Bucholz untuk mendeteksi dan mengamankan terhadap
gangguan di dalam trafo yang menimbulkan gas.

2.2 Jenis-Jenis Transformator


Berdasarkan fungsinya, diantaranya :
1. Step up
Transformator step-up adalah transformator yang memiliki lilitan
sekunder lebih banyak daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai
penaik tegangan.
2. Step down
Transformator step-down memiliki lilitan sekunder lebih sedikit
daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penurun tegangan.
Transformator jenis ini sangat mudah ditemui, terutama dalam adaptor
AC-DC.

12
3. Autotransformator
Transformator jenis ini hanya terdiri dari satu lilitan yang berlanjut
secara listrik, dengan sadapan tengah. Dalam transformator ini, sebagian
lilitan primer juga merupakan lilitan sekunder. Keuntungan dari
autotransformator adalah ukuran fisiknya yang kecil dan kerugian yang
lebih rendah daripada jenis dua lilitan. Tetapi transformator jenis ini tidak
dapat memberikan isolasi secara listrik antara lilitan primer dengan lilitan
sekunder. Selain itu, autotransformator tidak dapat digunakan sebagai
penaik tegangan lebih dari beberapa kali lipat (biasanya tidak lebih dari
1,5 kali).
4. Autotransformator variabel
Autotransformator variabel sebenarnya adalah autotransformator
biasa yang sadapan tengahnya bisa diubah-ubah, memberikan
perbandingan lilitan primer-sekunder yang berubah-ubah.
5. Transformator isolasi
Transformator isolasi memiliki lilitan sekunder yang berjumlah
sama dengan lilitan primer, sehingga tegangan sekunder sama dengan
tegangan primer. Tetapi pada beberapa desain, gulungan sekunder dibuat
sedikit lebih banyak untuk mengkompensasi kerugian. Transformator
seperti ini berfungsi sebagai isolasi antara dua kalang. Untuk penerapan
audio, transformator jenis ini telah banyak digantikan oleh kopling
kapasitor.
6. Transformator pulsa
Transformator pulsa adalah transformator yang didesain khusus
untuk memberikan keluaran gelombang pulsa. Transformator jenis ini
menggunakan material inti yang cepat jenuh sehingga setelah arus primer
mencapai titik tertentu, fluks magnet berhenti berubah. Karena GGL
induksi pada lilitan sekunder hanya terbentuk jika terjadi perubahan fluks
magnet, transformator hanya memberikan keluaran saat inti tidak jenuh,
yaitu saat arus pada lilitan primer berbalik arah.

13
7. Transformator tiga fasa

Transformator tiga fasa sebenarnya adalah tiga transformator yang


dihubungkan secara khusus satu sama lain. Lilitan primer biasanya
dihubungkan secara bintang (Y) dan lilitan sekunder dihubungkan secara
delta ().

8. Transfomator daya

Transformator daya adalah terminologi umum yang digunakan


untuk menunjuk pada transformator yang melengkapi sistem transmisi
pada gardu induk baik pada stasiun pembangkitan atau pada gardu-gardu

pembagi beban transmisi

Gambar 2.9 Transformator Daya

14
2.3 Rangkaian Ekivalen Transformator
Transformator dapat dimodelkan dengan rangkaian elektrik seperti di bawah :

Gambar 2.10 Rangkaian elektrik transformator

Disimplisikafi menjadi,

Gambar 2.11 Rangkaian elektrik transformator yang telah disederhanakan

15
Apabila tanpa beban menjadi,

Gambar 2.12 Rangkaian elektrik transformator tanpa beban

Keterangan gambar 2.6, gambar 2.7, dan gambar 2.8 :


Vp : tegangan sumber
I0 : arus sumber
Rp =Rs : tahanan ekivalen
Xe = Xs : reaktansi ekivalen
Rc : hambatan karena rugi-rugi inti
Ic : arus karena rugi-rugi inti
XM : reaktansi yang menimbulkan fluks
IM : arusfluks
EP : GGL primer
Es : GGL sekunder
Np : lilitan primer
Ns : lilitan sekunder
Is : arus output
Vs : tegangan output

