Anda di halaman 1dari 50

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.

Y DENGAN DIAGNOSA MEDIS


IMUNISASI CAMPAK CRASH, PEMBERIAN VITAMIN A DAN
PEMBERIAN OBAT CACING DI RUANG POLIKLINIK
KIA RS BHAYANGKARA BANJARMASIN

Disusun Oleh:
Elma Ayu Oktavianty, S. Kep
Hasdawiyah, S. Kep
Maya Ranita, S. Kep

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


PROGRAM S1 KEPERAWATAN PROFESI NERS
TAHUN AKADEMIK 2015/2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia, dinyatakan bebas cacar sejak tahun 1974. Sedangkan polio
diharapkan musnah dari bumi Indonesia pada tahun 2008. Berbagai wilayah lain
di belahan dunia sudah dinyatakan bebas polio seperti Amerika, Asia Timur,
kecuali beberapa negara di Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara yang masih
memiliki kasus polio. Sebenarnya Indonesia hampir saja mencapai taraf
pemusnahan polio karena sejak tahun 1995 sudah tidak diketemukan lagi virus
polion liar di Indonesia.
Vaksin adalah suatu bahan yang berasal dari kuman atau virus yang menjadi
penyebab penyakit yang bersangkutan, yang telah dilemahkan atau dimatikan atau
diambil sebagiuan atau tiruan dari kuman penyebab penyakit, yang sengaja
dimasukkan ke dalam tubuh seseorang atau kelompok orang yang bertujuan untuk
merangsang timbuklnya zat anti penyakit tertentu pada oarng orang tersebut.
Melalui studi yang mendalam vaksin dianggap menjadi alat yang paling cost
efektif.
Penyakit campak secara klinnik dikenal dengan memiliki 3 stadium yaitu
stadium kataral, stadium erupsi (keluar bercak bercak) dan stadium
konvalesensi. Penyebab penyakit campak adalah virus yang masuk ke dalam
genus Morbillivirus dan keluarga Paramyxoviridae. Penyakit ini merupakan
penyakit yang bersifat akut dan menular lewat udara melalui system pernafasan,
terutama percikan ludah (cairan yang keluar ketika seseorang berson batuk atau
berbicara) seorang penderita. Kini dunia sepakat untuk melakukan eradikasi
campak. Pertemuan di cape Town, Afrika Selatan pada tahun 2008
mengkonfirmasikan hal tersebut.
1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum
Mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam
memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan imunisasi campak
secara komprehensif.
b. Tujuan Khusus
1. Mampu melaksanakan pengkajian pada pasien dengan imunisasi
campak
2. Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada klien
dengan imunisasi campak
3. Mampu melakukan intervensi dan implementasi untuk mengatasi
masalah keperawatan pada klien dengan imunisasi campak
4. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
5. Mengetahui pengertian, etiologi, patofisiologi, pathway, manifestasi
klinis, penatalaksanaan, komplikasi, pemeriksaan penunjang pada
pasien dengan imunisasi campak
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Definisi
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat
hidup di luar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu
atau berat janin kurang dari 500 gram (Bantuk, 2008).

Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan vaginal pada setengah


awal kehamilan, biasanya terjadi perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman
bagi kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi ini kehamilan mungkin
berlanjut dan dipertahankan.

Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada


kehamilan sebelum 20 minggu dengan hasil konsepsi masih dalam uterus dan
viable, dan serviks tertutup.

2.2. Etiologi
a. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, menyebabkan kematian janin atau
cacat, penyebabnya antara lain:
1. Kelainan kromosom, misalnya lain trisomi, poliploidi, dan kelainan
kromosom seks
2. Endometrium kurang sempurna, biasanya terjadi pada ibu hamil saat usia
tua, dimana kondisi abnormal uterus dan endokrin atau sindroma ovarium
polikistik
3. Pengaruh eksternal, misalnya radiasi, virus, obat-obatan, dan sebagainya
dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya
dalam uterus, disebut teratogen.
4. Uterus terlalu cepat teregang (kehamilan ganda dan kehamilan mola)
b. Kelainan plasenta, misalnya endarteritis terjadi dalam vili koriales dan
menyebabkan oksigenasi plasenta terganggu, sehingga mengganggu
pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini dapat terjadi sejak kehamilan
muda misalnya karena hipertensi menahun.
c. Penyakit ibu, baik yang akut seperti pneumonia, tifus abdominalis,
pielonefritis, malaria, dan lain-lain, maupun kronik seperti, anemia berat,
keracunan, laparotomi, peritonitis umum, dan penyakit menahun seperti
brusellosis, mononukleosis infeksiosa, toksoplasmosis
d. Kelainan traktus genitalis, misalnya retroversio uteri, mioma uteri, atau
kelainan bawaan uterus. Terutama retroversio uteri gravidi inkarserata atau
mioma submukosa yang memegang peranan penting. Sebab lain keguguran
dalam trimester dua ialah serviks inkompeten yang dapat disebabkan oleh
kelemahan bawaan pada serviks, dilatasi serviks berlebihan, konisasi,
amputasi, atau robekan serviks yang luas yang tidak dijahit.
e. Antagonis rhesus, darah ibu yang melalui plasenta marusak darah fetus,
sehingga terjadi anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus.
f. Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkintraksi. Misalnya
sangat terkejut, obat obatan uterotonika, ketakutan, laparotomi, dll. dan juga
karena trauma langsung terhadap fetus seperti selaput janin rusak karena
instrument, benda dan obat obatan.

2.3. Tanda dan Gejala


Adanya perdarahan pada awal kehamilan melalui ostium uteri eksternum, disertai
nyeri perut ringan atau tidak sama sekali. Adanya gejala nyeri perut dan
punggung belakang yang semakin hari bertambah buruk dengan atau tanpa
kelemahan dan uterus membesar sesuai usia kehamilan.
2.4. Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam decidua basalis, diikuti oleh
nekrosis jaringan di sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas
sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing didalam uterus.
Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, hasil konsepsi biasanya dikeluarkan
seluruhnya, karena vili koreales belum menembus desidua terlalu dalam,
sedangkan pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, telah masuk agak tinggi, karena
plasenta tidak dikeluarkan secara utuh sehingga banyak terjadi perdarahan.
Pada kehamilan 14 minggu keatas, yang umumnya bila kantong ketuban
pecah maka disusul dengan pengeluaran janin dan plasenta yang telah lengkap
terbentuk. Perdarahan tidak banyak terjadi jika plasenta terlepas dengan lengkap.
Hasil konsepsi pada abortus dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Ada kalanya
janin tidak terlihat didalam kantong ketuban yang disebut blighted ovum,
mungkin pula janin telah mati lama disebut missed abortion. Apabila mudigah
yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu singkat, maka ovum akan dikelilingi
oleh kapsul gumpalan darah, isi uterus dinamakan mola kruenta. Bentuk ini
menjadi mola karneosa apabila pigmen darah diserap sehingga semuanya terlihat
seperti daging.
Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses
mumifikasi: janin mengering dan menjadi agak gepeng atau fetus compressus
karena cairan amnion yang diserap. Dalam tingkat lebih lanjut janin menjadi tipis
seperti kertas perkamen atau fetus papiraseus. Kemungkinan lain yang terjadi
apabila janin yang meninggal tidak dikeluarkan dari uterus yaitu terjadinya
maserasi, kulit terkupas, tengkorak menjadi lembek, dan seluruh janin berwarna
kemerah merahan (Sarwono, 2008).
2.5. Pathway

Etiologi:
faktor genetik, kelainan congenital
uterus, autoimun, infeksi,
hematologic, lingkungan

kehamilan kurang dari 20 minggu


atau berat janin kurang dari 500
gram

Janin dapat beradaptasi Janin tidak dapat beradaptasi

Usia kehamilan dapat Janin gugur


dipertahankan > 37
minggu atau BB janin >
2500 gr

Rangsangan pada uterus Lepasnya konsepsi dari


implantasinya

Kontraksi uterus Terputusnya pembuluh Ancaman abortus


darah

Terganggunya
Peningkatan Perdarahan dan
psikologis ibu
prostaglandin nekrosis residua

