Anda di halaman 1dari 20

TIROID DAN ANTI TIROID

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 5

NAMA ANGGOTA :

1. SITI NUR DESTIANA 5. TRI DIA SAPUTRI

2. STEPANI ERLIYANI 6. WINDY VIA SEVENTINA

3. TIKA APRIANTI 7. WAHWAYASA PUTRI D

4. TRI DESYA KARASMA 8. YOLANDA SHERLY SAFITRI

TINGKAT : 1 REGULAR A

DOSEN PENGAJAR : DRA. RATNANINGSIH, APT., M.KES.

DINAS PENDIDIKAN NASIONAL

POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG

TAHUN AJARAN 2015/2016


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kita semua sehingga penulis berhasil
menyelesaikan Makalah Farmakologi ini yang alhamdulillah tepat pada
waktunya yang berjudul Hormon Tiroid dan Anti Tiroid .
Makalah ini berisikan tentang tiroid dan anti tiroid yang akan penulis
bahas secara lebih dalam, karena selain kita perlu memahami dan mengerti
bagaimana farmakodinamis, farmakokinetika serta dosis yang digunakan dalam
penggunaan obat tiroid dan anti tiroid , kita juga perlu mengetahui banyak macam
macam penyakit serta jenis jenis obat yang digunakan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kritik dan saran yag membangun dari semua pihak yang selalu kami harapkan
demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.
Semoga dari makalah ini, kita dapat menambah pengetahuan mengenai teknik
pemberian obat.

Palembang, April 2016

Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelenjar tiroid terletak tepat dibawah laring pada kedua sisi dan sebelah
anterior trakea. Tiroid menyekresikan dua hormon utama, tiroksin dan
triiodotironin serta hormon kalsitonin yang mengatur metabolisme kalsium
bersama dengan parathormon yang dihasilkan oleh kelenjar paratiroid Kerja
kelenjar tiroid ini dipengaruhi oleh kecukupan asupan iodium. Defisiensi hormon
tiroid ini dapat menimbulkan gangguan tertentu yang spesifik. Cretinism,
misalnya, yang ditandai dengan gangguan pertumbuhan dibawah normal disertai
dengan retardasi mental merupakan akibat dari hormon tiroid yang inadekuat pada
saat perkembangan janin. Kekurangan asupan yodium yang biasanya terjadi pada
daerah goiter (gondok) endemis banyak terjadi karena defisiensi yodium
menyebabkan hipotiroidisme sehingga mengakibatkan pembengkakan kelenjar.
Kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid, yang akan disimpan sebagai residu
asam amino tiroglobulin, tiroglobulin merupakan glikoprotein yang menempati
sebagian besar folikel koloid kelenjer tiroid. Secara garis besar, sintesis,
penyimpanan, sekresi dan konversi hormone tiroid terdiri dari beberapa tahap:

ambilan ion yodida oleh kelenjer

oksidasi yodida dan yodinasi gugus tirosil pada tiroglobulin

penggabungan residu yodotirosin dan menghasilkan yodotironin


resorpsi koloid tiroglobulin dari lumen kedalam sel
proteolsis tiroglobulin dan pengeluaran atau sekresi tiroksin ( T4 ) dan (
T3) ke aliran darah
recyling yodium diantara sel - sel tiroid melalui deodinasi dari mono dan
diadotirasin dan penggunaan kembali ion yodida dan konversi T4 menjadi
T3 di jaringan perifer da dalam kelenjer tiroid

1.2 Rumusan Masalah


1) Apa yang dimaksud dengan Tiroid dan Anti Tiroid?
2) Gangguan fungsi yang dapat terjadi pada Tiroid?
3) Apa saja jenis obat dan bagaimana dosis obat yang digunakan untuk
pederita gangguan fungsi Tiroid?
4) Apa saja jenis obat dan dosis yang digunakan pada Anti Tiroid?
5) Bagaimana farmakokinetika dan farmakodinamika yang terjadi pada
Anti Tiroid?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat
memahami tentang hormone tiroid dan obat-obatan yang dapat mempengaruhi
hormone tiroid, selain itu untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata
kuliah.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Tiroid
2.1.1 Pengertian Tiroid

Kelenjar tiroid ialah organ endokrin yang terletak di leher manusia.


