Anda di halaman 1dari 21

VARIASI INTRA POPULASI

Oleh :
Nama : Nurul Jamiah
NIM : B1J014122
Rombongan : VII
Kelompok : 3
Asisten : Gina Amalia

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN I

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Taksonomi klasik adalah suatu pengelompokan hewan berdasarkan sifat-sifat


makro yang menarik, selanjutnya dicari persamaan dan perbedaannya, lalu
dikelompokkan dan diberi nama berdasarkan aturan internasional yang telah
disepakati. Sifat-sifat yang digunakan merupakan hasil penemuan dari pengalaman-
pengalaman sebelumnya serta trial and error yang terakumulasi selama bertahun-
tahun. Jadi, taksonomi klasik adalah pengelompokan hewan ke dalam taksa tertentu
berdasarkan hubungan sifat morfologi (Suranto, 2000).
Sekumpulan makhluk hidup dari spesies yang sama yang hidup pada suatu
waktu dan kawasan tertentu serta saling berinteraksi membentuk populasi. Oleh
karena berasal dari spesies yang sama, maka individu di dalam populasi mempunyai
potensi melakukan kawin silang yang akan menghasilkan keturunan yang fertil
(mampu bereproduksi). Suatu populasi dapat dikenal dengan adanya ciri-ciri, yaitu
memiliki kesamaan morfologi, memiliki kesamaan fungsi fisiologi, dapat melakukan
perkawinan silang dan dapat menghasilkan keturunan yang fertil (Syamsuri et al,
2007).
Variasi intra populasi yaitu perbedaan-perbedaan yang terdapat pada hewan-
hewan dalam suatu populasi. Variasi di alam dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu
faktor genetik dan faktor non genetik. Faktor genetik yaitu faktor yang
mempengaruhi variasi spesies dikarenakan oleh peristiwa pewarisan sifat dari tetua
ke keturunannya, yaitu melalui faktor pembawa keturunan (DNA). Faktor non
genetik yaitu faktor yang mempengaruhi variasi spesies dalam populasi dikarenakan
faktor selain genetik, yaitu seperti dikarenakan variasi umur, variasi musiman pada
suatu individu, variasi sosial, variasi habitat (Inger & Iskandar, 2005).

B. Tujuan

Tujuan praktikum acara kali ini adalah :


1. Mengenali berbagai variasi (umur, seksual, musiman, polimorfisme, dan
sebagainya) pada suatu populasi hewan.
2. Menentukan spesies hewan berdasarkan berbagai variasi yang terdapat pada
suatu populasi hewan.
3. Dapat menggunakan software aplikasi komputer dalam penelitian tentang variasi
intra dan inter populasi.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Variasi intra populasi adalah keanekaragaman baik bersifat morfologi maupun


