Anda di halaman 1dari 49

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Perseroan Terbatas Sebagai Badan Hukum Dengan Tanggungjawab Terbatas


1. Teori Badan Hukum didalam Perseroan Terbatas
Dalam ilmu hukum dikenal berbagai teori tentang suatu badan hukum yang
menyebabkan eksistensinya terpisah dari para anggota/pemengang sahamnya dengan
berbagai konsekuensi yuridis dari keterpisahan tersebut. Teori-teori tentang badan
hukum tersebut mempunyai interrelasi dengan pengakuan terhadap eksistensi teori
piercing the corporate veil. Artinya, semakin kuat teori badan hukum tersebut
mengakui keterpisahan badan hukum tersebut, semakin kecil pengakuannya kepada
teori piercing the corporate veil, demikian juga sebaliknya.1
Sepanjang sejarah hukum perusahaan, dikenal beberapa teori tentang badan
hukum perusahaan, yaitu sebagai berikut:
a. Teori fiksi
Teori fiksi disebut juga teori kesatuan semu. Teori ini mengajarkan bahwa
perusahaan hanya ciptaan dan khayalan manusia, serta dianggap ada oleh
manusia. Badan hukum hanyalah sebagai makhluk yang diciptakan oleh hukum.2
b. Teori individualisme
Menurut teori individualisme ini, hanyalah manusia (tidak termasuk badan
hukum) yang secara dapat mengklaim memiliki hak dan kewajiban dan manusia
jugalah yang yang mempunyai hak dan kewajiban yang terbit dari hubungan
hukum.3

c. Teori simbolis
Menurut teori simbolis ini, perseroan hanya dianggap sebagai nama kolektif dari
para pemegang saham. Perusahaan hanyalah kumpulan, simbol, atau kurungan
bagi para pemegang saham.4
d. Teori realistis
Teori realistis ini sering disebut juga disebut sebagai teori orgam, yang
menganggap bahwa keberadaan badan hukum dalam tata hukum sama saja dengan

1
Ibid; hlm. 3
2
Ibid
3
Ibid
4
Ibid
keberadaaan manusia sebagai subjek hukum. Jadi, badan hukum bukanlah
khayalan dari hukum sebagaimana diaarkan oleh teori fiksi, melainkan benar ada
dalam kehidupan hukum. Dalam hal ini badan hukum tersebut bertindak lewat
organ-organnya sehingga teori ini disebut juga dengan teori organ.5
e. Teori ciptaan diri sendiri
Teori inis elairan dengan teori realistis, merupakan teori yang mengajarkan bahwa
perusahaan hanyalah merupakan satu unit yang tercipta dengan sendirinya,
bukan ciptaan hukum dan bukan juga fiksi, melainkan benar-benar ada dalam
kenyataan.6
f. Teori kesatuan bisnis
Menurut teori kesatuan bisnis, untuk menyatakan suatu perusahaan merupakan
badan hukum, haruslah dilihat dari kenyataannya dalam bisnis.7
g. Teori kontrak
Sejalan dengan teori kesatuan bisnis tersebut diatas, maka menurut teori kontrak,
perusahaan dianggap sebagai kontrak antar para pemegang sahamnya. UUPT
tegas mengakui teori kontrak ini dengan menaytakan bahwa pada dasarnya
sebagai badan hukum, perseroan dibentuk berdasarkan perjanjian. Karena itu,
perseroan harus mempunyai lebih dari satu orang pemegang saham (Penjelasan
atas Pasal 7 ayat (1) UUPT).8
2. Karakteristik Perseroan Terbatas Sebagai Badan Hukum
Perseroan Terbatas (Limited Liability Company, Naamloze Vennootschap)
merupakan badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian untuk melakukan
kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, serta
memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Undang-Undang dan peraturan
pelaksanaannya. Kegiatan usaha dari perseroan harus sesuai dengan maksud dan
tujuan didirikannya perseroan, serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan, ketertiban umum, dan kesusilaan.
Perseroan terbatas merupakan subyek hukum yang berhak menjadi pemegang
hak dan kewajiban, termasuk menjadi pemilik dari suatu benda atau harta kekayaan
tertentu. Badan hukum ini adalah rekayasa manusia untuk membentuk suatu badan
yang memiliki status, kedudukan, kewenangan yang sama seperti manusia. Oleh

5
Ibid; hlm. 4
6
Ibid
7
Ibid; hlm. 5
8
Ibid
karena badan ini adalah hasil rekayasa manusia, maka badan ini disebut juga sebagai
artificial person9, yaitu sesuatu yang diciptakan oleh hukum untuk memenuhi
perkembangan kebutuhan kehidupan masyarakat.
Ketentuan tersebut dapat ditemukan pada ketentuan yang diatur dalam Pasal
519 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt) yang berbunyi Ada barang
yang bukan milik siapapun, barang lainnya adalah milik negara, milik persekutuan
atau milik perorangan.
Unsur-unsur badan hukum pada perseroan terbatas dan unsur-unsur perseroan
sebagai berikut:
a. Unsur-unsur badan hukum pada Perseroan Terbatas
Sebagai badan hukum10 (Dengan status PT. sebagai badan hukum, maka
sejak itu hukum memberlakukan pemilik atau pemegang saham dan pengurus
atau direksi terpisah dari PT itu sendiri yang dikenal dengan istilah separate
legal personality, yaitu sebagai individu yang berdiri sendiri. Dengan demikian
pemegang saham tidak mempunyai kepentingan dalam kekayaan PT, sehingga
tidak bertanggungjawab atas utang-utang perusahaan atau PT). Perseroan harus
memenuhi unsur-unsur badan hukum seperti ditentukan dalam UUPT, yang
diuraikan sebagai berikut:
1) Organisasi yang teratur, sebagai organisasi yang teratur, perseroan mempunyai
organ yang terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Direksi, dan
Komisaris (Pasal 1 ayat (2) UUPT). Keteraturan organisasi dapat diketahui
melalui ketentuan UUPT, Anggaran Dasar perseroan, Anggaran Rumah
Tangga perseroan, dan keputusan RUPS.
2) Kekayaan sendiri, perseroan memiliki kekayaan sendiri berupa modal dasar
yang terdiri dari seluruh nilai nominal saham (Pasal 31 ayat (1) UUPT) dan
kekayaan dalam bentuk lain yang berupa benda bergerak dan tidak bergerak,
benda berwujud dan tidak berwujud, misalnya kendaraan bermotor, gedung
perkantoran, barang inventaris, surat berharga, piutang perseroan.
3) Melakukan hubungan hukum sendiri sebagai badan hukum, perseroan
melakukan hubungan hukum sendiri dengan pihak ketiga yang diwakili oleh
direksi. Menurut ketentuan Pasal 92 ayat (1) jo Pasal 98 ayat (1) UUPT,
direksi bertanggungjawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan

9
Ridwan Khairandy, log.cit
10
I.G.Rai Widjaya, Hukum Perusahaan, Ksaint Blanc, Bekasi, 2003, hlm. 131
dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar
pengadilan.
4) Mempunyai tujuan sendiri sebagai badan hukum yang melakukan kegiatan
usaha, perseroan mempunyai tujuan sendiri. Tujuan tersebut ditentukan dalam
Anggaran Dasar perseroan (Pasal 15 ayat (1) huruf (b) UUPT). Karena
perseroan menjalankan perusahaan, maka tujuan utama perseroan adalah
mencari keuntungan dan atau laba.
b. Unsur-unsur Perseroan
Setiap perseroan harus memenuhi persyaratan UUPT dan peraturan
pelaksanaannya. Unsur ini menunjukan bahwa perseroan menganut sistem
tertutup (closed system). Dengan demikian dapat dilihat dan disimpulkan bahwa
pada dasarnya suatu perseroan terbatas mempunyai ciri-ciri sekurang-kurangnya
sebagai berikut:11
1) Memiliki status hukum tersendiri, yaitu sebagai suatu badan hukum, yaitu
subyek hukum artificial, yang sengaja diciptakan oleh hukum untuk
membantu kegiatan perekonomian, yang dipersamakan dengan individu
manusia, orang-perorangan;
2) Memiliki harta kekayaan sendiri yang dicatatkan atas namanya sendiri, dan
pertanggungjawaban sendiri atas setiap tindakan, perbuatan, termasuk
perjanjian yang dibuat. Ini berarti perseroan dapat mengikatkan dirinya dalam
satu atau lebih perikatan, yang berarti menjadikan perseroan sebagai subyek
hukum mandiri (persona standi in judicio) yang memiliki kapasitas dan
kewenangan untuk dapat menggugat dan digugat di hadapan pengadilan;
3) Tidak lagi membebankan tanggungjawabnya kepada pendiri, atau pemegang
sahamnya, melainkan hanya untuk dan atas nama dirinya sendiri, untuk
kerugian dan kepentingan dirinya sendiri;
4) Kepemilikannya tidak digantungkan pada orang perorangan tertentu, yang
merupakan pendiri atau pemegang sahamnya. Setiap saat saham perseroan
dapat dialihkan kepada siapapun juga menurut ketentuan yang diatur dalam
Anggaran Dasar dan Undang-Undang yang berlaku pada suatu waktu tertentu;
5) Keberadaannya tidak dibatasi jangka waktunya dan tidak lagi dihubungkan
dengan eksistensi dari pemegang sahamnya;

11
Gunawan Widjaja, Risiko Hukum Pemilik, Direksi & Komisaris PT, Cetakan Pertama, Forum Sahabat,
Jakarta, 2008, hlm. 1112
6) Pertanggungjawaban yang mutlak terbatas, selama dan sepanjang para
pengurus (direksi), dewan komisaris dan atau pemegang saham tidak
melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang tidak boleh dilakukan.
3. Organ Perseroan Terbatas
Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) UUPT, organ perseroan tersebut terdiri dari:
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS); Direksi dan; Dewan Komisaris.
a. RUPS
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebagai organ perseroan,
ditegaskan dalam Pasal 1 angka (4) yang mengatakan, RUPS adalah Organ
Perseroan. Dengan demikian menurut hukum, RUPS adalah Organ Perseroan
yang tidak dapat dipisahkan dari Perseroan.12 Menurut Pujiyono RUPS adalah
forum miliknya para pemegang saham perseroan.13
RUPS adalah rapat dari pemegang saham, pemegang-pemegang saham
bersama-sama dalam rapat umum merupakan kekuasaan tertinggi dalam perseroan
terbatas, kecuali hak-hak yang telah diberikan kepada pengurus atau orang-orang
lain,14 yang padanya melekat kekuasaan untuk menentukan dasar arah dan tujuan
perseroan. Namun perlu digaris bawahi bahwa rapat umum tersebutlah yang
menjadi inti, karena kata pemegang saham hanya menunjukkan bahwa subyek
hukum memiliki saham di perusahaan, karena itu rapat umum tersebutlah yang
akan menentukan atau memutuskan tindakan atau rencana perseroan.
Dalam menjalankan tujuan perseroan, pemegang saham haruslah bertindak
melalui RUPS, karena bilamana pemegang saham melakukan tindakannya tidak
melalui rapat maka tindakan demikian dapat dikategorikan sebagai campur tangan
pemegang saham terhadap perseroan dan akhirnya pemegang saham dapat
dimintakan pertanggungjawaban serta kehilangan pertanggungjawaban terbatas
yang menjadi ciri perseroan terbatas.
Segala keputusan-keputusan yang berkaitan dengan struktur organisasi
perusahaan ditentukan oleh RUPS sehingga merupakan hal penting dalam
perseroan. Oleh karena itu, dikatakan bahwa RUPS memiliki kewenangan
eksklusif yang tidak diserahkan kepada pihak lain. Hal ini menggambarkan bahwa

12
M. Yahya Harahap., op.cit., hlm. 306
13
Pujiyono, Hukum Perusahaan, Pustaka Hanif, Surakarta, 2014, hlm. 101
14
C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil, Pokok-Pokok Pengetahuan Hukum Dagang Indonesia Edisi Kedua,
Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 90
masing-masing organ mempunyai tugas dan kewajiban masing-masing yang tidak
dapat mencampuri satu sama lain.
RUPS memutuskan hal-hal penting mengenai kebijakan suatu perseroan
yang tidak terbatas pada pengankatan atau pemberhentian komisaris dan direksi
saja. Hak suara dalam RUPS dapat digunakan untuk berbagai maksud dan tujuan
seperti, rencana penjualan asset dan pemberian jaminan utang, menyetujui laporan
keuangan yang disampaikan oleh direksi, pertanggungjawaban direksi, rencana
penggabungan, peleburan, pengambilalihan dan rencana pembubaran perseroan.15
Pasal 1 ayat (4) UUPT disebutkan bahwa, Rapat Umum Pemegang
Saham, yang selanjutnya disebut RUPS, adalah Organ Perseroan yang
mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan
Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang ini dan/atau
anggaran dasar.
Dengan wewenang seperti tersebut dalam ayat di atas, RUPS mempunyai
hak untuk memperoleh segala keterangan yang berkaitan dengan kepentingan
perseroan dari direksi dan komisaris.
b. Direksi
Pada dasarnya anggota direksi adalah buruh atau pegawai perseroan.
Perseroan sebagai badan hukum adalah majikan anggota direksi. Didalam PT
Tertutup seringkali pemegang saham juga menjadi direksi perseroan yang
bersangkutan. Walaupun direktur itu adalah pemegang saham, namun ketika dia
menjadi direktur, maka dia terikat pada hubungan kerja dengan perseroan. Dengan
perkataan lain, dia adalah karyawan perseroan.16
Direksi ini dipilih dan diberhentikan oleh RUPS dan karenanya segala
tugas pengurusan perseroan harus dipertanggungjawabkan kepada RUPS.17
Direksi kedudukannya sebagai eksekutif dalam perseroan, direksi merupakan
organ perseroan yang bertanggungjawab penuh atas pengurusan perseroan,
mewakili perseroan baik didalam, maupun diluar pengadilan berdasarkan
anggaran dasar, atau dengan kata lain direksi dibatasi oleh anggaran dasar
perseroan.18