Fungsinya ialah mengeluarkan hormon tiroid. Antara hormon yang terpenting
ialah Thyroxine (T4) dan Triiodothyronine (T3). Hormon-hormon ini mengawal
metabolisme (pengeluaran tenaga) manusia.
Sel tiroid adalah satu-satunya sel dalam tubuh manusia yang dapat
menyerap iodin atau yodium yang diambil melalui pencernaan makanan. Iodin ini
akan bergabung dengan asam amino tirosin yang kemudian akan diubah menjadi
T3 (triiodotironin) dan T4 (triiodotiroksin). Dalam keadaan normal pengeluaran
T4 sekitar 80% dan T3 15%. Sedangkan yang 5% adalah hormon-hormon lain
seperti T2.
T3 dan T4 membantu sel mengubah oksigen dan kalori menjadi tenaga
(ATP = adenosin tri fosfat). T3 bersifat lebih aktif daripada T4. T4 yang tidak
aktif itu diubah menjadi T3 oleh enzim 5-deiodinase yang ada di dalam hati dan
ginjal. Proses ini juga berlaku di organ-organ lain seperti hipotalamus yang berada
di otak tengah.
Hormon-hormon lain yang berkaitan dengan fungsi tiroid ialah TRH
(thyroid releasing hormon) dan TSH (thyroid stimulating hormon). Hormon-
hormon ini membentuk satu sistem aksis otak (hipotalamus dan pituitari) kelenjar
tiroid. TRH dikeluarkan oleh hipotalamus yang kemudian merangsang kelenjar
pituitari mengeluarkan TSH. TSH yang dihasilkan akan merangasang tiroid untuk
mengeluarkan T3 dan T4. Oleh karena itu hal yang mengganggu jalur di atas akan
menyebabkan produksi T3 dan T4

2.1.2 Gangguan Fungsi


Ada dua jenis gangguan fungsi tiroid yang utama:
1. Hipertiroidisme / Tirotoksikosis
Hipertiroidisme adalah terjadinya produksi hormon thyroid yang
berlebihan. Hal ini mengakibatkan aktifitas metabolik meningkat, berat badan
menurun, gelisah, tremor, diare, frekuensi jantung meningkat dan pada
hipertiroidisme berlebihan gejalanya adalah toksisitas hormon. Hipertiroidisme
berlebihan dapat menyebabkan goiter eksoftalmik (penyakit Grave). Gejalanya
berupa pembengkakan jaringan di bawah kantong mata, sehingga bola mata
menonjol.
Dalam hyperthyroidism / thyrotoxicosis, hormon tiroid T3 dan T4 didapati
lebih tinggi daripada orang biasa. Antara penyebab penyakit ini ialah :

Grave's disease. Antibodi di dalam badan menyebabkan tiroid membesar


dan mengeluarkan lebih hormon. Selalunya semua (atau sebahagian besar)
sel tiroid orang yang menghidapi penyakit ini mengeluarkan hormon
berlebihan
Thyroiditis (tiroid bengkak). Selalunya keadaan ini boleh elok sendiri
Toxic nodule goitre. Terlalu banyak iodin di dalam makanan

Tanda-tanda orang yang menghidapi hipertiroidisme:

Bengkak di leher
Cirit birit
Degupan jantung bertambah, sentiasa berdebar-debar
Gementar dan gelisah, terketar-ketar
Haid tidak teratur, kurang atau tidak datang
Kesuburan turun
Penumpuan kurang
Mata menjadi besar (bulging)
Angin yang tidak menentu
Kejang otot
Oesteoporosis (kereputan tulang)
Pengeluaran peluh banyak, bertambah. Kulit lembap
Suhu badan naik, tak tahan panas
Rambut tidak kuat
Sukar bernafas, sukar tidur, dan lemah
Tekanan darah naik
Turun berat badan walaupun selera naik

