Anda di halaman 1dari 15

10.

1 Pengertian Pajak Daerah

Pajak daerah berdasarkan Pasal 1 angka 10 Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak
dan Retribusi Daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi
atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.

Menurut Davey (1988:39-40) ada beberapa pengertian tentang pajak daerah antara lain :

1. Pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dengan pengaturan dari daerah sendiri;

2. Pajak yang dipungut berdasarkan peraturan nasional tetapi penetapan tarifnya dilakukan
oleh Pemerintah Daerah;

3. Pajak yang ditetapkan dan dipungut oleh Pemerintah Daerah;

4. Pajak yang dipungut dan diadministrasikan oleh pemerintah pusat tetapi hasilnya
diberikan kepada, dibagihasilkan, atau dibebani pungutan tambahan (opsen) oleh
Pemerintah Daerah

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pemungutan pajak daerah oleh
pemerintah kota/kabupaten kepada masyarakat pada dasarnya bertujuan untuk membiayai
penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan
secara berdaya guna dan berhasil guna dalam upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Ciri-ciri Pajak Daerah :

1. Dipungut oleh Pemda, berdasarkan kekuatan peraturan perundang-undangan.

2. Dipungut apabila ada suatu keadaan, peristiwa dan perbuatan yang menurut peraturan
perundang-undangan dapat dikenakan pajak daerah.

3. Dapat dipaksakan, yakni apabila wajib pajak tidak memenuhi kewajiban pembayaran
pajak daerah, yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi (pidana dan denda).

4. Tidak terdapat hubungan langsung antara pembayaran pajak daerah dengan


imbalan/balas jasa secara perseorangan.

5. Hasil penerimaan pajak daerah disetor ke kas daerah.

10.2 Jenis dan Obyek Pajak Daerah

1
Dari segi kewenangan pemungutan pajak atas objek pajak daerah, pajak daerah dibagi
menjadi 2 (dua) yakni:

1. Pajak Daerah yang dipungut oleh provinsi; dan

2. Pajak Daerah yang dipungut oleh kabupaten/kota.

Perbedaan kewenangan pemungutan antara pajak yang dipungut oleh pemerintah provinsi dan
pemerintah kabupaten/kota, yakni sebagai berikut:

1. Pajak provinsi kewenangan pemungutan terdapat pada pemerintah daerah provinsi,


sedangkan untuk pajak kabupaten/kota kewenganan pemungutan terdapat pada
pemerintah daerah kabupaten/kota.

2. Objek pajak kabupaten/kota lebih luas dibandingkan dengan objek pajak provinsi.
Sedangkan pajak provinsi terbatas pada jenis pajak tertentu.

Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No. 28 Tahun 2009, jenis pajak provinsi terdiri
atas:

1. Pajak Kendaraan Bermotor;

Pajak Kendaraan Bermotor adalah pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan
bermotor. Kendaraan bermotor adalah semua kendaraan beroda beserta gandengannya yang
digunakan di semua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau
peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi
tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat
besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak meleka secara
permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air (Pasal 1 Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009).
Tarif Pajak Kendaraan Bermotor pribadi menurut Pasal 6 Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah ditetapkan sebagai berikut :
a) Untuk kepemilikan kendaraan bermotor pertama paling rendah
sebesar 1% (satu persen) dan paling tinggi sebesar 2% (dua persen);
b) Untuk kepemilikan kendaraan bermotor kedua dan seterusnya tarif dapat
ditetapkan secara progresif paling rendah sebesar 2% (dua persen) dan paling
tinggi sebesar 10% (sepuluh persen).

Sedangkan tarif Pajak Kendaraan Bermotor angkutan umum, ambulans, pemadam


kebakaran, sosial keagamaan, lembaga sosial dan keagamaan, Pemerintah/TNI/POLRI,
Pemerintah Daerah, dan kendaraan lain yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah, ditetapkan

2
paling rendah sebesar 0,5% (nol koma lima persen) dan paling tinggi sebesar 1% (satu
persen).
Kemudian Tarif Pajak Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar
ditetapkan paling rendah sebesar 0,1% (nol koma satu persen) dan paling tinggi sebesar 0,2%
(nol koma dua persen).

