Anda di halaman 1dari 38

Case Report Session

RHINOSINUSITIS

Oleh :
Fadrian Herjunio 1110313056
Suhery 1010312031

Preseptor :
dr. Dolly Irfandy, Sp. THT-KL

BAGIAN ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROK


BEDAH KEPALA LEHER
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR.M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Inflamasi pada mukosa sinus paranasal dikenal sebagai sinusitis. Pada banyak kasus,
proses ini juga disertai dengan inflamasi mukosa hidung sehingga sering disebut sebagai
rinosinusitis. Rinosinusitis merupakan penyakit terbanyak pada sinus paranasal yang
menyerang 14% atau sekitar 31 juta orang dewasa setiap tahunnya. Bahkan rinosinusitis
kronis merupakan salah satu kondisi kronis terbanyak yang prevalensinya lebih tinggi
disbanding asma, penyakit jantung, diabetes, atau nyeri kepala.1,2
Rinosinusitis kronis dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Jika
dibandingkan dalam sebuah populasi, penderita rinosinusitis kronis lebih sering mengeluhkan
nyeri, tidak bugar, dan penurunan fungsi sosial. Penelitian menunjukkan bahwa penderita
rinosinusitis kronis memiliki kualitas hidup yang lebih rendah dibanding penderita penyakit
paru obstruktif kronis, diabetes, dan penyakit jantung kongestif.3
Perkembangan lebih lanjut dari inflamasi sinus ini dapat menyerang orbita, tulang,
dan intrakranial. Komplikasi pada orbita dan otak umumnya berasal dari sinusitis etmoidalis.
Dengan adanya perkembangan antibiotik, komplikasi sudah jarang terjadi. Namun,
penatalaksanaan yang tidak adekuat dapat berujung pada kematian. 4

1.2 Batasan Masalah


Batasan masalah penulisan makalah ini adalah definisi, epidemiologi, antomi,
fisiologi sinus paranasal, etiologi, patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis, tatalaksana,
komplikasi, dan prognosis dari rinosinusitis.

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui definisi, epidemiologi,
antomi, fisiologi sinus paranasal, etiologi, patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis,
tatalaksana, komplikasi, dan prognosis dari rinosinusitis.

1.4 Metode Penulisan


Metode penulisan makalah ini adalah merujuk berbagai tinjauan kepustakaan dari
berbagai literatur.

1.5 Manfaat Penulisan


Melalui penulisan referat ini diharapkan dapat bermanfaat memberikan informasi
dan pengetahuan tentang definisi, epidemiologi, antomi, fisiologi sinus paranasal, etiologi,
patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis, tatalaksana, komplikasi, dan prognosis dari
rinosinusitis.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Sinus paranasal adalah ronggarongga di dalam tulang kepala yang terletak disekita
rrongga hidung dan mempunyai hubungan dengan melalui muaranya. Inflamasi pada mukosanya
dikenal sebagai sinusitis.Umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut
rinosinusitis. Peradangan yang melibatkan beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila
mengenai seluruh sinus disebut pansinusitis.4
Secara klinis rinosinusitis didefinisikan sebagai inflamasi hidung dan sinus paranasal
yang ditandai dengan adanya dua atau lebih gejala, salah satunya termasuk hidung tersumbat/
obstruksi/ kongesti atau pilek, nyeri wajah/ rasa tertekan di wajah, penurunan/ hilangnya
penghidu, dan salah satu dari temuan nasoendoskopi, yaitu polip dan/ atau sekret mukopurulen
dari meatus media, atau edema/ obstruksi mukosa di meatus media, dan/ atau gambaran
komputer tomografi berupa perubahan mukosa di kompleks osteomeatal dan/atau sinus.5

2.2. Epidemiologi
Insiden rinosinusitis akut sangat tinggi. Diperkirakan bahwa orang dewasa menderita 2-5
kali pilek per tahun, dan anak-anak mungkin menderita 7-10 kali pilek per tahun. Insiden yang
tepat sulit diukur karena sebagian pasien dengan flu biasa tidak langsung ke dokter. Berdasarkan
studi kasus kontrol pada populasi Belanda menyimpulkan bahwa diperkirakan 900.000 orang
terkena infeksi saluran pernapasan akut setiap tahun. Rhinovirus (24%) dan Influenza (11%)
adalah agen yang paling umum. Sekitar 0,5-2% infeksi saluran pernapasan oleh virus disertai
oleh infeksi bakteri.5
Berdasarkan data DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan
sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringka tutama atau sekitar 102.817
penderita rawat jalan di rumah sakit. Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran
1996 yang diadakan oleh Binkesmas bekerjasama dengan PERHATI dan Bagian THT RSCM
mendapatkan data penyakit hidung dari 7 propinsi. Data dari Divisi Rinologi Departemen THT
RSCM Januari-Agustus 2005 menyebutkan jumlah pasien rinologi pada kurun waktu tersebut
adalah 435 pasien, 69%nya adalah sinusitis. Pada tahun 2004 prevalensi rinosinusitis kronis
dilaporkan sebesar 12,6% dengan perkiraan sebanyak 30 juta penduduk menderita rinosinusitis
kronis. 6
Pada kunjungan rawat jalan ke poli Rinologi RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2010,
didapatkan kejadian rinosinusitis kronis sebesar 34,7% dan terbanyak terjadi pada usia antara 25-
44 tahun (26,2%) diikuti usia antara 45-64 tahun (23,8%) serta lebih sering ditemukan pada
wanita (60,7%) dibandingkan laki-laki (39,3%). Pada hasil survey kesehatan nasional 2008 di
Amerika yang menyatakan 1 dari 7 orang dewasa (13,4%) didiagnosis rinosinusitis kronis dalam
12 bulan terakhir. Insidensinya lebih tinggi pada wanita disbanding pria (1,9 kali lipat) dan
paling sering menyerang dewasa usia 45-74 tahun.6,7

