Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

Eritrasma merupakan infeksi pada lapisan atas kulit yang disebabkan oleh
bakteri Corynebacterium minutissimum.1,2 Infeksi ini lebih sering pada daerah
lipatan tubuh, terutama daerah inguinal, dan telah diidentifikasi sebagai salah satu
penyebab utama infeksi di sela-sela jari kaki.3 Eritrasma lebih sering terjadi pada
orang dewasa, khususnya penderita diabetes, orang gemuk (obesitas), dan
penduduk di daerah beriklim tropis.1,3
Insiden eritrasma secara universal dilaporkan sebesar 4%, dan ditemukan
lebih sering pada daerah tropis dan subtropis. Eritrasma biasanya merupakan
kondisi yang jinak. Namun, dapat menyebar dan bersifat invasif pada orang-orang
dengan resiko tinggi atau mengalami immunocompromised. Eritrasma lebih sering
terjadi pada orang kulit hitam. Antara pria dan wanita, insiden eritrasma sama.
Eritrasma dapat terjadi pada semua usia. Pasien termuda yang dilaporkan
menderita eritrasma adalah anak berusia 1 tahun.2
Pada pemeriksaan klinis didapatkan lesi berskuama dan plak pada daerah
inguinal, ekstremitas, dan sela-sela jari kaki. Lokasi yang sering didapatkan
eritrasma adalah pada sela-sela jari kaki dengan presentasi klinis lesi berupa
eritroskuamosa dengan berskuama halus, kadang-kadang dapat terlihat merah
kecoklatan.8
Penyakit infeksi lain atau diagnosa banding yang harus diperhatikan dalam
kasus eritrasma adalah tinea kruris yang awalnya dijumpai ruam berupa eritema
yang kemudian dapat berubah menjadi plak berskuama dengan batas tegas.
Diagnosis banding lain yaitu, dermatitis seboroik juga biasa dijumpai dengan
eritema yang ditutupi skuama berminyak berwarna putih kekuningan dimana pada
pemeriksaan sediaan langsung tidak ditemukan C.Minutissimum.8
Tujuan dari pengobatan eritrasma adalah untuk mengurangi morbiditas,
memberantas infeksi, dan mencegah komplikasi.2

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Eritrasma adalah infeksi pada lapisan kulit superfisial yang disebabkan oleh
Corynebacterium minutissimum.4 Infeksi ini umumnya menyerang daerah lipatan
inguinal, aksila, dan daerah lipatan bawah mammae.5

Gambar 1. Eritrasma

2
B. Etiologi
Bakteri Corynebacterium minutissimum adalah bakteri gram positif
(difteroid), lipofilik, tidak membentuk spora, dan merupakan basil yang bersifat
aerob atau anaerob yang fakultatif. Corynebacterium minutissimum merupakan
flora normal di kulit yang dapat menyebabkan infeksi epidermal superfisial.
Bakteri ini dapat ditemukan di daerah genital (prevalensinya 4%-20%) dan di
sela-sela jari kaki (prevalensinya > 69%).4,5

Gambar 2. Corynebacterium minutissimum

C. Patofisiologi
Bakteri Corynebacteria menginvasi sepertiga atas lapisan stratum corneum;
didukung dengan keadaan panas dan lembab, bakteri ini berproliferasi sehingga
menyebabkan stratum corneum menebal. Bakteri ini terlihat pada ruang
interselular dan juga dalam sel, sehingga melarutkan serabut-serabut keratin.
Proses ini disebut proses keratolitik yang menyebabkan stratum corneum menjadi
hiperkeratotik.2,3 Selain itu, bakteri ini juga mengeluarkan porfirin yang akan
menimbulkan lesi terhadap fluroesensi, namun proses ini masih belum jelas.5

D. Gambaran Klinis
Gambaran klinis yang dominan dari penyakit ini adalah adanya lesi berupa
eritema dan skuama halus di tempat predileksi. Lesi kulit dapat berukuran sebesar