16
2.4 Hubungan Antara Tegangan dan Lilitan
Hubungan antara tegangan primer, jumlah lilitan primer, tegangan
sekunder, dan jumlah lilitan sekunder, dapat dinyatakan dalam persamaan:

Keterangan:
Vp = tegangan primer (volt)
Vs = tegangan sekunder (volt)
Np = jumlah lilitan primer
Ns = jumlah lilitan sekunder

2.5 Penggunaan Transformator


Transformator digunakan secara luas, baik dalam bidang tenaga listrik
maupun elektronika. Penggunaan transformator dalam sistem tenaga
memungkinkan terpilihnya tegangan yang sesuai, dan ekonomis untuk tiap-
tiap keperluan misalnya kebutuhan akan tegangan tinggi dalam pengiriman
daya listrik jarak jauh. Dalam bidang elektronika, transformator digunakan
antara lain sebagai gandengan impedansi antara sumber dan beban; untuk
memisahkan satu rangkain dari rangkaian yang lain; dan untuk menghambat
arus searah melalukan atau mengalirkan arus bolak-balik.

2.6 Sistem Tiga Fasa


Pada sistem tenaga listrik 3 fase, idealnya daya listrik yang
dibangkitkan, disalurkan dan diserap oleh beban semuanya seimbang, P
pembangkitan = P pemakain, dan juga pada tegangan yang seimbang. Pada
tegangan yang seimbang terdiri dari tegangan 1 fase yang mempunyai
magnitude dan frekuensi yang sama tetapi antara 1 fase dengan yang lainnya
mempunyai beda fase sebesar 120listrik, sedangkan secara fisik mempunyai
perbedaan sebesar 60, dan dapat dihubungkan secara bintang (Y, wye) atau
segitiga (delta, , D).

17
Gambar 2.13 Sistem 3 fasa

Gambar 1 menunjukkan fasor diagram dari tegangan fase. Bila fasor-fasor


tegangan tersebut berputar dengan kecepatan sudut dan dengan arah
berlawanan jarum jam (arah positif), maka nilai maksimum positif dari fase
terjadi berturut-turut untuk fase V1, V2 dan V3. sistem 3 fase ini dikenal
sebagai sistem yang mempunyai urutan fasa a b c . sistem tegangan 3 fase
dibangkitkanoleh generator sinkron 3 fase.

1. Hubungan Bintang (Y, wye)

Gambar 2.14 Hubungan Bintang (Y, wye).

Pada hubungan bintang (Y, wye), ujung-ujung tiap fase


dihubungkan menjadi satu dan menjadi titik netral atau titik bintang.

18
Tegangan antara dua terminal dari tiga terminal a b c mempunyai besar
magnitude dan beda fasa yang berbeda dengan tegangan tiap terminal
terhadapa titik netral. Tegangan Va, Vb dan Vc disebut tegangan fase.
Dengan adanya saluran / titik netral maka besaran tegangan fase
dihitung terhadap saluran / titik netralnya, juga membentuk sistem
tegangan 3 fase yang seimbang dengan magnitudenya (akar 3 dikali
magnitude dari tegangan fase).

Vline = akar 3 Vfase = 1,73Vfase


Sedangkan untuk arus yang mengalir pada semua fase mempunyai nilai
yang sama,
ILine = Ifase
Ia = Ib = Ic

19
2. Hubungan Segitiga

Gambar 2.15 Hubungan Segitiga (delta, , D).

Pada hubungan segitiga (delta, , D) ketiga fase saling


dihubungkan sehingga membentuk hubungan segitiga 3 fase.

