Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Tanaman merupakan sumber kekayaan yang potensial di Indonesia.
Salah satu manfaat yang dapat diambil dari tanaman adalah khasiat
sebagai obat dari bagian tanaman seperti daun, bunga, biji atau buah,
kulit pohon dan akar. Penelitian tentang aplikasi tanaman obat di
Indonesia masih sangat terbatas dibandingkan negara lain. Sebagian
besar masyarakat mengenal bentuk racikan obat yang berasal dari
tanaman sebagai jamu (Gholib, 2009). Salah satu contoh tanaman yang
dapat dimanfaatkan yaitu kencur.
Bagian tanaman kencur yang dimanfaatkan adalah rimpangnya.
Kencur (Kaempferia galanga L.) termasuk dalam kelas monocotyledonae,
bangsa Zingiberales, suku Zingiberaceae dan marga Kaempferia.
Rimpang kencur telah dikenal luas dimasyarakat baik sebagai bumbu
makanan maupun untuk pengobatan, diantaranya untuk mengobati batuk,
mual, bengkak, bisul dan antitoksin seperti dalam kasus keracunan tempe
bongkrek dan jamur. Selain itu, minuman beras kencur berkhasiat untuk
menambah daya tahan tubuh, menghilangkan masuk angin dan
kelelahan; dengan dicampur minyak kelapa, dapat digunakan untuk
mengurut kaki yang keseleo atau mengencangkan urat kaki.
Percobaan tentang kencur telah banyak dilakukan untuk
membuktikan manfaat penggunaan kencur secara empiris dan untuk
megetahui komponen atau zat aktif yang terkandung didalamnya.
Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan, kencur memiliki
aktivitas antiinflamasi serta memiliki daya hambat terhadap Trichophyton
mentagrophytes dan Cryptococcus neoformans jamur penyebab penyakit
kurap pada kulit dan penyakit paru. Komponen senyawa yang terdapat di
dalamnya antara lain flavonoid, polifenol, tanin, steroid, dan minyak atsiri

1
Oleh karena itu percobaan ini dilakukan untuk mengetahui
kompenen senyawa yang terdapat pada rimpang kencur.

I.2 Tujuan Praktikum


Praktikum ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui dan memahami proses ekstraksi pada simplisia rimpang
kencur (Kaempferia galanga L.)
2. Mengetahui proses partisi dan Kromatografi lapis tipis (KLT) serta
skrining fitokimia pada ekstrak rimpang kencur (Kaempferia galanga L.)

1.3 Prinsip Percobaan


Prinsip percobaan ini yaitu diawali dengan pembuatan simplisia
setelah itu melakukan ekstraksi menggunakan metode maserasi serta
partisi, Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan skrining fitkimia pada ekstrak
rimpang kencur (kaempferia galanga L).

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Klasifikasi Tanaman Kencur

Gambar 1. Rimpang kencur

Kingdom : Plantae (Tumbuh-tumbuhan)


Divisi : Spermatophyta(Tumbuhanberbiji)
Sub divisi : Angiospermae(Berbijitertutup)
Kelas : Monocotyledonae (Bijiberkepingsatu)
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga L.
(Sumber : Rukmana, 1994)

II.2 Deskripsi Tanaman Kencur


Kencur termasuk suku tumbuhan zingiberaceae dan digolongkan
sebagai tanaman jenis empon-empon yaang mempunyai daging buah
paling lunak dan tidak berserat. Kencur merupakan terna kecil yang
tumbuh subur di daerah dataran rendah atau pegunungan yang tanahnya
gembur dan tidak terlalu banyak air. Rimpang kencur mempunyai aroma
yang spesifik. Daging buah kencur berwarna putih dan kulit luarnya
berwarna coklat. Jumlah helaian daun kencur tidak lebih dari 2-3 lembar
dengan susunan yang berhadapan. Bunganya setengah duduk dengan
mahkota bunga berjumlah antara 4- 12 buah. Bibir bunga berwarna
lembayung dengan warna putih lebih dominan. Kencur tumbuh dan
berkembang pada musim tertentu, yaitu pada musim penghujan. Kencur

3
dapat ditanam di dalam pot atau di dalam kebun yang cukup sinar
matahari, tidak terlalu basah, dan di tempat terbuka (Widyaningrum,
2011).
Perawakan : Herba rendah, tegak, daun mendatar tanah. Rimpang :
merayap, bercabang-cabang membulat semacam umbi, akar berdaging,
berakhir dengan umbi bulat 1-1,5 cm, aromatik luar coklat, dalam putih.
Batang : batang semu dibentuk oleh pelepah daun. Daun : tunggal,
berjumlah 2, jarang 1 atau 3, mendatar tanah, elip lebar atau membulat,
pangkal membulat-agak menjantung, menyempit di atas tangkai, ujung
meruncing pendek, permukaan gundul, bagian bawah berambut jala, tepi
bergelombang, dengan tepi merah muda, atau merah coklat, 7-15 cm x 2-
8,5 cm, tangkai 3-8 mm, lidah pendek, putih, 1,5-3,5 cm. Bunga : susunan
sepala, lebih dari 4 cm, 4-12 atau lebih bunga, daun pelindung 2 tempat,
3-3,5 cm. Kelopak : 3, ujung dengan 2 gigi, rata-rata 3 cm. Mahkota : 3-
putih, wangi, tabung 2,5-5cm, lobus bentuk garis, berekor atau meruncing,
2,5 3 cm x 1,5-2,5 cm. Benang sari : fertil 1,2 mm, antehena 4 mm, 5
menjadi staminodia, bentuk melebar, memanjang-bulat telur terbalik,
labellum (bibir) lebar, bulat telur terbalik lebar, lobus pada bagian, lobus
bulat atau bulat telur terbalik, bercak ungu di bagian atas tengah, lainnya
putih atau ungu terang dengan bintik-bintik ungu. Putik : bakal buah 3
ruang, tangkai benang, kepala putik bentuk bel (Sudarsono, dkk., 2006).
Makroskopik. Kepingan : pipih ; bentuk hampir bundar sampai jorong
atau tidak beraturan; tebal keping 1 4 mm, panjang 1-5 cm, lebar 0,5-3
cm; bagian tepi berombak dan berkeriput, warna coklat sampai coklat
kemerahan, bagian tengah berwarna putih sampai putih kecoklatan.
Korteks : sempit, lebar lebih kurang 2 mm; warna putih; berkas pembuluh
tersebar tampak sebagai bintik-bintik berwarna kelabu atau keunguan.
Silinder pusat : lebar, banyak tersebar berkas pembuluh seperti pada
korteks. Bekas patahan : rata, berdebu, berwarna putih.
Mikroskopik. Periderm : terdiri dari 5-7 lapis sel, sel berbenttuk segi
panjang berdinding tipis. Jaringan parenkim korteks : terdapat di bawah
periderm, sel parenkim isodiametrik, berdinding tipis, berisi butir-butir pati,