2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;

Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penyerahan hak milik
kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau
keadaan yang terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah, warisan, atau pemasukan ke
dalam badan usaha (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

Menurut Pasal 12 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak


Daerah dan Retribusi Daerah tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor ditetapkan
paling tinggi masing-masing sebagai berikut :
a. penyerahan pertama sebesar 20% (dua puluh persen) dan

b. penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 1% (satu persen).


Khusus untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang tidak
menggunakan jalan umum tarif pajak ditetapkan paling tinggi masing-masing sebagai
berikut :

a. penyerahan pertama sebesar 0,75% (nol koma tujuh puluh lima persen); dan
b. penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 0,075% (nol koma nol tujuh puluh
lima persen).

3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;

Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penggunaan


bahan bakar kendaraan bermotor. Bahan bakar kendaraan bermotor adalah semua jenis
bahan bakar cair atau gas yang digunakan untuk kendaraan bermotor (Pasal 1 Undang-
Undang Nomor 28 Tahun 2009). Tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). Khusus tarif Pajak Bahan Bakar
Kendaraan Bermotor untuk bahan bakar kendaraan umum dapat ditetapkan paling sedikit
50% (lima puluh persen) lebih rendah dari tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan
Bermotor untuk kendaraan pribadi (Pasal 19 Undang-Undang Nomor 28 Tahun
2009).

3
4. Pajak Air Permukaan;

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan


Retribusi Daerah, Pajak Air Permukaan adalah pajak atas pengambilan dan/atau
pemanfaatan air permukaan. Air permukaan adalah semua air yang terdapat pada
permukaan tanah, tidak termasuk air laut, baik yang berada di laut maupun di darat.Tarif
Pajak Air Permukaan ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (Pasal 24 Undang-Undang
nomor 28 Tahun 2009).

5. Pajak Rokok.

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah, Pajak Rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah.
Tarif Pajak Rokok ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen) dari cukai rokok. Pajak
Rokok dikenakan atas cukai rokok yang ditetapkan oleh Pemerintah(Pasal 29 Undang-
Undang Nomor 28 Tahun 2009). Penerimaan pajak rokok, baik bagian Provinsi maupun
bagian Kabupaten/kota, dialokasikan paling sedikit 50% untuk mendanai pelayanan
kesehatan masyarakat dan penegakan hokum oleh aparat yang berwenang ( Pasal 31
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

Sedangkan dalam Pasal 2 ayat (2), jenis pajak kabupaten/kota terdiri atas:

1. Pajak Hotel;

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan


retribusi Daerah, Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel.
Hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait
lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata,
wisma pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos
dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh). Tarif Pajak Hotel ditetapkan paling tinggi
sebesar 10% (Pasal 35 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
2. Pajak Restoran;

4
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah, Pajak Restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh
restoran. Restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan dipungut
bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar, dan
sejenisnya termasuk jasa boga/katering. Tarif Pajak Restoran ditetapkan paling tinggi
sebesar 10% (Pasal 40 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
3. Pajak Hiburan;

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak dan Retribusi


Daerah, Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan. Hiburan adalah semua
jenis tontonan, pertunjukan, permainan, dan/atau keramaian yang dinikmati dengan
dipungut bayaran. Tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 35% (tiga puluh
lima persen). Khusus untuk hiburan berupa pagelaran busana, kontes kecantikan,
diskotik, karaoke, klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa,
tarif Pajak Hiburan dapat ditetapkan paling tinggi sebesar 75% (tujuh puluh lima persen).
Khusus hiburan kesenian rakyat/tradisional dikenakan tarif Pajak Hiburan ditetapkan
paling tinggi sebesar 10% (Pasal 45 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

