Anda di halaman 1dari 15

ILMU PENYAKIT PARASITIK

MALARIA

OLEH

KELOMPOK I :

1. SHERLI M. LUDJI 1309011001


2. HELDA A.N GADJA 1309011002
3. YUNITA A. MILA 1309012003
4. AGNES L. TANDJUNG 1309012004
5. MARIA ASTI S.R RAFE 1309012005
6. BEATRIX BARUT 1309012006
7. SARRAH A. JOSEPH 1309012007
8. MARISA APLUGI 1309012008
9. FENY M. DARIS 1309012009
10. KRISPINUS SEHANDI 1309012010
11. JEANE J. KONDA MALIK 1309012011
12. EWALDUS F. PATMAWAN 1309012012
13. MARIA G.G GENA 1309012013

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2015
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Malaria merupakan satu dari penyakit infeksi tertua yang mulai berjangkit di Mesir,
India, dan Cina. Gejala-gejala klinis telah berhasil dipaparkan secara lengkap oleh
Hippochrates pada tahun 400 SM. Ribuan tahun terlewati dengan berbagai upaya umat
manusia untuk melawan penyakit ini, namun tetap saja data WHO belum menunjukkan
penurunan yang signifikan.Namun penyakit ini masih menjadi masalah besar di beberapa
bagian Benua Afrika dan Asia Tenggara. Sekitar 100 juta kasus penyakit malaria terjadi
setiap tahunnya dan sekitar 1 % diantaranya fatal. Seperti kebanyakan penyakit tropis
lainnya, malaria merupakan penyebab utama kematian di negara berkembang. Malaria
ditularkan melalui nyamuk Anopheles. Ada empat jenis plasmodium yang dapat
menginfeksi manusia yaitu Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, Plasmodium
vivax dan Plasmodium ovale.
1.2 Tujuan
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang malaria meliputi pengertian,
etiologi, siklus hidup, gejala klinis, dan diagnosis, pengobatan, dan pencegahan malaria.
1.3 Rumusan Masalah
1. Apa itu malaria ?
2. Apa penyebab malaria ?
3. Bagaimana siklus hidup malaria ?
4. Bagaimana gejala klinis malaria ?
5. Bagaimana diagnosis, pengobatan, dan pencegahan malaria ?
BAB II

PEMBAHASAN

Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit (protozoa) dari genus
plasmodium, yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Istilah malaria
diambil dari dua kata bahasa Italia yaitu mal (buruk) dan area (udara) atau udara buruk
karena dahulu banyak terdapat di daerah rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk. Penyakit
ini juga mempunyai nama lain, seperti demam roma, demam rawa, demam tropik, demam
pantai, demam charges, demam kura dan paludisme (Prabowo, 2008).

2.1 Etiologi
Soemirat (2009) mengatakan malaria yang disebabkan oleh protozoa terdiri dari empat
jenis species yaitu plasmodium vivax menyebabkan malaria tertiana, plasmodium malariae
menyebabkan malaria quartana, plasmodium falciparum menyebabkan malaria tropika dan
plasmodium ovale menyebabkan malaria ovale.
Taksonomi :
Domain: Eukariot
(tidak termasuk) Alveolata
Filum: Apicomplexa
Kelas: Aconoidasida
Ordo: Haemosporida
Famili: Plasmodiidae
Genus: Plasmodium

2.2 Morfologi
Plasmodium dalam perkembangannya cepat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain di
dalam vektornya. Sporozoit parasit ini berbentuk seperti pisang dengan diameter yaitu 1 mikron.
Stadium ini selanjutnya berkembang menjadi skizon yang berbentuk bulat, berukuran 18 x 15
mikron dan pada skizon yang sudah masak berisi merozoit yang sudah siap dilepaskan ke dalam
sel darah merah. Makrogametosit (gametosit betina) intinya kecil, kompak bewarna merah muda,
berukuran 20-26 mikron. Sedangkan mikrogametosit (gametosit jantan) bewarna biru bersifat
difuse dan berukuran 20-25 mikron. Hasil pembuahan makrogamet dan mikrogamet disebut
zigot. Zigot dapat bergerak dan disebut dengan ookinet dan selanjutnya berkembang menjadi
ookista yang berbentuk oval dan berdiameter 50 sampai 60 mikron.

