Anda di halaman 1dari 13

Rhinosinusitis Kronik Dengan Polip Nasi

DD : Rhinitis alergika, polip nasi, sinusitis, deviasi septum nasi, rhinitis vasomotor

PENDAHULUAN
Skenario 1: Hidung Buntu
Seorang laki-laki 45 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan hidung buntu. Sejak 6
bulan yang lalu penderita sering pilek disertai hidung buntu yang menetap. Sejak kecil
penderita sering bersin-bersin lebih dari 5 kali pada pagi hari, dan menghilang siang hari,
disertai hidung gatal dan mata berair. Sejak 3 bulan terakhir ini penderita merasa kepala nyeri
dan pipi sebelah kanan terasa penuh, hidung terasa semakin buntu dan dirasa ada massa yang
menyumbat di belakang hidung kanan, tetapi tidak berdarah. Penderita merasa hidung berbau
busuk (amis).
Di Puskesmas penderita mendapat pengobatan sebanyak 2 kali. Obat yang didapat adalah
antibiotik, analgetik, dan anti piretik, tetapi tidak ada perbaikan. Kemudian penderita dirujuk
ke RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Pada pemeriksaan hidung: konka tampak oedema, mukosa
livide. Tenggorok: ada masa soliter dengan permukaan halus yang menggantung di
nasopharynx sampai oropharynx yang berwarna keabu-abuan, post nasal drip (+). Telinga:
membrana timpani tampak retraksi, cone of light mengecil sampai hilang. X foto Sinus
paranasal: pengkabutan sinus maxilaris kanan tampak massa di nasopharynx sampai
oropharynx. Laboratorium darah: lekositosis, eosinophlia, LED meningkat, Gula darah
sewaktu 234 mg/dl. Kultur swab konka ditemukan Staphillococcus aureus. Berdasar hasil
pemeriksaan di atas dokter menyarankan untuk dilakukan tindakan operatif, sambil diberikan
medikamentosa selama 14 hari.
Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah anatomi dan fisiologi hidung?


2. Bagaimanakah patogenesis dan patofisiologi keluhan pasien?
3. Mengapa obat yang diberikan pihak Puskesmas tidak memperbaiki keadaan pasien?
4. Bagaimanakah interpretasi hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium, dan kultur swab konka?
5. Mengapa dokter menyarankan pelaksanaan tindakan operatif?
6. Medikamentosa apakah yang sekiranya diberikan dokter selama 14 hari tersebut?
7. Bagaimanakah penatalaksanaan yang tepat dari pasien?

Hipotesis
Terjadi inflamasi pada rongga hidung (rhinitis) dengan penyebab alergi.
TINJAUAN PUSTAKA
Beberapa daerah hidung dimana jalan napas menyempit dapat diibaratkan sebagai
katup. Pada bagian vestibulum hidung, terdapat dua penyempitan demikian. Penyempitan
yang lebih anterior terletak diantara aspek posterior kartilago lateralis superior dengan septum
nasi. Tiap deviasi septum nasi pada daerah ini seringkali makin menyempitkan jalan napas
dengan akibat gejala-gejala sumbatan jalan napas. Deviasi demikian dapat disebabkan trauma
atau pertumbuhan tidak teratur (Hilger, 1997).
Bersin
Bersin yang berulang-ulang merupakan keluhan pasien alergi hidung. Perlu
ditanyakan apakah bersin ini timbul akibat menghirup sesuatu yang diikuti keluar secret yang
encer dan rasa gatal di hidung, tenggorok, mata, dan telinga (Soepardi, 2007).
Kepala terasa nyeri, pipi terasa penuh
Rasa nyeri di daerah dahi, pangkal hidung, pipi, dan tengah kepala disertai keluhan
hidung dapat merupakan tanda-tanda infeksi sinus (sinusitis). Rasa nyeri atau rasa berat ini
dapat timbul bila menundukkan kepala dan dapat berlangsung dari beberapa jam sampai
beberapa hari (Soepardi, 2007).
Konka Oedema, Mukosa Livide
Konka didekat septum nasi umumnya dapat mengkompensasi kelainan septum (bila
tidak terlalu berat) dengan memperbesar ukurannya pada sisi yang konkaf dan mengecil pada
sisi yang lainnya, sedemikian rupa adar dapat mempertahankan lebar rongga udara yang
optimum. Jadi meskipun septum nasi bengkok, aliran udara masih ada dan masih normal.
