Anda di halaman 1dari 8

1. Apa saja etiologi dari perdarahan pasca pencabutan?

Dari faktor lokal


- Kesalahan dari klinisi : instrumentasi berlebihan
- Kesalahan pasien : tidak mengikuti instruksi dokter, memainkan lidah pada soket, berkumur
berlebihan
Dari faktor sistemik
- Hemofilia : gangguan pembekuan darah, kehilangan faktor VIII, IX, X
Hemofili a : defisiensi faktor VIII
Hemofili b : defisiensi faktor IX
Hemofili c : defisiensi faktor X
- DM : akan terjadi gangguan sirkulasi perifer, luka sembuh lambat

- Sirosis hati : hubungannya dengan kekurangan vitamin K, menghambat terjadinya pembekuan darah
- Hipertensi : pasien mengonsumsi obat antihipertensipengenceran epinefrin1:100.000

anestesi
- Kelainan kardio :
- Aspirin?
Menghambat pelepasan trombosit dan agregasi T dengan penghambatan cyclo-oxygenase secara
irreversibly
Sifat hambatan pada tromboksan A2 lebih lama dari pada hambatan pada prostasiklin
Efektif sebagai pencegah utama infark myocardial pada pasien resiko tinggi

2. Apa saja pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis?


3. Apa saja pemeriksaan sebagai pencegahan yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah perdarahan
abnormal?
Anamnesis yang baik dan riwayat penyakit yang lengkap. Kita harus mampu menggali informasi riwayat
penyakit pasien yang memiliki tendensi perdarahan yang meliputi :
1) Bila telah diketahui sebelumnya memiliki tendensi perdarahan
2) Mempunyai kelainan-kelainan sistemik yang berkaitan dengan gangguan hemostasis (pembekuan
darah)
3) Pernah dirawat di rs karena perdarahan
4) Spontaneous bleeding, misalnya haemarthrosis atau menorrhagia dari penyebab kecil
5) Riwayat keluarga yang menderita salah satu hal yang telah disebutkan di atas, dihubungkan dengan
riwayat penyakit dari pasien itu sendiri
6) Mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti antikoagulan atau aspirin
7) Penyebab sistemik seperti defisiensi faktor pembekuan herediter,misalnya von willebrands
syndrome dan hemofilia
Kita perlu menanyakan apakah pasien pernah diekstraksi sebelumnya, dan apakah ada riwayat prolonged
bleeding (24-48 jam) pasca ekstraksi. Penting untuk kita ketahui bagaimana penatalaksanaan perdarahan
pasca ekstraksi gigi sebelumnya. Apabila setelah diekstraksi perdarahan langsung berhenti dengan
menggigit tampon atau dengan penjahitan dapat disimpulkan bahwa pasien tidak memiliki penyakit
hemoragik. Tetapi bila pasca ekstraksi gigi pasien sampai dirawat atau bahkan perlu mendapat transfusi
maka kita perlu berhati-hati akan adanya penyakit hemoragik.
Bila ada riwayat perdarahan dalam (deep haemorrhage) didalam otot, persendian atau kulit dapat kita
curigai pasien memiliki defek pembekuan darah (clotting defect). Adanya tanda dari purpura pada kulit
dan mukosa mulut seperti perdarahan spontan dari gingiva, petechiae .
Antihipertensi dan indikasinya?
adalah obat obatan yang digunakan untuk mengobati hipertensi. Antihipertensi juga diberikan pada
individu yang memiliki resiko tinggi untuk terjadinya penyakit kardiovaskular dan mereka yang beresiko
terkena stroke maupun miokard infark. Pemberian obat bukan berarti menjauhkan individu dari
modifikasi gaya hidup yang sehat seperti mengurangi berat badan, mengurangi konsumsi garam dan
alkohol, berhenti merokok, mengurangi stress dan berolah- raga. Pemberian obat perlu dilakukan segera
pada pasien dengan tekanan darah sistolik 140/90 mmHg. Pasien dengan kondisi stroke atau miokard
infark ataupun ditemukan bukti adanya kerusakan organ tubuh yang parah (seperti mikroalbuminuria,
hipertrofi ventrikel kiri) juga membutuhkan penanganan segera dengan antihipertensi.
Klasifikasi
1. Diuretik
Mekanisme kerja : Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menghancurkan garam yang
tersimpan di alam tubuh. Pengaruhnya ada dua tahap yaitu : (1) Pengurangan dari volume darah total
dan curah jantung; yang menyebabkan meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer; (2) Ketika
curah jantung kembali ke ambang normal, resistensi pembuluh darah perifer jugaberkurang.
Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Bumetanide, Furosemide, Hydrochlorothiazide,
Triamterene, Amiloride, Chlorothiazide, Chlorthaldion.