2 Hipotiroidisme
Orang yang menghidap hypothyroidism pula tidak mempunyai hormon tiroid
yang cukup. Hipotiroidisme adalah penurunan produksi hormon thyroid. Hal
ini mengakibatkan penurunan aktifitas metabolik, konstipasi, letargi, reaksi
mental melambat dan peningkatan simpanan lemak. Pada orang dewasa,
kondisi ini menyebabkan miksedema, yang ditandai dengan adanya akumulasi
air dan musin di bawah kulit, sehingga terlihat penampakan edema.
Sedangkan pada anak kecil, hipotiroidisme mengakibatkan retardasi mental
dan fisik.

2.1.3 Jenis dan Dosis Obat

Pengobatannya dilakukan dengan terapi-substitusi dengan serbuk tiroid atau


hormonnya.

1. Serbuk tiroid (thyranon)

Serbuk organ diperoleh dari tiroid binatang menyusui, lazimnya domba,


karena kadar hormonnya tinggi, yang telah dibebaskan dari lemak dan jaringan-
jaringan pengikatnya dan kemudian dikeringkan. Serbuk ini mengandung T3 dan
T4 dalam perbandingan tak tertentu, yang aktivitasnya berhubungan erat dengan
kadar-iod dari serbuk. Selama resorpsi dari usus yang berlangsung perlahan, T3 &
T4 dibebaskan dengan jalan enzimatis. Berhubung adanya masa latensi, maka
efeknya baru nyata setelah 3 7 hari. Biasanya dimulai dengan dosis rendah yang
berangsur-angsur dinaikkan hingga tercapai efek sampingan seperti takikardi dan
kegelisahan, kemudian dosis ini dikurangi dengan 25 mg dan digunakan untuk
pemeliharaan. Dosis oral pemula 12,5 50 mg, perlahan-lahan dinaikkan sampai
150 mg/hari. Dosis dapat diberikan sebagai single dosis pada pagi hari, tablet
harus di kunyah atau dilarutkan dalam air

2. Tiroksin (T4)

Hormon ini dibuat secara sintetis. Penggunaannya tidak ada keuntungan di


atas serbuk organ (yg harganya lebih murah & kini paling banyak digunakan),
kecuali dapat digunakan sebagai injeksi; resiko over-dose & eso lebih besar. Dosis
oral pemula 2 3 kali/hari 5 10 mcg, yang berangsur-angsur dinaikkan sampai
60 100 mcg/hari.

Mekanisme/kerja :

Menggantikan kadar serum normal T4 dan T3 (T4 dikonversi menjadi T3


oleh deyoinasi di perifer).

Indikasi :

Obat pilihan untuk hipoiroid.

Efek tak diinginkan :

Tidak ada toksisitas pada kadar penggantian. Over dosis menyebabkan


efek hipertiroid.

Farmakokinetik :

PO/IV. 70% diabsorpsi, aitan kerja lambat, waktu paruh = 1 minggu.

Catatan :

Pengobatan lama. Pasien jangan menghentikan terapi penggantian bila


hipotiroid hilang.
Dosis Obat :

Dosis oral 0,2 0,4 mg/hari, setelah dimulai dengan dosis rendah 0,05
0,1 mg/hari yg berangsur-angsur dinaikkan; ada kalanya dicampur dengan
25% liotironin untuk meniru efek serbuk tiroid. Dosis ekuivalen 0,1 mg
tiroksin=50 mg serbuk tiroid=0,02 mg liotironin.

