Anda di halaman 1dari 14

1.

DASAR HUKUM KEPALITAN

Pengertian kepailitan berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU Nomor 37 Tahun 2004


adalah sita umum terhadap semua kekayaan debitur pailit yang pengurusan dan
pemberesannya dilakukan oleh seorang kurator di bawah pengawasan hakim
pengawas sebagaimana yang diatur oleh undang-undang.

Dalam bahasa sehari-hari, pailit dapat diartikan sebagai debitur dalam keadaan
tidak mampu membayar utang.

Pengaturan mengenai kepailitan dapat ditemukan dalam Pasal 1131 sampai dengan
Pasal 1134 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Selain itu pengaturan khusus
tentang kepailitan adalah UU Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran.

Sedangkan aturan lain yang masih terkait dengan Hukum Kepailitan adalah, antara
lain:

1) UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas


2) UU No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan
3) UU No. 42 Tahun 1992 Tentang Jaminan Fiducia

Serta beberapa undang-undang lain yang mengatur tentang BUMN, Pasar Modal,
Yayasan dan pengaturan mengenai Koperasi.

2. PROSES HUKUM KEPALITAN ( MEKANISME DALAM KEPALITAN).

Mekanisme Kepailitan adalah sebagai berikut:


1) Dari Pasal 2 UUPT NO. 37 Tahun 2004 maka dapat ditarik kesimpulan tentang syarat-
syarat yuridis agar suatu perusahaan dapat dinyatakan pailit adalah sebagai berikut:
1. Adanya hutang;
2. Minimal satu dari hutang sudah jatuh tempo;
3. Minimal satu dari hutang dapat ditagih;
4. Adanya debitur;
5. Adanya kreditur;
6. Kreditur lebih dari satu;
7. Pernyataan pailit dilakukan oleh pengadilan niaga;
8. Permohonan pernyataan pailit diajukan oleh pihak yang berwenang yaitu:
a. Pihak debitur;
b. Satu atau lebih kreditur;
c. Jaksa untuk kepentingan umum;
d. Bank Indonesia jika debiturnya bank;
e. Mentri Keuangan jika debiturnya perusahaan asuransi, reasuransi, dana pension atau
BUMN yang bergerak di kepentingan publik.
2) a. Tata cara permohonan pailit
Menurut pasal 1 UUK, permohonan pailit dapat diajukan oleh pemohon-pemohon sebagai
berikut:
1. Dalam hal Debitor adalah perusahaan bukan bank dan bukan perusahaan efek, yang
dapat mengajukan mengajukan permohonan pailit adalah:
a. Debitor,
b. Seorang atau lebih Kreditor,
c. Kejaksaan.

2. Dalam hal perusahaan adalah perusahaan bank, yang dapat mengajukan permohonan
pailit adalah Bank Indonesia.
3. Dalam hal perusahaan adalah perusahaan efek, yang dapat mengajukan permohonan pailit
adalah Bapepam.
Dalam hal debitor adalah Perusahaan Terbatas, maka yang harus mengajukan permohonan
pailit adalah direksi perusahaan tersebut, namun harus berdasarkan keputusan RUPS.
Permohonan itu harus diajukan oleh seorang penasihat hukum yang memiliki izin praktik
(Pasal 5 UUK).
UUK memang tidak mewajibkan bagi hakim untuk memanggil atau meminta persetujuan
atau sekurang-kurangnya mendengar pendapat para Kreditor yang lain (dalam hal
permohonan kepailitan diajukan oleh seorang atau beberapa Kreditor). Namun demikian
sebaliknya pula, UUK tidak melarang apabila hakim memanggil para Kreditor yang lain
untuk dimintai pendapat atau persetujuan mereka itu sehubungan dengan permohonan
kepailitan. Demi memperoleh keputusan kepailitan yang fair, seyogianya hakim sebelum
memutuskan permohonan pernyataan pailit seorang Debitor, baik yang diajukan oleh Debitor
sendiri, oleh seorang atau lebih Kreditor, atau oleh Kejaksaan demi kepentingan umum,
terlebih dahulu memanggil dan meminta pendapat para Kreditor, terutama para Kreditor yang
menguasai sebagian besar jumlah utang Debitor yang bersangkutan. Sikap hakim yang
demikian ini sejalan dengan ketentuan Pasal 244 UUK mengenai hak Debitor untuk
memohon kepada Pengadilan Niaga agar PKPU dicabut dan memberikan keputusannya,
hakim yang bersangkutan harus mendengar para Kreditor dan memanggil mereka secara
layak.
b. Mekanisme pengajuan pailit
Berkenaan dengan ketentuan Pasal 2 ayat (1) UUK tersebut, yang perlu diketahui adalah
kepada Pengadilan Niaga mana permohonan itu harus dialamatkan. Berikut ini akan
dikemukakan ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan kewenangan Pengadilan Niaga
dalam memutus permohonan pernyataan pailit:

1. Dalam hal debitor telah meninggalkan wilayah Republik Indonesia, Pasal 2 ayat (2) UUK
menentukan bahwa Pengadilan Niaga yang berwenang menetapkan putusan atas permohonan
pernyataan pailit adalah Pengadilan Niaga yang daerah hukumnya meliputi tempat
kedudukan hukum terakhir Debitor.

