Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK DENGAN GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI


( LEUKIMIA )

OLEH :

1. NI LUH ADE SERIASIH (P07120216015)


2. NI MADE RASITA PUSPITASWARI (P07120216016)

TINGKAT 2.A
D.IV KEPERAWATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2017
(KAJIAN TEORI)
A. DEFINISI LEUKIMIA
Leukemia adalah kanker dari salah satu jenis sel darah putih di
sumsum tulang belakang, yang menyebabkan proliferasi salah satu jenis
darah putih dengan menyingkirkan jenis sel lain (Corwin, 2008). Leukimia
adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa proliferasi
patologis sel hemopoetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sum-
sum tulang dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi ke
jaringan tubuh yang lain (Mansjoer, 2002).
Leukemia tampak merupakan penyakit klonal, yang berarti satu sel
kanker abnormal berproliferasi tanpa terkendali, menghasilkan sekelompok
sel anak yang abnormal. Sel-sel ini menghambat sel darah lain di sumsum
tulang utnuk berkembang secara normal, sehingga mereka tertimbun di
sumsum tulang. Karena faktor-faktor ini, leukemia disebut gangguan
akumulasi sekaligus gangguan klonal. Pada akhirnya, sel-sel leukemia
mengambil alih sumsum tualng, sehingga menurunkan kadar sel-sel
nonleukemik di dalam darah yang merupakan penyebab berbagai gejala
umum leukemia (Corwin, 2008).
Berdasarkan dari beberapa pengertian diatas maka penulis
berpendapat bahwa leukimia adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
proliferasi abnormal dari sel-sel leukosit yang menyebabkan terjadinya
kanker pada alat pembentuk darah.
Sel darah normal, sel darah terbentuk di sumsum tulang. Tulang
sumsum adalah bahan yang lembut di tengah sebagian besar tulang. Belum
menghasilkan sel darah yang disebut sel batang dan ledakan. Sebagian besar
sel darah matang di sumsum tulang dan kemudian pindah ke pembuluh
darah. Darah mengalir melalui pembuluh darah dan jantung disebut darah
perifer. Sumsum tulang membuat berbagai jenis darah sel. Setiap jenis
memiliki fungsi khusus :
a. Sel darah putih membantu melawan infeksi
b. Sel darah merah membawa oksigen ke jaringan seluruh tubuh
c. Trombosit membantu gumpalan darah terbentuk bahwa kontrol
perdarahan
Sifat khas leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi
sel darah putih dalam sumusm tulang, menggantikan elemen sumsum tulang
normal. Juga terjadi proliferasi di hati, limpa dan nodus limfatikus, dan
invasi organ non hematologis, seperti meninges, traktus gastrointesinal,
ginjal dan kulit.

B. ANATOMI FISIOLOGIS
Tubuh kita mempunyai suatu sistem khusus untuk memberantas
bermacam-macam bahan yang infeksius dan toksik. Sistem ini terdiri dari
Leukosit (sel darah putih) dan sel-sel jaringan yang berasal dari leukosit.
Pertahanan tubuh melawan infeksi adalah peranan utama dari leukosit atau
sel darah putih. Jumlah normal sel darah putih berkisar dari 4000 sampai
10.000/mm.Lima jenis sel darah putih yang sudah di identifikasikan dalam
darah perifer adalah: netrofil (62,0%) dari total); eosinofil (2,3%); basofil
(0,4%); monosit (5,3%); limfosit (30,0%).
Leukosit ini sebagian dibentuk dalam sum-sum tulang belakang
(granulosit dan monosit dan sebagian limfosit). Granulosit dan monosit
hanya ditemukan dalam sum-sum tulang. Limfosit dan sel plasma diproduksi
dalam berbagai organ limfogen, termasuk kelenjar limfe, limpa, timus tonsil
dan berbagai kantong jaringan limfoid dimana saja dan dalam tubuh,
terutama dalam sum-sum tulang dan plak Peyer di bawah epitel dinding
usus. Setelah dibentuk sel-sel ini diangkut dalam darah menuju berbagai
bagian tubuh untuk digunakan. Manfaat sesungguhnya dari sel darah putih
adalah bahwa kebanyakan ditranspor secara khusus kedaerah yang terinfeksi
dan mengalami peradangan serius, jadi menyediakan pertahanan yang cepat
dan kuat terhadap setiap bahan infeksius yang mungkin ada.
Masa hidup granulosit setelah dilepaskan dari sum-sum tulang,
normalnya adalah 4-8 jam dalam darah sirkulasi, dan 4-5 hari berikutnya
dalam jaringan. Pada keadaan infeksi jaringan yang berat, masa hidup
keseluruhan seringkali berkurang sampai hanya beberapa jam, karena
granulosit dengan cepat menuju daerah infeksi, melakukan fungsinya, dan
masuk dalam proses dimana sel-sel itu sendiri dimusnahkan. Monosit juga
mempunya masa edar yang singkat, yaitu 10-20 jam, berada dalamdarah
sebelum mengembara melalui membrane kapiler ke dalam jaringan. Begitu
masuk kedalam jaringan, sel-sel ini membengkak sampai ukurannya menjadi
besar sekali untuk menjadi makrofag jaringan, dan dalam bentuk ini, sel-sel
tersebut dapat hidup berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, kecuali
kalau mereka dimusnahkan karena melakukan fungsi fagositik. Trombosit
dalam darah akan diganti kira-kira setiap 10 hari; atau dengan kata lain,
setiap hari terbentuk kira-kira 30.000 trombosit permikroliter darah (Gayton
& Hall, 1997).
a. Granulosit
Granulosit memiliki granula kecil di dalam protoplasmanya.Granulosit
memiliki diameter 10-12 m, dengan demikian lebih besar daripada
eritrosit. Dengan bertambah tuanya granulosit, nukleus terbagi menjadi
beberapa lobus: sesuai dengan namanya leukosit polimorfonuklear
(polimorf).
b. Limfosit
Limfosit memiliki nukleus besar bulat atau agak berindentasi, dengan
menempati sebagian besar sel. Limfosit berkembang di dalam jaringan
limfe. Ukuran bervariasi dari 7-15 m.
c. Monosit
Monosit adalah sel besar, berdiameter sampai 20 m, dengan nucleus
oval atau berbentuk ginjal. Monosit dibentuk di dalam sum-sum
tulang.
d. Trombosit
Adalah bagian dari beberapa sel-sel besar dalam sum-sum tulang, dan
hidup sekitar 10 hari. Sekitar 30-40% terkonsentrasi di dalam limpa;
sisanya bersirkulasi da dalam darah, di dekat endotel (bagian terdalam
lapisan pembuluh darah) John Gibson (2002)
C. ETIOLOGI
Menurut Handayani (2008) ada beberapa faktor yang terbukti dapat
menyebabkan leukemia, faktor genentik, sinar radioaktof, dan virus.
1. Faktor genetic
Insidensi leukemia akut pada anak-anak penderita sindrom Down
adalah 20 kali lebih banyak daripada normal. Pada anak kembar identik
yang akan berisiko tinggi bila kembaran yang lain mengalami leukemia.
Insiden leukemia pada anak-anak penderita sindrom down adalah 20 kali
lebih banyak daripada normal. Kelainan pada kromosom 21 dapat
menyebabkan leukemia akut. Insiden leukemia akut juga meningkat pada
penderita dengan kelainan kongenital misalnya agranulositosis kongenital,
sindrom Ellis Van Creveld, penyakit seliak, sindrom Bloom, anemia
Fanconi, sindrom Wiskott Aldrich, sindrom Kleinefelter dan sindrom
trisomi D.31 Pada sebagian penderita dengan leukemia, insiden leukemia
meningkat dalam keluarga. Kemungkinan untuk mendapat leukemia pada
saudara kandung penderita naik 2-4 kali. Selain itu, leukemia juga dapat
terjadi pada kembar identik. Berdasarkan penelitian Hadi, et al (2008) di
Iran dengan desain case control menunjukkan bahwa orang yang memiliki
riwayat keluarga positif leukemia berisiko untuk menderita LLA
(OR=3,75 ; CI=1,32-10,99) artinya orang yang menderita leukemia
kemungkinan 3,75 kali memiliki riwayat keluarga positif leukemia
dibandingkan dengan orang yang tidak menderita leukemia
2. Radioaktif
Sinar radioaktif merupakan faktor eksternal yang paling jelas dapat
menyebabkan leukemia pada manusia. Akhir-akhir ini dibuktikan bahwa
penderita yang diobati dengan dinar radioaktif akan menderita leukemia
pada 6 % klien,dan baru terjadi sesudah 5 tahun.
3. Virus
Sampai saat ini belum dapat dibuktikan bahwa penyebab leukemia
pada manusia adalah virus.namun, ada beberapa hasil penelitian yang
mendukung teori virus sebagai penyebab leukemia, yaitu enzyme reverse
transcriptase ditemukan dalam darah manusia. Tetapi ada Beberapa virus
tertentu sudah dibuktikan menyebabkan leukemia pada binatang. Ada
beberapa hasil penelitian yang mendukung teori virus sebagai salah satu
penyebab leukemia yaitu enzyme reserve transcriptase ditemukan dalam
darah penderita leukemia. Seperti diketahui enzim ini ditemukan di dalam
virus onkogenik seperti retrovirus tipe C yaitu jenis RNA yang
menyebabkan leukemia pada binatang. Pada manusia, terdapat bukti kuat
bahwa virus merupakan etiologi terjadinya leukemia. HTLV (virus
leukemia T manusia) dan retrovirus jenis cRNA, telah ditunjukkan oleh
mikroskop elektron dan kultur pada sel pasien dengan jenis khusus
leukemia/limfoma sel T yang umum pada propinsi tertentu di Jepang dan
sporadis di tempat lain, khususnya di antara Negro Karibia dan Amerika
Serikat.
D. PATHWAY
Faktor genetik
Sinar radioaktif
Virus