Dilatasi serviks DK: Resiko


DK: Ansietas
kekurangan volume
cairan

DK: Nyeri akut


2.6. Diagnosis
a. Tanda dan gejala abortus imminens
b. Pemeriksaan dalam: serviks tertutup, perdarahan dapat terlihat dari ostium,
tidak ada kelainan pada serviks, tidak terdapat nyeri goyang serviks atau
adneksa
c. Tes kehamilan positif, dan
d. Pemeriksaan USG terlihat janin masih hidup

2.7. Komplikasi
Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah perdarahan, perforasi, infeksi,
syok, dan gagal ginjal akut.
a. Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisasisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah.Kematian karena
perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
b. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiper retrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita pelu diamati dengan teliti.
Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparotomi, dan tergantung dari
luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi.
Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam menimbulkan
persolan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi
perlukaan pada kandung kemih atau usus.Dengan adanya dugaan atau
kepastian terjadinya perforasi, laparotomi harus segera dilakukan untuk
menentukan luasnya cedera, untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan
seperlunya guna mengatasi komplikasi.
c. Infeksi
Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi
biasanya ditemukan pada abortus inkompletus dan lebih sering pada abortus
buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis. Apabila
infeksi menyebar lebih jauh, terjadilah peritonitis umum atau sepsis, dengan
kemungkinan diikuti oleh syok.
d. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan
infeksi berat (syok endoseptik). Gagal ginjal akut yang persisten pada kasus
abortus biasanya berasal dari efek infeksi dan hipovolemik yang lebih dari
satu. Bentuk syok bakterial yang sangat berat sering disertai dengan kerusakan
ginjal intensif. Setiap kali terjadi infeksi klostridium yang disertai dengan
komplikasi hemoglobenimia intensif, maka gagal ginjal pasti terjadi. Pada
keadaan ini, harus sudah menyusun rencana untuk memulai dialysis yang
efektif secara dini sebelum gangguan metabolik menjadi berat (Cunningham,
2005).

2.8. Pemeriksaan Penunjang


a. Ultrasonografi (USG) Transvaginal Observasi Denyut Jantung Janin
Pemeriksaan USG transvaginal penting untuk menentukan apakah janin viabel
atau nonviabel dan membedakan antara kehamilan intrauteri, ekstrauteri,
mola, atau missed abortion. Jika perdarahan berlanjut, ulangi pemeriksaan
USG dalam tujuh hari kemudian untuk mengetahui viabilitas janin. Jika hasil
pemeriksaan meragukan, pemeriksaan dapat diulang 1-2 minggu kemudian.
USG dapat digunakan untuk mengetahui prognosis. Pada umur kehamilan
tujuh minggu, fetal pole dan aktifi tas jantung janin dapat terlihat. Aktivitas
jantung seharusnya terlihat dengan USG saat panjang fetal pole minimal lima
milimeter. Bila kantong gestasi terlihat, keguguran dapat terjadi pada 11,5%
pasien. Kantong gestasi kosong dengan diameter 15mm pada usia tujuh
minggu dan 21mm pada usia gestasi delapan minggu memiliki angka
keguguran 90,8%.1 Apabila terdapat yolk sac, angka keguguran 8,5%;dengan
embrio 5mm, angka keguguran adalah 7,2%; dengan embrio 6-10mm angka
keguguran 3,2%; dan apabila embrio 10mm, angka keguguran hanya 0,5%.
Angka keguguran setelah kehamilan 14 minggu kurang lebih 2,0%.
Pemeriksaan ukuran kantong gestasi transvaginal berguna untuk menentukan
viabilitas kehamilan intrauteri. Diameter kantong rata-rata lebih dari 13mm
tanpa yolk sac atau diameter rata-rata lebih dari 17mm tanpa mudigah
diprediksikan nonviabilitas pada semua kasus dengan spesifi sitas dan nilai
prediksi positif100%. Adanya hematoma subkorionik tidak berhubungan
dengan prognosis buruk. Bradikardia janin dan perbedaan antara usia
kehamilan berdasarkan HPHT dengan hasil pemeriksaan USG menunjukkan
prognosis buruk. Data prospektif menyebutkan, bahwa jika terdapat satu
diantara tiga faktor risiko (bradikardia janin, perbedaan antara kantung
kehamilan dengan panjang crown to rump, dan perbedaan antara usia
kehamilan berdasarkan HPHT dan pemeriksaan USG lebih dari satu minggu)
meningkatkan presentase kejadian keguguran dari 6% menjadi 84%.
Penelitian prospektif pada umumnya menunjukkan presentase kejadian
keguguran 3,4-5,5% jika perdarahan terjadi setelah jantung janin mulai
beraktivitas, dan identifikasi aktivitas jantung janin dengan USG di pelayanan
kesehatan primer memberikan presentase berlanjutnya kehamilan hingga lebih
dari 20 minggu sebesar 97%.
b. Biokimia serum ibu
1. Kadar human chorionic gonadotropin(hCG) kuantitatif serial
Evaluasi harus mencakup pemeriksaan hCG serial kecuali pasien
mengalami kehamilan intauterin yang terdokumentasi dengan USG,untuk
mengeliminasi kemungkinan kehamilan ektopik. Kadar hCG kuantitatif
serial diulang setelah 48 jam digunakan untuk mendiagnosis kehamilan
ektopik, mola, abortus imminens, dan missed abortion. Kadar hCG serum
wanita hamil yang mengalami keguguran diawali dengan gejala abortus
imminens pada trimester pertama, lebih rendah dibandingkan wanita
hamil dengan gejala abortus imminens yang kehamilannya berlanjut atau
dengan wanita hamil tanpa gejala abortus imminens. Sebuah penelitian
prospektif menunjukkan bahwa nilai batas hCG bebas 20 ng/ml dapat
digunakan untuk membedakan antara normal (kontrol dan abortus
imminens namun kehamilan berlanjut) dan abnormal (abortus imminens
yang mengalami keguguran dan kehamilan tuba), dengan sensitifi
tasangka prediksi positif 88,3% dan 82,6%. Rasio bioaktif serum imuno
reaktif hCG, pada wanita yang mengalami abortus imminens namun
kehamilannya berlanjut, lebih tinggi dibandingkan pada wanita yang
akhirnya mengalami keguguran. Namun penelitian hanya melibatkan 24
wanita dengan abortus imminens dan tidak memberikan data tentang
aktivitas jantung janin. Kadar hormon progesteron relatif stabil pada
trimester pertama, sehingga pemeriksaan tunggal dapat digunakan untuk
menentukan apakah kehamilan viabel; kadar kurang dari5 ng/mL
menunjukkan prognosis kegagalan kehamilan dengan sensitivitas 60%,
sedangkan nilai 20 mg/mL menunjukkan kehamilan yang viabel dengan
sensitivitas 100%.1,8

2.9.Pencegahan
a. Vitamin, diduga mengonsumsi vitamin sebelum atau selama awal kehamilan
dapat mengurangi risiko keguguran, namun dari 28 percobaan yang dilakukan
ternyata hal tersebut tidak terbukti.
b. Antenatal care (ANC), disebut juga prenatalcare, merupakan intervensi
lengkap pada wanita hamil yang bertujuan untuk mencegah atau
mengidentifikasi dan mengobati kondisi yang mengancam kesehatan
fetus/bayi baru lahir dan/atau ibu, dan membantu wanita dalam menghadapi
kehamilan dan kelahiran sebagai pengalaman yang menyenangkan. Penelitian
observasional menunjukkan bahwa ANC mencegah masalah kesehatan pada
ibu dan bayi. Pada suatu penelitian menunjukkan,kurangnya kunjungan rutin
ibu hamil dengan risiko rendah tidak meningkatkan risiko komplikasi
kehamilan namun hanya menurunkan kepuasan pasien. Perdarahan pada
kehamilan disebabkan oleh banyak faktor yang dapat didentifikasi dari
riwayat kehamilan terdahulu melalui konseling dan anamnesis. Pada
penelitian Herbst, dkk (2003), ibu hamil yang tidak melakukan ANC memiliki
risiko dua kali lipat untuk mengalami risiko kelahiran premature.