2. Sesuai ketentuan Pasal 2 ayat (3) UUK, dalam hal Debitor adalah persero suatu firma,
Pengadilan Niaga yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum firma tersebut
juga berwenang memutuskan. Penjelasan Pasal 2 ayat (2) tersebut mengemukakan bahwa
dalam hal menyangkut putusan atas permohonan pernyataan pailit oleh lebih dari satu
Pengadilan Niaga yang berwenang mengenai Debitor yang sama pada tanggal yang berbeda,
maka putusan yang diucapkan pada tanggal yang lebih awal adalah yang berlaku.
Selanjutnya penjelasan Pasal 2 ayat (3) tersebut menentukan pula bahwa dalam hal putusan
atas permohonan pernyataan pailit ditetapkan oleh Pengadilan Niaga yang berbeda pada
tanggal yang sama mengenai Debitor yang sama, maka yang erlaku adalah putusan
Pengadilan Niaga yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum Debitor.

3. Bagaimana halnya apabila Debitor tidak bertempat kedudukan dalam wilayah Republik
Indonesia? Menurut Pasal 2 ayat (4) UUK, dalam hal Debitor tidak bertempat kedudukan
dalam wilayah Republik Indonesia tetapi menjalankan profesi atau usahanya dalam wilayah
Republik Indonesia, Pengadilan Niaga yang berwenang memutuskan adalah Pengadilan
Niaga yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum kantor Debitor yang
menjalankan profesi atau usahanya itu.

4. Bagaimana menentukan Pengadilan Niaga mana yang berwenang Debitor adalah suatu
badan hukum, seperti perseroan terbatas, koperasi, dan yayasan? Menurut Pasal 2 ayat (5)
UUK, dalam hal Debitor merupakan badan hukum, maka kedudukan hukumnya adalah
sebagaimana dimaksud dalam Anggaran Dasarnya PN yang sesuai dengan Anggaran Dasar
badan hukum tersebut.

5. Menurut Pasat 3 ayat (1) UUK, dalam hal permohonan pernyataan pailit diajukan oleh
Debitor perorangan yang menikah, permohonan hanya dapat diajukan atas persetujuan suami
atau istrinya. Mengenai ketentuan ini, penjelasan pasal tersebut mengemukakan, ketentuan
ini hanya berlaku apabila permohonan pernyataan pailit diajukan oleh Debitor. Persetujuan
dari suami atau istri Debitor diperlukan, karena menyangkut harta bersama (terdapat
percampuran harta). Sejalan dengan apa yang dikemukakan dalam Pasal 3 ayat (1) UUK,
Pasal 3 ayat (2) UUK menentukan, bahwa ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
tidak berlaku apabila tidak ada percampuran harta.

Permohonan pernyataan pailit, menurut Pasal 4 ayat (1) UUK, diajukan kepada pengadilan
melalui Panitera. Pasal 4 ayat (2) UUK menentukan, Panitera mendaftarkan permohonan
pernyataan pailit pada tanggal permohonan yang bersangkutan diajukan. Selanjutnya Pasal 4
koperasi, dan yayasan. Menurut Pasal 2 ayat (5) UUK, dalam u Debitor merupakan badan
hukum, maka kedudukan hukumnya adalah sebagaimana dimaksud dalam Anggaran
Dasarnya. Dengan kata lain Pengadilan Niaga yang berwenang memberikan putusan atas
permohonan pernyataan pailit adalah Pengadilan Niaga yang daerah hukumnva meliputi
tempat kedudukan hukum dari badan hukum yang bersangkutan sesuai dengan Anggaran
Dasar badan hukum tersebut.