15
Kurniawan, Hukum Perusahaan Karakteristik Badan Usaha Berbadan Hukum dan Tidak Berbadan Hukum
Di Indonesia, Genta, Yogyakarta, 2014, hlm. 66
16
Ridwan Khairandy, op.cit., hlm. 204
17
Kurniawan, op.cit., hlm. 78
18
Gatot Supramono, Hukum Perseroan Terbatas, cet. Ke-4, Djambatan, Jakarta, 2007, hlm. 4
Pasal 1 ayat (5) UUPT dengan jelas dikatakan bahwa Direksi adalah
Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas
pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai dengan maksud dan
tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun di luar
pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar. Lebih lanjut dari Pasal 92
ayat (1) dan ayat (2) UUPT bahwa direksi dalam pengurusannya harus:
1) Memperhatikan kepentingan perseroan;
2) Sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan;
3) Memperhatikan ketentuan mengenai larangan dan batasan yang diberikan
dalam undang-undang dan anggaran dasar.
Kemudian dalam Pasal 97 ayat (1) dan ayat (2) UUPT dapat dilihat dengan
jelas bahwa setiap anggota direksi wajib menjalankan pengurusan direksi dengan
itikad baik dan penuh tanggungjawab.
UUPT memberikan syarat-syarat yuridis terhadap direksi dari suatu
perseroan terbatas sebagai berikut:
1) Ditegaskan dalam Pasal 93 ayat (1) UUPT
(1) Yang dapat diangkat menjadi anggota Direksi adalah orang perseorangan
yang cakap melakukan perbuatan hukum, kecuali dalam waktu 5 (lima)
tahun sebelum pengangkatannya pernah:
a. dinyatakan pailit;
b. Menjadi anggota Direksi atau anggota Dewan Komisaris yang
dinyatakan bersalah menyebabkan suatu Perseroan dinyatakan pailit;
atau
c. Dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan
negara dan/atau yang berkaitan dengan sektor keuangan.
2) Lebih dari satu orang untuk perusahaan tertentu.
Pada prinsipnya suatu perseroan terbatas dapat hanya mempunyai satu orang
direktur (direktur tunggal) atau lebih dari satu, akan tetapi menurut Pasal 92
ayat (4) UUPT, dalam hal-hal tertentu, sebuah PT haruslah mempunyai paling
sedikit 2 (dua) orang direktur, yaitu dalam hal-hal sebagai berikut:
a) Perseroan yang bidang usahanya mengerahkan dana masyarakat, atau
b) Perseroan yang menerbitkan surat pengakuan hutang, atau
c) Perseroan terbuka.
Hak direksi bila diteliti di dalam UUPT ada beberapa hak atau
kewenangan direksi. Dalam pelaksanaannya hak direksi sesuai Pasal 92 ayat (2)
UUPT dibatasi oleh 2 (dua) hal, yaitu UUPT dan anggaran dasar perseroan,
namun dalam UUPT tidak dijelaskan jenis perbuatan apa yang dibatasi dilakukan
direksi baik didalam UUPT maupun didalam anggaran dasar perseroan. UUPT
direksi mempunyai hak atau kewenangan sebagai berikut:
1) Menjalankan pengurusan perseroan (Pasal 92 ayat (1) UUPT);
2) Mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan (Pasal 98 ayat
(1) UUPT);
3) Mendapatkan upah (Pasal 96 UUPT);
4) Memberikan ijin kepada pemegang saham untuk memeriksa daftar pemegang
saham, daftar khusus, risalah RUPS, risalah rapat direksi (Pasal 100 ayat (3)
UUPT)
Didalam UUPT ada beberapa kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan
oleh direksi yaitu:
1) Membuat rencana kerja tahunan yang akan datang dan meminta persetujuan
dari dewan komisaris atau RUPS (Pasal 63 dan 64 ayat (1) UUPT);
2) Meminta persetujuan RUPS untuk mengalihkan kekayaan perseroan atau
untuk menjadikan jaminan utang kekayaan perseroan yang merupakan lebih
dari 50% (lima puluh persen) jumlah kekayaan bersih perseroan dalam 1 (satu)
transaksi atau lebih, baik yang berkaitan satu sama lain maupun tidak (Pasal
102 ayat (1) UUPT).
3) Membuat daftar pemegang saham, daftar khusus, risalah RUPS, risalah rapat
direksi (Pasal 100 ayat (1) huruf (a) UUPT);
4) Membuat laporan tahunan dalam dokumen keuangan (Pasal 100 ayat (1) huruf
(b) UUPT).
Pengaturan tentang direksi dalam UUPT diatur dalam bagian-bagian
yang khusus mengatur tentang direksi, yaitu dari Pasal 92 sampai dengan 107
UUPT, dan diatur dalam bagian-bagian lain dari UUPT secara terpisah-pisah,
yakni dalam bagian-bagian yang tidak khusus mengatur tentang direksi.
Kemudian dalam Pasal 97 ayat (1) dan ayat (2) UUPT dapat dilihat dengan
jelas bahwa setiap anggota direksi wajib menjalankan pengurusan direksi dengan
itikad baik dan penuh tanggungjawab, Pasal 97 ayat (6) menyebutkan bahwa
Atas nama Perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu
persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat
mengajukan gugatan melalui pengadilan negeri terhadap anggota Direksi yang
karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada Perseroan.
Dilihat dalam Pasal 97 ayat (6) tersebut unsur kesalahan atau kelalaian direksi
menjadi ukuran yang menjadikan dirinya dapat dimintai pertanggungjawaban
secara pribadi atas kerugian yang diderita perseroan.19
c. Dewan Komisaris
Komisaris adalah organ perseroan terbatas yang bertugas melakukan
pengawasan kepada anggota direksi dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya
menjalankan perseroan. Dewan komisaris melakukan pengawasan atas kebijakan
pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai perseroan
maupun usaha perseroan. Selain menjalankan fungsi pengawasan, dewan
komisaris juga berhak memberikan nasihat kepada direksi. Baik pengawasan
maupun nasihat yang diberikan oleh dewan komisaris adalah dalam rangka untuk
kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan
sebagaimana tertuang didalam anggaran dasar.20
Menurut Munir Fuady, pengertian dari komisaris adalah suatu organ
perusahaan disamping organ perusahaan lainnya, yang mengawasi pelaksanaan
tugas direksi dan jalannya perusahaan pada umumnya, serta memberikan nasihat-
nasihat kepada direksi maupun kepada pemegang saham/ Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS), baik jika diminta maupun apabila tidak diminta.21
Pasal 1 ayat (2) UUPT yang bunyinya sebagai berikut: Organ Perseroan
adalah Rapat Umum Pemegang Saham, Direksi, dan Dewan Komisaris dan
Pasal 1 ayat (6) jo Pasal 108 ayat (1) UUPT menyebutkan bahwa: Dewan
Komisaris adalah Organ Perseroan yang bertugas melakukan pengawasan
secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi
nasihat kepada Direksi. Bahkan menurut Pasal 108 ayat (5) UUPT
menyebutkan bahwa: Perseroan yang kegiatan usahanya berkaitan dengan
menghimpun dan/atau mengelola dana masyarakat, Perseroan yang menerbitkan
surat pengakuan utang kepada masyarakat atau Perseroan Terbuka wajib
mempunyai paling sedikit 2 (dua) orang anggota Dewan Komisaris. Latar

19
Rachmadi Usman, Dimensi Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, PT. Alumni, Bandung, 2004, hlm. 181
20
Pujiyono, op.cit., hlm. 152
21
Munir Fuady, Perseroan Terbatas Paradigma Baru, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, hlm. 105
belakang pertimbangannya, karena perseroan itu diperlukan pengawasan yang
lebih ketat dibanding dengan perseroan terbatas lainnya, karena menyangkut
kepentingan masyarakat umum.
Penjelasan pasal-pasal tersebut di atas, perkataan komisaris mengandung
pengertian baik sebagai organ perseroan terbatas maupun sebagai orang
perseorangan. Sebagai organ perseroan terbatas, komisaris lazim disebut juga
dewan komisaris, sedangkan sebagai orang perseorangan disebut anggota
komisaris, sebagai organ perseroan terbatas, pengertian komisaris termasuk juga
badan-badan lain yang menjalankan tugas pengawasan khusus.
Komisaris pada umumnya bertugas untuk mengawasi kebijaksanaan
direksi dalam mengurus perseroan serta memberikan nasehat-nasehat kepada
direksi, demikian menurut Pasal 108 UUPT. Tugas pengawasan itu bisa
merupakan bentuk pengawasan preventif atau represif. Pengawasan preventif
ialah melakukan tindakan dengan menjaga sebelumnya agar tidak terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan yang akan merugikan perseroan, misalnya untuk beberapa
perbuatan dari direksi yang harus dimintakan persetujuan komisaris, apakah hal
tersebut sudah dilaksanakan atau belum. Dalam hal komisaris harus selalu
mengawasi, sedangkan apa yang dimaksud dengan pengawasan represif ialah
pengawasan yang dimaksudkan untuk menguji perbuatan direksi, apakah semua
perbuatan yang dilakukan direksi itu tidak menimbulkan kerugian bagi perseroan
dan tidak bertentangan dengan undang-undang dan Anggaran Dasar. Apakah
nasihat-nasihat dari komisaris sudah benar-benar diperhatikan oleh direksi,
selanjutnya Pasal 114 ayat (2) UUPT menyebutkan bahwa: Setiap anggota
Dewan Komisaris wajib dengan itikad baik, kehati-hatian, dan
bertanggungjawab dalam menjalankan tugas pengawasan dan pemberian nasihat
kepada Direksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 ayat (1) untuk
kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan.
4. Perolehan Status Badan Hukum Perseroan Terbatas
Lahirnya PT sebagai badan hukum mutlak didasarkan pada keputusan
pengesahan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Hal ini ditegaskan pada
Pasal 7 ayat (4) UUPT yang berbunyi: Perseroan memperoleh status badan hukum
pada tanggal diterbitkannya keputusan menteri mengenai pengesahan badan hukum
Perseroan. Pengesahan akta pendirian ini tidak hanya semata-mata sebagai kontrol
administrasi atau wujud campur tangan pemerintah terhadap dunia usaha, tetapi juga
dalam rangka tugas umum pemerintah untuk menjaga ketertiban dan ketenteraman
usaha serta dicegah-nya hal-hal yang bertentangan dengan kepentingan umum dan
kesusilaan.
Proses kelahiran perseroan atau pendirian perseroan yang memenuhi syarat-
syarat dan prosedur yang ditentukan peraturan perundang-undangan diuraikan sebagai
berikut:
a. Didirikan oleh dua orang atau lebih. Menurut ketentuan Pasal 7 ayat (1) UUPT,
perseroan didirikan oleh dua orang atau lebih, yang dimaksud dengan orang
adalah orang perseorangan atau badan hukum. Ketentuan sekurang-kurangnya dua
orang menegaskan prinsip yang dianut oleh UUPT bahwa perseroan sebagai
badan hukum dibentuk berdasarkan perjanjian, oleh karena itu harus mempunyai
lebih dari satu orang pemegang saham sebagai pendiri. Ketentuan dua orang
pendiri atau lebih tidak berlaku bagi perseroan Badan Usaha Milik Negara. (Pasal
7 ayat (7) UUPT).
b. Didirikan dengan akta otentik.
Menurut ketentuan Pasal 7 ayat (1) UUPT, perjanjian pendirian perseroan harus
dibuat dengan akta otentik di muka notaris mengingat perseroan adalah badan
hukum. Akta otentik tersebut merupakan akta pendirian yang memuat Anggaran
Dasar perseroan.
c. Modal dasar perseroan
Dalam Pasal 32 ayat (1) UUPT ditentukan bahwa Modal dasar Perseroan paling
sedikit 50 (limapuluh) juta rupiah, tetapi undang-undang atau peraturan
pelaksanaan yang mengatur bidang usaha tertentu dapat menentukan jumlah
minimum modal dasar perseroan yang melebihi 50 (limapuluh) juta rupiah.
Bidang usaha tertentu itu antara lain perbankan, perasuransian (Penjelasan UUPT
Pasal 32 ayat (2)). Menurut ketentuan Pasal 33 ayat (1) UUPT, pada saat
pendirian perseroan, paling sedikit 25% (duapuluhlima persen) dari modal dasar
harus telah ditempatkan, dan modal dasar tersebut harus ditempatkan dan disetor
penuh.
5. Kekayaan Perseroan Terbatas Terpisah Dari Kekayaan Pemegang Saham,
Dewan Komisaris dan Direksi.
Agar badan hukum dapat berinteraksi dalam dunia hukum seperti membuat
perjanjian dan melakukan kegiatan usaha tertentu diperlukan modal. Modal awal
badan hukum itu berasal dari kekayaan pendiri yang dipisahkan. Modal awal itu
menjadi kekayaan badan hukum, terlepas dari kekayaan pendiri. Unsur kekayaan yang
terpisah dan tersendiri dari pemilikan subyek hukum lain, merupakan unsur yang
paling pokok dalam suatu badan untuk disebut sebagai badan hukum yang berdiri
sendiri. Unsur kekayaan yang tersendiri itu merupakan persyaratan penting bagi badan
hukum yang bersangkutan sebagai berikut:
a. Sebagai alat baginya untuk mengejar tujuan pendirian atau pembentukan nya,
kekayaan tersendiri yang dimiliki badan hukum itu;
b. Dapat menjadi objek tuntutan dan sekaligus menjadi;
c. Objek jaminan bagi siapa saja atau pihak-pihak lain dalam mengadakan hubungan
hukum dengan badan hukum yang bersangkutan.
Pasal 31 ayat (1) UUPT menyebutkan bahwa modal perseroan terdiri
seluruh nilai nominal saham. Modal dasar merupakan keseluruhan nilai nominal
saham yang ada dalam perseroan.
Pasal 32 ayat (1) UUPT menentukan, bahwa modal dasar perseroan paling
sedikit sejumlah Rp.50.000.000,00 (limapuluh juta rupiah), namun Pasal 32 ayat (2)
UUPT menentukan pula bahwa Undang-Undang yang mengatur kegiatan usaha
tertentu dapat menentukan jumlah minimum modal Perseroan yang lebih besar
daripada ketentuan modal dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Misalnya,
pengaturan jumlah modal bagi perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan
kegiatan pasar modal diatur berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995
tentang Pasar Modal jo. Peraturan Pelaksanaan Nomor 45 Tahun 1995. Penentuan
jumlah minimum jauh lebih tinggi daripada yang ditentukan dalam Pasal 32 ayat (3)
UUPT.
Terpisahnya kekayaan perseroan terbatas dengan harta kekayaan pribadi
pemegang saham dapat dilihat dalam pertangungjawaban terbatas sebagaimana
Pasal 3 ayat (1) UUPT, bahwa: 22
a. Perseroan tidak bertanggungjawab terhadap utang pemegang saham (not liable of
its shareholders) sebaliknya pemegang saham tidak bertanggung jawab terhadap
utang perseroan;
b. Kerugian yang ditanggung pemegang saham hanya terbatas harga saham yang
mereka investasikan (their lose is limited to their investment); Pemegang saham,