genetik yang dimiliki oleh suatu spesies dalam satu populasi, sedangkan variasi inter
populasi adalah keanekaragaman karakter yang terdapat pada individu-individu antar
populasi yang satu dengan populasi lain (Hickman, 1992). Variasi yang terdapat di
alam dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor genetik dan faktor non genetik.
Faktor genetik yaitu faktor yang mempengaruhi variasi spesies dikarenakan oleh
peristiwa pewarisan sifat dari tetua ke keturunannya, yaitu melalui faktor pembawa
keturunan (DNA). Faktor non genetik yaitu faktor yang mempengaruhi variasi
spesies dalam populasi dikarenakan faktor selain genetik (Inger & Iskandar, 2005).
Macam-macam faktor non-genetik menurut Hickman (1992), diantaranya sebagai
berikut:
1. Variasi individu berdasarkan waktu yaitu variasi yang terjadi pada tahapan-
tahapan proses perkembangan spesies hewan, yang berbeda secara morfologi
dengan dewasanya. Contohnya yaitu udang Pennaeus, bentuk zoea, nauplius,
dan juvenile-nya berbeda dengan yang dewasanya.
2. Variasi sosial, variasi ini terdapat pada hewan yang hidup secara berkoloni.
Contohnya adalah rayap yang hidup secara berkoloni akan menunjukkan adanya
kasta di antaranya pekerja, tentara, dan ratu (reproduktif) yang memiliki
perbedaan morfologi.
3. Variasi karena kepadatan. Hewan tertentu akan memperlihatkan perbedaan
morfologi berdasarkan kepadatannya. Contohnya adalah belalang yang hidup
berkoloni akan memperlihatkan morfologi yang berbeda berdasarkan tiga fase
berbeda yaitu bersifat soliter (jika jarang), bersifat transisi (jika agak padat), dan
bersifat koloni (jika padat).
4. Variasi allometrik (heterogenik), suatu jenis ikan akan menunjukkan adanya
perbedaan sifat tumbuh yaitu allometrik dengan pertambahan panjangnya lebih
cepat daripada bobotnya atau pertambahan bobotnya lebih cepat daripada
pertambahan panjangnya.
5. Variasi musim. Ikan Nila jantan dalam keadaan normal sirip dorsal dan
kaudalnya tidak berwarna, dan pada musim pemijahan kedua sirip itu akan
berwarna merah cerah. Aves yang dalam keadaan normal warna bulunya tidak
cerah, pada musim kawin warnanya cerah.
6. Variasi neurogenik, yaitu variasi yang muncul karena adanya respon terhadap
kondisi lingkungan, yang berupa penyebaran dan berkumpulnya kromatofora
(pigmen warna pada hewan). Contohnya pada Bunglon.
7. Variasi traumatik. Variasi ini pada umumnya terjadi karena hewan terinduksi
suatu parasit. Contohnya Stylopirosi andrena. Jantan akan memperlihatkan
perubahan bulu yang bertambah panjang, ukuran panjang antenna berubah dan
ukuran genitalia tereduksi. Betina akan memperlihatkan perubahan pada organ
pengumpul nektarnya tereduksi, panjang segmen antenna berubah, dan organ
aksesori tereduksi.
8. Variasi habitat, Bivalvia tertentu yang hidup di daerah hulu dan hilir di suatu
sungai akan menunjukkan perbedaan morfologi cangkangnya. Kondisi ini
merupakan variasi lokal.
Variasi genetik yaitu suatu variasi yang terjadi karena berkaitan dengan
genotip. Variasi genetik di antaranya yaitu:
1. Seksual dimorfisme, yaitu perbedaan kelamin primer maupun kelamin sekunder
pada suatu individu dan terdapat pada individu yang berbeda. Contohnya pada
jangkrik.
2. Gynandromorfi, Individu yang memperlihatkan karakter jantan pada satu bagian
tubuhnya dan karakter betina pada bagian tubuh yang lain (kupu-kupu, lobster,
kepiting).
3. Interseks, Individu yang memperlihatkan karakter campuran antara karakter
jantan dan betina. Hasil dari susunan yang seimbang antara gen yang membawa
kecenderungan jantan dan kecenderungan betina.
4. Generasi yang berbeda secara reproduktif (strain seksual dan uniparental).
5. Ordinary genetic variation.
a. Variasi diskontinyu (polimorfisme).
b. Variasi kontinyu.
Seksual dimorfisme seksual dikenal secara luas di Kingdom Animalia. Banyak
studi konvensional telah melakukan upaya untuk menggunakan sebuah analisis
metrik dengan linier pengukuran untuk menunjukkan atau untuk menyediakan
hipotesis tentang adaptif morfologi perbedaan antara seks yang signifikansi, teknik
geometris morfometrik berdasarkan penggunaan landmark atau kontur untuk
menghasilkan beberapa variabel yang dapat digunakan untuk menguji variasi dalam
bentuk tubuh yang ditunjukkan oleh kelompok yang berbeda, seperti spesies,
populasi atau jenis kelamin (Trevisan et al., 2012).
Mekanisme isolasi yang mencegah spesies berkerabatan dekat dan menghuni
daerah geografi yang sama untuk kawin antara satu dengan yang lain, dinamakan
spesies simpatrik untuk membedakan dengan spesies allopatrik, yaitu spesies
berkerabat dekat yang hidup di daerah geografi yang berbeda. Spesies simpatrik
lazim terdapat, contoh pada katak benggala (bullfrog), katak hijau, katak pohon dan