Dengan tidak adanya titik netral, maka besarnya tegangan saluran dihitung
antar fase, karena tegangan saluran dan tegangan fasa mempunyai besar
magnitude yang sama, maka:

Vline=Vfase

Tetapi arus saluran dan arus fasa tidak sama dan hubungan antara kedua
arus tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan hukum kirchoff,
sehingga:

Iline = akar 3 Ifase = 1,73Ifase

20
BAB III
LANDASAN PRAKTIKUM

3.1 Alat Alat Yang Digunakan


1. Rangkaian Panel ( 1 buah )
2. Variac ( 1 buah )
3. Wattmeter AC ( 1 buah )
4. Voltmeter AC ( 1 buah )
5. Amperemeter AC ( 1 buah )
6. Jumper ( secukupnya)
7. Trafo 1 phasa ( 1 buah )
8. Trafo 3 phasa ( 1 buah )

3.2 Prosedur Percobaan


3.2.1 Percobaan Beban Nol

Gambar 3.1 Rangkaian percobaan beban nol

1. Menyiapkan alat alat yang akan digunakan.


2. Mengatur dan mengalibrasi Wattmeter AC.
3. Merangkai rangkaian seperti rangkaian pada gambar 3.1
4. Memastikan rangkaian sudah terangkai dengan benar (tanya
asisten).
5. Menaikkan CB pada rangkaian panel.
6. Mencatat hasil pengukuran (tegangan, daya, dan arus) yang
ditunjukkan oleh alat ukur.
7. Menurunkan CB pada rangkaian panel.
8. Menggambar wiring percobaan.
9. Membereskan kembali rangkaian dan rapihkan meja praktikum

3.2.2 Percobaan Hubung Singkat

21
Ga
mbar 3.2 Rangkaian percobaan hubung singkat

1. Menyiapkan alat alat yang akan digunakan.


2. Mengatur dan mengalibrasi Wattmeter AC.
3. Merangkai rangkaian seperti rangkaian pada gambar 3.2
4. Memastikan rangkaian sudah terangkai dengan benar (tanya
asisten).
5. Menaikkan CB pada rangkaian panel.
6. Menaikkan tegangan pada variac secara perlahan, hingga arus
terhitung <10 Ampere.
7. Mencatat hasil pengukuran (tegangan dan arus) yang
ditunjukkan oleh alat ukur.
8. Menurunkan tegangan pada variac sampai nol.
9. Menurunkan CB pada rangkaian panel.
10. Menggambar wiring percobaan.
11. Membereskan kembali rangkaian dan rapihkan meja praktikum

3.2.3 Percobaan Hubung Hambatan Dalam

Gambar 3.3 Rangkaian percobaan hubung hambatan dalam

22
1. Menyiapkan alat alat yang akan digunakan.
2. Mengatur dan mengalibrasi Wattmeter AC.
3. Merangkai rangkaian seperti rangkaian pada gambar 3.3
4. Memastikan rangkaian sudah terangkai dengan benar (tanya
asisten).
5. Menaikkan CB pada rangkaian panel.
6. Menaikkan tegangan pada variac secara perlahan, hingga
tegangan arus terhitung 4V AC
7. Mencatat hasil pengukuran (tegangan dan arus) yang
ditunjukkan oleh alat ukur.
8. Menurunkan tegangan pada variac sampai nol.
9. Menurunkan CB pada rangkaian panel.
10. Menggambar wiring percobaan.
11. Membereskan kembali rangkaian dan rapihkan meja praktikum

3.2.4 Percobaan Hubung Bintang 300 Watt

Gamb
ar 3.4 Rangkaian percobaan hubung bintang 300 watt

23
Gambar 3.5 Rangkaian percobaan hubung bintang 600 watt

1. Menyiapkan alat alat yang akan digunakan.


2. Mengatur dan mengalibrasi Wattmeter AC.
3. Merangkai rangkaian seperti rangkaian pada gambar 3.4
dengan beban 300 watt dihubung bintang.
4. Memastikan rangkaian sudah terangkai dengan benar (tanya
asisten).
5. Menaikkan CB pada rangkaian panel.
6. Menaikkan kontaktor pada rangkaian panel.
7. Mencatat hasil pengukuran (tegangan, daya, dan arus) yang
ditunjukkan oleh alat ukur.
8. Menurunkan kontaktor pada rangkaian panel.
9. Menurunkan CB pada rangkaian panel.
10. Menggambar wiring percobaan.
11. Melakukan kembali langkah 512, dengan beban 600 watt
hubung bintang seperti gambar 3.5
12. Membereskan kembali rangkaian dan rapihkan meja praktikum