4
sel idioblas minyak berbentuk hampir bulat dan bergaris tengah 50 -
100m, dalam idioblas minyak terdapat minyak yang tidak berwarna
sampai berwarna putih semu kekuningan.Butir pati : umumnya tunggal,
besar, bentuk bulat, bulat telur atau bulat telur tidak beraturan dengan
salah satu ujungnya mempunyai puting, lamela dan hilus tidak jelas;
panjang butir pati 10-40 m, umumnya 25 m, lebar buti pati 6-25 m,
umumnya 23 m. Berkas pembuluh: tersebar dalam korteks dan silinder
pusat; pembuluh kayu terdiri dari pembuluh spiral, pembuluh tangga dan
pembuluh jala, tidak berlignin. Endodermis : mempunyai dinding radial
yang agak menebal, tidak berisi butir pati. Silinder pusat : lebar,
parenkimatik, berisi butir pati dan idioblas minyak seperti pada korteks,
berkas pembuluh endodermis tersusun teratur dalam suatu lingkaran dan
berdekatan satu sama lainnya (Anonim, 1978).
Rimpang kencur digunakan untuk mengatasi radang lambung,
radang anak telinga, influenza pada bayi, masuk angin, sakit kepala,
batuk, menghilangkan darah kotor, diare, memperlancar haid, mata pegal,
keseleo, lelah (Widyaningrum, 2011).
Rimpang kencur mengandung pati (4,14%), mineral (13,73%) dan
minyak atsiri (0,02 %) berupa sineol, asam metil kanil dan penta dekaan,
asam cinnamic, ethil ester, asam sinamic, borneol, kamphene,
paraeumarin, asam anisic, alkaliod dan gom (Widyaningrum, 2011).
Secara turun termurun rimpang kencur (Kaemferia galangal L) dikenal
sebagai obat untuk menghilangkan rasa sakit gangguan otot. Setelah
melakukan observasi dan beberapa wawancara pada masyarakat yang
ada di Desa Rawameneng Rt 07 Rw 01 Kecamatan Blanakan Kabupaten
Subang sebanyak 20 orang dengan batasan usia 25 tahun sampai
dengan 70 tahun dengan beragam macam pekerjaan, masyarakat disana
menggunakan rimpang kencur (kaemferia galanga L) dengan campuran
beras (Oryza sativa) dan serai (Cymbopogoncitratus) yang kemudian
dijadikan dalam satu ramuan obat luar dengan nama beras kencur instan,
rimpang kencur secara empiris memiliki khasiat sebagairelaksan otot,
sedangkan serai dapat berkhasiat sebagai obat sakit kepala, batuk, nyeri

5
lambung, diare, penghangat badan, penurun panas dan pengusir nyamuk
( Fauzi, 2009).
Pemanfaatan Tumbuhan Serai WangiI (Cymbopogon nardus (L.) Rendle)
Sebagai Antioksidan Alami. Samarinda: Jurusan kimia FMIPA; 2009.)
Cara penggunaan rimpang kencur secara empiris untuk mengobati
nyeri haid yaitu : kencur dicuci dan parut. Daun pengguli, cengkeh, adas,
dan kencur direbus dengan 2 gelas air sampai air tinggal setengah.
Ramuan disaring dan dibagi 2. Separuh diminum pagi dan sisanya
diminum sore. ( Latief A, 2012)

II.3 Simplisia
II.3.1 Definisi
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat
yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan
lain, berupa bahan yang telah dikeringkan (Anonim, 1978).

II.3.2 Macam-macam simplisia


a. Simplisia nabati ialah simplisia berupa tanaman utuh, bagian tanaman
atau eksudat tanaman. Eksudat tanaman ialah isi sel yang secara
spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang dengan cara tertentu
dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara
tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni.
Contoh: Datura folium, Piperis nigri Fructus.
b. Simplisia hewani ialah simplisia berupa hewan utuh, bagian hewan atau
zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat
kimia murni. Contoh: Oleum iecoris asselli, Mel depuratum
c. Simplisia pelikan (mineral) ialah simplisia yang berupa bahan pelikan
(mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana
dan belum berupa zat kimia murni. Contoh : serbuk seng, serbuk
tembaga.(Anonim, 1978).
II.3.3 Tahapan pembuatan simplisia ( Prasetyo dan Entang, 2013)
a. Sortasi basah
Dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing
lainnya dari bahan simplisia. Misalnya simplisia yang dibuat dari akar

6
suatu tanaman obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikir, rumput,
batang daun, akar yang telah rusak serta kotoran lain yang harus
dibuang.
b. Pencucian
Dilakukan untuk menghilangkan tanah dan kotoran-kotoran lain yang
melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih,
misalnya dari mata air, air sumur atau PAM.
c. Perajangan
Dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan
penggilingan. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat
mesin perajang khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan
dengan ukuran yang dikehendaki.
d. Pengeringan
Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak
mudah rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu lama. Dengan
mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah
penurunan mutu atau perusakan simplisia.

e. Sortasi kering
Merupakan tahap akhir, dengan tujuan memisahkan benda benda
asing yang tidak diinginkan dan pengotor yang masih tertinggal pada
simplisia kering.

II.4 Ekstraksi dan Partisi


II.4.1 Ekstraksi
Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya
dengan menggunakan pelarut. Jadi, ekstraksi adalah sediaan yang
diperoleh dengan cara ekstraksi tanaman obat dengan ukuran partikel
tertentu dan menggunakan medium pengekstraksi (menstruum) yang
tertentu pula (Agoes, 2009).
Dalam pembuatan ekstrak untuk keperluan farmasi, hal berikut harus
jelas dan diperhatikan :
a. Jumlah simplisia yang akan diekstraksi. Jumlah ini akan digunakan
untuk perhitungan dosis obat.

7
b. Derajat kehalusan simplisia. Hal ini penting untuk mengupayakan agar
penarikan dapat berlangsung semaksimal mungkin. Kehalusan
menyangkut luas permukaan yang akan berkontak dengan pelarut
untuk ekstraksi.
c. Jenis pelarut yang akan digunakan. Hal ini menyangkut keamanan
karena pelarut yang digunakan untuk keperluan farmasi sangat terbatas
jumlahnya. Selain daripada itu, pelarut akan menentukan efisiensi
proses penarikan zat berkhasiat dari tanaman obat.
d. Suhu penyari akan menentukan jumlah dan kecepatan penyaringan.
e. Lama waktu penyarian. Hal ini penting sekali untuk menentukan jumlah
bahan yang tersari. Sebagai contoh, penyari Decoctum dulu
memerlukan waktu 30 menit (Farmakope Belanda Edisi V), sedangkan
dalam Farmakope Belanda Edisi VI, waktu penyari untuk Decoctum dan
infus sama, yaitu selama 15 menit. Menurut penelitian jumlah zat yang
tersari adalah sama antara waktu penyarian 30 menit dan 15 menit.
f. Proses ekstraksi. Ada kalanya proses ekstraksi harus terlindung dari
cahaya karena kemungkinan akan ada komponen ekstrak yang peka
terhadap cahaya. Selain itu, untuk skala laboratorium, pada
umumnyaproses dilakukan dalam skala bets, sedangkan untuk skala
industri dilakukan dengan sistem berkesinambungan.
II.4.2 Metode Ekstraksi
a. Ekstraksi secara dingin
Metode ekstraksi secara dingin bertujuan untuk mengekstrak
senyawa-seyawa yang terdapat dalam simplisia yang tidak tahan panas
atau bersifat thermolabil. Ekstraksi secara dingin dapat dilakukan dengan
beberapa cara berikut ini :
1.) Maserasi
Maserasi adalah proses ekstraksi sederhana yang dilakukan hanya
dengan cara merendam simplisia dalam satu atau campuran pelarut
selama waktu tertentu pada temperature kamar dan terlindung dari
cahaya.
2.) Perkolasi adalah proses penyarian zat aktif secara dingin dengan cara
mengalirkan pelarut secara kontinu pada simplisia selama waktu
tertentu.