Daerah jaringan erektil pada kedua sisi septum berfungsi mengatur ketebalan dalam berbagai
kondisi atmosfer yang berbeda (Hilger, 1997).
Pada pemeriksaan, keadaan konka perlu dinilai untuk menentukan ada tidaknya
edema atau perubahan warna mukosa, misalnya mukosa yang pucat, lapisan dasar mukosa
konka yang basah dan berongga-rongga pada rhinitis alergika (Hilger, 1997)
Mukosa hidung pada pasien alergi biasanya basah, pucat dan berwarna merah jambu
keabuan. Konka tampak membengkak. Jika terdapat infeksi penyerta, secret dapat bervariasi
mulai dari encer dan mukoid hingga kental dan purulen; pada saat yang sama, mukosa menjadi
merah dan meradang, terbendung, atau bahkan kering sama sekali. Radiogram sinus
paranasalis tidak spesifik, namun dapat terlihat penebalan lapisan mukosa dan terkadang
pengumpulan secret. Bila ostia alami menjadi tersumbat akibat pembengkakan hebat, maka
suatu gambaran air fluid level atau bahkan bayangan opak total, dapat nyata dalam rongga sinus
(Hilger, 1997).
Retraksi Membrana Timpani, Cone of Light Mengecil Sampai Hilang
Membrana timpani dapat mengalami retraksi bila terdapat suatu vakum dalam telinga
tengah, atau dapat menonjol bila terdapat cairan, infeksi, atau massa jaringan dalam telinga
tengah (Paparella et.al, 1997). Tanda adanya oklusi tuba Eustachius ialah gambaran retraksi
membrane timpani akibat terjadinya tekanan negative di dalam telinga tengah, akibat absorpsi
udara (Djaafar et.al, 2007).
Membrane timpani adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya,
umbo, mengarah ke medial (Liston & Duvall, 1997). Dari umbo bermula suatu reflek cahaya
(cone of light) ke arah bawah yaitu pada pukul 7 untuk membrane timpani kiri dan pukul 5
untuk membrane timpani kanan. Reflek cahaya ialah cahaya dari luar yang dipantulkan oleh
membrane timpani. Pada membrane timpani terdapat 2 macam serabut yaitu serabut sirkuler
dan radier. Serabut inilah yang menyebabkan timbulnya reflek cahaya yang berbentuk kerucut
tersebut. Secara klinis reflek cahaya ini dinilai misalnya bila reflek cahaya mendatar berarti
terdapat gangguan pada tuba Eustachius (Soetirto et.al, 2007).
Tuba Eustachius adalah saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan
nasofaring. Fungsi tuba ini adalah untuk ventilasi, drainase secret dan menghalangi masuknya
secret dari nasofaring ke telinga tengah. Ventilasi berguna untuk menjaga agar tekanan udara
dalam telinga tengah selalu sama dengan tekanan udara luar (Djaafar et.al, 2007).
X Foto Sinus Paranasal: pengkabutan sinus maxillaries kanan tampak massa di nasopharynx
sampai oropharynx yang berwarna keabuan
Pemeriksaan radiologic untuk menilai sinus maksila dengan posisi Water, sinus
frontalis dan sinus etmoid dengan posisi posteroanterior, dan sinus sphenoid dengan posisi
lateral (Soepardi, 2007).
Seluruh sinus dilapisi oleh epitel saluran pernapasan yang mengalami modifikasi, dan
mampu menghasilkan mukus, dan bersilia, secret disalurkan kedalam rongga hidung. Pada
orang sehat, sinus terutama berisi udara (Hilger, 1997).
Postnasal drip (+)
Secret dari hidung yang turun ke tenggorok disebut sebagai post nasal drip
kemungkinan berasal dari sinus paranasal (Soepardi, 2007).
Secret purulen pada meatus media dapat merupakan petunjuk penyakit supuratif pada
antrum maksilaris, sel-sel etmoidalis anterior, atau sinus frontalis. Demikian pula, adanya
secret pada meatus superior dapat menunjukkan suatu infeksi pada sel-sel etmoidalis posterior
(Hilger, 1997).