3.2.5 Percobaan Hubung Delta 300 Watt

Gambar 3.6 Rangkaian percobaan hubung delta 300 watt

24
Gambar 3.7 Rangkaian percobaan hubung delta 600 watt

1. Menyiapkan alat alat yang akan digunakan.


2. Mengatur dan mengalibrasi Wattmeter AC.
3. Merangkai rangkaian seperti rangkaian pada gambar 3.6 dengan
beban 300 watt dihubung delta.
4. Memastikan rangkaian sudah terangkai dengan benar (tanya
asisten).
5. Menaikkan CB pada rangkaian panel.
6. Menaikkan kontaktor pada rangkaian panel.
7. Mencatat hasil pengukuran (tegangan, daya, dan arus) yang
ditunjukkan oleh alat ukur.
8. Menurunkan kontaktor pada rangkaian panel.
9. Menurunkan CB pada rangkaian panel.
10. Menggambar wiring percobaan.
11. Melakukan kembali langkah 512, dengan beban 300 watt
hubung dihubung delta seperti gambar 3.7.
12. Membereskan kembali rangkaian dan rapihkan meja praktikum

3.3 Data dan Hasil Percobaan


Tabel 3.1 Tabel Hasil Pengamatan

PERCOBAAN P ( Watt ) V ( Volt ) I ( Ampere ) BEBAN


Beban nol (open circuit) 22 102,7 0 Tanpa beban
Hubung singkat (short circuit) 34 5,11 9,5 Tanpa beban
Tahanan dalam 34 1,538 3,1 Tanpa beban
Hubung bintang (Y) 300W 34 115 0,3 Menyala terang

25
Hubung bintang (Y) 600W 25 117,6 0,21 Menyala redup
Hubung delta () 300W 84 117 0,73 Menyala sangat terang
Menyala redup tapi
lebih terang dari
Hubung delta () 600W 57 117.7 0,5
hubung bintang beban
600 watt

3.4 Pengolahan Data


3.5.1 Percobaan beban nol (open circuit)

3.5.2 Percobaan hubung singkat (short circuit)

5,11 x 9,5 x 0,7 = 33,98 watt

26
3.5.3 Percobaan tahanan dalam

1,538 x 3,7 x 5,97 = 33,97 watt

27
3.5.4 Percobaan transformator tiga phasa

28
29
4

30
BAB IV
TUGAS AKHIR DAN ANALISA

4.1 Tugas Akhir


1. Sebutkan macam-macam trafo dan jelaskan berdasarkan fungsi dan
kapasitas!
Jawab :
Berdasarkan fungsinya, diantaranya :
1.1 Step up
Transformator step-up adalah transformator yang memiliki lilitan
sekunder lebih banyak daripada lilitan primer, sehingga berfungsi
sebagai penaik tegangan.
1.2 Step down
Transformator step-down memiliki lilitan sekunder lebih sedikit
daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penurun tegangan.
Transformator jenis ini sangat mudah ditemui, terutama dalam adaptor
AC-DC.
1.3 Autotransformator
Transformator jenis ini hanya terdiri dari satu lilitan yang
berlanjut secara listrik, dengan sadapan tengah. Dalam transformator
ini, sebagian lilitan primer juga merupakan lilitan sekunder.
Keuntungan dari autotransformator adalah ukuran fisiknya yang kecil
dan kerugian yang lebih rendah daripada jenis dua lilitan. Tetapi
transformator jenis ini tidak dapat memberikan isolasi secara listrik
antara lilitan primer dengan lilitan sekunder. Selain itu,
autotransformator tidak dapat digunakan sebagai penaik tegangan
lebih dari beberapa kali lipat (biasanya tidak lebih dari 1,5 kali).
1.4 Autotransformator variabel
Autotransformator variabel sebenarnya adalah autotransformator
biasa yang sadapan tengahnya bisa diubah-ubah, memberikan
perbandingan lilitan primer-sekunder yang berubah-ubah.

