Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA By.

D
DENGAN DIAGNOSA MEDIS GASTROENTRITIS
DI PUSKESMAS AMPENAN

OLEH:

ILHAM AL FATHUR
108 STYJ 16

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
MATARAM
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyakit diare atau gastroenteritis merupakan suatu penyakit penting
disekitar masyarakat yang masih merupakan sebab utama kesakitan dan
kematian seseorang terutama pada anak.Hal ini tercemin banyak orang yang
menderita penyakit diare atau gastroenteritis yang masuk keluar dari Rumah
Sakit.Akibat dari penyakit diare banyak faktor diantaranya kesehatan
lingkungan, higene perorangan, keadaan gizi,faktor sosial ekonomi,
menentukan serangan penyakit diare, walaupun banyak kasus diare yang
mengalami dehidrasi namun banyak yang meninggal bila tidak dilakukan
tindakan-tindakan yang tepat. Masyarakat pada umumnya selalu menganggap
suatu hal penyakit diare adalah sepele, sedangkan jika mengetahui yang terjadi
sebenarnya banyak penderita diare yang mengalami kematian. Penyakit
gastrointeritis merupakan penyakit yang harus sege ra ditangani karena dapat
mengalami dehidrasi berat yang mengakibatkan syok hipovolemik dan
mengalami kematian.
Masalah pada penyakit gastrointeritis atau diare yang dapat
mengakibatkan kematian berupa komplikasi lain dan masalah lain yang
berkaitan dengan diare belum sepenuhnya ditanggulangi secara memadai,
namun berbagai peran untuk mencegah kematian yang berupa komplikasi dan
masalah lain seperti pelayanan kesehatan yang baik dan terpenuhi, dalam
mencegah penyakit diare dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada
semua warga masyarakat tentang penyakit gastroenteriritis serta peran
keluarga dan warga sekitarnya sangat mendorong turunnya terjadinya penyakit
gastroenteritis karena dari keluargalah pola hidup seseorang terbentuk.
Dengan pola hidup yang sehat dan bersih dapat mencegah terjadinya penyakit
gastrointeritis.
Maka dari itu muncul gagasan untuk mengurangi agar tidak muncul
penderita gastroenteritis dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada
masyarakat luas dan dari latar belakang tersebut penyusun mengambil kasus
tersebut sebagai penyusunan makalah keperawatan medikal bedah dengan
judul gastroenteritis

B. TUJUAN
Untuk mengetahui senua tentang penyakit gastroenteritis beserta askepnya
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Gastroenteritis adalah keadaan dimana frekuensi buang air besar lebih
dari 4 kali pada bayi dan lebih 3 kali pada anak dengan konsistensi feses
encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah/lendir
saja (Sudoyo, 2005). Istilah gastroenteritis digunakan secara luas untuk
menguraikan pasien yang mengalami perkembangan diare dan/ atau munmtah
akut. Istilah ini menjadi acuan bahwa terjadi proses inflamasi dalam lambung
dan usus.
Gastroenteritis (diare akut) adalah inflamasi lambung dan usus yang
disebabkan oleh berbagai bakteri, virus, dan pathogen parasitic. Diare adalah
defekasi yang tidak normal baik frekuensi maupun konsistensinya, frekuensi
diare lebih dari 4 kali sehari.