3
miliar sampai plakat. Lesi eritoskuamosa, berskuama halus kadang-kadang dapat
terlihat merah kecoklat-coklatan. Variasi ini tergantung pada area lesi dan warna
kulit penderita. Lesi di daerah lipat paha dapat menunjukkan gejala berupa gatal
dan terasa terbakar. Sedangkan lesi pada tempat lain asimtomatik. Perluasan lesi
terlihat pada pinggir yang eritematosa dan serpiginosa. Lesi tidak menimbul dan
tidak terlihat vesikulasi. Skuama kering yang halus menutupi lesi dan pada
perabaan terasa berlemak. Eritrasma di tempat selain inguinal biasanya tidak
menimbulkan keluhan subyektif, kecuali bila terjadi maserasi pada kulit. Lesi
pada sela-sela jari kaki berupa plak eritematous, maserasi, skuama, lepuh, vesikel,
dan bau tidak enak. Corynebacterium minutissimum ini sering bersamaan dengan
bakteri lain, dermatofit, dan spesies Candida. Perjalanan penyakit ini bersifat
kronik dan remisi cenderung tidak terjadi.4,5

E. Diagnosis
Riwayat penyakit dan pemeriksaan yang lengkap pada keseluruhan tubuh
seorang pasien dapat membantu untuk mendiagnosis eritrasma. Pada anamnesis,
dapat diketahui riwayat diabetes melitus atau imunosupresif yang merupakan
faktor resiko tinggi terjadinya eritrasma. Selain itu, pasien dengan obesitas dan
pasien yang terbaring lama juga cenderung menderita eritrasma. Merupakan hal
yang penting juga untuk menanyakan riwayat pengobatan, seperti kortikosteroid
topikal atau sistemik.6
Eritrasma umumnya dapat didiagnosis melalui visualisasi, namun terkadang
dapat salah diagnosis sebagai kandidiasis, psoriasis, dermatitis seboroik,
dermatitis kontak, atau dermatofitosis, sehingga memerlukan pemeriksaan
penunjang.3
Tempat predileksi lesi paling umum pada daerah sela jari kaki, dimana
eritrasma berbentuk plak hiperkeratorik berwarna putih kekuningan, khususnya
pada sela jari keempat dan kelima.Pada daerah genitourinari, axilla, lesi yang
terlihat lebih berwarna kemerahan.8

4
F. Diagnosis Banding
1. Tinea kruris4
Pada tinea kruris, awalnya dijumpai ruam berupa eritema yang
kemudian dapat berubah menjadi plak dan berskuama dengan batas tegas,
tepi lesi tampak lebih eritama dan terdapat central clearing. Lesi anular dan
sirsinar dapat bersatu membentuk pola geografika. Pemeriksaan
laboratorium, baik sediaan langsung dengan KOH 10-20% maupun
histopatologi dengan pengecatan Periodic Acid-Schiff (PAS) akan
ditemukan adanya elemen-elemen dermatofita seperti hifa dan spora, sedang
pemeriksaan kultur dengan media Sabaroud Dextrose Agar (SDA) dapat
dibiakkan spesies dermatofita.

Gambar 3. Tinea kruris

2. Dermatitis seboroik4
Dermatitis seboroik biasanya dijumpai adanya eritema yang ditutupi
skuama berminyak berwarna putih kekuningan. Keparahan bervariasi dari
skuama ringan sampai eritroderma eksfoliatif. Selain di inguinal, biasanya
lesi juga dijumpai di area seboroik lain. Pemeriksaan sediaan langsung tidak
dijumpai Corynebacterium minutissimum.

5
Gambar 4. Dermatitis seboroik
3. Kandidiasis intertriginosa4
Gambaran klinis kandidiasis intertriginosa menunjukan adanya
pruritus, eritema, maserasi pada daerah intertriginosa dengan lesi satelit
vesikopustula. Pustul ini pecah meninggalkan dasar eritema dengan koloret
dari epidermis yang mengalami nekrosis yang mudah dilepaskan.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis
suatu kandidiasis adalah dengan melakukan pemeriksaan sediaan langsung
yang ditetesi KOH untuk menemukan adanya pseudohifa dan blastospora.

Gambar 5. Kandidiasis intertriginosa

4. Psoriasis6
Psoriasis dapat terjadi dalam berbagai bentuk, yaitu plak, pustul,
psoriasis eritrodermik dan intertriginosa. Psoriasis intertriginosa menyebar
secara simetris dan berwarna merah terang serta memiliki tepi tegas.