8
b. Ekstraksi secara panas
Metode panas digunakan apabila senyawa-senyawa yang
terkandung dalam simplisia sudah dipastikan tahan panas. Metode
ekstraksi yang membutuhkan panas diantaranya:
1.) Infusa
Infusa merupakan sediaan cair yang dibuat dengan cara menyari
simplisia nabati dengan air pada suhu 90C selama 15 menit. Kecuali
dinyatakan lain, infusa dilakukan dengan cara sebagai berikut :
simplisia dengan derajat kehalusan tertentu dimasukkan ke dalam
panic infusa, kemudian ditambahkan air secukupnya.
Panaskan campuran di atas penangas air selama 15 menit, dihitung
mulai suhu 90C sambil sesekali diaduk. Serkai selagi panas
menggunakan kain flannel, tambahkan air panas secukupnya melalui
ampas sehingga diperoleh volume infuse yang dikehendaki
2.) Digesti
Digestasi adalah proses ekstraksi yang cara kerjanya hamper sama
dengan maserasi, hanya saja digesti menggunakan pemanasan
rendah pada suhu 30-40C. Metode ini biasanya digunakan untuk
simplisia yang tersari baik pada suhu biasa.
3.) Dekok
Proses penyarian secara dekokta hamper sama dengan infusa,
perbedaannya hanya terletak pada lamanya waktu pemanasan. Waktu
pemanasan pada dekokta lebih lama dibandingkan metode infusa,
yaitu 30 menit dihitung setelah suhu mencapai 90C. metode ini sudah

9
sangat jarang digunakan karena selain proses penyariannya yang
kurang sempurna dan juga tidak dapat digunakan untuk
mengekstraksi senyawa yang bersifat termolabil.
4.) Refluks
Refluks merupakan proses ekstraksi dengan pelarut pada titik didih
pelarut selama waktu dan jumlah pelarut tertentu dengan adanya
pendingin balik (kondensor). Proses ini umumnya dilakukan 3-5 kali
pengulangan pada residu pertama, sehingga termasuk proses
ekstraksi yang cukup sempurna.

5.) Soxhletasi
Proses soxhletasi merupakan proses ektraksi panas menggunakan
alat khusus berupa esktraktor soxhlet. Suhu yang digunakan lebih
rendah dibandingkan dengan suhu pada metode refluks.

10
Ekstrak sebagai terminologi umum dapat dikelompokkan dalam :
a. Ekstrak air
Menggunakan pelarut air sebagai cairan pengekstraksi. Hasil
ekstraksi dalam bentuk ekstrak ini dapat digunakan langsung atau
digunakan setelah waktu tertentu.
Pembuatan dilakukan menurut cara-cara berikut :
1) Decoctum (Dekok)
Penyari menggunakan simplisia dengan perbandingan dan derajat
kehalusan tertentu. Cairan penyari air digunakan pada suhu 90C - 95C
selama 30 menit.
2) Infusum (Infus)
Sama seperti Decoctum, hanya saja di sini waktu penyarian selama
15 menit. Pada umummnya, penyari Infusum ini dalam bentuk infus zart
larut air dari simplisia tanaman. Penyarian dapat dilakukan dengan
penambahan bahan tertentu untuk optimasi proses penyarian.
3) Coque (Penggodokan)
Penyarian dengan cara menggodok tanaman obat/jamu
menggunakan api langsung. Hasil godokan setelah mendidih
dimanfaatkan sebagai obat secara keseluruhan (termasuk ampas yang
digodok), atau hanya dimanfaatkan cairanhasil godokannya saja tanpa
memanfaatkan ampasnya. Cara ini sering digunakan dalam konsumsi
jamu tradisional.
4) Seduhan
Seduhan menggunakan air mendidih, simplisia direndam dalam air
panas selama waktu tertentu (5-10 menit) sepertihalnya membuat teh
seduhan. yang dikonsumsi adalah hasil seduhan tersebut. Cara ini masih
luas digunakan untuk konsumsi jamu seduh dan kelompok teh.
5) Maserasi
Penyarian simplisia menggunakan bermacam pelarut pada suhu
kamar selama beberapa waktu.

6) Perkolasi

11
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai
semuabahanaktif terekstraksi secara keseluruhan.
b. Tinktura
Tinktura adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau
perkolasi simplisia. Sediaan ini merupakan ekstrak yang dibuat dari
simplisia tanamn obat dengan penyari berbagai konsentrasi etanol dengan
bahan tambahan sedemikian rupa .Satu bagian simplisia disari dengan 2-
10 bagian menstruum. Selan itu, dalam tinktur ini dapat pula dimasukan
larutan ekstrak kering dalam etanol pada konsentrasi yang sesuai (Agoes,
2009).
1) Ekstrak cair
Seperti halnya tinktura, ekstrak cair adalah sediaan cair.
Perbedaannya adalah ekstrak lebih kental sesuai ketentuan dalam
farmakope. Menurut Farmakope Indonesia edisi III (1979), hasil akhir
ekstrak cair dengan penyari etanol harus didiamkan di tempat sejuk
selama 1 bulan, kemudian disaring dengan sambil mencegah penguapan
(untuk mengendapkan partikel yang tidak larut).
2) Ekstrak encer
Dikenal dengan ekstraktenuis, dibuat seperti halnya ekstrak cair
hanya terdapat perbedaan konsentrasi simplisia yang disari dengan
konsentrasi ekstrak.
3) Ekstrak kental
Ekstrak diperoleh dari ekstrak cair yang diuapkan larutan penyarinya
secara hati-hati. Ekstrak kental merupakn massa kental yang
mengandung bermacam konsentrasi sisa kelembapan dan kekuatan
bahan berkhasiat serta dapat disesuaikan (sesuai ketentuan) dengan
penambahan bahan alam atau dengan penambahan sejumlah bahan
inert, seperti dekstrin, laktosa dan sebagainya. Karena stabilitasnya
rendah dan mudah ditumbuhi dengan mikroorganisme, pemakaian ekstrak
kental secara luas telah digantikan dengan ekstrak kering.
4) Ekstrak kering (extrsicca)
Ekstrak kering adalah ekstrak tanaman yang diperoleh secara
pemekatan dan pengeringan ekstrak cair di bawah kondisi lemah (suhu