B. Anatomi fisiologi
Saluran gastrointestinal yang berjalan dari mulut melalui esofagus,
lambung dan usus sampai anus. Esofagus terletak di mediastinum rongga
torakal, anterior terhadap tulang punggung dan posterior terhadap trakea dan
jantung. Selang yang dapat mengempis ini, yang panjangnya kira-kira 25 cm
(10 inchi) menjadi distensi bila makanan melewatinya. Bagian sisa dari
saluran gastrointestinal terletak di dalam rongga peritoneal. Lambung
ditempatkan dibagian atas abdomen sebelah kiri dari garis tengah tubuh, tepat
di bawah diafragma kiri. Lambung adalah suatu kantung yang dapat
berdistensi dengan kapasitas kira-kira 1500 ml. Lambung dapat dibagi ke
dalam empat bagian anatomis, kardia, fundus, korpus dan pilorus.
Usus halus adalah segmen paling panjang dari saluran gastrointestinal,
yang jumlah panjangnya kira-kira dua pertiga dari panjang total saluran.
Untuk sekresi dan absorbsi, usus halus dibagi dalam 3 bagian yaitu bagian atas
disebut duodenum, bagian tengah disebut yeyunum, bagian bawah disebut
ileum. Pertemuan antara usus halus dan usus besar terletak dibagian bawah
kanan duodenum. Ini disebut sekum pada pertemuan ini yaitu katup ileosekal.
Yang berfungsi untuk mengontrol isi usus ke dalam usus besar, dan mencegah
refluks bakteri ke dalam usus halus. Pada tempat ini terdapat apendiks
veriformis. Usus besar terdiri dari segmen asenden pada sisi kanan abdomen,
segmen transversum yang memanjang dari abdomen atas kanan ke kiri dan
segmen desenden pada sisi kiri abdomen. Yang mana fungsinya mengabsorbsi
air dan elektrolit yang sudah hampir lengkap pada kolon. Bagian ujung dari
usus besar terdiri dua bagian. Kolon sigmoid dan rektum kolon sigmoid
berfungsi menampung massa faeces yang sudah dehidrasi sampai defekasi
berlangsung. Kolon mengabsorbsi sekitar 600 ml air perhari sedangkan usus
halus mengabsorbsi sekitar 8000 ml kapasitas absorbsi usus besar adalah 2000
ml perhari. Rektum berlanjut pada anus, jalan keluar anal diatur oleh jaringan
otot lurik yang membentuk baik sfingter internal dan eksternal.

C. Etiologi
a. Faktor infeksi
1) Infeksi internal, yaitu saluran pencernaan yang merupakan penyebab
utama diare. Pada sat ini telah dapat diidentifikasi tidak kurang dari 25
jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada anak dan
bayi. Penyebab itu dapat digolongkan lagi kedalam penyakit yang
ditimbulkan adanya virus, bakteri, dan parasit usus. Penyebab utama
oleh virus yang terutama ialah rotavirus (40-60%) sedangkan virus
lainnya ialah virus Norwalk, astrovirus, calcivirus, coronavirus,
minirotavirus dan virus bulat kecil. Bakteri-bakteri yang dapat
menyebabkan penyakit itu adalah aeromonashidrophilia, bacillus
cereus, campylobacter jejuni, clostridium defficile, clostridium
perfringens, E, coli, plesiomonas, shigelloides, salmonella spp,
staphylococcus aureus, vibrio cholerae, dan yersinia enterocolitica.
Sedangkan penyebab gastroenteritis (diare akut) oleh parasit adalah
balantidium coli, capillaria philippinensis, cryptosporidium, entamoeba
histolitica, giarsia lamblia, isospora billi, fasiolapsis buski, sarcocystis
suihominis, strongiloides stercoralis, dan trichuris trichuria.
2) Bakteri penyebab gastroenteritis (diare akut) dibagi dalam dua
golongan besar, ialah bvakteri non invasive dan bakteri invasive. Yang
termauk dalam golongan bakteri non invasive adalah : vibrio cholera,
E. coli pathogen (EPEC,ETEC,EIEC). Sedangkan golongan bakteri
invasiv adalah salmonella spp, shigella spp, E. coli infasif (EIEC), E.
coli hemorrhagic (EHEC) dan camphylobcter. Diare karena bakteri
invasive dan non ihnvasiv terjadi melalui suatu mekanisme yang
berhubungan dengan pengaturan transport ion di dalam sel-sel usus
berikut ini : cAMP (cyclic adenosine monophospate), cGMP (cyclic
guaniosin monophospate), Ca-dependent dan pengaturan ulang
sitoskeleton.
3) Infeksi parenteral, yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat
pencernaan seperti : otitis media akut tonsilopharingitis, dan
sebagainya.