2.3. Anatomi dan Fisiologi Sinus Paranasal


2.3.1. Anatomi Sinus Paranasal

Gambar 1. Anatomi Sinus Paranasal (tampak samping)11


Gambar 2. Anatomi Sinus Paranasal11

Pembagian sinus paranasal :


a. Sinus Maksila
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila
bervolume 6 8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai
ukuran maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa.8
Sinus maksila berbentuk segitiga. Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial
os maksila yang disebut fossa kanina, dinding posteriornya adalah permukaan infra-
temporal maksila, dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung, dinding
superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah prosesus alveolaris dan
palatum. Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan
bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid.4,8
Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah :
1) dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas , yaitu
premolar (P1 dan P2) , molar (M1 dan M2), kadang-kadang juga gigi
taring (C) dan gigi molar (M3) , bahkan akar-akar gigi tersebut tumbuh ke
dalam rongga sinus, hanya tertutup oleh mukosa saja. Gigi premolar kedua
dan gigi molar kesatu dan dua tumbuhnya dekat dengan dasar sinus.
Bahkan kadang-kadang tumbuh ke dalam rongga sinus, hanya tertutup
oleh mukosa saja. Proses supuratif yang terjadi di sekitar gigi-gigi ini
dapat menjalar ke mukosa sinus melalui pembuluh darah atau limfe,dan
menyebabkan sinusitis, sedangkan pencabutan gigi ini dapat menciptakan
hubungan antara rongga mulut dan sinus maksilaris (fistula oroantral).4,10
2) Sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita.
3) Ostium sinus maksila lebih tinggi letaknya dari dasar sinus, sehingga
drainase hanya tergantung dari gerak silia, dan drainase harus melalui
infundibulum yang sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid
anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat
menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan
sinusitis.4,9
b. Sinus Frontal
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan keempat
fetus, berasal dari sel sel resessus frontal atau dari sel sel infundibulum etmoid.
Sesudah lahir, sinus frontal mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai
ukuran maksimal sebelum usia 20 tahun. 4,9
Sinus frontal biasanya bersekat sekat dan tepi sinus berlekuk lekuk. Sinus
frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fossa serebri anterior,
peradangan dari sinus frontal dapat menimbulkan komplikasi yang serius karena dekat
dengan orbita dan rongga kranial (selulitis orbita, epidural atau subdural abses,
meningitis). 10
Sinus frontal berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di resessus frontal.
Resessus frontal adalah bagian dari sinus etmoid anterior. 4

c. Sinus Etmoid
Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan akhir-akhir
ini dianggap paling penting, karena dapat merupakan fokus infeksi bagi sinus-sinus
lainnya. Pada orang dewasa sinus etmoid seperti piramid dengan dasarnya di bagian
posterior. Sinus etmoid berongga rongga, terdiri dari sel sel yang menyerupai sarang
tawon, yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak diantara
konka media dan dinding medial orbita. Sel sel ini jumlahnya bervariasi antara 4 17
sel.4,8
Berdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang
bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus
superior. Sel sel sinus etmoid anterior biasanya kecil kecil dan banyak, letaknya di
depan lempeng yang menghubungkan bagian posterior konka media dengan dinding
lateral (lamina basalis) sedangkan sel sel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar
dan lebih sedikit jumlahnya dan terletak di posterior lamina basalis.4
Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut resessus
frontal, yang berhubungan dengan sinus frontal.di daerah etmoid anterior terdapat suatu
penyempitan yang disebut infundibulum, tempat bermuaranya ostium sinus maksila.
Pembengkakan/ peradangan di ressesus frontal dapat menyebabkan sinusitis frontal dan
4.9
pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila.
Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina
kribosa. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi
sinus etmoid dari rongga orbita. Radang sinus paranasal dapat menyebar melalui lamina
ini melibatkan orbita (komplikasi orbital). Di bagian belakang sinus etmoid posterior
berbatasan dengan sinus sfenoid. 4,10
d. Sinus Sfenoid
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus
sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Volumenya bervariasi
dari 5 7,5 ml. Batas - batasnya adalah , sebelah superior terdapat fosa serebri media
dan kelenjar hipofisa, sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan
dengan sinus kavernosus dan a. karotis interna, saraf kranial II-VI,(sangat erat terkait
dengan kanal optik), dan di sebelah posteriornya berbatasan dengan fosa serebri
posterior di daerah pons. 4,8,10
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius terdapat
muara-muara sinus maksilla, sinus frontal, dan sinus etmoid anterior. Di daerah yang
sempit ini terdapat prosessus uncinatus, infundibulum, hiatus semilunaris, recessus
frontalis, bula etmoid dan selsel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus
maksila. Daerah yang sempit dan rumit ini disebut kompleks osteomeatal (KOM) yang
merupakan faktor utama patogenesa terjadinya sinusitis.4,10
Mukosa hidung dan sinus paranasal terdiri dari epitel thorak berlapis semu bersilia dan
diatasnya terdapat sel-sel goblet yang menghasilkan lendir. Sekresi dari sel-sel goblet dan
kelenjar ini membentuk selimut mukosa. Di atas permukaan mukosa terdapat silia yang di
rongga hidung bergerak secara teratur kearah nasofaring dan dari rongga sinus kearah ostium
dari sinus tersebut. Silia dan selimut mukosa ini berfungsi sebagai proteksi dan melembabkan
udara inspirasi yang disebut sebagai sistem mukosilier. Sinus dari kelompok anterior dialirkan ke
nasofaring di bagian depan muara tuba eustachius sedangkan pada bagian posterior dialirkan ke
nasofaring di bagian posterosuperior tuba eustachius.10

2.3.2. Fisiologi Sinus Paranasal


Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara lain adalah : 4
1. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur
kelembaban udara inspirasi. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang
lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam
untuk pertukaran udara total dalam sinus. Lagipula mukosa sinus tidak mempunyai
vaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak mukosa hidung.
2. Sebagai penahan suhu (thermal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai buffer (penahan) panas, melindungi orbita dan
fosa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah.
3. Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka.
Akan tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan tulang hanya akan memberikan
pertambahan berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak
bermakna.
4. Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan
mempengaruhi kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan
ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif.
5. Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak,
misalnya pada waktu bersin atau membuang ingus.
6. Membantu produksi mukus.
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan dengan
mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang turut masuk
dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar dari meatus medius, tempat yang paling
strategis.
2.4. Etiologi
Beberapa faktor etiologi dan predisposisi antara lain ISPA akibat virus, bermacam
rhinitis terutama rinitis alergi, rinitis hormonal pada wanita hamil, polip hidung, kelainan
anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka, sumbatan kompleks ostio-meatal
(KOM), infeksi tonsil, infeksi gigi, kelainan imunologik, diskinesia silia seperti pada sindrom
kartagener, dan di luar negri adalah penyakit fibrosis kistik.4
Pada banyak pasien dengan sinusitis, mukosa hidung dan sinus terlalu sensitif terhadap
berbagai faktor. Ini merupakan masalah bagi pasien yang memeliki kecenderungan genetik.
Faktor-faktor ini termasuk pencemaran lingkungan dan alergi, perubahan suhu, dan mungkin
stres dan makanan tertentu.11

Gambar 3. Faktor pencemaran lingkungan11


2.5. Patofisiologi

Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya


klirens mukosiliar didalam KOM. Mukus juga mengandung substansi antimikroba dan
zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk
bersama udara pernafasan. Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan
bila terjadi edema, mukosa yang berdekatan akan saling bertemu sehingga silia tidak
dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negative di dalam rongga
sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini bisa
dianggap sebagai rinositis non-bakterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa
pengobatan.4

