Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

Formulasi Teknologi Sediaan Kosmetik

CAT KUKU

Nama Kelompok :

Angela Orpa Guru

Elwin Dwi Novitasari

Mery Multiyana

Novalia Eriska

Triwulandari

AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA MALANG


OKTOBER 2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kuteks atau cat kuku merupakan salah satu kosmetik yang digunakan oleh wanita
untuk memperindah tampilan kuku mereka. Kuteks sendiri berasal dari Tiongkok, dan
penggunaannya telah ditelusuri sejak tahun 3000SM. Sekitar 600SM, pada masa Dinasti
Zhou, keluarga kerajaan mewarnai kuku mereka dengan warna emas dan perak. Pada
masa Dinasti Ming, cat kuku umumnya terbuat dari campuran lilin lebah, putih telur,
gelatin, pewarna sayur, dan getah Arab. Seiring dengan berjalannya waktu dan pesatnya
pertumbuhan teknologi, cat kuku mengalami metamorfosis dalam formulasinya. Terlebih
lagi sekarang cat kuku sudah memasuki trend fasion dan mempunyai nilai seni yang
banyak diminati oleh kebanyakan wanita dari segala umur dan kalangan.
Saat ini fenomena pemakaian cat kuku telah mengalahkan pemakaian dari lipstik. Cat
kuku telah menggeser posisi lipstik sebagai kosmetik yang paling banyak dibeli. Hal ini
dibuktikan dengan data riset market yang dilakukan oleh NPD Group. Pada tahun 2016,
penjualan cat kuku meroket hingga 54%, meninggalkan lipstik yang hanya meroket
sebanyak 14% saja. Dengan kondisi seperti ini, membuat para produsen kosmetik
berlomba-lomba merilis cat kuku dengan rangkaian formulasi dan spesifikasi yang
beraneka ragam.
Jika pada jaman dahulu bahan penyusun cat kuku merupakan bahan-bahan yang
didapat dari alam, namun pada era sekarang cat kuku disusun dari bahan-bahan yang
bermacam-macam dengan tambahan-tambahan yang dapat meningkatkan daya jualnya,
seperti gliter, pigmen pewarna, pengkilap, dan lain-lain tergantung dari spesifikasi yang
disajikan oleh produsen cat kuku tersebut. Dengan adanya bahan penyusun dan bahan
tambahan yang ada pada cat kuku, cat kuku dibagi menjadi beberapa macam, yaitu
shimmer, micro-shimmer, micro gliter, matte, dan lain-lain.
Dengan banyaknya minat di kalangan masyarakat, maka perlu diketahui apa saja
bahan penyusun cat kuku, apa saja macam-macam cat kuku, apa tujuan penggunaan cat
kuku, dan bagaimana cara pembuatan cat kuku agar nantinya bisa digunakan sebagai
bekal untuk memproduksi cat kuku untuk dipasarkan dan menghasilkan keuntungan
finansial.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Mengetahui bahan penyusun cat kuku
Mengetahui jenis-jenis cat kuku
Mengetahui cara pembuatan cat kuku
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Cat Kuku