22
M. Yahya Harahap, op.cit., hlm. 58-59
tidak bertanggungjawab lebih lanjut kepada kreditor perseroan atas aset
pribadinya.
Organ Perseroan adalah Rapat Umum Pemegang Saham, Direksi, dan
Dewan Komisaris (Pasal 1 ayat (2) UUPT). Rapat Umum Pemegang Saham, yang
selanjutnya disebut RUPS, adalah Organ Perseroan yang mempunyai wewenang
yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang
ditentukan dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar. (Pasal 1 ayat (4)
UUPT), Direksi adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggungjawab
penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai dengan
maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun di
luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar. (Pasal 1 ayat (5) UUPT),
sedangkan Komisaris adalah Organ Perseroan yang bertugas melakukan
pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta
memberi nasihat kepada Direksi. (Pasal 1 ayat (6) UUPT)
Para pemegang saham melimpahkan wewenangnya kepada direksi untuk
menjalankan dan mengembangkan perusahaan sesuai dengan tujuan dan bidang usaha
perusahaan. Dalam kaitan dengan tugas tersebut, direksi berwenang untuk mewakili
Perusahaan, mengadakan perjanjian, kontrak, dan sebagainya. Apabila terjadi
kerugian yang amat besar (diatas 50%) maka direksi harus melaporkannya ke para
pemegang saham dan pihak ketiga, untuk kemudian dirapatkan.
Dalam melaksanakan tugas-tugas dan kewenangan untuk kepentingan
perseroan harus dilakukan dengan itikad baik dan dengan kehati-hatian agar tidak
merugikan kepentingan perseroan. Apabila direksi atau dewan komisaris melakukan
perbuatan untuk kepentingan pribadi bukan untuk kepentingan perseroan, maka segala
akibat hukum maupun biaya yang timbul akibat perbuatan tersebut menjadi
tanggungjawab pribadi direksi atau dewan komisaris.
Pasal 97 ayat (3) UUPT menyebutkan bahwa Setiap anggota Direksi
bertanggungjawab penuh secara pribadi atas kerugian Perseroan apabila yang
bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), sedangkan, Pasal 97 Ayat (2) UUPT
menyebutkan bahwa Pengurusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib
dilaksanakan setiap anggota Direksi dengan itikad baik dan penuh tanggungjawab.
Dari rumusan diatas dapat disimpulkan bahwa direksi bertangungjawab secara
pribadi apabila kerugian perseroan diakibatkan karena kesalahan atau kelalaiannya
yang dilakukan dengan itikad buruk (bad faith), sehingga apabila terjadi kerugian
financial, maka pembayaran kerugian tersebut menggunakan harta kekayaan pribadi
direksi bukan harta kekayaan perseroan.
Kerugian perseroan tersebut menjadi tanggungjawab perseroan bukan
tanggungjawab pribadi direksi, apabila anggota direksi dapat membuktikan (Pasal 97
ayat (5) UUPT):
a. kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
b. telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk
kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;
c. tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung
atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian; dan
d. telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian
tersebut.
Dengan adanya unsur keterpisahan harta didalam badan hukum perseroan
terbatas, maka siapa saja yang menjadi pemilik, pendiri dan pengurus badan hukum
tersebut serta pihak-pihak lain yang berhubungan dengan badan hukum yang
bersangkutan, haruslah benar-benar memisahkan antara unsur pribadi beserta hak
milik pribadi, dengan institusi dan harta kekayaan badan hukum yang bersangkutan.
Karena itu, perbuatan hukum pribadi orang yang menjadi anggota atau pengurus
badan hukum itu dengan pihak ketiga tidak mempunyai akibat hukum terhadap harta
kekayaan badan hukum yang sudah terpisah tersebut. Jadi, dengan demikian dapat
dilihat bahwa kekayaan perseroan terbatas terpisah dengan kekayaan pribadi
pemegang saham, dewan komisaris, dan direksi.
6. Terbatasnya Tanggungjawab Perseroan Terbatas
Perseroan Terbatas terdiri dari dua kata, yakni perseroan dan terbatas.
Perseroan merujuk kepada modal PT yang terdiri dari sero-sero atau saham-saham,
sedangkan kata terbatas merujuk kepada tanggungjawab pemegang saham yang
luasnya hanya terbatas pada nilai nominal saham yang dimilikinya.23
Dasar pemikiran bahwa modal PT itu terdiri atas sero-sero atau saham-saham
dan PT adalah badan hukum dapat ditelusuri dari ketentuan Pasal 1 ayat (1) UUPT,
yaitu: Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan
hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian,

23
Ridwan Khairandy, op.cit., hlm. 1
melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam
saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta
peraturan pelaksanaannya.
Perseroan terpisah dan berbeda dengan pemiliknya/pemegang saham, maka
tanggungjawab pemegang saham hanya terbatas sebesar nilai sahamnya sebagaimana
ditegaskan dalam Pasal 3 ayat (1) UUPT: Pemegang saham Perseroan tidak
bertanggungjawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama Perseroan
dan tidak bertanggungjawab atas kerugian Perseroan melebihi saham yang dimiliki.
Ketentuan dalam ayat ini mempertegas bahwa pemegang saham hanya
bertanggungjawab sebesar setoran atas seluruh saham yang dimilikinya dan tidak
meliputi harta kekayaan pribadinya. Tanggungjawab terbatas ini memberikan
fleksibilitas dalam mengalokasikan risiko dan keuntungan antara pemegang saham
(equity holders) dan pemegang utang (debt holders), mengurangi biaya pengumpulan
transaksi-transaksi dalam perkara tidak mampu membayar utang (insolvensi), dan
mempermudah serta secara substansial menstabilkan harga saham.24 Tanggungjawab
terbatas juga berperan penting dengan memberikan kemudahan dalam pendelegasian
manajemen, selain itu dengan mengalihkan risiko bisnis dari pemegang saham ke
kreditor, maka tanggungjawab terbatas memasukkan kreditor sebagai pengawas
manajer perusahaan. Tugas pengawasan ini lebih baik jika dijalankan oleh kreditor
daripada oleh pemegang saham dalam perusahaan yang kepemilikan sahamnya
tersebar secara luas. Tanggungjawab terbatas dalam perjanjian harus dibedakan
dengan tanggungjawab dalam perbuatan melawan hukum (tort).25
Ketika menggunakan istilah tanggungjawab terbatas, maka hal ini mengacu
pada tanggungjawab terbatas dalam perjanjian, yaitu tanggungjawab terbatas pada
kreditor secara suka rela yang memiliki tuntutan kontraktual dan korporasi. Adapun
tanggungjawab terbatas dalam tort adalah tanggungjawab terbatas pemegang saham
terhadap kreditor korporasi dengan tidak sukarela, misalnya pihak ketiga yang
dirugikan akibat tindakan kelalaian korporasi.26
Keperluan adanya tanggungjawab terbatas bagi harta kekayaan pribadi
pemegang saham, memberikan manfaat kepada pemegang saham bahwa tidak semua
kegiatan dari pengurus perseroan terbatas memerlukan pengetahuan bahkan

24
Ibid; hlm. 15
25
Ibid
26
Ibid
persetujuan dari pemegang saham. Konteks ini akhirnya mengurangi peran pemegang
saham dalam melakukan pengawasan secara terus-menerus terhadap kegiatan
pengelolaan perusahaan. Peran ini kemudian disederhanakan menjadi peran Rapat
Umum Pemegang Saham pada setiap tahunnya dalam bentuk Rapat Umum Tahunan
Pemegang Saham.
Dalam hal tertentu, yang diperkirakan membawa akibat pengaruh finansial
atau kebijakan yang luas dan besar bagi perseroan, keterlibatan pemegang saham juga
dapat dimintakan, yang terwujud dalam bentuk penyelenggaraan Rapat Umum Luar
Biasa Pemegang Saham. Hal tersebut disadari atau tidak, pada akhirnya memberikan
kebebasan kepada pengurus perseroan untuk mengelola perseroan dan mencari
keuntungan bagi perseroan dengan tetap berpedoman pada maksud dan tujuan serta
untuk kepentingan perseroan. Hal inilah juga yang nantinya menjadi dasar kebijakan
bagi lahirnya business judgment rule principle yang memberikan perlindungan bagi
setiap keputusan usaha atau bisnis yang diambil oleh direksi yang telah dilakukannya
dengan penuh kehati-hatian dan dengan itikad baik sesuai maksud dan tujuan serta
untuk kepentingan perseroan.27
M. Yahya Harahap,28 memberikan pendapat mengenai pertanggung jawaban
terbatas sebagaimana Pasal 3 ayat (1) UUPT, bahwa: Perseroan tidak
bertanggungjawab terhadap utang pemegang saham (not liable of its shareholders)
sebaliknya pemegang saham tidak bertanggungjawab terhadap utang perseroan;
Kerugian yang ditanggung pemegang saham hanya terbatas harga saham yang mereka
investasikan (their lose is limited to their investment); Pemegang saham, tidak
bertanggungjawab lebih lanjut kepada kreditor perseroan atas aset pribadinya. Namun
hal itu tidak mengurangi kemungkinan pemegang saham bertanggungjawab sampai
meliputi harta pribadinya, apabila dia secara itikad buruk (bad faith) memperalat
perseroan untuk kepentingan pribadi, atau pemegang saham bertindak sebagai
borgtoch terhadap kreditor atas utang perseroan.
John H. Matheson berpendapat: Limited liability of business owners for the
contracts, torts and other liabilities of their companies has been commonplace for
over one hundred and fifty years. This concept of limited liability means that a
business owner's potential personal loss is a fixed amount, namely, the amount
invested in the business, usually in the form of stock ownership. Consequently, if the

27
Gunawan Widjaja, op.cit., hlm. 21-22
28
M. Yahya Harahap, op.cit., hlm.59
business succeeds, the owner obtains the profits, but if the business fails, all of the
losses beyond the owner's fixed investment are absorbed by others, that is, voluntary
or involuntary creditors, or society at large.29 Pengertian ini dapat diterjemahkan
secara bebas yaitu terbatasnya tanggungjawab pemilik perseroan baik dalam hal
kontrak, perbuatan melawan hukum, maupun tanggungjawab lainnya dari perseroan
tersebut sudah menjadi hal yang lazim dalam kurun waktu seratus lima puluh tahun.
Konsep tanggungjawab terbatas adalah potensi kerugian pribadi pemilik bisnis
jumlahnya pasti, yaitu sejumlah investasi yang ditanamkan pada perseroan tersebut,
biasanya dalam bentuk saham. Konsekuensinya, jika bisnis berhasil, pemegang saham
mendapat keuntungan, tetapi jika bisnis tidak berhasil atau gagal, segala kerugian
diluar jumlah yang ditanamkan, menjadi tanggungan orang atau pihak lain, dalam hal
ini kreditur tetap atau tidak tetap dan masyarakat pada umumnya.
Tanggungjawab terbatas dari pemegang saham PT merupakan salah satu
karakteristik PT, namun dengan demikian adakalanya tanggungjawab terbatas dari
pemegang saham tersebut bisa hapus atau hilang. Hal ini bisa terjadi apabila terbukti
antara lain oleh adanya itikad buruk (bad faith) dari pemegang saham atau telah
terjadi pembauran harta kekayaan pribadi dengan harta kekayaan perseroan, sehingga
perusahaan atau PT didirikan hanya semata-mata sebagai alat yang dipergunakan oleh
pemegang saham untuk kepentingan pribadinya.
Menurut Chao Xi30; limited liability has never been as absolute as it purports
to be. Creditors of insolvent corporations may ask courts, under a judicially
developed doctrine known as Piercing The Corporate Veil, to disregard the
corporate form and hold a shareholder personally responsible for the corporations
obligations. Pengertian ini dapat diterjemahkan secara bebas yaitu tanggungjawab
terbatas tidaklah bersifat absolute. Pihak yang merasa dirugikan dapat menggugat ke
pengadilan yang didasarkan pada doktrin Piercing The Corporate Veil untuk
memintakan pertanggungjawaban pribadi pada pemegang saham untuk pembayaran
utang perseroan.
Menurut Pasal 3 ayat (2) UUPT, tanggungjawab terbatas pemegang saham
hapus atau tidak berlaku apabila:
29
John H. Matheson, Why Courts Pierce: An Empirical Study of Piercing The Corporate Veil, Berkeley
Business Law Journal Volume 7 | Issue 1 Article 1 June 2010, hlm. 3,
http://scholarship.law.berkeley.edu/bblj/vol7/iss1/1, 11 Maret 2016, 23:00
30
Chao Xi* Piercing The Corporate Veil in China: How Did We Get There?, Journal of Business Law, Issue 5
2011, page 413, Thomson Reuters (Professional) UK Limited and Contributors, year 2011,
http://ssrn.com/abstract=1907079, 07 Maret 2016, 18:00
a. Persyaratan Perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi;
b. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung
dengan itikad buruk memanfaatkan Perseroan untuk kepentingan pribadi;
c. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum
yang dilakukan oleh Perseroan; atau
d. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung
secara melawan hukum menggunakan kekayaan Perseroan, yang mengakibatkan
kekayaan Perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang Perseroan.
Hapusnya atau tidak berlakunya tanggungjawab terbatas disebut dengan istilah
Piercing The Corporate Veil atau Lifting The Corporate Veil yang artinya
menembus cadar perusahaan atau membuka tabir perusahaan.31

B. Asas-Asas Hukum Dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas


Asas atau prinsip adalah sesuatu yang dapat dijadikan alas, dasar, tumpuan,
tempat untuk menyandarkan, untuk mengembalikan sesuatu hal, yang hendak dijelaskan.
Dalam arti sempit, kata principle dipahami sebagai sumber yang abadi dan tetap dari
banyak hal, aturan atau dasar bagi tindakan seseorang, suatu pernyataan (hukum, aturan,
kebenaran) yang dipergunakan sebagai dasar untuk menjelaskan sesuatu peristiwa.32
Keberadaan asas hukum dalam aturan hukum lebih tepat dianalogikan dengan
keberadaan otak dalam tubuh manusia. Otak mempunyai fungsi yang sangat vital, yaitu
pusat sistem syaraf, yang mengatur dan mengkoordinasi sebahagian besar gerakan,
perilaku, fungsi tubuh, emosi dan segala bentuk pelajaran lainnya. Asas hukum juga
mempunyai fungsi yang sangat vital bagi aturan hukum, yaitu menjadi pusat sistem
pemikiran hukum yang mengatur emosi (semangat hukum) dan denyut nadi hukum
(responsibilitas hukum), serta mengkoordinasi alur dan alir hukum, sehingga mampu
menjaga keseimbangan dalam aturan hukum yang responsif terhadap kebutuhan
masyarakat.33
Apabila dikaji secara komprehensif, dalam sistem hukum perusahaan Indonesia
terdapat asas-asas hukum yang dijadikan dasar pembentukan hukum perusahaan yang
berlaku. Asas-asas tersebut seperti dijelaskan di bawah ini:
1. Asas-asas Hukum Perjanjian