2. Penyekat Reseptor Beta Adrenergik (-Blocker)
Berbagai mekanisme penurunan tekanan darah akibat pemberian -blocker dapat dikaitkan dengan
hambatan reseptor 1, antara lain : (1) penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard
sehingga menurunkan curah jantung; (2) hambatan sekresi renin di sel jukstaglomeruler ginjal dengan
akibat penurunan Angiotensin II; (3) efek sentral yang mempengaruhi aktivitas saraf simpatis,
perubahan pada sensitivitas baroresptor, perubahan neuron adrenergik perifer dan peningkatan
biosentesis prostasiklin. Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Propanolol, Metoprolol,
Atenolol, Betaxolol, Bisoprolol, Pindolol, Acebutolol, Penbutolol, Labetalol.
3. Penghambat Angiotensin Converting Enzyme (ACE-Inhibitor) Kaptopril
merupakan ACE-inhibitor yang pertama banyak digunakan di klinik untuk pengobatan hipertensi dan
gagal jantung.19 Mekanisme kerja : secara langsung menghambat pembentukan Angiotensin II dan
pada saat yang bersamaan meningkatkan jumlah bradikinin. Hasilnya berupa vasokonstriksi yang
berkurang, berkurangnya natrium dan retensi air, dan meningkatkan vasodilatasi (melalui bradikinin).
Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Kaptopril, Enalapril, Benazepril, Fosinopril,
Moexipril, Quianapril, Lisinopril.
4. Penghambat Reseptor Angiotensin
Mekanisme kerja : inhibitor kompetitif dari resptor Angiotensin II (tipe 1). Pengaruhnya lebih spesifik
pada Angiotensin II dan mengurangi atau sama sekali tidak ada produksi ataupun metabolisme
bradikinin. 20 Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Losartan, Valsartan, Candesartan,
Irbesartan, Telmisartan, Eprosartan, Zolosartan.
5. Antagonis Kalsium
Mekanisme kerja : antagonis kalsium menghambat influks kalsium pada sel otot polos pembuluh
darah dan miokard. Di pembuluh darah, antagonis kalsium terutama menimbulkan relaksasi arteriol,
sedangkan vena kurang dipengaruhi. Penurunan resistensi perifer ini sering diikuti efek takikardia dan
vasokonstriksi, terutama bila menggunakan golongan obat dihidropirin (Nifedipine). Sedangkan
Diltiazem dan Veparamil tidak menimbulkan takikardia karena efek kronotropik negatif langsung
pada jantung.
Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Amlodipine, Diltiazem, Verapamil, Nifedipine.
Efek Samping
Antihipertensi dari golongan diuretik, ACE-inhibitor dan beberapa -Blocker dapat menyebabkan
reaksi likenoid. ACE-inhibitor juga diasosiasikan dengan kehilangan sensasi pada lidah dan rasa
terbakar pada mulut. ACEinhibitor dan penghambat reseptor angiotensin II pernah diimpliksikan
bahwa keduanya menyebabkan angioedema pada rongga mulut pada sekelompok 1% dari pasien yang
mengonsumsinya. Meskipun oedema pada lidah, uvula, dan palatum lunak yang paling sering terjadi,
tetapi oedema larynx adalah yang paling serius karena berpotensi menghambat jalan nafas.Efek
samping obat obatan antihipertensi pada rongga mulut adalah xerostomia, reaksi likenoid,
pertumbuhan gingiva yang berlebih, pendarahan yang parah, penyembuhan luka yang tertunda.
Sedangkan efek samping yang sistemik yang paling sering dilaporkan adalah konstipasi, batuk,
pusing, mengantuk, letih, frekuensi berkemih yang meningkat, berkuranya konsentrasi, disfungsi
seksual dan rasa tidak enak pada perut.
Antikoagulan dan indikasinya?
Antikoagulan adalah obat yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah dengan jalan menghambat
pembekuan atau menghambat beberapa faktor pembekuan darah.
Heparin
Mekanisme kerja :
Mengikat antitrombin III membentuk kompleks yang berafinitas lebih besar dari antitrombin III
sendiri terhadap beberapa faktor pembekuan darah aktif terutama trombin dan faktor Xa.
dosis kecil : mencegah protrombin trombin
dosis besar : menginaktivasi trombin dan mencegah protrombin trombin
antikoagulan oral
Mekanisme kerja :
mencegah reduksi oksidasi vitamin K sehingga aktivitas vitamin K sebagai kofaktor pembekuan
darah menjadi terganggu.
Contoh Obat : natrium warfarin (oral,IV) , Dikumarol, Clopidogrel
Antikoagulan Pengikat Ion Kalsium
Natrium Sitrat
mengikat kalsium menjadi kalsium sitrat. Digunakan pada transfusi darah.
Asam Oksalat dan senyawa oksalat lainnya
Natrium Edetat