31
1.5 Transformator isolasi
Transformator isolasi memiliki lilitan sekunder yang berjumlah
sama dengan lilitan primer, sehingga tegangan sekunder sama dengan
tegangan primer. Tetapi pada beberapa desain, gulungan sekunder
dibuat sedikit lebih banyak untuk mengkompensasi kerugian.
Transformator seperti ini berfungsi sebagai isolasi antara dua kalang.
Untuk penerapan audio, transformator jenis ini telah banyak
digantikan oleh kopling kapasitor.
1.6 Transformator pulsa
Transformator pulsa adalah transformator yang didesain khusus
untuk memberikan keluaran gelombang pulsa. Transformator jenis ini
menggunakan material inti yang cepat jenuh sehingga setelah arus
primer mencapai titik tertentu, fluks magnet berhenti berubah. Karena
GGL induksi pada lilitan sekunder hanya terbentuk jika terjadi
perubahan fluks magnet, transformator hanya memberikan keluaran
saat inti tidak jenuh, yaitu saat arus pada lilitan primer berbalik arah.
1.7 Transformator tiga fasa
Transformator tiga fasa sebenarnya adalah tiga transformator
yang dihubungkan secara khusus satu sama lain. Lilitan primer
biasanya dihubungkan secara bintang (Y) dan lilitan sekunder
dihubungkan secara delta ().

32
1.8 Transfomator daya
Transformator daya adalah terminologi umum yang digunakan
untuk menunjuk pada transformator yang melengkapi sistem transmisi
pada gardu induk baik pada stasiun pembangkitan atau pada gardu-
gardu pembagi beban transmisi

Gambar 4.1 Transformator Daya

2. Buktikan bahwa P = 3 PY!


Jawab :
........................................................................ (1)

....................................................................... (2)

Persamaan disubstitusikan oleh persamaan 1 dan 2, sehingga :

3. Hitung semua parameter dari masing-masing percobaan!


Jawab :
3.1 Percobaan beban nol (open circuit)

33
3.2 Percobaan hubung singkat (short circuit)

5,11 x 9,5 x 0,7 = 33,98 watt

3.3 Percobaan tahanan dalam

34
1,538 x 3,7 x 5,97 = 33,97 watt

3.4 Percobaan transformator tiga phasa

35
2

36
4

37
4. Jelaskan secara bertahap semua percobaan
Jawab :
4.1 Percobaan Beban Nol
1. Menyiapkan alat alat yang akan digunakan.
2. Mengatur dan mengalibrasi Wattmeter AC.
3. Merangkai rangkaian seperti rangkaian pada gambar 3.1
4. Memastikan rangkaian sudah terangkai dengan benar (tanya
asisten).
5. Menaikkan CB pada rangkaian panel.
6. Mencatat hasil pengukuran (tegangan, daya, dan arus) yang
ditunjukkan oleh alat ukur.
7. Menurunkan CB pada rangkaian panel.
8. Menggambar wiring percobaan.
9. Membereskan kembali rangkaian dan rapihkan meja praktikum

4.2 Percobaan Hubung Singkat


1. Menyiapkan alat alat yang akan digunakan.
2. Mengatur dan mengalibrasi Wattmeter AC.
3. Merangkai rangkaian seperti rangkaian pada gambar 3.2
4. Memastikan rangkaian sudah terangkai dengan benar (tanya
asisten).
5. Menaikkan CB pada rangkaian panel.
6. Menaikkan tegangan pada variac secara perlahan, hingga arus
terhitung <10 Ampere.
7. Mencatat hasil pengukuran (tegangan dan arus) yang ditunjukkan
oleh alat ukur.
8. Menurunkan tegangan pada variac sampai nol.
9. Menurunkan CB pada rangkaian panel.
10. Menggambar wiring percobaan.
11. Membereskan kembali rangkaian dan rapihkan meja praktikum

4.3 Percobaan Hambatan Dalam


1. Menyiapkan alat alat yang akan digunakan.
2. Mengatur dan mengalibrasi Wattmeter AC.
3. Merangkai rangkaian seperti rangkaian pada gambar 3.3
4. Memastikan rangkaian sudah terangkai dengan benar (tanya
asisten).
5. Menaikkan CB pada rangkaian panel.