2.10. Penatalaksanaan Aktif


Efektivitas penatalaksanaan aktif masih dipertanyakan, karena umumnya
penyebab abortus imminens adalah kromosom abnormal pada janin.
Meskipun banyak penelitian menyatakan tidak ada terapi yang efektif untuk
abortus imminens, penatalaksanaan aktif pada umumnya terdiri atas:
a. Tirah Baring
Tirah baring merupakan unsur penting dalam pengobatan abortus
imminens karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke
uterus dan berkurangnya rangsang mekanik. Pada suatu penelitian,
1228 dari 1279 (96%) dokter umum meresepkan istirahat pada
perdarahan hebat yang terjadi pada awal kehamilan, meskipun hanya
delapan dari mereka yang merasa hal tersebut perlu, dan hanya satu dari
tiga orang yang yakin hal tersebut bekerja baik.

Sebuah penelitian randomised controlled trial (RCT) tentang efek tirah


baring pada abortus imminens menyebutkan bahwa 61 wanita hamil
yang mengalami perdarahan pada usia kehamilan kurang dari delapan
minggu yang viabel, secara acak diberi perlakuan berbeda yaitu injeksi
hCG, plasebo atau tirah baring. Persentase terjadinya keguguran dari
ketiga perlakuan tersebut masing-masing 30%, 48%, dan 75%.
Perbedaan signifikan terlihat antara kelompok injeksi hCG dan tirah
baring namun perbedaan antara kelompok injeksi hCG dan plasebo atau
antara kelompok placebo dan tirah baring tidak signifikan. Meskipun
pada penelitian tersebut hCG menunjukkan hasil lebih baik
dibandingkan tirah baring, namun ada kemungkinan terjadi sindrom
hiperstimulasi ovarium, dan mengingat terjadinya abortus imminens
dipengaruhi banyak faktor, tidak relevan dengan fungsiluteal,
menjadikan hal tersebut sebagai pertimbangan untuk tidak melanjutkan
penelitian tentang penggunaan hCG. Dalam sebuah penelitian
retrospektif pada 226 wanita yang dirawat di RS dengan keluhan akibat
kehamilannya dan abortus imminens, 16% dari 146 wanita yang
melakukan tirah baring mengalami keguguran, dibandingkan dengan
seperlima wanita yang tidak melakukan tirah baring. Sebaliknya,
sebuah studi kohort observasional terbaru dari 230 wanita dengan
abortus imminens yang direkomendasikan tirah baring menunjukkan
bahwa 9,9% mengalami keguguran dan 23,3%baik-baik saja (p=0,03).
Lamanya perdarahan vagina, ukuran hematoma dan usia kehamilan saat
diagnosis tidak mempengaruhi tingkat terjadinya keguguran. Meskipun
tidak ada bukti pasti bahwa istirahat dapat mempengaruhi jalannya
kehamilan, membatasi aktivitas selama beberapa hari dapat membantu
wanita merasa lebih aman, sehingga memberikan pengaruh emosional.
Dosisnya 24-48 jam diikuti dengan tidak melakukan aktivitas berat,
namun tidak perlu membatasi aktivitas ringan sehari-hari.
b. Abstinensia
Abstinensia sering kali dianjurkan dalam penanganan abortus
imminens, karena pada saat berhubungan seksual, oksitoksin disekresi
oleh puting atau akibat stimulasi klitoris, selain itu prostaglandin E
dalam semen dapat mempercepat pematangan serviks dan
meningkatkan kolonisasi mikroorganisme di vagina.
c. Progestogen
Progestogen merupakan substansi yang memiliki aktivitas
progestasional atau memiliki efek progesteron, diresepkan pada 13-
40% wanita dengan abortus imminens. Progesteron merupakan produk
utama korpusluteum dan berperan penting pada persiapan uterus untuk
implantasi, mempertahankan serta memelihara kehamilan. Sekresi
progesteron yang tidak adekuat pada awal kehamilan diduga sebagai
salah satu penyebab keguguran sehingga suplementasi progesteron
sebagai terapi abortus imminens diduga dapat mencegah keguguran,
karena fungsinya yang diharapkan dapat menyokong defisiensi korpus
luteum gravidarum dan membuat uterus relaksasi. Sebagian besar ahli
tidak setuju namun mereka yang setuju menyatakan bahwa harus
ditentukan dahulu adanya kekurangan hormon progesteron.
Salah satu preparat progestogen adalah dydrogesterone. Meskipun tidak
ada bukti kuat tentang manfaatnya namun progestogen disebutkan
dapat menurunkan kontraksi uterus lebih cepat daripada tirah baring,
terlepas dari kemungkinan bahwa pemakaiannya pada abortus
imminens mungkin dapat menyebabkan missed abortion, progestogen
pada penatalaksanaan abortus imminenstidak terbukti memicu
timbulnya hipertensi kehamilan atau perdarahan antepartum yang
merupakan efek berbahaya bagi ibu. Selain itu,penggunaan progestogen
juga tidak terbukti menimbulkan kelainan kongenital. Sebaiknya
dilakukan penelitian dengan jumlah lebih besar untuk memperkuat
kesimpulan.
d. hCG (human chorionic gonadotropin)
hCG diproduksi plasenta dan diketahui bermanfaat dalam
mempertahankan kehamilan. Karena itu, hCG digunakan pada abortus
imminens untuk mempertahankan kehamilan. Namun, hasil tiga
penelitian yang melibatkan 312 partisipan menyatakan tidak ada cukup
bukti tentang efektivitas penggunaan hCG pada abortus imminens
untuk mempertahankan kehamilan. Meskipun tidak terdapat laporan
efek samping penggunaan hCG pada ibu dan bayi, diperlukan
penelitian lanjutan yang lebih berkualitas tentang pengaruh hCG pada
keguguran.7
e. Antibiotik hanya jika ada tanda Infeksi
Penelitian retrospektif pada 23 wanita dengan abortus imminens pada
usia awal trimester kehamilan, mendapatkan 15 orang (65%) memiliki
flora abnormal vagina. Tujuh dari 16 orang mendapatkan amoksisilin
ditambah klindamisin dan tiga dari tujuh wanita tersebut mengalami
perbaikan, tidak mengalami nyeri abdomen dan perdarahan vaginal
tanpa kambuh. Disimpulkan bahwa antibiotik dapat digunakan sebagai
terapi dan tidak manimbulkan anomali bayi.
f. Relaksan otot uterus
Buphenine hydrochloride merupakan vasodilator yang juga digunakan
sebagai relaksan otot uterus, pada penelitian RCT menunjukkan hasil
yang lebih baik dibandingkan penggunaan plasebo, namun metode
penelitian ini tidak jelas, dan tidak ada penelitian lain yang mendukung
pemberian tokolisis pada awal terjadinya abortus imminens. Cochrane
Library menyebutkan tidak ada cukup bukti yang menunjukkan
efektivitas penggunaan relaksan otot uterus dalam mencegah abortus
imminens.
g. Profi laksis Rh (rhesus)
Konsensus menyarankan pemberian imunoglobulin anti-D pada kasus
perdarahan setelah 12 minggu kehamilan atau kasus dengan perdarahan
gejala berat mendekati12 minggu.

2.11. Prognosis
Abortus imminens merupakan salah satufaktor risiko keguguran, kelahiran
prematur, BBLR, perdarahan antepartum, KPD dan kematian perinatal.
Namun, tidak ditemukan kenaikan risiko bayi lahir cacat. Macam dan
lamanya perdarahan menentukan prognosis kehamilan. Prognosis menjadi
kurang baik bila perdarahan berlangsung lama, nyeri perut yang disertai
pendataran serta pembukaan serviks.