Aspirin
WarfarinWarfarin merupakan anti koagulan oral yang mempengaruhi sintesa vitamin K yang berperan
dalam pembekuan darah sehingga terjadi deplesi faktor II, VII, IX dan X. Warfarin bekerja di hati dengan
menghambat karboksilasi vitamin K dari protein prekursornya. Karena waktu paruh dari masing-masing
faktor pembekuan darah tersebut, maka bila terjadi deplesi faktor Vll waktu protrombin sudah
memanjang. Tetapi efek anti trombotik baru mencapai puncak setelah terjadi deplesi keempat faktor
tersebut. Jadi efek anti koagulan dari warfarin membutuhkan waktu beberapa hari karena efeknya
terhadap faktor pembekuan darah yang baru dibentuk bukan terhadap faktor yang sudah ada disirkulasi.
Indikasi :
Untuk profilaksis dan pengobatan komplikasi tromboembolik yang dihubungkan dengan fibrilasi
atrium dan penggantian katup jantung, serta sebagai profilaksis terjadinya emboli sistemik setelah
infark miokard(FDA approved).
Profilaksis TIA atau stroke berulang yang tidak jelas berasal dari problem jantung.3
Kontraindikasi :
Semua keadaan di mana resiko terjadinya perdarahan lebih besar dari keuntungan yang diperoleh dari
efek anti koagulannya, termasuk pada kehamilan, kecenderungan perdarahan atau blood dyscrasias, dll.3
Penghentian obat pengencer darah / antikoagulan boleh dilakukan berapa hari?
penghentian obat antikoagulan 3-7 hari hingga 10-14 hari sebelum tindakan.
4. Bagaimana penatalaksanaan pada skenario?
Bekas pencabutan dibersihkan
Penekanan dengan tampon yang sudah diberi adrenalin
Menggigit tampon selama 10 menit
Jika masih berdarah : beri [indikasi dan mekanisme alvogil (anastesi, antiinflamasi, antiseptik) /
spongostan]
Spon Gelatin (gelfoam) Spongostan
adalah suatu spons yang dapat diserap dan larut dalam air, digunakan untuk menghentikan perdarahan
yang merembes (oozing)
Gelfoam biasanya dilarutkan dalam faal steril / dilarutkan dalam L.trombin dan diberikan pada
permukaan luka
Misal :
- setelah pencabutan gigi
- setelah odontektomi
Penyerapan gelfoam sampai 6 jam
Obat per oral saat terjadi perdarahan
Astringen
Yaitu obat yang mengendapkan protein darah sehingga perdarahan dapat dihentikan
Yang termasuk :
- Feri Klorida
- Nitras Argenti
- Asam Tanat
Untuk menghentikan perdarahan kapiler, tapi kurang efektif dibanding vasokonstriktor
Koagulan
Yaitu obat yang dapat mempercepat perobahan protrombin menjadi trombin dan menggumpalkan
fibrinogen
Misal :
- Aktivator Protrombin
contoh : Russells Viper Venom (obat yang
sangat efektif sebagai hemostatik
lokal)
Pemakaian : untuk alveolus gigi yang berdarah pada pasien hemofili
Caranya : kapas dibasahi larutan segar 0,1% dan ditekankan ke alveolus post ekstraksi
- Trombin (bentuk bubuk / larutan)
tidak dipakai secara I.V karena hanya emboli
Vasokonstriktor
Yaitu obat yang menyempitkan pembuluh darah
EPINEFRIN dan NOREPINEFRIN (vasokonstriktor kapiler permukaan mukosa kulit)
cara :mengoleskan kapas yang telah dibasahi obat pada luka permukaan yang berdarah
VASOPRESIN
Cara : injeksi secara langsung ke dalam korpus uteri untuk mencegah perdarahan yang >>> selama
operasi korektif ginekologi
HEMOSTATIK SISTEMIK
1. Obat untuk kelainan / defisiensi faktor pembekuan darah
termasuk : - preparat plasma
- vitamin K
- desmopresin
Preparat Plasma
Macam-macam P.P (tranfusi) replacement therapy
- darah segar (fresh whole blood)
- plasma segar
- preparat protrombin komplek : F.II, VII, IX dan X
- F.VIII murni