Mewarnai kuku sudah dilakukan sejak zaman Mesir kuno. Tujuannya adalah untuk
membuat kuku tampak lebih cantik dan sebagai pelengkap penampilan. Nefertiti dan
Cleopatra adalah ratu-ratu cantik yang gemar mewarnai kukunya. Bila Nefertiti gemar warna
merah ruby, Cleopatra senang dengan warna merah hati. Pada zaman itu seluruh wanitanya
sudah mengoleskan pewarna pada kuku masing-masing. Namun, hanya kalangan bangsawan
yang diperbolehkan memoles kuku dengan warna terang.
Pewarna kuku yang saat itu dikenal dengan nama henna, tidak hanya dipakai oleh para
wanita yang masih hidup. Henna yang menghasilkan warna cokelat kemerahan juga
digunakan untuk mewarnai kuku-kuku Firaun Mesir yang sudah dimumikan. Tujuannya
bukan lagi untuk memperindah, tetapi untuk mengawetkan kuku-kuku mereka. Penggunaan
henna ini dianggap sebagai pewarna atau cat kuku yang paling tua.
Pada 600 SM, sejak zaman Dinasti Chou, para wanita di China menggunakan pewarna
kuku berwarna metalik untuk membedakan para bangsawan dengan rakyat biasa. Bahan yang
digunakan adalah putih telur, beeswax, gelatin, dan gum arabic. Bahan-bahan tersebut
dicampur dengan bunga-bunga yang sudah dihancurkan, lalu dicampur dengan tawas. Bunga
yang biasa digunakan adalah anggrek dan daun bunga. Untuk menggunakannya, bubuk atau
krim pewarna kuku tersebut dibungkus dengan kain ke kuku atau menggunakan kain sebagai
alat memolesnya.
Efek warna yang dihasilkan dari bahan-bahan ini, berubah-ubah. Sesaat setelah
dibubuhkan ke kuku, ramuan ini memberi efek warna merah muda. Setelah didiamkan selama
satu hari, warna berubah menjadi merah. Warna lain yang sering digunakan oleh wanita-
wanita China pada zaman itu adalah warna perak dan emas.
Nitroselulosa (bahan utama cat kuku modern) sendiri baru dikenal pada masa Perang
Dunia I ketika Amerika Serikat mendapatkan paten bahan kimia ini dari Jerman. Sejak saat
itu cat kuku berwarna pink mulai dibuat.
Pada abad 20-an, istilah menikur pun mulai dikenal. Seiring berkembangnya waktu,
pewarna kuku yang juga disebut sebagai cat kuku, digunakan oleh orang-orang zaman
modern. Artis-artis kelas dunia tak pernah ketinggalan mewarnai kuku-kukunya. Hal ini
terjadi sejak pewarna kuku modern muncul, yaitu pada 1920. Perlengkapan kecantikan yang
modern ini pertama kali ditemukan oleh Michelle Menard. Meskipun cat kuku sudah lama
dikenal, pada saat itu hanya ada satu warna cat kuku, yaitu hitam, dan menjadi populer di
Perancis.
Keluarga bangsawan Prencess de Faucigny-Lucinge dianggap sebagai pencetak tren
setelah ia mewarnai kukunya dengan warna merah marun. Kemudian tren tersebut juga
diikuti oleh para bintang Hollywood dan para sosialita.
Di era 1930-an, untuk waktu singkat cat kuku warna hitam juga menjadi tren di beberapa
belahan dunia. Namun tren ini segara hilang karena pada masa itu warna-warna cat kuku
semakin beragam. Para wanita juga memiliki pilihan warna biru, hijau, emas, perak, bahkan
putih mutiara.
Revlon merupakan perusahaan kosmetik yang menjadi pemimpin dalam hal cat kuku,
diikuti dengan merk kosmetik lain seperti Cutex, Avon, Elka, Blue Bird, dan Glazo. Secara
umum pada masa itu formula cat kuku juga makin sempurna, baik dalam konsistensi warna,
daya tahan, dan kilaunya.
Teknologi terbaru dalam cat kuku muncul di tahun 1950-an, terutama dalam materialnya
sehingga cat kuku semakin mudah digunakan.
Ketika televisi berwarna muncul tahun 1960-an, barulah muncul cat kuku dengan
berbagai warna. Para artis tak segan-segan memoles kuku mereka dengan warna merah, biru,
kuning, atau emas. Mereka menggunakannya dengan menyesuaikan warna pakaian.
Kegemaran para artis akan cat kuku, berkembang ke masyarakat.
Tahun 1970-an hingga kini mewarnai kuku sudah menjadi bagian dari kecantikan wanita,
bukan hanya artis yang senang mewarnai kuku, tetapi juga masyarakat biasa. Di mana pun
dan kapan pun, kita bisa menjumpai wanita-wanita dengan cat kuku berwarna-warni.
2.2 Pengertian Kuku dan Cat Kuku