Leukemia

Poliferasi sel darah putih tanpa


terkendali atau leukosit
abnormal

Peningkatan jumlah
leukosit imatur/abnormal

Masuk sumsum tulang Masuk ke organ tubuh


belakang

Menghambat semua sel darah Pembesaran limfa Nyeri


lain di sumsum tulang dan hati tulang/persendian
belakang

Nyeri akut
Gagal atau
terganggunya produksi
sel

Sel darah Trombosit Sel darah


merah menurun putih normal
menurun menurun

Anemi Terjadi
a gangguan Kekebalan
pembekuan tubuh menurun
Pucat, lemah, darah
lemas

Risiko cedera Risiko infeksi


Kelemahan
E. PATOFISIOLOGIS
Menurut Hidayat (2006) dan Handayani (2008), leukimia terjadi
akibat dari beberapa faktor antara lain faktor genetik, sinar radioaktif, dan
virus. Menurut Corwin (2009) dan Hidayat (2006), leukimia tampak
merupakan penyakit klonal, yang berarti satu sel kanker abnormal
berpoliferasi tanpa terkendali, menghasilkan sekelompok sel anak yang
abnormal sehingga dapat menyebabkan terjadinya anemia trombositopenia.
Kemudian leukimia atau limfositik akut merupakan kanker jaringan yang
menghasilkan leukosit yang imatur dan berlebih sehingga jumlahnya yang
menyusup ke berbagai organ seperti sum-sum tulang dan mengganti unsur
sel yang normal sehingga mengakibatkan jumlah eritrosit kurang untuk
mencukupi kebutuhan sel (Hidayat, 2006). Karena faktor-faktor ini leukimia
disebut gangguan akumulasi sekaligus gangguan klonal. Pada akhirnya, sel-
sel leukemik mengambil alih sum-sum tulang. Sehingga menurunkan kadar
sel-sel nonleukemik di dalam darah yang merupakan penyebab berbagai
gejala umum leukimia. Trombosit pun berkurang sehingga timbul
pendarahan. Proses masuknya leukosit yang berlebihan dapat menimbulkan
hepatomegali apabila terjadi pada hati, splenomegali, dll. (Hidayat, 2006).

F. KLASIFIKASI LEUKEMIA
Menurut Perpustakaan Nasional (2008), Tambayong (2000), dan
Handayani (2008), klasifikasi leukemia dapat berdasarkan jenis sel
(limfositik atau mielositik) dan perjalan penyakit (akut atau kronik).
1. Leukemia Akut
Leukemia Akut dapat dibagi menjadi dua kategori umum, leukemia
mieloid akut (AML) dan leukemia limfoblastik akut (ALL). Pasien
biasanya mengalami riwayat penurunan berat badan yang cepat, memar,
perdarahan, pucat, lelah, dan infeksi berulang di mulut dan
tenggorokan.Hitung darah lengkap sering kali menunjukkan anemia dan
trombositopenia.Hitung sel darah putih dapat meningkat atau sangat
rendah.Perdarahan di area vital, akumulasi leukosit dalam organ vital.
2. Leukemia Mieloid Akut
AML jarang terjadi pada anak dan insidennya meningkat seiring
pertambahan usia. AML sekunder kadang terlihat pada orang yang
diobati dengan kemoterapi sitotoksik atau radioterapi.
3. Leukemia Limfoblastik Akut
ALL adalah bentuk keganasan hematologisyang umum terjadi pada
anak. Akan tetapi, ALL terjadi pada orang dewasa, dengan peningkatan
insidens seiring pertambahan usia.
Banyak tanda dan gejala ALL yang mirip dengan AML serta sebagian
besar menyebabkan kegagalan sumsum tulang. Pasien juga mengalami
manifestasi spesifik ynag meliputi pembesaran nodus limfe
(limfadenopati), hati, dan limpa ( hepatosplenomegali),serta infiltrasi
pada sistem saraf pusat.
4. Leukemia Mieloid Kronik
CML adalah gangguan sel benih yang disebabkan produksi tidak
beraturan dari sel darah putih mieloid. CML dapat mengenai semua
kelompok usia, namun terutama berusia antara 40 dan 60 tahun.
5. Leukemia Limfosit Kronik
CLL adalah gangguan proliferatif limfosit.Sel ini terakumulasi di darah,
sumsum tulang, nodus limfe dan limfa.CLL adalah kasus di jumpai
pada individu berusia di atas 50 tahun.