4. Pajak Reklame;

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan


Retribusi Daerah, Pajak Reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame. Reklame
adalah benda, alat, perbuatan, atau media yang bentuk dan corak ragamnya dirancang
untuk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan, atau untuk
menarik perhatian umum terhadap barang, jasa, orang, atau badan, yang dapat dilihat,
dibaca, didengar, dirasakan, dan/atau dinikmati oleh umum. Tarif Pajak Reklame
ditetapkan paling tinggi sebesar 25% (Pasal 50 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
5. Pajak Penerangan Jalan;

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan


Retribusi Daerah, Pajak Penerangan Jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik,
baik yang dihasilkan sendiri maupun diperoleh dari sumber lain. Tarif Pajak Penerangan
Jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). Penggunaan tenaga listrik
dari sumber lain oleh industri, pertambangan minyak bumi dan gas alam, tarif Pajak
Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 3% (tiga persen). Penggunaan tenaga
listrik yang dihasilkan sendiri, tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi
sebesar 1,5% (Pasal 55 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
6. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;

5
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah pajak atas kegiatan pengambilan
mineral bukan logam dan batuan, baik dari sumber alam di dalam dan/atau permukaan
bumi untuk dimanfaatkan. Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah mineral bukan
logam dan batuan sebagaimana dimaksud di dalam peraturan perundang-undangan di
bidang mineral dan batubara. Tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan ditetapkan
paling tinggi sebesar 25% (Pasal 60 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

7. Pajak Parkir;

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah, Pajak Parkir adalah pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan,
baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai
suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor. Parkir adalah
keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara. Tarif Pajak Parkir
ditetapkan paling tinggi sebesar 30% (Pasal 65 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
8. Pajak Air Tanah;

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah, Pajak Air Tanah adalah pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah.
Air Tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah
permukaan tanah. Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan paling tinggi sebesar 20% (Pasal 70
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

9. Pajak Sarang Burung Walet;

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah, Pajak Sarang Burung Walet adalah pajak atas kegiatan pengambilan dan/atau
pengusahaan sarang burung walet. Burung walet adalah satwa yang termasuk marga
collocalia, yaitu collocalia fuchliap haga, collocalia maxina, collocalia esculanta, dan
collocalia linchi. Tarif Pajak Sarang Burung Walet ditetapkan paling tinggi sebesar 10%
(Pasal 75 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
10. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan;

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah, Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah pajak atas bumi
dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi
atau Badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan,
perhutanan, dan pertambangan. Bumi adalah permukaan bumi yang meliputi tanah dan
perairan pedalaman serta laut wilayah kabupaten/kota. Bangunan adalah konstruksi

6
teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan pedalaman
dan/atau laut. Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan paling
tinggi sebesar 0,3% (Pasal 80 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

11. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak atas perolehan hak atas
tanah dan/atau bangunan. Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan adalah perbuatan
atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan/atau
bangunan oleh orang pribadi atau Badan. Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan ditetapkan paling tinggi sebesar 5% (Pasal 88 Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2009)

Pada Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 menyatakan bahwa daerah dilarang
memungut pajak selain dari jenis-jenis pajak sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang
No. 28 Tahun 2009. Daerah pun dapat tidak memungut pajak daerah apabila potensinya kurang
memadai dan/atau disesuaikan dengan kebijakan daerah yang ditetapkan dengan peraturan
daerah.

Subjek Pajak dan Wajib Pajak Daerah

Adapun bagian dari subjek pajak dan wajib pajak adalah:


1. Subjek kendaraan bermotor dan kendaraan di Atas air adalah orang pribadi atau badan
yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air. Wajib
pajaknya adalah orang pribadi atau badan yang memiliki kendaraan bermotor dan
kendaraan di atas air.
2. Subjek Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air adalah
orang pribadi atau badan yang menerima penyerahan kendaraan bermotor dan kendaraan
di atas air. Wajib pajaknya adalah orang pribadi atau badan yang menerima penyerahan
kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air.

3. Subjek Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah konsumen bahan bakar
kendaraan bermotor. Wajib pajaknya adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan
kendaraan bermotor.

