Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ternak kambing atau domba atau sering disebut juga ternak ruminansia kecil
merupakan ternak yang sangat populer di kalangan petani di Indonesia terutama yang
berdomisili di areal pertanian atau perkebunan. Selain lebih mudah dipelihara, cepat
berkembang biak, dapat memanfaatkan limbah dan hasil ikutan pertanian, ternak
kambing/domba juga memiliki pasar yang selalu tersedia setiap saat dan hanya
memerlukan modal yang relatif sedikit bila dibandingkan ternak yang lebih besar
seperti ternak sapi. Pengelolaan usaha ternak kambing atau domba dapat dilaksanakan
secara optimal maka akan lebih memberikan manfaat yang nyata dalam
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bagi petani peternak. Laju pertumbuhan
domba ditentukan oleh beberapa faktor antara lain potensi pertumbuhan dari masing-
masing individu ternak dan pakan yang tersedia (Cole, 1982). Ternak yang didukung
dengan ketersediaan sumber daya alam yang mendukung dan memadai sebagai
sumber pakan yang akan mempengaruhi kualitas ternak.

Kualitas suatu ternak dipengaruhi oleh kualitas bahan pakan, lingkungan, dan
genetiknya. Suatu bahan pakan yang berkualitas baik akan menghasilkan ternak yang
berkualitas baik pula. Bahan pakan dikatakan berkualitas baik apabila memenuhi
nutrient yang dibutuhkan oleh hewan yang meliputi karbohidrat, protein, asam
amino,lemak, vitamin, mineral, dan air. Pakan berkualitas adalah pakan yang
kandungan protein, lemak, karbohidrat, mineral dan vitaminnya seimbang
(Tiana,2004). Selain itu kualitas bahan pakan dicerminkan dari nilai kecernaan bahan
pakan tersebut. Bahan pakan yang baik mempunyai kecernaan yang tinggi sehingga
banyak zat nutrisi yang dapat diserap oleh tubuh dan sedikit yang dikeluarkan dari
tubuh melalui feses. Untuk mengukur tingkat kecernaan suatu bakan pakan
dibutuhkan hewan ternak sebagai hewan percobaan, metode ini disebut metode In
Vivo. Zat makanan yang dicerna adalah zat makanan yang tertinggal di dalam alat
pencernaan , dan dapat dihitung sebagai selisih zat makanan yang dimakan atau
dikonsumsi dengan nutrient yang keluar lewat feses. Banyak sedikitnya zat makanan
yang dicerna dipengaruhi juga oleh banyaknya pakan yang dikonsumsi.

Banyaknya pakan yang dikonsumsi berbading lurus dengan daya suka ternak
terhadap pakan tersebut. Semakin tinggi nilai konversi pakan berarti pakan yang
digunakan untuk menaikkan bobot badan persatuan berat semakin banyak atau
efisiensi pakan rendah (Siregar, 1994). Pengetahuan daya suka ternak sangat
dibutuhkan dalam mengkaji pola pemberian ransum makanan pada makhluk hidup
termasuk domba, karena pakan memiliki peran yang sangat penting baik dalam
produksi maupun pertumbuhannya. Semakin tinggi palatabilitas pakan maka akan
semakin banyak juga pakan yang dikonsumsi, dan semakin tinggi kesempatan untuk
meningkatkan produksinya.

Palatabilitas adalah derajat kesukaan pada makanan tertentu yang terpilih dan
dimakan. Pengertian palatabilitas berbeda dengan konsumsi. Palatabilitas melibatkan
indera penciuman, perabaan dan perasa. Semakin tinggi palatabilitas pakan maka
akan semakin banyak juga pakan yang dikonsumsi, dan semakin tinggi kesempatan
untuk meningkatkan produksinya. Kebanyakan hewan memiliki preferensi menyukai
makanan tertentu, terutama jika memiliki kesempatan memilih. Untuk mengetahui
seberapa besar tingkat palatabilitas pada domba, biasanya peternak memberikan
pakan berupa rumput yang telah dicampuri dengan berbagai macam larutan, seperti
larutan garam, cuka, dan gula agar domba bisa memilih rasa mana yang paling
disukai. Dari pencampuran tersebut maka peternak dapat mengetahui jenis rasa yang
paling disukai oleh domba dengan cara membandingkan banyak rumput yang
dihabiskannya.