Tranfusi darah :
- pasien mendapat semua faktor pembekuan darah yang terdapat dalam tranfusi
- keuntungan lain : perbaikan volume sirkulasi
F.VIII (F. Antihemofilik) dan Cryoprecipitatet Anti-Hemophilik Factor
Pemakaian :
- untuk mencegah/mengatasi perdarahan pada pasien hemofili A
- untuk pasien yang darahnya mengandung F.VIII
- untuk pasien Willebrand
- untuk penyakit Herediter
(Def. F.VIII & gangguan faktor plasma)
Efek samping :
- reaksi hipersensitivitas
- hepatitis akut
- anemia hemolitik
- hiperfibrinogenemia
- menggigil dan demam
Kompleks faktor IX (preparat protrombin kompleks)
Mengandung : F.II, VII, IX dan X + sedikit protein plasma
Pemakaian :
- untuk pengobatan hemofili B (efek samping : dapat menyebabkan hepatitis, trombosis, demam,
menggigil, sakit kepala, flushing, syok anafilaksis)
- untuk pasien non hemofili B
Vitamin K (vitamin koagulasi)
Fungsi :
- pada pasien defisiensi, berguna untuk menaikkan biosintesis : F.II, VII, IX, X
- perlu waktu lama untuk mendapatkan efek hemostatik
Defisiensi vitamin K:
- menyebabkan hypoprotrombinemia
- menurunkan kadar beberapa faktor pembekuan darah
Penyebab defisiensi :
- gangguan hepar
- gangguan penyerapan vitamin K, misal : penyakit obstruksi biliaris, gangguan usus (enteristis,
enterokolitis)
- pemakaian obat-obat yaitu :
# antibiotik (tetrasiklin dll)
pemakaian lama mengurangi
bakteri yang mensintesa vitamin K di
usus
# salisilat (dosis >>)
# antikoagulan (derivat kumarin)
hambatan bersaing dengan vitamin K
hypoprotrombinemia dan bleeding
Preparat vitamin K
vitamin K alami = vitamin K1 = fitonadion
Sifat : - larut dalam lemak (perlu empedu
untuk absorbsi)
- mula kerja lebih cepat dibanding vitamin
K sintetik
Cara pakai : per oral dan parenteral
Pada obstruksi saluran empedu (obstruksi jaundice) efek vitamin K berkurang, harus ditambah garam
empedu
Vitamin K sintetik
1. Larut dalam air : menadiol sodium difosfat
menadiol sodium bisulfat
peroral : pada obstruksi empedu efektif
2. Larut dalam lemak : asetomenafton
peroral : menambah garam empedu
Desmopresin (arginin vasopresin)
Meningkatkan aktifitas F.VIII pada pasien hemoflu ringan dan penyakit V. willebrand
Diberikan sebelum atau sesudah minor surgery (cabut gigi, tosilektomi) dapat mencegah perdarahan
berlebihan
2. Hormon estrogen (premarin)
Tidak efektif untuk kelainan perdarahan akibat kekurangan faktor pembekuan darah
Pemakaian secara I.V :
- meningkatkan protrombin (II) dalam darah, menurunkan daya antitrombin, antiplasmin
- mempercepat pembekuan darah
- mengendalikan perdarahan kapiler setelah operasi
3. Anti fibrinolitik
Mekanisme : menghambat aktifator plasminogen pembentukan plasmin terjadi / dihambat
Asam aminokaproat (aminocaproic acid)
Penggunaan klinis :
- perdarahan berat akibat fibrinolisis berlebihan
- perdarahan pasca bedah (simtomatis)
- perdarahan akibat fibrinolitik
- pasien hemofili sebelum dan sesudah pencabutan gigi dll (misal : trauma dalam mulut, minor surgery)
Efek samping : tombosis umum
Kontrs indiksi : pasien koagulasi intravaskular
diseminata (DIC)