12
dan tekanan rendah). Konsentrasi bahan aktif dalam sediaan akhir dapat
disesuaikan dengan penambahan bahan inert.
5) Ekstrak minyak
Ekstrak ini dibuat dengan mensuspensikan simplisia (dengan
perbandingan dan derajat halus tertentu) dalam minyak yang telah
dikeringkan dengan cara maserasi. Untuk meningkatkan penyarian dapat
digunakan panas rendah.
6) Oleoresin
Merupakan sediaan yang dibuat dengan cara ekstraksi bahan
oleoresin dengan pelarut yang sama, seperti etanol etil asetat.
Ada beberapa pelarut ekstrak seperti Pelarut tunggal :
a. Senyawa hidrokarbon (Petroleum eter, bensin, lingroin, n-Heksan, n-
Heptan, sikloheksan, benzen, toluen, metilen klorida, kloroform).
Pelarut ini digunakan untuk penarikan zat lipofilik, seperti lemak/minyak
dan malam.
b. Alkohol (Metil alkohol, etanol, n-propanol, isopropanol).
c. Keton (Aseton)
d. Asam karboksilat (Asam asetat)
e. Ester (Etil asetat)
f. Eter (Di-etil eter)
II.4.2 Partisi
Menurut Gu (2000) dalam Hikmah, 2012 metode partisi cair-cair
merupakan pemisahan komponen kimia diantara dua fase pelarut yang
tidak saing bercampur. Komponen kimia akan terpisah kedalam kedua
fase sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan perbandingan
konsentrasi yang tetap.

II.5 Senyawa Metabolit Sekunder


Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa- senyawa yang
dihasilkan oleh proses-proses kimia yang terjadi hanya pada spesies
tertentu sehingga memberikan produk yang berlainan. Reaksi yang
demikian nampaknya tidak merupakan proses yang terpenting bagi
eksistensi dari suatu organisme. Produk- produk metabolit sekunder
disebut produk alami oleh para ahli kimia organik, misalanya senyawa-

13
senyawa terpenoid, alkaloid dan pigmen. Metabolit sekunder meskipun
tidak sangat penting bagi eksistensi suatu individu, sering berperan pada
kelangsungan hudup suatu spesies, dalam perjuangan menghadapi
spesies-spesies lain. Misalnya: zat kimia untuk pertahanan, penarik seks
dan feromon. Tujuan dari pembentukan metabolit sekunder, tetap
merupakan misteri. Beberapa penulis percaya, bahwa mereka adalah
produk detoksifikasi dari timbunan metabolit yang beracun dan tak dapat
dibuang oleh organisme dengan cara lain (Manitto, 1992).

II.6 KLT (Kromatografi Lapis Tipis)


II.6.1 Defenisi
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan bentuk kromatografi
planar. Pada KLT fase diamnya berupa lapisan seragam (uniform) pada
permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, pelat
alminium. Sedangkan fase geraknya dikenal sebagai pelarut pengembang
yang akan bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada
perkembangan secara menaik (ascending) dan karena pengaruh gravitasi
pada pengembangan secara menurun (descending). Beberapa
keuntungan dari KLT :
a. KLT banyak digunakan untuk tujuan analisis.
b. Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi
warna, atau dengan radiasi menggunakan sinar ultra violet.
c. Dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending), menurun
(descending), atau dengan cara elusi 2 dimensi.
d. Ketetapan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang
akan ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak.
II.6.2 Fase diam dan Fase gerak KLT
Fase diam yag digunakan dalam KLT merupakan penjerap
berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-3-m. Semakin kecil
ukuran rata-rata pertikel fase diam dan semakin sempit kisaran ukuran
fase diam, maka semakin baik kinerja KLT dalam hal efesiensinya dan
resolusinya. Penjerap yang paling sering digunakan adalah silika dan

14
serbuk selulosa, sementara mekanisme sorpsi yang utama pada KLT
adalah pertisi dan adsorbsi (Ibnu, 2007).
Fase gerak yang sering digunakan dalam KLT adalah campuran 2
pelarut organik karena daya elusi campuran kedua pelarut lebih mudah
diatur sehingga pemisahannya dapat terjadi secara optimal. Beberapa
petunjuk dalam memilih fase gerak :
a. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena
KLT merupakan teknik yang sensitif.
b. Daya elusi fase gerak harus diatur sehingga harga Rf terletak antara
0,2-0,8 untuk memaksimalkan pemisahan
c. Untuk pemisahan dengan menggunkan fase diam polar ke dalam
pelarut non polar makan akan meningkatkan harga Rf secara signifikan.
d. Solut ionik dan solut polar lebih baik digunakan campuran pelarut
sebagai fase geraknya.
II.6.3 Aplikasi (Penotolan) sampel
Pemisahan pada KLT yang optimal akan diperoleh hanya jika
menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil dan sesempit mungkin.
Jika sampel yang digunakan terlalu banyak makan akan menurunkan
resolusi. Penotolan sampel yang tidak tepat akan menyebabkan bercak
yang menyebar dan bercak ganda.
II.6.4 Pengembangan
Setelah penotolan sampel maka tahap selanjutnya adalah
mengembangkan sampel tersebut ke dalam suatu bejana kromatografi
yang sebelumnya telah dijenuhi dengan uap fase gerak. Jika fase gerak
telah mencapai ujung kertas saring, maka dapat dikatakan bahwa fase
gerak telah jenuh. Dalam tahp ini hanya untuk menunjukkan jenuhnya
suatu fase gerak yang digunakan. Teknik untuk melakukan
pengembangan dalam KLT yaitu pengembangan menaik ( Ascending),
menurunkan ( descending), melingkar dan mendatar.
II.6.5 Deteksi bercak
Bercak pemisahan pada KLT umumnya merupakan bercak yang
tidak berwarna. Untuk mendeteksi bercak dapat dilakukan dengan cara
kimi, fisika maupun biologi. Cara kimia yang biasa digunakan adalah

15
dengan mereaksikan bercak dengan suatu pereaksi melalui cara
penyemprotan sehingga bercak menjadi jelas. Cara fisika yang dapat
digunakan adalah dengan pencacahan radioaktif dan fluoresensi yang
akan membuat bercak akan terlihat jelas.
II.6.6 Penggunaan KLT
KLT digunakan secara luas untuk analisis solut organik untuk analisis
kualitatif dengan cara menbandingkan nilai Rfsolut dengan nilai Rf
senyawa baku. Penggunaan umum KLT adalah untuk menentukan
banyaknya komponen dalam campuran, idetifikasi senyawa, memantau
berjalannya suatu reaksi, menentukan efektivitas pemurniandan
melakukan screening sampek untuk obat. KLT ini merupakan metode
pilihan pertama jika ingin memisahkan suatu campuran karena KLT
merupakan suatu metode yang sederhana dan cepat serta digunakan
secara luas (Ibnu, 2007).

16
BAB III
METODE KERJA

III. 1 Alat dan Bahan


III. 1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan yaitu timbangan analitik, batang pengaduk,
chamber, gelas kimia, gelas ukur, pipet tetes, tabung reaksi, lempeng KLT,
rak tabung, alat perajangan, dan lampu UV.
III. 1. 2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan yaitu rimpang
kencur (Kaemferia galanga L.), n-heksan, kloroform, etil asetat, kertas
saring, etanol 70%, aquadest, HCl pekat, NaCl, Fe3Cl3, pereaksi mayer,
peraksi dragendrof, pereaksi wagner, dan spiritus.