Tujuan

Praktikum bertujuan mengetahui tingkat kesukaan ternak ruminansia (domba)


terhadap rasa asam, manis, dan asin.
TINJUAN PUSTAKA
Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang
berproduksi), mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan
kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok. Sejalan dengan pertumbuhan,
perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya, konsumsi pakannya
pun akan meningkat pula. Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak ruminansia
sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi
ternak itu sendiri). Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan
sebagai akibat dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan
yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar, asin,
manis, pahit), tekstur dan temperaturnya. Hal inilah yang menumbuhkan daya tarik
dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya. Ternak ruminansia lebih menyukai
pakan rasa manis dan hambar daripada asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai
rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih
tinggi (IPTEK 2005).
Konsumsi merupakan faktor dasar untuk hidupdan menentukan produksi,
beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi adalah hewan ternak yang
dipelihara (Rahman 2008). Selain itu penginderaan penglihatan, penciuman, perabaan
dan perasa memiliki peran yang penting dalam menstimulasi selera ternak,
mempengaruhi jumlah makanan yang dicerna dan palatabilitas ternak. Pada hewan
penginderaan memiliki peran yang lebih kecil dari pada manusia, sehingga ternak
peliharaan memperlihatkan prilaku mengendus (sniffing) makanan (Soejono 1990).
Bagian zat makanan yang tidak diekskresikan dalam feses atau dengan asumsi bahwa
zat makanan dalam feses habis dicerna dan diserap tubuh disebut kecernaan atau daya
cerna (digestibility). Beberapa metode dapat dilakukan untuk mengukur kecernaan
suatu bahan pakan, yaitu in vitro, in sacco dan in vivo. Teknik evaluasi pakan secara
in vivo seringkali digunakan untuk alternatif terkhir karena pertimbangan biaya,
waktu dan tenaga karena teknik ini menggunakan sejumlah ternak sehingga banyak
biaya dan tenaga yang diperlukan untuk pengumpulan parameter dan pemeliharaan
ternak. Keuntungan dari teknik ini adalah memiliki tingkat akurasi lebih baik
dibanding teknik lain karena sifat aplikatifnya secara langsing pada ternak (Suparjo
2008).
Pengukuran kecernaan pada ternak secara langsung tidak akan lebas dari
konsumsi pakan, dan kondisi fisiologis ternak yang sangat ditentukan oleh
ketersediaan dan kemampuan ternak untuk mengkonsumsi pakan. Pengukuran tingkat
kecernaan secara in vivo dapat diterapkan untuk berbagai hewan ternak terutama
ruminansia seperti domba atau sapi. Pengukuran konsumsi dan tingkat kecernaan
umumnya dilakukan daam dua periode yaitu periode pendahuluan, periode
pengumpulan data. Selain itu, tahap lainnya adalah periode pngadaptasian. Metode
pengadaptasian ini dilakukan untuk mengadaptasikan ternak dengan kondisi kandang,
pakan dan perlengkapan lain untuk penelitian. Periode pendahuluan dilakukan untuk
menghilangkan pengaruh pakan sebelumnya, membiasakan bahan pakan yang
dicobakan, serta memperkecil keragaman konsumsi ternak yang dilakukan dengan
mencatat konsumsi pakan dan feses ternak. Periode pengumpulan data, parameter
yang digunakan adalah jumlah pemberian pakan, sisa pakan dan feses atau urin yang
dikeluarkan (Suparjo 2008).
Pengukuran kecernaan in vivo dilakukan dengan dua cara, yaitu cara langsung
dan cara tidak langsung. Teknik pengukuran secara langsung merupakan metode
konvensional dengan menggunakan kandang metabolis serta semua pakan dan feses
dikumpulkan untuk dianalisis. Teknik pengukuran secara tidak langsung lebih
sederhana, karena feses dikumpulkan tetapi hanya diambil sampelnya saja. Teknik ini
iasanya dilakukan untuk ternak yang digembalakan dengan pengukuran konsumsinya
dihitung dengan menduga feses yang dikeluarkan oleh setiap ternak dengan
menggunakan perunut. Kriteria ternak yang digunakan dalam pengukuran kecernaan
harus mempunyai breed, ukuran atau berat, kondisi, jenis kelamin dan umur yang
sama (Soejono 1990).
MATERI DAN METODE