2.12. Rencana Asuhan Keperawatan


a. Pengkajian
1. Keluhan Utama
2. Riwayat Penyakit Sekarang
3. Riwayat Penyakit Dahulu
4. Riwayat Penyakit Keluarga
5. Pemeriksaan Fisik
b. Pemeriksaan status generalis untuk menilai keadaan umumm penderita
dan tanda-tanda metastasis pada paru, hati dan tulang.
c. Pengkajian
1) Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit
vaskular perifer (peningkatan resiko pembentukan trombus).
2) Integritas Ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis : faktor-faktor stress
multiple misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang :
stimulasi simpatis.
3) Makanan/Cairan
Gejala : insufisiensi pankreas/DM, (predisposisi untuk
hipoglikemia/ketoasidosis) malnutrisi(termasuk obesitas) : membran
mukosa yang kering (pembatasan pemasukan/periode puasa pra
operasi).
4) Pernafasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok
5) Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan laritan :
defisiensi immun (peningkatan resiko infeksi sistemik dan penundaan
penyembuhan, munculnya kanker/terapi kanker terbaru.
d. Diagnosa keperawatan
1. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional (kehamilan)
2. Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus
3. Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan
perdarahan
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri
e. Intervensi
Diagnosa I: Ansietas berhubungan dengan krisis situasional (kehamilan)
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah
ansietas teratasi
Intervensi:
1. Kaji tingkat cemas klien
2. Kaji penyebab cemas klien
3. Dorong klien mengungkapkan perasaannya
4. Dengarkan dengan penuh perhatian
5. Jelaskan tentang kondisi kehamilan klien
6. Anjurkan keluarga untuk memberikan semangat kepada klien

Diagnose II: nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah nyeri
dapat teratasi.
Intervensi:
1. Kaji karakteristik nyeri
2. Observasi TTV
3. Atur posisi klien senyaman mungkin
4. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
5. Kolaborasi dalam pemberian analgetik

Diagnose III: resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan


perdarahan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko
kekurangan volume cairan tidak terjadi
Intervensi::
1. Kaji perdarahan pada pasien, setiap jam atau dalam masa pengawasan
2. Kaji perdarahan Vagina : warna, jumlah pembalut yang digunakan,
derajat aliran dan banyaknya, kaji adanya gumpalan
3. Kaji adanya tanda-tanda gelisah, taki kardia, hipertensi dan kepucatan
monitor nilai HB dan Hematokrit

Diagnose IV: intoleransi berhubungan dengan nyeri


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah
intoleransi aktivitas dapat teratasi
Intervensi:
1. Kaji tingkat intoleransi klien
2. Bantu klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan
kemampuannya
3. Anjurkan klien melakukan aktivitas yang ringan
4. Libarkan keluarga untuk proses perawatan dan aktivitas klien
5. Anjurkan klien untuk istirahat yang cukup
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. H DENGAN DIAGNOSA MEDIS
IMUNISASI CAMPAK DI RUANG POLIKLINIK KIA RS BHAYANGKARA
BANJARMASIN

A. PENGKAJIAN
Tanggal kunjungan : 4 Agustus 2016 Jam Masuk : 10.00
Ruang/ Kelas : Poli KIA
Pengkajian Tanggal : 4 Agustus 2016 Jam Pengkajian : 10.05

1. Identitas Klien
a. Nama klien : An. Y
b. Jenis kelamin : Perempuan
c. Umur : 18 bulan

2. Identitas penanggung jawab


a. Nama : Tn. M
b. Umur : 29 tahun
c. Suku : Banjar
d. Agama : Islam
e. Pendidikan : SMA
f. Pekerjaan : Anggota Polri
g. Alamat : Jln. Pramuka Km 6 Komp. DPRD

2. Anamnesa
a. Alasan kunjungan ini
Ibu klien membawa anaknya yang berumur 18 bulan ingin melakukan
imunisasi sesuai jadwal yang tertera di buku KMS anaknya.
b. Data Kesehatan
1. Riwayat Penyakit Sekarang : Ibu mengatakan anaknya tidak
menderita penyakit menurun (asma, DM), menular (TBC), menahun
(jantung) seperti dada berdebar debar (jantung), sering makan ,minum,
dan kencing (DM), sesak nafas (Asma), Sakit Kuning (Hepatitis), Kejang
sampai keluar busa (Epilepsi) dan keputihan Gatal gatal (PMS).
2. Riwayat penyakit dahulu : ibu mengatakan bayinya tidak pernah
sakit sampai memerlukan penanganan yang serius.
3. Riwayat penyakit keluarga : Ibu mengatakan dalam keluarganya
tidak menderita penyakit menurun (asma, DM), menular (TBC), menahun
(jantung) seperti seperti dada berdebar debar (jantung), sering makan,
minum, dan kencing (DM), sesak nafas (Asma),tekanan darah >140/90
mmHg (Hipertensi). Sakit Kuning (Hepatitis), Kejang sampai keluar busa
(Epilepsi) dan keputihan Gatal Gatal (PMS).

c.. Data Imunisasi


DT DPT Polio HB
BCG Campak
I I 1 2 3 1 2 3 4 1 2 3

d. Kebutuhan dasar
Kebutuhan Sehari - Hari
# Pola Makan
Frekuensi Bubur 3 4 x sehari
10 14 x sehari menetek ibu
Porsi 1 mangkok kecil
Makanan yang disukai ASI, bubur tim
Makanan yang tidak disukai Tidak ada
Jenis makanan Bubur, sayur, buah
Keluhan Tidak
Pantangan Tidak
# Istirahat
Lama Tidur 14 - 17 jam/hari
Keluhan Tidak ada
# Personal Hygiene
Mandi 2x sehari
Keramas 2x sehari
Sikat Gigi 2x sehari
Ganti Pakaian Tiap basah/kotor
Keluhan Tidak ada
# aktifitas dan bermain Berjalan
Mengenggam pensil dan mainan
Mulai mengucapkan beberapa kata (sekitar
10-20 kata)
Menyusun 2-3 balok
# Eliminasi
Frekuensi BAK 7-8x sehari
Warna Kuning jernih
Jumlah 1 popok penuh
Keluhan Tidak ada
Frekuensi BAB 1 - 2x sehari
Warna Kuning kecoklatan
Bau Khas
Konsistensi Lembek
Keluhan Tidak ada
3. Data Obyektif
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum : Baik kesadaran : composmentis
b. Vital sign
T :-
RR : 30 x/menit
HR : 100 x/menit
S : 36, 50C
c. BB : 7400 gr PB : 67 cm
d. LILA :- LK : 40 cm
2. Kepala dan wajah
a. Rambut
Warna : hitam
Pertumbuhan : rata / normal
Keadaan : bersih
Lesi : tidak ada
Oedema : tidak ada
b. Mata
Conjungtiva : tidak anemis
Sclera : tidak ikterik
Sekret : tidak ada
Bentuk : simetris
Tanda infeksi : tidak ada
Kelainan : tidak ada
c. Hidung
Sekret : tidak ada
Keadaan : bersih
Lesi : tidak ada
d. Mulut
Secret : tidak ada
Lidah : bersih
Gigi : Jumlah 3 ( Atas 1, Bawah 2 ), bersih
Gusi : kemerahan, tidak bengkak, tidak berdarah, tidak ada
stomatitis
e. Leher
Bentuk : simetris
Massa : tidak ada
Kekakuan : tidak ada
Kel. Tiroid : tidak ada pembesaran
Kel. Parotis : tidak ada pembengkakan
f. Dada
Bentuk : simetris
Type pernafasan : normal
Perkusi dada : normal
Auskultasi suara : normal
Pernafasan : normal
KGB axila : tidak ada pembesaran
g. Abdoment
Bentuk : simetris
Meteorismus : tidak ada
Bekas luka op : tidak ada
Resistensi : tidak ada
Peristaltik usus : normal
Tumor/masa : tidak ada
Palpasi hepar : normal / tidak ada pembesran
Palpasi lien : normal / tidak ada pembesaran
Palpasi mc. burney : normal / tidak ada nyeri tekan
h. Genetalia :
Oedem : tidak ada
Secret : tidak ada
Kelainan : tidak ada

i. Ekstremitas
Oedema : tidak ada
Kelainan : tidak ada
Turgor Kulit : Baik
3. Pemeriksaan penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan
4. Pengobatan yang telah didapat
Ibu mengatakan bayinya belum pernah mendapatkan pengobatan apapun