III. 2 Cara Kerja


III. 2.1 Preparasi sampel
Sampel yang digunakan dalam percobaan ini yaitu bagian rimpang
kencur ( Kaemferia galanga L.) segar sebanyak 7 kg, kemudian disortasi
dari bahan-bahan pengotor, lalu dilakukan pencucian dengan air mengalir
hingga bersih, setelah itu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di
tempat terbuka yang tidak terkena sinar matahari langsung, hingga
menjadi simplisia kering. Kemudian dihaluskan dengan mengunakan
blender hingga menjadi serbuk, setelah itu disimpan dalam wadah kering
tertutup rapat dalam ruangan terlindung dari cahaya matahari.
III. 2. 2 Pembuatan Ekstrak
Rimpang kencur ( Kaemferia galanga L.) diekstrasi dengan etanol
70% dengan metode maserasi. Rimpang kencur ditimbang sebanyak 1100
mg lalu diekstrak menggunakan 950 ml etanol 70% dimana serbuk
simplisia dan pelarut dimasukan dalam wadah berupa toples. Kemudian
diaduk beberapa kali, di diamkan selama 3 hari dalam suhu kamar sambil

17
sesekali di aduk. Rendemen dari ekstrak kemudian dihitung dengan
rumus:

% rendemen =

III. 2.3. Ekstraksi Cair-Cair


Ekstrak etanol kental diencerkan dengan air sebanyak 50 ml, dan
dimasukkan kedalam corong pisah, difraksinasi berturut-turut dengan
pelarut n-heksan, kloroform, dan etil asetat. Ekstraksi setiap fraksi
dilakukan sebanyak 3 kali dengan menggunakan masing-masing 50 ml
pelarut untuk sekali penyarian. Masing-masing fraksi dikumpulkan dan
dipekatkan hingga diperoleh fraksi n-heksan, kloroform dan etil asetat.
III.2.4 Uji Pendahuluan
a. Alkaloid
Ekstrak kental sdecukupnya dimasukkan ke dalam tabung reaksi
ditambahkan 2 mL HCl 2 N, kemudian dipanaskan selama 2-3 menit,
dinginkan, ditambahkan NaCl untuk mengendapkan protein-proteinnya,
kemudian disaring ditambahkan HCl 2 N ke dalam filtrate sampai 2 mL,
dibagi menjadi 3 bagian dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi:
I : + Dragendorf = Endapan merah jingga (+)
II : + Mayer = Endapan putih (Putih kekuningan) (+)
III : + Wagner = Endapan coklat (+)
b. Saponin
Diambil ekstrak kental secukupnya kemudian dimasukkan dalam
tabung reaksi, ditambahkan air panas lalu dikocok kuat-kuat selama 1
menit dengan kekuatan konstan lalu didiamkan, apabila busa yang
terbentuk dengan tinggi 1-10 cm stabil selama 10 menit, maka
ditambahkan HCl melalui dinding tabung. Apabila tetap berbusa berarti
positif mengandung saponin.

c. Flavonoid
Diambil ekstrak kental secukupnya lalu ditambahkan air dan
ditambahkan heksan dikocok, akan terpisah 2 lapisan dimana ekstrak

18
kental dalam air akan berada di bawah dan lapisan n-heksan berada di
atas, lapisan n-heksan dipisahkan, sementara lapisan air ditambahkan
methanol kemudian dipisahkan menjadi 2 bagian, bagian pertama
ditambahkan 0,5 mL HCl pekat, kemudian dipanaskan diatas penangas
selama 15 menit. Hasil positif bila terjadi warna merah terang atau
violet,bagian kedua ditambahkan 0,5 mL HCl pekat, kemudian
ditambahkan 3-4 potong Mg. Amati berubahan warna yang terjadi selama
10 menit. Encerkan dengan aquadest dengan volume yang sama
kemudian tambahkan 1 mL asetil alcohol. Amati perubahan warna yang
terjadi pada tiap lapisan jika warna merah-merah ungu berarti positif
mengandung flavanoid merah pucat-merah tua untuk flavon Orange
merah untuk flavon
d. Tanin
Diambil ekstrak kental secukupnya ditambahkan air panas sebanyak
10 mL, lalu dikocok sampai homogen ditambahakan garam dapur (NaCl) 5
tetes untuk mengendapkan proteinnya disaring, lalu filtratnya ditambahkan
FeCl3 3-4 tetes. Jika berwarna hijau biru (hijau-hitam) berarti positif adanya
tanin katekol sedangkan jiwa berwarna biru hitam berarti positif adanya
tanin pirogalol.
III.2.5 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
a. Pembuatan Lempeng KLT
1. Disiapkan lempeng KLT dengan ukuran 7x 4 cm
2. Lempeng yang telah jadi dibiarkan hingga kering, kemudian
dipindahkan ke dalam oven dan diaktifkan pada suhu 105-110 0 C
selama 30 menit
3. Setelah diaktikan lempeng kemudian dikeluarkan dan dibuat batas
penotolan dan batas elusi. Selanjutnya lempng siap digunakan.

b. Pembuatan Cairan Pengelusi (Eluen)


Cairan pengelusi atau cairan pengembang (eluen) adalah pelarut
yang digunakan untuk mendistribusikan komponen kimia pada lempeng
Kromatografi Lapis Tipis. Cairan pengelusi yang biasa dilakukan dalam
praktek terdiri dari dua macam atau lebih campuran pelarut, hal ini

19
dimaksudkan agar komponen kimia dapat larut sempurna sehingga dapat
pula terpisah dengan baik.
Kepolaran suatu sampel sangat bergantung pda kelarutannya,
semakin larut suatu komponen kimia dalam cairan pengelusi semakin
bersifat polar dan sebagai akibatnya nilai Rf-nya semakin rendah.
Eluen yang digunakan adalah etil asetat : kloroform (4:1) sebanyak 5
mL. Cara pembuatannya : bahan-bahan tersebut dicampur sesuai dengan
perbandingan dan volume yang diinginkan. Dimasukan dalam wadah yang
tertutup rapat dan diberi label, selanjutnya digunakan sesuai dengan
kebutuhan (cairan pengelusi sebaiknya dibuat segar sesuai kebutuhan).
c. Penotolan Sampel, Penjenuhan dan Elusi
Penotolan sampel pada lempeng KLT bertujuan untuk
mengidentifikasi komponen kimia yang terdapat di dalam sampel atau
ekstrak. Ekstrak yang telah diperoleh dari proses ekstraksi kemudian
dilarutkan dengan pelarut yang cocok selanjutnya ditotolkan pada batas
penotolan dengan menggunakan pipa kapiler secara tegak lurus dengan
permukaan lempeng sampai diperoleh penotolan yang sempurna
(biasanya tiga kali penotolan). Setelah itu lempeng yang telah ditotol
dimasukan ke dalam chamber yang telah dijenuhkan dengan eluen yang
digunakan dengan posisi kemiringan 5-10 0. Diusahakan agar sampel yang
telah ditotolkan tidak terendam dalam cairan pengelusi. Setelah itu
chamber ditutup dan sampel dibiarkan terelusi sampai batas elusi yang
telah dibuat. Setelah tercapai lempeng dikeluarkan lalu dibiarkan
beberapa saat hingga kering dan selanjutnya noda (spot) yang terbentuk
diamaati dengan menggunakan sinar UV pada panjang gelombang 254-
365 nm. Noda yang nampak kemudian diberi tanda. Sedangkan yang
belum nampak disemprot dengan pereaksi H 2SO4 10 % biarkan beberapa
saat hingga kering kemudian dipanaskan diatas pemanas listrik hingga
diperoleh warna noda yang stabil. Noda-noda yang tampak kemudian
dihitung nilai Rf-nya.