D. Manifestasi klinis
a. Nyeri perut (abdominal discomfort)
b. Rasa perih di ulu hati
c. Mual, kadang-kadang sampai muntah
d. Nafsu makan berkurang
e. Rasa lekas kenyang
f. Perut kembung
g. Rasa panas di dada dan perut
h. Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba)

E. Patofisiologi
Penyebab gastroenteritis terdiri dari faktor infeksi, faktor malabsorbsi,
faktor makanan, dan faktor psikologis. Pertama, faktor infeksi akan
mengalami reaksi inflamasi sehingga terjadi peningkatan sekresi cairan dan
elektrolit yang menyebabkan isi rongga usus meningkat. Kedua, faktor
malabsorbsi makanan di usus menyebabkan tekanan osmotik meningkat dan
terjadi pergeseran cairan & elektrolit ke usus, sehingga juga meneybabkan isi
rongga usus meningkat. Ketiga faktor makanan, dimana faktor makanan disini
adlah makanan yang beracun, basi maupun alergi terhadap makanan dimana
hal ini akan menyebabkan gangguan motilitas usus. Keempat, faktor
psikologis (cemas atau rasa takut yag berlebih) yang menyebabkan adanya
rangsangan simpatis dan juga terjadi gangguan motilitas usus. Gangguan
motilitas usus terbagi menjadi 2, yaitu hipermotilitas dan hipomotilitas.
Hipermotilitas akan menyebabkan terjadinya peningkatan sekresi air &
elektrolit, sedangkan hipomotilitas akan menyebabkan adanya pertumbuhan
bakteri. Terjadinya peningkatan di isi rongga usus, sekresi air dan elektrolit,
serta adanya pertumbuhan bakteri menyebabkan terjadi penyakit
gastroenteritis.
Gastroenteritis memiliki gejala dehidrasi yaitu kehilangan cairan &
elektrolit tubuh dimana pada saat itu terjadi penurunan volume cairan ekstra
sel dan juga terjadi penurunan cairan interstesial yang menyebabkan turgor
kulit menurun, maka dalam hal ini timbul masalah yaitunya kekurangan
volume cairan dan cemas pada kliennya. Gejala yang kedua yaitu kerusakan
mukosa usus yang menyebabkan si penderita merasakan nyeri. Gejala yang
ketiga adalah sering terjadinya defekasi yang menyebabkan terjadi resiko
kerusakan integritas kulit. Gejala selanjutnya adalah terjadinya peningkatan
eksresi sedangakan asupan nutrisi tidak terpenuhi, pada hal terjadi
ketidakseimbangan nutrisi.
F. Pathway
Factor infeksi f. melabsorbsi f.makanan f.Psikologi
KH,lemak,protein
Masuk dan
Berkembang dalam tekanan osmosis toksin tak Cemas
Usus dapat diserap

Hipersekresi air pergeseran air & Hiperperstaltik


Dan elektrolit elektrolit kerongga
Usus

GASTROENTRITIS

Frek. BAB meningkat distensi abdomen

Kehilangan cairan & elektrolit Mual muntah


Berlebihan
Nafsu makan

Gangguan keseimbangan nutrisi


Nutrisikurang
kurang
Kerusakan
integritas Dari
Dari kebutuhan
kebutuhan
Deficit volume
Deficit volume
Cairan
cairan

MRS
MRS

Hospitalisasi Family Centre Problem

Tindakan Perpisahan lingkungan Kurang situasi


Infasif baru informasi krisis

Nyeri injuri cemas,ggn


Cemas,ggn
cemas
cemas kurang
Kurang Cemas
Cemas
Nyeri
injuri Fungsi
fungsi peran pengetahuan
pengetahuan
peran
G. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan Tinja
- Makroskopis dan mikroskopis
- PH dan kadar gula dengan tinja dengan kertas lakmus dan tablet
clinitest bila -- diduga terdapat intoleransi gula.
- Bila perlu lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.
b. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah dengan
menentukan
c. PH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan analisa
gas darah menurut ASTRUP (bila memungkinkan).
d. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal
e. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium dan fosfor
dalam serum (terutama pada penderita diare yang disertai kejang).
f. Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau
parasit secara kualitatif dan kuantitatif terutama dilakukan pada penderita
diare kronik (Rusepno, 2002 : 286).

H. Komplikasi
a. Dehidrasi
b. Renjatan hipovolemik
c. Kejang
d. Bakterimia
e. Mal nutrisi
f. Hipoglikemia
g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.