G. MANIFESTASI KLINIS LEUKIMIA


Leukemia memperlihatkan gejala klinis yang mencolok. Leukemia
kronis berkembang secara lambat dan mungkin hanya memperlihatkan
sedikit gejala sampai stadium lanjut.
1. Kepucatan dan rasa lelah akibat anemia
2. Infeksi berulang akibat penurunan sel darah putih
3. Perdarahan dan memar akibat trombositopenia dan gangguan koagulasi
4. Nyeri tulang akibat penumpukan sel di sumsum tulang, yang
menyebabkan peningkatan tekanan dan kematian sel. Tidak seperti nyeri
yang semakin mingkat, nyeri tulang berhubungan dengan leukemia
biasanya bersifat progresif.
5. Penurunan berat karena berkurangnya nafsu makan dan peningkatan
konsumsi kalori oleh sel-sel neoplastik.
6. Limfadenopati, spinomegali, dan hepatomegali akibat infiltrasi sel
leukemik ke organ-organ limfoid dapat terjadi.
7. Gejala system saraf pusat dapat terjadi. (Davey, 2005)

Gejala leukemia biasanya terjadi setelah beberapa minggu dan dapat


dibedakan menjadi tiga tipe:
1. Gejala kegagalan sumsum tulang merupakan manifestasi keluhan yang
paling umum. Leukemia menekan fungsi sumsum tulang, menyebabkan
kombinasi dari anemia, leucopenia (jumlah sel darah putih rendah), dan
trombositopenia (jumlah trombosit rendah). Gejala yang tipikal adalah
lelah dan sesak napas (akibat anemia), infeksi bakteri (akibat
leucopenia), dan perdarahan (akibat trombositopenia dan terkadang
akibat koagulasi intravascular diseminata (DIC). Pada pemeriksaan fisis
ditemukan kulit yang pucat, beberapa memar, dan perdarahan. Demam
menunjukkan adanya infeksi, walaupun pada beberapa kasus, demam
dapat disebabkan oleh leukemia itu sendiri. Namun, cukup berbahaya
apabila kita menganggap bahwa demam yang terjadi merupakan akibat
leukemia itu sendiri.
2. Gejala sistemik berupa malaise, penurunan berat badan, berkeringat, dan
anoreksia cukup sering terjadi.
3. Gejala local, terkadang pasien datang dengan gejala atau tanda infiltrasi
leukemia di kulit, gusi, atau system saraf pusat. (Corwin, 2009)

Tanda dan Gejala Menurut Klasifikasi :

a. Leukemia Limfositik Akut


Gejala klinis LLA sangat bervariasi. Umumnya menggambarkan
kegagalan sumsum tulang. Gejala klinis berhubungan dengan anemia
(mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada), infeksi dan perdarahan.
Selain itu juga ditemukan anoreksi, nyeri tulang dan sendi,
hipermetabolisme.Nyeri tulang bisa dijumpai terutama pada sternum,
tibia dan femur.
b. Leukemia Mielositik Akut
Gejala utama LMA adalah rasa lelah, perdarahan dan infeksi
yang disebabkan oleh sindrom kegagalan sumsum tulang. perdarahan
biasanya terjadi dalam bentuk purpura atau petekia. Penderita LMA
dengan leukosit yang sangat tinggi (lebih dari 100 ribu/mm) biasanya
mengalami gangguan kesadaran, sesak napas, nyeri dada dan priapismus.
Selain itu juga menimbulkan gangguan metabolisme yaitu hiperurisemia
dan hipoglikemia.
c. Leukemia Limfositik Kronik
Sekitar 25% penderita LLK tidak menunjukkan gejala. Penderita
LLK yang mengalami gejala biasanya ditemukan limfadenopati
generalisata, penurunan berat badan dan kelelahan. Gejala lain yaitu
hilangnya nafsu makan dan penurunan kemampuan latihan atau
olahraga. Demam, keringat malam dan infeksi semakin parah sejalan
dengan perjalanan penyakitnya.
d. Leukemia Granulositik/Mielositik Kronik
LGK memiliki 3 fase yaitu fase kronik, fase akselerasi dan fase
krisis blas. Pada fase kronik ditemukan hipermetabolisme, merasa cepat
kenyang akibat desakan limpa dan lambung. Penurunan berat badan
terjadi setelah penyakit berlangsung lama. Pada fase akselerasi
ditemukan keluhan anemia yang bertambah berat, petekie, ekimosis dan
demam yang disertai infeksi.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Hitung darah lengkap (FBC) biasanya menunjukkan gambaran anemia
dan trombositopenia. Jumlah sel darah putih yang normal biasanya
berkurang dan jumlah sel darah putih total dapat rendah, normal, atau
meningkat. Apabila normal atau meningkat, sebagian besar selnya
adalah sel darah putih primitif (blas). (Patrick, 2005)
a. Leukemia limfoblastik akut
Pada kira-kira 50% pasien ditemukan jumlah leukosit
melebihi 10.000/mm3 pada saat didiagnosis, dan pada 20% pasien
melebihi 50.000/mm3.Neutropenia (jumlah neutrofil absolut kurang
dari 500/mm3 [normalnya 1500/mm3] sering dijumpai.Limfoblas
dapat ditemukan di darah perifer, tetapi pemeriksa yang tidak
berpengalaman dapat melaporkan limfoblas tersebut sebagai limfosit
atipik. (William, 2004)
b. Leukemia nonlimfositik akut
Evaluasi laboratorium secara tipikal menunjukkan adanya
neutropenia, anemia, da trombositopenia.Jumlah leukosit bervariasi,
walaupun pada saat didiagnosis kira-kira 25% anak memiliki jumlah
leukosit melebihi 100.000/mm3.Pada darah perifer dapat ditemukan
sel blas.Diagnosis pasti ditegakkan dengan dilakukan pemeriksaan
aspirat sumsum tulang, yang menunjukkan adanya sel blas lebih dari
25%.Seperti pada leukemia limfoblastik akut, cairan spinal juga
harus diperiksa untuk menemukan bukti adanya leukemia.Mencapai
15% pasien memiliki bukti sel blas pada cairan spinal pada saat
didiagnosis. (William, 2004)
c. Leukemia mielositik kronis
Evaluasi laboratorium secara tipikal memperlihatkan
leukositosis nyata, trombositosis, dan anemia ringan.Sumsum tulang
hiperselular tetapi disertai maturasi mieloid yang normal.Sel blas
tidak banyak dijumpai. Pada kira-kira 90% kasus, tanda sitogenik
yang khas pada leukemia mielositik kronis yang terlihat adalah:
kromosom Philadelphia. (William, 2004)
2. Pemeriksaan biokimia dapat menunjukkan adanya disfungsi ginjal,
hipokalemia, dan peningkatan kadar bilirubin. (Patrick, 2005)
3. Profil koagulasi dapat menunjukkan waktu protombin dan waktu
tromboplastin parsial teraktivasi (APPT) yang memanjang karena sering
terjadi DIC (disseminated intravaskular coagulation). (Patrick, 2005)
4. Kultur darah karena adanya risiko terjadi infeksi. (Patrick, 2005)
5. Foto toraks: pasien dengan ALL (acute tymphoblastic leukaemia) jalur
sel T sering memiliki massa mediastinum yang dapat dilihat pada foto
toraks. (Patrick, 2005)
6. Golongan darah karena cepat atau lambat akan dibutuhkan transfusi
darah dan trombosit. (Patrick, 2005)
7. Pemeriksaan penunjang diagnosis spesifik termasuk aspirasi sumsum
tulang yang memperlihatkan limfoblas lebih dari 25%, biopsi trephine,
penanda sel, serta pemeriksaan sitogenetik untuk membedakan ALL
(akut limfoblastik leukemia) dengan AML (akut mieloblastik leukemia)
secara akurat. Auer rod di sitoplasma sel blas merupakan tanda
patognomonik pada AML, namun hanya ditemukan pada 30% kasus.
Pemeriksaan penanda sel dapat membantu membedakan ALL jalur sel B
atau sel T dan juga membedakan subtipe AML yang berbeda-beda. Ini
berguna bagi hematolog untuk merancang terapi dan memperkirakan
prognosis. Analisis kromosom sel leukemia berguna untuk membedakan
ALL dan AML, dan yang penting adalah dapat memberikan informasi
prognosis. (Patrick, 2005)
8. Cairan spinal juga perlu diperiksa karena sistem saraf pusat merupakan
tempat persembunyian penyakit ekstramedular. (Patrick, 2005)