4. Subjek Pajak Pengembalian dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan
adalah orang pribadi atau badan yang mengambil, atau memanfaatkan, atau mengambil
dan memanfaatkan air bawah tanah dan/atau air permukaan. Wajib pajaknya adalah orang

7
pribadi atau badan yang mengambil dan memanfaatkan air bawah tanah dan/atau air
permukaan.

5. Subjek Pajak Hotel adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran kepada
hotel. Wajib pajaknya adalah pengusaha hotel.

6. Subjek Pajak Restoran adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran
kepada restoran. Wajib pajaknya adalah pengusaha restoran.

7. Subjek Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau badan yang menonton dan/atau
menikmati hiburan. Wajib pajaknya adalah orang pribadi atau badan yang
menyelenggarakan hiburan.

8. Subjek Pajak Reklame adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan atau
melakukan pemesanan reklame. Wajib pajaknya adalah orang pribadi.

9. Subjek Pajak Penerangan Jalan adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan
tenaga listrik. Wajib pajaknya adalah orang pribadi atau badan yang menjadi pelanggan
listrik dan atau pengguna tenaga listrik.

10. Subjek Pajak Pengembalian Bahan Galian Golongan C adalah orang pribadi atau badan
yang mengambil bahan galian golongan C. Wajib pajaknya adalah orang pribadi atau
badan yang menyelenggarakan pengambilan bahan galian golongan C.

11. Subjek Pajak Parkir adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran atas
tempet parkir. Wajib pajaknya adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan
tempat parkir.

Objek Pajak Daerah

1. Objek Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air adalah kepemilikan
dan/atau penguasaan kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air.

2. Objek Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air adalah
penyerahaan kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air.

3. Objek Pajak Bahan Kendaraan Bermotor adalah bahan bakar kendaraan bermotor yang
disediakan atau dianggap digunakan untuk kendaraan bermotor, termasuk bahan bakar
yang digunakan untuk kendaraan di atas air.

4. Objek Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan
adalah :

8
o Pengambilah air bawah tanah dan/atau air permukaan

o Pemanfaatan air bawah tanah dan/atau air permukaan

o Pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan/atau air permukaan

5. Objek Pajak Hotel adalah pelayanan yang disediakan hotel dengan pembayaran
termasuk :

o Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek.

o Pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau tinggal


jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan.

o Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel.

6. Objek Pajak Restoran adalah pelayanan yang disediakan restoran dengan pembayaran.

7. Objek Pajak Hiburan adalah penyelenggaraan hiburan dengan dipungut bayaran.

8. Objek Pajak Reklame adalah semua penyelenggaraan reklame.

9. Objek Pajak Penerangan Jalan adalah penggunaan tenaga listrik, di wilayah daerah yang
tersedia penerangan jalan yang rekeningnya dibayar oleh pemerintah daerah.

10. Objek Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C adalah kegiatan pengambilan bahan
galian golongan C.

11. Objek Pajak Parkir adalah penyelenggaraan tempat parkir diluar badan jalan, baik yang
disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha,
termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor dan garasi kendaraan
bermotor yang memungut bayaran.

Fungsi Pajak Daerah

Sebagaimana kita ketahui, pajak sangat penting perannya di dalam pembangunan Daerah.
Banyak hal yang bisa dibiayai pajak sperti pembangunan jalan dan jembatan, pembangunan
sekolah, rumah sakit, jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas), Bantuan Operasional
Sekolah (BOS), dan sebagainya. Pajak merupakan sumber pendapatan negara yang akan
digunakan untuk modal pembangunan. Oleh karena itu, pajak daerah memiliki peran penting
dalam pembangunan suatu daerah.

9
Fungsi pajak daerah salah satunya adalah sebagai bagian dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pendapatan Asli Daerah ini bisa digunakan untuk pembangunan, juga anggaran rutin
seperti gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan sebagainya. Hal yang perlu dicermati adalah suatu
anggaran pemerintahan daerah dianggap sehat jika anggaran untuk pembangunan lebih tinggi
daripada anggaran rutin (gaji pegawai). Setiap pemerintah daerah tentu berharap bisa
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) nya. Salah satu sektor yang bisa diharapkan untuk
meningkatkan PAD ini adalah melalui pajak daerah.