Laboratorium darah: lekositosis, eosinophilia, LED meningkat, Gula darah sewaktu 234 mg/dl.
Pemeriksaan laboratorium rutin seperti penetapan jumlah eosinofil dan kadar IgE
serum, dapat menjadi pelengkap yang berguna dalam menegaskan diagnosis gangguan alergi.
Eosinofil dihubungkan dengan sejumlah tipe reaksi imun maupun non-imun. Interpretasi
eosinofil adalah sulit karena terdapat masalah dalam hal definisinya, dank arena eosinofil
dipengaruhi oleh ekskresi, obat tertentu seperti steroid dan agen beta adrenergik, waktu
pengambilan, dan teknik peneraan, serta juga oleh kinetiknya (Blumenthal, 1997).
Reaksi imunologik maupun non-imunologik dapat menimbulkan eosinofilia dalam
darah, jaringan, dan cairan tubuh. Dengan demikian eosinofil bersifat cocok namun tidak
diagnostic dengan alergi (Blumenthal, 1997).
Rhinitis Alergika
Rinitis alergi adalah reaksi inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien
atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan allergen yang sama serta dilepaskannya
suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen spesifik tersebut. Definisi
menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 adalah kelainan
pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa
hidung terpapar allergen yang diperantarai oleh IgE (Irawati et.al, 2007).
Patofisiologi Rinitis Alergi
Histamine akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga
menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Histamine juga akan menyebabkan
kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat
sehingga terjadi rinore. Gejala lain adalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain
histamine merangsang ujung saraf Vidianus, juga menyebabkan rangsangan pada mukosa
hidung sehingga terjadi pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1 (ICAM 1). Timbulnya
gejala hiperaktif atau hiperresponsif hidung adalah akibat peranan eosinofil dengan mediator
inflamasi dari granulnya. Pada fase ini, selain faktor spesifik (allergen), iritasi oleh faktor non-
spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca,
dan kelembapan udara yang tinggi (Irawati et.al, 2007).
Gambaran Klinis
Secara khas dimulai pada usia yang sangat muda dengan gejala kongesti atau sumbatan
hidung, bersin, mata berair dan gatal, dan postnasal drip. Keluhan yang lazim menyertai polip
hidung adalah hidung tersumbat dan rinore. Gejala dan tanda terjadinya sinusitis tergantung
pada sinus yang terlibat. Secara khas dapat berupa nyeri kepala, nyeri tekan, atau nyeri pada
daerah sinus yang terkena, sumbatan hidung, secret hidung, dan sakit tenggorokan. Oleh
beberapa ahli dikatakan bahwa sebagian sinusitis aktif dapat memperhebat asma bronchial
(Blumenthal, 1997).
Klasifikasi Rinitis Alergi
Berdasarkan sifat berlangsungnya (Irawati et.al, 2007):
1. Rhinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis).
2. Rhinitis alergi sepanjang tahun (perennial). Gejala intermiten atau terus menerus, tanpa
variasi musim. Penyebab tersering adalah allergen inhalan.
Berdasarkan klasifikasi rekomendasi WHO ARIA tahun 2001, berdasarkan sifat
berlangsungnya dibagi menjadi (Irawati et.al, 2007):
1. Intermiten (kadang-kadang), kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu.
2. Persisten/menetap, bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4 minggu
Rhinitis alergi dibagi menjadi 3 (Irawati et.al, 2007).:
1. Ringan. Tidak ada gangguan tidur, aktivitas, bersantai, olahraga, bekerja, dan hal-hal lain
mengganggu.
2. Sedang-berat. Bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas.
Polip Hidung
Polip hidung ialah massa lunak yang mengandung banyak cairan dalam rongga
hidung, warna putih keabuan, yang dapat terjadi akibat inflamasi mukosa. Diduga predisposisi
polip adalah adanya rhinitis alergi atau penyakit atopi, tetapi makin banyak penelitian yang
mengemukakan berbagai teori dan para ahli sampai saat ini menyatakan bahwa etiologi polip
nasi masih belum diketahui dengan pasti (Mangunkusumo & Wardani, 2007).
