Anda di halaman 1dari 10

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA Tn.

T DENGAN DIAGNOSA
MEDIS HEMATOMA AURIKULER DI INSTALASI BEDAH SENTRAL (IBS)
RSUD SUKOHARJO

OLEH :

Ni Luh Ayu Wirdaningsih, S.Kep


24.14.0655

PROGRAM STUDI PROFESI NERS ANGKATAN XV


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA
2015
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN HEMATOMA AURIKULER DI INSTALASI BEDAH


SENTRRAL (IBS) RSUD SUKOHARJO

Sukoharjo,8 April 2015

Mahasiswa

Ni Luh Ayu Wirdaningsih, S.Kep

Mengetahui

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

( ) ( )
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA Tn.T DENGAN DIAGNOSA


MEDIS HEMATOMA AURIKULER DI INSTALASI BEDAH SENTRAL (IBS)
RSUD SUKOHARJO

Sukoharjo, 8 April 2015

Mahasiswa

Ni Luh Ayu Wirdaningsih, S.Kep

Mengetahuui

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

A. DEFINISI

( ) ( )
LAPORAN PENDAHULUAN

HEMATOMA AURIKULER

A. Definisi

Hematoma adalah koleksi (kumpulan) dari darah diluar pembuluh darah. Hematoma
terjadi karena dinding pembuluh darah, arteri, vena atau kapiler, telah dirusak dan darah telah
bocor kedalam jaringan-jaringan dimana ia tidak pada tempatnya. Hematoma mungkin adalah
kecil, dengan hanya satu titik darah atau ia dapat menjadi besar dan menyebabkan
pembengkakan yang signifikan.

Hematoma aurikuler adalah hematoma daun telinga akibat suatu rudapaksa yang
menyebabkan tertimbunnya darah dalam ruang antara perikhondrium dan kartilago.

Perdarahan daun telinga yang diikuti oleh pembengkakan dan orang yang beresiko 40%
pada atlet.

B. EPIDEMIOLOGI

Hematoma biasanya terjadi pada remaja atau orang dewasa yang mempunyai kegiatan
yang melibatkan kekerasan, namun bisa saja dijumpai pada usia lanjut dan anak-anak. 40%
berpeluang terjadi pada atlet. Menurut penelitian yang dilakukan oleh H. Soekerman DSTHT
yang dilakukan di RSU Banjarmasin Propinsi Kalimantan selatan selama periode 1989 s/d 1994
didapatkan data dari 100% penderita hematoma aurikuler berjenis kelamin laki-laki, penderita
anak dari 0-4 tahun hanya 1 orang (5%). Usia lanjut > 50 tahun hanya satu orang (5%).

C. ETIOLOGI

Hematoma aurikurel biasanya disebabkan oleh rudapaksa atau taruma. Dimana taruma ini
biasanya terjadi olahraga yang berhubungan dengan kekerasan seperti tinju. Dengan adanya
taruma ini bisa menyebabkan tertimbunnya darah dalam ruang antara perikhondrium dan
kartilago. Jika terjadi penimbunan darah pada daerah tersebut, maka akan terjadi perubahan
bentuk telinga luar dan tampak massaa berwarna ungu kemerahan. Darah yang tertimbun ini bias
menyebabkan terputusnya aliran darah ke kartilago sehingga dapat terjadi perubahan bentuk
telinga. Selain karena trauma, hematoma aurikula bisa juga disebabkan karena gigitan serangga.
Dimana gigitan serangga ini dapat menembus pembuluh darah dan dapat merusak pembuluh
darah yang ada di daun telinga sehingga bisa terjadi hematoma aurikula.

D. MANIFESTASI KLINIS

1. Pembengkakan (karena ada gumpalan darah).


2. Perubahan bentuk telinga (deformitas).
3. Ada/tidak ada rasa nyeri.
4. Perubahan warna (tampak massa berwarna ungu).
5. Ada rasa panas.
6. Kemerahan.
7. Benjolan di aurikula (daun telinga).
8. Fluktuasi/ kenyal

E. PEMERIKSAAN FISIK

Inspeksi

Pada hematoma aurikuler biasanya ditemukan benjolan pada aurikular bagian depan pada daerah
cekungan, pembengkakan karena ada gumpalan darah, adanya perubahan bentuk pada telinga
atau deformitas, perubahan warna dimana biasanya tampak massa berwarna ungu, kemerahan
dan benjolan di aurikula (daun telinga).

Palpasi

Kaji adanya nyeri tekan, benjolan di aurikula (daun telinga) dan adanya fluktuasi atau terasa
kenyal.
F. TINDAKAN PENANGANAN ATAU TERAPI

Mengeluarkan isi hematoma yaitu bisa secara aspirasi atau insisi. Aspirasi dilakukan
dengan jarum aspirasi nomor 18 untuk mencegah reakumulasi dari hematoma. Prinsip
selanjutnya setelah dilakukan aspirasi atau insisi dilakukan penekanan untuk mencegah
reakumulasi antara lain dengan cara : pembalutan seperti pemasangan perban, penekanan paksa
mastoidektomi, penekanan lokal dengan blaster yang dijahit. Menggunakan penekanan gips yang
dipasang di depan dan di belakang. Menggunakan perban gipsona yang melingkari daun telinga.
Disamping kedua tahap ini, juga penting pemberian antibiotik yang adekuat (Fariz, 2006).

