Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Obat tradisional telah dikenal sejak secara turun menurun dan

digunakan oleh masyarakat untukmemenuhi kebutuhan akan kesehatan.

Pemanfaatan obat tradisional pada umumnya lebih diutamakan sebagai

upaya menjaga kesehatan atau preventif meskipun ada pula upaya

sebagai pengobatan suatu penyakit. Dengan semakin berkembangnya

obat tradisional, ditambah dengan gema kembali ke alam, telah

meningkatkan popularitas obat tradisional. Hal ini terbukti dari semakin

banyaknya industri jamu dan industri farmasi yang memproduksi obat

tradisional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Industri jamu atau industri farmasi berlomba-lomba

memproduksi obat tradisional secara modern dengan mengikuti proses

produksi menggunakan mesin mesin modern. Disatu sisi masih banyak

industri rumah tangga yang memproduksi obat tradisional secara

sederhana dengan menerapkan resep-resep kuno yang dipercayai

bermanfaat untuk kesehatan. Beberapa keterbatasan dari obat tradisional

adalah masih kurangnya penelitian ilmiah yang menunjang pemahaman

tentang cara kerja obat tradisional dalam tubuh manusia. Penelitian yang

sudah banyak dilakukan lebih pada penelitian masing-masing tanaman

obat.

I.2 Maksud Praktikum


Maksud dari percobaan ini adalah agar mahasiswa dapat

mengetahui cara penetapan kadar abu sediaan jamu.

I.3 Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum adalah untuk memperoleh data jumlah

kandungan senyawa anorganik yang terdapat dalam simplisia.

I.3 Prinsip Percobaan

Prinsip percobaan adalah bahan dipanaskan pada temperatur

dimana senyawa organik dan turunannya terdekstruksidan menguap

hingga tersisa unsur mineral dan anorganik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
I.2 Teori umum

Penetapan fisis dari serbuk sediaan jamu (simplisia) dilakukan

berupa penetapan kadar abu sisa pemijaran (kadar abu total) dan kadar

abu yang tidak larut dalam asam. Pemeriksaan ini digunakan untuk

mengidentifikasi suatu simplisia karena tiap simplisia mempunyai

kandungan atau kadar abu yang berbeda-beda, dimana bahan organik

yang terdapat dalam simplisia tersebut ada yang terbentuk secara alami

dalam tumbuhan. Atas dasar tersebut dapat ditentukan besarnya cemaran

bahan-bahan anorganik yang terdapat dalam simplisia yang terjadi pada

saat pengolahan ataupun dalam pengemasan simplisia (Ditjen POM,

1978).

Prinsipnya adalah bahan dipanaskan pada temperatur dimana

senyawa organik dan turunannya tereduksi dan menguap hingga tersisa

unsur mineral dan onorganik, penetapan kadar abu bertujuan

,memberikan gambaran kandungan minerar eksternal dan internal dalam

simplisia, mulai dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak. Kadar abu

diperiksa untuk menetapkan tingkat pengotoran oleh logam-logam dan

silikat (Asni Amin, 2007).

Kadar abu total (sisa pemijaran) dan abu yang tidak dapat larut

dalam asam dapat ditetapkan melalui metode yang resmi. Dalam hal ini,

terdiri dari pemijaran dan penimbangan, total abu kemudian dididihkan

dengan asam klorida, disaring, dipijarkan dan dtimbang abu yang tidak

larut dalam asam. Pelarut asam klorida digunakan dalam penetapan kadar
abu tidak larut dalam asam dimaksudkan untuk melarutkan kalsium

karbonat, alkali klorida sedangkan yang tidak larut dalam asam biasanya

mengandung silikat yang berasal dari tanah atau pasir. Jumlah kotoran,

tanah, tanah liat dan lain-lain yang terdapat dalam sampel uji disebut

sebagai zat anorganik asing yang terbentuk dalam bahan obat pada saat

pencampuran (Ditjen POM, 1978).

Perlu diingat, saat penimbangan kadar abu dilakukan sampai

diperoleh bobot tetap/konstan dari alat dan bahan yang digunakan. Bobot

konstan yang dimaksud bahwa dua kali penimbangan berturut-turut

berbeda tidak lebih dari 0,5 mg tiap gram sisa yang ditimbang (Anonim,

2007).