Rf =

20
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Hasil Praktikum


IV.1.1. Hasil Maserasi
Rendemen ekstrak hasil maserasi
1. Berat awal simplisia = 1,1 kg

21
2. Berat Ekstrak = 66,7 gram

% Rendemen Ekstrak = x100 %

= x100 %

= 6,063 %
IV.1.2 Hasil Partisi
Pada partisi digunakan ekstrak etanol rimpang kencur sebesar 5
gram lalu dilarutkan dengan aquadest 50 terlebih dahulu mL, kemudian
dipartisi dengan n-heksan, kloroform, dan etil asetat.
Tabel 1. Data Pengamatan partisi
No. Fraksi Pelarut yang Bobot Fraksi (gram)
digunakan (mL)

1 n-heksan 150 1,076


2 Kloroform 150 1,162
3 Etil asetat 150 0,2
4 Aquades 50 1,13

IV.1.3 Hasil Skirining Fitokimia


Tabel 2. Data Pengamatan Skrining Fitokimia
No Golongan Pereaksi Literatur Hasil Keterangan
Senyawa
1 Alkaloid Ekstrak + Endapan Larutan -
HCl 2 N + merah kuning
pereaksi jingga kecoklatan
mayer

22
Ekstrak + Endapan Larutan -
HCl 2 N + Putih merah
pereaksi kekuninga bata
wagner n
Ekstrak + Endapan Endapan +
HCl 2 N + coklat merah
Dragendorf jingga
2 Flavonoid Ekstrak + Larutan Larutan +
HCl + warna merah tua
serbuk merah,
magnesiu merah tua,
m merah
orange
3 Saponin Ekstrak + Larutan Larutan -
air panas + berbusa coklat /
HCl tidak
berbusa
4 Tanin Ekstrak + Larutan Larutan -
NaCl hijau coklat
+FeCl3 kebiruan,
biru hitam

Tabel 2. Hasil Uji KLT


Jenis Eluen Visualisasi noda
ekstrak Sinar UV254 UV366 H2SO4
tampak
Ekstrak Kloroform : - Rf1 = 0,218 (ungu) ungu -
kasar etanol Rf2 = 0,981 (ungu)
Ekstrak (7:3) - Rf1 =0,927 (ungu) ungu -
kloroform
Ekstrak n- n-heksan : - Rf1 = 0,163 (ungu) ungu -
heksan etil asetat Rf2= 0,781 (ungu)
(4:1) Rf3 = 0,963 (ungu)
Ekstrak - Rf1 = 0,218 (ungu) ungu -
etil asetat Rf2 = 0,981 (ungu)

23
Gambar 1. Noda pada UV254 Gambar 2. Noda pada UV366

IV.2. Pembahasan
IV.2.1 Pembuatan Simplisia
Sampel yang digunakan dalam praktikum ini yaitu bagian rimpang
kencur (Kaemferia galanga L.) segar sebanyak 7 kg, kemudian disortasi
basah dari bahan-bahan pengotor ditimbang bobotnya 4,5 kg. Setelah itu
dilakukan pencucian dengan air mengalir hingga bersih, kemudian
perajangan lalu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di tempat yang
tidak terkena sinar matahari langsung, hingga menjadi simplisia kering.
Bobot simplisia ditimbang sebesar 1,2 kg diserbukan dengan blender
hingga menjadi lebih kecil lalu di ayak, ditimbang hasilnya diperoleh berat
simpisia kencur sebanyak 1,1 kg.
Hasil 1 gram yang melewati ayakan tidak digunakan karena sangat
halus yang mempengaruhi hasil ekstraksi karena adanya pengendapan
kandungan pati dalam rimpang. Ukuran partikel harus dikecilkan karena
ukuran rimpang kencur yang cukup keras dan akan digunakan ekstraksi
dengan metode maserasi sehingga dengan memperkecil ukuran partikel
akan memudahkan zat aktif ditarik oleh cairan penyari. Serbuk simplisia
yang telah diserbukan disimpan dalam wadah kering tertutup rapat ,
terlindung dari cahaya matahari untuk kemudian dilanjutkan dengan
proses ekstraksi.
IV.2.2 Ekstraksi

24
Rimpang kencur ( Kaemferia galanga L.) diekstrasi dengan metode
maserasi. Bobot simplisia 1,1 kg dibagi dalam 2 wadah, masing- masing
sebanyak 550 gram. Simplisia yang ditimbang di maserasi menggunakan
pelarut etanol 70% 950 mL. Pada proses maserasi 250 mL digunakan
untuk membasahi simplisia, dengan cara dituang cairan penyari secara
perlahan sambil diaduk hingga terbasahi simplisia selama 20 menit.
Tujuan pembasahan yaitu membuka pori-pori sel yang tertutup selama
proses pengeringan. Selanjutnya ditambahkan cairan penyari 700 mL
hingga merendam simplisia. Simplisia disimpan pada tempat sejuk
terlindung dari cahaya selama 3 hari sambil sesekali di aduk. Proses
yang sama juga di lakukan pada simplisia wadah ke 2. Hasil yang
diperoleh kemudian disaring sebanyak 2 kali agar mengurangi adanya
endapan pati dari rimpang. Maserat diuapkan hingga diperoleh ekstrak
kental.
Prinsip metode maserasi yaitu adanya proses difusi osmosis antara
sel simplisia kencur dan cairan penyari. Perbedaan konsentrasi yang
tinggi di dalam sel simplisia dan di luar sel menyebabkan zat aktif dari
dalam sel simplisia akan keluar ke dalam cairan penyari hingga tercapai
proses kesetimbangan.
Metode maserasi dipilih karena memiliki keuntungan yaitu cara
pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana serta dapat
menghasilkan ekstrak dalam jumlah banyak dan terhindar dari perubahan
kimia senyawa-senyawa tertentu karena pemanasan. Simplisia rimpang
kencur yang digunakan untuk maserasi adalah sebanyak 1,1 kg dan hasil
ekstrak sebanyak 66,7 g kemudian diperoleh persen rendamen sebesar
6,063%. Dibandingkan dengan penelitian Hudha,M.I ,dkk, 2013 tentang
Minyak Kencur dari Rimpang Kencur dengan Variabel Jumlah Pelarut dan
Waktu Maserasi menunjukkan bahwa rendemen paling besar terdapat
pada maserasi hari keempat dengan jumlah pelarut 400 mL sebesar
5,98%. Hal ini sesuai dengan teori bahwa semakin lama waktu maserasi
maka yield juga akan semakin besar. Namun pada maserasi hari kelima