Gambar 4. Kompleks Ostio Meatal

Bila kondisi ini menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus merupakan media yang baik
untuk tumbuhnya dan multipikasi bakteri. Sekret menjadi purulen. Keadaan ini disebut sebagai
rinosinusitis akut bakterial dan memerlukan terapi antibiotik. Jika terapi tidak berhasil (misalnya
karena ada faktor predisposisi), inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri anaerob
berkembang. Mukosa makin membengkak dan ini merupakan rantai siklus yang terus berputar
sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau
pembengkakan polip dan kista.4

Gambar 5. Aliran Mukosiliar Sinus Paranasal


2.6. Klasifikasi Sinusitis
Berdasarkan lama perjalanan penyakit, sinusitis dibagi atas: 4 ,5
1. Sinusitis akut adalah proses infeksi di dalam sinus yang berlangsung selama 4
minggu. Macam-macam sinusitis akut: sinusitis maksila akut, sinusitis etmoidal akut,
sinus frontal akut, dan sinus sphenoid akut.
2. Sinusitis subakut adalah proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama 4
minggu sampai 3 bulan.
3. Sinusitis kronis adalah proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama
lebih dari 3 bulan bahkan dapat juga berlanjut sampai bertahun-tahun.

Sedangkan berdasarkan penyebabnya sinusitis dibagi atas:4


1. Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), segala sesuatu yang
menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis.
2. Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi), yang sering menyebabkan
sinusitis infeksi pada gigi geraham atas (pre molar dan molar).

2.7. Manifestasi Klinik


a. Sinusitis maksila akut
Pada peradangan aktif sinus maksila atau frontal, nyeri biasanya sesuai dengan
daerah yang terkena. Pada sinusitis maksila nyeri terasa di bawah kelopak mata dan
kadang menyebar ke alveolus hingga terasa digigi. Nyeri alih dirasakan di dahi dan depan
telinga. Wajah terasa bengkak, penuh dan gigi nyeri pada gerakan kepala mendadak,
misalnya sewaktu naik atau turun tangga. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul
dan menusuk. Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk.
Batuk iritatif non produktif seringkali ada. Gejalanya demam, pusing, ingus kental di
hidung, hidung tersumbat, nyeri pada pipi terutama sore hari, ingus mengalir ke
nasofaring, kental kadang-kadang berbau dan bercampur darah. 4 ,5,12, 13

b. Sinusitis etmoid akut


Gejala berupa nyeri yang dirasakan di pangkal hidung dan kantus medius, kadang-
kadang nyeri dibola mata atau belakangnya, terutama bila mata digerakkan. Nyeri alih di
pelipis dan sumbatan hidung. Ingus kentaldi hidung dan nasofaring, nyeri di antara dua
mata, dan pusing.5,12, 13

c. Sinusitis frontal akut


Gejala subyektif terdapat nyeri kepala yang khas, nyeri berlokasi diatas alis mata,
biasanya pada pagi hari dan memburuk menjelang tengah hari, kemudian perlahan-lahan
mereda hingga menjelang malam. Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri
bila disentuh dan mungkin terdapat pembengkakan supra orbita. Demam,sakit kepala
yang hebat terkadang sering pada siang hari, tetapi berkurang setelah sore hari, ingus
kental dan penciuman berkurang. 5,12, 13

d. Sinusitis sphenoid akut


Pada sinusitis sfenodalis rasa nyeri terlokalisasi di vertex, oksipital,di belakang bola
mata dan di terkadang sampai ke daerah daerah mastoid. Namun penyakit ini lebih lazim
menjadi bagian dari pansinusitis, sehingga gejalanya sering menjadi satu dengan gejala
infeksi sinus lainnya. Gejalanya nyeri di bola mata,sakit kepala, ingus di nasofarin. 5,12, 13

e. Sinusitis Kronis
Secara keseluruhan, gejala sinusitis kronis dapat dibagi menjadi :
Gejala lokal
Gejala lokal yang sering ditemukan adalah hidung tersumbat, hidung berair, nyeri
/ rasa penuh pada wajah, nyeri kepala, gangguan penciuman hingga anosmia.
Selain itu juga akan ditemukan pilek yang sering kambuh, ingus kental dan
kadang-kadang berbau, serta sering terdapat ingus di tenggorok (Posterior Nasal
Drip). 4 , 5,12, 13
Gejala regional
Gejala regional meliputi nyeri tenggorok, disfonia, batuk, halitosis, bronkospasm,
rasa penuh / nyeri pada telinga dan nyeri gigi. 4 ,5
Gejala sistemik
Gejala sistemik berupa kelelahan, demam, bahkan anoreksia4 ,5

2.8. Diagnosis
Diagnosis rinosinusitis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Berdasarkan anamnesis, American Academy of Otolaryngology
(AAO) memberikan suatu kriteria diagnosis untuk rinosinusitis yaitu dengan menegakkan
kriteria mayor dan minor.
a. Kriteria mayor meliputi nyeri wajah, rasa penuh pada wajah, hidung tersumbat,
hidung berair, sekret purulen, hiposmia atau anosmia dan demam (pada kondisi
akut).
b. Kriteria minor meliputi nyeri kepala, demam, halitosis, kelelahan, nyeri gigi,
batuk, nyeri atau rasa penuh pada telinga.
Diagnosis ditegakkan bila terdapat dua kriteria mayor atau satu kriteria mayor dan dua
kriteria minor selama sekurang-kurangnya 12 minggu. Kecurigaan sinusitis didapatkan
bila ditemukan satu kriteria mayor atau dua kriteria minor
Sedangkan berdasarkan The European Position Paper on Rhinosinusitis and
Nasal Polyps (EPOS) 2007 mendefinisikan rinosinusitis dengan atau tanpa polip dari
munculnya dua atau lebih gejala, salah satunya harus berupa :5
Hidung tersumbat / obstruksi / kongesti atau pilek (sekret hidung anterior/
posterior)
Nyeri tekan pada wajah
Penurunan / hilangnya fungsi penciuman yang dirasakan lebih dari 12 minggu.
Selain itu, pada pemeriksaan THT termasuk nasoendoskopi ditemukan salah satu dari :
Polip, dan atau
Sekret mukopurulen dari meatus medius, dan/ atau
Edema/ obstruksi mukosa di meatus medius.
Sebagai tambahan, pada pemeriksaan radiologi ditemukan gambaran perubahan mukosa
di kompleks ostiomeatal dan/ atau sinus
Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior, pemeriksaan
nasoendoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosa yang tepat dan dini. Tanda khas adalah
adanya pus di meatus media (pada sinusitis maksila, etmoid anterior, dan frontal) atau di
meatus superior (pada sinusitis etmoid posterior dan sfenoid). Pada rinosinusitis akut, tampak
mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada pembengkakan dan kemerahan di daerah
kantus media.4
Pemeriksaan penunjang yang penting adalah foto polos atau CT scan. Foto polos
posisi Waters, PA dan lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus sinus besar
seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat berupa perselubungan, batas udara
dan cairan ( air fluid level ) atau penebalan mukosa.4
CT Scan sinus merupakan gold standar diagnosis sinusitis karena mampu menilai
anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan
perluasannya. Namun karena pemeriksaannya mahal, CT ssan hanya dikerjakan sebagai
penunjang diagnosis sinusitis kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau pra
operasi saat melakukan operasi sinus. 4
Gambar 6. CT Scan Sinus Paranasal Normal pada Penampang Coronal dan Sagital14