katak totol yang semuanya termasuk genus Rana dapat ditemukan dalam atau dekat
kolam yang sama. Hewan ini atau hewan simpatrik lain dicegah melakukan
perkawinan oleh banyak mekanisme isolasi reproduksi (Wodsedalck, 1970).
Spesiasi Alopatrik merupakan spesiasi melalui isolasi geografik, misalnya
melalui fragmentasi habitat dan migrasi. Seleksi di bawah kondisi demikian dapat
menghasilkan perubahan yang sangat cepat pada penampilan dan perilaku organisme,
karena seleksi dan hanyutan bekerja secara bebas pada populasi yang terisolasi,
pemisahan pada akhirnya akan menghasilkan organisme yang tidak akan dapat
berkawin campur. Spesiasi allopatrik terjadi karena adanya penghalang fisik seperti
sungai, gunung dan letak geografis. Penghalang ini memisahkan sebuah populasi
dari populasi induknya, yang berarti memotong aliran gen antara kedua pupulasi
tersebut. Terisolasinya mereka membentuk sejumlah perbedaan genetik, termasuk
penghalang reproduksi yang membedakannya dari populasi induknya. Contoh dari
spesiasi allopatrik ini adalah hasil evolusi dari populasi burung kutilang (finches) di
Kepulauan Galapagos yang terpisah dari populasi induknya di Benua Amerika
bagian selatan (Suranto, 2000).
Preparat yang pada praktikum variasi intra populasi adalah Katak (Fejervarya
cancrivora), Kadal (Eutropis multifasciata), Ikan Mas Koki (Carassius auratus
auratus), Hamster (Phodopus sp.), Burung Hantu (Tyto alba), Jangkrik (Gryllus sp.),
Cacing (Pheretima sp.), dan Bintang Laut (Luidia sp.). Katak (Fejervarya
cancrivora) dan Bintang Laut (Luidia sp.) merupakan conto dari variasi umur. kan
Mas Koki (Carassius auratus auratus) merupakan contoh dari variasi genetik
polimorfisme. Kadal (Eutropis multifasciata) dan Jangkrik (Gryllus sp.). Hamster
(Phodopus sp.) merupakan contoh dari spesies sibling, sedangkan Cacing (Pheretima
sp.) merupakan contoh dari inteseks. Burung Hantu (Tyto alba) merupakan contoh
dari variasi ekologi. Sesungguhnya populasi dari kebanyakan hewan terdiri atas
beberapa phena yan berbeda, sebagai hasil beberapa proses seperti variasi umur
variasi seksual, variasi musiman, polimorfisme dan sebagainya. Kegagalan mengenai
variasi ini akan berakibat pada kesalahan dalam penentuan suatu spesies dan kategori
tertentu. Pemahaman mengenai variasi yang terjadi pada populasi hewan sangat
penting dalam taksonomi (Darbohoesodo, 1976).
Variasi genetik menggambarkan adanya keragaman pada satu spesies. Adanya
keragaman terlihat dari karakteristik ikan, baik dari dalam (genotipe) maupun dari
uar (fenotipe). Bila dilihat secara genotipe, variasi genetikyang terdapat pada ikan
hasil persilangan memiliki variasi yang berbeda-beda. Untuk mengetahui
kekerabatannya antara individu satu dengan individu lainnya, maka dilakukan
pendekatan molekuler yaitu dengan metode RAPD (Randomly Amplified
Polymorphic DNA) (Muharam et al., 2012).
Satu taraf rendah dengan variasi genetik adalah meragukan untuk adaptasi
selanjutnya mengubah ke lingkungan alam. Pembahasan dengan keanekaragaman
genetik pada jangkauan asli adalah relevan untuk perencanaan dari aksi konservasi
untuk amankan pemeliharaan dari jenis jangka panjang variabilitas dan kelangsungan
hidup. Keanekaragaman genetik penting ke survival jangka panjang dengan variasi
genetik dipikirkan untuk menyusut berduajangka pendek dan daya penyesuaian
jangka panjang dari populasi di variabel dan perubahan lingkungan alam. Haplotype
adalah sekuens panjang nenek moyang DNA yang hidup selama beberapa generasi
dan bisa merujuk pada leluhur seseorang (Ranjan, 2009).
Arlequin 3.5 merupakan sebuah software yang dapat menganalisis sebuah data
genetika populasi dengan berbagai metode dasar dan uji statistik. Arlequin
merupakan terjemahan kata Arlecchino dari bahasa Francis yang merupakan
karakter orang Italia yang terkenal yaitu Commedia dellArte. Kemampuan
polimorfik disimbolkan melalui kostumnya dalam berbagai warna yang menjadi
desain ikon Arlequin.Arlequin 3.5 dapat menganalisis dan menyimpulkan informasi
genetik dan berbagai aspek demografi dari koleksi sampel populasi (Excoffier et al.,
2005).
DnaSP merupakan program computer interaktif yang digunakan untuk
menganalisis polimorfisme DNA dari data untaian nuleotida. Program ini dapat
menghitung beberapa ukuran variasi untai DNA dalam dan antara populasi
(noncoding) pada daerah yang sama maupun tidak, aliran gen, konversi gen,
rekombinasi dan parameter linkage disequilibrium. Selain itu, dapat melakukan test
Fu and Li's, Hudson, Kreitman and Aguad's, McDonald and Kreitman, and Tajima.
Software DnaSP sangat bermanfaat untuk peneliti yang ingin menganalisis
polimerfisme untai DNA baik secara intrapopulasi maupun interpopulasi (Kreitman,
1983).