G. PENATALAKSANAAN MEDIS PADA LEUKIMIA


a. Kemoterapi
1. Kemoterapi pada penderita LLA
Tahap 1 (terapi induksi)
Tujuan dari tahap pertama pengobatan adalah untuk
membunuh sebagian besar sel-sel leukemia di dalam darah dan
sumsum tulang. Terapi induksi kemoterapi biasanya
memerlukan perawatan di rumah sakit yang panjang karena
obat menghancurkan banyak sel darah normal dalam proses
membunuh sel leukemia. Pada tahap ini dengan memberikan
kemoterapi kombinasi yaitu daunorubisin, vincristin, prednison
dan asparaginase.
Tahap 2 (terapi konsolidasi/ intensifikasi)
Setelah mencapai remisi komplit, segera dilakukan
terapi intensifikasi yang bertujuan untuk mengeliminasi sel
leukemia residual untuk mencegah relaps dan juga timbulnya
sel yang resisten terhadap obat. Terapi ini dilakukan setelah 6
bulan kemudian.
Tahap 3 ( profilaksis SSP)
Profilaksis SSP diberikan untuk mencegah kekambuhan
pada SSP. Perawatan yang digunakan dalam tahap ini sering
diberikan pada dosis yang lebih rendah. Pada tahap ini
menggunakan obat kemoterapi yang berbeda, kadang-kadang
dikombinasikan dengan terapi radiasi, untuk mencegah
leukemia memasuki otak dan sistem saraf pusat.
Tahap 4 (pemeliharaan jangka panjang)
Pada tahap ini dimaksudkan untuk mempertahankan
masa remisi. Tahap ini biasanya memerlukan waktu 2-3 tahun.

Angka harapan hidup yang membaik dengan pengobatan sangat


dramatis. Tidak hanya 95% anak dapat mencapai remisi penuh,
tetapi 60% menjadi sembuh. Sekitar 80% orang dewasa mencapai
remisi lengkap dan sepertiganya mengalami harapan hidup jangka
panjang, yang dicapai dengan kemoterapi agresif yang diarahkan
pada sumsum tulang dan SSP.

2. Kemoterapi pada penderita LMA


Fase induksi
Fase induksi adalah regimen kemoterapi yang intensif,
bertujuan untuk mengeradikasi sel-sel leukemia secara
maksimal sehingga tercapai remisi komplit. Walaupun remisi
komplit telah tercapai, masih tersisa sel-sel leukemia di dalam
tubuh penderita tetapi tidak dapat dideteksi. Bila dibiarkan, sel-
sel ini berpotensi menyebabkan kekambuhan di masa yang
akan datang.
Fase konsolidasi
Fase konsolidasi dilakukan sebagai tindak lanjut dari
fase induksi. Kemoterapi konsolidasi biasanya terdiri dari
beberapa siklus kemoterapi dan menggunakan obat dengan
jenis dan dosis yang sama atau lebih besar dari dosis yang
digunakan pada fase induksi.

Dengan pengobatan modern, angka remisi 50-75%, tetapi angka


rata-rata hidup masih 2 tahun dan yang dapat hidup lebih dari 5
tahun hanya 10%.

3. Kemoterapi pada penderita LLK


Derajat penyakit LLK harus ditetapkan karena menetukan
strategi terapi dan prognosis. Salah satu sistem penderajatan yang
dipakai ialah klasifikasi Rai:
- Stadium 0 : limfositosis darah tepi dan sumsum tulang
- Stadium I : limfositosis dan limfadenopati.
- Stadium II : limfositosis dan splenomegali/ hepatomegali.
- Stadium III : limfositosis dan anemia (Hb < 11 gr/dl).
- Stadium IV : limfositosis dan trombositopenia <100.000/mm3
dengan/tanpa gejala pembesaran hati, limpa, dan kelenjar.