II. Interprestasi Data


Tanggal / jam : 7 Desember 2011 / 09.25 WIB
1. Diagnosa Kebidanan
By. S umur 9 bulan dengan imunisasi campak.
Dasar : DS :
Ibu mengatakan ingin mengimunisasi bayinya.
Ibu mengatakan bayinya berumur 9 bulan dan dalam keadaan sehat.
Ibu mengatakan bayinya tidak sedang sakit.
DO : KU : Baik Kesadaran : CM
T :- HR : 100 x / menit
RR : 30 x / menit S : 36,50C
BB : 7, 4 kg PB : 67 cm
LILA :- LK : 40 cm
Bayi tampak sehat dan gerakannya aktif.
Imunisasi yang telah didapatkan : HB, BCG, DPT, POLIO
2. Masalah : tidak ada

III. Diagnosa Potensial dan Antisipasi


Tidak ada

IV. Tindakan Segera


Tidak ada

V. Perencanaan
Tanggal / jam : 7 Desember 2011 / 09.30 WIB
1.Beritahu kepada ibu tentang keadan anaknya
2.Jelaskan pada Ibu tentang pentingnya imunisasi campak
3.Siapkan alat vaksin campak.
4.Suntikkan vaksin campak pada bayi secara SC pada lengan kiri atas bayi.
5.Berikan antipiretik yang sesuai untuk mengatasi demam pada bayi.
6.Anjurkan Ibu untuk tetap memberikan ASI pada bayinya dan makanan pendamping
ASI yang bergizi seimbang.
7.Beritahu ibu bahwa imunisasi wajib anaknya sudah selesai.
8.Anjurkan ibu untuk tetap menjaga kesehatan dan gizi anak
9. Anjurkan ibu untuk datang ke tenaga kesehatan apabila ada keluhan.
10. Dokumentasi tindakan dalam buku KIA dan register imunisasi.

VI. Implementasi
Tanggal / Jam : 7 Desember 2011 / 09.35 WIB
1) Memberitahu kepada ibu tentang keadan anaknya
2) Menjelaskan pada Ibu tentang pentingnya imunisasi campak bahwa imunisasi
campak itu penting bertujuan untuk mencegah penularan campak yang dapat
mengakibatkan komplikasi radang paru, radang otak, dan kebutaan.
3) Menyiapkan alat vaksin campak ;
Vaksin campak o,5 ml
Kapas
4) Menyuntikkan vaksin campak pada bayi secara SC pada lengan kiri atas bayi.
5) Memberikan antipiretik yang sesuai untuk mengatasi demam pada bayi:
Parasetamol syrup 120 gram 3 x sendok / hari
6) Menganjurkan Ibu untuk tetap memberikan ASI pada bayinya dan makanan
pendamping ASI yang bergizi seimbang.
7) Memberitahu ibu bahwa imunisasi wajib anaknya sudah selesai.
8) Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kesehatan dan gizi anak
9) Menganjurkan ibu untuk datang ke tenaga kesehatan apabila ada keluhan.
10)Mendokumentasi tindakan dalam buku KIA dan register imunisasi.

VII. Evaluasi
Tanggal / jam : 7 Desember 2011/ 09.50 WIB
1) KU : Baik Kesadaran : CM
T :- HR : 100 x / menit
RR : 30 x / menit S : 36,50C
Ibu sudah mengerti bahwa bayinya dalam keadaan sehat.
2) Ibu sudah mengerti tentang pentingnya imunisasi campak.
3) Alat vaksin imunisasi campak sudah disiapkan.
4) Suntikkan vaksin campak sudah diberikan pada bayi.
5) Antipiretik sudah diberikan pada ibu untuk mengatasi demam pada bayi.
6) Ibu bersedia untuk tetap memberikan ASI dan makanan pendamping ASI yang
bergizi seimbang.
7) Ibu sudah mengerti bahwa imunisasi wajib anaknya sudah selesai.
8) Ibu bersedia untuk tetap menjaga kesehatan dan gizi anak
9) Ibu bersedia untuk datang ke tenaga kesehatan apabila ada keluhan.
10) Tindakan sudah didokumentasikan dalam buku KIA dan register imunisasi.
11)
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Setelah melakukan pengkajian asuhan kebidanan pada By. S umur 9 bulan denagn
imunisasi campak di Puskesmas Gemolong. Penulis dapat mengambil kesimpulan :
4.1.1 Dengan menggunakan manajement varney dengan menggunakan soap dapat
meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dan sikap yangan harus dilakukan bidab
dalam memberikan asuhan secara tepat, cermat, menyeluruh
4.1.2 Dengan manajement varney dapat meningkatkan kemammpuan bidan dalam
hal pengetahuan didapatkan hasil pengkajian pada By. S umur 9 bulan denagn
imunisasi campak: KU : Baik, Kesadaran: CM, VS: T : -, HR : 100 x/menit, RR : 30
x/menit, S : 36,5oC, tidak ada riwayat penyakit yang membahayakan. Asuhan
Kebidanan yang diberikan yaitu melakukan penyuntikkan vaksin campak pada lengan
atas kiri bayi secara SC, memberikan informasi tentang diare, memberikan informasi
tentang pentingnya imunisasi campak, anjurkan ibu untuk mengontrolkan anaknya
apabila ada keluhan, tanggal imunisasi sudah dicatat dalam buku KIA dan bayi sudah
diberikan terapi.

4.2. Saran
4.2.1. Bagi Ibu
Diharapkan bagi Ibu untuk memperhatikan jadwal imunisasi pada anaknya sehingga
anak mendapatkan kekebalan yang cukup untuk mencegah berbagai penyakit

4.2.2. Bagi Bidan


Diharapkan dalam melaksanakan asuhan kebidanan menggunakan manajemen 7
langkah varney serta selalu meningkatkan pengetahuan

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Umar Farmi. 2006. Imunisasi Mengapa Perlu?. Jakarta : Penerbit Buku
Kompas
Hidayat, Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan
Kebidanan. Jakarta : Penerbit Salemba
Ibrahim, Christina, S. Dra. 1996. Perawatan Kebidanan Jilid 2. Jakarta : Bratara
Nelson. 2002. Ilmu Kesehatan Anak Jilid 2. Jakarta : EGC
Staf Pengajar IKA FKUI 1998. Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1. Jakarta : FKUI
www.wordpress.com/imunisasi-campak/09/1 di unduh tanggal 1 April 2012 jam 11.
00 WIB.