Cara perhtitungan kadar abu : (Anonim, 2007).

Berat abu total = [Berat total penimbangan-Berat cawan kosong]

Kadar abu total (N) = Berat abu total x 100%

Berat sampel

Kadar abu rata-rata = N1 + N2 + N3 x 100 %

Khasiat obat tradisional ini berdasarkan adanya senyawa kimia

yang dikandungnya. Sebagai bahan baku obat hasil pertanian atau

kumpulan tumbuhan liar, kandungan kimianya tidak dapat dijamin selalu

konstan mengingat adanya berbagai variabel, yaitu: bibit, tempat tumbuh,

iklim, kondisi (umur dan cara panen). Sedangkan kandungan senyawa

kimia yang bertanggung jawab terhadap respon biologis, harus


mempunyai spesifikasi kimia, yaitu komposisi zat berkhasiat termasuk

jenis dan kadar masing-masing. Berkaitan dengan hal tersebut di atas

maka penetapan karakterisasi suatu simplisia dan ekstrak perlu dilakukan

guna menjamin mutunya (Sudjadi, 1986).

II.2 Uraian Bahan

a. Asam klorida (Dirjen POM, 1979)


Nama resmi : Acidum Hydrochloridum

Sinonim : Asam klorida

RM/BM : HCl / 36,46

Pemerian : Cairan; tidak berwarna; berasap, bau merangsang.

Jika diencerkan dengan 2 bagian air bau dan asap

hilang.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan : zat tambahan

b. Air suling (Dirjen POM, 1979)

Nama resmi : Aqua Destilata

Sinonim : air suling

RM/BM : H2O / 18,02

Pemerian : Cairan,jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak

mempunyai rasa.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan : Pencuci

II.3 Uraian tanaman

a. Klasifikasi Permot (Passiflora foetida) (http://www.situshijau.co.id)

Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta

Sub Divisio : Angiospermae

Class : Monocotyledonae

Ordo : Malpighiales

Familia : Passifloraceae

Genus : Passiflora

Spesies : Passiflora foetida

b. Morfologi Tanaman (http://www.situshijau.co.id)

Herba pemanjat yang berbau kurang enak, 1,55 m panjangnya.

Batang berambut panjang jarang.Daun tunggal, bertangkai 1-3 cm,

berambut panjang. Helaian daun bundar telur, berbagi tiga, bertepi rata

atau bergigi tidak dalam, dengan ujung-ujung meruncing, pangkal

daun bentuk jantung, 3,5-13 4,5-14 cm.Bunga dengan kelopak

tambahan berupa daun pembalut 3 helai, berbagi menyirip rangkap

dengan taju serupa benang teranyam, 1-3 cm. Tabung kelopak bentuk

lonceng lebar. Daun mahkota dengan mahkota tambahan, memanjang

1,5-2,5 cm, putih cerah sering dengan warna ungu di tengahnya.

Tangkai sari pada pangkalnya berlekatan, juga dengan putiknya.

Tangkai putik 3 berbentuk gada.Buah buni berbiji banyak terbungkus

oleh daun pembalut, bulat lonjong, 1,5-2 cm, kuning jingga apabila

masak.

c. Kegunaan (http://www.situshijau.co.id)
Sampai saat ini yang biasa dimanfaatkan dari Passiflora foetida ini

adalah buahnya yang bisa dimakan dalam keadaan segar atau diambil

daging buahnya yang bisa dimakan dalam keadaan segar atau diambil

daging buahnya dan diawetkan dengan pemanasan atau pendinginan.

Jus buah ini memiliki rasa yang unik, kuat dan asam. Jenis produk

yang bisa diperoleh antara lain es krim, serat, nektar, jus, konsentrat,

perasan, selai dan jelly. Di Indonesia Passiflora foetida hanya

dimanfaatkan buahnya. Di Brazil selain sebagai makanan juga

dimanfaatkan sebagai sedatif. Sedangkan di Peru digunakan sebagai

makanan dan untuk infeksi saluran kencing.