I. Penatalaksanaan
Ketiga dasar pengobatan tersebut dijelaskan sebagai berikut :
a. Pemberian cairan pada pasien diare dengan memperhatikan derajat
dehidrasinya dan keadaan umum.
Jenis cairan
1) Cairan peroral :
Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang atau tanpa dehidrasi
dan bila anak mau minum serta kesadaran baik diberikan peroral
berupa cairan yang berisi NaCl dan NaHCO3, KCI dan glukosa.
Formula lengkap sering disebut juga oralit. Cairan sederhana yang
dapat dibuat sendiri (formula tidak lengkap)hanya mengandung garam
dan gula (NaCl dan sukrosa), atau air tajin yang diberi garam dan gula
untuk pengobatan sementara sebelum di bawah berobat ke rumah sakit
pelayanan kesehatan untuk mencegah dehidrasi lebih jauh.
2) Cairan parenteral :
a) Belum ada dehidrasi
Peroral sebanyak anak mau minum atau 1 gelas tiap defekasi.
b) Dehidrasi ringan
1 jam pertama : 25 50 ml/kg BB per oral (intragastrik).
Selanjutnya : 125 ml/kg BB /hari.
c) Dehidrasi sedang
1 jam pertama : 50 100 ml/kg BB peroral /intragastrik (sonde).
Selanjutnya ; 125 ml/kg BB/hari.
d) Dehidrasi berat
(1) Untuk anak umur 1 bulan 2 tahun, berat badan 3 10 kg.
yaitu 1 jam pertama : 40 ml/kg BB / jam = 10 tetes / kg BB
/menit (set infus berukuran 1 ml = 15 tetes) atau 13 tetes / kg
BB /menit (set infus 1 ml : 20 tetes). 7 jam berikutnya : 12 ml
/kg BB/jam = 33 tetes / kg BB/ m atau 4 tetes / kg BB/menit.
16 jam berikutnya : 125 ml/kg BB oralit peroral atau
intragastrik. Bila anak tidak mau minum, teruskan dengan
intravena 2 tetes/.kg BB/menit atau 3 tetes/kgBB/menit
(2) Untuk anak lebih dari 25 tahun dengan BB 10 15 kg :
1 jam pertama : 30 ml /kg BB/jam = 8 tetes/kgBB/menit. atau
10 tetes/kgBB/menit.
7 jam berikutnya : 10 ml /kg BB /jam = 3 tetes/kgBB/ menit.
atau 4 tetes/kgBB/menit.
16 jam berikutnya : 125 ml /kg BB oralit peroral atau
intragastrik. Bila anak tidak mau minum dapat diteruskan
dengan DG aa intravena 2 tetes/kgBB/m, atau 3 tetes/ kgBB/m.
(3) Untuk bayi baru lahir (neonatus) dengan BB 2 3 kg.
Kebutuhan cairan : 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml /kg bb
/24 jam. Jenis cairan 4 : 1 (4 bagian glukosa 5 % + 1 bagian
NaHCO3 1 %) dengan kecepatan 4 jam pertama = 25 ml / kg
BB /jam atau 6 tetes/kgBB/menit., 8 tetes/kgBB/ menit. 20 jam
berikutnya 150 ml /kg BB /20 jam = 2 tetes/kgBB/ menit. atau 2
tetes/kgBB/menit.
b. Pengobatan dietetik
Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan BB
kurang dari 7 kg jenis makanan :
1) Susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan
asam lemak tak jenuh).
2) Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim).
3) Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan.
Cara memberikannya :
1) Hari pertama : setelah dehidrasi segera diberikan makanan peroral.
Bila diberi ASI/susu formula tapi masih diare diberikan oralit selang-
seling.
2) Hari kedua keempat : ASI /susu formula rendah laktosa penuh.
3) Hari kelima : bila tidak ada kelainan pasien dipulangkan. Kembali susu
atau makanan biasa.
c. Obat-obatan
1) Obat anti sekresi : dosis 25 mg /tahun dengan dosis minimum 30 mg.
Klorpromazin dosis 0,5 1 mg /kg bb /hari.
2) Obat spasmolitik.
3) Antibiotik (Ngastiyah, 1997).
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Keluhan Utama
Klien biasanya mengalami penurunan berat badan dehidrasi, BAB
lebih dari 3 kali sehari.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien masuk rumah sakit dengan keluhan berat badan