Patogenesis
Pembentukan polip sering diasosiasikan dengan inflamasi kronik, disfungsi saraf
otonom serta predisposisi genetik. Menurut teori Bernstein, terjadi perubahan mukosa hidung
akibat peradangan atau turbulensi udara, terutama di daerah sempit di kompleks ostiomeatal.
Terjadi prolaps submukosa yang diikuti oleh reepitelisasi dan pembentukan kelenjar baru. Juga
terjadi peningkatan penyerapan natrium oleh permukaan sel epitel yang berakibat retensi air
sehingga terbentuk polip. Teori lain mengatakan karena ketidakseimbangan saraf vasomotor
terjadi peningkatan permeabilitas kapiler dan gangguan regulasi vascular yang mengakibatkan
dilepasnya sitokin-sitokin dari sel mast, yang akan menyebabkan edema dan lama kelamaan
menjadi polip (Mangunkusumo & Wardani, 2007).
Bila proses berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar menjadi polip dan
kemudian akan turun ke rongga hidung dengan membentuk tangkai (Mangunkusumo &
Wardani, 2007).
Makroskopis
Polip merupakan massa bertangkai, permukaan licin, bentuk bulat atau lonjong, warna
putih keabuan, agak bening, lobular, dapat tunggal atau multiple dan tidak sensitive. Warna
polip yang pucat disebabkan karena mengandung banyak cairan dan sedikitnya aliran darah ke
polip. Bila terjadi iritasi kronis atau proses peradangan warna polip dapat berubah menjadi
kemerahan dan polip yang sudah menahun warnanya dapat menjadi kekuningan karena
mengandung banyak jaringan ikat. Tempat asal tumbuhnya terutama dari kompleks ostio-
meatal di meatus medius dan sinus etmoid (Mangunkusumo & Wardani, 2007).
Mikroskopis
Epitel serupa mukosa hidung normal, epitel bertingkat semua bersilia dengan
submukosa yang sembab. Sel terdiri dari limfosit, sel plasma, eosinofil, neutrofil, dan
makrofag. Mukosa mengandung sel goblet. Pembuluh darah, saraf, dan kelenjar sangat sedikit.
Polip yang sudah lama dapat mengalami metaplasia karena sering terkena aliran udara, menjadi
epitel transisional, kubik, atau gepeng berlapis tanpa keratinisasi. Berdasarkan jenis sel
radangnya, polip dikelompokkan menjadi 2, yaiut polip tipe eosinofilik dan tipe neutrofilik
(Mangunkusumo & Wardani, 2007).
Diagnosis Polip Nasi
Anamnesis
Keluhan utama adalah hidung rasa tersumbat ringan sampai berat, rinore mulai jernih
sampai purulen, hiposmia atau anosmia. Mungkin disertai bersin, nyeri hidung disertai sakit
kepala didaerah frontal. Bila infeksi sekunder mungkin terdapat post nasal drip dan rinore
purulen. Gejala sekunder yang dapat timbul ialah bernafas melalui mulut, suara sengau,
halitosis, gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup (Mangunkusumo & Wardani, 2007).
Pemeriksaan Fisik
Polip masif dapat menyebabkan deformitas. Pada rinoskopi anterior terlihat sebagai
massa warna pucat yang berasal dari meatus medius dan mudah digerakkan. Pembagian
stadium polip menurut Mackay dan Lund (1997), stadium 1: terbatas di meatus medius,
stadium 2: polip sudah keluar dari meatus medius, tampak di rongga hidung tapi belum
memenuhi rongga hidung, stadium 3: polip yang masif (Mangunkusumo & Wardani, 2007).
Pemeriksaan Radiologi
Foto sinus paranasal dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan batas udara-
cairan dalam sinus, tetapi kurang bermanfaat pada kasus polip. Pemeriksaan tomografi
computer sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas apakah ada proses radang, kelainan
anatomi, polip, atau sumbatan pada kompleks ostiomeatal. TK terutama diindikasikan pada
polip yang gagal diterapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada
perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi (Mangunkusumo & Wardani, 2007).
Penatalaksanaan
Menghilangkan keluhan, mencegah komplikasi dan rekurensi polip. Pemberian
kortikosteroid untuk menghilangkan polip sebagai polipektomi medikamentosa, topikal atau
sistemik. Polip tipe eosinofilik berespon lebih baik dibanding neutrofilik. Kasus polip yang
tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat masif dipertimbangkan
untuk terapi bedah (Mangunkusumo & Wardani, 2007).
