Anda di halaman 1dari 8

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Pembahasan : Demam Tifoid


Sasaran : Orang tua/keluarga pasien di Poli Anak
Hari/Tanggal : Rabu, 12 November 2014
Waktu Pertemuan : 09.30 09.55 WITA
Tempat : Poli Anak RS Ansari Saleh

A. Tujuan
Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan peserta mengetahui tentang Demam
Tifoid.
Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diadakan penyuluhan diharapkan peserta mampu:
1. Menjelaskan pengertian Demam Tifoid
2. Mengetahui penyebab Demam Tifoid
3. Menyebutkan tanda dan gejala Demam Tifoid
4. Mengetahui cara pencegahan Demam Tifoid
5. Mengetahui cara penularan Demam Tifoid
6. Mengetahui komplikasi dari Demam Tifoid
7. Mengetahui penatalaksanaan keperawatan Demam Tifoid di rumah dan di
Rumah Sakit

B. Pokok Bahasan
1. Pengertian Demam Tifoid
2. Penyebab Demam Tifoid
3. Tanda dan gejala Demam Tifoid
4. Cara pencegahan Demam Tifoid
5. Cara penularan Demam Tifoid
6. Komplikasi Demam Tifoid
7. Penatalaksanaan keperawatan Demam Tifoid di rumah dan di Rumah Sakit
C. Media
1. LCD/Proyektor
2. Laptop
3. Leaflet
4. Mikrofon

D. Metode Penyuluhan
Ceramah dan tanya jawab

E. Pengorganisasian
Moderator : Ririn Yuliantini
Penyuluh : Nindya Faiqotun Nabilah
Fasilitator : Husnul Fiqri
Risa
Notulen : Vera Yulia Damayanti
Observer : Muhammad Taib
Noryanda Desky Ashari
Siti Hapsah
Wahyu Dian

F. Kegiatan Penyuluhan
No. Waktu Kegiatan penyuluhan Respon Peserta
1. Pembukaan 1. Memberi salam 1. Menjawab salam
(5 menit) 2. Memperkenalkan diri 2. Mendengarkan dan
memperhatikan
3. Menggali pengetahuan peserta 3. Menjawab pertanyaan
tentang Demam Tifoid
4. Menjelaskan tujuan 4. Mendengarkan dan
memperhatikan
2. Isi 1. Menjelaskan materi penyuluhan 1. Mendengarkan dan
(15 menit) memperhatikan
2. Memberikan kesempatan untuk 2. Bertanya
bertanya
3. Menjawab pertanyaan peserta 3. Mendengarkan
3. Penutupan 1. Mengevaluasi pemahaman peserta 1. Menjawab pertanyaan
(5 menit) yang diberikan
2. Menyimpulkan materi 2. Mendengarkan dan
memperhatikan
3. Salam penutup 3. Menjawab salam

G. Evaluasi
1. Apa pengertian Demam Tifoid?
2. Apa penyebab Demam Tifoid?
3. Apa tanda dan gejala Demam Tifoid?
4. Bagaimana cara pencegahan Demam Tifoid?
5. Bagaimana cara penularan Demam Tifoid?
6. Apa komplikasi Demam Tifoid?
7. Bagaimana penatalaksanaan keperawatan Demam Tifoid di rumah dan di Rumah
Sakit?
Materi Penyuluhan
Demam Tifoid

1. Pengertian
Penyakit infeksi akut pada saluran pencernaan yang berpotensi menjadi penyakit
multisistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Bakteri ini dapat hidup
sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di dalam air, es, sampah dan debu.
Bakteri ini dapat mati dengan pemanasan (suhu 600C) selama 15 20 menit,
pasteurisasi, pendidihan dan khlorinisasi. Masa inkubasi 10-20 hari.
Kuman Salmonella typhi yang masuk ke saluran gastrointestinal akan ditelan oleh
sel-sel fagosit ketika masuk melewati mukosa, sebagian kuman ada yang dapat
masuk ke usus halus mengadakan invaginasi ke jaringan limfoid usus halus (plak
Peyer) dan jaringan limfoid mesenterika. Kemudian kuman masuk melalui folikel
limpa ke saluran limpatik dan sirkulasi darah sistemik sehingga terjadi bakterimia.
Bakterimia pertama-tama menyerang sistem retikulo endotelial (RES) yaitu: hati,
limpa dan tulang, kemudian selanjutnya mengenai seluruh organ di dalam tubuh
antara lain sistem saraf pusat, ginjal dan jaringan limpa.
Usus yang terserang tifus biasanya ileum distal, tetapi kadang bagian lain usus halus
dan kolon proksimal juga dihinggapi. pada mulanya, plakat Peyer penuh dengan
fagosit, membesar, menonjol dan tampak seperti infiltrat atau hiperplasia di mukosa
usus.
Masuknya kuman ke dalam intestinal terjadi pada minggu pertama dengan tanda dan
gejala suhu tubuh naik turun khususnya suhu akan naik pada malam hari dan akan
menurun menjelang pagi hari. Demam yang terjadi pada masa ini disebut demam
intermitten (suhu yang tinggi, naik-turun, turunnya dapat mencapai normal). Setelah
kuman melewati fase awal intestinal, kemudian masuk ke sirkulasi sistemik dengan
tanda peningkatan suhu tubuh yang sangat tinggi dan tanda-tanda infeksi seperti
nyeri perut kanan atas, splenomegali, dan hepatomegali.
2. Penyebab
Kuman Salmonella typhi. Jumlah kuman yang dapat menimbulkan infeksi adalah
sebanyak 105109 kuman yang tertelan melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi. Semakin besar jumlah kuman yang tertelan, maka semakin pendek
masa inkubasi penyakit demam tifoid