Fungsi lain dari pajak daerah adalah untuk ikut mengatur pertumbuhan ekonomi. Misalnya, jika
pemerintah ingin menarik penanam modal maka bisa diberikan keringanan pajak untuk sektor-
sektor tertentu. Dengan ini diharapkan akan ada penyerapan lapangan kerja. Selain itu, pajak
daerah juga bisa digunakan untuk kegiatan sosial dan insidental, seperti pendidikan untuk anak
jalanan, penanganan bencana, dan sebagainya.Pada akhirnya, pajak daerah diharapkan bisa
meningkatkan pemerataan di setiap daerah karena penyaluran pajak yang baik bisa
meningkatkan kualitas pembangunan.

Permasalahan dalam Perpajakan Daerah

1. Belum Intensifnya Penerimaan Pajak

Di beberapa daerah, masih terdapat banyak potensi pajak yang belum tergali. Hal tersebut
mungkin disebabkan oleh belum efektifnya pemerintah daerah di dalam penarikan pajak.
Solusinya bisa dimulai dari pendataan kembali berbagai objek pajak yang ada di daerah. Selain
itu, diperlukan kesadaran dari masyarakat akan pentingnya membayar pajak untuk keperluan
pembangunan sehingga ekonomi bisa lebih merata.

2. Penyaluran Pajak

Permasalahan penting lain yang juga berkaitan dengan pajak daerah ini adalah sisi
penyaluran dari pajak itu sendiri. Seperti telah diungkapkan di atas, tujuan pajak (termasuk pajak
daerah) adalah untuk keperluan pembangunan. Namun, di beberapa daerah masih didapati pajak
itu lebih banyak digunakan untuk keperluan biaya rutin seperti gaji dan fasilitas pegawai, dan
sebagainya. Tentu saja hal ini tidak diharapkan karena pajak seharusnya lebih banyak digunakan
untuk pembangunan infrastruktur dan elemen-elemen penting yang langsung berhubungan
dengan masyarakat, seperti sarana kesehatan (rumah sakit, puskesmas, dan sebagainya)
pendidikan (pembangunan dan pemeliharaan gedung sekolah), dan hal-hal lain yang langsung
menyentuh masyarakat.

3. Rendahnya Kesadaran Membayar Pajak

Permasalahan lain yang berkaitan dengan pajak daerah adalah masih rendahnya kesadaran
masyarakat dalam membayar pajak. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini. Permasalahan
10
tersebut, antara lain masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pajak daerah.Selain itu,
juga belum optimalnya penyaluran pajak sehingga masyarakat kurang bisa merasakan manfaat
pajak bagi mereka. Persoalan ini juga bisa timbul karena masyarakat tidak setuju dengan
pengenaan pajak untuk bagian tertentu. Misalnya, di Jakarta ada rencana untuk mengenakan
pajak bagi warteg maupun warung nasi padang yang beromset 200 juta per tahun (sekitar 560
ribu per hari). Hal ini sempat menghadapi tentangan dari beberapa pihak. Begitu juga rencana
pengenaan pajak bagi kamar kos-kosan di beberapa daerah, juga mendapat penentangan

10.3 Hubungan Pajak Daerah Dengan Pajak Pusat

Pajak pusat dan pajak daerah mulai muncul di Indonesia sejak diberlakukannya sistem
otonomi daerah . Otonomi Daerah dapat diartikan sebagai kewajiban yang diberikan kepada
daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat menurut aspirasi masyarakat untuk meningkatkan daya
guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap
masyarakat dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
dalam konteks otonomi di Indonesia , daerah otonom tersebut merupakan provinsi provinsi di
Indonesia.