Menurut Pasat 3 ayat (1) UUK, dalam hal permohonan pernyataan pailit diajukan oleh
Debitor perorangan yang menikah, permohonan hanya dapat diajukan atas persetujuan suami
atau istrinya. Mengenai ketentuan ini, penjelasan pasal tersebut mengemukakan, ketentuan
ini hanya berlaku apabila permohonan pernyataan pailit diajukan oleh Debitor. Persetujuan
dari suami atau istri Debitor diperlukan, karena menyangkut harta bersama (terdapat
percampuran harta). Sejalan dengan apa yang dikemukakan dalam Pasal 3 ayat (1) UUK,
Pasal 3 ayat (2) UUK menentukan, bahwa ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
tidak berlaku apabila tidak ada percampuran harta.
Putusan atas permohonan pernyataan pailit, menurut Pasal 6 ayat (4), harus ditetapkan dalam
jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal permohonan
pernyataan pailit didaftarkan.Pertanyaan yang timbul ialah, apa konsekuensi dan sanksinya
apabila ketentuan mengenai batas waktu itu dilanggar?

Ternyata UUK tidak menentukan sanksi apa pun. Mengingat kualitas Pengadilan Indonesia
yang masih sangat menyedihkan pada saat ini, penulis meragukan jangka waktu tersebut
akan atau dapat dipatuhi dengan baik. Menurut hemat penulis pula, jangka waktu 30 (tiga
puluh) hari untuk memeriksa dan memberikan putusan atas permohonan pernyataan pailit
sangat pendek. Dikhawatirkan kualitas putusan yang diambil akan jauh dari adil dan
memuaskan karena terpaksa dilakukan secara terburu-buru. Jangka waktu tersebut
seyogianya lebih panjang. Paling sedikit 90 (sembilan puluh) hari.

Sehubungan dengan kemungkinan pengambilan putusan Pengadilan Niaga diambil


melampaui tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari, Mahkamah Agung RI dalam putusan
mengenai permohonan Peninjauan Kembali No. 011PK/N/1999 dalam perkara PT Bank
Yakin Makmur (PT Bank Yama) sebagai Pemohon PK/Pemohon Kasasi/Termohon Pailit
melawan PT Nassau Sport Indonesia sebagai Termohon PK/Termohon Kasasi/Pemohon
Pailit dalam pertimbangan hukumnya mengemukakan bahwa alasan permohonan Peninjauan
Kembali tidak dapat dibenarkan, sebab meskipun putusan dijatuhkan melampaui tenggang
waktu 30 (tiga puluh) hari, hal tersebut tidak membatalkan putusan.

Putusan atas permohonan pernyataan pailit harus diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk
umum. Demikian ditentukan dalam Pasal 6 ayat (5) UUK. Selanjutnya Pasal 6 ayat (5) UUK
menentukan bahwa putusan tersebut dapat dijalankan terlebih dahulu, meskipun terhadap
putusan tersebut diajukan suatu upaya hukum (putusan serta-merta atau uitvoerbaar bij
voorraad).

Dalam jangka waktu paling lambat 2 x 24 jam terhitung sejak tanggal putusan atas
permohonan pernyataan pailit ditetapkan, Pengadilan Niaga wajib menyampaikan dengan
surat dinas tercatat atau melalui kurir kepada Debitor, kepada pihak yang mengajukan
permohonan pernyataan pailit, dan kepada Kurator serta Hakim Pengawas, salinan putusan
Pengadilan Niaga yang memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari
putusan tersebut (Pasal 6 ayat (6) UUK).

c. permohonan sita jaminan

UU kepailitan menerapkan automatic stay atau automatic standstill bukan sejak pernyataan
pailit didaftarkan di Pengadilan Niaga, tetapi sejak putusan pernyataan pailit dijatuhkan oleh
Pengadilan Niaga. Dengan demikian selama berlangsungnya proses pemeriksaan oleh
Pengadilan Niaga terhadap permohonan pernyataan pailit, praktis tidak ada perlindungan
yang berlaku demi hukum bagi para Kreditor terhadap kemungkinan Debitor
memindahtangankan harta kekayaannya. Untuk keperluan perlindungan itu, Pasal 7 ayat (1)
UUK memberikan ketentuan yang memungkinkan Kreditor atau Kejaksaan pemohon
pernyataan pailit untuk mengajukan permohonan kepada pengadilan untuk:
a. meletakkan sita jaminan terhadap sebagian atau seluruh kekayaan Debitor;
b. atau b menunjuk Kurator Sementara untuk:

1. mengawasi pengelolaan usaha Debitor; dan


2. mengawasi pembayaran kepada Kreditor, pengalihan atau pengagunan kekayaan Debitor
yang dalam rangka kepailitan memerlukan persetujuan Kurator.
Menurut penjelasan Pasal 7 UUK, upaya pengamanan sebagaimana dimaksud dalam
ketentuan ini bersifat preventif dan sementara, dan dimaksudkan untuk mencegah
kemungkinan bagi Debitor melakukan tindakan terhadap kekayaannya sehingga dapat
merugikan kepentingan Kreditor dalam rangka pelunasan utangnya.

3. PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT DALAM PROSES KEPALITAN


Dari pembahasan yang sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa pihak yag terlibat
dalam proses kepailitan yaitu :
1. Pihak pemohon pailit
2. Pihak debitor pailit
3. Hakim niaga
4. Hakim pengawas
5. Kurator
6. Panitia kreditor
7. Pengurus
A. Pihak Pemohon Pailit
Salah satu pihak yang terlibat dalam perkara kepailitan adalah pihak pemohon
pailit, yakni pihak yang mengambil inisiatif untuk mengajukan permohonan pailit ke
pengadilan, yang dalam perkara biasa disebut sebagai pihak penggugat.
Menurut pasal 2 undang-undang 37 tahun 2004 tentang kepailitan maka yang dapat
menjadi pemohon dalam suatu perkara pailit adalah dari salah satu pihak berikut ini :
1. Pihaka debitur itu sendiri.
2. Salah satu atau lebih dari pihak kreditur.
3. Pihak kejaksaan jika menyangkut kepentingan umum.
4. Pihak bank indonesia jika debitornya adalah suatu bank.
5. Pihaka badan pengawas pasar modal jika debitornya adalah suatu perusaahan
efek, bur sa efek, lembga kliring dan penjaminan, serta lembaga penyimpanan
dan penyelesaian.
6. Menteri keuangan jika debitor perusahaan asuransi, reasuransi, dana pensiun,
atau BUMN yang bergerak dibidang kepentingan publik.
7. Likuidator perusahaan terbatas dalam hal likuidator tersebut memperkirakan
bahwa utang perseroan lebih besar dari kekayaan perseroan, yang dalam hal ini
kepailitan wajib diajukan oleh likuidator tersebut.1

B. Pihak Debitor Pailit


Phak debitor pailit adalah pihak yang memohon atau dimohonkan pailit
kepengadilan yang berwenang. Yang dapat menjadikan debitor pailit adalah debitor yang
mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak mebayar sedikitnya satu utang yang telah
jatuh waktu dan dapat ditagih.2
.

C. Hakim Niaga
Perkara kepailitan diperiksa oleh hakim majelis (tidak boleh oleh hakim tunggal),
baik untuk tingkat pertama maupun untuk tingkat kasasi.

D. Hakim Pengawas
Untuk mengawasi pelaksanaan pemberesan harta pailit, maka dalam keputusan
kepailitan oleh pengadilan harus diangkat seorang hakim pengawas disamping
pengangkatan kuratornya. Hakim pengawas ini disebut Hakim Komisaris.
Adapun tugas dan wewenang dari hakim pengawas menurut Undang-Undang
kepailitan adalah sebagai berikut :
1. Menetapkan jangka waktu tentang pelaksanaan perjanjian yang masih
berlangsung antara debitor dan pihak kreditornya. Jika antara pihak kreditor dan
pihak kurator tidak tercapai kata sepakat tersebut (vide pasal 36 undang-undang
kepailitan).

1
. Munir Fuad, Hukum Pailit dalam Teori dan Praktek. Hal.35-36
2
. Ibid. Hal. 36
2. Memberikan putusan atas permohonan kreditor atau pihak ketiga yang
berkepentingan yang haknya ditangguhkan untuk mengangkat penangguhan
apabila kurator menolak pengangkatan penanguhan tersebut (vide pasal 57 ayat
3).
3. Memberkan persetujuan kepada kurator apabila pihak kurator menjaminkan
harta pailit kepada pihak ketiga atas jaminan yang dilakukan kurator dari pihak
ketiga tersebut (vide pasal 69 ayat 3).
4. Memberikan izin bagi pihak kurator apabila ingin menghadap dimuka
pengadilan, kecuali untuk hal-hal tertentu (vide pasal 69 ayat 5).
5. Menerima laoran dari pihak kurator setiap tiga bulan sekali mengenai harta
pailit dan pelaksaan tugasnya (vide pasal 74 ayat 1).
6. Memperpanjang jangka waktu laporan sebagaimana dimksud dalam pasal 74
ayat 1 tersebut ( vide pasal 74 ayat 3).
7. Menawarkan kepada kreditor untuk membentuk panitia kreditor setelah
pencocokan utang selesai dilakukan (vide pasal 80 ayat 1).
8. Apabila dalam putusn pernyataan pailit ditunjuk panitia kreditor sementara,
menganti panitia kreditor sementara tersebut atas permintaan kreditor konkuren
berdasarkan putusan kreditor konkuren dengan simple majority (vide pasal 80
ayat 2 a).
9. Apabila dalam putusan pernyataan pailit belum diangkat panitia kreditor,
membentuk panitia kreditor atas permintaankreditor konkuren berdasarkan
putusan kreditor konkuren dengan suara simple majority (vide pasal 80 ayat 2
b).
10. Menetapkan hari, tanggal, waktu, dan tempat rapat kreditor pertama (vide pasal
86 ayat 1).
11. Menyampaikan kepada kurator rencana penyelenggaraan rapat kreditor
pertama (vide pasal 86 ayat 2).
12. Melakukan penyegelan atas harta pailit oleh panitera atau panitera pengganti
dengan alasan untuk mengamankan harta pailit (vide pasal 99 ayat 1).
13. Apabila tidak diangkat panitia kreditor dalam putusan pernyataan pailit, hakim
pengawas dapat memberikan persetujuan kepada kurator untuk melanjutkan
usaha debitor, sungguhpun ada kasasi atau perjajnjian kembali (vide pasal 104
ayat 1).
14. Memberikan persetujuan kepada kurator untuk mengalihkan harta pailit
sepanjang diperlukan untuk menutup ongkos kepailitan atau apabila
penahanannya akan mengakibatkan kerugian pada harga pailit meskipun ada
kasasi atau perjajjian kembali ( vide pasal 98).