3. Tanda dan Gejala


- Demam lebih dari 7 hari
- Terlihat jelas sakit dan kondisi serius tanpa sebab yang jelas
- Nyeri perut, kembung, mual, muntah, diare, konstipasi
- Delirium
- Splenomegali (pembesaran limpa)
- Hepatomegali (pembesaran hati)
- Nyeri kepala, penurunan kesadaran, kejang dan ikterus
- Syok

4. Cara Pencegahan
- Menyediakan makanan sehat
- Mengolah makanan sesuai dengan cara sehat
- Menggunakan air bersih yang sehat
- Menghindari mengonsumsi makanan yang tidak terjamin kebersihannya
- Cuci tanga sebelum dan sesudah makan
- Kuku selalu pendek dan bersih
- Cuci tangan dengan sabun pada waktu cebok setelah BAB
- Imunisasi dengan vaksin dari strain salmonella thypi yang dilemahkan (oral,
parenteral dan polisakarida).

5. Cara Penularan
- Melalui makanan dan minuman yang tercemar oleh kuman dari penderita yang
keluar melalui feses/urine
- Trasmisi transplasental dari seorang ibu hamil yang berada dalam bakterimia
kepada bayinya

6. Komplikasi
Komplikasi Demam Tifoid dapat dibagi atas dua bagian, yaitu:
- Komplikasi pada usus halus
1) Perdarahan
2) Perforasi
3) Peritonitis
- Komplikasi di luar usus halus
1) Bronkitis
2) Bronkopneumonia
3) Ensefalopati
4) Meningitis
5) Miokarditis

7. Penatalaksanaan keperawatan Demam Tifoid di rumah dan di Rumah Sakit


- Di Rumah
1) Hipertermi
Tirah baring total
Beri kompres air dingin
Masase ekstremitas
Memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat
2) Nutrisi
Beri makanan bubur saring (minimal 2 minggu)
3) Nyeri
Istirahat
- Di Rumah Sakit
1) Hipertermi
Tirah baring total
Atur lingkungan yang kondusif
Beri kompres air dingin
Masase pada ekstremitas
Kolaborasi obat antipiretik
2) Nutrisi
Beri makanan bubur saring (minimal 2 minggu)
Monitor perkembangan berat badan
3) Nyeri
Lakukan manajemen nyeri keperawatan
Tingkatkan pengetahuan tentang: sebab-sebab nyeri
4) Risiko kerusakan integritas jaringan
Lakukan mobilisasi miring kiri-kanan setiap 2 jam
Jaga kebersihan dan ganti sprei apabila kotor atau basah
Bantu pasien melakukan latihan ROM
Lakukan masase pada daerah yang menonjol yang baru mengalami
tekanan pada waktu berubah posisi
Observasi terhadap eritema dan kepucatan
5) Infromasi
Jelaskan pola hidup sehat

Obat:
1) Kloramfenikol (50-100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis per oral atau
intravena) selama 10-14 hari.
2) Jika tidak dapat diberikan kloramfenikol, dipakai amoksisilin 100
mg/kgBB/hari per oral atau ampisilin intravena selama 10 hari atau
kotrimoksazol 48 mg/kgBB/hari (dibagi 2 dosis) peroral selama 10 hari.
3) Bila klinis tidak ada perbaikan digunakan generasi ketiga sefalosporin
seperti seftriakson (80 mg/kg IM atau IV, sekali sehari, selama 5-7 hari) atau
sefilksim oral 20 mg/kgBB/hari (dibagi 2 dosis) selama 10 hari.
DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif dan Sari, Kumala. 2011. Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika.

WHO. 2005. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Pedoman bagi Rumah Sakit
Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota. Jakarta: WHO Indonesia.