Terapi untuk LLK jarang mencapai kesembuhan karena


tujuan terapi bersifat konvensional, terutama untuk mengendalikan
gejala. Pengobatan tidak diberikan kepada penderita tanpa gejala
karena tidak memperpanjang hidup. Pada stadium I atau II,
pengamatan atau kemoterapi adalah pengobatan biasa. Pada
stadium III atau IV diberikan kemoterapi intensif.

Angka ketahanan hidup rata-rata adalah sekitar 6 tahun dan


25% pasien dapat hidup lebih dari 10 tahun. Pasien dengan sradium
0 atau 1 dapat bertahan hidup rata-rata 10 tahun. Sedangkan pada
pasien dengan stadium III atau IV rata-rata dapat bertahan hidup
kurang dari 2 tahun.
4. Kemoterapi pada penderita LGK/LMK
Fase Kronik
Busulfan dan hidroksiurea merupakan obat pilihan yag
mampu menahan pasien bebas dari gejala untuk jangka waktu
yang lama. Regimen dengan bermacam obat yang intensif
merupakan terapi pilihan fase kronis LMK yang tidak
diarahkan pada tindakan transplantasi sumsum tulang.
Fase Akselerasi,
Sama dengan terapi leukemia akut, tetapi respons sangat
rendah.
b. Radioterapi
Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk
membunuh sel-sel leukemia. Sinar berenergi tinggi ini ditujukan
terhadap limpa atau bagian lain dalam tubuh tempat menumpuknya sel
leukemia. Energi ini bisa menjadi gelombang atau partikel seperti
proton, elektron, x-ray dan sinar gamma. Pengobatan dengan cara ini
dapat diberikan jika terdapat keluhan pendesakan karena
pembengkakan kelenjar getah bening setempat.
c. Transplantasi Sumsum Tulang
Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk mengganti
sumsum tulang yang rusak dengan sumsum tulang yang sehat.
Sumsum tulang yang rusak dapat disebabkan oleh dosis tinggi
kemoterapi atau terapi radiasi. Selain itu, transplantasi sumsum tulang
juga berguna untuk mengganti sel-sel darah yang rusak karena kanker.
Pada penderita LMK, hasil terbaik (70-80% angka keberhasilan)
dicapai jika menjalani transplantasi dalam waktu 1 tahun setelah
terdiagnosis dengan donor Human Lymphocytic Antigen(HLA) yang
sesuai. Pada penderita LMA transplantasi bisa dilakukan pada
penderita yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan dan
pada penderita usia muda yang pada awalnya memberikan respon
terhadap pengobatan.
d. Terapi Suportif
Terapi suportif berfungsi untuk mengatasi akibat-akibat yag
ditimbulkan penyakit leukemia dan mengatasi efek samping obat.
Misalnya transfusi darah untuk penderita leukemia dengan keluhan
anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan dan antibiotik
untuk mengatasi infeksi.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
PADA ANAK DENGAN GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI
( LEUKIMIA )

A. PENGKAJIAN
I. Identitas
a. Anak

Nama :

Anak yang ke :

Tanggal lahir/umur :

Jenis kelamin :

Agama :

b. Orang tua

1. Ayah

Nama :

Umur :

Pekerjaan :

Pendidikan :

Agama :

Alamat :

2. Ibu

Nama :

Umur :

Pekerjaan :

Pendidikan :

Agama :

Alamat :
c. Penanggung Jawab
Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk
memudahkan dan jadi penanggung jawab klien selama
perawatan, data yang terkumpul meliputi nama, umur,
pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.

II. Riwayat kesehatan


a) Keluhan Utama
Merupakan keluhan yang paling utama yang dirasakan oleh klien
saat MRS.
b) Keluhan saat pengkajian
Hal yang perlu dikaji :
1. Kaji adanya tanda tanda anemia : kelemahan, kelelahan,
pucat, sakit kepala, anoreksia, muntah, sesak, nafas cepat.

2. Kaji adanya tanda tanda leukopenia : demam, stomatitis,


gejala infeksi pernafasan atas, infeksi perkemihan; infeksi
kulit dapat timbul kemerahan atau hiotam tanpa pus

3. Kaji adanya tanda tanda trombositopenia : ptechiae,


purpura, perdarahan membran mukosa, pembentukan
hematoma,

4. Kaji adanya tanda tanda invasi ekstra medulla :


limfadenopati, hepatomegali, splenomegali.

5. Kaji adanya pembesaran testis, hematuria, gagal ginjal,


inflamasi di sekitar rektal dan nyeri.

a. Data Subjektif

Data Subjektif yang mungkin timbul pada penderita


leukemia adalah sebagai berikut :

Lelah
Letargi
Pusing
Sesak
Nyeri dada
Napas sesak
Priapismus
Hilangnya nafsu makan
Demam
Nyeri Tulang dan Persendian.

b. Data Objektif
Data Subjektif yang mungkin timbul pada penderita
leukemia adalah sebagai berikut :
Pembengkakan Kelenjar Lympa
Anemia
Perdarahan
Gusi berdarah
Adanya benjolan tiap lipatan
Ditemukan sel sel mudah
a) Riwayat kesehatan sekarang
Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama.
b) Riwayat kesehatan dahulu
1. Perawat melakukan pengkajian riwayat kesehatan masa lalu
dengan interview apakah pasien menderita: anemia,
leukemia, mononukleosus, malabsorpsi, gangguan liver:
hepatitis, sirosis; tromboplebitis atau trombosis; gangguan
limpa.
2. Prenatal (masa ibu mengandung)
3. Prenatal dan Postnatal (masa ibu melahirkan)
4. Hospitalisasi/tindakan operasi
5. Injuri/kecelakaan
6. Pengobatan kanker sebelumnya
7. Imunisasi
8. Riwayat pertumbuhan anak
c) Riwayat social
1. Siapa yang mengasuh anak dalam keluarga ?
2. Bagaimana hubungan dengan anggota keluarga ?
3. Bagaimana hubungan dengan teman sebaya ?
d) Riwayat keluarga
1. Social ekonomi
2. Lingkungan rumah
3. Penyakit keluarga
4. Genogram
e) Pengkajian tingkat perkembangan anak saat ini
1. Motorik kasar
2. Motorik halus
3. Bahasa
4. Personal social