Kuku adalah organ tubuh yang berhubungan langsung dengan makanan yang dimakan.
Kuku merupakan alat tambahan kulit yang mempunyai fungsi fisiologis untuk melindungi
ujung jari dan fungsi estetis untuk menunjang penampilan. Kuku merupakan alat tambahan
kulit yang mempunyai fungsi fisiologis untuk melindungi ujung jari dan fungsi estetis untuk
menunjang penampilan. Kuku adalah bagian tubuh yang terdapat atau tumbuh di ujung jari.
Kuku tumbuh dari sel mirip gel lembut yang mati, mengeras, dan kemudian terbentuk saat
mulai tumbuh dari ujung jari. Fungsi utama kuku adalah melindungi ujung jari yang lembut
dan penuh urat saraf, serta mempertinggi daya sentuh. Secara kimia, kuku sama dengan
rambut yang antara lain terbentuk dari keratin protein yang kaya akan sulfur.

Cat kuku adalah sediaan kosmetika terbesar yang sering digunakan dalam sediaan untuk
memperindah dan merawat kuku. Cat kuku merupakan pigmen yang diendapkan dalam
pelarut yang mudah menguap untuk menutupi warna alami kulit. Pada umumnya terdiri dari
zat-zat yang mudah terbakar, jadi pembuatannya dan pemakaiannya harus jauh dari sumber
api.

2.3 Persyaratan Cat Kuku :


a) Cairan harus mudah dioleskan dengan rata
b) Tidak berlendir dan bila sudah kering tidak mengelupas.
c) Tidak mudah retak-retak dan tidak bersisik.
d) Warna harus rata dan homogen, serta stabil pada penyimpanan.
e) Harus cepat kering dan membentuk lapisan yang halus
f) Tidak berbahaya serta tidak merusak/mengiritasi kuku dan kulit
Persyaratan lapisan cat kuku dapat dibagi menjadi dua kelompok: cat dasar dan pernis,
pelapis untuk penciptaan "efek khusus".
2.4 Jenis - jenis Cat Kuku/Kuteks
Secara umum, kuteks terbagi menjadi beberapa jenis, diantaranya :
1. Shimmer
jenis kutek yang memiliki kilauan lebih bercahaya, Biasanya ini disebut kuteks kilat

2. Micro-Shimmer
Hampir mirip seperti Shimmer, biasanya di dalamnya terdapat kilauan kecil seperti
tampak gambar di bawah ini.
3. Micro Glitter
Type Kuteks yang hampir mirip dengan Micro-Shimmer, hanya saja Butiran Gliter lebih
menonjol.

4. Glitter
Kuteks yang berisi butiran mengkilap dengan berbagai bentuk, biasanya berbentuk
bintang, bulat atau love. Ukuran butirannya lebih besar dari Micro Glitter. Jenis kuteks/nail
polish yg ini cocok untuk dikenakan saat pergi ke pesta.
5. Frost
Tipe Kutek Frost adalah Kutek yang mengkilap lebih rendah, kutek seperti ini hanya ada
pada kutek jadul dan sudah tidak populer lagi.

6. Lustre
Tipe Kutek Lustre memiliki karakter mengkilap seperti metalic, Kesan metal pada kuteks
ini sangat cocok untuk wanita usia separuh baya.
7. Creme
Creme sesuai dengan warnanya yaitu cream, memiliki warna yang cocok untuk warna
kulit jadi baik terang maupun kulit gelap.

8. Prismatic micro-glitter or shimmer


Prismatic micro Glitter merupakan perpaduan antara warna metalik di campur dengan
glitter kecil.
9. Iridescent
Kuteks Iridescent memberikan kesan warna warni seperti hologram.

10. Opalescent
Tipe kuteks Opalescent memiliki warna yang terkesan unik, sama seperti namanya
yaitu batu opal. Biasanya didominasi dengan warna yang lembut.
11. Matte
Matte atau Duff, Tipe Kuteks ini memberikan kesan buram yang elegant. Baik
digunakan secara polos atau dikombinasi dengan warna berkilau. Cenderung warna original
dan tak banyak pilihan, warna ini cocok dikenakan pada nuansa cassual dan sehari-hari.