31
I.G.Rai Widjaya, op.cit., hlm. 146
32
Mahadi, log.cit
33
Muhammad Syaifuddin, Hukum Kontrak Memahami Kontrak dalam Perspektif Filsafah, Teori, Dogmatik dan
Praktik Hukum (Seri Pengayaan Hukum Perikatan), CV. Mandar Maju, Bandung, 2012, hlm. 71
Suatu perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada
seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu
hal. Dari peristiwa ini, timbulah suatu hubungan antara dua orang tersebut yang
dinamakan perikatan.34
Asas ini dapat ditemukan dalam pengertian perseroan terbatas sebagai salah
satu bentuk badan usaha yang berbadan hukum, dalam Pasal 1 ayat (1) UUPT
disebutkan bahwa: Perseroan terbatas adalah badan hukum yang merupakan
persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian....dst. Dari definisi tersebut
dapat diketahui bahwa PT sebagai badan usaha didirikan atas dasar perjanjian yang
dilakukan oleh dua pihak atau lebih. Dengan sepakat atau juga dinamakan perizinan,
dimaksudkan bahwa kedua subjek yang mengadakan perjanjian itu harus bersepakat,
setuju atau seia-sekata mengenai hal-hal yang pokok dari perjanjian yang diadakan
itu. Apa yang dikehendaki oleh pihak yang satu, juga dikehendaki pihak yang lain.35
Dengan adanya perjanjian para pihak yang dituangkan dalam akta notaris
dalam bentuk anggaran dasar perseroan terbatas maka berlakulah asas-asas hukum
perjanjian dalam pendirian, pelaksanaan perseroan tersebut. Asas-asas umum hukum
perjanjian tersebut antara lain;
a. Asas Konsensualisme;
Asas konsensualitas yang terkandung dalam Pasal 1320 ayat (1) KUH Perdata
yang menentukan bahwa kontrak itu telah lahir cukup dengan adanya kata
sepakat, tidak seharusnya ditafsirkan secara gramatikal semata-mata melainkan
harus ditafsirkan juga dalam hubungannya dengan syarat-syarat lainnya yang
ditentukan dalam Pasal 1320 KUH Perdata. Jika syarat-syarat lainnya dalam Pasal
1320 KUH Perdata tidak terpenuhi, akibat hukumnya adalah kontrak itu tidak sah
dan tidak mempunyai kekuatan mengikat sebagai undang-undang.36
b. Asas Kebebasan Berkontrak;
Asas kebebasan membuat kontrak membebaskan para pihak menentukan apa saja
yang ingin mereka perjanjikan sekaligus menentukan apa saja yang tidak
dikehendaki untuk dicantumkan dalam kontrak atau kehendak para pihak yang
diwujudkan dalam kesepakatan adalah merupakan dasar mengikatnya suatu

34
Subekti, Hukum Perjanjian, Cet. Ke-19, Intermasa, Jakarta, 2002, hlm. 1
35
Ibid; hlm 17
36
Muhammad Syaifuddin, op.cit., hlm.78
perjanjian.37 Namun, asas kebebasan membuat kontrak tidak berarti bebas tanpa
batas, karena negara harus intervensi untuk melindungi pihak yang lemah secara
sosial dan ekonomi atau untuk melindungi ketertiban umum, kepatutan dan
kesusilaan.38 Faktor yang mempengaruhi pembatasan asas kebebasan berkontrak
adalah39; semakin berpengaruhnya ajaran iktikad baik, yang tidak hanya ada pada
pelaksanaan kontrak, tetapi juga harus ada pada saat dibuatnya kontrak dan
semakin berkembangnya ajaran penyalahgunaan keadaan.
c. Asas Pacta sunt servanda;
Asas kekuatan mengikat kontrak mengharuskan para pihak memenuhi apa yang
telah merupakan ikatan mereka satu sama lain dalam kontrak yang mereka buat.
Asas hukum ini disebut juga asas pacta sunt servanda, yang secara konkrit dapat
dicermati dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPer yang memuat ketentuan imperatif,
yaitu semua kontrak yang dibuat sesuai dengan Undang-Undang berlaku sebagai
Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya.40 Ketentuan imperatif dalam
Pasal 1338 ayat (1) KUHPer mengarahkan pemahaman bahwa sebenarnya setiap
subjek hukum (orang dan badan hukum) dan sesama subjek hukum lainnya dapat
melakukan perbuatan hukum seolah-olah sebagai pembentuk Undang-Undang
dengan menggunakan kontrak.41 Para pihak yang membuat kontrak secara otonom
mengatur pola dan substansi hubungan hukum kotraktual diantara mereka.
Kekuatan mengikat kontrak yang dibuat secara sah (vide Pasal 1320) mempunyai
daya berlaku seperti halnya Undang-Undang yang dibentuk oleh pembentuk
Undang-Undang, sehingga harus ditaati oleh para pihak yang membuat kontrak
tersebut.42
d. Asas Keseimbangan;
Kata keseimbangan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti keadaan
seimbang (seimbang sama berat, setimbang, sebanding, setimpal).43 Dalam
hubungannya dengan kontrak, secara umum asas keseimbangan bermakna sebagai

37
Suharnoko, Hukum Perjanjian Teori dan Analisa Kasus, Cetakan ke-8, Kencana Pranada Media Group,
Jakarta, 2014, hlm. 3
38
Muhammad Syaifuddin, op.cit., hlm. 89
39
Ridwan Khairandy, Nandang Sutrisno dan Jawahir Tontowi, Pengantar Hukum Perdata Internasional
Indonesia, Gama Media, Yogyakarta, 1996, hlm. 2
40
Muhammad Syaifuddin, op.cit., hlm. 91
41
Ibid
42
Ibid; hlm. 93
43
Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa-Depdikbud RI. Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1997, hlm. 373
keseimbangan posisi para pihak yang membuat kontrak.44 Asas keseimbangan,
menurut Herlien Budiono45, dilandaskan pada upaya mencapai suatu keadaan
seimbang yang sebagai akibat darinya harus memunculkan pengalihan kekayaan
secara absah. Tidak terpenuhinya keseimbangan berpengaruh terhadap kekuatan
yuridikal kontrak. Dalam terbentuknya kontrak, ketidakseimbangan dapat muncul,
karena perilaku para pihak sendiri maupun sebagai konsekuensi dari substansi
(muatan isi) kontrak atau pelaksanaan kontrak. Pencapaian keadaan seimbang,
mengimplikasikan, dalam konteks pengharapan masa depan yang objektif, upaya
mencegah dirugikannya satu diantara dua pihak dalam kontrak.
e. Asas Itikad Baik (good faith);
Kontrak harus dilaksanakan dengan iktikad baik46. Makna iktikad baik menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kepercayaan, keyakinan yang teguh,
maksud, kemauan (yang baik)47. Menurut teori klasik hukum kontrak, asas itikad
baik dapat diterapkan dalam situasi dimana perjanjian sudah memenuhi syarat hal
tertentu.48 Iktikad baik terdiri dari dua macam, yaitu:
1) Iktikad baik pada waktu mulai berlakunya suatu hubungan hukum, yang
biasanya berupa perkiraan atau anggapan seseorang bahwa syarat-syarat
dimulainya hubungan hukum telah terpenuhi. Hukum memberikan
perlindungan kepada pihak yang beriktikad baik, sedangkan bagi pihak yang
beriktikad tidak baik (te kwader trouw) harus bertanggungjawab dan
menanggung resiko. Iktikad baik ini antara lain terkandung dalam Pasal 1977
BW dan Pasal 1963 BW, yang menentukan syarat untuk memperoleh hak
milik atas barang melalui daluwarsa. Iktikad baik ini bersifat subjektif dan
statis.
2) Iktikad baik pada waktu pelaksanaan hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam
hubungan hukum itu, sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 ayat (3) BW, yang
bersifat objektif dan dinamis mengikuti situasi sekitar perbuatan hukumnya
serta titik beratnya terletak pada tindakan yang akan dilakukan oleh kedua
belah pihak, yaitu tindakan sebagai pelaksanaan sesuatu hal.49

44
Muhammad Syaifuddin, op.cit., hlm.97
45
Herlien Budiono, Asas Keseimbangan bagi ukum Perjanjian Indoensia: Hukum Perjanjian Berlandaaskan
Asas-Asas wigati Indonesia, PT. CitraAditya Bakti, Bandung, 2006, hlm. 317-318
46
Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata
47
Tim Penyusun........, op.cit., hlm. 369
48
Suharnoko, op.cit., hlm. 5
49
R. Wirjono Prodjodikoro, Azas-azas Hukum Perdata, Sumur, Bandung, 1992, hlm. 56-62
Didalam UUPT tidak dijelaskan mengenai pengertian itikad baik tersebut.
Menurut J. Satrio50 itikad baik itu dapat diartikan sebagai berikut:
1) Itikad baik yang subyektif, yaitu berkaitan sikap batinnya, apakah yang
bersangkutan sendiri menyadari atau sadar akan tindakannya, bahwa
tindakannya bertentangan dengan itikad baik.
2) Itikad baik yang obyektif, yaitu berkaitan dengan pendapat umum, apakah
umum menganggap tindakan yang seperti itu bertentangan dengan itikad baik.
3) Itikad baik membuat dan memelihara daftar pemegang saham, risalah RUPS
dan risalah rapat direksi.
4) Itikad baik menyelenggarakan pembukuan perseroan yang semuanya disimpan
di tempat kedudukan perseroan.
5) Melaporkan kepada perseroan tentang kepemilikan sahamnya, dan
keluarganya baik yang ada di dalam perseroan maupun di luar perseroan.
6) Wajib meminta persetujuan dari RUPS untuk mengalihkan atau menjadikan
jaminan utang, seluruh atau sebagian besar kekayaan perseroan dan tidak
boleh merugikan pihak ketiga.
f. Asas Kepatutan;
Kontrak-kontrak tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas
dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat
kontrak, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang51.
Pemberlakuan asas kepatutan dalam suatu kontrak mengandung dua fungsi, yaitu:
1). Fungsi melarang, artinya suatu kontrak yang bertentangan dengan asas
kepatutan itu dilarang atau tidak dapat dibenarkan; 2). Fungsi menambah, artinya
suatu kontrak dapat ditambah dengan atau dilaksanakan asas kepatutan untuk
mengisi kekosongan dalam pelaksanaan suatu kontrak, yang tanpa isian tesebut,
maka tujuan dibuatnya kontrak tidak akan tercapai.52
g. Asas Kebiasaan;
Asas kebiasaan mengarahkan suatu kontrak tidak hanya mengikat untuk hal-hal
yang diatur secara tegas dalam undang-undang, yurisprudesi dan sebagainya,
tetapi juga hal-hal yang menjadi kebiasaan yang diikuti masyarakat umum. Pasal

50
J. Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan Lahir Dari Perjanjian, Buku I, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995,
hlm. 177-179
51
Pasal 1339 KUH Perdata
52
Munir Fuady, Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis) Buku Kedua, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2003, hlm. 82
1347 KUH Perdata berbunyi; hal-hal yang menurut kebiasaan selamanya
diperjanjikan, dianggap secara diam-diam dimasukkan dalam kontrak, meskipun
tidak dengan tegas dinyatakan.
h. Asas Moral;
Kontrak tidak boleh bertentangan dengan kesusilaan sebagai moral yang tumbuh
dan berkembang dalam masyarakat53. Seseorang yang melakukan suatu perbuatan
sukarela (moral) mempunyai kewajiban hukum untuk meneruskan dan
menyelesaikan perbuatannya.54 Kebebasan individu yang mengikatkan dirinya
secara kontraktual terhadap individu lainnya dibatasi oleh kewajiban moralnya,
yang mengarahkan kontrak itu diadakan, dilaksanakan dan diputuskan sesuai
dengan nilai-nilai yang dianggap baik dan merefleksikan penghormatan terhadap
harkat dan martabat manusia yang baik.
2. Asas Tanggungjawab Sosial dan Lingkungan (Corporate Social Responsibility/ CSR)
Tanggungjawab sosial korporasi atau corporate social responsibility (CSR)
menjadi suatu gagasan yang menyita perhatian banyak kalangan, dari masyarakat
akademik, lembaga swadaya masyarakat (LSM), sampai para pelaku bisnis. Tidak
mengherankan jika laporan tahunan beberapa perusahaan multinasional yang telah
melakukan praktek CSR keberhasilan meraih keuntungan tidak lagi ditempatkan
sebagai satu-satunya alat ukur keberhasilan dalam mengembangkan eksistensi
perusahaan.55 Istilah CSR hanya diterapkan pada korporasi. Karena korporasi
merupakan institusi yang dominan dibumi ini dimana korporasi pasti berhadapan
dengan persoalan lingkungan dan sosial yang mempengaruhi kehidupan manusia.56
Doktri CSR yang diciptakan sebagai suatu etika atau moral dalam perilaku
perusahaan telah diterima kedalam aturan hukum, Undang-Undang, regulasi yang ada
dalam Code-Code dan European System. Namun demikian, istilah CSR memiliki
makna yang berbeda dengan etika, moral, philantrophi, dan hukum.57
Dilihat dari sudut pandang hukum bisnis, setidaknya ada dua tanggungjawab
yang harus diajarkan dalam etika bisnis, yaitu tanggungjawab hukum (legal
responsibility) yang meliputi aspek perdata (civil liability) dan aspek pidana (crime
liability), dan aspek tanggungjawab sosial (social responsibility) yang dibangun diatas