BAB III

METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan


a. Alat yang digunakan

1. Cawan poselin

2. Corong

3. Eksikator

4. Erlenmeyer

5. gegep

6. Kompor Listrik

7. Oven listrik

8. Penangas air

9. Sendok tanduk

10. Tanur

11. Timbangan analitik

b. Bahan yang digunakan

1. Aluminium foil

2. Asam klorida

3. Aquadest

4. Kertas saring

5. Label

6. Kertas timbang

III.2 Cara kerja

a. Uji kadar abu

1. Ditimbang serbuk sampel sebanyak 5 gram.


2. Dmasukkan dalam cawan porselin yang telah dipijarkan dan telah

dikonstankan sebelumnya.

3. Dipijarkan dalam tanur secara perlahan-lahan sehingga arang

habis.

4. Didinginkan dalam eksikator dan ditimbang hingga bobot

tetap/konstan.

5. Dihitung kadar abu terhadap bahan yang dikeringkan di udara.

b. Kadar Abu Tidak Larut Asam

1. Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu total

didihkan dengan 25 ml HCl P selama 5 menit.

2. Dikumpulkan bagian yang tidak larut dalam asam,

saring melalui kertas saring bebas abu.

3. Dicuci dengan air panas dan dipijarkan di tanur pada

suhu 450C.

4. Didinginkan dalam eksikalator dan hitung kadar abu

terhadap bahan yang dikeringkan diudara.

BAB IV

HASIL PENGAMATAN
Penetapan kadar abu tidak larut asam

Berat Cawan Berat Total Berat Abu Kadar Kadar Abu


Porselin (g) Penimbangan (g) Total (g) Abu (%) Rata-Rata (%)

I 49,1341 g 50, 0273 0,8932 38,67

II 49,1357 g 50, 0275 0,8918 19,67 17,66

III 49,1718 g 50, 0283 0,8565 39,67

0,8932
Kadar abu I = x100% = 17,864 %
5

0,8918
Kadar abu II = x100% = 17,836 %
5

0,8565
Kadar abu III = x100% = 17,13 %
5

17,864% 17,836% 17,3%


Kadar Abu Rata-Rata =
3

% Kadar AbuRata-Rata = 17,66 %

BAB V

PEMBAHASAN

Kadar abu adalah emngidentifikasi suatu simplisia karena tiap

simplisia mempunyai kandungan atau kadar abu yang berbeda, dimana


bahan anorganik yang terdapat dalam simplisiatersebut ada yang

terbentuk secara alami dalam tumbuhan.

Cara penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam, yaitu

untuk mengetahui sisa abu yang bukan logam anorganik, yang mana

terdiri dari pasir, slika dan lain lain dan sebagai petunjuk jumlah kotoran,

tanah, dan lain-lain yang terdapat dalam sampel yang disebut zat organik

asing.

Pemeriksaan ini digunakan untuk mengidentifikasi suatu simplisia

karena tiap simplisia mempunyai kandungan atau kadar abu yang

berbeda-beda, dimana bahan anorganik yang terdapat dalam simplisia

tersebut ada yang terbentuk secara alami dalam tumbuhan. Atas dasar

tersebut dapat ditentukan besarnya cemaran bahan-bahan anorganik

yang terdapat dalam simplisia yang terjadi pada saat pengolahan ataupun

dalam pengemasan simplisia.

Prinsipnya adalah bahan dipanaskan pada temperature dimana

senyawa organik dan turunannya terdekstruksi dan menguap hingga

tersisa unsur mineral organik, penetapan kadar abu bertujuan memberi

gambaran kandungan mineral internal dan eksternal dalam simplisia,

mulai dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak. Kadar abu diperiksa

untuk menetapkan tingkat pengotoran oleh logam-logam dan silikat.