Gambar 7. CT Scan Sinus Paranasal Sinusitis Maksila dan Edmoid Akut pada
Penampang Coronal dan Axial14

Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil sekret dari
meatus media atau superior, untuk mendapatkan antibiotik yang tepat guna. Lebih baik lagi
bila diambil sekret yang keluar dari pungsi sinus maksila.4
Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui
meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang sebenarnya,
selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi.4

2.9. Penatalaksanaan
Tujuan terapi pada sinusitis diantaranya adalah mempercepat proses penyembuhan,
mencegah komplikasi, dan mencegah perjalanan penyakit menjadi kronik. Prinsip pengobatan
adalah membuka sumbatan KOM sehingga drainase sinus-sinus pulih secara alami.4 Ventilasi
dan drainase sinus paranasal dapat diperbaiki dengan pemberian tetes hidung dekongestan,
nasal spray, atau memasukan kapas basah dengan tetes hidung ke meatus media. 15
Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bakterialis,
untuk menghilangkan infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka sumbatan ostium
sinus. Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seperti amoxisilin. Jika diperkirakan
kuman sudah resisten atau memproduksi beta-laktamase, maka dapat diberikan amoxisilin-
klavulanat atau jenis sefalosporin generasi ke-2. Pada sinusitis antibiotik diberikan selama 10-
14 hari meskipun gejala klinis sudah hilang.4
Antibiotik merupakan kunci dalam penatalaksanaan sinusitis supuratif akut.
Amoksisilin merupakan pilihan tepat untuk kuman gram positif dan negatif. Vankomisin
untuk kuman S. pneumoniae yang resisten terhadap amoksisilin. Pilihan terapi lini pertama
yang lain adalah kombinasi eritromicin dan dulfonamide atau cephalexin dan sulfonamide.16
Antibiotik parenteral diberikan pada sinusitis yang telah mengalami komplikasi seperti
komplikasi orbita dan komplikasi intrakranial, karena dapat menembus sawar darah otak.
Ceftriakson merupakan pilihan yang baik karena selain dapat membasmi semua bakteri terkait
penyebab sinusitis, kemampuan menembus sawar darah otaknya juga baik.16
Pada sinusitis yang disebabkan oleh bakteri anaerob dapat digunakan metronidazole
atau klindamisin. Klindamisin dapat menembus cairan serebrospinal. Antihistamin hanya
diberikan pada sinusitis dengan predisposisi alergi. Analgetik dapat diberikan. Kompres
hangat dapat juga dilakukan untuk mengurangi nyeri.16

Onset tiba-tiba dari 2 atau lebih gejala, Keadaan yang harus segera di rujuk/
salah sa dirawat
tunya termasuk hidung tersumbat/ Edema periorbita
obstruksi/ kongesti atau pilek; sekret Pendorongan letak bola mata
hidung anterior/ posterior; nyeri/ rasa Penglihatan ganda
tertekan di wajah; Oftalmoplegi
Penghidu terganggu/ hilang Penurunan visus
Pemeriksaan: Rinoskopi Anterior Nyeri frontal unilateral atau bilateral
Foto Polos SPN/ Tomografi Komputer tidak
direkomendasikan Bengkak daerah frontal
Tanda meningitis atau tanda fokal
neurologis
Gambar 8. Skema penatalaksanaan rinosinusitis untuk pelayanan kesehatan primer
berdasarkan European Position Paper on Rhinosinusitisnand Nasal Polyps 20075
2 atau lebih gejala, salah satunya berupa hidung Pikirkan diagnosis lain :
tersumbat/ obstruksi/ kongesti atau pilek; sekret hidung
anterior/ posterior; nyeri/ rasa tertekan di wajah; Gejala unilateral
Penghidu terganggu/ hilang Perdarahan
Pemeriksaan: Rinoskopi Anterior Krusta
Foto Polos SPN/ Tomografi Komputer tidak
direkomendasikan Gangguan penciuman
Gejala Orbita
Edema Periorbita
Pendorongan letak bola mata
Penglihatan ganda
Oftalmoplegi
Nyeri kepala bagian frontal yang berat
Bengkak daerah frontal
Tanda meningitis atau tanda fokal
Tersedia Endoskopi
neurologis fokal

Polip Tidak ada polip Endoskopi tidak Investigasi dan


tersedia intervensi secepatnya
Pilihan terapi konservatif mencakup tetes hidung dekongestan (tidak lebih dari 1
minggu), terapi panas (electric light cabinet, microwaves, infrared), dan antibiotic spectrum luas
(misalnya, amoxicillin) untuk sinusitis eksaserbasi akut dengan demam dan malaise. Mukolitik
dapat diberikan sebagai terapi suportif. Pada sinusitis dengan etiologi allergi dapat diberikan anti
allergi. Semua terapi konservatif hanya mengatasi symptom dan tidak dapat mengeliminasi
penyebab sinusitis kronis. Terapi defenitif adalah bedah sinus.10
Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan operasi terkini untuk
sinusitis kronik yang membutuhkan operasi. Tindakan ini hamper menggantikan semua jenis
tindakan bedah sinus terdahulu karena memberikan hasil yang lebih memuaskan dan
tindakannya lebih ringan dan tidak radikal. Indikasinya berupa: sinusitis kronik yang tidak
membaik setelah terapi adekuat; sinusitis kronis disertai kista atau kelainan yang irreversible;
polip ekstensif, adanya komplikasi sinusitis.4