menurun dari biasanya, nafas cepat, mudah letih dan sakit kepala.
Klien juga tidak mau makan, nyeri dada, cepat kenyang, nyeri
abdomen, mual dan muntah, serta feses yang encer.
c. Riwayat Kesehatan Terdahulu
Biasanaya klien mengatakan sering jajan disembarang tempat sehingga
kebersihannya tidak terjaga.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada keluarga klien yang menderita penyakit yang sama.
e. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
1) Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik (anatomi)
dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau seluruhnya karena
adanya multiflikasi (bertambah banyak) sel-sel tubuh dan juga
karena bertambahnya sel, yang meliputi : berat badan, panjang
badan, lingkar kepala, lingkar lengan dan lain-lain. (Nursalam,
2008).
Rumus menghitung berat badan dan tinggi badan anak ;
Berat badan Berat Badan Ideal (BBI) :
a) BBI untuk bayi (anak 0-12 bulan)
BBI = (umur (bulan) / 2) + 4
b) BBI untuk anak (1-10 tahun)
BBI = (umur (tahun) x 2 ) + 8
2) Perkembangan
Perkembangan merupakan psiko-fisik sebagai hasil dari
pematangan fungsi diri anak yang meliputi : motorik kasar,
motorik halus, sosialisasi dan perkembangan bahasa. Adapun
skema praktis perkembangan mental anak balita yang disebut skala
Yaumil Mimmi ( Nursalam, 2008) :
a) Lahir sampai 3 bulan
Belajar mengangkat kepala, belajar mengikuti objek dengan
matanya. Melihat kemuka orang dengan tersenyum, bereaksi
terhadap suara, mengenal ibunya dengan penglihatan,
penciuman, pendengarn dan kontak. Menahan barang yang
dipegangnya, mengoceh spontan atau bereaksi dengan
mengoceh
b) 3 - 6 bulan
Mengangkat kepala 900 dan mengangkat dada dengan
bertopang tangan mulai belajar meraih benda-benda yang ada
dalam jangkauannya/diluar jangkauannya. Menaruh benda-
benda dimulutnya berusaha memperluas lapang
pandang.Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak
bermain mulai berusaha mencari benda-benda yang hilang.
c) 6 9 bulan
Dapat duduk tanpa bantuan, dapat tengkurap dengan berbalik
sendiri. Dapat merangkak meraih benda atau mendekati
seseorang. Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan
yang lain, bergembira dengan melempar benda, mengenal
muka anggota keluarga dan takut pada orang asing.
d) 9 12 bulan
Dapat berdiri sendiri tanpa dibantu, dapat berjalan tanpa
dituntun, menimbulkan suara mengulangi bunyi yang
didengarnya, belajar mengatakan satu atau dua kata, mengerti
perintah sederhana, memperhatikan minat yang besar dalam
mengekplorasi sekitarnya, memasukkan benda kedalam
mulutnya, berpartisipasi dalam permainan.
e) 12 18 bulan
berjalan dengan mengekplorasi rumah serta sekitarnya,
menyusun dua sampai tiga kata, dapat mengatakan lima
sampai sepuluh kata, memperlihatkan rasa cemburu dan
bersaing.
f) 18 24 bulan
Naik turun tangga, menyusun enam kotak menunjukkan mata
dan hidungnya menyusun dua kata, belajar makan sendiri,
menggambar garis dikertas atau pasir, mulai belajar mengontrol
buang air kecil, manaruh minat pada apa yang dikerjakan orang
lain yang lebih besar, minat bermain bersama teman-temannya.
g) 2 3 tahun
Belajar loncat, memanjat, melompat dengan satu kaki,
membuat jembatan dengan tiga kotak, mampu menyusun
kalimat, mempergunakan kata-kata saya, bertanya mengganti
kata-kata yang ditunjukkan kepadanya. Menggambar
lingkungan bermain bersama dengan anak yang lain.
h) 3 4 tahun
Berjalan jalan sendiri mengunjungi tetangga, berjalan pada jari
kaki, belajar berpakaian, menggambar garis silang,