E. Kurator
Kurator merupaka salah satu pihak yang cukup memegang peranan dalam suatu
proses perkara pailit.

F. Panitia Kreditor
Panitia kreditor adalah pihak yang mewakili pihak kreditor sehingga panitia
kreditor tentu akan memperjuangkan segala kepentingan hukum dari pihak kreditor. Ada
dua macam pihak kreditor yang diperkenalkan oleh undang-undang kepailitan yaitu:
1. Panitia kreditor sementara yaitu panitia yang ditunjuk dalam putusan
pernyataan pailit.
2. Panitia kreditor tetap yaitu yang dibentuk oleh hakim pengawas apabila dalam
putusan pailit tidak diangkat panitia kreditor sementara.

G. Pengurus
Pengurus hanya dikenal dalam proses tundaan pembayaran, tetapi tidak dikenal
dalam proses kepailitan. Yang dapat menjadi pengurus adalah :
1. Perorangan yang berdomisili di indonesia, yang memiliki keahlian khusus yang
dibutuhkan dalam rangka mengurus harta debitor.
2. Telah tedaftar pada departemen yang berwenang.

4. PENYELESAIAN KEPALITAN
5. PENUNDAAN PEMBAYARAN

NUNDAAN PEMBAYARAN
Pengertian Penundaan Pembayaran
Diatur pada Bab II UU Kepailitan
Merupakan prosedur hukum yang memberikan hak kepada setiap debitur yang tidak dapat
atau memperkirakan bahwa tidak akan dapat melanjutkan utang-utang yang sudah jatuh
tempo dan dapat ditagih, dapat memohon penundaan kewajiban pembayaran utang dengan
maksud untuk mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran pembayaran seluruh
atau sebagian utang kepada kreditur konkuren.
Akibat adanya PKPU adalah :

1. Debitur tidak dapat melakukan tindakan kepengurusan atau memindahkan hak atas sesuatu
bagian dari hartanya, jika debitur melanggar, pengurus berhak melakukan segala sesuatu
untuk memastikan bahwa harta debitur tidak dirugikan karena tindakan debitur tersebut.
2. Debitur tidak dapat dipaksa membayar utang utangnya dan semua tindakan eksekusi yang
telah dimulai guna mendapatkan pelunasan utang, harus ditangguhkan.
3. Debitur berhak membayar utangnya kepada semua kreditur bersama sama menurut
imbangan piutang masing masing.
4. Semua sitaan yang telah dipasang berakhir.
Pengadilan Niaga

Sejak diundangkannya Undang Undang Kepailitan, maka pengadilan yang berhak


memutus pernyataan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran uang adalah
Pengadilan Niaga yang berada di lingkungan Peradilan Umum. Untuk pertama kalinya
Pengadilan Niaga yang dibentuk adalah Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat.

Hukum acara yang dipakai pada pengadilan niaga ini adalah hukum acara perdata yang
umum berlaku pada Pengadilan Umum. Atas putusan Pengadilan Niaga hanya dapat
diajukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung. Selanjutnya atas putusan
Pengadilan Niaga yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap tersebut tetap dapat
diajukan upaya hukum lain yaitu Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung dengan
syarat :

Terdapat bukti tertulis baru;

Pengadilan Niaga telah melakukan kesalahan berat dalam penetapan


hukumnya.