2.10. Komplikasi Sinusitis


Komplikasi rhinosinusitis di klasifikasikan menjadi komplikasi orbital, osseus (tulang)
dan endokranial, walaupun jarang.4,5
2.10.1 Komplikasi orbital
Komplikasi sinusitis yang melibatkan mata sering terjadi, terutama pada etmoiditis,
sedangkan infeksi sphenoid jarang. Perluasan infeksi secara langsung dan sering melalui lamina
papirasea atau melalui vena.5,10
Menurut Klasifikasi Chandler komplikasi orbital dapat berkembang melalui langkah
berikut.4,5
Selulitisperiorbital (preseptal edema),
Selulitis orbital,
Absessubperiosteal,
Abses orbital atauflegmon, dan
cavernous sinus thrombosis
Komplikasi orbita khususnya pada anak, sering muncul tanpa nyeri. Manifestasi orbita
seperti bengkak, eksophtalmus, dan gangguan pergerakan (ekstraokuler) mata. Selulitis peri
orbital atau orbital bisa terjadi langsung atau perluasan infeksi sinus melalui vascular.
Manifestasi awal berupa udem dan eritem pada medial kelopak mata. Jika perluasan infeksi dari
sinus maxilla dan sinus frontal maka udem/pembengkakan terjadi pada bawah atau atas kelopak
mata.5
2.10.1.1 Periorbital cellulitis
Sellulitis periorbital (inflamasi pada kelopak mata dan konjungtiva) mengenai jaringan
anterior sampai septum orbital dan terlihat pada CT Scan sebagai softtissue swelling. Biasanya
terjadi pada komplikasi rhinosinusitis pada anak dan manifestasi berupa nyeri orbital, blepharal
udem, dan demam tinggi. Sellulitis periorbital biasanya berespon terhadap antibiotik oral sesuai
organisme sinus, tetapi kalau tidak diterapi adekuat, dapat meluasmengenai septum orbital.5
2.10.1.2 Orbital cellulitis
Karena perluasan inflamasi ke septum orbital, terjadi proptosis bersamaan dengan
terbatasnya gerakan okular, ini merupakan indikasi sellulitis orbital. Tanda selanjutnya adalah
udem konjungtiva (chemosis), protruding eyeball (mata menonjol), nyeri ocular dan akhirnya
melunak dan terjadi penurunan gerakan otot ekstraokular. Komplikasi ini membutuhkan terapi
adekuat dengan antibiotik intravena.5,10
Kebanyakan anak dengan rhinosinusitis dan proptosis, ophthalmoplegia, atau penurunan
ketajaman penglihatan mesti di CT Scan sinus dengan detail orbital untuk membedakan antara
abses orbital dan periorbital (subperiosteal). Kedua kondisi tersebut menyebabkan proptosis dan
terbatasnya pergerakan okular. Orbital selulitis adalah keadaan darurat yang mengancam nyawa
yang membutuhkan dekompresi bedah segera. Apabila berdasarkan CT Scan didapatkan abses
atau terjadi progresifitas gejala orbital setelah pemberian inisial antibiotik IV merupakan indikasi
untuk mengeksplorasi orbital dan drainase. Pengulangan pemeriksaan ketajaman penglihatan
(visual acuity) harus dilakukan dan terapi antibiotic IV dikonversi menjadi oral apabila pasien
tidak demam dalam 48 jam serta tanda ophthalmologic membaik.5,10

2.10.1.3 Abses Subperiosteal atau orbital


Proses inflamasi menembus penghalang antara tulang sinus paranasal dan orbita,
memisahkan periosteum orbital dari lamina papyracea dan meningkatkan tekanan di dalam
orbita.7 Gambaran klinis dari abses subperiosteal adalah udem, eritem, chemosis dan proptosis
kelopak mata dengan pembatasan motilitas ocular dan sebagai konsekuensi dari paralisis otot
ekstraokuler, terjadi ophthalmoplegia dan ketajaman penglihatan berkurang.5,10
2.10.2 Trombosis sinus cavernosus
Ketika pembuluh darah di sekitar sinus paranasal terkena, penyebaran lebih lanjut dapat
menyebabkan thrombophebitis sinus kavernosa4,12 yang menyebabkan sepsis dan keterlibatan
saraf kranial. Komplikasi tersebut diperkirakan mencapai 9% dari komplikasi intrakranial dan
merupakan komplikasi yang jarang dan biasanya komplikasi dari sinusitis etmoidalis atau
sphenoidal. Gejala utama adalah bilateral lid drop (ptosis), exophthalmos, neuralgia syaraf
oftalmik, sakit kepala retro-okular dengan nyeri yang mendalam di belakang orbita,
ophthalmoplegia total, dan papilloedema, tanda-tanda iritasi meningeal berhubungan dengan
demam dan pengaruh kelemahan.5,10

2.10.3 Komplikasi intrakranial (endokranial)


Termasuk abses epidural, subdural, abses otak, meningitis (tersering), cerebritis, dan
thrombosis sinus cavernosa.4,12 Gejala klinis semua komplikasi ini tidak spesifik, demam tinggi,
migrain frontal atau retro-orbital, tanda umum iritasi meningeal dan berbagai derajat perubahan
status mental. Sedangkan abses intrakranial sering didahului dengan tanda-tanda peningkatan
tekanan intrakranial, iritasi / rangsangan meningeal dan defisit neurologis fokal. Meskipun abses
intrakranial relatifa simtomatik, afektif halus dan perubahan perilaku sering terjadi yang
menunjukkan perubahan neurologis perubahan fungsi kesadaran, ketidak stabilan cara berjalan,
dan sakit kepala berat dan progresif.5
Komplikasi Endokranial yang paling sering dikaitkan dengan ethmoidal atau frontal
rinosinusitis. Infeksi dapat berlanjut dari yang rongga paranasal ke struktur endocranial dengan
dua cara berbeda : patogen, mulai dari sinus frontal yang paling umum atau sinus ethmoid, dapat
melewati diploic vena untuk mencapai otak, cara lain, patogen dapat mencapai struktur
intrakranial dengan mengikis tulang sinus.5

2.10.4. Komplikasi Tulang


Infeksi sinus juga dapat meluas ke tulang menjadi osteomielitis dan akhirnya melibatkan
otak dan sistem saraf. Meskipun penyebaran intrakranial yang paling sering adalah karena
sinusitis frontal, infeksi sinus lainnya juga dapat menyebabkan komplikasi tersebut.7,12
Komplikasi yang paling umum adalah osteomielitis dari tulang maksila (biasanya pada masa
bayi) atau tulang frontal.4,5
Gambar 9. Osteomielitis tulang frontal

2.11. Prognosis
Prognosis sinusitis akut sangat baik, dengan sekitar 70% pasien dapat sembuh tanpa
pengobatan. Antibiotik oral dapat mengurangi gejala sinusitis. Sinusitis kronik memiliki
perjalanan penyakit yang bervariasi. Prognosisnya baik, bila penyebab sinusitis adalah anatomis
dan ditatalaksana dengan tindakan pembedahan. Lebih dari 90% pasien mengalami kemajuan
dengan intervensi bedah. Namun, pasien ini memiliki kemungkinan untuk relaps, sehingga
dibutuhkan regimen untuk mencegah kekambuhan. Pada pasien dengan sinusitis akut bakterialis
dengan perluasan ke intrakranial walaupun diterapi antibiotik, insiden morbiditas dan
mortalitasnya masih tinggi, antara 5%-10%.4,5
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. Izati
No. MR : 41465
Umur : 13 thn
Jenis kelamin : perempuan
Pekerjaan : pelajar
Suku bangsa : Minang
Alamat : Payakumbuh