53
Muhammad Syaifuddin, op.cit., hlm. 103
54
Ibid
55
Bambang Sulistiyo, Wangi Sebelum Ada Peraturan, Gatra, Jakarta, 2006, hlm. 81
56
Ridwan Khairandy, Perseroan...., op.cit., hlm. 136
57
Ibid; hlm. 137
landasan norma moral yang berlaku didalam masyarakat. Artinya, sekalipun suatu
kegiatan bisnis secara hukum (perdata dan pidana) tidak melanggar Undang-Undang
atau peraturan, tetapi bisnis tersebut dilakukan dengan melanggar moral masyarakat
atau merugikan masyarakat, maka bisnis tersebut dianggap sebagai perbuatan tidak
etis (unethical conduct).58
Asas tanggungjawab sosial ini merupakan asas yang mengharuskan setiap
pelaku usaha (perusahaan) guna ikut mewujudkan upaya pembangunan ekonomi
berkelenjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang
bermanfaat, baik bagi pelaku usaha (perusahaan), komunitas setempat dimana pelaku
usaha (perusahaan) menjalankan usahanya, maupun bagi masyarakat pada umumnya.
Hal ini sangat penting demi terjalinnya hubungan pelaku usaha (perusahaan) yang
serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat.
Asas ini sudah diterapkan di Indonesia dengan dinyatakan secara tegas dalam Pasal 74
UUPT disebutkan bahwa: Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di
bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan
Tanggungjawab Sosial dan Lingkungan.
3. Asas Corporate Separate Legal Personality
Asas ini dikenal dalam perseroan terbatas, yang esensinya bahwa suatu
perusahaan, dalam hal ini PT, mempunyai personalitas atau kepribadian yang berbeda
dari orang yang menciptakannya. Doktrin dasar PT adalah perseroan merupakan
kesatuan hukum yang terpisah dari subjek hukum pribadi yang menjadi pendiri atau
pemegang saham dari perseroan tersebut. Ada suatu tabir (veil) pemisah antara
perseroan sebagai suatu legal entity dengan para pemegang saham dari perseroan
tersebut. Konsep dan prinsip entitas terpisah (separate entity) dan tanggungjawab
terbatas (limited liability) yang diatur dalam UUPT 2007, sama dengan ketentuan
yang terdapat pada Pasal 3 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan
Terbatas.59 Asas ini secara konkrit dapat ditemukan pada Pasal 3 ayat (1) UUPT yang
menentukan Pemegang Saham Perseroan tidak bertanggungjawab secara pribadi
atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan dan tidak bertanggungjawab atas
kerugian Perseroan melebihi saham yang dimilikinya.
4. Asas Piercing The Corporate Veil

58
Ibid; hlm. 138
59
M. Yahya Harahap, op.cit., hlm. 70
Berkaitan dengan asas Corporate Separate Legal Personality tersebut diatas
yang membatasi tanggungjawab pemegang saham, dalam hal-hal tertentu pembatasan
tersebut dapat diterobos dengan syarat dan keadaan tertentu. Sehingga tanggungjawab
pemegang saham tidak lagi terbatas pada nilai pemilikan sahamnya.
5. Asas Fiduciary Duty
Doktrin fiduciary duty adalah suatu konsep dimana direksi adalah pihak yang
dipercaya oleh pihak lain dalam hal ini adalah pemegang saham, untuk bertindak
untuk dan atas nama serta demi kepentingan pihak yang memberikan kepercayaan
tersebut, dengan demikian direksi berkewajiban untuk melaksanakan kepercayaan
tersebut dengan itikad baik dan penuh tanggungjawab.60 Secara konseptual doktrin
fiduciary duty mengandung 2 (dua) faktor/prinsip penting yaitu sebagai berikut:
a. Prinsip yang merujuk pada kemampuan serta kehati-hatian tindakan direksi (duty
of skill and care)
b. Prinsip yang merujuk pada itikad baik dari direksi untuk bertindak semata-mata
demi kepentingan dan tujuan perseroan, kemampuan, serta kehati-hatian tindakan
direksi (duty of loyalty and good faith)61
Esensi dari asas ini bahwa direksi sebagai salah satu organ dalam perseroan
terbatas yang bertanggungjawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan
dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan, baik didalam maupun diluar
pengadilan. Sebagaimana halnya tanggungjawab terbatas pemegang saham PT,
keterbatasan tanggungjawab itu juga berlaku terhadap anggota direksi meskipun tidak
secara tegas dinyatakan dalam pasal-pasal UUPT. Hal tersebut dapat diketahui dari
Pasal 97 ayat (3) UUPT yang mengatur bahwa setiap anggota direksi
bertanggungjawab penuh secara pribadi apabila yang bersangkutan bersalah atau
lalai menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1). Dari ketentuan itu secara a contrario dapat diartikan bahwa apabila anggota
direksi tidak bersalah dan tidak lalai menjalankan tugasnya, maka berarti direksi tidak
bertanggungjawab penuh secara pribadi.
6. Asas Fiduciary Skill & Care
Asas ini menekankan bahwa seorang direksi suatu perseroan haruslah
seseorang yang memiliki keahlian dan kecakapan dalam melakukan perbuatan hukum

60
Kurniawan, op.cit., hlm. 82
61
Ibid; hlm. 82-84
dan harus memiliki tanggungjawab sebagai bapak rumah yang baik dalam
mengelolan perseroan.
7. Asas Domisili
Asas domisili adalah asas yang mengharuskan suatu badan usaha mempunyai
tempat kedudukan yang biasanya disebutkan dalam akta pendirian tempat kedudukan
(domisili) ini berfungsi sekaligus sebagai kantor pusat suatu badan usaha. Domisili
atau tempat kedudukan badan usaha ini untuk mempermudah suatu badan usaha
dalam mengadakan hubungan hukum dengan pihak lain.
8. Asas Publisitas
Sejalan dengan tuntutan yang diatur oleh Undang-Undang Nomor 3 Tahun
1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, dalam rangka tertib administrasi, maka setiap
pendirian badan usaha badan hukum diwajibkan dalam bentuk akta otentik yang
dibuat dihadapan Notaris selaku pejabat umum yang ditetapkan oleh undang-undang.
Pendaftaran dilakukan di tempat domisili badan usaha badan hukum, dimaksudkan
agar Pemerintah mudah melakukan pembinaan dan pengawasan.
Dalam Pasal 30 UUPT menyebutkan bahwa:
(1) Menteri mengumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia:
a. Akta pendirian Perseroan beserta keputusan menteri sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 ayat (4);
b. Akta perubahan anggaran dasar Perseroan beserta keputusan menteri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1);
c. Akta perubahan anggaran dasar yang telah diterima pemberitahuannya oleh
Menteri.
(2) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri
dalam waktu paling lambat 14 (empatbelas) hari terhitung sejak tanggal
diterbitkannya keputusan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
dan huruf b atau sejak diterimanya pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf c.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengumuman dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Di samping itu, asas publisitas dapat juga memberikan akses publik untuk
mengetahui keberadaan badan usaha tersebut. Asas publisitas hendaknya
disinergikan dengan asas domisili, guna mendukung kepatuhan terhadap
kewajiban pendiri, maupun anggota dimana badan usaha badan hukum itu berada
9. Asas Kekeluargaan
Asas kekeluargaan ini merupakan suatu asas yang dinyatakan secara
konstitusional dalam UUD 1945 pada Pasal 33 ayat (1) yang menyebutkan bahwa
Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
Dimaksudkan bahwa dalam melakukan pengurusan perusahaan, direksi, pemegang
saham dan komisaris serta karyawan yang bekerja dalam perusahaan dituntut untuk
membangun sistem kekeluargaan sebagai bangsa Indonesia dengan menghormati dan
menjunjung tinggi keberagaman. Asas kekeluargaan dimaksud tidak diartikan sebagai
semangat nepotistik yang bersifat kekerabatan (family system).

C. Doktrin Piercing The Corporate Veil


Pada perkembangannya doktrin-doktrin modern hukum perusahaan khususnya
dalam sistem common law mengenal eksistensi doktrin Piercing The Corporate Veil.
Robert B. Thompson mengatakan; Piercing The Corporate Veil is the most
litigated issue in corporate law' and yet it remains among the least understood. As a
general principle, corporations are recognized as legal entities separate from their
shareholders, officers, and directors. Corporate obligations remain the liability of the
entity and not of the shareholders, directors, or officers who own and/or act for the entity.
"Piercing The Corporate Veil" refers to the judicially imposed exception to this principle
by which courts disregard the separateness of the corporation and hold a shareholder
responsible for the corporation's action as if it were the shareholder's own.62 Pengertian
ini dapat diterjemahkan secara bebas yaitu Piercing The Corporate Veil menjadi topik
paling popler dalam hukum perseroan terbatas, namun masih sedikit yang memahami.
Pada umumnya perseroan dikenal dengan adanya keterpisahan harta kekayaan perseroan
dengan pemegang saham, komisaris dan direktur. Tanggungjawab perseoran juga terpisah
antara perseroan dengan organ perseroan. Doktrin Piercing The Corporate Veil secara
hukum mengecualikan ketentuan tersebut melalui pengadilan dan dapat memintakan
tanggungjawab pada pemegang saham untuk tindakan perseroan tersebut bilamana
pemegang saham tersebutlah yang bertindak.
Doktrin Piercing The Corporate Veil terdiri dari kata-kata sebagai berikut63:
1. Pierce (ing) = menyobek/mengoyak/menembus.

62
Robert B. Thompson, PIERCING THE CORPORATE VEIL:AN EMPIRICAL STUDY, Cornell Law Review
Volume 76 Issue 5 July 1991 Article 2, hlm. 1036, http://scholarship.law.cornell.edu/clr/vol76/iss5/2, 09
Maret 2016, 21:00
63
Munir Fuady, Doktrin-Doktrin...., op.cit., hlm.7-8
2. Veil = tirai atau pembatas.
3. Corporate = perusahaan.
Secara harfiah istilah Piercing The Corporate Veil berarti mengoyak/
menyingkapi tirai atau pembatas tanggungjawab dalam perusahaan, sedangkan dalam
ilmu hukum perusahaan, istilah Piercing The Corporate Veil merupakan suatu doktrin
atau teori yang diartikan sebagai suatu proses untuk membebani tanggungjawab atas
pihak lain atau perusahaan lain yang bukan perusahaan itu sendiri, tanpa melihat kepada
fakta bahwa perbuatan materil sebenarnya dilakukan oleh perseroan pelaku (badan
hukum), tanpa melihat kepada fakta bahwa perbuatan tersebut sebenarnya dilakukan oleh
perseroan terbatas yang bersangkutan.64
Tujuan keberadaan doktrin ini adalah untuk mencegah kerugian yang mungkin
diderita pihak yang beritikad baik atau menciptakan keadilan dalam kegiatan perseroan
terbatas. Dengan menggunakan doktrin ini pengadilan akan mengeyampingkan prinsip
separate existence dari perseroan terbatas yang berakibat pada tanggungjawab terbatas
yang dinikmati setiap organ perseroan.
Hal senada juga diungkapkan oleh Matthew D. Caudill; A corporation exists
independent of its owners as a separate legal entity." A corporation's distinct legal
existence insulates its shareholders from liability: shareholders of a corporation are
liable only for the amount of their investments and not for the debts of the corporation
itself.' Courts will only pierce in the unusual circumstance, to prevent fraud, achieve
equity or avert the violation of a statute or public policy." Under the piercing doctrine,
courts may hold liable corporate actors who misuse the corporate form in such a manner
as to accomplish their own personal affairs rather than that of the business of the
corporation."65 Pengertian ini dapat diterjemahkan secara bebas yaitu suatu perseroan
mengenal pemisahan harta kekayaan. Pemegang saham hanya bertanggungjawab sebatas
pada saham yang ditanamnya dan tidak pada kerugian atau utang pada perseroan tersebut.
Dengan adanya doktrin Piercing The Corporate Veil, pengadilan dimungkinkan untuk
menjerat aktor yang menyebabkan kerugian perseroan tersebut dan mengutamakan
kepentingan pribadinya daripada tujuan bisnis perseroan.

64
Munir Fuady, Hukum Bisnis Dalam Teori dan Praktek Buku Ketiga, Cetakan ke-II, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2002, hlm.7
65
Matthew D. Caudill, Piercing The Corporate Veil of a New York Not For Profit Corporation, Fordham
Journal of Corporate & Financial Law Volume 8, Issue 2 Article 4, year 2003, hlm. 463, The Berkeley
Electronic Press (bepress). http://ir.lawnet.fordham.edu/jcfl, 10 Maret 2016, 05:00
Nicholas Allen berpendapat limited liability has its limits. When a corporation is
used as a shield for liability or for an illegitimate business purpose, courts will exercise
their equitable power by applying the equally fundamental principle of Piercing The
Corporate Veil. While exact definitions vary by state, courts will disregard the corporate
entity, or pierce the corporate veil, when it is shown that a corporation is an alter ego.
A corporation is an alter ego when it is used as a mere instrumentality for the
transaction of affairs without regard to separate and independent corporate existence.66
Pengertian ini dapat diterjemahkan secara bebas yaitu suatu tanggungjawab terbatas
memiliki batasannya. Ketika perseroan tersebut digunakan sebagai tameng untuk bisnis
illegal yang keluar dari tujuan utama bisnis tersebut, pengadilan akan menggunakan
kekuasaannya untuk menerapkan prinsip dasar yang sama dari Piercing The Corporate
Veil ketika terbukti perseroan tersebut digunakan sebagai alter ego. Perseroan disebut
alter ego bila perseroan tersebut hanya digunakan sebagai alat untuk kepentingan pribadi
organ perseroan tanpa memperhatikan kemandirian dan keterpisahan harta perseroan.
Blacks Law Dictionary memberikan definisi Piercing The Corporate Veil sebagai
berikut: The judicial act of imposing personal liability on otherwise immune corporate
officers, directors and shareholders for the corporations wrongful acts.67 Pengertian ini
dapat diterjemahkan secara bebas yaitu doktrin menembus tirai perseroan adalah suatu
tindakan hukum yang memberlakukan tanggungjawab pribadi dan mengabaikan
kekebalan direksi dan pemegang saham atas tindakan perseroan yang salah.
Piercing The Corporate Veil. Judicial process whereby court will disregard
usual immunity of corporate officers or entitie from lialibility for corporate activates: e.g.
when incorporation was for sale purpose of perpetrating fraud. The doctrine which holds
that the corporate structure with its attendant limited imposed on stockholder, officer and
directors in the case of fraud. The court, however, may look beyond the corporate from
only for the defeat of fraud or wrong or remedying of injustice.68 Dari definisi tersebut
bisa disimpulkan bahwa struktur perusahaan dengan tanggungjawab terbatas dapat
mengabaikan tanggungjawab pemegang saham, komisaris dan direksi dalam kasus
kelalaian dan kesalahan bahkan kejahatan sehingga mengakibatkan perseroan mengalami
kerugian.