38
6. Menaikkan tegangan pada variac secara perlahan, hingga tegangan
arus terhitung 4 VA
7. Mencatat hasil pengukuran (tegangan dan arus) yang ditunjukkan
oleh alat ukur.
8. Menurunkan tegangan pada variac sampai nol.
9. Menurunkan CB pada rangkaian panel.
10. Menggambar wiring percobaan.
11. Membereskan kembali rangkaian dan rapihkan meja praktikum

4.4 Percobaan Hubung Bintang


1. Menyiapkan alat alat yang akan digunakan.
2. Mengatur dan mengalibrasi Wattmeter AC.
3. Merangkai rangkaian seperti rangkaian pada gambar 3.4 dengan
beban 300 watt dihubung bintang.
4. Memastikan rangkaian sudah terangkai dengan benar (tanya
asisten).
5. Menaikkan CB pada rangkaian panel.
6. Menaikkan kontaktor pada rangkaian panel.
7. Mencatat hasil pengukuran (tegangan, daya, dan arus) yang
ditunjukkan oleh alat ukur.
8. Menurunkan kontaktor pada rangkaian panel.
9. Menurunkan CB pada rangkaian panel.
10. Menggambar wiring percobaan.
11. Melakukan kembali langkah 512, dengan beban 600 watt hubung
bintang seperti gambar 3.5
12. Membereskan kembali rangkaian dan rapihkan meja praktikum

4.5 Percobaan Hubung Delta


1. Menyiapkan alat alat yang akan digunakan.
2. Mengatur dan mengalibrasi Wattmeter AC.
3. Merangkai rangkaian seperti rangkaian pada gambar 3.6 dengan
beban 300 watt dihubung delta.
4. Memastikan rangkaian sudah terangkai dengan benar (tanya
asisten).
5. Menaikkan CB pada rangkaian panel.
6. Menaikkan kontaktor pada rangkaian panel.
7. Mencatat hasil pengukuran (tegangan, daya, dan arus) yang
ditunjukkan oleh alat ukur.
8. Menurunkan kontaktor pada rangkaian panel.
9. Menurunkan CB pada rangkaian panel.
10. Menggambar wiring percobaan.
11. Melakukan kembali langkah 512, dengan beban 600 watt hubung
dihubung delta seperti gambar 3.7.

39
12. Membereskan kembali rangkaian dan rapihkan meja praktikum

4.2 Analisa
a) Pada percobaan tanpa beban, arus yang di hasilkan yaitu nol. Hal ini
disebabkan karna rangkaian dalam keadaan open circuit (tanpa beban).
Keadaan beban nol arus yang mengalir pada kumparan primer sama
dengan arus beban nol, sedangkan arus yang mengalir pada kumparan
sekunder sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Karena alat ukur yang
digunakan tidak mampu mengukur arus tersebut maka dapat diasumsikan
arus yang menuju beban sama dengan nol.
b) Untuk percobaan hubung singkat :
Pada pengukuran P = 34 watt
Pada perhitungan P = 5,11 x 9,5 x 07 = 33,98 watt
Hasil dari pengukuran dan perhitungan hampir sam

Hubung bintang (Y) 300W 34 W 115 V 0,3 A Menyala terang


Hubung bintang (Y) 600W 25W 117,6 V 0,21 A Menyala redup
Hubung delta () 300W 84W 117 V 0,73 A Menyala sangat terang
Menyala redup tapi lebih
Hubung delta () 600W 57W 117.7 V 0,5 A terang dari hubung bintang
beban 600 watt