2.3 Siklus Hidup


Plasmodium mempunyai dua siklus hidup yang terdiri dari siklus seksual (sporogoni)
pada tubuh nyamuk Anopheles dan siklus aseksual (schizogoni) pada tubuh vertebrata
yang terkena gigitan nyamuk tersebut. Siklus aseksual ini terdiri dari dua stadium yaitu
stadium eksoeritrositik pada sel parenkim hati dan stadium eritrositik pada sel darah
merah. Sporozoit yang infektif dari kelenjar ludah nyamuk Anopheles melalui gigitannya
masuk ke dalam tubuh vertebrata. Sporozoit ini mengikuti aliran darah menuju organ hati
kemudian masuk ke dalam sel parenkim hati untuk memulai stadium eksoeritrositik.
Dalam sel parenkim hati, sporozoit berkembang menjadi schizon cryptozoit lalu
melakukan pembelahan yang menghasilkan merozoit cryptozoit. Sel parenkim hati
tersebut kemudian pecah karena banyaknya merozoit yang terus dihasilkan dari
pembelahan, hal ini menyebabkan merozoit keluar bebas dari sel tersebut. Sebagian
merozoit yang keluar difagosit oleh makrofag, sebagian lagi dapat memasuki sel parenkim
hati lainnya untuk mengulang siklus reproduksinya dan ada sebagian yang mengikuti
aliran darah lalu masuk ke dalam sel darah merah untuk memulai stadium eritrositik.
Dalam sel darah merah, parasit tampak sebagai kromatin kecil dikelilingi sedikit
sitoplasma berbentuk cincin dan disebut sebagai trofozoit. Pada trofozoit yang sedang
tumbuh, sitoplasmanya membesar, bentuknya menjadi tidak teratur dan mulai membentuk
pigmen. Trofozoit tumbuh menjadi schizon muda kemudian menjadi schizon matang dan
melakukan pembelahan yang menghasilkan banyak merozoit. Sel darah merah kemudian
pecah karena terlalu banyaknya merozoit sehingga merozoit pigmen dan sisa sel keluar
bebas ke plasma darah. Sebagian merozoit difagosit dalam plasma darah dan sebagian
lainnya dapat menghindari fagositosis lalu memasuki sel darah merah lainnya untuk
mengulangi siklus schizogoni. Beberapa merozoit yang kini memasuki sel darah merah
baru tidak membentuk schizon tetapi membentuk gametosit yaitu mikrogametosit (jantan)
dan makrogametosi (betina) untuk perkembangan pada siklus seksual.
Siklus seksual terjadi di tubuh nyamuk anopheles dimana darah dari vertebra yang
mengandung gametosit dihisap masuk ke dalam tubuh nyamuk tersebut. Mikrogametosit
dan makrogametosit dalam tubuh nyamuk kemudian berkembang menjadi mikrogamet
dan makrogamet. Dalam lambung nyamuk, mikrogamet dan makrogamet mengadakan
fertilisasi yang menghasilkan zigot. Zigot kemudian berkembang menjadi ookinet yang
dapat menembus dinding lambung nyamuk. Ookinet kemudian tumbuh menjadi ookista
yang mengandung ribuan sporozoit dan dengan pecahnya ookista maka sporozoit akan
dilepas ke dalam rongga badan dan bergerak ke seluruh jaringan nyamuk. Beberapa
sporozoit bermigrasi sampai pada kelenjar air liur nyamuk dan siap untuk ditularkan
kepada hospes vertebrata melalui gigitannya.
Keterangan : Siklus hidup Plasmodium sp.

1) Nyamuk Anopheles betina yang mengandung sporozoit Plasmodium sp. menggigit

manusia, dan meninggalkan sporozoit di dalam jaringan darah manusia.

2) Melalui aliran darah, sporozoit masuk ke jaringan hati (liver). Sporozoit bereproduksi

secara aseksual (pembelahan biner) berkali-kali, dan tumbuh menjadi merozoit.

3) Merozoit menggunakan kompleks apeks (ujung sel) untuk menembus sel darah merah

(eritrosit) penderita.

4) Merozoit tumbuh dan bereproduksi aseksual (pembelahan biner) secara berulang-ulang

sehingga terdapat banyak merozoit baru. Merozoit baru ini disebut juga tropozoit.

