Anda di halaman 1dari 3

Bumi, suatu istilah yang menceritakan bahwa segala kehidupan manusia yang bersifat

sementara ini memiliki banyak istilah dan banyak nuansa di dalamnya. Dengan kompleksitas
pembentukannya pada bumi, sementara teori yang mungkin kita pelajari berasal dari teori yang
terkenal hingga saat ini, yaitu teori big bang. Bahwasannya teori mengenai pembentukan tata surya
ini menjelaskan bahwa seluruh jagad raya menyatu menjadi suatu bulatan yang padat, panas dan
sangat massif. Dan kemudian dari bentuk tersebut mengalami ledakan yang sangat dahsyat dan
membentuk serpihan serpihan ke segala arah dan membentuk sistem tata surya yang di dalamnya
ada bumi kita. Bayangkan, bahwa sangat kecil sekali bumi kita dibanding dengan planet planet
disekitarnya. Dan masih banyak teori yang menjelaskan pembentukan tata surya. Namun pada
artikel ini tidak membahas lebih lanjut mengenai teori yang telah diuraikan.

Yang lebih menarik dalam pembahasan disini yaitu mengenai sifat fisik bumi. Dewasa ini
mungkin banyak yang mengetahui bahwa bumi memiliki sifat fisik yaitu sifat gravitasi,
kemagnetan, kelistrikan, dan lainnya. Dari sifat fisik tersebut dapat merepresentasikan bentuk
bumi dengan menggunakan metode metode geofisika. Sifat fisik yang sangat menarik untuk
dibahas yaitu mengenai kelistrikan yang nantinya akan berhubungan dengan tahanan jenis dan
salah satunya adalah model dari bumi itu sendiri. Adapun model bumi banyak diwakili oleh teori
teori seperti bola simetris yang tidak berotasi, bola simetris yang berotasi, ellipsoid, geoid, dan
lainnya. Yang menarik untuk dilihat adalah model bumi ellipsoid dan geoid karena bentuk ini
hampir menyerupai dari bentuk bumi yang sesungguhnya. Menurut Noor(2012), untuk model
ellipsoid, bentuk bola telah berubah menjadi ellips karena disebabkan oleh deformasi pada densitas
di dalam bumi oleh gaya sentrifugal akibat rotasi. Hal ini terjadi dikarenakan bumi dianggap
homogen isotropis. Lantas apakah istilah homogen isotropis yang merupakan salah satu alasan
dari model bumi ini ?

Menurut Ida(2004), material homogen adalah sebuah material dimana properti properti
fisika tidak berbeda dari titik satu ke titik yang lainnya pada ruang. Sedangkan material isotropis
adalah satu dimana properti propertinya adalah bebas dari arah pada ruang. Secara singkatnya,
homogen berarti sesuatu yang seragam di seluruh properti/material. Suatu homogenitas
bergantung pada konteks yang didasarkan pada material atau suatu bahan, yang pada ini adalah
bumi. Bahan homogen yaitu material yang memiliki komposisi seragam dan sifat seragam. Untuk
artian yang lingkupnya lebih kecil bisa dirasakan pada berbagai hal yang bisa dijumpai dalam
bidang seperti fisika, kimia, alam, kosmologi, dan lain-lain. Isotropis juga berarti bahwa sifat
bahannya sama ke segala arah. Sifat isotropis ini dalam penerapannya yaitu pada konsep medan
radiasi yang memiliki intensitas yang sama di segala arah. Untuk orientasinya, isotropis ini bekerja
ketika suatu bahan yang memiliki sifat yang seragam secara universal. Dua kata antara homogen
dan isotropis adalah saling berkaitan satu sama lain, namun dua kata ini berbeda maknanya secara
harfiah.

Contoh kasus yang terjadi pada homogen isotropis adalah penerapannya pada tahanan
jenis. Tahanan jenis pada umumnya menggunakan model yang terdiri dari beberapa lapisan
horisontal dengan masing-masing lapisan bertahan-jenis konstan atau homogen dan isotropis
(model bumi berlapis horizontal). Dalam hal ini parameter model adalah tahanan jenis dan
ketebalan tiap lapisan dengan lapisan terakhir berupa medium homogen. Model bumi yang paling
sederhana adalah suatu half-space homogen isotropik dimana diskontinyuitas tahan-jenis hanya
terdapat pada udara dengan bumi.

Selanjutnya yaitu untuk contoh penerapan homogen isotropis pada model bumi ellipsoid
dan geoid. Deformasi yang membentuk ellips karena adanya homogenitas suatu permukaan yang
biasa disebut flattening. Adanya efek tersebut membuat selisih jarak bidang ekuipotensial pada
kutub bumi dan ekuator yang cukup signifikan. Bahwa bentuk muka bumi yang sebenarnya jauh
dari keteraturan dan sulit dijelaskan dalam bentuk geometris. Untuk itu, disepakati bentuk muka
bumi berupa sebuah bentuk yang memiliki nilai potensial gravitasi yang sama di permukaannya
dengan berhimpit pada mean sea level di tempat yang cukup jauh dari daratan. Karena variasi
densitas massa dikerak bumi sangat kompleks sehingga diambil asumsi bahwa bumi memiliki
keseragaman yang penyesuaiannya agar tetap memiliki potensial gaya berat yang konstan di
permukaan.

Local
Geoid
Gravity

Mass Ellipsoidal
Excess

Daftar pustaka:

Ida, Nathan. 2004. Engineering Electromagnetics 2nd Edition. USA: Springer


Lowrie, W., 2007. Fundamentals of Geophysics. 2nd penyunt. Cambridge: Cambridge University
Press.

Noor, Djauhari. 2009. Pengantar Geologi. Bogor : CV. Graha Ilmu.

Porstendorfer, G. 1975. Principles of Magnetotelluric Prospecting in G. Kunetz and D.S


Parasnis (eds.). USA: Geoexploration Monographs, 1.