Kadar abu total (sisa pemijaran) dan abu yang tidak dapat larut

dalam asam dapat ditetapkan melalui metode yang resmi. Dalam hal ini

terjadi pemijaran dan penimbangan, total abu kemudian dididihkan


dengan asam klorida, disaring, dipijarkan dan ditimbang abu yang tidak

larut dalam asam dimaksudkan untuk melarutkan kalsium karbonat, alkali

klorida sedangkan yang tidak larut dalam asam biasanya mengandung

silikat yang berasal dari tanah atau pasir. Jumlah kotoran, tanah, tanah liat

dan lain-lain yang terdapat dalam sample uji disebut sebagai zat

anorganik asing yang terbentuk dalam bahan obat atau melekat pada

bahan obat pada saat pencampuran.

Perlu diingat, saat penimbangan kadar abu diakukan sampai

diperoleh bobot tetap/konstan dari alat dan bahan yang digunakan. Bobot

konstan yang dimaksud bahwa dua kali penimbangan berturut-turut

berbeda tidak lebih dari 0,5 mg tiap gram sisa yang ditimbang.

Pelarut asam klorida digunakan dalam penetapan kadar abu

yang tidak larut dalam asam dimaksudkan untuk melarutkan kalsium

karbonat, alkali klorida sedangkan yang larut asam biasanya mengandung

silikat yang berasal dari tanah atau pasir.

Ada beberapa cara dalam penetapan kadar abu dalam pemeriksaan

tatapan fisis serbuk, diantaranya :

1. Penetapan kadar abu total


Ditimbang 5 g serbuk, dimasukkan dalam cawan porselin yang telah

dipijarkan dan dikonstankan sebelumnya. Kemudian dipijarkan secara

perlahan-lahan hingga arang habis, dinginkan dan ditimbang hingga bobot

tetap. Perlakuan ini diulang sebanyak 3 kali. Kadar abu dihitung terhadap

bahan yang telah di keringkan di udara.

2. Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam

Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu, didihkan dengan 25 ml

asam klorida encer P selama 5 menit. Dikumpulkan bagian yang tidak larut

dalam asam, kemudian disaring melalui kertas saring bebas abu lalu dicuci

dengan air panas dan dipijarkan sampai bobot tetap. Perlakuan ini diulang

sebanyak 3 kali. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan

di udara.

Berdasarkan hasil pengamatan, penetapan kadar abu terhadap

serbuk dari herba permot ini diperoleh hasil yaitu kadar abu tidak larut

asam adalah 17,66 %.

Faktor faktor kesalahan yang terjadi dalam praktikun yaitu :

1. kesalahan dalam penimbangan


2. Adanya kesalahan dalam mengerjakan prosedur kerja

BAB V

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan yaitu kadar abu tidak

larut asam yang didapatkan adalah 17,66 %

V.2 Saran

-
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007, Penuntun Praktikum Farmakognosi II, UMI, Makassar

Ditjen POM, 1986, "Sediaan Galenik", Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Jakarta.

Wijaya H. M. Hembing, 1992, Tanaman Berkhasiat Obat di


Indonesia, Cet Jakarta .

Sudjadi, Drs., (1986), "Metode Pemisahan", UGM Press, Yogyakarta


SKEMA KERJA

Kadar Abu Total

Disiapkan cawan porselin

Ditimbang cawan porselin 3X

(Catat nilainya)

Dikonstankan cawan porselin dalam oven


sampai suhu 105oC

didinginkan dalam eksikator

Ditimbang cawan porselin


yang telah dikonstankan 3X

(Dicatat nilainya)

Dimasukkan cawan porselin + 3 g sampel kedalam tanur,


hingga arang habis pada suhu kurang lebih 600 oC

(dinginkan)

Ditimbang cawan porselin 3 X

(Dicatat nilainya)

Dihitung kadar abu total


Kadar Abu Tidak Larut Asam

Kadar abu total yang didapatkan

Ditambahkan 25 ml HCl dan panaskan selama 5 menit


(didihkan air untuk membilas kertas saring)

Disaring kadar abu total dengan kertas watchman 52, sisa abu pada
kertas saring dibersihkan dengan air yang telah didihkan, gunakan cawan
porselin sebagai wadah

Dimasukkan dalam tanur hingga kering


sampai suhu kurang lebih 400oC

didinginkan

Timbang cawan porselin 3X

Catat nilainya

Hitung kadar abu tidak larut asam