12. Duo-chrome
Duo-chrome merupakan perpaduan warna Metalik dan Mengkilat serta memiliki kesan
berminyak yg indah. Hampir sama seperti Opalescent, hanya saja untuk Duo-chrome
menggunakan warna lebih tua.
13. Jelly or translucent
Tipe Kutek ini memberikan kesan transparant layaknya seperti jelly, Kebanyakan dari
jenis tipe kutek ini berwarna muda.

14. Magnetic
Keunikan dari tipe kuteks ini adalah pada serbuk besi yang ada di dalamnya, Untuk
membentuk motif dari kutek ini menggunakan Magnet (besi berani).
15. Crackled
Kuteks ini memberikan kesan Sesuai dengan namanya Crackeled atau pecah atau retak
jika kuteks ini mengering saat di poles.

16. Glass-flecked
Keunikan kutek ini adalah memberikan kesan berlapis Kaca. Kutek ini sangat popular
pada saat peluncuran perdananya di tahun 90an.
2.5 Komponen penyusun Cat Kuku
Komponen yang menyusun cat kuku, diantaranya :
1. Bahan-bahan pembentuk selaput utama/film (15%)
Misalnya nitroselulosa, polimer metakrilat, polimer vinil, merupakan komponen tahan air
yang menghasilkan selaput mengkilat dan melekat pada nail plate.
2. Selaput untuk membentuk resin (7%)
Misalnya formaldehid, p-toluene sulfonamid, poliamide, akrilat, alkyd dan vinil resin,
untuk melekatkan kuku dengan cat dan meningkatkan kilauan;
3. Plasticizers/zat plastik (7%)
Karena larutan nitrocellulose yang mengering di permukaan kuku akan membentuk lapisan
yang keruh dan mudah terkelupas, maka cat kuku perlu di tambah bahan plasticizer. Misalnya
dibutil pthalat, dioktil pthalat, trikresil pospat, kamfor, minyak jarak, trifenil fosfat untuk
meningkatkan kelenturan..
4. Pelarut dan cairan lain (70%)
Pelarut dan cairan lain untuk memodifikasi viskositas misalnya asetat, keton, toluen,
xylene, alkohol, metilen klorida, eter;
5. Pewarna (0-1%)
Umumnya digunakan adalah kombinasi pigmen dengan lakes, karena soluble dyes saja akan
membuat kuku kurang mendalam dan kurang intens. Dari ubi ungu juga dapat digunakan sebagai
zat pewarna cat kuku (Tranggono, 2009).
6. Pengisi, yaitu guanine fish scale atau titanium dioksida dilapisi misca flakes atau bismuth
oksiklorida untuk pewarnaan.
7. Bahan pengendap (1%), tetapi tidak selalu ditambahkan

2.6 Kandungan Zat Kimia dalam Cat Kuku


1. Toluen
Bahan ini digunakan sebagai bahan pelarut dalam cat kuku, artinya zat ini berfungsi
melarutkan zat kimia lain dalam cat kuku untuk menciptakan hasil akhir warna cat kuku yang
menarik.
2. Formaldehida
Formaldehida memiliki fungsi yang hampir sama dengan toluena, zat ini berfungsi
sebagai bahan pelarut yang juga memiliki efek samping sangat berbahaya bagi kesehatan
karena dapat menyebabkan kanker. Selain itu jika terhirup, asap formaldehid dapat
menyebabkan iritasi selaput lendir di mata, hidung dan tenggorokan.
3. Etil Asetat
Etil asetat adalah zat kimia dalam cat kuku yang berfungsi sebagai pengering dan
pengeras. Zat ini biasa terhirup terutama saat kamu melakukan menicure. Zat ini berfungsi
sebagai pelarut, dampaknya akan sangat berbahaya karena dapat menembus kulit. Jika
terhirup dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kerusakan paru-paru, jantung, ginjal,
dan hati.
4. Butil Asetat
Butil asetat juga berfungsi sebagai pelarut dalam cat kuku. Zat kimia ini sangat beracun
dan menyebabkan iritasi mata, kulit dan paru-paru.
5. Dibutyl Phthalate
Zat kimia dalam Ftalat mudah diserap saat cat kuku digunakan. Zat kimia ini sangat
berbahaya karena dapat mempengaruhi siklus pubertas awal pada anak perempuan, jumlah
sperma yang rendah pada pria, cacat seksual, dan masalah dengan perkembangan janin.
6. Ftalat Anhidrid
Pada cat kuku Dibutyl ftalat sering digantikan oleh anhidrida ftalat, namun sebenarnya
zat kimia ini tidak jauh lebih baik daripada dibutyl ftalat. Zat kimia ini sangat berbahay
karena dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh dan pernafasan manusia, dapat
menyebabkan kanker, kerusakan organ, dan iritasi membran.