Sinusitis
Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maxilla, sinus
frontal, sinus etmoid, dan sinus sphenoid kanan dan kiri (Soetjipto & Mangunkusumo, 2007).
Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Umumnya disertai dan dipicu
oleh rhinitis sehingga sering disebut rinosinusitis (Mangunkusumo & Soetjipto, 2007).
Sinus maxilla berbentuk pyramid. Dari segi klinik, yang perlu diperhatikan dari
anatomi sinus maksila adalah: 1) dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi
rahang atas, yaitu premolar (P1 dan P2), molar (M1 dan M2), kadang-kadang juga gigi taring
(C), dan gigi molar M3, bahkan akar-akar gigi tersebut dapat menonjol kedalam sinus, sehingga
infeksi gigi geligi mudah naik keatas menyebabkan sinusitis; 2) sinusitis maksila dapat
menimbulkan komplikasi orbita; 3) ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus,
sehingga drainase hanya tergantung dari gerak silia, lagipula drainase juga harus melalui
infundibulum yang sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan
pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi drainase sinus
maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis (Soetjipto & Mangunkusumo, 2007).
Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Tidak adanya
gambaran septum-septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto rontgen menunjukkan
adanya infeksi sinus. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fossa
cerebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini. Sinus frontal
berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di resesus frontal, yang berhubungan dengan
infundibulum etmoid (Soetjipto & Mangunkusumo, 2007).
Sinus etmoid adalah sinus yang paling bervariasi dan akhir-akhir ini dianggap paling
penting, karena dapat merupakan fokus infeksi bagi sinus-sinus lainnya. Pada orang dewasa
bentuk sinus etmoid seperti pyramid, dasarnya di bagian posterior. Sinus etmoid berongga-
rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon, yang terdapat dalam massa bagian
lateral os.etmoid, yang terletak diantara konka media dan dinding medial orbita.
Pembengkakan atau peradangan di resesus frontal dapat menyebabkan sinusitis frontal dan
pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila (Soetjipto &
Mangunkusumo, 2007).
Sinus sphenoid terletak dalam os sphenoid di belakang sinus etmoid posterior. Saat
sinus berkembang, pembuluh darah dari nervus di bagian lateral os sphenoid akan menjadi
sangat berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada dinding sinus
sphenoid (Soetjipto & Mangunkusumo, 2007).
Di dalam sinus terdapat mukosa bersilia dan palut lendir diatasnya. Di dalam sinus silia
bergerak secara teratur untuk mengalirkan lendir menuju ostium alamiahnya untuk mengikuti
jalur-jalur yang sudah tertentu polanya. Pada dinding lateral hidung terdapat 2 aliran transport
mukosiliar dari sinus. Lendir yang berasal dari kelompok sinus anterior yang bergabung di
infundibulum etmoid dialirkan ke nasofaring didepan muara tuba Eustachius. Lendir yang
berasal dari kelompok sinus posterior bergabung di resesus sfenoetmoidalis, dialirkan ke
nasofaring di postero-superior muara tuba. Inilah sebabnya pada sinusitis didapati secret pasca-
nasal (post nasal drip) tetapi belum tentu ada secret di rongga hidung (Soetjipto &
Mangunkusumo, 2007).
Etiologi dan Faktor Predisposisi
Beberapa faktor etiologi dan predisposisi antara lain ISPA akibat virus, bermacam
rhinitis terutama rhinitis alergi, rhinitis hormonal pada wanita hamil, polip hidung, kelainan
anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka, sumbatan kompleks ostio-meatal (KOM),
infeksi tonsil, infeksi gigi, kelainan imunologik, diskinesia silia, dan diluar negeri adalah
penyakit fibrosis kistik. Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan faktor penting penyebab
sinusitis. Faktor lain yang berpengaruh adalah lingkungan berpolusi, udara dingin dan kering
serta kebiasaan merokok. Keadaan ini lama-lama menyebabkan perubahan mukosa dan
merusak silia (Mangunkusumo & Soetjipto, 2007).
Patofisiologi
Organ-organ pembentuk KOM letaknya berdekatan, dan bila terjadi edema, mukosa
yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium tersumbat.