3. Liotironin (Triidtironin T3)

Hormon ini juga dibuat secara sintetis, khasiatnya lebih kurang 5 kali lebih
kuat daripada tiroksin; mulai kerjanya juga lebih cepat (setelah beberapa jam),
tetapi hanya singkat. Bahaya efek sampingnya lebih tinggi, terutama infark
jantung, maka hanya digunakan bila dibutuhkan kerja yg pesat dan kuat, misal
pada coma myxudem.

Mekanisme/kerja :

Menggantikan T3.

Indikasi :

Digunakan pada pasien hipotiroid yang sulit mengabsorpsi levotiroksin.

Efek tak diinginkan :

Tidak ada toksisitas pada kadar penggantian. Over dosis menyebabkan


efek hipertiroid.

Farmakokinetik :

PO/IV. 100% diabsorpsi, awitan kerja cepat, waktu paruh = beberapa jam.

Catatan :
Karena waktu paruh pendek, kadar serum berbeda-beda sesuai pemberian
dosis.

4. Liotriks (T4 & T3) (mis. Euthyroid)

Mekanisme kerja :

Menggantikan T4 dan T3

Indikasi :

Bila konversi T4 dan T3 rendah abnormal (koma miksedema) , liotriks


dapat lebih berguna daripada levotiroksin.

Efek tak diinginkan :

Tidak ada toksisitas pada kadar penggantian. Over dosis menyebabkan


efek hipertiroid.

Efek Samping :

Sama dengan hipertirosis, kecuali exoftalmus, terutama denyut-nadi


pesat, rasa gelisah & sulit tidur

Pada pentakaran yg terlalu mendadak tinggi, dapat terjadi angina


pectoris infark jantung; guna menghindarkan hal ini dosis harus dimulai
rendah sekali & berangsur-angsur dinaikkan

Semakin keras keadaan hipotirosis, semakin besar kepekaan organisme


terhadap hormon-hormon tiroid & semakin rendah pula hendaknya dosis
awal.
2.2 Anti Tiroid
2.2.1 Pengertian Anti Tiroid

Antitiroid menghambat sintesis hormon tiroid dengan jalan menghambat


proses pengikatan /inkorporasi yodium pada residu tirosil dari tiroglobulin. Selain
itu juga menghambat proses penggabungan dari gugus yodotirosil untuk
membentuk yodotironin. Cara kerjanya dapat dijelaskan dengan adanya hambatan
terhadap enzim peroksidase sehingga oksidasi ion yodida dan gugus yodotirosil
terganggu. Selain menghambat sintesis hormone, propiltiourasil ternyata juga
menghambat deyodinasi tiroksin mnjadi triyodotironin di jaringan perifer,
sedangkan metilmazol tidak memiliki efek ini.

2.2.2 Jenis dan Dosis Obat


a. Propiltiourasil (PTU)
Nama generik :
Propiltiourasil

Nama dagang di Indonesia :

Propiltiouracil (generik)

Indikasi:

hipertiroidisme

Kontraindikasi :

hipersensisitif terhadap Propiltiourasil, blocking replacement regimen tidak

boleh diberikan pada kehamilan dan masa menyusui.

Bentuk sediaan :

Tablet 50 mg dan 100 mg

Dosis dan aturan pakai ;


untuk anak-anak 5-7 mg/kg/hari atau 150-200 mg/ m2/hari, dosis terbagi setiap 8
jam. Dosis dewasa 3000 mg/hari, dosis terbagi setiap 8 jam. Untuk
hipertiroidisme berat 450 mg/hari, untuk hipertiroidisme ocasional memerlukan
600-900 mg/hari; dosis pelihara 100-150 mg/haridalam dosis terbagi setiap 8-12
jam. Dosis untuk orangtua 150-300 mg/hari (Lacy, et al, 2006)

Efek samping :

ruam kulit, nyeri sendi, demam, nyeri tenggorokan, sakit kepala, ada
kecendrungan pendarahan, mual muntah, hepatitis.

Mekanisme Obat: menghambat sintesis hormon tiroid dengan


memhambatoksidasi dari iodin dan menghambat sintesistiroksin dan
triodothyronin (Lacy, et al, 2006)

Resiko khusus : .