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu wadah, timbangan, gunting.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah rumput, gula, garam, dan cuka.
Prosedur
Rumput yang digunakan dalamp pengamatan ini dipotong-potong agar ternak
mudah untuk mengkonsumsinya. Sebelum rumput ditimbang, tempat wadah rumput
ditimbang untuk mengetahui bobot bersih rumput . Selanjutnya rumput ditimbang
sebanyak 500 gram dalm wadah.. Perlakuan yang akan diberikan adalah rumput
normal, rumput dengan campuran air gula, rumput dengan campuran air garam, dan
rumput dengan campuran air cuka. Masing-masing perlakuan ditakar volumenya dan
dicampur dengan air mineral 200 ml. Kemudian rumput dicampur dengan perlakuan
yang akan diberikan hingga rata. Untuk rumput normal, tidak perlu ditambahkan
apapun agar didapatkan rasa yang hambar dan juga berfungsi sebagai indikator
kontrol.
Setiap perlakuan diberikan untuk satu ekor domba yang seudah ditimbang
sebelumnya. Pakan yang diberikan pada domba diamati dan dicatat jenis pakan yang
pertama kali dimakan. Domba dibiarkan selama tiga puluh menit agar domba
mengkonsumsinya. Setelah tiga puluh menit, rumput yang tersisa ditimbang. Sisa
rumput yang ada dicatat untuk menyimpulkan ke tiga jenis pakan terhadap daya suka
domba.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Pengukuran daya suka ternak terhadap domba dengan pencampuran rasa asin,
manis, dan asam. Pengukuran yang bertujuan bertujuan mengetahui tingkat kesukaan
ternak ruminansia (domba) terhadap rasa asam, manis, dan asin. Didapatkan hasil
sebagai berikut :

Tabel 1 Hasil konsumsi pakan

KONSUMSI (%)
KELOMPOK
PERLAKUAAN 1 2 3 4 5 6 7 RATA- STANDART
RATA DEVIASI

NETRAL 83,8 11 69,5 73,6 39,8 68,4 75,6 60,2 25,7


MANIS 67,2 38 73,4 90 69,5 52,3 68,8 65,6 16,4
ASIN 91,7 17,4 62,4 23,7 41,2 49,7 34,6 45,8 25,3
ASAM 81,1 19,5 15,4 0,4 58,3 42,4 78,9 42,3 31,8
Pembahasan