Akibatnya terjadi tekanan negative didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya
transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini bisa dianggap sebagai rhinosinusitis non-bacterial
dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan (Mangunkusumo & Soetjipto,
2007).
Bila kondisi ini menetap, secret yang terkumpul dalam sinus merupakan media baik
untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Secret menjadi purulen. Keadaan ini disebut sebagai
rhinosinusitis akut bacterial dan memerlukan terapi antibiotik (Mangunkusumo & Soetjipto,
2007).
Jika terapi tidak berhasil (misalnya karena ada faktor predisposisi), inflamasi
berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak dan
ini merupakan rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi
kronik yaitu hipertrofi, polipoid, atau pembentukan polip dan kista. Pada keadaan ini mungkin
diperlukan tindakan operasi (Mangunkusumo & Soetjipto, 2007).
Klasifikasi dan Mikrobiologi
Konsensus internasional tahun 2004 membagi menjadi akut dengan batas sampai 4
minggu, subakut antara 4 minggu sampai 3 bulan dan kronik jika lebih dari 3 bulan. Sinusitis
kronik dengan penyebab rinogenik umumnya merupakan lanjutan dari sinusitis akut yang tidak
terobati secara adekuat. Pada sinusitis kronik adanya faktor predisposisi harus dicari dan
diobati sampai tuntas (Mangunkusumo & Soetjipto, 2007).
Gejala Sinusitis
Keluhan utama rhinosinusitis akut adalah hidung tersumbat disertai nyeri/rasa
tekanan pada muka dan ingus purulen, yang seringkali turun ke tenggorok (post nasal drip).
Dapat disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu. Nyeri tekan di daerah sinus yang
terkena, kadang nyeri terasa di tempat lain (referred pain). Nyeri pipi menandakan sinusitis
maksila, nyeri diantara atau dibelakang bola mata menandakan sinusitis etmoid, nyeri dahi atau
seluruh kepala menandakan sinusitis frontal. Pada sinusitis sphenoid, nyeri di vertex, oksipital,
belakang bola mata, atau daerah mastoid. Pada sinusitis maksila kadang ada nyeri alih ke gigi
dan telinga. Gejala lain adalah sakit kepala, hipoosmia/anosmia, halitosis, post-nasal drip yang
menyebabkan batuk dan sesak pada anak (Mangunkusumo & Soetjipto, 2007).
Keluhan sinusitis kronik tidak khas sehingga sulit didiagnosis. Kadang hanya 1 atau
2 dari gejala seperti sakit kepala kronik, post-nasal drip, batuk kronik, gangguan tenggorok,
gangguan telinga akibat sumbatan kronik muara tuba Eustachius, gangguan ke paru seperti
bronchitis (sino-bronkhitis), bronkiektasis, dan yang penting adalah serangan asma yang
meningkat dan sulit diobati. Pada anak, mukopus yang tertelan dapat menyebabkan
gastroenteritis (Mangunkusumo & Soetjipto, 2007).
Pemeriksaan Sinus Paranasal
Inspeksi
Adanya pembengkakan pada muka. Pembengkakan di pipi sampai kelopak mata
bawah yang berwarna kemerahan mungkin menunjukkan sinusitis maksila akut.
Pembengkakan di kelopak mata atas mungkin menunjukkan sinusitis frontal akut. Sinusitis
etmoid jarang menyebabkan pembengkakan di luar, kecuali bila telah terbentuk abses
(Soetjipto & Mangunkusumo, 2007).
Palpasi
Nyeri tekan pada pipi dan nyeri ketuk di gigi menunjukkan adanya sinusitis maksila.
Pada sinusitis frontal terdapat nyeri tekan di dasar sinus frontal terdapat nyeri tekan di dasar
sinus frontal, yaitu pada bagian medial atap orbita. Sinusitis etmoid menyebabkan rasa nyeri
tekan di daerah kantus medius (Soetjipto & Mangunkusumo, 2007).
Transiluminasi
Hanya dapat digunakan untuk memeriksa sinus maksila dan sinus frontal, bila
fasilitas pemeriksaan radiologic tidak tersedia. Bila pada pemeriksaan transiluminasi tampak
gelap di daerah infraorbita, mungkin berarti antrum terisi oleh pus atau mukosa antrum
menebal atau terdapat neoplasma di dalam antrum (Soetjipto & Mangunkusumo, 2007).