b. Keluhan yang dirasakan ibu


Klien mengeluh nyeri pada perut bagian bawah menjalar ke pinggang
belakang. Nyeri seperti diremas, nyeri jika terlalu banyak bergerak, nyeri
terasa hilang timbul 5 menit. Klien juga mengatakan keluar bercak darah
pervagina sejak 2 hari yang lalu. Darah yang keluar banyak seperti darah
haid. Klien mengatakan dalam sehari klien dapat mengganti pembalut
sebanyak 5 kali.
c. Riwayat sosial
Klien mengatakan ini adalah kehamilan ketiga. Klien pernah mengalami
abortus sebanyak 2 kali. Klien merasa cemas tentang kehamilannya
sekarang karena takut akan mengalami abortus lagi. Klien berharap
kehamilannya dapat bertahan sampai hari kelahiran dan berharap janin
yang dikandungnya berjenis kelamin laki-laki. Klien sudah menikah
selama 2 tahun dimana saat menikah usia klien adalah 20 tahun. Klien
mengatakan tidak pernah menggunakan narkoba, alkohol maupun
merokok. Klien juga mengatakan tidak ada perokok aktif dilingkungan
rumahnya.
d. Riwayat obstetri
1) Riwayat haid
HPHT : Desember 2014
Klien mengatakan pertama kali haid saat umur 13 tahun dimana
beberapa bulan pertama haid masih belum teratur dengan lama haid 7
hari. Siklus haid tidak teratur setiap bulan, darah yang keluar banyak
dan kadang bercampur gumpalan-gumpalan darah. Klien mengatakan
perutnya akan terasa sakit jika sedang haid dan nyeri haid terasa pada
hari pertama dan kedua.
2) Riwayat kehamilan
Setelah dilakukan CT-Scan didapatkan hasil berupa umur kehamilan
27 minggu, TBJ 720 gr, taksiran persalinan 26 September 2015.
e. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas masa lalu
Ini adalah kehamilan klien yang ketiga. Pada dua kehamilan sebelumnya
klien mengalami abortus.
f. Riwayat penggunaan KB
Klien mengatakan sejak menikah tidak pernah menggunakan KB
g. Riwayat kesehatan
Klien memiliki riwayat abortus sebanyak 2 kali, klien tidak memiliki
riwayat hipertensi, jantung, diabetes mellitus. Ibu klien mengatakan dari
keluarga ada yang menderita hipertensi dan diabetes mellitus.
h. Riwayat kebiasaan
1) Pola Makan
Sebelum hamil pola makan klien baik, nafsu makan klien baik dan
klien makan 3x sehari ditambah dengan snack. Klien dapat
menghabiskan makanan yang dimasak di rumah. Saat hamil nafsu
makan klien menurun karena mual dan muntah. Klien hanya
menghabiskan setengah porsi makanan yang disediakan.
2) Pola Eliminasi
Memasuki trimester II klien mengeluh susah BAB dengan frekuensi
BAB 1x/2 hari bahkan bisa 1x/3 hari dengan konsentrasi padat,
berwarna kuning kecoklatan. Klien tidak ada keluhan pada saat BAK.
Frekuensi BAK (Buang Air Kecil) 2-3x sehari dan berwarna kuning
jernih.

3) Personal Hygiene
Klien selalu mandi 2x sehari dengan menggunakan sabun dan sampo,
serta menyikat gigi 2x sehari yaitu sebelum tidur dan pada pagi hari.
Namun beberapa hari terakhir klien merasa lemah dan tidak bisa
terlalu banyak bergerak karena akan terasa nyeri sehingga klien hanya
diseka oleh ibunya.
4) Aktivitas Sehari-Hari
Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri namun
dibatasi selama kehamilan. Namun beberapa hari terakhir klien merasa
tubuhnya lemah sehingga klien dibantu oleh ibu dan suaminya dalam
melakukan aktivitas sehari-hari.
5) Pola Istirahat Dan Tidur
Beberapa hari ini klien mengatakan sulit tidur karena pinggang dan
perutnya terasa sakit. Klien tidur 8 jam/hari namun sering terbangun
karena nyeri yang dirasakannya.
6) Imunisasi TT
Klien mengatakan sudah melakukan imunisasi TT yaitu saat akan
menikah dan saat hamil yang pertama.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
Keadaan umum klien lemah, klien menggunakan kursi roda pada saat ke
poli. Klien terlihat meringis, klien juga terlihat cemas dan gelisah karena
kehamilannya saat ini. Klien takut akan mengalami abortus lagi.
b. Tanda-tanda vital
TD : 90/70 mmHg
HR : 90x/menit
RR : 18x/menit
BB sebelum hamil : 50 kg
BB saat hamil : 57 kg
c. Kepala dan leher
Tidak ada oedema pada wajah. Kepala dan leher terlihat bersih, tidak ada
trauma ataupun luka pada kepala, tidak terdapat pembengkakan pada
kepala serta tidak ada pembesaran kelenjar tyroid.
d. Hidung dan penciuman
Keadaan hidung terlihat bersih, tidak ada sumbatan, tidak ada peradangan
dan perdarahan pada hidung, fungsi penciuman baik.
e. Mata dan Penglihatan
Mata terlihat simetris kiri kanan, bola mata simetris, warna konjungtiva
terlihat anemis, sklera terlihat putih, penglihatan normal.
f. Mulut dan gigi
Bibir klien terlihat kering, pucat dan pecah-pecah. Gigi klien terlihat
bersih dan tersusun rapi. Klien mengatakan tidak ada keluhan pada gigi
maupun pada saat mengunyah makanan,
g. Telinga dan Pendengaran
Kebersihan telinga baik, klien tidak menggunakan alat bantu pendengaran,
tidak terdapat cerumen, fungsi pendengaran baik (dinilai saat klien dapat
menjawab setiap pertanyaan yang diajukan).
h. Kulit
Inspeksi :Klien tampak bersih, terdapat linea negra didaerah sekitar
abdomen
Palpasi :Lembab, turgor < 2 detik, terdapat sedikit pembengkakan pada
ekstremitas bawah, pitting edema 1 mm.
i. Dada dan pernapasan
Dada klien simetris antara kanan dan kiri, tidak ada benjolan pada mamae,
pernapasan klien dalam dan lambat dengan frekuensi napas 18x/menit.

j. Abdomen
Abdomen terlihat membesar, tidak ada bekas luka, terdapat linea negra
didaerah sekitar abdomen. Abdomen teraba kencang. Klien mengeluh
nyeri pada perut bawah menjalar sampai ke pinggang bawah. Nyeri seperti
diremas, nyeri jika terlalu banyak bergerak, nyeri dirasakan hilang timbul
5 menit. Nyeri berada pada skala 5 (sedang) dengan menggunakan
rentang skala 0-10, nyeri akan hilang jika dibawa beristirahat.
k. Pinggang
Klien mengeluh nyeri pada perut bawah menjalar sampai ke pinggang
bawah. Nyeri seperti diremas, nyeri jika terlalu banyak bergerak, nyeri
dirasakan hilang timbul 5 menit. Nyeri berada pada skala 5 (sedang)
dengan menggunakan rentang skala 0-10, nyeri akan hilang jika dibawa
beristirahat.
l. Ekstremitas
1) Ekstremitas atas
Ekstremitas atas klien terlihat simetris, tidak ada oedema pada tangan
dan jari, dan dapat digerakkan tanpa ada hambatan. Skala kekuatan
otot: 4 4 4 4 | 4 4 4 4
2) Ekstremitas bawah
Ekstremitas bawah klien terlihat agak bengkak karena klien jarang
bergerak. Klien ke poli kandungan menggunakan kursi roda. Skala
kekuatan otot: 4 4 4 4 | 4 4 4 4
m. Pemeriksaan obstetrik
1) Palpasi Uterus
a) TFU : pertengahan pusar-prx
b) Letak : normal
c) Presentasi : kepala
d) Punggung : kanan
e) Kontraksi : uterus teraba kencang
2) Auskultasi
Saat dilakukan pemeriksaan menggunakan doopler didapatkan DJJ
122x/menit dengan letak punggung disebelah kanan perut ibu.

4. Masalah keperawatan yang muncul


a. Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus
b. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri
d. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional (kehamilan)

5. Analisa data
No Data Problem Etiologi
1 DS : Nyeri Kontraksi uterus
- Klien mengatakan nyeri
- P: nyeri karena kontraksi uterus
- Q: nyeri seperti diremas
- R: nyeri pada perut bawah menjalar ke
pinggang belakang
- S: nyeri berada pada skala 5 (sedang)
DO :
1. Klien terlihat pucat
2. Wajah terlihat meringis
3. TTV:
TD: 90/70 mmHg
N: 90x/menit
R: 18x/menit
2 DS: klien mengatakan keluar darah Resiko kekurangan Perdarahan
melalui vagina, volume cairan
Faktor resiko:
1. Terjadi perdarahan pervagina
2. Darah yang keluar banyak seperti
darah haid.
3. Dalam sehari dapat mengganti
pembalut sebanyak 5 kali.
4. TD 90/70 mmHg
3 DS : Intoleransi aktivitas Nyeri
- Klien mengatakan tubuhnya terasa
lemah, klien tidak bisa banyak
bergerak karena akan terasa nyeri

DO :
1. Klien terlihat lemah
2. Klien terlihat menggunakan kursi
roda
3. Wajah terlihat pucat
4. DS: Klien terlihat cemas dan gelisah Ansietas Krisis situasional
karena kehamilannya saat ini, klien takut (kehamilan)
akan mengalami abortus lagi.