2.7 Formula umum Cat Kuku


Formula umum suatu cat kuku terdiri dari :
1. Primary Fil Former, adalah zat-zat yang dapat membentuk lapisan film halus pada
permukaan kuku. Suatu cat kuku yang baik adalah dapat membentuk lapisan :
a. Cukup tebal, viskositasnya baik, tidak terlalu kental, mudah dioleskan dan
kebasahannya baik.
b. Halus dan mengkilat.
c. Melekat pada kuku dengan baik
d. Cukup elastis hingga tidak mudah pecah dan patah
e. Dapat membentuk permukaan yang keras dan kering pada waktu yang sangat singkat.
Sebagai film former yang biasa digunakan adalah selulosa nitrat yang dihasilkan dari
reaksi antara selulosa dengan HNO3, selulosa sendiri diperoleh dari sejenis kayu, bentuknya
serat putih seperti kapas, mudah larut dalam pelarut tertentu, mudah kering dan tidak dapat
mengelupas. Selain selulosa nitrat dapat juga digunakan selulosa aseta, selulosa asetobutirat,
vinil resin, polimer metakrilat atau polimer vinil.
2. Secondary Film Former, pada umunya tidak membentuk lapisan karena merupakan
larutan jernih mendekati air dan berguna untuk membentuk lapisan, sehingga :
a) Cat kuku menjadi lebih mengkilat.
b) Lebih tahan lama dan lebih tahan air
c) Lapisan yang terbentuk tipis, lembut dan liat
Selain dapat digunakan sebagai pembantu pembentuk lapisan juga dapat digunakan
sebagai dispersing agent untuk zat warna yang tidak larut. Berdasarkan asalnya secondary
film former ini dapat dibagi menjadi :
a. Resin alami, berasal dari alam sebagai contoh shellac, damar, elemi, sandarak, benzoe,
copal dan sebagainya.
b. Resin sintetis, dibuat secara sintetis. Contoh : polivinil asetat, resin sulfonamida dan
formaldehida, polisteren, ester poliakrilat, polivinil asetat, kopolimer vinil asetat dan
vinil klorida.
3. Plasticizer, adalah zat-zat yang berguna untuk melembukan dan memberikan elastisitas
pada lapisan cat kuku yang terbentuk. Cat kuku pada umumnya mengandung dua atau
lebih campuran plasticizer. Sifat dari plasticizer adalah pada konsentrasi rendah dapat
membentuk lapisan tipis dan mengkilat. Sebagai plasticizer harus memenuhi syarat-
syarat :
a. Harus stabil dan tidak mudah menguap
b. Tidak menggumpal bila dioleskan
c. Dapat bercampur dengan komponen-komponen lain, seperti zat warna, pelarut, film
former dan sebagainya.
d. Tidak beracun, tidak merusak kuku dan kulit
e. Tidak mempengaruhi kestabilan kimia nitroselulosa
f. Tidak berwarna dan tidak berbau.
g. Dapat memberikan elastisitas dan kelembutan yang dikehendaki dalam trayek suhu luas
h. Dapat bersifat sebagai pelarut yang tercampur dengan nitroselulosa dalam segala
perbandingan.
Plasticizer yang sering digunakan adalah benzil benzoat, butil ftalat, butil stearat, trietil
sitrat, trifenil fosfat, dioktil adipat, tributil fosfat, dioktil ftalat, butil glikolat, trikresil
fosfat, seluloid, turunan urea, butil stearat dan sebagainya.
4. Pelarut, merupakan bagian yang menguap dari suatu cat kuku. Berguna untuk
mendispersikan zat-zat film former dan zat-zat lain yang tidak dapat larut serta tak
menguap hingga didapat suatu suspensi yang homogen. Pemilihan zat pelarut tergantung