Konsumsi merupakan faktor dasar untuk hidupdan menentukan produksi,


beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi adalah hewan ternak yang
dipelihara (Rahman 2008). Percobaan ini menggunakan empat perlakuan terhadap
rumput yang diberikan untuk domba sebagai hewan ternak, yaitu rumput normal
tanpa campuran apapun, rumput dengan air garam, rumput dengan air gula, an dan
rumput dengan cuka. Hasil yang didapatkan yaitu domba lebih menyukai rumput
rasa manis dibanding rumput lain yang ditambahkan rasa asin (air garam), dan asam
(air cuka), dan rasa hambar. Hal ini sesuai dengan literature, bahwa domba lebih
menyukai rasa manis. Selain itu dapat dilihat bahwa dari bobot sisa rumput yang
dikonsumsi domba, semakin besar selisihnya dari bobot rumput awal (500 g) maka
semakin besar pula rumput yang dikonsumsi. Sisa rumput rasa manis memiliki bobot
yang paling sedikit dibanding sisa dari rumput dengan perlakuan yang lainnya mulai
dari hari pertama hingga hari kedua percobaan.
Ruminansia lebih menyukai rasa manis, karena ruminansia buta warna
sehingga indera penciumannya terhadap rerumputan akan lebih peka. Mereka juga
lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan
fosfor (P) lebih tinggi (Kartadisastra, 1997). Dalam percobaan terjadi kesalahan yaitu
pada di hari pertama pada pemberian rumput dengan air gula dan rumput dengan cuka
menunjukkan bahwa sisa rumput dengan air gula lebih banyak, artinya domba lebih
memilih rumput dengan air cuka. Pada hari kedua, perlakuan rumput dengan air gula
dan rumput dengan air garam menunjukkan jumlah bobot sisa rumput yang sama
artinya domba mengkonsumsi keduanya sama banyak, selain itu pada perlakuan
rumput dengan air gula dan rumput dengan air cuka menunjukkan sisa rumput gula
dengan air cuka lebih sedikit. Kesalahan-kesalahan tersebut mungkin disebabkan oleh
beberapa hal, diantaranya adalah kondisi tubuh ternak yang kurang sehat sehingga
mempengaruhi indera penciuman dan indera perasanya, pencucian wadah rumput
yang kurang bersih sehingga sisa rasa dari perlakuan sebelumya masih tertinggal di
dalam wadah. Selain itu, daun yang berbulu mungkin tidak akan dikonsumsi yang
berarti bahwa pemilihan terjadi bukan hanya karena faktor gizi dan juga rasa, tetapi
juga dipengaruhi perbedaan tekstur yang mempengaruhi palatabilitas (Church,. D, et
al., 1998). Faktor yang terakhir yaitu ternak yang digunakan dalam pengukuran
kecernaan harus mempunyai breed, ukuran atau berat, kondisi, jenis kelamin dan
umur yang sama (Tillman, A. D. et al 1991).
SIMPULAN
Palatabilitas merupakan derajat kesukaan ternak terhadap pakan yang dipilih
serta dikonsumsinya. Palatabilitas dipengaruhi oleh indera perasa dan penciuman.
Ruminansia buta warna, sehingga ternak ini lebih peka penciumannya terhadap
rerumputan. Umumnya ternak ruminansia lebih menyukai rasa yang manis
dibandingkan dengan rasa asam, asin maupun hambar. Hasil yang didapatkan pada
pengamatan daya suka pakan pada domba, rasa manis paling disukai diantara perasa
yang lain. Hal ini sesui dengan literatur. Faktor lain yang mempengaruhi palatabilitas
ternak diantaranya yaitu kondisi tubuh ternak, bobot ternak, jenis kelamin, kondisi
lingkungan, jangkauan pakan, tekstur pakan, dan suhu kandang.
DAFTAR PUSTAKA
Church,. D. C. and W. G. Pond. 1998. Basic Animal Nutrition and Feeding.
3rd Edition. John Willey and Sons. New York. p : 295-927.

IPTEK. 2005. Pakan Ternak . Jakarta. http://www.iptek.net.

Kartadisastra. 1997.PENGELOLAAN PAKAN AYAM, Kiat Meningkatkan


Keuntungan dalam Agribisnis Unggas. Jakarta: Kanisius.

Kartasdisastra, H. R. 1997. Penyediaan dan Pengolahan Pakan Ternak Ruminansia


Sapi, Kerbau, Domba, dan Kambing. Kanisius. Yogyakarta.

Rahman, D. K., 2008. Pengaruh Penggunaan Hidrolisat Tepung Bulu Ayam dalam
Ransum terhadap Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik serta
Konsentrasi Amonia Cairan Rumen Kambing Kacang Jantan. Skripsi.
Program Studi Peternakan Universitas Sebelas Maret

Soejono, M 1990. Petunjuk Laboratorium Analisis dan Evaluasi Pakan. Fakultas

Peternakan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Suparjo. 2008. Evaluasi Pakan secara in vivo. Laboratorium Makanan Ternak

Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Jambi.

Tiana OA, Murhananto. 2004.Membedah Rahasia Sukses Memelihara Koi .


Halaman 48. Jakarta: AgroMedia.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan


S. Lebdosoekono. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-V. Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta. hlm : 249-267.
PENGUKURAN DAYA SUKA PADA TERNAK
RUMINANSIA

Kelompok 2

Anggota kelompok:

1. M. Fikri Al Habib (D14150004)


2. Inna Dwi Lestari (D14150065)
3. Taufik Saifulloh (D14150072)
4. Nurul Azmi (D14150082)
5. Helmi Fadhlurrohman (D14150090)
6. Nanang Abdian Toro (D14150097)

Mata kuliah :

Pengantar Ilmu Nutrisi

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2016