menggambar orang hanya kepala dan badan, mengenal 2
sampai 3 warna, berbicara dengan baik, menyebut namanya,
jenis kelamin dan umur, banyak bertanya.
i) 4 5 tahun
Melompat dan menari, menggambar orang berdiri dari kepala
lengan badan, pandai bicara, dapat menghitung jari-jarinya,
mendengar dan mengulang hal-hal yang penting. Minat pada
data baru menaruh minat pada aktivitas orang dewasa.
f. Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon
1) Pola Persepsi Manajemen Kesehatan
Biasanya klien tidak mengetahui penyebab penyakitnya,
Kebersihan klien sehari-sehari kurang baik.
2) Pola Nutrisi Metabolik
Klien mengalami penurunan berat badan.
3) Pola Eliminasi
Biasanya klien BAB lebih dari 4 kali sehari, dan BAK jarang.
4) Pola Latihan dan Aktivitas
Biasanya klien mengalami gangguan aktivitas karena kondisi
tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen,
aktivitas klien dibantu keluarga/ orang lain.
5) Pola Istirahat dan Tidur
Biasanya klien mengalami gangguan istirahat dan tidur karena
adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak
nyaman.
6) Pola Persepsi dan Kognitif
Biasanya klien masih dapat menerima informasi namun kurang
berkonsentrasi karena nyeri pada abdomennya.
7) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Biasanya klien mengalami gangguan konsep diri karena
kebutuhan fisiologisnya terganggu sehingga aktualisasi diri tidak
tercapai pada fase sakit.
8) Pola Peran dan Hubungan
Biasanya klien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga
dan peran klien pada kehidupan sehari-hari mengalami gangguan
(ex: tidak dapat menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga).
9) Pola Seksual Reproduksi
Biasanya klien mengalami gangguan seksual- reproduksi (ex:
tidak teraturnya siklus menstruasi).
10) Pola Koping Toleransi Stress
Biasanya klien mengalami kecemasan yang berangsur-angsur
dapat menjadi pencetus stress.
11) Pola Nilai & Kepercayaan
Biasanya klien tidak dapat melaksanakan sholat seperti biasanya
Karena posisi klien dalam keadaan tirah baring.
g. Pemerikasaan fisik.
1) Pemeriksaan psikologis :
Keadaan umum tampak lemah, kesadarancomposmentis sampai
koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan agak
cepat
2) Pemeriksaan sistematik :
a) Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir,
mulut dan bibir kering, berat badan menurun, anus
kemerahan.
b) Perkusi : adanya distensi abdomen.
c) Palpasi : Turgor kulit kurang elastis
d) Auskultasi : terdengarnya bising usus.
3) Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang.
Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak
dehidrasi sehingga berat badan menurun.
4) Pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation yaitu
untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan yang nyata dan
masalah kesehatan yang potensial (pada individu, keluarga, kelmpok)
dimana perawat dapat secara sah dan mandiri menanganinya dalam bentuk
tindakan keperawatan yang ditujukan untuk mencegah, mengatasi, atau
mengurangi masalah tersebut ( Dongoes, 2010)
a. Analisa data
Data yang dikumpulkan harus dianalisa untuk menentukan masalah
klien. Adapun analisa data pada gastroenteritis adalah sebagai berikut :
No Symptom Etiologi Problem
1. Ds : Frekuensi BAB Defisit volume
a. Biasanya ibu klien meningkat Cairan
mengatakan anaknya
BAB lebih dari 6x Kehilangan cairan
Do :
a. Turgor kulit jelek Deficit volume
b. Nadi meningkat cairan
c. Suhu meningkat
d. Nafas cepat