Semangat desentralisasi fiskal pun mulai disebarluaskan dan menjadi program ambisius
pemerintah Indonesia sejak awal dekade 2000, tepatnya mulai tahun fiskal 2001. Pada tahun itu,
pemerintah daerah mulai dari provinsi, kabupaten, dan kota diberikan wewenang yang lebih luas
untuk mengatur dan bertanggung jawab terhadap pembelanjaan di beberapa sektor baru.
Konsekuensi logis dari perluasan wewenang itu adalah meningkatnya pengeluaran daerah.
Peningkatan itu dapat terlihat jelas ketika pada tahun 2001, jumlah belanja daerah mencapai
kurang lebih 30% dari total belanja nasional.

Desentralisasi fiskal inilah yang menjadi hubungan antara pajak pusat dengan pajak daerah di
Indonesia. Perluasan wewenang keuangan pemerintah pusat dalam hal mengatur keuangan
tersebut perlu diimbangi dengan perluasan otoritas daerah untuk memperoleh pendapatan
daerahnya sendiri yaitu dengan perluasan otoritas pemerintah daerah untuk menambah objek
pajak daerahnya sendiri. Dari sinilah tercipta adanya pajak pusat yang dipungut untuk
pendapatan APBN dan Pajak Daerah yang dipungut untuk pendapatan APBD. Keduanya
merupakan pungutan sebagai pendapatan pada anggaran hanya saja pajak pusat mengambil porsi
lebih luas secara skala anggaran nasional dan pajak daerah hanya berfokus pada pendapatan
daerahya saja.

11
12
Kesimpulan

Pajak dan Retribusi Daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat.

Dari segi kewenangan pemungutan pajak atas objek pajak daerah, pajak daerah dibagi
menjadi 2 (dua) yakni:

1. Pajak Daerah yang dipungut oleh provinsi, meliputi

a. Pajak Kendaraan Bermotor

b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor

c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor

d. Pajak Air Permukaan

e. Pajak Rokok

2. Pajak Daerah yang dipungut oleh kabupaten/kota, meliputi

a. Pajak Hotel

b. Pajak Restoran

c. Pajak Hiburan

d. Pajak Reklame

e. Pajak Penerangan Jalan

f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan

g. Pajak Parkir

h. Pajak Air dan Tanah

i. Pajak Sarang Burung Walet

j. Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan

k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

13
Desentralisasi fiskal merupakan wujud hubungan antara pajak pusat dengan pajak daerah
di Indonesia. Perluasan wewenang keuangan pemerintah pusat dalam hal mengatur keuangan
tersebut perlu diimbangi dengan perluasan otoritas daerah untuk memperoleh pendapatan
daerahnya sendiri yaitu dengan perluasan otoritas pemerintah daerah untuk menambah objek
pajak daerahnya sendiri. Dari sinilah tercipta adanya pajak pusat yang dipungut untuk
pendapatan APBN dan Pajak Daerah yang dipungut untuk pendapatan APBD. Keduanya
merupakan pungutan sebagai pendapatan pada anggaran hanya saja pajak pusat mengambil porsi
lebih luas secara skala anggaran nasional dan pajak daerah hanya berfokus pada pendapatan
daerahya saja.

14
Daftar Pustaka

Wirawan B. Ilyas, Richard Burton. 2014. Hukum Pajak : Teori, Analisis, dan Perkembangannya.
Salemba Empat. Jakarta

Adrian Sutendi, SH.,MH, Hukum Pajak, (Bandung : Sinar Grafika, 2011)


http://www.wikiapbn.org/pajak-daerah-dan-retribusi-daerah/

https://www.scribd.com/doc/221108967/Hubungan-Pajak-Pusat-Dengan-Pajak-Daerah

http://dokumen.tips/documents/makalah-pajak-daerah-559c15dd4f9d0.html

http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-pajak-daerah-jenis-fungsi.html

http://iyan88simple.blogspot.co.id/2012/10/pajak-daerah.html\

http://www.kajianpustaka.com, Defenisi pajak dan Jenis-jenis pajak

http://jhohandewangga.wordpress.com, pengertian dan macam-macam pajak daerah

15