Dari data di atas, terdapat perbandingan antara cahaya lampu yang di


hasilkan dari hubung bintang dan delta. Pada percobaan hubung bintang
untuk daya lampu 300 watt keterangan menyala terang. Pada percobaan
hubungan bintang untuk daya lampu 600 watt keterangan menyala redup.
Sedangkan pada percobaan hubung delta dengan daya lampu 300 watt
keterangan menyala sangat terang. Untuk hubung delta dengan daya lampu
600 watt keterangan menyala redup tapi lebih terang dari hubung bintang

40
beban 600 watt. Jadi kesimpulannya pada hubung delta 300 watt lampu
menyala sangat terang. Hal ini disebabkan karena arus yang mengalir pada
percobaan hubung delta lebih besar dibandingkan arus pada hubung
bintang. Karena besar arus pada hubung delta 3 kali lebih besar dari arus
pada percobaan hubung bintang. I = 3IY
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
a) Pada percobaan tiga fasa hubung bintang dan delta, dapat di simpulkan
bahwa pada hubung delta cahaya lampu yang di hasilkan sangat terang
dari hubung bintang. Tetapi daya masukan yang di hasilkan juga cukup
besar.
b) Pada pratikum modul tranformator ini dapat disimpulkan bahwa pada
praktikum ini membahas prinsip kerja dari transformator , jenis jenis
transformator , fungsi dari transformator dan karakteristiknya. Membahas
juga bagaimana rangkaian ekivalen dari transformator pada beban nol
maupun rangkaian ekivalen pada hubung singkat. Pada pembebanan trafo
3 fasa , menggunakan trafo dengan hubung bintang dan hubung delta.
c) Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat mengubah dan
menyalurkan energi listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke
rangkaian ke rangkaian listrik yang lain melalui suatu gandengan megnet
dan berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik tanpa merubah frekuensi
yang ada.
d) Transformator terdiri atas dua buah kumparan ( primer dan sekunder )
yang bersifat induktif. Kedua kumparan ini terpisah secara elektrik namun
berhubungan secara magnetis melalui jalur yang memiliki reluktansi (
reluctance ) rendah. Apabila kumparan primer dihubungkan dengan
sumber tegangan bolak-balik maka fluks bolak-balik akan muncul di
dalam inti yang dilaminasi, karena kumparan tersebut membentuk jaringan
tertutup maka mengalirlah arus primer.
e) Akibat adanya fluks di kumparan primer maka di kumparan primer terjadi
induksi sendiri ( self induction ) dan terjadi pula induksi di kumparan

41
sekunder karena pengaruh induksi dari kumparan primer atau disebut
sebagai induksi bersama ( mutual induction ) yang menyebabkan
timbulnya fluks magnet di kumparan sekunder, maka mengalirlah arus
sekunder jika rangkaian sekunder di bebani, sehingga energi listrik dapat
ditransfer keseluruhan (secara magnetisasi )
5.2 Saran
Untuk mendapatkan hasil yang akurat dalam praktikum modul
Transformator ini maka gunakan peralatan praktikum yang memadai dan
langsung siap pakai sehingga bisa mempercepat proses praktikum yang ada.
Untuk pada saat melakukan perangkaian pada saat melalakukan percobaan ,
usahakan lah untuk selalu dibawah pengawasan asisten untuk menghindari
kesalahan dan terjadinya hubug singay pada kit praktikum.

42
DAFTAR PUSTAKA

Tim asisten.2016.Modul Praktikum Transformator dan Mesin Arus


Searah.Laboratorium teknik energi elektrik Itenas:Bandung.

Chapman, Stephen J.2004.Electric Machinery Fundamentals (4th edition).USA

43
LAMPIRAN
Wiring Percobaan Beban Nol
Wiring Percobaan Hubung Singkat
Wiring Percobaan Tahanan Dalam
Wiring Percobaan Hubung Bintang 300 Watt
Wiring Percobaan Hubung Bintang 600 Watt
Wiring Percobaan Hubung Delta 300 Watt
Wiring Percobaan Hubung Delta 600 Watt
Rangkaian Percobaan Hubung Singkat

Rangkaian Percobaan Tahanan Dalam


Rangakain Percobaan Beban Nol