2. Ds : Distensi abdomen Pemenuhan nutrisi


a. Biasanya ibu klien kurang dari
mengatakan anaknya Mual muntah kebutuhan tubuh
tidak nafsu makan
Nafsu makan
menurun
Do :
BB menurun
a. Nafsu makan
menurun
Nutrisi kurang dari
b. BB menurun kebutuhan
c. Sering haus
d. Bibir kering
3. Ds : Frekuensi BAB Gangguan
a. Biasanya ibu meningkat integritas kulit
mengeluh anaknya
sering menangis dan
rewel Iritasi kulit
Do :
a. Anak sering Ggn integritas kulit
menangis
b. Anak cengeng
c. Anus merah dan
lecet
4. Ds : Kurang informasi Kurang
a. Biasanya ibu pengetahuan
mengatakan tidak Kurang pengetahuan
mengetahui tentang
penyakit anaknya

Do :
a. Tidak mengetahui
tanda dan gejala
b. Tidak mengetahui
komplikasi
5. Ds : Hospitalisasi Kecemasan/ketakut
a. Biasanya ibu an pada anak
mengatakan anaknya Lingkungan baru
gelisah
Cemas
Do :
a. Anak tampak gelisah
b. Sering menangis
b. Rumusan Diagnosa Keperawatan
1) Deficit volume cairan berhubungan dengan frekuensi BAB
meningkat ditandai dengan : turgor kulit jelek, nadi meningkat,
nafas cepat
2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan distensi abdomen ditandai dengan : nafsu makan menurun,
BB menurun, sering haus
3) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan frekuensi BAB
meningkta ditandai dengan : anak sering menangis, anak cengeng,
anus merah dan lecet
4) Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurang
informasi tentang kesehatan ditandai dengan : ibu tidak mengetahui
tentang penyakit anaknya, tidak mengetahui tanda dan gejala, tidak
mengetahui komplikasi
5) Kecemasan/ketakutan berhubungan dengan hospitalisasi ditandai
dengan : anak gelisah, sering menangis.
3. Intervensi Keperawatan
Hari/ No Tujuan dan criteria
Intervensi Rasional
tanggal Dx hasil
1 Setelah dilakukan a. Catat intake dan a. Dapat mengetahui
tindakan keperawatan output cairan cairan yang masuk
selama x24 jam dan keluar
diharapkan kebutuhan b. Berikan oralit b. Koreksi kekurangan
cairan dapat teratasi setiap kali cairan
dengan criteria hasil : mencret
a. Turgor kulit c. Periksa ttv : nadi, c. Mengetahui
membaik respirasi, suhu perkembangan
b. Jumlah cairan yang penyakit klien
masuk seimbang d. Periksa turgor : d. Deteksi dini
dengan yang keluar kulit, tonus, ubun- kekurangan cairan
c. Membrane mukosa ubun
lembab e. Control berat jenis e. Mengetahui berat
d. TTV dalam batas urin tiap jam jenis urin yang
normal tinggi, cairan kurang
f. Timbang BB f. Indicator dari status
setiap hari gizi
2 Setelah dilakukan a. Berikan a. Anak dapat
tindakan keperawatan penjelasan kooperatif
selama x24 jam tentang
diharapkan kebutuhan pentingnya
nutrisi teratasi dengan nutrisi bagi
criteria hasil : proses
a. Peningkatan BB penyembuhan
status gizi b. Berikan makanan b. Meningkatkan nafsu
membaik sesuai sesuai dengan diit makan
dengan standar c. Hindari makanan c. Mencegah terjadinya
b.Bising usus yang dapat komplikasi
normal ( 45-20 mengiritasi
kali/menit ) mukosa lambung
c. Nafsu makan dan susu
meningkat d. Jaga kebersihan d. Mencegah mulut
mulut kering
e. Timbang BB e. Mengetahui
setiap hari peningkatan BB dari
kebersihan
3 setelah dilakukan a. Bersihkan dengan a. Menghindarkan
tindakan keperawatan air sabun setiap kontak dengan feses
selama x24 jam kali selesai
diharapkan gangguan mencret biarkan
integritas kulit dapat daerah infeksi
teratasi dengan criteria terbuka
hasil : b. Berikan salep b. Mempercepat
a. Kulit menjadi pelumas atau pengeringan
normal bedak daerah
b. Tidak merah rectum dan
c. Tidak ada infeksi perineum
c. Ajarkan kepada c. Agar merasa nyaman
keluarga untuk
menjaga
kebersihan atau
tempat tidur yang
halus, ganti tiap
2-3 hari sekali
atau sesering
mungkin saat
kotor
4 Setelah dilakukan a. Berikan a. Untuk mengetahui
tindakan keperawatan penjelasan perkembangan
selama x24jam tentang masalah penyakit
diharapkan yang kurang gastroenteritis
pengetahuan keluarga dipahami atau
tentang penyakit yang tidak dimengerti
dialami klien khususnya
meningkat dengan masalah
criteria hasil : gastroenteritis
a. Keluarga tahu b. Anjurkan untuk b. Untuk mendapatkan
bagaimana mengatasi pengobatan
memberikan gastroenteritis
pertolongan pertama khususnya dalam
pada klien dirumah penanganannya
sebelum dibawa c. Ajarkan kepada c. Agar dapat proses
ketempat pelayanan orang tua cara penyembuhan
kesehatan membuat oralit
b. Keluarga tahu d. Ajarkan tentang
d. Kebersihan
bagaimana menjaga personal hygiene,
lingkungan
kebersihan untuk lingkungan merupakan factor
menghindari rumah pencetus dari
terjadinya penyakit gastroenteritis
gastroenteritis e. Jelaskan tentang e. Dapat mendeteksi
penyakit secara dini dengan
gastroentritis kemungkinan
penyakit sehingga
dapat meberikan
pertolongan dengan
cepat pada klien
dirumah
5 Setelah dilakukan a. Sediakan a. Untuk mengurangi
tindakan keperawatan minuman sesuai rasa cemas pada anak
selama x24 jam dengan usia
diharapkan klien pertumbuhan dan
mampu beradaptasi perkembangan
dan tidak cemas lagi dalam melakukan
dengan criteria hasil : tindakan
a. Klien tidak rewel pengobatan
lagi b. Mengizinkan b. Agar anak tidak takut
b. Klien tidak kepada anak dengan alat-alat
menangis waktu untuk memegang medis dirumah sakit
diperiksa alat-alat selama
dalam kategori
dapat dipegang
dan tidak
berbahaya
c. Mengobservasi c. Mengurangi tingkat
perubahan tanda kecemasan
kecemasan
seperti ungkapan
perasaan, gelisah
d. Libatkan d. Orangtua mampu
orangtua saat memberikan
melakukan dukungan psikologis
tindakan untuk anak
e. Anjurkan e. Mengurangi resiko
keluarga untuk terjadi kecelakaan
selalu menjaga pada anak
anak