BAB III. MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat yang digunakan antara lain adalah bak preparat, pinset, kamera, laporan
sementara, dan alat tulis.
Materi yang diamati adalah spesimen pada setiap tahapan hidup Katak
(Fejervarya cancrivora), Kadal (Eutropis multifasciata), Ikan Mas Koki (Carassius
auratus auratus), Hamster (Phodopus sp.), Burung Hantu (Tyto alba), Jangkrik
(Gryllus sp.), Cacing (Pheretima sp.), dan Bintang Laut (Luidia sp.).

B. Metode

Metode yang dilakukan dalam praktikum kali ini adalah:


1. Tahapan hidup katak digambar, didefinisikan jenis variasi yang terjadi.
2. Kadal, Jangkrik jantan dan betina digambar, organ reproduksinya, serta
didefinisikan jenis variasi yang terjadi.
3. Polimorfisme Ikan Mas Koki diamati dan dibandingkan morfologinya.
4. Hamster diamati dan dibandingkan morfologinya.
5. Burung Hantu, Cacing, dan Bintang Laut dideskripsikan jenis variasinya.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Tabel 4.1 Pengamatan Variasi Intra Populasi Hewan

Nama lokal : Katak Sawah


Nama ilmiah : Fejervarya cancrivora
Jenis variasi : Umur

Nama lokal : Kadal dan Jangkrik


Nama ilmiah : Eutropis multifasciata dan Gryllus sp.
Jenis variasi : Seksual dimorfisme

Nama lokal : Cacing


Nama ilmiah : Pheretima sp.
Jenis variasi : Interseks
Nama lokal : Bintang Laut
Nama ilmiah : Luidia sp.
Jenis variasi : Umur

Nama lokal : Burung Hantu


Nama ilmiah : Tyto alba
Jenis variasi : Ekologi

Nama lokal : Hamster


Nama ilmiah : Phodopus sp.
Jenis variasi : Spesies sibling
Nama lokal : Ikan Mas Koki tipe Rancu
Nama ilmiah : Carrasius auratus auratus
Jenis variasi : Polimorfisme

Nama lokal : Ikan Mas Koki tipe Komet


Nama ilmiah : Carrasius auratus auratus
Jenis variasi : Polimorfisme
Nama lokal : Ikan Mas Koki tipe Lowo
Nama ilmiah : Carrasius auratus auratus
Jenis variasi : Polimorfisme

Nama lokal : Ikan Mas Koki tipe Mutiara


Nama ilmiah : Carrasius auratus auratus
Jenis variasi : Polimorfisme

Nama lokal : Ikan Mas Koki tipe Panser


Nama ilmiah : Carrasius auratus auratus
Jenis variasi : Polimorfisme
Nama lokal : Lebah madu
Nama ilmiah : Apis sp.
Jenis variasi : Sosial