Tropozoit keluar setelah memecah sel darah merah dan menginfeksi sel darah merah
lainnya, secara berulang-ulang dengan interval 48 72 jam (tergantung pada spesiesnya).

Akibatnya penderita mengalami demam dan menggigil secara periodik.

5) Di dalam jaringan darah, beberapa merozoit membelah dan membentuk gametosit

jantan (mikrogametosit) dan gametosit betina (makrogametosit).

6) Bila nyamuk Anopheles betina lainnya menggigit dan mengisap darah penderita, maka

mikrogametosit maupun makrogametosit berpindah dan masuk ke dalam saluran

pencernaan nyamuk.

7) Di dalam saluran pencernaan nyamuk, mikrogametosit tumbuh menjadi mikrogamet,

dan makrogametosit tumbuh menjadimakrogamet.

8) Mikrogamet dan makrogamet mengalami fertilisasi sehingga terbentuk zigot diploid

(2n) yang disebut juga ookinet. Peristiwa ini merupakan reproduksi secara seksual.

9) Ookinet masuk ke dalam dinding usus nyamuk membentuk oosista yang berdinding

tebal. Di dalam oosista berkembang ribuansporozoit.

10) Sporozoit keluar dari dinding usus dan berpindah ke kelenjar ludah nyamuk. Sporozoit

akan mengalami siklus yang sama saat nyamuk menginfeksi orang sehat lainnya.

2.4 Gejala Klinis


Plasmodium vivax, Plasmodium ovale dan Plasmodium malariae bisa menyebabkan
demam tinggi yang intermiten pada manusia, tetapi jarang mengakibatkan kematian,
sedangkan Plasmodium falciparum merupakan malignant tertian dan bersifat fatal jika tidak
diobati segera, terutama pada serangan pertama (Bradley, 1998).
Menurut Parmet S. et al (2007), gejala klinis malaria pada umumnya muncul 9-14
hari setelah gigitan nyamuk Anopheles yang terinfeksi. Gejala yang dapat muncul termasuk
menggigil yang tiba-tiba, demam yang bersifat intermiten, keringat, kelelahan, sakit kepala,
kejang, dan delirium. Roe & Pasvol (2009) pula mengatakan bahwa waktu inkubasi malaria
tergantung pada lingkungan. Kondisi yang optimal dapat menyebabkan manifestasi gejala
klinis dalam 7 hari saja. Walaupun begitu, terdapat beberapa kasus tertentu yang gejala klinis
hanya muncul setelah 20 tahun, dan ini berlaku terutama pada infeksi Plasmodium malariae.

Infeksi Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale menyebabkan penyakit yang relatif
ringan yaitu menyebabkan anemia terjadi dengan perlahan, dan mungkin terdapat
hepatosplenomegali yang nyeri. Penyembuhan adalah spontan dan terjadi dalam 2-6 minggu.
Walaupun begitu, hipnozoit dalam hati dapat menyebabkan relaps yang sering berulang
sehingga terjadi penyakit kronis karena anemia dan splenomegali hiperaktif.