ANAMNESIS
Seorang pasien perempuan berumur 13 tahun dirawat di bangsal THT RSUD Dr. Achmad
Mochtar pada tanggal 6 September 2015dengan :

Keluhan Utama :
Nyeri disekitar wajah syang semakin meningkat1 bulan yang lalu

Keluhan tambahan :

Riwayat Penyakit Sekarang :


Nyeri disekitar wajah sejak 1 tahun yang lalu, semakin meningkat sejak 1 bulan yang
lalu. Nyeri meningkat terutama saat pasien menunduk atau sujud.
Pasien juga mengeluh pipi terasa berat
Pasien juga mengeluh nyeri pada wajah juga disertai hidung tersumbat
Pasien merasakan ada sakit kepala
Pasien mengatakan keluar cairan dari hidung berwarna hijau dan kental
Pasien mengeluh hidung berbau
Keluhan cairan mengalir di belakang hidung disangkal
Keluhan penciuman berkurang disangkal
Riwayat trauma pada hidung disangkal
Riwayat berdarah pada hidung disangkal
Riwayat bersin bersin di pagi hari disangkal
Pasien mengeluh kadang timbul demam
Nyeri menelan atau kesulitan menelan disangkal
Keluhan nyeri pada telinga atau telinga terasa penuh disangkal

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat masuk batu pada hidung sebelah kiri pada usia 7 tahun, selama 2 tahun. Dan
sudah berobat dan dikeluarkan batu nya
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini sebelumnya.
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit alergi.
Riwayat Pekerjaan, sosial, ekonomi, dan kebiasaan.
Pasien seorang pelajar smp yang tinggal di asrama sekolah

Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum : sedang
Kesadaran : komposmentis kooperatif
Tekanan darah : 100/ 60
Nadi : 73 x per menit
Napas : 18 x per menit
Suhu ` : 36,8oc

Pemeriksaan Sistemik
Kepala : tak ditemukan kelainan
Wajah : tak ditemukan kelainan
Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik
Paru : tidak diperiksa
Jantung : tidak diperiksa
Abdomen : tidak diperiksa
Ekstremitas : teraba hangat, refilling kapiler baik.

STATUS LOKALIS THT


Telinga
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Daun telinga Kel. Kongenital Tidak ada Tidak ada
Trauma Tidak ada Tidak ada
Radang Tidak ada Tidak ada
Kel. Metabolik Tidak ada Tidak ada
Nyeri tarik Tidak ada Tidak ada
Nyeri Tekan Tidak ada Tidak ada
Dinding liang Cukup Lapang (N) Ya Ya
telinga
Sempit Tidak ada Tidak ada
Hiperemis Tidak ada Tidak ada
Edema Tidak ada Tidak ada
Massa Tidak ada Tidak ada
Sekret/ serumen Bau Tidak ada Tidak ada
Warna Tidak ada Tidak ada
Jumlah Tidak ada Tidak ada
Jenis Tidak ada Tidak ada
Membran Timpani
Utuh Warna Putih Putih
Refleks cahaya (+) arah jam 5 (+) arah jam 7
Bulging Tidak ada Tidak ada
Retraksi Tidak ada Tidak ada
Atrofi Tidak ada Tidak ada
Perforasi Jumlah perforasi Tidak ada Tidak ada
Jenis Tidak ada Tidak ada
Kuadran Tidak ada Tidak ada
Pinggir Tidak ada Tidak ada
Gambar

Mastoid Tanda radang Tidak ada Tidak ada


Fistel Tidak ada Tidak ada
Sikatrik Tidak ada Tidak ada
Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada
Nyeri ketok Tidak ada Tidak ada
Tes garputala Rinne (+) (+)
512 Hz
Swabach Sama dengan Sama dengan
pemeriksa pemeriksa
Weber Tidak ada lateralisasi
Kesimpulan Normal
Audiometri Tidak dilakukan

Hidung
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Hidung luar Deformitas Tidak ada Tidak ada
Kelainan kongenital Tidak ada Tidak ada
Trauma Tidak ada Tidak ada
Radang Tidak ada Tidak ada
Massa Tidak ada Tidak ada
Sinus Paranasal
Inspeksi
Pemeriksaan Dekstra Sinistra
Nyeri tekan Tidak ada Ada (sinus maksilaris)
Nyeri ketok Tidak ada Ada ( sinus maksilaris)

Rinoskopi Anterior
Vestibulum Vibrise Ada Ada
Radang Tidak ada Tidak ada
Kavum nasi Cukup lapang (N) Ya -
Sempit - sempit
Lapang - -
Sekret Lokasi Tidak ada Tidak ada
Jenis Tidak ada Tidak ada
Jumlah Tidak ada Tidak ada
Bau Tidak ada Tidak ada
Konka inferior Ukuran Eutrofi atrofi
Warna Merah muda Merah muda
Permukaan Licin licin
Edema Tidak tidak
Konka media Ukuran Eutrofi Sulit dinilai
Warna Merah muda Sulit dinilai
Permukaan Rata Sulit dinilai
Edema - Sulit dinilai
Septum Cukup lurus/ deviasi Cukup lurus deviasi
Permukaan Rata rata
Warna Merah muda Merah muda
Spina - -
Krista - krista
Abses - -
Peforasi - -
Massa Lokasi Tidak ada Tidak ada
Bentuk Tidak ada Tidak ada
Ukuran Tidak ada Tidak ada
Permukaan Tidak ada Tidak ada
Warna Tidak ada Tidak ada
Konsistensi Tidak ada Tidak ada
Mudah digoyang Tidak ada Tidak ada
Pengaruh - -
vasokonstriktor

Rinoskopi Posterior
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Koana Cukup lapang (N) Sulit dinilai Sulit dinilai
Sempit - -
Lapang - -
Mukosa Warna Sulit dinilai Sulit dinilai
Edema - -
Jaringan granulasi - -
Konka superior Ukuran Sulit dinilai Sulit dinilai
Warna - -
Permukaan - -
Edema - -
Adenoid Ada/ tidak Sulit dinilai Sulit dinilai
Muara tuba Tertutup sekret Sulit dinilai Sulit dinilai
eustachius
Massa Lokasi Sulit dinilai Sulit dinilai
Ukuran - -
Bentuk - -
Permukaan - -
Post nasal drip Ada/ tidak Sulit dinilai Sulit dinilai
Jenis