Selain itu ada beberapa cara atau metode dalam penanganan hematoma aurikuler, yaitu:

1. Bebet tekan melingkar


2. Bantalan kapas atau kasa dijahitkan menembus aurikula
3. Bantalan kasa yang jenuh dengan salep antibiotika dan pipa karet yang masing-masing
didepan dan dibelakang aurikulum dijahit menembus aurikuler
4. bantalan kapas atau kasa yang dicelupkan dalan cairan kolodion dan diletakkan pada
telinga yang sakit(Stuteville)
5. white wool atau webrig yang dicelupkan dalam cairan kolodion dan diletakkan pada
telinga yang sakit
6. gips yang dicampur air secukupnya dan dicetakkan pada telinga yang sakit
7. penekanan dengan memakai bloster yang dijarit
8. bantalan kasa yang padat dibasahi betadine masing-masing didepan dan dibelakang
aurikula dijahit menembus aurikula dan difiksasi dengan pipa plastik dan bekas selang
infus pada bagian belakang aurikula(soekirman 1995).
G. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN

Data Subjektif:

1. pasien mengeluh nyeri


2. pasien mengeluh panas didaerah daun telinga

Data Objektif:

1. Pembengkakan (karena ada gumpalan darah).


2. Perubahan bentuk telinga (deformitas).
3. Perubahan warna (tampak massa berwarna ungu).
4. Kemerahan.
5. Benjolan di aurikula (daun telinga).
6. Fluktuasi/ kenyal

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan.


2. Ansietas derhubungan dengan krisis situasional.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampilan sekunder akibat
kehilangan bagian tubuh.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan sisi masuknya mikroorganisme sekunder akibat
incisi

I. RENCANA TINDAKAN

Dx1 : Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x menit nyeri dapat


teratasi atau terkontrol dengan kriteria hasil :
1. Pasien melaporkan nyeri berkurang
2. Skala nyeri tingkat ringan ( 0-3 )
3. Wajah tidak meringis
4. Tidak gelisah
5. TTV stabil (suhu : 36-37,30C, nadi: 60 100 x/menit, RR : 18 24 x/menit,
tekanan darah : 120-140/80-100mmHg)

Intervensi

Mandiri

1. Observasi dan catat keluhan lokasi beratnya (skala 0-10) dan efek yang
ditimbulkan oleh nyeri
2. Pantau tanda-tanda vital
3. Ajarkan untuk menggunakan teknik relaksasi dan nafas dalam atau teknik
distraksi seperti mendengarkan musik atau membaca buku

Kolaborasi

1. Pemberian obat analgetik sesuai indikasi

Dx 2 : Ansietas b/d krisis situasional

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x jam kecemasan pasien


berkurang hingga hilang dengan kriteria hasil :

1. Mengakui dan mendiskusikan rasa cemas


2. Mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi
3. Pasien tampak rileks dan melaporkan kecemasan berkurang sampai tingkat dapat
diatasi

Intervensi :

1. Bina kerjasama pasien dengan keluarganya


2. Catat petunjuk perilaku, mis: gelisah, peka rangsang, menolak, kurang kontak
mata, perilaku menarik perhatian.
3. Dorong menyatakan perasaan. Berikan umpan balik.
4. Akui bahwa ansietas dan masalah mirip dengan yang diekspresikan orang lain.
Tingkatkan perhatian mendengar pasien.
5. Berikan informasi yang akurat dan nyata tentang apa yang dilakukan, mis: tirah
baring, pembatasan masukan peroral, dan prosedur.
6. Berikan lingkungan tenang dan istirahat.
7. Pertahankan kontak sering dengan pasien

Dx3 : Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampilan


sekunder akibat kehilangan bagian tubuh.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x .. jam diharapkan pasien


tidak merasa malu terhadap penampilannya dengan kriteria hasil:

1. Pasien koperatif selama menjalani pemeriksaan


2. Menerima situasi secara konstruktif

Intervensi

Mandiri

1. Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan khususnya mengenai pikiran,


perasaan, pandangan dirinya.
2. Catat prilaku menarik diri. Peningkatan ketergantungan, manipulasi atau tidak
terlibat pada perawatan
3. Pertahankan pendekatan positif selama aktivitas perawatan

Dx4 : Resiko infeksi berhubungan dengan sisi masuknya mikroorganisme sekunder


akibat incisi

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x .. jam diharapkan


penyebaran infeksi dapat dikontrol dengan kriteria hasil :
1. Tidak terdapat tanda-tanda imflamasi
2. Tanda-tanda vital normal (suhu : 36-37,30C, nadi: 60 100 x/menit, RR : 18 24
x/menit, tekanan darah : 120-140/80-100mmHg)

Intervensi

Mandiri

1. Observasi dan catat keluhan lokasi beratnya (skala 0-10) dan efek yang
ditimbulkan oleh nyeri
2. Pantau tanda-tanda vital
3. Ajarkan untuk menggunakan teknik relaksasi dan nafas dalam atau teknik
distraksi seperti mendengarkan musik atau membaca buku

Kolaborasi

1. Pemberian obat analgetik sesuai indikasi

EVALUASI

Dx1 : Nyeri berkurang atau terkontrol

Dx2 : Ansietas berkurang

Dx3 : Pasien tidak merasa malu terhadap penampilannya

Dx4 : Penyebaran infeksi dapat dikontrol