Bila terdapat kista yang besar di dalam sinus maksila, akan tampak terang pada
pemeriksaan transiluminasi, sedangkan pada foto rontgen tampak adanya perselubungan
berbatas tegas di dalam sinus maksila (Soetjipto & Mangunkusumo, 2007).
Pemeriksaan Radiologik
Bila dicurigai adanya kelainan di sinus paranasal, maka dilakukan pemeriksaan
radiologic. Posisi rutin yang dipakai ialah posisi Waters, P-A dan lateral. Posisi Waters
terutama untuk melihat adanya kelainan di sinus maksila, frontal, dan etmoid. Posisi postero-
anterior untuk menilai sinus frontal dan posisi lateral untuk menilai sinus frontal, sphenoid,
dan etmoid (Soetjipto & Mangunkusumo, 2007).
Terapi
Tujuan terapi sinusitis adalah 1) mempercepat penyembuhan; 2) mencegah
komplikasi; dan 3) mencegah perubahan menjadi kronik. Prinsip pengobatan ialah membuka
sumbatan di KOM sehingga drenase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami
(Mangunkusumo & Soetjipto, 2007).
Indikasi bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) berupa: sinusitis kronik
yang tidak membaik setelah terapi adekuat; sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang
ireversibel; polip ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur (Mangunkusumo
& Soetjipto, 2007).
PEMBAHASAN
Hidung buntu yang dialami pasien terjadi akibat edema mukosa dan konka, sebagai
efek inflamasi dari pajanan allergen dan infeksi sekunder bakteri Staphylococcus aureus. Pilek
disertai hidung buntu yang menetap sejak 6 bulan, menandakan bahwa proses penyakit
yang berlangsung sudah dalam tahap kronis. Bersin-bersin lebih dari 5 kali pada pagi hari,
dan menghilang siang hari, disertai hidung gatal dan mata berair merupakan tanda dari
rhinitis allergika. Hidung gatal merupakan efek dari rilis histamine pada ujung reseptor saraf.
Sedangkan mata berair terjadi akibat penyumbatan ductus nasolakrimalis akibat edema konka.
Kepala nyeri dan pipi sebelah kanan terasa penuh, merupakan penanda terjadinya sinusitis.
Menurut lokasi nyeri, kemungkinan sinus yang mengalami inflamasi adalah sinus maksila dan
sinus frontalis. Massa yang menyumbat di belakang hidung kanan, tetapi tidak berdarah
merupakan polip yang terlihat dari hasil X foto Sinus paranasal berupa pengkabutan sinus
maxilaris kanan tampak massa di nasopharynx sampai oropharynx. Pada X foto sinus
paranasal yang normal tampak gelap atau hitam, karena dalam keadaan normal sinus paranasal
hanya berisi udara. Penderita merasa hidung berbau busuk (amis) karena terjadi
penumpukan pus akibat penyumbatan oleh konka yang mengalami oedema, serta adanya
nekrosis jaringan.
Di Puskesmas penderita mendapat pengobatan sebanyak 2 kali berupa antibiotik,
analgetik, dan anti piretik, tetapi tidak ada perbaikan karena penyakit telah masuk dalam
tahap kronis inflamasi, sehingga perlu penanganan terhadap inflamasi yang terjadi. Selama
pasien tidak menghindari pajanan allergen, maka rhinitis akan berulang. Karena itu perlu
edukasi terhadap pasien mengenai cara menghindari allergen yang memicu timbulnya rhinitis
alergika. Konka tampak oedema merupakan penanda inflamasi, sedangkan mukosa livide
atau pucat disebabkan karena jaringan mengandung banyak cairan dan tetapi hanya terdapat
sedikit aliran darah. Massa soliter dengan permukaan halus yang menggantung di
nasopharynx sampai oropharynx yang berwarna keabu-abuan merupakan tangkai polip.