66
Nicholas Allen, Reverse Piercing of the Corporate Veil: A Straightforward Path to Justice, NY Business Law
Journal | Summer 2012 | Vol. 16 | No. 1, page.25, http://scholarship.law.stjhons.edu/viewcontent, 10
Maret 2016, 16:00
67
Black Law Dictionary Free Online Legal Dictionary, http://thelawdictionary.org, 19 Februari 2016, 23:00
68
Pujiyono, op.cit., hlm.184
Piercing The Corporate Veil is a legal phrase referring to instances when the
corporate entity can not protect the personal assets of stockholders, officers and
directors.69 Definisi di atas dapat diterjemahkan secara bebas yaitu menyingkap tirai
perseroan adalah sebuah istilah hukum yang mengacu pada keadaan dimana status badan
hukum perseroan tidak dapat melindungi asset pribadi pemegang saham, komisaris dan
direksi.
Dari definisi-definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa doktrin Piercing
The Corporate Veil adalah suatu prinsip yang mengabaikan tanggung jawab terbatas yang
berlaku bagi pemegang saham dan tanggungjawab secara pribadi bagi direksi dan dewan
komisaris perseroan terbatas walaupun kerugian yang timbul diakibatkan oleh tindakan
perseroan terbatas.
Pada prinsipnya, Piercing The Corporate Veil akan diterapkan jika terdapat
keadaan bahwa sangat tidak adil jika dalam hal-hal tertentu yang demikian merugikan
bagi perusahaan, tanggungjawab hanya dimintakan pada perusahaan sebagai badan
hukum semata-mata. Prinsip pertanggungjawaban terbatas selain berlaku pada pemegang
saham, juga berlaku kepada anggota direksi perseroan terbatas. Ia tidak
bertanggungjawab atas perbuatannya, melainkan menjadi tanggungjawab yang
diwakilinya, yaitu perseroan terbatas yang bersangkutan.
Dalam perkembangannya prinsip tanggungjawab terbatas pada badan hukum tidak
berlaku mutlak, dengan adanya doktrin Piercing The Corporate Veil, dimana dalam hal
tertentu terdapat kemungkinan dihapusnya tanggungjawab terbatas direksi perseroan
terbatas (jika anggota direksi sangat mendominasi dalam melakukan perbuatan yang
menyebabkan timbulnya Piercing The Corporate Veil). Kekebalan (immunity) yang biasa
dimiliki oleh pemegang saham, direksi dan komisaris, yaitu tanggungjawabnya terbatas,
dibuka dan diterobos menjadi tanggungjawab tidak terbatas hingga kekayaan pribadi
apabila terjadi pelanggaran, penyimpangan atau kesalahan dalam melakukan pengurusan
perseroan.70

D. Terjadinya Pailit Dalam Suatu Perseroan Terbatas (PT)


Arti kepailitan ialah segala sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa pailit.
Pailit ialah keadaan berhenti membayar (utang-utangnya). Berhenti membayar disini

69
Judon Farmbough, Corporate Law: Piercing The Corporate Veil,
http://assets.recenter.tamu.edu/pdf/1011.pdf, 20 Februari 2016, 09:00
70
Doktrin Fiduciary Duty dan Peran Direksi,
http://www.portalhr.com/majalah/edisisebelumnya/strategi/1id281.html, 07 Juni 2015, 22.00
bukan berarti bahwa si debitor berhenti sama sekali untuk membayar utang-utangnya,
melainkan debitor tersebut pada waktu diajukan permohonan pailit, berada dalam keadaan
tidak membayar utang tersebut.71
Pranata hukum kepailitan atau dalam bahasa Inggris disebut bankruptcy,
sedangkan dalam bahasa Belanda disebut failliet72 merupakan pranata hukum yang dikenal
banyak negara, baik yang menganut sistem hukum Civil Law maupun Common Law.
Dalam bahasa Indonesia sehari-hari sering dipakai istilah bangkrut, sedangkan dalam
sistem hukum Common Law terkadang dipergunakan juga istilah Insolvency. Istilah
Insolvency dimaksudkan sebagai suatu ketidaksanggupan membayar utang ketika
utangnya itu jatuh tempo pada saat bisnis dari debitor akan kolaps. Sementara yang
dimaksud dengan istilah bankruptcy adalah status hukum dari debitur yang sangat khusus,
status mana ditetapkan oleh Pengadilan.
Pasal 1131 KUHPerdata menetapkan bahwa semua harta kekayaan debitur
(siberutang) baik benda bergerak atau benda tidak bergerak baik yang ada maupun yang
baru akan ada dikemudian hari menjadi jaminan untuk semua perikatan-perikatan
pribadinya.
Pasal 1132 KUHPerdata menetapkan bahwa benda-benda milik debitor tersebut
menjadi jaminan bersama-sama bagi para krediturnya (siberpiutang) dan hasil penjualan
benda-benda milik debitur itu dibagi menurut keseimbangan (proporsional) yaitu menurut
besar kecilnya tagihan kreditor masing-masing kreditor, kecuali apabila diantara kreditor
ada alasan-alasan untuk didahulukan
Pasal 1131 dan Pasal 1132 KUH Perdata merupakan perwujudan adanya jaminan
kepastian pembayaran atas transaksi-transaksi yang telah diadakan oleh debitor terhadap
kreditur-krediturnya dengan kedudukan yang proporsional, adapun hubungan kedua pasal
tersebut adalah bahwa kekayaan debitur (Pasal 1131) merupakan jaminan bersama bagi
semua krediturnya (Pasal 1132) secara proporsional, kecuali kreditor dengan hak
mendahului (hak Preferens).
Menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang selanjutnya disebut
(UUK&PKPU) menyebutkan bahwa Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan

71
C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil, op.cit., hlm.174
72
Rahayu Hartini, Penyelesaian Sengketa Kepailitan di Indonesia Dualisme Kewenangan Pengadilan Niaga
dan Lembaga Arbitrase, Kencana Pranada Media Group, Jakarta, 2009, hlm. 71
Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah
pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini
Debitor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (3) UUK&PKPU menyebutkan
bahwa Debitor adalah orang yang mempunyai utang karena perjanjian atau
Undang-undang yang pelunasannya dapat ditagih di muka pengadilan.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam kepailitan ada unsur-
unsur:
1. Adanya keadaan berhenti membayar atas suatu utang;
2. Adanya permohonan pailit;
3. Adanya pernyataan pailit (oleh Pengadilan Niaga);
4. Adanya sita dan eksekusi atas harta kekayaan pihak yang dinyatakan pailit (debitur);
5. Dilakukan oleh pihak yang berwenang;
6. Semata-mata untuk kepentingan kreditur.
Dalam Undang-Undang Kepailitan disebutkan pada Pasal 2 ayat (1) UUK&PKPU
disebutkan bahwa: Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak
membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih,
dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun
atas permohonan satu atau lebih kreditornya
Dari paparan di atas, maka telah jelas bahwa untuk bisa dinyatakan pailit, debitur
harus telah memenuhi tiga syarat yaitu:
1. Memiliki Minimal Dua Kreditur;
Keharusan ada dua kreditur yang disyaratkan dalam Undang-Undang
Kepailitan merupakan pelaksanaan dari ketentuan Pasal 1132 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata. Karena seorang debitor tidak dapat dinyatakan pailit jika debitor
hanya mempunyai seorang kreditor adalah tidak ada keperluan untuk membagi asset
debitor diantara para kreditor. Hal ini merupakan persyaratan sebagaimana ditentukan
di dalam Pasal 2 ayat (1) UUK&PKPU, yang merupakan realisasi dari ketentuan Pasal
1132 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dari ketentuan Pasal 1132 tersebut dapat
diketahui bahwa pada dasarnya setiap kebendaan yang merupakan harta kekayaan
seseorang harus di bagi secara adil kepada setiap orang yang berhak atas pemenuhan
perikatan individu ini, yang disebut dengan nama kreditor. Yang dimaksud dengan adil
disini adalah bahwa harta kekayaan tersebut harus dibagi secara:
a. Pari passu, dengan pengertian bahwa harta kekayaan tersebut harus dibagikan
secara bersama-sama diantara para kreditornya tersebut.
b. Prorata, sesuai dengan besarnya imbangan piutang masing-masing kreditor
terhadap utang debitor secara keseluruhan.73
Menurut ketentuan Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996
tentang Hak Tanggungan, yang dimaksud dengan kreditor adalah pihak yang
berpiutang dalam suatu hubungan utang-piutang tertentu, sedangkan menurut
ketentuan Pasal 1 ayat (2) UUK&PKPU menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan
kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau undang-
undang yang dapat ditagih di muka pengadilan.
Kreditor Konkuren adalah golongan kreditor biasa yang tidak dijamin dengan
jaminan khusus74 atau kreditor yang sama sekali tidak didahulukan pembayaran
utangnya75 kreditor yang harus berbagi dengan para kreditor yang lain secara
proporsional (secara pari passu), yaitu menurut perbandingan besarnya masing-masing
tagihan mereka, dari hasil penjualan harta kekayaan debitor yang tidak dibebani
dengan hak jaminan. Kreditur preferen yaitu Kreditor yang didahulukan dari kreditor-
kreditor lainnya untuk memperoleh pelunasan tagihannya dari hasil penjualan harta
kekayaan debitor asalkan benda tersebut telah dibebani dengan hak jaminan tertentu
bagi kepentingan kreditor tersebut.76
2. Harus Ada Utang
Didalam Pasal 1 ayat (6) UUK&PKPU disebutkan bahwa yang dimaksud
dengan:
Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang
baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung
maupun yang akan timbul di kemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena
perjanjian atau undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh Debitor dan bila tidak
dipenuhi memberi hak kepada Kreditor untuk mendapat pemenuhannya dari harta
kekayaan Debitor.
3. Jangka Waktu Dan Dapat Ditagih
Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1) UUK&PKPU yang dimaksud dengan:
"utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih adalah kewajiban untuk membayar
utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu

73
Pengaruh Kepailitan terhadap Pelaksanaan Hukum
https://elearning.usu.ac.id/mod/resource/view.php?id=6448, 12 Maret 2016, 23:45
74
Ridwan Khairandy, Perseroan......., op.cit., hlm. 348
75
Munir Fuady, Hukum Jaminan Utang, Erlangga, Jakarta, 2013, hlm. 32
76
Ibid; hlm 30
penagihannya sebagaimana diperjanjikan, karena pengenaan sanksi atau denda oleh
instansi yang berwenang, maupun karena putusan pengadilan, arbiter atau majelis
arbitrase.
Prasyarat jatuh waktu yang dapat ditagih merupakan satu kesatuan.
Maksudnya, utang yang telah jatuh waktu atau lebih dikenal jatuh tempo secara
otomatis telah menimbulkan hak tagih pada kreditor. Lalu bagaimanakah menentukan
saat jatuh tempo suatu utang.
Pada dasarnya, debitor dianggap lalai apabila ia tidak atau gagal memenuhi
kewajibannya dengan melampaui batas waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian,
sehingga untuk melihat apakah suatu utang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, harus
menunjuk pada perjanjian yang mendasari utang tersebut. Namun demikian ketentuan
Pasal 1238 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyebutkan bahwa debitor
dianggap lalai apabila dengan suatu surat perintah atau dengan sebuah akta telah
dinyatakan lalai atau demi perikatannya sendiri, jika ia menetapkan bahwa debitor
dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.
Dari rumusan pasal tersebut dapat dilihat bahwa, dalam perikatan untuk
memberikan atau menyerahkan sesuatu, undang-undang membedakan kelalaian
berdasarkan adanya ketepatan waktu dalam perikatan, dimana:
a. Dalam hal terdapat ketetapan waktu, maka saat jatuh tempo adalah saat atau waktu
yang telah ditentukan dalam perikatannya tersebut, yang juga merupakan saat atau
waktu pemenuhan kewajiban bagi debitor;
b. Dalam hal ini tidak ditentukan terlebih dahulu saat mana debitor berkewajiban
untuk melaksanakan kewajibannya tersebut dalam perikatannya, maka saat jatuh
tempo adalah saat dimana debitor telah ditegur oleh kreditor untuk memenuhi atau
menunaikan kewajibannya. Tanpa adanya teguran tersebut maka kewajiban atau
utang debitor kepada kreditor belum dianggap jatuh tempo.
Dalam hal yang demikian maka bukti tertulis dalam bentuk teguran yang
disampaikan oleh kreditor kepada debitor untuk memenuhi kewajibannya menjadi dan
merupakan satu-satunya bukti debitor lalai, akan tetapi jika penentuan jatuh temponya
suatu utang berdasarkan kesepakatan para pihak dalam perjanjian, sebagaimana
ditentukan dalam Pasal 1138 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, kesepakatan
tersebut mengikat para pihak yang membuatnya seperti undang-undang, sehingga yang
menjadi pegangan dalam penentuan apakah utang tersebut sudah jatuh tempo atau
belum adalah perjanjian yang mendasari hubungan perikatan itu sendiri.
Pihak-pihak yang dapat dinyatakan Pailit dalam Pasal 2 UUK&PKPU disebutkan
bahwa debitor bisa orang-perorangan maupun badan hukum. Pihak-pihak yang dapat
dinyatakan pailit antara lain:
1. Orang perorangan
2. Harta peninggalan (warisan)
3. Perkumpulan perseroan (holding company)
4. Penjamin (guarantor)
5. Badan hukum
6. Perkumpulan bukan badan hukum
7. Bank
8. Perusahaan efek
9. Perusahaan asuransi, reasuransi, dana pension, dan badan usaha milik Negara
Mengenai pihak-pihak yang dapat mengajukan permohonan pernyataan kepailitan,
Pasal 2 UUK&PKPU menyebutkan sebagai berikut:
(1) Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas
sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit
dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas
permohonan satu atau lebih kreditornya.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat juga diajukan oleh
kejaksaan untuk kepentingan umum.
(3) Dalam hal Debitor adalah bank, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan
oleh Bank Indonesia.
(4) Dalam hal Debitor adalah Perusahaan Efek, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan
Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, permohonan pernyataan pailit
hanya dapat diajukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal.
(5) Dalam hal Debitor adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, Dana
Pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang kepentingan
publik, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan.
Pihak yang dapat dinyatakan pailit adalah debitor, yaitu orang yang mempunyai
utang karena perjanjian atau undang-undang pelunasannya dapat ditagih di muka
pengadilan. Debitor bisa merupakan orang perseorangan, badan hukum atau persekutuan-
persekutuan yang bukan merupakan badan hukum.
Dalam Penjelasan Pasal 3 Ayat (1) UUK&PKPU menyebutkan bahwa Yang
dimaksud dengan "hal-hal lain", adalah antara lain, actio pauliana, perlawanan pihak
ketiga terhadap penyitaan, atau perkara dimana Debitor, Kreditor, Kurator, atau
pengurus menjadi salah satu pihak dalam perkara yang berkaitan dengan harta pailit
termasuk gugatan Kurator terhadap Direksi yang menyebabkan perseroan dinyatakan
pailit karena kelalaiannya atau kesalahannya.
UUK&PKPU dalam penjelasannya menyebutkan bahwa keberadaan undang-
undang ini mendasarkan pada sejumlah asas-asas kepailitan yakni:
1. Asas Keseimbangan yaitu di satu pihak, terdapat ketentuan yang dapat mencegah
terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh Debitor yang tidak
jujur, di lain pihak terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan
pranata dan lembaga kepailitan oleh Kreditor yang tidak beritikad baik.77
2. Asas Kelangsungan Usaha, dalam undang-undang ini, terdapat ketentuan yang
memungkinkan perusahaan Debitor yang prospektif tetap dilangsungkan;78
3. Asas Keadilan, dalam kepailitan asas keadilan mengandung pengertian, bahwa
ketentuan mengenai kepailitan dapat memenuhi rasa keadilan bagi para pihak yang
berkepentingan. Asas rasa keadilan ini untuk mencegah terjadinya kesewenang-
wenangan pihak penagih yang mengusahakan pembayaran atas tagihan masing-masing
terhadap Debitor, dengan tidak memperdulikan Kreditor lainnya;79
4. Asas Intergrasi adalah sistem hukum formil dan hukum materilnya merupakan satu
kesatuan yang utuh dari sistem hukum perdata dan hukum acara perdata nasional,80
lembaga hukum yang mempunyai fungsi penting, sebagai realisasi dari 2 (dua) pasal
penting dalam KUH Perdata yakni Pasal 1131 dan Pasal 1132 mengenai
tanggungjawab debitor terhadap utang-utangnya.