DO:
1. klien terlihat cemas
2. wajah klien terlihat tegang
3. wajah klien terlihat pucat
4. klien terlihat sering bertanya tentang
kehamilannya

6. Rencana Keperawatan
Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Nyeri Setelah dilakukan 1. Kaji karakteristik 1. Dapat
berhubungan tindakan keperawatan nyeri mengidentifikasi
dengan kontraksi diharapkan masalah 2. Observasi TTV terjadinya komplikasi
uterus nyeri dapat teratasi. 3. Atur posisi klien dan untuk intervensi
senyaman mungkin selanjutnya
Kriteria hasil: 4. Ajarkan teknik 2. Untuk mengetahui
1. Klien relaksasi dan distraksi keadaan umum klien
menyakatan nyeri 5. Kolaborasi dalam 3. Untuk mengurangi
berkurang/tidak pemberian analgetik nyeri
ada 4. Mengalihkan
2. Klien tidak perhatian diharapkan
meringis mampu mengurangi
3. Kontraksi uterus focus klien pada
berkurang/tidak nyeri yang
ada dirasakannya
5. Untuk mengurangi
nyeri
Risiko Setelah dilakukan 1. Pantau TTV 1. Untuk mengetahui
kekurangan tindakan keperawatan 2. Kaji perdarahan keadaan umum klien
volume cairan diharapkan risiko Vagina : warna, 2. Untuk
berhubungan kekurangan volume jumlah pembalut mengidentifikasi
dengan cairan tidak terjadi. yang digunakan, keadaan perdarahan
perdarahan derajat aliran dan 3. Untuk memperkuat
Kriteria hasil: banyaknya, kaji terjadinya devisit
1. TTV normal adanya gumpalan volume cairan
2. Klien menyatakan 3. Kaji adanya tanda-
darah yang keluar tanda dehidrasi
berkurang/tidak (gelisah, takikardia,
ada hipotensi,
3. Tidak ada tanda kepucatan, kulit
dehidrasi kering)

Intoleransi Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat 1. Untuk mengetahui


aktivitas tindakan keperawatan intoleransi klien tingkat aktivitas klien
berhubungan diharapkan masalah 2. Bantu klien untuk guna intervensi
dengan nyeri intoleransi aktivitas melakukan aktivitas seanjutnya
dapat teratasi. sehari-hari sesuai 2. Bantuan terhadap
dengan aktivitas klien dapat
Kriteria hasil: kemampuannya mempermudah
1. TTV normal 3. Anjurkan klien pemenuhan
2. Level kelemahan melakukan aktivitas kebutuhan klien
3. Energy yang ringan 3. Aktivitas yang ringan
psikomotor 4. Libarkan keluarga dapat membantu
untuk proses mengurangi energy
perawatan dan yang keluar
aktivitas klien 4. Keluarga memiliki
5. Anjurkan klien peranan penting
untuk istirahat yang dalam aktivitas
cukup sehari-hari klien
5. Istirahat yang cukup
dapat membantu
meminimalkan
pengeluaran energi
Ansietas Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat cemas 1. Untuk mengetahui
berhubungan tindakan keperawatan klien tingkat kecemasan
dengan krisis diharapkan masalah 2. Kaji penyebab klien guna
situasional ansietas dapat teratasi cemas klien mempermudah
(kehamilan) 3. Dorong klien pemberian intervensi
Criteria hasil: mengungkapkan selanjutnya
1. Cemas perasaannya 2. Untuk mempermudah
berkurang/tidak 4. Dengarkan dengan pemberian intervensi
ada penuh perhatian selanjutnya
2. Wajah klien 5. Jelaskan tentang 3. Untuk mengurangi
tampak rileks kondisi kehamilan cemas dan takut yang
3. Klien terlihat klien dirasakan klien
tenang 6. Anjurkan keluarga 4. Sebagai rasa caring
untuk memberikan pada klien dan untuk
semangat kepada menjalin hubungan
klien saling percaya
5. Diharapkan jika
pengetahuan klien
tentang kehamilannya
bertambah akan
mengurangi
kecemasan klien
6. Agar klien merasa
dirinya diperhatiakn
dan cemas akan
berkurang

8. Implementasi Keperawatan Dan Evaluasi


Hari/Tanggal/ Diagnosa
No Implementasi Evaluasi
Jam Keperawatan
1. Selasa, Nyeri 1. Mengkaji S : klien mengatakan masih
22 juni 2016 berhubungan karakteristik nyeri terasa nyeri
09.30 dengan - P: nyeri karena - P: nyeri karena kontraksi
kontraksi kontraksi uterus uterus
uterus - Q: nyeri seperti - Q: nyeri seperti diremas
diremas - R: nyeri pada perut bawah
- R: nyeri pada perut menjalar ke pinggang
bawah menjalar ke belakang
pinggang belakang - S: nyeri berada pada skala 5
- S: nyeri berada pada (sedang)
skala 5 (sedang)
2. Mengobservasi TTV O:
TD: 90/70 mmHg Klien terlihat meringis
N: 90x/menit Klien lebih nyaman dalam
R: 18x/menit posisi duduk
3. Mengatur posisi Klien mampu
klien senyaman mempraktikkan cara
mungkin melakukan teknik napas
Klien merasa nyaman dalam
dalam posisi duduk. TTV:
4. Mengajarkan teknik TD: 90/70 mmHg
napas dalam N: 90x/menit
Klien mampu R: 18x/menit
mempraktikkan cara
melakukan teknik napas A : masalah belum teratasi
dalam P : intervensi dilanjutkan
5. Berkolaborasi dalam dirumah
pemberian analgetik 1. atur posisi klien senyaman
mungkin
2. berkolaborasi dalam
pemberian analgetik
2. Selasa, Resiko 1. memantau TTV S: klien mengatakan masih
22 Juni 2016 kekurangan TD: 90/70 mmHg keluar darah melalui vagina,
09.45 volume N: 90x/menit darah yang keluar banyak
cairan R: 18x/menit seperti darah haid, dalam
berhubungan 2. Mengaji perdarahan sehari bisa mengganti
dengan vagina : warna, pembalut sebanyka 5 kali.
perdarahan jumlah pembalut
yang digunakan, O:
derajat aliran dan Klien terlihat gelisah
banyaknya, kaji Klien terlihat pucat
adanya gumpalan Klien menggunakan kursi
Klien mengatakn roda
darah yang keluar Klien terlihat lemah
banyak seperti darah Kulit kering
haid, dalam sehari TTV:
bisa mengganti TD: 90/70 mmHg
pembalut sebanyak 5 N: 90x/menit
kali. R: 18x/menit
3. Mengkaji adanya
tanda-tanda A: masalah belum teratasi
dehidrasi (gelisah,
takikardia, hipotensi, P: intervensi dilanjutkan
kepucatan, kulit
kering)
Klien terlihat gelisah,
pucat, hipotensi, kulit
kering
3. Selasa, Intoleransi 1. Mengkaji tingkat S: klien mengatakan badannya
22 juni 2016 aktivitas intoleransi klien terasa lemah, tidak dapat
09.55 berhubungan Klien mengatakan bergerak terlalu banyak karena
dengan nyeri tidak bisa terlalu akan terasa nyeri
banyak bergerak
karena akan terasa O:
nyeri Klien terlihat lemah
2. Menganjurkan klien Klien terlihat pucat
melakukan aktivitas
yang ringan A: Masalah belum teratasi
3. Menganjurkan
keluarga untuk P: Intervensi dilanjutkan
terlibat dalam proses 1. Anjurkan klien melakukan
perawatan dan aktivitas ringan
aktivitas klien 2. Anjurkan keluarga untuk
4. Menganjurkan klien terlibat dalam proses
untuk istirahat yang perawatan dan aktivitas
cukup klien
3. Anjurkan klien untuk
istirahat yang cukup