dapat mengakibatkan
pembentukan trombus yang
berakibat fatal
Asam traneksamat
Indikasi dan mekanisme kerja ~ asam aminokaproat
Potensi = 10X asam aminokaproat
Efek samping < asam aminokaproat
4. Obat untuk gangguan adhesi trombosit
Etamsilat
penggunaan klinis : - perdarahan kapiler
- menorrhagia
(perdarahan menstruasi >>)
5. Obat untuk mempertahankan keutuhan kapiler
Vitamin C (ascorbic acid)
Fungsifisiologik :
- sintesa kolagen dan matrix interselular pada jaringan, tulang, gigi, endotel kapiler
- mempertahankan keutuhan kapiler (pertahanan kapiler meningkat, permeabilitas kapiler menurun)
Defisiensi vitamin C :
- mudah tersinggung, gangguan emosi, atralgia, hiperkeratosis folikel rambut, perdarahan hidung dan
petekie
- gangguan pertumbuhan tulang (pada orang dewasa osteoporosis)
- gangguan dinding pembuluh darah kerapuhan pembuluhdarah trauma ringan mudah
menimbulkan perdarahan kulit, otot, gusi dan tulang
- gigi mengalami resorbsi, atropi dentin, gigi mudah lepas (gangguan pada alveoli gusi), gusi melunak,
mudah berdarah dan membengkak hingga menutupi bagian gigi
Penggunaan klinis :
- pencegahan scurvy (scorbut)
- pada pemberian pra dan pasca bedah (minor surgery) efeknya tidak menonjol
- hanya sebagai obat tambahan untuk mencegah / mengurangi perdarahan dan mempercepat
penyembuhan luka
Karbazokrom
Karbazokrom Salisilat :
- memperbaiki permeabilitas kapiler
- pemberian secara I.M dan peroral
- untuk pencegahan dan pengobatan perdarahan kapiler
- kontra indikasi : pasien hypersensitif terhadap salisilat
Karbazokrom Sodium Sulfonat
Karbazokrom Mono Semikarbazon

5. Bagaimana mekanisme dari pembekuan darah dan perdarahan abnormal dan juga pada kasus ekstraksi
(pemb darah apa yang pecah)?

6. Apa saja komplikasi pasca pencabutan?


7. Berapa lama waktu normal terjadinya perdarahan?
Metode Ivy dinyatanyan normal apabilawaktu perdarahannya antara 1-6 menit. Perdarahan yang
berlangsunglebih dari 10 menit telah membuktikan adanya sesuatu kelainan dalammekanisme hemostasis.
Namun perlu juga menyadari kemungkinantertusuknya satu vena, pada persangkaan ini ulangilah
pemeriksaanpada lengan lain. Metode Duke dinyatakan normal apabila waktuperdarahannya antara 1-3
menit (R.Gandasoebrata,2010).
8. Apa komplikasi lanjutan jika perdarahan tidak berhenti?