III. Pengkajian pola kesehatan


Menurut pola fungsi Gordon 1982, terdapat 11 pengkajian
pola fungsi kesehatan (Potter, Patricia. A. 1996) :
1. Pola Persepsi Dan Pemeliharaan Kesehatan : Pada pasien
leukimia pada pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan yang
dikaji mengenai :
a. Apakah orang tua pasien mengetahui tentang penyakit
leukimia ?
b. Apakah orang tua memahami keadaan kesehatan anaknya?
c. Apakah jika sakit pasien segera berobat ke dokter, ataukah
menggunakan obat tradisional?
2. Pola Nutrisi : Pada pola ini, untuk pasien leukimia, fokus yang
dapat dikaji mengenai:
a. Perawat mengkaji apakah pasien mengalami kesulitan
makan, mengunyah, menelan?
b. Bagaimana selera makan pasein, apakah pasien
mengkonsumsi vitamin, atau zat besi?
c. Apakah pasien merasa mual, mengalami muntah,
perdarahan, memar, perubahan kondisi kulit, keringat
malam, intoleransi terhadap suhu/iklim yang dingin,
pembengkakan pada lipatan ketiak, leher, lipatan paha?
d. Apakah pasien mengalami penurunan atau peningkatan
berat badan?
3. Pola Eliminasi : Pada pola pengkajian pasien leukimia, fokus
yang dikaji mengenai:
a. Apakah pasien mengalami buang air besar berwarna hitam
atau seperti ter, kencing berdarah, urine output berkurang,
diare, menorrhagia, ekimosis, dan epistaxis.?
4. Aktivitas dan Latihan : Pada pola ini pasien leukimia, fokus
yang dikaji mengenai :
Kemampuan perawatan diri

Tabel 1. Skor

SMRS MRS
Aktivitas
0 1 2 3 4 0 1 2 3 4
Mandi
Berpakaian/berdandan
Eliminasi/toileting
Mobilitas di tempat tidur
Berpindah
Berjalan
Naik tangga
Berbelanja
Memasak
Pemeliharaan rumah

Skor: 0 = Mandiri 3 = Dibantu orang lain & alat


1 = Alat bantu 4 = Tergantung/tidak mampu
2 = Dibantu orang lain
Aktivitas sehari-hari
a. Apakah pasien mengalami rasa lelahan yang berlebihan,
bernafas pendek-pendek saat istirahat dan/atau saat beraktifitas,
mengalami keterbatasan gerak sendi, gait yang tidak baik,
perdarahan dan/atau memar setelah beraktifitas.

5. Tidur dan Istirahat : Pada pola pengkajian pasien leukimia,


fokus yang dikaji mengenai:
a. Bagaimanakah pola tidur pasien selama sakit? Yang
digambarkan dengan pukul berapa pasien mulai tidur dan
sampai pukul berapa pasien tidur saat malam hari?
b. Bagaimana frekuensi tidur pasien selama sakit? Yang
digambarkan dengan berapa lama pasien tidur malam?
c. Apakah pasien mengalami pola tidur NREM (Non-Rapid
Eye Movement)? Ataukah pasien mengalami pola tidur
REM (Rapid Eye Movement)?

6. Sensori, Presepsi dan Kognitif : Pada pola ini leukimia, fokus


yang dikaji mengenai :
a. Bagaimana cara pembawaan pasien saat bicara? Apakah
normal, gagap, atau berbicara tak jelas?
b. Bagaimanakah tingkat ansietas pada pasien?
c. Apakah pasien mengalami nyeri?
Jika iya, lakukan pengkajian dengan menggunakan:
P (provoking atau pemacu) : Hal faktor yang
memperparah atau
meringankan nyeri

Q (quality atau kualitas) : Kualitas nyeri (misalnya,


tumpul, tajam, merobek)
R (region atau daerah) : Daerah penjalaran nyeri
S (severity atau keganasan) : Identitas (intensitas) dari
keluhan utama apakah
sampai mengganggu
aktivitas atau tidak
T (time atau waktu) : Serangan, lamanya,
frekuensi, dan sebab

7. Konsep diri : Pada pola ini pasien leukimia pada umumnya


dikaji mengenai:
Body image/gambaran diri
a. Adakah prosedur pengobatan yang mengubah fungsi alat
tubuh?
b. Apakah pasien memiliki perubahan ukuran fisik?
c. Adakah perubahan fisiologis tumbuh kembang?
d. Apakah pasien pernah operasi?
e. Bagaimana proses patologi penyakit?
f. Apakah fungsi alat tubuh pasien terganggu?
g. Adakah keluhan karena kondisi tubuh?
Role/peran
a. Apakah pasien mengalami overload peran?
b. Adakah perubahan peran pada pasien?
Identity/identitas diri
a. Apakah pasien merasa kurang percaya diri?
Self esteem/harga diri
a. Apakah pasien menunda tugas selama sakit?
Self ideals/ideal diri
a. Apakah pasien tidak ingin berusaha selama sakit

8. Seksual dan Repruduksi : Pada pola ini pasien leukimia pada


umumnya dikaji mengenai :
a. Apakah pasien mempunyai masalah hematology yang
menyebabkan masalah seksual dan reproduksinya?
b. Apakah orang tau rajin membersihkan alat genetalia
anak ?
9. Pola Peran Hubungan : Pada pola ini pasien leukimia pada
umumnya dikaji mengenai :
a) Apakah pasien sudah sekolah?
b) Bagaimanakah pasien berhubungan dengan orang lain?

10. Manajemen Koping Stress : Pada pola ini pasien leukimia pada
umumnya dikaji mengenai bagaimana orang tua pasien
menangani masalah yang dimiliki anaknya dan bagaimana cara
orang tua pasien menggunakan system pendukung dalam
menghadapi masalah.

11. Sistem Nilai Dan Keyakinan : Pada pola ini pasien leukimia
pada umumnya dikaji mengenai bagaimana orang tua pasien
memandang secara spiritual serta keyakinannya masing-masing.