pada jenis film former yang akan digunakan. Pelarut yang digunakan harus memenuhi
persyaratan :
a. Harus cepat kering, mudah dipakai dan tidak berbahaya
b. Mempunyai titik leleh tidak lebih dari 30C
c. Mempunyai sifat mudah menyebar dan membentuk viskositas yang baik dengan film
former dan resin.
d. Harus beraroma yang menyenangkan dan tidak boleh terlalu keras.
Penggunaan pelarut berdasarkan titik didihnya :
a) Titik didih sedang, 100-150C misalnya n-butil asetat
b) Titik didih rendah, lebih kecil dari 100C, misalnya aseton, etil asetat.
c) Titik didih tinggi, lebih besar dari 150C, misalnya selusolve, butil selusolve.
Penggolongan pelarut berdasarkan sifatnya :
a. Pelarut aktif, adalah pelarut yang baik untuk nitroselulosa, mempunyai viskositas
besar dan kecepatan menguapnya dapat dibagi menjadi kuat, sedang, dan lemah.
Sebagai contoh butil asetat, amil asetat, aseton, dietilen glikol, etil eter, diisobutil
keton,etilen glikol, lauril eter, dimetilsulfoksida dan nitro parafin.
b. Pelarut campuran latent. Dilakukan terhadap pelarut yang tak dapat digunakan
sendri lebih baik kalau dicampur dengan pelarut aktif. Mempunyai viskositas kecil dan
viskositas ini tergantung pada % alkohol walaupun alkohol masih harus dicampur
dengan ester-esternya.
c. Pelarut diluen, sebenarnya bukan merupakan pelarut, tetapi sebagai stabilisator
viskositas. Pada umunya bukan pelarut biasa tapi pelarut organik yang mempunyai sifat
tercampur dengan pelarut nitroselulosa. Karena pelarut nitriselulosa mahal harganya,
maka pelarut diluen dapat digunakan untuk mengurangi biaya. Penggunaan pelarut
diluen ada batasnya yaitu jumlah pelarut diluen terbanyak yang dapat diterima oleh
larutan nitroselulosa tanpa adanya endapan, batas ini disebut dengan istilan dilution
ratio. Kalau jumlah pelarut diluen terlalu banyak larutan akan menjadi kental
(viscous). Contoh golongan alkohol, golongan hidrokarbon aromatik : silen, toluen,
golongan hidrokarbon alifatik : petroluem naftol.
5. Zat warna, penggunaannya diatur oleh undang-undang FD&C act. Pada umumnya
merupakan zat warna sintetis, sangat berguna untuk memberi efek keruh/gelap pada
lapisan dan kuku akan terlihat bagus dan indah. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh zat
warna :
a) Tidak berbahaya, tidak larut dalam pelarut dan tidak diserap oleh kuku.
b) Warna harus sesuai dengan yang diinginkan dan stabil
c) Stabil tidak hanya terhadap cahaya tetapi juga terhadap komponen yang lain seperti
pelarut organik.
d) Tidak merangsang dan tidak menimbulkan alergi Contoh zat-zat warna yang sering
digunakan adalah: D&C red No. 6, 7, 10, 11, 12, 13, 34, campurannya dengan D&C
yellow No. 5, 6 atau campuran TiO2 + mika, Bi oksida + mika, dan Al+ mika.
6. Zat pengisi, kadang-kadang diperlukan agar terbentuk cat kuku yang transparan. Untuk
ini diperlukan zat pengisi yang berwarna seperti pelangi misalnya guanin yang harus
dilarutkan dahulu dalam butil asetat baru ditambahkan kedalam larutan nitroselulosa.
Kadang-kadang juga diperlukan zat pengisi seperti tanah liat yang tak boleh dikotori oleh
minyak atau pelarut lain hingga dapat stabil lama.