4. Selasa, Ansietas 1. Mengkaji tingkat S: klien mengatakan masih


22 juni 2016 berhubungan kecemasan klien merasa cemas dengan
10.05 dengan krisis Klien terlihat tegang kehamilannya saat ini
situasional dan takut
2. Mengkaji penyebab O :
kecemasan klien Klien terlihat tegang dan
Klien mengatakn takut
cemas dan takaut Klien terlihat seing
akan kehamilannya, bertanya tentang
klien takut akan kehamilannya
mengalami abortus Klien terlihat gelisah
lagi.
3. Mendorong klien A : Masalah belum teratasi
mengungkapkan
perasaannya P : Intervensi dilanjutkan
4. Mendengarkan klien 1. Dorong klien
dengan penuh mengungkapkan
perhatian perasaannya
5. Menjelaskan tentang 2. Anjurkan klien untuk
kondisi kehamilan memberikan semangat
klien saat ini kepada klien
6. Menganjurkan
keluarga untuk
memberikan
semnagat kepada
klien

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan vaginal pada setengah
awal kehamilan, biasanya terjadi perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman
bagi kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi ini kehamilan mungkin
berlanjut dan dipertahankan.

Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada


kehamilan sebelum 20 minggu dengan hasil konsepsi masih dalam uterus dan
viable, dan serviks tertutup.
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, menyebabkan kematian janin atau cacat,
penyebabnya antara lain:
1. Kelainan kromosom
2. Endometrium kurang sempurna,
3. Pengaruh eksternal, misalnya radiasi, virus, obat-obatan, dan sebagainya dapat
mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam
uterus, disebut teratogen.
4. Uterus terlalu cepat teregang (kehamilan ganda dan kehamilan mola)
g. Kelainan plasenta
h. Penyakit ibu
i. Kelainan traktus genitalisantagonis rhesus, darah ibu yang melalui plasenta
marusak darah fetus, sehingga terjadi anemia pada fetus yang berakibat
meninggalnya fetus.
j. Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkintraksi.

Adapun tanda gejala yang muncul adalah adanya perdarahan pada awal
kehamilan melalui ostium uteri eksternum, disertai nyeri perut ringan atau tidak
sama sekali. Adanya gejala nyeri perut dan punggung belakang yang semakin
hari bertambah buruk dengan atau tanpa kelemahan dan uterus membesar sesuai
usia kehamilan.

Cara mendiagnosa abortus imminens adalah sebagai berikut:


1. Tanda dan gejala abortus imminens
2. Pemeriksaan dalam: serviks tertutup, perdarahan dapat terlihat dari ostium,
tidak ada kelainan pada serviks, tidak terdapat nyeri goyang serviks atau
adneksa
3. Tes kehamilan positif, dan
4. Pemeriksaan USG terlihat janin masih hidup
Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah perdarahan, perforasi, infeksi,
syok, dan gagal ginjal akut.
1. Perdarahan
2. Perforasi
3. Infeksi
4. Syok

Pemeriksaan penunjang pada abortus imminens adalah:


a. Ultrasonografi (USG) Transvaginal Observasi Denyut Jantung Janin
b. Biokimia serum ibu: Kadar human chorionic gonadotropin(hCG) kuantitatif
serial

Pencegahan pada abortus imminens adalah:


1. Vitamin,
2. Antenatal care (ANC), disebut juga prenatalcare,
Efektivitas penatalaksanaan aktif untuk abortus imminens pada umumnya
terdiri atas:
1. Tirah Baring
2. Abstinensia
3. Progestogen
4. hCG (human chorionic gonadotropin)
5. Antibiotik hanya jika ada tanda Infeksi
6. Relaksan otot uterus
7. Profi laksis Rh (rhesus)

Abortus imminens merupakan salah satufaktor risiko keguguran, kelahiran


prematur, BBLR, perdarahan antepartum, KPD dan kematian perinatal.
Namun, tidak ditemukan kenaikan risiko bayi lahir cacat. Macam dan
lamanya perdarahan menentukan prognosis kehamilan. Prognosis menjadi
kurang baik bila perdarahan berlangsung lama, nyeri perut yang disertai
pendataran serta pembukaan serviks.

Rencana Asuhan Keperawatan


a. Diagnosa keperawatan
1. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional (kehamilan)
2. Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus
3. Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri
b. Intervensi
Diagnosa I: Ansietas berhubungan dengan krisis situasional (kehamilan)
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah
ansietas teratasi

Intervensi:
1. Kaji tingkat cemas klien
2. Kaji penyebab cemas klien
3. Dorong klien mengungkapkan perasaannya
4. Dengarkan dengan penuh perhatian
5. Jelaskan tentang kondisi kehamilan klien
6. Anjurkan keluarga untuk memberikan semangat kepada klien

Diagnose II: nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah nyeri
dapat teratasi.
Intervensi:
1. Kaji karakteristik nyeri
2. Observasi TTV
3. Atur posisi klien senyaman mungkin
4. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
5. Kolaborasi dalam pemberian analgetik

Diagnose III: resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan


perdarahan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko
kekurangan volume cairan tidak terjadi
Intervensi::
1. Kaji perdarahan pada pasien, setiap jam atau dalam masa pengawasan
2. Kaji perdarahan Vagina : warna, jumlah pembalut yang digunakan,
derajat aliran dan banyaknya, kaji adanya gumpalan
3. Kaji adanya tanda-tanda gelisah, taki kardia, hipertensi dan kepucatan
monitor nilai HB dan Hematokrit

Diagnose IV: intoleransi berhubungan dengan nyeri


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah
intoleransi aktivitas dapat teratasi
Intervensi:
1. Kaji tingkat intoleransi klien
2. Bantu klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan
kemampuannya
3. Anjurkan klien melakukan aktivitas yang ringan
4. Libarkan keluarga untuk proses perawatan dan aktivitas klien
5. Anjurkan klien untuk istirahat yang cukup
DAFTAR PUSTAKA

Amru, Sofian. 2012. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC

Bantuk, Hadijanto. 2008. Perdarahan Pada Kehamilan Muda In: Ilmu Kebidanan
Sarwono Prawiroharjo. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo

Chamberlain, Geofferey. 1994. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Jakarta : Widya


Medika

Chandranita, Ida Ayu. et all. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB.
Jakarta: EGC
Cunningham dkk. 2010.Obstetri Wlilliams. Jakarta: EGC

Doenges E, Marilynn. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. Kajarta : EGC

Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. 1984. Obstetri Patologi.


Bandung : Elstar Offset.

Fraser&Cooper.2009.Buku Ajar Bidan Myles. Jakarta : EGC

Hanifa.2007.Ilmu Kebidanan.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Heller, Luz 1991. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Jakarta : EGC

Ledewig. W. Patricia. 2005. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir.
Jakarta : EGC

Manumba, Ida Bagus. 1993. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi
Jakarta : EGC

Maulana, Mirza.2008.Penyakit Kehamilan dan Pengobatannya.Yogyakarta : Katahati


Wiknjosastro,

Mochtar, Rustam. Prof. DR. 1989. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Edisi I.
Jakarta : EGC

Oxorn, Harry. 1990. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan. Yayasan
Esentia Medika

Prawirohardjo, S. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawiroharjo

Prawiroharjo, Sarwono. 1976. Ilmu Kebidanan. Jakarta : yayasan Bina Pustaka

Sastrawinata et al. 2005. Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi. Jakarta:


EGC