Orofaring dan Mulut

Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra


Trismus Tidak ada
Uvula Edema Tidak ada Tidak ada
Bifida Tidak ada Tidak ada
Palatum mole Simetris/ tidak Simetris Simetris
arkus faring
Warna Merah muda Merah muda
Edema Tidak ada Tidak ada
Bercak/ eksudat Tidak ada Tidak ada
Dinding faring Warna Merah muda Merah muda
Permukaan Licin Licin
Tonsil Ukuran T1 T1
Warna Merah muda Merah muda
Permukaan Rata Rata
Muara/kripti Tidak melebar Tidak melebar
Detritus Tidak ada Tidak ada
Eksudat Tidak ada Tidak ada
Perlengketan Tidak ada Tidak ada
dengan pilar
Peritonsil Warna Merah muda Merah muda
Edema Tidak ada Tidak ada
Abses Tidak ada Tidak ada
Tumor Lokasi Tidak ada Tidak ada
Bentuk - -
Ukuran - -
Permukaan - -
Konsistensi - -
Gigi Karies/ radiks Tidak ada Tidak ada
Kesan Gigi geligi baik
Lidah Warna Merah muda Merah muda
Bentuk
Deviasi Tidak ada Tidak ada
Massa Tidak ada Tidak ada

Laringoskopi indirek
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Epiglotis Bentuk Sulit dinilai Sulit dinilai
Warna Sulit dinilai Sulit dinilai
Edema Sulit dinilai Sulit dinilai
Pinggir rata/ tidak Sulit dinilai Sulit dinilai
Massa Sulit dinilai Sulit dinilai
Aritenoid Warna Sulit dinilai Sulit dinilai
Edema Sulit dinilai Sulit dinilai
Massa Sulit dinilai Sulit dinilai
Gerakan Sulit dinilai Sulit dinilai
Ventrikular band Warna Sulit dinilai Sulit dinilai
Edema Sulit dinilai Sulit dinilai
Massa Sulit dinilai Sulit dinilai
Plika vokalis Warna Sulit dinilai Sulit dinilai
Gerakan Sulit dinilai Sulit dinilai
Pinggir medial Sulit dinilai Sulit dinilai
Massa Sulit dinilai Sulit dinilai
Subglotis/ trakea Massa Sulit dinilai Sulit dinilai
Sekret ada / tidak Sulit dinilai Sulit dinilai
Sinus piriformis Massa Sulit dinilai Sulit dinilai
Sekret Sulit dinilai Sulit dinilai
Valekulae Massa Sulit dinilai Sulit dinilai
Sekret (jenisnya) Sulit dinilai Sulit dinilai

Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening Leher


Tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening.
RESUME
Anamnesis
Seorang pasien perempuan berusia 13 tahun dirawat THT RSUD achmad mochtar Bukit
tinggi dengan keluhan nyeri di sekitar wajah yang semakin meningkat sejak 1 bulan yang
lalu, nyeri terutama saat pasien menunduk atau sujud
Pasien mengeluh pipit terasa berat.
Pasien juga mengeluh hidung tersumbat
Pasien juga mengeluh sakit kepala
Pasien juga mengeluh keluar cairan dari hidung berwarna hijau dan kental
Pasien juga mengeluh hidung terasa berbau
Keluhan penciuman berkurang disangkal
Riwayat trauma pada hidung disangkal
Riwayat berdarah pada hidung disangkal
Riwayat bersin bersin di pagi hari disangkal
Pasien mengeluh kadang timbul demam
Nyeri menelan atau kesulitan menelan disangkal
Keluhan telinga disangkal
Pemeriksaan Fisik
Status Lokalis

Telinga
Aurikula Dekstra Sinistra
Liang telinga lapang, membran timpani utuh, reflek cahaya (+)

Rhinoskopi Anterior
Kavum nasi sinistra : Kavum nasi semput, konka inferior atrofi, konka media
sulit dinilai, septum deviasi krista (+)
Kavum nasi dekstra : Kavum nasi cukup lapang, konka inferior eutrofi, konka media
Eutrofi

Tenggorokan
Arkus faring simetris, uvula ditengah , tonsil T1-T1, kripti tidak melebar, dinding posterior
faring permukaan licin warna merahmuda

Diagnosis Kerja
Rhinosinusitis kronis dengan septum deviasi

Hasil Pemeriksaan CT Scan Sinus


Tampak deviasi septum nasi ke ke kiri
Tampak perselubungan pada sinus maksilaris sinistra, sinus etmoid, lamina papyracea,
Osteomeatal complex kiri tertutup
Kesan : rhinosinusitis dengan deviasi septum nasi ke kiri

Hasil Pemeriksaan Laboratorium


Hb : 13,6 g/dL
Ht : 40%
Leukosit : 10.200/mm3
Trombosit : 269.000/mm3
APTT : 38,1 detik
PT : 9,8 detik
INR : 0,8 INR

Diagnosis
Rhinosinusitis Kronis + septum deviasi kiri

Terapi
FESS
Septoplasti

Prognosis
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad sanam : Bonam
Quo ad functionam : Bonam

Follow Up pasien
Tanggal 8 September 2015
S/ - Hidung tersumbat
- Nyeri pada wajah
- Demam
- Sukar membuka mulut
- Nyeri menelan
- Perdarahan (-)
- Sakit kepala
O/ Status General
KU : sedang
Kesadaran : komposmentis kooperatif
TD : 110/70
Napas :19x/ menit
Suhu :36,9oC

Status Lokalis
Telinga
Aurikula Dekstra Sinistra
Liang telinga lapang, membran timpani utuh, reflek cahaya (+)

Rhinoskopi Anterior
Kavum nasi dekstra : tertutup kasa
Kavum nasi sinistra : tertutup kasa
Tenggorokan
Sulit dinilai karena sulit membuka mulut

A/ post FESS+ septoplasti hari pertama


P/ antibiotik + dekongestan

Follow Up pasien
Tanggal 9 September 2015
S/ - Hidung tersumbat
- Nyeri pada wajah
- Demam (-)
- Sukar membuka mulut
- Nyeri menelan
- Perdarahan (-)
O/ Status General
KU : sedang
Kesadaran : komposmentis kooperatif
TD : 100/60
Nadi : 92
Napas :25x/ menit
Suhu :37oC

Status Lokalis
Telinga
Aurikula Dekstra Sinistra
Liang telinga lapang, membran timpani utuh, reflek cahaya (+)
Rhinoskopi Anterior
Kavum nasi dekstra : tertutup kasa
Kavum nasi sinistra : tertutup kasa
Tenggorokan
Sulit dinilai karena sulit membuka mulut