Infeksi Plasmodium malariae juga relatif ringan, tetapi lebih cenderung kronis.
Parasitemia mungkin menetap bertahun- tahun, dan ini bisa menunjukkan gejala atau sama
sekali tidak bergejala. Infeksi Plasmodium malariae pada anak-anak berhubungan dengan
glomerulonefritis dan sindroma nefrotik. Infeksi Plasmodium falciparum juga menyebabkan
self-limiting illness yang mirip plasmodium yang lain. Walaupun begitu, ia juga bisa
menyebabkan komplikasi serius dan sebagian besar kematian malaria adalah disebabkan
Plasmodium falciparum. (Finch, R.G. et al, 2005).
Menurut Rosenthal (2008), World Health Organization(2000) telah
mengklasifikasikan beberapa kondisi tertentu sebagai tanda-tanda infeksi malaria berat.
Kondisi tersebut termasuk malaria serebral, masalah pernapasan, hipoglikemia, sirkulasi
kolaps atau shok, perdarahan spontan atau disseminated intravascular coagulation(DIC),
keterlibatan ginjal atau blackwater fever, anemia berat, kejang berulang, penurunan
kesadaran, prostration, jaundis, muntah tidak henti, dan parasitemia yang melebihi 2%.
Blackwater fevermerupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh hemolisis intravaskular
yang luas dan berlaku baik Menurut Rosenthal (2008), pada sel yang terinfeksi dan yang
tidak terinfeksi, sehingga menyebabkan urin berwarna hitam (Finch, R.G. et al, 2005). Sarkar
et al (2010) mengatakan sebanyak 10% dengan infeksi malaria berat akan meninggal oleh
karena disfungsi multiorgan.
Penyakit Malaria ditandai dengan tingginya gejala utama yaitu demam, pembengkakan
limpa (splenomegali), dan anemia. Sebelum timbul demam, gejala awal dimulai dengan
mual,muntah, lesu, dan rasa nyeri pada kepala, serta terjadi penurunan selera makan.
Demam
Demam merupakan gejala paling awal yang diperlihatkan oleh penderita malaria.
Demam secara periodik berhubungan dengan waktu pecahnya sejumlah skizon matang dan
keluarnya merozoit yang masuk dalam aliran darah (sporulasi). Serangan demam yang khas
terdiri dari tiga tahap atau stadium, yaitu :
a. Tahap Pertama(Stadium Dingin)
Tahap pertama, penderita mengalami demam menggigil. Penderita merasa dingin dan bila
diraba di pergelangan tangan denyut nadi terasa cepat, tetapi lemah. Bibir dan jari tangan
tampak kebiru biruan. Kulit keringdan pucat. Kadang-kadang disertai muntah dan bahkan
kejang-kejang. Pada anak-anak proses kejang-kejangini lebih sering dialami. Demam tahap
ini berlangsung selama 15 menit sampai 1 jam.
b. Tahap Kedua(Stadium Puncak Demam)
Pada tahap kedua dimulai pada saat perasaan dingin sekali berubah menjadi panas sekali.
Gejalanya: wajah merah, kulit kering dan terasa panas seperti terbakar, sakit kepala makin
hebat, mual dan muntah, nadi penuh dan berdenyut keras, dan selalu merasa haus. Suhu
badan dapat mencapai 41C. Demam stadium ini berlangsung selama 2-6 jam.
c. Tahap Ketiga(Stadium Berkeringat)
Tahap ketiga merupakan tahap demam berkeringat yang berlangsung selama 2-4 jam.
Berkeringat banyak, suhu badan turun dengan cepat, dan penderita mulai dapat tidur.
Penderita seolah-olah sudah sembuh.
Pembesaran Limpa (Splenomegali)
Penderita dapat mengalami pembengkakan limpa terutama pada penderita
malaria yang sudah lama(menahun). Limpa tersebut dapat menjadi keras dan mudah pecah.
Perubahan pada limpa biasanya disebabkan oleh kongesti kemudian limpa berubah menjadi
hitam karena pigmen yang ditimbun dalam eritrosit yang mengandung parasit dalam kapiler
dan sinusoid.
Anemia
Pada malaria terjadi anemia. Derajat anemia tergantung pada spesies parasit yang
menyebabkannya. Anemia terutama tampak jelas pada malaria falsiparum dengan
penghancuran eritrosit yang cepat dan hebat pada malaria menahun. Anemia disebabkan oleh
beberapa faktor, yaitu :
a. Penghancuran eritrosit yang mengandung parasit dan yang tidak mengandung parasit
terjadi di dalam limpa. Dalam hal ini, faktor autoimun memegang peranan.
b. Reduced survival time yaitu eritrosit normal yang tidak mengandung parasit tidak dapat
hidup lama.
c. Diseritropoesis yaitu gangguan dalam pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis
dalam sumsum tulang.
2.5 Pengobatan
Pengobatan penyakit ini dapat menggunakan obat-obat anti malaria. Preparat Fe dan
vitamin serta garam-garam mineral diberikan untuk mencegah keadaan anemia yang
berkelanjutan akibat banyaknya sel darah merah yang rusak karena parasite. Obat anti
malaria yang sering digunakan adalah Chloroquine rata-rata pemberian 5 mg/Kg BB selama
tiga hari berturut-turut, Pyrimethamine 0,3 mg/Kg BB efektif terhadap P. gallice. Informasi
terbaru dari London menemukan enzim yang dapat mengganggu siklus perkawinan parasite.
Enzim tersebut bertindak sebagai penghambat yang dapat menghentikan parasite malaria
dari perkembangan perkawinan.