25
terjadi penurunan yield kemudian konstan hal ini dikarenakan waktu
optimum pada maserasi.
IV.2.3 Partisi
Proses partisi dilakukan terlebih dahulu uji pendahuluan (orientasi
pelarut) yaitu ekstrak etanol rimpang kencur dilarutkan dengan aquades.
Pemilihan aquades sebagai pelarut orientasi karena aquades merupakan
pelarut organik yang tingkat kepolaran tinggi. Berdasarkan hasil uji
kelarutan, diperoleh bahwa ekstrak etanol rimpang kencur larut dalam
pelarut akuades sehingga pada praktikum ini, dilakukan partisi cair-cair.
Prinsip partisi yaitu digunakannya dua pelarut yang tidak saling
bercampur untuk melarutkan zat-zat yang ada dalam ekstrak. Ekstrak
etanol rimpang kencur sebanyak 5 gram dilarutkan dengan 50 ml
aquadest dan dimasukkan dalam corong pisah, ditambahkan pelarut n-
heksan sebanyak 50 mL, digojog satu arah hingga homogen, sesekali
membuka keran corong pisah untuk mengeluarkan udara dari hasil
pengocokan. Didiamkan pada statif atau penyangga dengan maksud
untuk mempermudah terlihatnya dua lapisan. Lapisan atas pelarut n-
heksan dan lapisan bawah adalah aquades, karena massa jenis akuades
lebih besar dibandingkan dengan massa jenis n-heksan. Fraksi n-heksan
dikeluarkan, lalu tambahkan 50 mL n-heksan digojog dan didiamkan
hingga terbentuk dua lapisan. Proses yang sama diulangi lagi hingga
warna dari pelarut n-heksan jernih. Fraksi n-heksan diuapkan dengan cara
diangin-anginkan.
Pelarut kloroform sebanyak 50 mL dimasukan dalam corong pisah
yang berisi fraksi air, digojog satu arah, sesekali membuka keran corong
pisah untuk mengeluarkan udara dari hasil pengocokan. Didiamkan pada
statif atau penyangga dengan maksud untuk mempermudah terlihatnya
dua lapisan. Lapisan atas pelarut akuades dan lapisan bawah adalah
kloroform karena massa jenis akuades lebih kecil dibandingkan dengan
massa jenis kloroform. Fraksi kloroform dikeluarkan, kemudian
dimasukkan pelarut kloroform sebanyak 50 mL, digojog dan didiamkan

26
hingga terbentuk dua lapisan. Proses yang sama diulangi lagi hingga
warna pelarut kloroform jernih. Fraksi kloroform diuapkan dengan cara
diangin-anginkan.
Pelarut etil asetat 50 mL dimasukan dalam corong pisah yang berisi
fraksi air, digojog satu arah , sesekali membuka keran corong pisah untuk
mengeluarkan udara dari hasil pengocokan. Didiamkan pada statif atau
penyangga dengan maksud untuk mempermudah terlihatnya dua lapisan.
Lapisan atas pelarut etil asetat sedangkan bawahnya pelarut air karena
pelarut etil asetat memiliki massa jenis lebih kecil dibandingkan dengan
massa jenis air. Selanjutnya ditambahkan etil asetat 50 mL, digojok
kemudian didiamkan hingga terbentuk dua lapisan. Proses yang sama di
ulangi sekali lagi hingga warna dari pelarut etil asetat jernih. Fraksi etil
asetat diuapkan dengan cara diangin-anginkan. Hasil partisi 4 fraksi yaitu
n-heksan berupa cairan berwarna bening, kloroform berwarna coklat dan
etil asetat berwarna putih kehijauan dan fraksi air yang berwarna coklat.
Berdasarkan hasil partisi yang di peroleh terlihat bahwa fraksi
kloroform memiliki bobot paling besar sehingga disimpulkan bahwa zat
berkhasiat dalam ekstrak rimpang kunyit lebih banyak terlarut pada pelarut
semi polar sampai non polar.
IV.2.4 Hasil Skirining Fitokimia
Pengujian Skirining Fitokimia bertujuan mengidentifikasi senyawa
golongan alkaloid, flavonoid saponin, dan tanin. Uji kualitatif senyawa
golongan alkaloid dengan menggunakan pereaksi Mayer, Wagner dan
Dragendorf. Hasil pereaksi Mayer menunjukkan ekstrak rimpang kencur
tidak mengandung senyawa golongan alkaloid karena tidak menghasilkan
endapan putih melainkan mengasilkan larutan kuning kecoklatan.Pereaksi
wagner menunjukkan ekstrak rimpang kencur tidak mengandung
senyawa golongan alkaloid karena tidak menghasilkan endapan cokelat
tetapi larutan merah bata. Pereaksi Dragendorf menunjukkan bahwa
ekstrak rimpang kencur mengandung senyawa golongan alkaloid karena
menghasilkan endapan merah jingga.

27
Pengujian kandungan flavonoid pada rimpang kencur dengan
penambahan larutan HCl dan serbuk magnesium didapatkan hasil merah
tua sehingga positif mengandung flavonoid (flavonon). Uji kualitatif
senyawa golongan saponin menggunakan air panas dan penambahan
HCl tidak terbentuk busa yang menunjukan ekstrak rimpang kencur tidak
mengandung saponin. Pengujian kandungan tanin pada ekstrak kencur
diperoleh larutan berwarna coklat yang menunjukan rimpang kencur tidak
mengandung tanin. Berdasarkan penelitian Hayati,dkk,2015 tentang Uji
Aktivitas Antioksidan dari Flavonoid Ekstrak Etanol 80% Rimpang Kencur
didapatkan hasil penepisan fitokimia Rimpang Kencur positif mengandung
tanin dan negatif pada uji saponinnya.
Berdasarkan uji kualitatif yang dilakukan ekstrak kencur tidak
mengandung tanin dan saponin, dikarenakan beberapa faktor seperti
lingkungan tempat tumbuh, waktu panen, metode ekstraksi dan pelarut
yang digunakan serta masalah teknis dalam pengujian.
IV.2.5 Hasil Uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Pada pengujian kromatografi lapis tipis rimpang kencur dilarutkan
dalam 4 vial berbeda sesuai denga pelarut yang digunakan pada saat
partisi. Pada vial pertama di isi ekstrak kencur kasar yang dilarutkan
dalam pelarut awalnya (etanol 70%), vial kedua ekstrak hasil partisi
dengan pelarut n-heksan, vial ketiga ekstrak hasil partisi dengan pelarut
kloroform dan vial keempat ekstrak hasil partisi pelarut etil asetat.
Lalu dibuat eluen sebanyak 10 mL untuk pengujian KLT yang dimana
pada praktikum kali ini menggunakan dua lempeng dan dua chamber,
eluen yang digunakan adalah n-heksan : etil asetat dengan perbandingan
4:1 dan Klofororm : etanol dengan perbandingan 7:3. Masing-masing
eluen dijenuhkan terlebih dahulu dengan kertas saring dalam chamber
yang telah terisi eluent. Untuk pengujian KLT digunakan lempeng silika
gel. Ekstrak yang telah dilarutkan terlebih dahulu kemudian ditotol pada
lempeng yang telah diberi tanda sebelumnya kemudian di masukkan
kedalam chamber dengan eluen yang telah dijenuhkan dan dilihat noda