Nama lokal : Kumbang Tanduk


Nama ilmiah : Oryctes rhinoceros
Jenis variasi : Alometrik

Nama lokal : Kepik


Nama ilmiah : Coccinella arcuata
Jenis variasi : Polimorfisme

Tabel Deskripsi Karakter Morfologi Ikan Mas Koki


No. Jenis Ikan Deskripsi Karakter
1 Lowo Ikan Mas Koki jenis Lowo memiliki bentuk kepala
membulat, bentuk tubuh membulat dengan bentuk mata
yang menonjol, memiliki sirip caudal ganda, dan sirip anal
tunggal.
2 Panser Ikan Mas Koki jenis Panser memiliki bentuk kepala
membulat, bentuk tubuh membulat dengan bentuk mata rata,
jumlah sirip caudal dan sirip anal ganda.
3 Komet Ikan Mas Koki jenis Komet memiliki bentuk kepala
memanjang, bentuk tubuh memanjang dengan bentuk mata
rata, jumlah sirip caudal dan sirip anal tunggal.
4 Mutiara Ikan Mas Koki jenis Mutiara memiliki bentuk kepala
membulat, bentuk tubuh membulat dengan bentuk mata rata,
jumlah sirip caudal dan sirip anal ganda.
5 Rancu Ikan Mas Koki jenis Rancu memiliki bentuk kepala
membulat, bentuk tubuh membulat dengan bentuk mata rata,
jumlah sirip caudal ganda dan tidak memiliki sirip dorsal

Tabel Perbedaan Karakter Morfologi Ikan Mas Koki

Jenis Ikan
No Karakter
Rancu Lowo Panser Komet Mutiara
Compresse
1. Bentuk tubuh Bulat Bulat Bulat Bulat
d
Tidak Tidak
2 Wen Ada Tidak ada Tidak ada
ada ada
3. Bentuk mata Rata Menonjol Rata Rata Rata
Tidak
4. Sirip lengkap Lengkap Lengkap Lengkap Lengkap
lengkap
5. Sirip Caudal Ganda Ganda Ganda Tunggal Ganda
B. Pembahasan