2.6 Pencegahan
1. Pencegahan Primer
a) Tindakan terhadap manusia
Edukasi adalah faktor terpenting pencegahan malaria yang harus diberikan kepada setiap
pelancong atau petugas yang akan bekerja di daerah endemis. Materi utama edukasi
adalah mengajarkan tentang cara penularan malaria, risiko terkena malaria, dan yang
terpenting pengenalan tentang gejala dan tanda malaria, pengobatan malaria, pengetahuan
tentang upaya menghilangkan tempat perindukan.
Melakukan kegiatan sistem kewaspadaan dini, dengan memberikan penyuluhan pada
masyarakat tentang cara pencegahan malaria.
Proteksi pribadi, seseorang seharusnya menghindari dari gigtan nyamuk dengan
menggunakan pakaian lengkap, tidur menggunakan kelambu, memakai obat penolak
nyamuk, dan menghindari untuk mengunjungi lokasi yang rawan malaria. a.4. Modifikasi
perilaku berupa mengurangi aktivitas di luar rumah mulai senja sampai subuh di saat
nyamuk anopheles umumnya mengigit.
b) Tindakan terhadap hewan (ayam)
Memberantas vektornya dengan menyempotkan insektisisda di kandang-kandang,
tetapi perlu diperhatikan juga dampak dari penggunaan insektisida yang terus menerus
akan menyebabkan resistensi pada vektor penyakit ini. Selain itu perlu adanya karantina
ayam yang telah diketahui terinfeksi. Perlu juga diperhatikan daya tahan induk semang
dan sanitasi lingkungan sekitar kandang. Pengadaan anti nyamuk di kandang-kandang
juga dapat dijadikan pilihan dalam pencegahan penyakit malaria unggas ini. Dapat juga
dilakukan membersihkan sarang-sarang nyamuk, abatisasi, yaitu penanggulangan
stadium pra-dewasa nyamuk dengan abate. Untuk menanggulangi serangan nyamuk bisa
dengan pemasangan kelambu atau screen di kandang untuk mencegah masuknya
nyamuk, menggunakan zat penolak (repellents) misalnya indalone dan rutger 612.
c) Kemoprofilaksis (Tindakan terhadap Plasmodium sp)
Walaupun upaya pencegahan gigitan nyamuk cukup efektif mengurangi paparan
dengan nyamuk, namun tidak dapat menghilangkan sepenuhnya risiko terkena infeksi.
Diperlukan upaya tambahan, yaitu kemoprofilaksis untuk mengurangi risiko jatuh sakit
jika telah digigit nyamuk infeksius. Beberapa obat-obat antimalaria yang saat ini
digunakan sebagai kemoprofilaksis adalah klorokuin, meflokuin (belum tersedia di
Indonesia), doksisiklin, primakuin dan sebagainya. Dosis kumulatif maksimal untk
pengobatan pencegahan dengan klorokuin pada orang dewasa adalah 100 gram basa.
Untuk mencegah terjadinya infeksi malaria terhadap pendatang yang berkunjung ke
daerah malaria pemberian obat dilakukan setiap minggu; mulai minum obat 1-2 minggu
sebelum mengadakan perjalanan ke endemis malaria dan dilanjutkan setiap minggu
selama dalam perjalanan atau tinggal di daerah endemis malaria dan selama 4 minggu
setelah kembali dari daerah tersebut. Pengobatan pencegahan tidak diberikan dalam
waktu lebih dari 12-20 minggu dengan obat yang sama. Bagi penduduk yang tinggal di
daerah risiko tinggi malaria dimana terjadi penularan malaria yang bersifat musiman
maka upaya pencegahan terhadap gigitan nyamuk perlu ditingkatkan sebagai
pertimbangan alternatif terhadap pemberian pengobatan profilaksis jangka panjang
dimana kemungkinan terjadi efek samping sangat besar.
d) Tindakan terhadap vector
Pengendalian secara mekanis.
Dengan cara ini, sarang atau tempat berkembang biak serangga dimusnahkan, misalnya
dengan mengeringkan genangan air yang menjadi sarang nyamuk. Termasuk dalam
pengendalian ini adalah mengurangi kontak nyamuk dengan manusia, misalnya memberi
kawat nyamuk pada jendela dan jalan angin lainnya.
Pengendalian secara biologis
Pengendalian secara biologis dilakukan dengan menggunakan makhluk hidup yang
bersifat parasitik terhadap nyamuk atau penggunaan hewan predator atau pemangsa