Sedangkan post nasal drip (+) merupakan secret yang turun dari sinus akibat terjadinya
sinusitis. Membrana timpani tampak retraksi, cone of light mengecil sampai hilang
merupakan akibat dari penurunan tekanan membrane tympani menjadi negative karena
tersumbatnya aliran udara antara cavum tympani dan nasopharynx karena adanya tangkai
polip. Lekositosis, eosinophlia, LED meningkat menunjukkan terjadinya infeksi. Dengan
partikel yang bertambah maka pengendapan darah akan semakin cepat. Gula darah sewaktu
234 mg/dl dapat menjadi suatu predisposisi infeksi karena darah yang kadar glukosanya tinggi
merupakan media pertumbuhan yang disukai oleh kuman. Selain itu, sebelum operasi, glukosa
darah harus dinormalkan agar tidak menimbulkan komplikasi. Kultur swab konka
ditemukan Staphillococcus aureus menunjukkan karena S. aureus mempunyai beta
laktamase, maka antibiotik golongan beta laktam tidak dapat digunakan untuk terapi
medikamentosa dalam skenario. Selain itu, S. aureus mudah resisten terhadap antibiotik,
sehingga kemungkinan pengobatan dari Puskesmas tidak memperbaiki keadaan pasien.
Tindakan operatif diperlukan sesuai prinsip penatalaksanaan polip, karena jika tidak
dilakukan polipektomi, maka polip akan terus menyumbat cavum nasi bahkan pharynx
sehingga gejala tidak membaik, bahkan dapat menimbulkan komplikasi yang lebih seirus.
Kemungkinan terapi medikamentosa selama 14 hari adalah berupa kortikoseroid berbentuk
suntikan intranasal berupa triamsinolon asetonid atau prednisolon, kortikosteroid oral yang
dosisnya diturunkan perlahan, atau obat semprot hidung.

DAFTAR PUSTAKA
Blumenthal, Malcolm N. 1997. Kelainan Alergi Pada Pasien THT dalam Adams, George L. Boies,
Lawrence R. Higler, Peter A. Boies: Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Jakarta: EGC.
Djaafar, Zainul A. Helmi. Restuti, Ratna D. 2007. Kelainan Telinga Tengah dalam Soepardi, Efiaty
A. Iskandar, Nurbaity. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher
Edisi Keenam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Hilger, Peter A. 1997. Hidung: Anatomi dan Fisiologi Terapan dalam Adams, George L. Boies,
Lawrence R. Higler, Peter A. Boies: Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Jakarta: EGC.
Hilger, Peter A. 1997. Penyakit Hidung dalam Adams, George L. Boies, Lawrence R. Higler, Peter A.
Boies: Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Jakarta: EGC.
Irawati, Nina. Kasakeyan, Elise. Rusmono, Nikmah. 2007. Rinitis Alergi dalam Soepardi, Efiaty A.
Iskandar, Nurbaity. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher
Edisi Keenam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Liston, Stephen L. Duvall, Arndt J. 1997. Embriologi, Anatomi, dan Fisiologi Telinga dalam Adams,
George L. Boies, Lawrence R. Higler, Peter A. Boies: Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Jakarta:
EGC.
Mangunkusumo, Endang. Soetjipto, Damajanti. 2007. Sinusitis dalam Soepardi, Efiaty A. Iskandar,
Nurbaity. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher Edisi
Keenam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Mangunkusumo, Endang. Wardani, Retno S. 2007. Polip Hidung dalam Soepardi, Efiaty A. Iskandar,
Nurbaity. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher Edisi
Keenam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Paparella, Michael M. Adams, George L. Levine, Samuel C. 1997. Penyakit Telinga Tengah dan
Mastoid dalam Adams, George L. Boies, Lawrence R. Higler, Peter A. Boies: Buku Ajar
Penyakit THT Edisi 6. Jakarta: EGC.
Soepardi, Efiaty A. 2007. Pemeriksaan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher dalam
Soepardi, Efiaty A. Iskandar, Nurbaity. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok
Kepala & Leher. Edisi 6. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Soetirto I, Hendarmin H, Bashiruddin J. 2007. Gangguan Pendengaran dan Kelainan Telinga dalam
Soepardi, Efiaty A. Iskandar, Nurbaity. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok
Kepala & Leher. Edisi 6. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Soetjipto, Damayanti. Mangunkusumo, Endang. 2007. Sinus Paranasal dalam Soepardi, Efiaty A.
Iskandar, Nurbaity. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher
Edisi Keenam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.