28
yang tampak pada KLT. Noda yang tampak kemudian di lihat dengan
menggunakan sinar UV 254 dan UV 366.
Berdasarkan hasil pengamatan, pada noda ekstrak kasar dan
ekstrak etanol dan ekstrak etil asetat terlihat dua penampakan noda. Hal
ini diduga pada ekstrak mengandung lebih dari satu senyawa polar yang
kemungkinan ikut tertarik bersama pelarut. Sedangkan pada noda ekstrak
n-heksan terdapat tiga noda dimana diduga terdapat lebih banyak
senyawa non polar yang ikut tertarik dengan pelarut, dan untuk ekstrak
kloroform hanya satu noda yang teradapat hal ini diduga hanya sedikit
senyawa yang tertarik didalam pelarut. sedangkan untuk noda yang
berukuran besar diduga karena volume totolan sampel terlalu banyak.

29
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan,dapat disimpulkan bahwa :
1. Proses ekstraksi rimpang kencur dilakukan dengan ekstraksi cara
dingin yaitu maserasi dengan pelarut etanol 70% selama 3 hari sambil
sesekali dilakukan pengadukkan pada suhu kamar. Maserat diuapkan
dari pelarutnya lalu diperoleh ekstrak etanol yang kental dengan bobot
66.7 gram dengan persen rendemen 6.063%.
2. Ekstrak etanol rimpang kencur difraksinasi dengan menggunakan
pelarut etil asetat, kloform dan n-hexan dan diperoleh fraksi etil asetat,
kloroform dan n-hexan. Fraksi fraksi tersebut kemudian diidentifikasi
dengan KLT diketahui tidak mengandung saponin dan tanin.

V.2. Saran
Perlu dilakukan percobaan ekstraksi dengan menggunakan metode
ekstraksi yang lain dengan pelarut yang berbeda dan dilakukan pengujian
dengan alat dan bahan yang lebih memadai.

30
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1978. Materia Medika Indonesia. Jilid I-IV. DEPKES RI.


Jakarta.

Agoes, Goeswin. 2009. Teknologi BahanAlam Edisi Revisi. ITB.


Bandung

(Cymbopogon nardus (L.) Rendle) Sebagai Antioksidan Alami.


Samarinda: Jurusan kimia FMIPA; 2009.)

Gholib, Djaenudin. 2009. Daya Hambat Ekstrak Kencur (Kaempferia


galanga L.) Terhadap Trichophyton mentagrophytes dan Cryptococcus
neoformans Jamur Penyebab Penyakit Kurap Pada Kulit dan Penyakit
Paru. Bul. Littro, Vol. 20 No. 1, 59-67: Bogor

Hasanah, A.N, dkk. 2011. Analisis Kandungan Minyak Atsiri dan Uji
Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.)
Jurnal Matematika dan Sains, Vol. 16 No. 3: Bandung

Hudha, M.I, dkk. 2013. Minyak Kencur Dari Rimpang Kencur Dengan
Variabel Jumlah Pelarut Dan Waktu Maserasi. Jurnal Teknik Kimia, Vol. 8
No. 1: Malang

Manitto, paolo.1992. Biosintesis Produk Alami. IKIP Semarang


Press. Semarang.

Prasetyo dan Entong Inoriah. 2013. Pengelolaan Budidaya Tanaman


Obat-Obatan. Cetakan I. Badan penerbitan fakultas pertanian UNIB.
Bengkulu.

Rukmana, Rahmat. 1994. Kencur. Kanisius. Yogyakarta

Ibnu, G & Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar.


Yogyakarta

Widyaningrum, H. 2011. Kitab Tanaman Obat. MedPress. Yogyakarta


Sudarsono, dkk,. 2006. Tumbuhan Obat. Pusat Obat Tradisional UGM.
Yogyakarta

31
LAMPIRAN

Lampiran 1. Skema Pembuatan Simplisia Rimpang Kencur

Pengumpulan sampel rimpang kencur

Sortasi basah

Pencucian

Perajangan

Pengeringan dengan cara di angin-anginkan

Sotasi kering

Penghalusan

Pengayakan dengan ayakan 60 mesh

Pembuatan ekstrak kulit pohon faloak

32
Lampiran 2. Pembuatan Ekstrak Etanol Rimpang Kencur

Ditimbang 550 g serbuuk simplisia


rimpang kencur

Dimasukkan ke dalam bejana maserasi

Ditambahkan etanol 70% hingga


terendam sepenuhnya, ditutup

Setelah 3 hari diserkai

Diangin-anginkan

Ekstrak kental rimpang kunyit

33
Lampiran 3. Skema Pembuatan Fraksi Rimpang Kencur

Timbang 5 gram ekstrak Dilarutkan dalam campuran air


etanol 50 ml hingga homogen

Lapisan air bagian bawah Ekstrak air di masukkan


dan lapisan N-Heksan dalam corong pisah,
bagian atas. Lapisan n- tambahkan n-Heksana 50 mL
Heksana di keluarkan lalu gojok ad homogen (diamkan
masukan dalam erlenmeyer hingga terpisah kembali)

Dipartisi 2 kali dengan n- Fraksi air di masukkan lagi


Heksana 50 mL dengan dalam corong pisah,
perlakuan yang sama tambahkan kloroform 50 mL
gojok ad homogen (diamkan
terpisah kembali)

Dipartisi 3 kali dengan Lapisan fraksi air bagian


kloroform 50 mL dengan atas dan lapisan kloroform
perlakuan yang sama bagian bawah. Lapisan
klorofom di keluarkan
masukan dalam Erlenmeyer.

Tambahkan etil asetat 50 mL Dipartisi 3 kali dengan etil


gojok ad homogen (diamkan asetat 50 mL dengan
hingga terpisah kembali) perlakuan yang sama

Fraksi kental n-Heksan, Fraksi cair n-Heksan,


kloroform, etil asetat, dan air kloroform, etil asetat , dan air
yang dihasilkan kemudian
dipekatkan (diangin-
anginkan)
34
Lampiran 4. Skema Skrining Fitokimia

Uji Kualitatif

Uji Flavonoid Uji Saponin

Uji Tanin Uji Alkaloid

35
Lampiran 5. Skema Pengujian KLT

Uji KLT

Pembuatan Lempeng KLT Pembuatan Cairan


Pengelusi

Penotolan sampel,
Penjenuhan, dan Elusi

36
Lampiran 6. Lampiran Gambar

Gambar 1. Simplisia Gambar 2. Proses Ekstraksi

Gambar 3. Ekstrak Kental Gambar 4. Uji Orientasi Pelarut


Rimpang Kencur

37
Gambar 5. Proses Partisi ECC Gambar 6. Hasil Partisi

Gambar 7. Uji Identifikasi Ekstrak Gambar 8. Uji Larut Ekstrak


Rimpang Kencur Rimpang Kencur

38
Gambar 9. Penotolan Sampel

Gambar 10. Spot Noda pada UV254 dan UV366

39