Hakim Pengadilan Niaga dapat diangkat berdasarkan surat keputusan Ketua


Mahkamah Agung dan harus mempunyai syarat syarat yang telah ditentukan, yaitu :
1. Telah berpengalaman sebagai hakim dalam lingkungan Peradilan Umum;
2. Mempunyai dedikasi dan menguasai pengetahuan di bidang masalah masalah yang
menegnai lingkup kewenangan Pengadilan Niaga;
3. Berwibawa, jujur, dan berkelakuan tidak tercela;
4. Telah berhasil menyelesaikan program pelatihan khusus sebagai hakim pada Pengadilan
Niaga.
PKPU diajukan oleh Debitur yang mempunyai lebih dari satu kreditur atau oleh Kreditur.

Debitur yang tidak akan dapat melanjutkan membayar utang-utangnya yang sudah
jatuh waktu dan dapat ditagih, dapat memohon PKPU, dengana maksud untuk
mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran pembayaran sebagian atau
seluruh utang kepada Kreditur.

l Selama PKPU, Debitur tanpa persetujuan pengurus tidak dapat melakukan


tindakan kepengurusan atau kepemilikan atas seluruh atau sebagian hartanya.

l Selama PKPU, Debitur tidak dapat dipaksa membayar utang sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 245 dan semua tindakan eksekusi yang telah dimulai untuk
pelunasan utang, harus ditangguhkan.

l PKPU tidak menghentikan perkara yang sudah dimulai oleh Pengadilan atau
menghalangi diajukannya perkara baru.
Dalam PKPU dikenal yang namanya Pengurus, tugasnya hampir sama dengan kurator
dalam kepailitan. Begitu putusan PKPU sementara dikabulkan, pengadilan wajib
mengangkat pengurus yang akan membantu debitor menjalankan kegiatannya. Sama
halnya dengan kurator, pengurus pun harus independen, tidak mempunyai benturan
kepentingan dengan kreditor atau debitor. Bila terbukti pengurus tidak independen
dikenakan sanksi pidana dan/atau perdata sesuai dengan peraturan perundang-
undangan. Pengurus bertanggung jawab terhadap kesalahan atau kelalaiannya dalam
melaksanakan tugas pengurusan yang menyebabkan kerugian terhadap harta Debitor.
Syarat untuk menjadi pengurus ialah sebagai berikut: :

a. orang perseorangan yang berdomisili di Indonesia, yang memiliki keahlian khusus


yang dibutuhkan dalam rangka mengurus dan/atau membereskan harta pailit;
b. terdaftar pada pada Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, mengenai tata cara
pendaftaran kurator diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia Nomor M. 01-HT.05.10 Tahun 2005 tentang Pendaftaran Kurator
dan Pengurus.
Dalam PKPU ini tidak dikenal adanya pengurus sementara, dan pengurus ini pun hanya
dari pengurus swasta. Balai Harta Peninggalan tidak dapat menjadi pengurus dalam
PKPU. Pengurus bertanggung jawab terhadap kesalahan atau kelalaian dalam
melaksanakan tugas pengurusan yang menyebabkan kerugian terhadap harta debitor.
Tentang imbalan jasa pengurus ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri
Kehakiman RI No. M. 09-HT.05.10 Tahun 1998 tentang Pedoman Besarnya Imbalan
Jasa Kurator dan Pengurus.
Apabila diangkat lebih dari satu pengurus, untuk melakukan tindakan yang sah dan
mengikat, pengurus memerlukan persetujuan lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah
pengurus. Apabila suara setuju dan tidak setuju sama banyaknya, tindakan tersebut
harus memperoleh persetujuan Hakim Pengawas. Pengadilan setiap waktu dapat
mengabulkan usul penggantian pengurus, setelah memanggil dan mendengar
pengurus, dan mengangkat pengurus lain dan atau mengangkat pengurus tambahan
berdasarkan:

a. usul Hakim Pengawas;

b. permohonan Kreditor dan permohonan tersebut hanya dapat diajukan apabila


didasarkan atas persetujuan lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah Kreditor yang hadir
dalam rapat Kreditor;

c. permohonan pengurus sendiri; atau

d. permohonan pengurus lainnya, jika ada.