A/ post FESS+ septoplasti hari kedua


P/ antibiotik + dekongestan
DISKUSI
Telah dirawat pasien perempuan berusia 13 tahun dengan keluhan nyeri pada wajah yang
bertambah berat sejak 1 bulan terakhir.Nyeri sudah dirasakan sejak 1 tahun yang lalu, dan
dirasakan makin bertambah nyeri sejak 1 bulan terakhir.Nyeri dirasakan berambah berat
terutama pada saat sujud atau pun saat pasien menundukkan kepala. Dari anamnesis juga didapat
kan bahwa pasien mengeluh hidung nya tersumbat dan kadang disertai demam dan sakit kepala.
Dari keluhan yang dinyatakan pasien, telah memenuhi 2 kriteria mayor dalam menegakkan
diagnosis rhinosinusitis kronik. Ditambah lagi dari riwayat penyakit dahulu pasien, dikatakan
bahwa pasien pernah mengalami masuk batu ke dalam hidung selaa 2 tahun pada usia 7 tahun,
dan menimbulkan keluhan hidung berbau busuk disertai keluar cairan pada sebelah hidung, hal
tersebut bisa menjadi faktor predisposisi terjadinya rinosinusitis kronik.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan ada nya nyeri tekan pada sinus maksilaris sebelah kiri
dan pada pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan adanya septum deviasi pada kavum nasi
kiri.Akan tetapi tidak ditemukan adanya sekret pada hidung.Pada temuan ini dapat mengarahkan
pada diagnosis rinosinusitis kronik, walaupun tidak ditemukan adanya secret pada hidung,
karena menurut literatur keluhan rinusinusitis dapat tidak khas dan hanya terdapat 1 atau 2 dari
gejala mayor rinosinusitis.Ditemukan nya septum deviasi pada hidung pasien juga merupakan
sebuah faktor predisposisi terjadinya rinosinusitis karena septum deviasi dapat menyumbat aliran
drainase dari sinus.
Untuk menegakan diagnosa pasti dari pasien ini dilakukan pemeriksaan CT scan pada
sinus paranasal, hal ini telah sesuai dengan yang disebutkan oleh literature, bahwa untuk gold
standar dari diagnosis rinosinusitis adalah dengan menggunakan CT scan
Untuk terapi pada pasien ini dilakukan terapi pembedahan yaitu bedah sinus endoskopi
fungsional atau FESS ditambah dengan septoplasti.Dilakukakan nya pembedahan dengan FESS
dikarenakan FESS memberikan hasil yang lebih memuaskan dan tidak radikal, dan juga
dilakukan septoplasti, karena pada septoplasti dapat dicegah komplikasi perforasi septum dan
hidung pelana.
Daftar Pustaka
1. Lund. Chapter 24: Acute and Chronic Nasal Disorders. Dalam: Snow, editor.
Ballengers Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. London, BC
Decker Inc. 2003.
2. Salamone, Shah, et al. Chapter 14: Acute and Chronic Sinusitis. Dalam: Lalwani,
editor. Current Diagnosis and Treatment in Otolaryngology Head and Neck
Surgery, Ed 2. USA, The McGraw-Hill Companies, Inc. 2007.
3. Busquets JM, Hwang PH. Chapter 29: Nonpolypoid Rhinosinusitis: Classification,
Diagnosis, and Treatment. Dalam: Baily BJ, Johnson JT, Newlands SD, editor. Head
and Neck SurgeryOtolaryngology, Ed 4. Philadelphia, Lippincott Williams &
Wilkins. 2006.
4. Mangunkusumo E, Soetjipto D. Sinusitis. Dalam Soepardi EA, et al, editor .Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepaladan Leher, Ed 6. Jakarta,
Balai Penerbit FK UI.2007.hal 150-3.
5. Fokkens WJ, Valerie JL, Joachim M, Claus B, Isam A, Fuad B, et al. European
Position Paper On Rhinosinusitis And Nasal Polyps 2007. Rhinology 2007.
6. Budiman BJ, Rosalinda R. Bedah Sinus Endoskopi Fungsional pada Rinosinusitis
Kronis. Diakses dari: http://tht.fk.unand.ac.id/makalah/83-bedah-sinus-endoskopi-
fungsional-revisi-pada-rinosinusitis-kronis.html. pada tanggal 10 September 2015.
7. Chow AW, Benninger MS, Brook I, Brozek JL, Goldstein EJC, Hicks LA, et al.
IDSA Clinical Practice Guideline for Acute Bacterial Rhinosinusitis in Children and
Adults. Clinical Infectious Diseases 2012.
8. Lund VJ. Anatomy of The Nose and ParanasalSinuses, In : Kerr AG,ed. Scott
Browns Otolaryngology Rhinology.6th ed, Butterworth, London : 1997.
9. Ballenger JJ. Aplikasi Klinis Anatomi dan Fisiologi Hidung dan Sinus Paranasal.
Dalam :Penyakit Telinga Hidung Telinga Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi ke-
13.Jakarta : BinarupaAksara, 1994: :1-25.
10. Grevers G. Chapter 1: Anatomy, Physiology, and Immunology of Nose, Paranasal
Sinuses, and Face. Dalam: Probst R, Grevers G, et al, editor. Basic
Otorhinolaryngology: A Step-By-Step Learning Guide. Germany :Appl, Wemding;
2006. 4-7.
11. Becker DG. Sinusitis. Jurnal of Long-Term Effects of Medical Implants 2003 ; 13 (3)
; 175-194.
12. Budiman BJ, Mulyanis. Rinosinusitis Akut pada Anak dengan Komplikasi Abses
Periorbita. Diakses dari: http://tht.fk.unand.ac.id/makalah/89-rinosinusitis-akut-pada-
anak-dengan-komplikasi-abses-periorbita.html. pada tanggal 10 September 2015
13. Budiman BJ, Asyari A. Diagnosis dan Penatalaksanaan Rhinosinusitis dengan Polip
Nasi. Diakses dari: http://tht.fk.unand.ac.id/makalah/66-diagnosis-dan
penatalaksanaan-rhinosinusitis-dengan-polip-nasi.html. pada tanggal 10 September
2015.
14. Hoang JK, James DE, Chistopher LT, Christine MG. Multiplanar Sinus CT : A
Systematic Approach to Imaging Before Functional Endoscopic Sinus Surgery. ARJ
2010;194:527-36.
15. Budiman BJ, Rosalinda R. Bedah Sinus Endoskopi Fungsional Revisipada
Rinosinusitis Kronis. Diakses dari: http://tht.fk.unand.ac.id/makalah/83-bedah-sinus-
endoskopi-fungsional-revisi-pada-rinosinusitis-kronis.html.pada tanggal 10
September 2015.
16. Bailey BJ. Rhinosinusitis : Current Concepts and Management. Dalam: Bailey BJ.
Head and Neck Surgery Otolaryngology. Philadelphia, Lippincott Williams &
Wilkins, 2001.