IV. Pemeriksaan Fisik


Untuk memperoleh informasi yang menyangkut adanya
kemungkinan masalah kesehatan pada anak, tinjauan ini akan
menjadi pilihan yang lebih baik selain pengkajian riwayat
kesehatan anak karena dalam pengkajian cenderung hanya
berfokus pada informasi yang diberikan anak/keluarga sedangkan
kemungkinan terhadap kondisi kelainan yang ada pada tubuh anak
belum disadari olehnya. Meliputi :
1. Kesan Umum : Biasanya tampak lemah
2. Warna kulit :
3. Turgor kulit :
4. Gejala Kardinal
Suhu =
Nadi =
Pernafasan =
Tekanan darah =
Pemeriksaan Fisik Head To Toe
1. Kepala
Bentk kepala : mesochepal
Rambut : kebersihan, warna, tekstur
Distribusi rambut : seperti merata, tebal,kuat/ mudah
tercabut.
2. Mata
Sklera : ikterik atau tidak. Sclera penderita
leukemia akan terlihat tidak ikterik.
Konjungtiva : anemis atau tidak. Pada penderita
leukemia akan ditemukan konjungtiva yang anemis.
Palpebra : perhatikan kesimetrisan kiri dan
kanan
Pupil : bentuk, reaksi cahaya
3. Hidung
- Inskpeksi : kesimetrisan bentuk
hidung, mukosa hidung, sekret.
- Palpasi : adanya polip. Penderita
leukemia memiliki pemeriksaan hidung yang normal.
4. Telinga
- Inspeksi simetris kiri dan kanan, sirumen.
- Palpasi nyeri tekan. Periksa fungsi pendengaran dan
keseimbangan. Pada penderita leukemia biasanya tidak
ditemukan kelainan dan bersifat normal.
5. Mulut
- Inspeksi : kebersihan, apakah terdapat peradangan (infeksi oleh
jamur atau bakteri ), perdarahan gusi. Biasa papa penderita
leukemia, ditemukan bibir pucat, sudut sudut bibir pecah
pecah.
6. Leher
- Inspeksi dan palpasi adanya pembesaran getah bening, kelenjer
tiroid, JVP. Penderita leukemia tidak mengalami pembesaran
kelenjer tiroid.
7. Thoraks
Jantung
- Inspeksi : iktus terlihat atau tidak, inspeksi
kesimetrisan. Pada penderita leukemia, iktus terlihat.
- Palpasi : raba iktus kordis. Normalnya, iktus teraba.
- Perkusi : tentukan batas jantung.
- Auskultasi : terdengar bunyi jantung S1 dan S2 regular,
normal.
Paru paru
- Inspeksi : kesimetrisan kiri dan kanan saat inspirasi
dan ekspirasi, biasanya normal.
- Palpasi : vokal femoris teraba, simetris kiri dan
kanan.
- Perkusi : sonor bila normal
- Auskultasi : biasanya bunyi nafas vesikuler.
8. Abdomen
- Inspeksi : apakah dinding abdomen mengalami memar, bekas
operasi, dsb.
- Auskultasi : bising usus normal
- Palpasi : apakah ada nyeri tekan, hepar teraba atau tidak.
Biasaya terdapat nyeri tekan, dan hepar akan teraba.
- Perkusi : lakukan perkusi, biasa didapat bunyi tympani untuk
semua daerah abdomen
9. Ekstremitas : kekuatan dan tonus otot , refleks.
- Inspeksi : kesemetrisan
- palpasi : adanya nyeri tekan pada ekstremitas atas dan bawah.
Biasanya pada penderita leukemia akan mengalami nyeri pada
tulang dan persendian.
10. Antropometri
BB =
TB =
Lingkar kepala =
Lingkar dada =
Lingkar lengan =

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan menurut The North American Nursing
Diagnosis Association (NANDA, 2012) adalah suatu penilaian klinis
tentang respon individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah
kesehatan/proses kehidupan yang aktual dan potensial.
1. Kelemahan/keletihan berhubungan dengan menurunnya jumlah sel
darah merah akibat dari leukemia.
2. Risiko cedera: perdarahan berhubungan dengan penurunan jumlah
trombosit.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan
tubuh.
4. Nyeri Akut berhubungan dengan efek fisiologis akibat dari leukemia.

C. Rencana Keperawatan
Rencana keperawatan merupakan serangkaian tindakan atau
intervensi untuk mencapai tujuan pelaksanaan asuhan keperawatan.
Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk perilaku spesifik yang
diharapkan dari pasien dan atau tindakan yang harus dilakukan oleh
perawat. Berdasarkan diagnosa yang ada maka dapat disusun rencana
keperawatan sebagai berikut:
No. Diagnosa Tujuan Dan Intervensi Rasional
keperawatan Kriteria Hasil
1 Kelemahan/ Setelah dilakukan asuhan NIC:
keletihan keperawatan selama 3x24 a. Energy management :
berhubangan jam diharapkan pasien 1. Observasi adanya 1. Menentukan
dengan tidak mengalami pembatasan klien drajat dan efek
menurunnya kelemahan/keletihan dalam melakukan ketidakmampuan
jumlah sel darah dengan aktivitas
merah akibat dari 2. Dorong anak untuk 2. Untuk
NOC:
leukemia mengungkapkan meminimalkan
1. Endurance :
perasaan terhadap rasa tidak
- Concentrasion
keterbatasan nyaman
- Energy conservation
3. Kaji adanya factor 3. Mengidentifikasi
2. Nutritional status :
yang menyebabkan factor penyebab
energy
kelelahan 4. Untuk mencegah
Kriteria hasil :
4. Monitor nutrisi dan keseimbangan
1. Memverbalisasikan
sumber energy yang nitrogen yang
peningkatan energy
adekuat adekuat
untuk merasa lebih
5. Monitor klien akan 5. Menentukan
baik
adanya kelelahan fisik derajat dan efek
2. Menjelaskan
dan emosi secara ketidakmampuan
penggunaan energy
berlebihan 6. Untuk
untuk mengatasi
6. Monitor respon memberikan
kelelahan
kardiovaskuler intervensi dini
3. Kecemasan menurun
terhadap aktivitas dalam mengatasi
4. Glukosa darah adekuat
7. Monitor pola tidur dan pendarahan
5. Kualitas hidup
lamanya tidur/istirahat hindari obat-obat
meningkat
klien yang
6. Istirahat cukup
8. Dukung klien dan mengandung
7. Mempertahankan
keluarga untuk aspirin
kemampuan untuk
mengungkapkan 7. Menambah
berkonsentrasi
perasaan berhubungan energy untuk
dengan perubahan penyembuhan
hidup yang disebabkan dan regenerasi
keletihan seluler
9. Bantu aktivitas sehari- 8. Menentukan
hari sesuai dengan derajat dan efek
kebutuhan ketidakmampuan
10. Tingkatkan tirah baring 9. Memaksimalkan
dan pembatasan sediaan energy
aktivitas (tingkatkan untuk tugas
periode istirahat) perawatn diri
11. Konsultasi dengan ahli 10. Untuk
gizi untuk merangsang
meningkatkan asupan sirkulasi dan
makanan yang mencegah
berenergi tinggi tekanan pada
kulit
11. Untuk
mempertahan
kan nutrisi yang
optimal
2 Risiko cidera : Setelah dilakukan asuhan NIC:
perdarahan keperawatan selama 3x24 a. Environment
berhubungan jam diharapkan pasien Management
dengan tidak mengalami risiko 1. Sediakan lingkungan 1. Memberikan kondisi
penurunan infeksi dengan yang aman untuk klien yang aman untuk
jumlah trombosit. pasien.
NOC: 2. Identifikasi kebutuhan
- Risk control keamanan pasien 2. Mengidentifikasi
Kriteria hasil : sesuai kondisi fisik kebutuhan individual
1. Klien terbebas dari dan membantu
3. Menghindarkan
cedera pemilihan intervensi
lingkungan yang
2. Klien mampu berbahaya 3. Untuk meminimalkan
menjelaskan cara 4. Menyediakan tempat lingkungan dari
mencegah cedera tidur yang nyaman dan sumber infeksi
bersih
3. Klien mampu 4. Menghemat energy
menjelaskan factor 5. Memberikan untuk aktifitas dan
resiko dari lingkungan penerangan yang regenerasi seluler
atau perilaku personal cukup atau penyambungan
jaringan
4. Mampu meodifikasi 6. Menganjurkan
gaya hidup untuk keluarga untuk 5. Memberikan rasa
mengurangi resiko menemani klien nyaman pada pasien.