Variasi pada populasi hewan jangkrik dapat terjadi karena adanya seksual
dimorfisme seperti perbedaan morfologi pada jantan dan betina. Jangkrik jantan
memiliki hemipenis dan tubuhnya lebih kecil dari jangkrik betina, dan organ khusus
yang hanya dimiliki oleh jangkrik betina adalah ovipositor. Jangkrik merupakan
hewan yang masuk kedalam variasi genetik, variasi pada populasi hewan kadal dapat
terjadi karena adanya seksual dimorfisme seperti perbedaan sek primer dan sek
sekunder yang dimilikinya.
Selain jangkrik, hewan lain yang memiliki variasi seksual dimorfisme adalah
kadal (Eutropis multifasciata). Kadal biasa hidup di daerah tanah basah atau lembab.
Tubuh kadal terbagi menjadi tiga bagian yaitu kepala yang terdiri dari mata, lubang
hidung dan telinga. Kadal merupakan organisme reptil yang berjalan dengan melata,
memiliki dua pasang kaki dan biasanya dapat ditemukan pada daerah pesawahan
ataupun di area perkebunan. Tubuh kadal tertutupi oleh kulit yang kering dengan
sisik-sisik zat tanduk dipermukaannya tanpa danya kelenjar-kelenjar lendir. Warna
pada kadal dapat berbeda-beda berdasarkan lingkungan atau umur kadal itu sendiri.
Cacing (Pheretima sp.) merupakan salah satu contoh dari variasi interseks.
Cacing memiliki organ kelamin jantan dan betina dalam organism namun tidak
berkembang dengan baik. Kepik termasuk ke dalam variasi polimorfisme. Satu
spesies bisa mempunyai bermacam-macam jenis pola warna elytra atau sayap
luarnya. Ada yang berwarna merah, bintik, orange banyak bintik, dan hitam bintik
merah. Kumbang tanduk memiliki variasi alometrik, karena pada kumbang tanduk
jantan memiliki tanduk lebih panjang dari betina. Dalam satu spesies, organ pada
jenis kelamin yang berbeda memiliki ukuran yang berbeda. Variasi ini terjadi karena
perbedaan barrier.
Spesies sibling ada pada Hamster (Phodopus sp.), karena spesies ini memiliki
morfologi yang sangat mirip dengan spesies lain, fenetiknya sama namun
molekulernya berbeda. Tyto alba atau Burung Hantu termasuk dalam variasi ekologi,
karena beda persebarannya, beda struktur tubuhnya. Burung hantu adalah kelompok
burung yang merupakan anggota ordo Strigiformes. Burung ini termasuk golongan
burung buas (karnivora, pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal).
Seluruhnya, terdapat sekitar 222 spesies yang telah diketahui, yang menyebar di
seluruh dunia kecuali Antartika, sebagian besar Greenland, dan beberapa pulau-pulau
terpencil. Kebanyakan jenis burung hantu berburu di malam hari, meski sebagiannya
berburu ketika hari remang-remang di waktu subuh dan sore (krepuskular) dan ada
pula beberapa yang berburu di siang hari. Mata yang menghadap ke depan,
memungkinkan mengukur jarak dengan tepat, paruh yang kuat dan tajam, kaki yang
cekatan dan mampu mencengkeram dengan kuat dan kemampuan terbang tanpa
berisik, merupakan modal dasar bagi kemampuan berburu dalam gelapnya malam.
Beberapa jenis bahkan dapat memperkirakan jarak dan posisi mangsa dalam
kegelapan total, hanya berdasarkan indera pendengaran dibantu oleh bulu-bulu
wajahnya untuk mengarahkan suara. Burung hantu berburu aneka binatang seperti
serangga, kodok, tikus dan lain-lain.
Katak dewasa apabila diamati dengan teliti, akan terlihat jelas adanya
keragaman variasi antara spesies yang satu dengan yang lainnya katakmempunyai
badan yang lebar dilengkapi dengan dua pasang anggota gerak. Anggota gerak
bagian depan lebih pendek dan kecil, serta mempunyai 4 jari, sedangkan bagian
belakang jauh lebih besar dan panjang, sesuai dengan fungsinya yaitu untuk
melompat. Anggota gerak ini biasanya juga dilengkapi dengan selaput renang untuk
memudahkan katak berenang.
Lebah madu merupakan hewan yang berasal dari phylum Arthropoda. Lebah
madu merupakan spesies yang mengalami variasi non genetik yaitu variasi social.
Lebah madu dibagi menjadi 3 spesifikasi antara lain lebah pekerja, lebah jantan dan
lebah ratu (betina). Masing-masing lebah memiliki peran yang berbeda, seperti lebah
pekerja yang berperan dalam mengumpulkan makanan dan membangun sarang
lebah, tetapi lebah pekerja ini tidak bisa berperan untuk mengawinkan lebah ratu
(betina). Kemudian, lebah jantan perannya hanya 1 yaitu hidupnya hanya untuk
mengawinkan lebah ratu, jika lebah jantan ini tidak kawin atau tidak bisa
menghasilkan keturunan maka lebah pekerja akan membunuh lebah jantan ini.
Selanjutnya, lebah ratu berperan dalam menjaga frekuensi spesies dalam populasi
disekitarnya. Jika dilihat berdasarkan morfologi dari masing-masing lebah, lebah
pekerja memiliki tubuh yang paling pendek dari lebah jantan dan lebah ratu,
sedangkan thorax pada lebah jantan lebih tebal daripada lebah pekerja dan lebah ratu.
Tetapi lebah ratu memiliki abdomen yang paling panjang daripada lebih pekerja dan
lebah jantan.
Secara umum, ikan mas koki memiliki bentuk badan pendek dan gemuk
dengan sirip lengkap. Ikan mas koki biasa hidup di perairan air tawar beriklim sejuk.
Ikan mas koki termasuk ke dalam variasi polimorfisme dikarenakan tidak dapat
dibedakan antara ikan mas koki jantan dan betina.
Ikan mas koki memiliki banyak varietas, diantaranya :
1. Lowo
Ikan mas koki lowo memiliki bentuk kepala membulat. Bentuk tubuh membulat;
wrana tubuh hitam. Mata menonjol. Sirip caudal terbagi dua; sirip dorsal besar.
2. Panser
Ikan mas koki panser memiliki bentuk kepala membulat. Bentuk tubuh
membulat; warna tubuh orange. Mata tidak menonjol. Sirip caudal terbagi dua;
sirip dorsal besar. Memiliki ween.
3. Komet
Ikan mas koki komet memiliki bentuk kepala memanjang. Bentuk tubuh
memanjang; warna tubuh merah, putih. Mata tidak menonjol. Sirip caudal cagak;
sirip dorsal besar.
4. Mutiara
Ikan mas koki mutiara memiliki bentuk kepala membulat. Bentuk tubuh
membulat; warna tubuh orange, putih, hitam. Mata tidak menonjol. Sirip caudal
terbagi dua; sirip dorsal kecil.
5. Rancu
Ikan Mas Koki jenis Rancu memiliki bentuk kepala membulat, bentuk tubuh
membulat dengan bentuk mata rata, jumlah sirip caudal ganda dan tidak
memiliki sirip dorsal
Variasi berikutnya merupakan variasi umur. Metamorfosis pada Amphibi
merupakan variasi umur yang ada pada spesies katak. Pengertian metamorfosis
sendiri adalah perkembangan yang merubah secara keseluruhan bentuk, fisiologis
maupun biokimiawi individu, sedangkan pada beberapa insekta, metamorfosis hanya
bersifat melengkapi bentuk larva dengan perlengkapan-perlengkapan untuk menjadi
bentuk dewasanya. Perubahan-perubahan metamorfik benar-benar merubah seluruh
jaringan dan organ. Variasi umur yang terjadi pada katak (Fejervarya cancrivora)
yaitu variasi yang tergantung dari umur hewan itu sendiri dan tiap-tiap umur
memiliki ciri-ciri khas tersendiri. Bintang Laut juga memiliki variasi umur. Telur
yang telah dibuahi akan menjadi bipinnaria kemudian berubah menjadi larva
brichiolaria, kemudian berubah menjadi larva berbentuk bilateral simetris, akhirnya
bermetamorfosis lengkap menetap ke bawah dan tumbuh menjadi dewasa.
Langkah-langkah dalam menjalankan software Arlequin 3.5 yaitu pertama, data
sekuens sekuens DNA disiapkan terlebih dahulu. Setelah software arlequin dibuka,
mulai dengan menu project baru, masukan DNA type kedalamnya. Data sekuens
DNA di set menjadi sampel dan dibedakan menjadi haplotype list dan struktur
genetik selanjutnya disimpan dengan format .arp, kemudian buat project baru yang
ada di tab Arlequin. Salin sekuens DNA yang ada di notepad dengan memblok file
halotype, pilih nama taxa yang diinginkan dan data sekuens.Salin halotypes kedalam
berkas project arlequin yang akan digunakan. Format sampel yang akan digunakan
berdasarkan tempat, kemudian disimpan dan digunakan untuk mencari
keanekaragaman molekular, buka kembali arlequin, dan mulai project baru. Masukan
data awal yang sudah dibuat untuk dikalkulasikan, untuk keanekaragaman index
didapatkan hasi keanekaragaman molekuler dan untuk struktur genetika dapat
diketahui hasil tabel amova dan perbandingan populasi, kemudian akan di dapatkan
hasil yang diinginkan.
Sampel populasi yang digunakan diambil dari kondisi geografis yang berbeda.
Distribusi haplotypes tersebar juga pada lokasi yang berbeda sehingga terjadi
keanekaragaman yang ikut dipengaruhi ukuran sampel yang berbeda dan
haplotypenya. Standar diversity indices dipengaruhi oleh nomor sekuens, DNA copy,
nomor lokus, dan tingkat polimorfismenya. Keanekaragaman molekular dipengaruhi
oleh ukuran sampel dan komposisi nukleotida yang terkandung. Haplotype adalah
sekuens panjang nenek moyang DNA yang hidup selama beberapa generasi dan bisa
merujuk pada leluhur seseorang.
Berdasarkan hasil analisis software pada abel AMOVA, persentase variasi
tingkat populasi sebesar 63,16%. Persentase variasi antar populasi dalam suatu
kelompok sebesar 12,81% dan presentase variasi antar kelompok sebesar 24,03%.
Nilai fixation indices yaitu FSC sebesar 0,16864, FST sebesar 0,36845 dan FCT
sebesar 0,24034. Dan significance indices yang memiliki nilai yaitu Va dan FCT
dengan P-Value sebesar 0,05181+ 0,00705. Hal ini dapat disimpulkan bahwa variasi
dalam suatu populasi (intra populasi) memiliki nilai variasi yang tinggi dibandingkan
parameter yang lain.