4. Tindakan keperawatan
Implementasi adalah pelaksanaan dari rencana intervensi untuk
mencapai tujuan yang spesifik. Tahap implementasi dimulai setelah
rencana intervensi disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk
membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu,
rencana intervensi yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi factor-
faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien.( Hidayat,2009)
Tujuan dari implementasi adalah membantu klien dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan, dan memfasilitasi koping.
Perencanaan asuhan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik,
jika klien mempunyai keinginan untuk berpartisitipasi dalam implementasi
asuhan keperawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien. semua
intervensi keperawatan didokumentasikan kedalam format yang telah
ditetapkan oleh instansi. ( Hidayat, 2009)
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir proses keperawatan adalah
suatu tindakan untuk melihat sejauh mana keberhasilan yang dicapai dari
tujuan yang telah dibuat. Evaluasi merupakan aspek yang penting dari
proses keperawatan karena kesimpulan yang didapat dari evaluasi
menentukan apakah intervensi dihentikan, dilanjutkan atau diubah.
Tolak ukur yang digunakan untuk menilai pencapaian tujuan pada
tahap evaluasi ini adalah criteria yang telah dibuat pada tahap
perencanaan. Berpatokan pada sebagian atau belum sama sekali atau justru
timbul masalah baru. Selanjutnya perkembangan respon klien dituangkan
dalam catatan perkembangan klien dan duraikan berdasarkan urutan
SOAP.
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Gastroenteritis adalah keadaan dimana frekuensi buang air besar lebih
dari 4 kali pada bayi dan lebih 3 kali pada anak dengan konsistensi feses
encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah/lendir
saja (Sudoyo, 2005). Istilah gastroenteritis digunakan secara luas untuk
menguraikan pasien yang mengalami perkembangan diare dan/ atau munmtah
akut. Istilah ini menjadi acuan bahwa terjadi proses inflamasi dalam lambung
dan usus.

B. SARAN
Saran dari para pembaca sebagai masukan sangat diperlukan untuk
perbaikan bagi penulis, diharapkan penulis mampu membuat karya tulisanya
lagi lebih baik dimasa yang akan datang
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, I.J, 2001, Buku Saku Diagnosa Keperawatan Monica Ester, SKP, Edisi
8, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Rusepno, 2002, Daftar Obat di Indonesia, Edisi 10, Grafidian Medipress

Hidayat, dkk, 2009. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 5, EGC, Jakarta

Ngastiyah, 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta; EGC.

Sudoyo, W. Aru, dkk. 2006. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2 Edisi IV. Pusat
Penerbitan Departemen Penyakit Dalam FKUI : Jakarta
Doenges., dkk. (1999). Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien (M. Kariasa & N.

M. Sumarwati, Terj.). Edisi 3. Jakarta: EGC. (Naskah asli dipublikasikan pada


tahun 1993)

Sudoyo, W. Aru, dkk., Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2 Edisi IV, Pusat Penerbitan
Departemen Penyakit Dalam FKUI, Jakarta 2006.