Hati-hati penggunaan pada pasien lebih dari 40 tahun karena PTU bisa
menyebabkan hipoprotrombinnemia dan pendarahan, kehamilan dan menyusui,
penyakit hati (Lee, 2006).

b. Methimazole
Nama generik :
methimazole

Nama dagang :

Tapazole

Indikasi :

agent antitiroid

Kontraindikasi :

Hipersensitif terhadap methimazole dan wanita hamil.


Bentuk sediaan :

tablet 5 mg, 10 mg, 20 mg

Dosis dan aturan pakai :

untuk anak 0,4 mg/kg/hari (3 x sehari); dosis pelihara 0,2 mg/kg/hari (3 x sehari).
maksimum 30 mg dalam sehari.

Untuk dewasa: hipertiroidisme ringan 15 mg/hari; sedang 30-40 mg/hari;


hipertiroid berat 60 mg/ hari; dosis pelihara 5-15 mg/hari.

Efek samping :

sakit kepala, vertigo, mual muntah, konstipasi, nyeri lambung, edema.

Resiko khusus :

pada pasien diatas 40 tahun hati-hati bisa meningkatkan myelosupression,


kehamilan (Lacy, et al, 2006)

c. Karbimazole

Nama generik :

Karbimazole

Nama dagang di Indonesia :

Neo mecarzole (nicholas).

Indikasi :

hipertiroidisme

Kontraindikasi :
blocking replacement regimen tidak boleh diberikan pada kehamilan dan masa
menyusui.

Bentuk sediaan :

tablet 5 mg

Dosis dan aturan pakai :

30-60 mg/hari sampai dicapai eutiroid, lalu dosis diturunkan menjadi 5-20
mg/hari; biasanya terapi berlangsung 18 bulan.

Sebagai blocking replacement regimen, karbamizole 20 60 mg dikombinasikan


dengan tiroksin 50 -150 mg.

Untuk dosis anak mulai dengan 15 mg/hari kemudian disesuaikan dengan respon.

Efek samping :

ruam kulit, nyeri sendi, demam, nyeri tenggorokan, sakit kepala, ada
kecendrungan pendarahan, mual muntah, leukopenia.

Resiko khusus :

penggunaan pada pasien lebih dari 40 tahun karena PTU bisa menyebabkan
hipoprotrombinemia dan pendarahan, kehamilan dan menyusui (Lacy, et al,
2006).

d. Tiamazole

Nama generik :

Tiamazole

Nama dagang di Indonesia :

Thyrozol (Merck).
Indikasi :

hipertiroidisme terutama untuk pasien muda, persiapan operasi.

Kontraindikasi :

hipersensitivitas

Bentuk sediaan :

tablet 5 mg, 10 mg

Dosis dan aturan pakai :

untuk pemblokiran total produksi hormon tiroid 25-40 mg/hari; kasus ringan 10
mg (2 x sehari); kasus berat 20 mg (2 x sehari); setelah fungsi tiroid normal (3-8
minggu) dosis perlahan-lahan diturunkanhingga dosis pemelihara 5 10 mg/hari.

Efek samping :

alergi kulit, perubahan pada sel darah, pembengkakan pada kelenjar ludah.

Resiko khusus :

jangan diberikan pada saat kehamilan dan menyusui, hepatitis.

2.2.3 Farmakodinamika
Efek samping jarang sekali timbul, pada propiltiourasil dan metimazol biasanya
sama. Untuk metimazol efek samping seringkali tergantung dosis. Agranulositosis adalah
dengan 0,44% pada propiltiourasil dan 0,12% dengan metimazol, jumlah yang sangat
sedikit tetapi cukup berbahaya.