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada acara variasi intra populasi dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Penyebab terjadinya variasi terdapat 2 macam yaitu variasi genetic dan non
genetic. Variasi genetic salah satunya adalah seksual dimorfisme dan
polimorfisme. Variasi non genetic salah satunya adalah variasi umur dan variasi
sosial.
2. Variasi umur terjadi pada katak (Fejervarya cancrivora) dan Bintang Laut
(Luidia sp.). Variasi polimorfisme terjadi pada ikan mas koki (Carassius auratus
auratus). Variasi seksual dimorfisme terjadi pada kadal (Eutropis multifasciata)
dan jangkrik (Gryllus sp.), dan variasi sosial terjadi pada lebah (Apis sp.). Kepik
termasuk ke dalam variasi polimorfisme, sedangkan Kumbang Taman termasuk
ke dalam variasi alometrik, Cacing (Pheretima sp.) merupakan salah satu contoh
dari variasi interseks. Spesies sibling ada pada Hamster (Phodopus sp.) dan
Burung Hantu (Tyto alba) contoh dari variasi ekologi.
3. Software Arlequin 3.5 merupakan program computer yang dapat memberikan
analisis dan kesimpulan dari sampel informasi genetic pada berbagai variasi
demografi. DnaSP merupakan program komputer yang menganalisis
polimorfisme pada untai DNA baik intra maupun interpopulasi.