3. Hakim Pengawas

Selain mengangkat pengurus, setelah putusan PKPU sementara dikabulkan oleh


pengadilan maka pada saat itu juga diangkat Hakim Pengawas. Tugas Hakim
Pengawas ini pada dasarnya juga sama dengan tugas Hakim Pengawas dalam
kepailitan, yaitu mengawasi jalannya proses PKPU. Apabila diminta oleh pengurus,
Hakim pengawas dpat mendengar saksi atau memerintahkan pemerinsaan oleh ahli
untuk menjelaskan keadaan yang menyangkut PKPU, dan saksi tersebut dipanggil
sesuai dengan ketentuan dalam Hukum Acara Perdata. Hakim Pengawas setiap waktu
dapat memasukkan ketentuan yang dianggap perlu untuk kepentingan Kreditor
berlangsungnya penundaan kewajiban pembayaran utang tetap, berdasarkan:

a. prakarsa Hakim Pengawas;

b. permintaan pengurus; atau

c. permintaan satu atau lebih Kreditor.

4. Panitia Kreditor

Menurut Pasal 231, Pengadilan harus mengangkat panitia kreditor apabila :


a. Permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang meliputi utang yang bersifat
rumit atau banyak kreditor; atau
b. Pengangkatan tersebut dikehendaki oleh kreditor yang mewakili paling sedikit
(satu per dua) bagian dari seluruh tagihan yang diakui.

Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, pengurus harus meminta dan


mempertimbangkan saran dari panitia kreditor ini.

5. Ahli

Setelah PKPU dikabulkan Hakim Pengawas dapat mengangkat satu atau lebih ahli
untuk melakukan pemeriksaan dan menyusun laporantentang keadaan harta Debitor
dalam jangka waktu tertentu berikut perpanjangannya yang ditetapkan oleh Hakim
Pengawas. Laporan ahli harus memuat pendapat yang disertai dengan alasan lengkap
tentang keadaan harta Debitor dan dokumen yang telah diserahkan oleh Debitor serta
tingkat kesanggupan atau kemampuan Debitor untuk memenuhi kewajibannya kepada
Kreditor, dan laporan tersebut harus sedapat mungkin menunjukkan tindakan yang
harus diambil untuk dapat memenuhi tuntutan Kreditor. Laporan ahli harus disediakan
oleh ahli tersebut di Kepaniteraan Pengadilan agar dapat dilihat oleh setiap orang
dengan cuma-cuma dan penyediaan laporan tersebut tanpa dipungut biaya.

Pengajuan PKPU
1. Penundaan pembayaran utang diajukan oleh debitur yang mempunyai lebih dari satu
kreditur, yaitu apabila debitur tidak dapat atau memperkirakan tidak dapat membayar utang-
utangnya yang sudah jatuh tempo.
2. Penundaan pembayaran utang diajukan oleh kreditur agar memungkinkan debitur
mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran pembayaran kepada krediturnya.
3. Selama PKPU berlangsung tidak diajukan permohonan pailit.
4. Kalau permohonan dikabulkan ditunjuk hakim pengawas dan pengurus.
Dua tahap PKPU :
PKPU Sementara

1. Pengadilan Niaga harus mengabulkan. Diberikan untuk jangka waktu maksimum 45 hari
PKPU Tetap

1. PKPU Tetap diberikan untuk jangka waktu maksimum 270 hari,apabila pada hari ke 45 atau
hari rapat kreditur tersebut belum dapat memberikan suara mereka terhadap rencana
tersebut
Akibat Hukum dari PKPU
1. Debitur kehilangan kebebasan atas harta kekayaannya.
2. Debitur tidak dapat dipaksa membayar utang dan pelakasanaan eksekusi dapat
ditangguhkan.
3. Sitaan berakhir dan dapat diangkat.
4. Perkara yang sedang berjalan ditangguhkan.
5. PKPU tidak berlaku bagi kreditur yang didahulukan.
Berakhirnya PKPU
Atas permintaan hakim pengawas, satu atau lebih kreditur atau prakarsa Pengadilan,
PKPU dapat diakhiri dalam hal:

1. Debitur, selama PKPU, bertindak dg itikad buruk dalam megurus hartanya;


2. Debitur telah merugikan atau telah mencoba merugikan krediturnya;
3. Debitur melanggar ketentuan Pasal 240 ayat (1);
4. Debitur lalai melaksanakan tindakan2 yg diwajibkan oleh Pengadilan saat atau setelah
PKPU diberikan, atau lalai melkukan tindakan2 yg disyaratkan oleh pengurus demi
kepentingan harta Debitur;
1. Selama PKPU, keadaan harta Debitur ternyata tidak lagi memungkinkan dilanjutkan PKPU
atau;
2. Keadaan Debitur tidak dapat diharapkan untuk memenuhi kewajibannya terhadap Kreditur
pada waktunya.
3. Jika PKPU diakhiri, Debitur harus dinyatakan pailit dalam putusan yang sama.
Perbedaan antara Kepailitan dan Penundaan Pembayaran
Bahwa orang yang telah dinyatakan pailit itu sudah dianggap tidak mempunyai
kekayaan sedangkan dalam hal penundaan pembayaran orangnya masih mempunyai
kekayaan.