Efek lain adalah purpura rash, nyeri dan kaku sendi pada pergelangan dan
tangan, nefritis pada pemakaian dosis tinggi. Antitiroid digunakan untuk terapi
simptomatik pada tiroidisme. Efek terapi muncul 3-6 minggu terapi, tergantung berat-
ringan penyakit, dosis obat, dan jumlah hormon yang tersedia. Antitiroid tidak berbahaya
pada kehamilan, tapi lebih baik dikurangi pada masa trimester ketiga, menghindari goiter
fetus. Propiltiourasil tablet, 50 mg biasanya diberikan dosis 100 mg tiap 8 jam.
Metimazol tablet 5 mg dan 10 mg dengan dosis 30 mg sekali sehari. Karbimazol, derifat
metimazol, tablet 5 mg dan 10 mg, dosis sama dengan metimazol.

2.2.4 Farmakokinetik

Antitiroid

Farmakokinetik Propiltiourasil Metimazol

Ikatan protein plasma 75 % -

Waktu paruh 75' 4 - 6 jam

Terdistribusi 20 L 40 L

Pada gangguan hati - Metabolisme turun

Pada gangguan ginjal - -

Dosis 1 - 4 kali/hari 1 - 2 kali/hari

Daya tembus plasenta Rendah Rendah

Sekresi pada ASI Rendah Rendah

Propiltiourasil pada dosis 100 mg bekerja 6-8 jam, sedangkan metimazol


dosis 30-40mg bekerja 24 jam. Sebaiknya diberikan selama 12 minggu, setelah itu
dosis dikurangi, atau dilihat perkembangannya. Sebaiknya pemberian tidak
langsung dihentikan
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tiroid atau kelenjar gondok adalah sebuah organ kecil yang terdiri dari
dua bagian yang dihubungkan jembatan, mirip prisai (bahasa yunani thyreos :
prisai); letaknya di bagian bawah leher mendampingi batang tenggorokan.
Terdapat 2 kelainan dalam sekresi hormone tiroid yaitu hipofungsi dan
hiperfungsi. Pada hipotirosis atau hipofungsi tiroid aktivitas kelenjar lebih rendah
dari normal dan produksi hormon-hormonnya berkurang. Hormon tiroid dalam
Penggunaan Klinis, penggunaan satu-satunya yang tepat dari hormon-hormon
tiroid adalah pada terapi-substitusi dari hipotirosis. Pengobatannya dilakukan
dengan terapi-substitusi dengan serbuk tiroid atau hormonnya seperti Serbuk
tiroid (thyranon), Tiroksin (T4), Liotironin (Triidtironin T3). Obat-obatan tersebut
memiliki efek samping dalam tubuh.

Pada keadaan hiperfungsi tiroid justru terdapat overproduksi hormone-


hormone tiroid. Terapi hipertirosis ditujukan terhadap mengurangi aktivitas
tiroid, yakni dengan mengeluarkan atau merusak sebagian kelenjar (operasi atau
iod radio-aktif), atau dengan mengurangi produksi hormon-hormonnya dengan
tiroistatika. Antitiroid atau tiroistatik adalah zat yang berkhasiat menekan
produksi hormon-hormon tiroid dan digunakan pada keadaan-keadaan
hiperfungsi tiroid (hipertirosis). Terdapat pula sejumlah obat yang dapat
menyebabkan penurunan hormone tiroid seperti Derivat tioamida, Iodida,
Propiltiourasil, Karbimazol (neo-mercazol), dan Tiamazol (metimazol).
DAFTAR PUSTAKA

Diakses tanggal 15 April 2016


http://rinafitriasari.blogspot.co.id/2012/10/farmakologi-tentang-
hormon.html
http://pharmaciststreet.blogspot.co.id/2013/01/hormone-tiroid-n-
antitiroid.html
https://yosefw.wordpress.com/2008/06/10/penggunaan-obat-antitiroid-
pada-pasien-hipertiroidisme/
Olson, James M.D., Ph.D. 2003. Belajar mudah farmakologi. Jakarta:
EGC
Gan Gunawan, Sulistia.2009. Farmakologi dan Terapi. Jakarta : FKU