6
Dibedakan dengan bentuk psoriasis lainnya melalui tidak adanya skuama
keperakan walaupun tidak diobati.

Gambar 6. Psoriasis
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan lampu Wood
Pada pemeriksaan dengan lampu Wood, lesi terlihat berfluoresensi
merah membara (coral-red) atau bisa juga oranye. Fluoresensi ini terlihat
karena adanya sintesis coproporfirin III oleh Conybacteria, yang
berakumulasi di jaringan kutaneus. Pencucian atau pembersihan daerah lesi
sebelum diperiksa akan mengakibatkan hilangnya fluoresensi.2,3,4,5

Gambar 7. Pemeriksaan lampu Wood pada eritrasma

7
2. Pemeriksaan KOH
Pemeriksaan langsung dengan KOH menampakkan bakteri bentuk
batang (terpisah atau berantai) berukuran 4-7 m. Selain itu, pemeriksaan
ini dapat menunjukkan hifa pada infeksi dermatofit atau pseudohifa pada
kandidiasis.5,6

3. Pewarnaan Gram
Pemeriksaan langsung juga dapat dilakukan dengan pewarnaan Gram
berupa penambahan metilen biru atau laktofenol biru. Hasilnya akan tampak
bakteri bentuk batang panjang dan berkelompok dengan ukuran 1-3 m
yang ada pada sel-sel epitel.4,5,7

H. Penatalaksanaan
Tujuan dari pengobatan eritrasma adalah untuk mengurangi morbiditas,
memberantas infeksi, dan mencegah komplikasi.2
Antibiotik sistemik memberikan keberhasilan yang terbukti dan telah
digunakan untuk penatalaksanaan eritrasma. Eritromisin 250 mg (4 kali sehari)
selama 14 hari merupakan pilihan antibiotik sistemik yang direkomendasikan.
Namun, karena adanya kecenderungan untuk resisten, efek samping yang lebih
banyak, serta interaksi dengan agen topikal, maka penggunaan antibiotik sistemik
sebagai lini pertama masih dipertanyakan.3
Terapi antibiotik topikal merupakan terapi lini kedua. Salep asam fusidic
2% telah menunjukkan keberhasilan seperti salep Whitfield (asam salisilat dan
asam benzoik). Salep Whitfield telah dilaporkan memiliki keberhasilan yang sama
dengan eritromisin sistemik dalam pengobatan eritrasma di daerah aksila dan
inguinal, serta lebih baik daripada agen oral dalam pengobatan eritrasma di daerah
interdigital.3 Selain itu, gel benzoil peroksida 5% efektif dalam kebanyakan kasus.
Klindamisin (larutan 2%) atau krim azol adalah beberapa dari banyak agen topikal
yang efektif. Pada lesi dengan keterlibatan kulit yang luas, Klaritromisin 1 g dosis
tunggal mempunyai efektivitas yang hampir setara dengan eritromisin. Untuk

8
mencegah kekambuhan, penggunaan benzoil peroksida saat mandi adalah cara
yang efektif dan murah.4,8
Meskipun peran dermatofit, spora, dan jamur dalam patogenesis eritrasma
belum dibuktikan, pengobatan antifungi topikal telah berhasil digunakan, yaitu
Mikonazole topikal, Klotrimazole topikal, dan Econazole topikal. Hal ini terbukti
pada suatu penelitian terhadap 61 pasien dengan infeksi fungi atau eritrasma.
Pasien-pasien tersebut secara acak dipilih untuk menggunakan Tiokonazole
topikal 1% selama 40 hari atau krim Econazole nitrat 1% selama 38 hari.
Sebanyak 59 pasien sembuh, walaupun pruritus ringan muncul pada pasien yang
menggunakan econazole.3
Selain itu, busa Ketokonazole 2% telah diterima sebagai pilihan terapi baru
untuk eritrasma. Pengobatan ini merupakan formulasi hidroetanolik yang tidak
melembabkan, tetapi juga tidak mengeringkan. Pengobatan ini dirancang agar
larut dengan cepat pada suhu tubuh sehingga tidak meninggalkan sisa, sehingga
ideal untuk dipakai di daerah lipatan dibandingkan dengan krim. Busa ini dapat
dengan mudah digunakan di berbagai daerah tubuh seperti bagian kulit yang
berambut dan sela-sela jari kaki.3
Ketokonazole selama ini dikenal memiliki aktivitas berspektrum luas,
berupa anti-inflamasi dan anti-bakteri. Pada eritrasma, manfaat Ketokonazole
topikal adalah sifat antifungal spektrum luas-nya akan membasmi secara
bersamaan setiap komponen jamur yang tampak sehingga tidak perlu kultur, dan
mengoptimalkan kemungkinan kesembuhan kulit.3