serangga. Dengan pengendalian secara biologis ini, penurunan populasi nyamuk terjadi
secara alami tanpa menimbulkan gangguan keseimbangan ekologi. Memelihara ikan
pemangsa jentik nyamuk, melakukan radiasi terhadap nyamuk jantan sehingga steril dan
tidak mampu membuahi nyamuk betina. Pada saat ini sudah dapat dibiakkan dan
diproduksi secara komersial berbagai mikroorganisme yang merupakan parasit nyamuk.
Bacillus thuringiensis merupakan salah satu bakteri yang banyak digunakan, sedangkan
Heterorhabditis termasuk golongan cacing nematode yang mampu memeberantas
serangga. Pengendalian nyamuk dewasa dapat dilakukan oleh masyarakat yang memiliki
temak lembu, kerbau, babi. Karena nyamuk An. aconitus adalah nyamuk yang senangi
menyukai darah binatang (ternak) sebagai sumber mendapatkan darah, untuk itu ternak
dapat digunakan sebagai tameng untuk melindungi orang dari serangan An. aconitus
yaitu dengan menempatkan kandang ternak diluar rumah (bukan dibawah kolong dekat
dengan rumah).
Pengendalian secara kimiawi
Pengendalaian secara kimiawi adalah pengendalian serangga mengunakan insektisida.
Dengan ditemukannya berbagai jenis bahan kimia yang bersifat sebagai pembunuh
serangga yang dapat diproduksi secara besar-besaran, maka pengendalian serangga
secara kimiawi berkembang pesat.
2. Pencegahan Sekunder
a. Pencarian penderita malaria
Pencarian secara aktif melalui skrining yaitu dengan penemuan dini penderita malaria
dengan dilakukan pengambilan slide darah dan konfirmasi diagnosis (mikroskopis dan
/atau RDT (Rapid Diagnosis Test)) dan secara pasif dengan cara malakukan pencatatan
dan pelaporan kunjungan kasus malaria.
b. Diagnosa dini
Gejala Klinis Diagnosis malaria sering memerlukan anamnesis yang tepat dari penderita
tentang keluhan utama (demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala,
mual, muntah, diare, dan nyeri otot atau pegal-pegal), riwayat berkunjung dan bermalam
1-4 minggu yang lalu ke daerah endemis malaria, riwayat tinggal di daerah endemis
malaria, riwayat sakit malaria, riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir, riwayat
mendapat transfusi darah. Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan fisik berupa :
demam (pengukuran dengan thermometer 37.5 C), anemia, pembesaran limpa
(splenomegali) atau hati (hepatomegali).
Pemeriksaan Laboratorium yaitu pemeriksaan mikroskopis, Tes Diagnostik Cepat (RDT,
Rapid Diagnostic Test)
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata lainnya,

hewan melata dan hewan pengerat, yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus

Plasmodium dan mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin menggigil) serta demam

berkepanjangan. Plasmodium mempunyai dua siklus hidup yang terdiri dari siklus seksual

(sporogoni) pada tubuh nyamuk Anopheles dan siklus aseksual (schizogoni) pada tubuh

vertebrata yang terkena gigitan nyamuk tersebut. Pengobatan penyakit ini dapat

menggunakan obat-obat anti malaria. Preparat Fe dan vitamin serta garam-garam mineral

diberikan untuk mencegah keadaan anemia yang berkelanjutan akibat banyaknya sel darah

merah yang rusak karena parasite. Pencegahan yang dilakukan antara lain pencegahan

primer dan sekunder.

3.2 Saran

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari dosen pembimbing matakuliah
ilmu penyakit parasitik dan para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

https://en.wikipedia.org/wiki/Plasmodium

https://www.scribd.com/doc/27093477/Malaria-Pada-Unggas

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20428/4/Chapter%20II.pdf

http://wiki.isikhnas.com/images/2/26/PLASMODIOSIS_UNGGAS.pdf

http://core.ac.uk/download/files/379/11720407.pdf