Anda di halaman 1dari 3

4.

Insinerasi Rotary Kiln


4.1. Teknologi
Feeding devices dari Rotary kiln mencerminkan penggunaannya untuk pembakaran
limbah dengan konsistensi yang paling berbeda. Bahan bakar padat disalurkan melalui crane
atau sloping skip hoist, sedangkan barrel diangkat menggunakan lift ke hopper, lalu meluncur
ke dalam kiln melalui sebuah saluran. Saluran tersebut didinginkan dan naik ke dalam
rotary kiln sekitar 0,2 m.

Pompa sludge membawa limbah pasta ke combustion chamber melalui lance. Limbah
cair dilayani oleh pembakar. Throughput limbah adalah antara 0,1 Mg / jam dan 5 Mg /
jam. Rasio bahan bakar udara () dari Rotary Kiln sebesar 2,0 2,5 (max 3.0). Insinerator
Rotary kiln untuk limbah berbahaya biasanya memiliki panjang 10 12 meter dan diameter 3,5
5,0 meter. Suhu rata-rata pembakaran 1000 1200C dengan waktu tinggal sekitar 60
menit. Untuk menjamin gas insinerator habis terbakar, combustion chamber sekunder
terhubung ke ujung Rotary kiln.
Rotary kiln terdiri dari sloping silinder baja (sudut od kemiringan: 1-5 ), yang
merupakan batu bata-dilapisi dengan bahan tahan api di dalamnya. Materi disalurkan hingga
akhir kiln dengan memutar sekitar sumbu longitudinal (jumlah putaran antara 0,05 dan 2
rpm) dan inklinerasi dari kiln.
4.2 Reaksi
Setelah material masuk ke Rotary kiln, terjadi peningkatan suhu padatan akibat
perpindahan panas secara konvektif, konduksi termal lapisan slag dan radiasi panas dari
api. Selama memanas, struktur padatan terluar terdegradasi, sehingga padatan dalam Rotary
kiln dapat dianggap sebagai compact fixed bed yang terdiri dari beberapa lapisan.
Menurut proses yang ditunjukkan di atas, kiln dapat dibagi menjadi zona reaksi yang
berbeda:
1. Zona Inlet, pengeringan, penguapan uap, T sampai 300 C
2. Pirolisis, gasifikasi, pengapian, T 300-600 C
3. Pembakaran T = 600 -> 1000 C
4. Zona pembakaran dan sintering, T> 1000 C
Pembakaran terjadi akibat reaksi antara oksigen dan bahan yang mudah terbakar. Hal
bergantung pada suhu dan waktu retensi yang cukup serta bergantung pada konsentrasi oksigen
dan ukuran partikel padat.
Pirolisis dan produk gasifikasi menguap ke dalam fase gas dan terbakar di rotary kiln
atau di ruang pembakaran sekunder. Proses ini juga bergantung pada efisiensi pencampuran
oksigen dan "Hukum 3t (time, temperatur, turbulesi). Untuk beberapa alasan, tidak mungkin
terjadi pembakaran sempurna dari produk hasil reaksi rotary kiln, injeksi udara sekunder hanya
dimungkinkan di pelat depan kiln, jadi pendukung pencampuran dalam fasa gas hanya terbatas
pada zona inlet kiln.
Homogenisasi limbah oleh komposisi campuran yang cocok sangat dibutuhkan. Karena
rasio bahan bakar udara yang tinggi (*), laju alir yang besar dihasilkan, sehingga waktu retensi
aliran gas di zona panas pendek. Untuk memadamkan habis komponen fasa gas, gas buang
melewati combustion chamber sekunder setelah kiln putar.
4.3 Penguapan dari logam berat
Logam berat dibawa ke rotary kiln dalam bentuk limbah. Selama insinerasi, logam berat
sebagian menguap ke dalam fase gas dan sebagian tetap berada di slag. Penguapan logam berat
tergantung pada tekanan uap unsur, waktu retensi dan kondisi oksida logam dan pembentukan
klorida. Gambar 4.3 menunjukkan bahwa tingkat penguapan dari berbagai jenis logam berat
berada pada temperatur yang berbeda.
/