E. Teori Yang Digunakan Dalam Penelitian


Menganalisa mengenai pokok masalah yang menjadi kajian didalam sebuah
penelitian dapat dilakukan dengan menggunakan teori. Teori pada hakekatnya adalah
seperangkat konstruksi (konsep), batasan dan proposisi yang menyajikan suatu
pandangan sistematis, tentang fenomena dan merinci hubungan antar variable, dengan
tujuan menjelaskan dan memprediksi gejala itu.81

77
Rahayu Hartini, op.cit., hlm. 75
78
Ibid
79
Ibid; hlm. 76
80
Ibid
81
Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003,
hlm. 14
Teori juga berarti serangkaian asumsi, konsep, definisi, proposisi untuk
menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan
hubungan antar konsep.82 Oleh karena itu dalam bentuknya yang paling sederhana, suatu
teori merupakan hubungan antara dua variable atau lebih yang telah teruji
kebenarannya.83
Pada penelitian ini menggunakan beberapa teori yang terkait dengan pembahasan
pokok masalah masing-masing.
1. Teori Keadilan
Keadilan adalah kebajikan utama dalam institusi sosial, sebagaimana
kebenaran dalam sistem pemikiran. Suatu teori, betapapun elegan dan ekonomisnya,
harus ditolak atau direvisi jika ia tidak benar; demikian juga hukum dan institusi,
tidak peduli betapapun efesien dan rapinya, harus di reformasi atau dihapuskan jika
tidak adil.84
Keadilan sebagai fairness artinya keadilan sebagai keadilan, kejujuran dan
kewajaran. Salah satu bentuk keadilan sebagai fairness adalah memandang berbagai
pihak dalam situasi awal sebagai rasional dan sama-sama netral.85 Kehidupan
bermasyarakat yang tertata dengan baik adalah jika dirancang untuk meningkatkan
kesejahteraan bagi anggotanya serta secara efektif diatur oleh konsepsi publik
mengenai prinsip-prinsip keadilan,86 yaitu:
a. Setiap orang memiliki, menerima dan mengetahui bahwa orang lain menganut
prinsip keadilan yang sama (kebebasan yang sama).
b. Institusi sosial dasar yang sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut, yaitu tidak ada
pembedaan sewenang-wenang antara orang dalam memberikan hak dan
kewajiban serta ketika aturan menentukan keseimbangan berdasarkan konsep
keadilan yang pas ketika terdapat perbedaan yang saling berseberangan demi
kemanfaatan kehidupan sosial.
c. Adanya prinsip keseimbangan dan kelayakan dalam suatu kesenjangan sosial dan
ekonomi yang dapat memberikan persamaan dan kebebasan yang sama dalam
perbedaan yang ada mengenai pembagian keuntungan dalam kehidupan sosial.

82
Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, Cetakan Keenam, Rineka Cipta, Jakarta, 2010, hlm. 19
83
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Cet. 3, UNI Press, Jakarta 2014, hlm 126-127
84
Rawls, John, Teori Keadilan Dasar-Dasar Filsafat Politik Untuk Mewujudkan Kesejateraan Sosial Dalam
Negara, Cetakan II, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011, hlm. 3-4
85
Ibid; hlm. 15
86
Ibid; hlm. 65
Subjek keadilan sebagai fairness menurut John Rawls,87 antara lain:
a. Hukum, institusi, sistem sosial, tindakan-tindakan tertentu, termasuk keputusan,
penilaian dan tuduhan.
b. Subyek utama keadilan adalah struktur dasar masyarakat atau cara lembaga sosial
mendistribusikan hak dan kewajiban fundamental serta menentukan pembagian
keuntungan dari kerja sama sosial.
Berdasarkan kompleksitas gagasan pokok tentang keadilan sebagai fairness,
maka dapat dicoba untuk menyimpulkan bahwa prinsip keadilan sebagai fairness
terdiri atas 2 bagian, yaitu:
a. Interpretasi terhadap situasi awal atas persoalan pilihan yang ada. Posisi asali
adalah menegaskan kesepakatan fundamental yang dicapai adalah fair dan tidak
ada diskriminasi terhadap hak-hak dasar individu dalam masyarakat.
b. Adanya seperangkat prinsip yang akan disepakati. Keadilan sebagai fairness
merupakan teori pilihan rasional, pengertian rasional adalah bagaimana cara
paling efektif untuk mencapai tujuan.
Dapat dikatakan bahwa keadilan sebagai fairness adalah menekankan pada
pengakuan hak dalam posisi asali individu dengan tetap berdasarkan pada hasil
kesepakatan bersama dalam hubungan kerjasama sosial. Dapat disimpulkan bahwa
teori keadilan John Rawls tentang prinsip keadilan sebagai fairness adalah
menghargai hak-hak dasar individu dalam posisi asali, tanpa diskriminasi, untuk
mewujudkan keadilan sosial melalui prinsip demokrasi/hasil kesepakatan bersama.
Hal ini adalah sama seperti dalam pandangan Pancasila mengenai makna Keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam berbagai perbedaan kepentingan dalam
masyarakat, demokrasi/kesepakatan bersama akan menghasilkan kesepakatan tentang
keadilan sosial, sehingga tidak menghalalkan segala cara dengan mengorbankan
kepentingan/hak individu demi kepentingan sosial.
Keadilan menurut Mochtar Kusumaatmaja, dalam menguraikan asas-asas atau
prinsip-prinsip yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan
pembukaannya yang seharusnya dijadikan pedoman dalam melakukan pembaharuan
hukum nasional, menyebutkan: Asas Keadilan Sosial mengamanatkan bahwa semua
warga negara mempunyai hak yang sama dan bahwa semua orang sama di hadapan
hukum.88

87
Ibid; hlm. 7
88
Mochtar Kusumaatmaja, Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan, Alumni, Bandung, 2006, hlm. 188
Plato merumuskan teorinya tentang hukum sebagai sarana keadilan demikian;
(i) hukum merupakan tangan terbaik untuk menangani dunia fenomena yang penuh
situasi ketidakadilan (ii), aturan-aturan hukum harus dihimpun dalam satu kitab,
supaya tidak muncul kekacauan hukum, (iii) setiap UU harus didahului preambule
tentang motif dan tujuan UU tersebut, manfaatnya adalah agar rakyat dapat
mengetahui dan memahami kegunaan menaati hukum itu, dan insaf tidak baik
menaati hukum hanya karena takut dihukum.89
Keadilan menurut Aristoteles mengungkapkan bahwa keadilan mengandung
arti berbuat kebajikan, atau dengan kata lain keadilan adalah kebijakan yang utama.
Prinsip ini berpijak dari asumsi untuk hal-hal yang sama diperlakukan secara sama
dan yang tidak sama juga diperlakukan tidak sama, secara proposional.90
Hukum sebagai pengemban nilai keadilan, menurut Gustav Radburch,
menjadi ukuran bagi adil tidak adilnya tata hukum. Tidak hanya itu, nilai keadilan
juga menjadi dasar dari hukum sebagai hukum. Dengan demikian, keadilan memiliki
sifat normative sekaligus konstitutif bagi hukum. Ia normative, karena berfungsi
sebagai prasyarat trasendental yang mendasari tiap hukum positif yang bermartabat.
Ia menjadi landasan moral hukum dan sekaligus tolok ukur sistem hukum positif,
kepada keadilanlah, hukum positif berpangkal. Sedangkan konstitutif, karena
keadilan harus menjadi unsur mutlak bagi hukum sebagai hukum. Tanpa keadilan,
sebuah aturan tidak pantas menjadi hukum.91
Menurutnya lagi, gagasan hukum sebagai gagasan kultural, tidak bisa formal.
Sebaliknya, ia terarah pada rechtside, yakni keadilan. Keadilan sebagai suatu cita,
seperti ditunjukkan oleh Aristoteles tidak dapat mengatakan lain kecuali: yang sama
diperlakukan sama, dan yang tidak sama diperlakukan tidak sama. Untuk mengisi
cita keadilan ini dengan isi yang konkret, kita harus menengok segi finalitasnya. Dan
untuk melengkapi keadilan dan finalitas itu, dibutuhkan kepastian. Bagi Radburch,
hukum memiliki tiga aspek, yakni keadilan, finalitas, dan kepastian. Aspek keadilan
menunjuk pada kesamaan hak di depan hukum. Aspek finalitas, menunjuk pada
tujuan keadilan, yaitu memajukan kebaikan dalam hidup manusia. Aspek ini
menentukan isi hukum. Sedangkan kepastian menunjuk pada jaminan bahwa hukum
(yang berisi keadilan dan norma-norma yang memajukan kebaikan), benar-benar

89
Bernard L. Tanya, dkk, Teori Hukum, Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang Lingkup dan Generasi, Cetakan
IV, Genta Publishing, Yogyakarta, 2013, hlm. 39
90
Ibid; hlm. 44-45
91
Bernard L. Tanya, op.cit., hlm. 117
berfungsi sebagai peraturan yang ditaati. Dapat dikatakan dua aspek yang disebut
pertama merupakan kerangka ideal dari hukum. Sedangkan aspek ketiga (kepastian)
merupakan kerangka operasional hukum.92
Menurut Thomas Aquinas menyatakan bahwa keadilan distributif pada
dasarnya merupakan penghormatan terhadap person manusia (acceptio personarum)
dan keluhurannya (dignitas), dalam konteks keadilan distributif, keadilan dan
kepatuhan (equitas) tidak tercapai semata-mata dengan penetapan nilai yang aktual,
melainkan juga atas dasar kesamaan antara satu dengan hal lainnya, yaitu kesamaan
kuantitas atau jumlah (aqualitas quantitas).93 Penghormatan terhadap person dapat
terwujud apabila ada sesuatu yang diberikan/dibagikan kepada seseorang sebanding
dengan seharusnya yang ia terima (preater proportion dagtinis ipsius), dengan dasar
itu maka pengakuan terhadap person harus diarahkan pada pengakuan terhadap
kepatutan (equality) kemudian pelayanan dan penghargaan didistribusikan secara
proposional atas dasar harkat dan martabat manusia.94
Sejalan dengan alur pikir tersebut, dapat dikatakan bahwa teori keadilan
dikaitkan dengan penerapan doktrin Piercing The Corporate Veil adalah untuk
dapat mengungkap dan mengetahui pertanggungjawaban Direksi atas pailitnya suatu
peseroan terbatas bilamana direksi tersebut terbukti melakukan perbuatan melawan
hukum dan tidak serta merta segala tanggungjawab dibebankan kepada pemegang
saham, direksi dan dewan komisaris, sehingga semua pihak bisa mendapat keadilan
dengan mengimplementasikan asas keadilan tersebut.
2. Teori Kepastian Hukum
Asas Kepastian Hukum sudah umum bilamana kepastian sudah menjadi
bagian dari suatu hukum, hal ini lebih diutamakan untuk norma hukum tertulis.
Hukum tanpa nilai kepastian akan kehilangan jati diri serta maknanya, karena tidak
lagi dapat digunakan sebagai pedoman perilaku setiap orang.
Kepastian sendiri hakikatnya merupakan tujuan utama dari hukum.
Keteraturan masyarakat berkaitan erat dengan kepastian dalam hukum, karena
keteraturan merupakan inti dari kepastian itu sendiri, dari keteraturan akan
menyebabkan seseorang hidup secara berkepastian dalam melakukan kegiatan yang
diperlukan dalam kehidupan masyarakat.