5. Mampu mengenali 6. Untuk mendorong


perubahan status komunikasi dan
kesehatan ekspresi perasaan.

3 Risiko infeksi Setelah dilakukan asuhan NIC:


berhubungan keperawatan selama 3x24 a. Environment
dengan jam diharapkan pasien Management
menurunnya tidak mengalami risiko 1. Sediakan lingkungan 1. Memberikan kondisi
sistem pertahanan infeksi dengan yang aman untuk klien yang aman untuk
tubuh. pasien.
NOC : 2. Identifikasi kebutuhan
- Immune status keamanan pasien 2. Mengidentifikasi
- Knowledge: infection sesuai kondisi fisik kebutuhan individual
control dan membantu
3. Menghindarkan
- Risk control pemilihan intervensi
lingkungan yang
Kriteria hasil : berbahaya 3. Untuk meminimalkan
1. Anak (klien) bebas dari 4. Menyediakan tempat lingkungan dari
tanda dan gejala infeksi tidur yang nyaman dan sumber infeksi

2. Mendeskripsikan proses perlu istirahat tanpa 4. Menghemat energy

penularan penyakit, gangguan. untuk aktifitas dan


faktor yang 5. Memberikan regenerasi seluler
mempengaruhi atau penyambungan
penularan dan penerangan yang jaringan
penatalaksanaannya cukup
5. Memberikan rasa
3. Menunjukan 6. Menganjurkan nyaman pada pasien.
kemampuan untuk keluarga untuk
6. Untuk mendorong
mencegah timbulnya menemani klien
komunikasi dan
infeksi
ekspresi perasaan.
4. Jumlah leuosit dalam
jumlah normal

5. Menunjukan perilaku
hidup sehat

4 Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan NIC:


berhubungan keperawatan selamax 24 a. Pain management a. Pain management
dengan efek jam diharapkan nyeri 1. Lakukan pengkajian 1. Informasi
fisiologis akibat passion terkontrol dengan nyeri secara memberikan data
dari leukemia. komprehensif. dasar untuk
NOC:
mengevaluasi
- Pain level 2. Observasi reaksi
kebutuhan atau
- Pain control nonverbal dari
keefektifan
- Comfort level ketidaknyamanan
intervensi.
Kriteria hasil :
3. Kontrol lingkungan 2. Untuk
1. Mampu mengontrol yang dapat meminimalkan
nyeri mempengaruhi nyeri rasa tidak nyaman

2. Melaporkan bahwa 4. Pilih penanganan nyeri 3. Untuk intervensi


nyeri berkurang dengan baik farmakologi dini penanganan
menggunakan maupun non nyeri
manajemen nyeri farmakologi
4. Sebagai analgetik
3. Mampu mengenali 5. Ajarkan teknik tambahan
nyeri nonfarmakologi untuk
5. Untuk Analgetik
mengurangi nyeri
4. Menyatakan rasa tambahan
nyaman setelah nyeri 6. Tingkatkan istirahat 6. Menambah energy
berkurang dan untuk
penyembuhan dan
5. Menggunakan tindakan
regenerasi seluler
pengurangan nyeri (
b. Analgesic
analgetik) yang di b. Analgesic
administration administration
rekomendasikan.
1. Untuk menentukan
1. Tentukan lokasi,
perubahan
karakteristik,dan derajat
kebutuhan dosis
nyeri sebelum
sebelum pemberian
pemberian obat
obat.
2. Cek intruksi dokter
2. Menentukan
tentang jenis obat, dosis
perubahan
dan frekuensi
kebutuhan dosis
3. Pilih analgesik waktu pemberian
tergantung tipe dan obat.
berat nyeri
3. Untuk mencegah
4. Monitor tanda vital kambuhnya nyeri.
sebelum dan sesudah
4. Perubahan TTV
pemberian analgesik
merupakan tanda
pertama kali
dini terjadinya
sepsi, terutama bila
terjadi peningkatan
suhu.

Sumber: NANDA International, (2015). Nursing Outcomes Clasification (NOC), 2013.


Nursing Interventions Clasification (NIC) 2013.
D. IMPLEMENTASI
Dilakukan berdasarkan intervensi.

E. EVALUASI
Menurut Poer. (2012), proses evaluasi dibagi menjadi 2 tahap yaitu :
a. Evaluasi Formatif (Merefleksikan observasi perawat dan analisis
terhadap klien terhadap respon langsung pada intervensi keperawatan)
b. Evaluasi Sumatif (Merefleksikan rekapitulasi dan sinopsis analisis
mengenai status kesehatan klien terhadap waktu)
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2009. Patofisiologi: Buku Saku Edisi 3. Jakarta: EGC.

Davey, Patrick. 2005. At a glance Medicine. Jakarta: EGC.

Fachri , 2017. Laporan Pendahuluan Leukemia Pada Anak. [Online].


https://www.scribd.com/document/349714030/Laporan-Pendahuluan-
Leukemia-Pada-Anak. (diakses, sabtu, 14 oktober 2017).

Handayani, Wiwik & Hariwibowo, Andi Sulistyo. 2008. Buku Ajar Asuhan
Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta:
Salemba Medika.

Herman, T. Heather. 2012. Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi


2012-2014. Jakarta : EGC.

Hidayat, Aziz Alimut. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 2. Jakarta:


Salemba Medika.

Hidayat, Aziz Alimut. 2008. Pengantar Ilmu Anak untuk Pendidikan Kebidanan.
Jakarta: Salemba Medika.

Moorhead, S. Johnson, M. Maas, M. & Swanson, E. (2013). Nursing Outcomes


Clasification (NOC). Elseiver.

Bulechesk, G. Butcher, H. Dochterman, J. & Wagner, C. (2013). Nursing


Interventions Clasification (NIC). Elseiver.

NANDA International, (2015). Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi


2015-2017. Jakarta: EGC.

Schwartz, M. William. 2004. Pedoman Klinis Pediatri. Jakarta: EGC.

Suriadi. Yuliani, Rita. 2006. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta: Penebar
Swadaya.

Chocobee, 2011. Askep Leukimia Pada Anak. [Online].


https://www.scribd.com/document/49755825/ASKEP-LEUKIMIA-
PADA-ANAK. (diakses, sabtu, 14 oktober 2017).

Anda mungkin juga menyukai