B. Saran

Saran untuk praktikum kali ini yakni diharapkan pada preparat awetan yang
digunakan dalam kondisi yang baik sehingga mudah untuk diidentifikasi.
Managemen waktu lebih diperhatikan agar praktikum dapat selesai tepat waktu.
DAFTAR REFERENSI

Darbohoesodo, R.B .1976. Penuntun Praktikum Taxonomi Avertebrata. Purwokerto:


Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman.

Excoffier, L. G. Laval, and S. Schneider. 2005. Arlequin ver. 3.0: An integrated


software package for population genetics data analysis. Evolutionary
Bioinformatics Online, 1, pp. 47-50.

Hickman, C. P. 1992. Biology of Animal. Mosay Company: Saint Louis.

Inger, R.F. & Iskandar, J. T. 2005. A Collection of Amphibians From West Sumatra
With Description of A New Species of Megrophys (Amphibia: Anura). The
Raffles Bulletin Zoology, 53(1), pp. 133-142.

Kreitman, M. 1983. Nucleotide Polymorphism at the Alcohol Dehydrogenaselocus of


Drosophila melanogaster.Nature, 304, pp. 412-417.

Muharam, E.G., Buwono, D.I. & Mulyadi, Y. 2012. Analisis Kekerabatan Ikan Mas
Koi (Cyprinuscarpio koi) dan Ikan Mas Majalaya (Cyprinuscarpio carpio)
Menggunakan Metode RAPD. Jurnal perikanan dan kelautan, 3(3), pp. 15-23.

Ranjan, G. R., Prasad, D. S, and Aparajita, S. 2009. Studies on Inter and intra-
population variability of Pongamia pinnata: a bioenergy legume tree. Crop
Breeding and Applied Biotechnology, 9, pp. 268-273.

Syamsuri, I., H. Suwono, Ibrohim, Sulisetijono, I. W. Sumberartha, & E. Rahayu.


2007. Biologi Jilid 1A untuk SMA Kelas X, Semester 1. Jakarta: Erlangga.

Suranto. 2000. Application of Modern Experimental Technique to Solve


Morphological Complexity in Taxonomy. Biodiversitas, 1(2), pp. 80-84.

Trevisan, A., Marochi, M.Z., Costa, M., Santos, S. & Masunari, S. 2012. Sexual
dimorphism in Aegla marginata (Decapoda: Anomura). Nauplius, 20(1), pp.
75-86.

Wodsedalck, J. E. 1970. General Zoology. USA: W M C Brown Company


Publishers.