92
Ibid; hlm. 118
93
E. Sumaryono, Etika Hukum Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas, Kanisius, Yogyakarta, 2002,
hlm. 90-91
94
Ibid
Menurut Peter Mahmud Marzuki menyatakan bahwa kepastian hukum
mengandung dua pengertian, yaitu pertama adanya aturan yang bersifat umum
membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan,
dan kedua berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah
karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa
saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap individu. Kepastian
hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam Undang-Undang, melainkan juga ada
konsistensi dalam putusan hakim antara putusan yang satu dengan putusan hakim
yang lainnya untuk kasus yang telah diputuskan.95
Tujuan hukum yang mendekati realistis adalah kepastian hukum dan
kemanfaatan hukum. Kaum Positivisme lebih menekankan pada kepastian hukum,
sedangkan Kaum Fungsionalis mengutamakan kemanfaatan hukum, dan sekiranya
dapat dikemukakan bahwa summum ius, summa injuria, summa lex, summa crux
yang artinya adalah hukum yang keras dapat melukai, kecuali keadilan yang dapat
menolongnya, dengan demikian kendatipun keadilan bukan merupakan tujuan hukum
satu-satunya, akan tetapi tujuan hukum yang paling substantif adalah keadilan.96
Menurut Soedikno Mertokusumo menyatakan bahwa kepastian hukum
merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam penegakan hukum, dalam hal
ini mengartikan kepastian hukum merupakan perlindungan yustiable terhadap
tindakan yang sewenang-wenang, yang berarti bahwa seseorang akan dapat
memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu.97
Kepastian hukum menghendaki adanya upaya pengaturan hukum dalam
perundang-undangan yang dibuat oleh pihak yang berwenang dan berwibawa,
sehingga aturan-aturan itu memiliki aspek yuridis yang dapat menjamin adanya
kepastian bahwa hukum berfungsi sebagai suatu peraturan yang harus ditaati.98
Kepastian hukum sangat diperlukan untuk menjamin ketentraman dan
ketertiban dalam masyarakat. Kepastian hukum merupakan nilai yang pada
prinsipnya memberikan perlindungan hukum bagi setiap warga negara dari
kekuasaan yang sewenang-wenang, sehingga hukum memberikan tanggung jawab

95
Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2008, hlm. 158
96
Dominikus Rato, Filsafat Hukum Mencari: Memahami dan Memahami Hukum, Laksbang Pressindo,
Yogyakarta, 2010, hlm.59
97
Soedikno Mertokusumo, Mengenai Hukum Sebuah Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 1999, hlm.145
98
Pengertian Asas Kepastian Hukum, http://tesishukum.com/pengertian-asas-kepastian-hukum-menurut-para-
ahli/, 02 februari 2016, 02.34
pada negara untuk menjalankannya. Dalam hal ini nampak terlihat relasi antara
persoalan kepastian hukum dengan negara.99
Kepastian hukum ditujukan pada sikap lahir manusia, ia tidak mempersoalkan
apakah sikap batin seseorang itu baik atau buruk, yang diperhatikan adalah
bagaimana perbuatan lahiriahnya. Kepastian hukum tidak memberi sanksi kepada
seseorang yang mempunyai sikap batin yang buruk, akan tetapi yang diberi sanksi
adalah perwujudan dari sikap batin yang buruk tersebut atau menjadikannya
perbuatan yang nyata atau konkrit, namun demikian dalam prakteknya apabila
kepastian hukum dikaitkan dengan keadilan, maka akan kerap kali tidak sejalan satu
sama lain. Adapun hal ini dikarenakan suatu sisi tidak jarang kepastian hukum
mengabaikan prinsip-prinsip keadilan dan sebaliknya tidak jarang pula keadilan
mengabaikan prinsip-prinsip kepastian hukum.
Dalam keterkaitan dengan penulisan ini adalah kekuasaan dan tanggungjawab
yang dimiliki direksi bukan berarti membuatnya menjadi kebal hukum dan tidak turut
memikul tanggungjawab atas pailitnya suatu perusahaan, bilamana direksi terbukti
melakukan tindakan yang tidak baik dalam menjalankan jabatannya yang
mengakibatkan peseroan terbatas tersebut pailit.

F. Penelitian Yang Relevan


Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah:
No Judul Oleh Fokus
1. Penelitian Tesis Asepte Dalam tesis tersebut membahas
Tanggungjawab Gaulle mengenai banyaknya perusahaan
Dewan Komisaris Ginting mengalami pailit (corporate failure)
Perseroan Terbatas dikarenakan dampak dari krisis
Dalam Hal Terjadinya moneter sebagai factor eksternal dan
Kepailitan Berdasarkan organ perusahaan dalam hal ini dewan
Undang-Undang komisaris sebagai factor internal. Hasil
Nomor 37 Tahun 2004 penelitian itu mengungkapkan bahwa
Tentang Kepailitan Dewan Komisaris dalam melakukan
Tahun 2010, Program tugas dan kewenangannya mengacu

99
E Fernando M. Manullang, Menggapai Hukum berkeadilan Tinjauan Hukum Kodrat dan Antitomi Nilai,
Kompas Media Nusantara, Jakarta, 2007, hlm. 94-95
Studi Magister Ilmu pada konsep fiduciary duty dan juga
Hukum, Fakultas good corperate governance. Artinya
Hukum Universitas bahwa Dewan Komisaris harus selalu
Sumatera Utara, Medan berhati-hati dan teliti dalam
mengawasi dan memberi nasihat pada
Direksi yang mengurus Perseroan.
Pertanggung jawaban atas terjadinya
kepailitan erat kaitannya dengan
konsep teori Piercing The Corporate
Veil dan Business Judgment Rule serta
Good Corporate Governance.
Kesalahan atau kelalaian yang
dilakukan oleh Dewan Komisaris atas
Pengurusan Direksi akan membawa
tanggungjawab terhadap semua
anggotanya. Tanggungjawab yang
dikenakan merupakan konsekuensi
logis. Bentuk tanggung jawab yang
dikenakan pada Dewan Komisaris atas
terjadinya kepailitan Perseroan adalah
tanggung jawab renteng. Oleh karena
itu, konsep fiduciary duty dan business
judgment rule menjadi hal yang benar-
benar harus diperhatikan dan
dilakukan oleh Dewan Komisaris agar
terhindar dari kemungkinan terjadinya
kepailitan dalam Perseroan Terbatas.
2. Penelitian Tesis Ronald U.P Hasil penelitian tesis tersebut
Tanggungjawab Sagala menunjukan pemegang saham
Terbatas Pemegang perseroan tidak bertanggung jawab
Saham dan Hal-Hal secara pribadi atas perikatan yang
Yang Menghapuskan dibuat atas nama perseroan, dan tidak
Tanggungjawab bertanggung jawab atas kerugian
Terbatas Pemegang perseroan melebihi nilai sahamnya
Sahan Menurut dalam perseroan. Agar perseroan
Undang-Undang terbatas memperoleh status sebagai
Perseroan Terbatas badan hukum, perseroan harus
(Tinjauan Yuridis memenuhi persyaratan yang ditetapkan
Putusan Mahkamah dalam Undang-Undang. Jika
Agung Nomor: pemegang saham tidak melaksanakan
21/SIP/1973) Tahun kewajibannya untuk memenuhi
2010, Magister persyaratan perseroan terbatas sebagai
Kenotariatan Program badan hukum, hal itu berarti pemegang
Pascasarjana saham tidak menginginkan adanya
Universitas Indonesia, pertanggungjawaban terbatas. Tujuan
Depok dari pemisahan kekayaan pemegang
saham yang dilakukan pemegang
saham adalah untuk memisahkan
bahwa tanggung jawab pemegang
saham adalah terbatas pada sejumlah
hartanya yang dipisahkan dan disetor
ke perseroan. Akan tetapi dalam hal
tertentu pemegang saham dapat
dimintakan pertanggung jawaban
pribadi atas kewajiban perseroan
terbatas. Upaya hukum yang
memberlakukan tanggung jawab
pribadi pemegang saham dikenal
dengan istilah menyingkap tirai
perseroan terbatas.
3. Penelitian Tesis Mariske Dalam tesis tersebut yang
Tanggungjawab Organ Myeke bersangkutan mengambil enam kasus
Perseroan Terbatas Tampi yang disertakan dalam tesis tersebut
Ddalam Kasus-Kasus dan menganalisa variasi pertimbangan
Kepailitan. Tahun putusan Hakim Pengadilan Niaga dan
2012, Magister Ilmu Mahkamah Agung dalam memutus
Hukum, Program perkara tersebut dan menganalisa
Pascasarjana tanggungjawab masing-masing organ
Universitas Kristen peseroan terbatas tersebut dilihat dari
Satya Wacana, Salatiga doktrin fiduciary duty, ultra vires,
Piercing The Corporate Veil, business
judgement rule dan doktrin self
dealing. Keenam kasus tersebut adalah
Kasus The Hongkong Chinese Bank
Ltd. vs PT. Dok & Perkapalan Kodja
Bahari, Kasus PT. Indosurya Mega
Finance vs PT. Greatstar Perdana
Indonesia, Kasus PT. Bank Mandiri vs
PT. Bakrie Finance Corporation,
Kasus PT. Aditya Toa Development vs
PT. Wijaya Wisesa, Kasus PT. Heradi
Utama vs PT. Central Total Finance,
dan Kasus PT. Bank Negara Indonesia
vs PT. Kalimas Sukses Baru Mandiri.
4. Jurnal Premisse Law Sugondo Fokus penulisan ini terletak pada
Volume I Analisa bahwa ada direktur nominee dalam
Terhadap Batasan praktek peseroan terbatas di Indonesia.
Tanggung Jawab Tulisan tersebut mengkaji dasar
Direktur Nominee hukum, batasan tanggung jawab dan
Dalam Perseroan kewajiban, serta akibat hukum yang
Terbatas. mungkin timbul dalam pengelolaan PT
yang dilakukan oleh Direktur
Nominee.
5. Jurnal Braja Nitti Siti Fitria Fokus penelitian tersebut adalah
Volume. III, Nomor 1, Nur Rafika, permasalahan dalam pembagian harta
Studi Tentang Mahendra pailit terhadap hak pekerja yang sering
TanggungJawab Kurnia dikesampingkan dibanding kreditor
Perseroan Terbatas (PT) Putra, dan separatis. Hasil penelitian itu
Yang Divonis Pailit Nur mengungkapkan bahwa antara pekerja
Terhadap Hak Pekerja Arifuddin dan para kreditor baik separatis,
preferen, dan konkuren pada dasarnya
memiliki kedudukan hukum yang
sama (paritas creditorium) dan
karenanya mereka mempunyai hak
yang sama atas hasil eksekusi boedel
pailit sesuai dengan besarnya tagihan
mereka (kreditor) masing-masing (pari
passu pro rata parte). Namun terdapat
golongan kreditur yang memiliki hak
istimewa sehingga asas paritas
creditorium hanya untuk kreditur
konkuren saja. Dalam kepailitan
menganut asas keadilan yaitu
ketentuan mengenai kepailitan dapat
memenuhi rasa keadilan bagi para
pihak yang berkepentingan. Asas
keadilan ini untuk mencegah
terjadinya Kesewenang-wenangan
pihak penagih yang mengusahakan
pembayaran atas tagihan masing-
masing terhadap Debitor, dengan tidak
mempedulikan Kreditor lainnya.

Mencermati berbagai penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang penulis
lakukan maka dapat disampaikan bahwa penelitian yang dilakukan oleh penulis memiliki
perbedaan dengan penelitian sebelumnya. Perbedaan itu adalah pada rumusan masalah
yang diangkat oleh penulis, pada rumusan masalah dalam penelitian ini adalah mengenai
Doktrin Piercing The Corporate Veil diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun
2007 Tentang Perseroan Terbatas dan tanggungjawab Direksi pada Perseroan Terbatas
menurut UUPT atas terjadinya kepailitan Perseroan Terbatas. Penulis juga
mencantumkan dua contoh Putusan Mahkamah Agung Nomor 1311 K/Pdt/2012 dan
Nomor 514 K/PDT.SUS-PAILIT/2013 yang berkaitan dengan kepailitan suatu perseroan
terbatas dan direktur yang dikenakan pertanggungjawaban sampai harta pribadi
dikarenakan diterapkannya doktrin Piercing The Corporate Veil. Teori yang digunakan
untuk membantu penulis menjawab rumusan masalah ini adalah teori keadilan dan teori
kepastian hukum.

G. Kerangka Berpikir
Dalam konteks penelitian ini penulis menawarkan kerangka berpikir sebagaimana
tergambar dalam bagan berikut ini :

Peseroan Terbatas (PT)


UU. No.40 Tahun 2007 Tentang PT

PT

Direksi
RUPS Dewan Komisaris

Bilamana PT tersebut rugi dan akhirnya pailit, Bilamana PT tersebut rugi dan akhirnya pailit, maka
direksi dapat dimintai dan turut bertanggungjawab
maka direksi tidak dapat dimintai dan turut
apabila terbukti dalam menjalankan tugasnya ia lalai
bertanggungjawab apabila terbukti dalam sehingga menimbulkan kerugian.
menjalankan tugasnya dengan baik.

Asas-asas Tanggungjawab

Putusan Mahkamah Putusan Mahkamah Agung


Agung Nomor 1311 Nomor 514
Teori Kepastian Hukum K/Pdt/2012 K/PDT.SUSPAILIT/2013

Teori Keadilan

Doktrin Piercing The Corporate Veil


Direksi sebagai organ PT merupakan pilar utama yang menjamin kelangsungan
usaha perseroan. Keberadaan direksi menjadikan PT sebagai person yang hidup. Tanpa
direksi, PT hanyalah sekedar person yang lumpuh. Direksi tidak pernah ada kalau tidak
pernah dibentuk PT, karena itu PT adalah sebab adanya direksi. Hubungan direksi dengan
PT dikenal dengan fiduciary relationship yakni suatu relasi yang didasarkan kepada suatu
kepercayaan, suatu yang amanah.
Dalam kaitannya dengan fiduciary relationship, tanggungjawab direksi dalam
mengurus perseroan dapat diklasifikasikan adanya:
1. Tanggungjawab direksi berdasarkan kepercayaan, amanah atau fiduciary duties;
2. Tanggungjawab direksi berdasarkan kecakapan, keahlian, kehati-hatian dan
ketekunan atau duties of skill and care;
3. Tanggungjawab direksi berdasarkan undang-undang atau statutory duties.
Pada dasarnya prinsip tanggungjawab direksi tersebut adalah meletakan amanah
pada direksi untuk melaksanakan pengurusan perseroan, dengan itikad baik dan penuh
tanggungjawab, untuk kepentingan dan tujuan perseroan, serta mewakili perseoan baik di
dalam maupun di luar pengadilan. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut
mengakibatkan direksi harus bertanggungjawab secara pribadi. Tanggungjawab pribadi
direksi dimungkinkan terjadi dalam hubungannya dengan doktrin Piercing The Corporate
Veil.
Berkaitan dengan hal harta kekayan, PT sebagai badan hukum mandiri pada
prinsipnya memiliki harta kekayaan tersendiri yang terpisah dari harta kekayaan pribadi
para pemegang sahamnya. Ciri utama PT adalah bahwa PT merupakan subyek hukum
yang berstatus badan hukum, dan pada gilirannya membawa tanggungjawab terbatas bagi
para pemegang saham, direksi dan komisaris, beranjak dari pemikiran tersebut, apabila
suatu perseroan menderita kerugian para pemegang saham hanya bertanggungjawab
terbatas pada besaran modal yang ditanamkan dalam perseroan dan tidak menyangkut
harta pribadi. Ruang lingkup yang menjadi pembahasan dalam penulisan tesis ini, yaitu
mengenai Doktrin Piercing The Corporate Veil diatur dalam Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan tanggungjawab direksi pada perseroan
terbatas menurut UUPT atas terjadinya kepailitan perseroan terbatas dengan adanya
Putusan Mahkamah Agung Nomor 1311 K/Pdt/2012 dan Nomor 514 K/PDT.SUS-
PAILIT/2013 yang berkaitan dengan kepailitan suatu perseroan terbatas dan direksi yang
dikenakan pertanggungjawaban sampai harta pribadi dikarenakan diterapkannya doktrin
Piercing The Corporate Veil.