2.8 Pembuatan Cat Kuku Dalam Skala Industri


1. Pigmen dicampur dengan nitroselulosa dan plasticizer menggunakan Banbury mixer.
Banbury mixer merupakan suatu alat yang terdiri dari sepasang rol yang berputar
dengan kecepatan tinggi. Tujuannya adalah untuk menghasilkan dispersi warna yang
halus. Jika digiling dengan baik maka campuran ini akan berbentuk seperti lembaran.
2. Lembaran-lembaran campuran tersebut dikeluarkan dari Banburry mixer, kemudian
dihancurkan menjadi keripik-keripik kecil.
3. Lembaran campuran yang telah dihancurkan menjadi keripik dicampur dengan
pelarut. Pencampuran dilakukan di wadah tertutup yang terbuat dari stainless tell/ baja
tahan karat nitroselulosa sangat reaktif dengan adanya zat besi.
4. Campuran didinginkan dengan cara mengederkan air dingin diluar wadah. Suhu ketel,
dan laju pendinginan, dikendalikan oleh komputer dan teknisi.
5. Dimasukkan bahan tambahan seperti parfum dan pelembab kedalam campuran
6. Cat kuku dikemas.

2.9 Evaluasi Cat Kuku


1. Organoleptis
Dilakukan dengan cara dilihat warna sediaan, bentuk sediaan, dan dicium wangi
sediaan.
2. Waktu Kering
Waktu yang dibutuhkan untuk mengerikan diukur dengan stopwatch , dibawah suhu
25o, dan pada kondisi kelembaban relatif 50%.
Syarat: < 10 menit
3. Kehalusan aliran
Diperiksa dengan cara megoleskan cat kuku pada lempeng kaca dengan gelas
pengaduk, setebal 1,5 inchi lalu dilihat kehalusan alirannya.
Syarat: cat kuku harus bebas dari zat asing dan gumpalan.
4. Kekerasan
Dapat dilakukan dengan cara mengoleskan cat kuku setebal 0,006 inchi pada lempeng
kaca, kemudian keringkan pada suhu 25oC selama 48 jam, krmudian pada suhu 710C
selama 2 jam, dan kembali lagi pada suhu 250 C selama 48 jam, lalu ditekan dengan
ibu jari.
5. Uji ketahanan terhadap air
Dilakukan dengan menggunakan 3 lempeng kaca, yang masing-masing telah diolesi
dengan 0,006 inchi sampel cat kuku. Keringkan dalam oven dengan suhu 250C,
selama 24 jam. Keluarkan sampel dari dalam oven, kemudian ditimbang. Sampel
selanjutnya ditaruh diatas penangas air dengan suhu 370C selama 24 jam. Setelah 24
jam, keringkan sampel menggunakan jertas saring, kemudian ditimbang kembali, lalu
dilihat apakah sampel cat kuku tahan terhadap air atau tidak. Semakin tinggi berat
sampel setelah ditaruh dipenangas air, berarti semakin rendah ketahanan sampel
terhadap air.
Syarat: bobot sampel setelah ditarus diatas penangas harus tetap sama dengan bobot
sampe sebelum ditaruh dipenangas air.
6. Daya Abrasi
Dilakukan dengan cara menggosokan sampel cat kuku pada lempeng kaca, lalu
dikeringakan. Setelah mengering, gosok-gosoklah sampel. Kemudian dilihat apakah
ada bagian dari sampel cat kuku yang etrlepas
Syarat: tak ada bagian cat kuku yang etrlepas
7. Viskositas
Dapat dilakukan dengan menggunakan viskometer Brookfield dengan kecepatan 60
rpm selama 10 menit.
2.10Langkah-langkah dalam Mengecat Kuku
a. Mula-mula kuku dibersihkan dapat dilakukan dengan cara mencuci tangan secara
keseluruhan dengan air dan sabun lalu dikeringkan dengan handuk
b. Setelah tangan bersih dan kering, kuku dirapihkan dengan gunting kuku agar bentuk
kuku bisa kita desain dengan baik dan memperhalus permukaan ujungnya maka bisa
menggunakan pengikir kuku.
c. Setelah kuku terbentuk, oleskan kuku dengan vitamin kuku lalu biarkan mengering.
Setelah vitamin kuku kering, oleskan dengan base coat untuk memperkuat dan
melindungi kuku.
d. Setelah base coat mengering, kita dapat mengoleskan cat kuku dengan warna yang kita
sukai. Cara mengoles cat kuku yang baik adalah dari ujung kutikel ke bagian ujung
kuku. Lakukan beberapa kali dan tambahkan olesan jika diperlukan.
e. Ada baiknya jika kuku ingin tetap awet dapat dioleskan lagi dengan nail polish atau
kutek transparant dan kemudian dikeringkan.
f. Namun bisa juga mencelupkan kuku itu ke dalam air es atau air dingin selama 3 menit
dan biarkan airnya mengering sendiri. Di step terakhir ini jangan pernah mencoba
mengelapnya dengan handuk jika dirasa kutek dalam keadaan masih basah, karena akan
merusak semua olesan yang tadi telah kita lakukan.
2.11Pembersih Cat Kuku
Pembersih cat kuku merupakan sediaan cair yang mampu untuk menghilangkan warna
cat kuku dengan melarutkan nitroselulosa dan resin. Ada yang mengandung moisturizer dan
air untuk melembabkan dan menggunakan pelarut untuk menghilangkan lemak, dan ada juga
pembersih cat kuku tipe krim. Pelarut yang biasa digunakan diantaranya adalah etil asetat,
aseton dan turunan alkohol.
Bahan-bahan pembersih cat kuku ini kebanyakan mudah terbakar, sehingga dilakukan
tindakan yang sesuai untuk menghindari pemakaian api secara langsung selama proses
pembuatan.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
Cat kuku adalah sediaan kosmetika terbesar yang sering digunakan dalam sediaan untuk
memperindah dan merawat kuku. Cat kuku merupakan pigmen yang diendapkan dalam
pelarut yang mudah menguap untuk menutupi warna alami kulit. Pada umumnya terdiri dari
zat-zat yang mudah terbakar, jadi pembuatannya dan pemakaiannya harus jauh dari sumber
api.
Jenis-jenis nail polish : Matte, Glitter, Color Changing Nail Polish, Metallic,Extra shine,
Shimmer.
Komponen yang menyusun cat kuku : Pembentuk selaput, utama/film, Selaput
untuk membentuk resin, Plasticizers/zat plastik, Pelarut dan cairan lain, Pewarna, Pengisi,
Bahan pengendap.