BAB III
ANALISIS KASUS
KASUS :

l Pertama, dalam kasus kepailitan yang diajukan oleh PT Bank PDFCI sebagai
Pemohon pailit terhadap PT. Sarana Kemas Utama selaku Termohon Pailit.
Permohonan pailit dikabulkan hakim pengadilan niaga. Persoalan muncul dalam kasasi
karena Pemohon Kasasi keberatan atas status Termohon Kasasi/Pemohon Pailit
sebagai Bank BTO pada saat permohonan pailit diajukan. Menurut Pemohon Kasasi
atau termohon pailit, sejak tanggal 3 April 1998 status Termohon Kasasi adalah bank
BTO dan manajemen telah diambil alih atau dikuasai oleh dan berada di bawah BPPN.
Oleh karena itu surat kuasa Termohon Kasasi atau Pemohon Pailit harus dengan
sepengetahuan atau setidak-tidaknya diketahui oleh BPPN. Keberataan ini sebenarnya
pernah diajukan pada sidang pengadilan niaga, namun judex factie sama sekali tidak
mempertimbangkan keberatan tersebut dalam putusannya. Karena itu judex factie telah
melakukan kesalahan dalam penerapan hukum.

l Majelis Hakim Kasasi memandang bahwa Termohon Kasasi atau Pemohon Pailit
dalam status Bank BTO tetap sah sebagai Pemohon Pailit, karena pernyataan BTO
sama sekali tidak menghapuskan status Termohon Kasasi atau Pemohon Pailit sebagai
badan hukum yang dapat bertindak sebagai pihak dalam proses perkara dan dengan
demikian pembuatan surat kuasapun tetap sah dan tidak perlu sepengetahuan dan
atau ijin pemerintah c.q. BPPN. Karena itu Majelis Hakim Kasasi membenarkan
putusan Judex facxtie. Atas putusan ini Pemohon Kasasi atau Termohon Pailit
mengajukan PK.
l Dalam permohonan PK, Pemohon PK atau Pemohon Kasasi atau Termohon Pailit
kembali mempersoalkan kewenangan hukum atau legal capacity Pemohon Pailit dalam
hal ini Bank PDFCI yang telah dikenakan status Bank BTO pada saat mengajukan
permohonan pernyataan pailit. Menurut Pemohon PK atau Pemohon Kasasi atau
Termohon Pailit, Majelis Hakim Kasasi dan Judex Facxtie telah melakukan kesalahan
berat dalam menerapkan hukum mengenai kewenangan hukum Bank BTO. Dikatakan
bahwa Termohon PK atau Termohon Kasasi atau Pemohon Pailit sejak tanggal 3 April
1998 telah menjadi Bank BTO sehingga manajemen dan operasional telah diambil
alih oleh BPPN sesuai dengan ketentuan Pasal 37 Ayat (1) UU No.10 Thn 1998. Pada
hal permohonan pailit yang diajukan Termohon PK atau Pemohon Pailit dilakukan pada
tanggal 30 September 1998 yaitu pada saat Termohon PK atau Pemohon Pailit sudah
berstatus Bank BTO tanpa persetujuan kuasa dari BPPN.
l Majelis Hakim PK dalam perkara ini membenarkan pendapat yang diajukan
Pemohon PK atau Termohon Pailit atau Pemohon Kasasi, karena menurut
Majelis terdapat kesalahan berat dalam menerapkan hukum tentang status dan
kewenangan Bank BTO sebab Direksi Bank PDFCI Tbk yang telah dinyatakan dalam
status BTO sejak 3 April 1998 tidak lagi memiliki kewenangan untuk melakukan suatu
perbuatan hukum ( legal capacity ) termasuk mengajukan gugatan atau permohonan
pailit di muka pengadilan untuk kepentingan bank tersebut. Karena manajemen dan
operasionalnya telah diambilalih atau dikuasai oleh dan berada di bawah pengawasan
BPPN, maka surat kuasa yang dibuat Direksi yang menjadi dasar permohonan pailit
terhadap Pemohon PK atau Termohon Pailit adalah tidak sah. Berdasarkan
pertimbangan tersebut, menurut MA terdapat cukup alasan untuk mengabulkan
permohonan PK yang diajukan PT Sarana Kemas Utama selaku Termohon Pailit atau
Pemohon Kasasi atau Pemohon PK dan membatalkan Putusan MA 14 Desember
1998 No.04 K/N/1998.