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Eritrasma adalah infeksi pada lapisan kulit superfisial yang disebabkan oleh
Corynebacterium minutissimum. Infeksi ini umumnya menyerang daerah lipatan
inguinal, aksila, dan daerah lipatan bawah mammae.
Gambaran klinis yang dominan dari penyakit ini adalah adanya lesi berupa
eritema dan skuama halus di tempat predileksi. Lesi kulit dapat berukuran sebesar
miliar sampai plakat. Lesi eritoskuamosa, berskuama halus kadang-kadang dapat
terlihat merah kecoklat-coklatan. Variasi ini tergantung pada area lesi dan warna
kulit penderita.
Eritrasma umumnya dapat didiagnosis melalui visualisasi, namun terkadang
dapat salah diagnosis sebagai kandidiasis, psoriasis, dermatitis seboroik,
dermatitis kontak, atau dermatofitosis, sehingga memerlukan pemeriksaan
penunjang.
Pada pemeriksaan dengan lampu Wood, lesi terlihat berfluoresensi merah
membara (coral-red) atau bisa juga oranye. Fluoresensi ini terlihat karena adanya
sintesis coproporfirin III oleh Conybacteria, yang berakumulasi di jaringan
kutaneus. Pemeriksaan langsung dengan KOH menampakkan bakteri bentuk
batang (terpisah atau berantai) berukuran 4-7 m. Selain itu, pemeriksaan ini
dapat menunjukkan hifa pada infeksi dermatofit atau pseudohifa pada kandidiasis.
Pemeriksaan langsung juga dapat dilakukan dengan pewarnaan Gram berupa
penambahan metilen biru atau laktofenol biru. Hasilnya akan tampak bakteri
bentuk batang panjang dan berkelompok dengan ukuran 1-3 m yang ada pada
sel-sel epitel.
Pengobatannya dapat berupa antibiotik sistemik (Eritromisin), pengobatan
topikal yaitu Salep asam fusidic 2%, Salep Whitfield, Gel benzoil peroksida 5%,
Klindamisin (larutan 2%) atau krim azol. Penggunaan antifungal dapat berupa
Mikonazole topikal, Klotrimazole topikal, dan Econazole topikal. Selain itu, dapat
juga diberikan busa Ketokonazole 2%.

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Dhar AD. Erythrasma. Merck Manual. Merck Sharp & Dohme Corp, 2015
2. Kibbi AG. Erythrasma. Medscape, 2014
3. Bikowski J. Update on Diagnosis and Topical Management of Erythrasma.
Practical Dermatology, 2012. p. 47-9
4. Adiguna MS. Update Treatment in Inguinal Intertrigo and Its Differential
Diagnosis. Surabaya, 2011. hal. 315; 318-21
5. Trujillo M, Arenas R, Arroyo S. Interdigital Erythrasma: Clinical,
Epidemiologic, and Microbiologic Findings. Actas Dermosifiliogr.
2008;99:469-73
6. Sibbald RG, Kelley J, Evans KL, Labrecque C, Waters N. A Practical
Approach to the Prevention and Management of Intertrigo, or Moisture-
associated Skin Damage, due to Perspiration: Expert Consensus on Best
Practice. Wound Care Canada, Volume 11, Number 2, 2013. p. 10; 13-14
7. Sariguzel FM, Koc AN, Yagmur G, Berk E. Interdigital foot infections:
Corynebacterium minutissimum and agents of superficial mycoses.
Brazilian Journal of Microbiology 45, 3, 781-784 (2014)
8. Craft N, Lee K.P, Zipoli TM, Weinberg NA, Swartz NM, Johnson AR.
Superficial Cutaneous Infections and Pyoderms, In: Wolff K, Goldsmith
AL, Katz IS, Gilchrest AB, Paller SA, Leffel JD editors. Fitzpatricks
Dermatology In General Medecine 7th Edition. New York: Mc Grew Hill
Medical; p.1708-1709, 3051

11