4.2. Saran

Agar memperoleh hasil maksimal dalam pengaplikasian pewarna maka


disarankan pengaplikasian pewarna kuku tersebut pada permukaan kuku yang telah
dibersihkan dan bentuk kuku kemudian oleskan kuku dengan vitaminkuku lalu biarkan
mengering. Setelah itu oleskan dengan base coat untuk memperkuatdan melindungi kuku,
lalu oleskan cat kuku dengan warna yang kita sukai. Ada baiknyajika kuku ingin tetap awet
dapat dioleskan lagi dengan nail polish atau kutek transparantdan kemudian dikeringkan atau
bisa juga mencelupkan kuku itu kedalam air es atau airdingin selama 3 menit dan biarkan
airnya mengering sendiri. Dan jangan mengelapnyadengan handuk jika dirasa kutek dalam
keadaan masih basah, karena akan merusaksemua olesan yang telah kita lakukan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Harjanti, Novita.2009. Nail Cosmetics: between Aesthetic and Safety. Departemen Ilmu
Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UGM. Yogyakarta
2. Chandra, Ram, dkk. 2012. Evaluation Of Nail Lacquer, Indo Global Journal Of
Pharmaceutical Scinces, 2012; 2(4): 379-382
3. Ulinuha, Fahmi. 2015. NAIL ART SEBAGAI FASHION STATEMENT DALAM
FOTOGRAFI. UPT PERPUSTAKAAN ISI YOGYAKARTA. Yogyakarta.