Anda di halaman 1dari 24

IDENTITAS BUKU

1. Judul buku : Pengantar Filsafat Pendidikan


2. Pengarang : Drs. H. M. Djumransjah, M. Ed
3. Penerbit : Bayumedia Publishing
4. Tahun Terbit : 2004
5. Kota Terbit : Malang
6. Tebal Buku : 207 Halaman
7. ISBN : 979-3695-10-2

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap buku yang ditulis atau dibuat pada dasarnya memiliki keunikan
masing masing, kelebihan serta memungkinkan adanya kekurangan. Sehingga
buku yang tulis oleh para penulis belum sepenuhnya sempurna untuk dipelajari.
Untuk menanggulanginya, maka di perlukanlah buku lain yang berkaitan dengan
materi tersebut, agar dapat melengkapi kekurangan yang ada pada buku satu tadi.
Terlepas dari itu semua, kita haruslah berterima kasih kepada para penulis buku,
karena dengan itu mereka dapat memberikan atau membagikan ilmu mereka
kepada kita.
Dari uraian di atas, maka saya membuat critical book ini tidak lain untuk
melihat kelebihan, kekurangan, serta apa yang harus dibenahi oleh buku tersebut.
Critical book ini dibuat juga untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Filsafat
Pendidikan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa kekurangan dan kelebihan dari setiap bab pada buku tersebut?
2. Apa saja konstribusi dari setiap bab pada buku tersbeut dalam
menyampaikan suatu materi?

1.3 Tujuan Pembuatan Makalah


1. Mengetahui informasi yang terkandung terkait materi yang ada pada buku.
2. Mencari kelebihan dan kekurangan yang ada pada buku.
3. Mencari tahu konstribusi dari isi buku dalam menyampaikan suatu materi.

2
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

BAB I : PENGERTIAN DAN KEDUDUKAN FILSAFAT DALAM ILMU


PENGETAHUAN DAN KEHIDUPAN MANUSIA
A. Pengertian Filsafat
Filsafat merupakan ilmu tertua yang menjadi induk ilmu pengetahuan lain.
Hal itu, sebagaimana diungkapkan oleh John S. Brubacher yang artinya, filsafat
berasal dari bahasa Yunani yaitu Philos dan Shopia yang berarti cinta
kebijaksanaan atau belajar. Lebih dari itu, dapat diartikan cinta belajar pada
umumnya hanya ada dalam filsafat. Untuk alasan tersebut, maka sering dikatakan
bahwa filsafat merupakan induk atau ratu ilmu pengetahuan.
Jadi, uraian tentang pengertian filsafat ditinjau dari segi arti bahasanya
dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah :
1. Pengetahuan tentang kebijaksanaan,
2. Mencari kebenaran, dan
3. Pengetahuan tentang dasar dasar atau prinsip prinsip.

B. Kedudukan Filsafat Dalam Ilmu Pengetahuan Dan Kehidupan Manusia


1. Kedudukan Filsafat dalam Ilmu Pengetahuan
Dalam ilmu pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan sentral, dan asal
atau pokok. Karena, filsafat pada awalnya merupakan satu-satunya usaha manusia
dibidang kerohanian untuk mencapai kebenaran pengetahuan. Ilmu pengetahuan
itu menerima dasarnya dari filsafat, dengan rincian sebagai berikut.
1) Setiap ilmu pengetahuan mempunyai objek dan problem.
2) Filsafat juga memberikan dasar dasar yang umum bagi semua ilmu
pengetahuan, dengan dasar yang umum itu dirumuskan keadaan dari ilmu
pengetahuan.
3) Filsafat memberikan dasar dasar khusus yang digunakan dalam tiap
tiap ilmu pengetahuan.
4) Dasar yang diberikan oleh filsafat yaitu mengenai sifat sifat ilmu dari
ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan memperoleh sifat ilmu, kalau

3
memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh filsafat. Artinya, tidak
mungkin setiap ilmu meninggalkan dirinya sebagai ilmu pengetahuan,
dengan meninggalkan syarat yang telah ditentukan oleh filsafat.
5) Filsafat juga memberikan metode atau cara kepada setiap ilmu
pengetahuan.

2. Kedudukan Filsafat dalam Kehidupan Manusia


Filsafat sebagai suatu ikhtiar berpikir, bukan berarti untuk merumuskan
suatu doktrin final, konklusif, dan tidak bisa diganggu gugat. Dia bukan sekedar
idealis seperti apa yang kita alami sebagai realita. Demikian pula filsafat dalam
coraknya yang relegius, bukan berarti disamakan dengan agama atau pengganti
kedudukan agama, walaupun filsafat dapat menjawab segala pertanyaan atau soal
soal yang diajukan.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kedudukan filsafat dalam
kehidupan manusia adalah sebagai berikut.
1. Memberikan pengertian dan kesadaran kepada manusia akan arti
pengetahuan tentang kenyataan yang diberikan oleh filsafat.
2. Berdasarkan atas dasar dasar hasil kenyataan, maka filsafat memberikan
pedoman hidup kepada manusia. Pedoman itu mengenai sesuatu yang
terdapat di sekita manusia sendiri, seperti kedudukan dalam hubungannya
dengan yang lain. Kita juga mengetahui bahwa alat alat kewajiban
manusia meliputi akal, rasa, dan kehendak. Dengan akal, filsafat
memberikan pedoman hidup untuk berpikir guna memperoleh pengetahuan.
Dengan rasa dan kehendak, maka filsafat memberikan pedoman tentang
kesusilaan mengenai baik dan buruk.

BAB II : PENGERTIAN PENDIDIKAN DAN FILSAFAT PENDIDIKAN


SERTA PERANANNYA
A. Pengertian Pendidikan
Dalam pengertian yang sederhana dan umum, makna pendidikan sebagai
usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi potensi

4
pembawaan, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai nilai yang ada
dalam masyarakat dan kebudayaan.
Berdasarkan beberapa pengertian pendidikan, maka terdapat beberapa ciri
atau unsur umum dalam pendidikan, yaitu :
1. Pendidikan mengandung tujuan yang ingin dicapai.
2. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan perlu melakukan usaha yang
disengaja terencana untuk memilih isi, strategi, dan teknik penilaian.
3. Kegiatan tersebut dapat diberikan di lingkungan keluarga, sekolah, dan
masyarakat.

B. Seluk Beluk Filsafat Pendidikan


Lahirnya konsep dan rumusan filsafat pendidikan, didasarkan atas
beberapa pertimbangan yang merupakan pokok pokok pikiran. Pokok pokok
pikiran tersebut merupakan asumsi dasar atau dasar alasan untuk mengatakan
tentang kemungkinan lahirnya filsafat pendidikan sebagai suatu cabang ilmu yang
berdiri sendiri. Yang selanjutnya kita terima sebagai pedoman pelaksanaan
pendidikan dan pengajaran yang harus dipelajari dan diketahui oleh setiap
pendidik atau guru.
Filsafat pendidikan yang lahir dan menjadi bagian dan rumpun konsep
ilmu pendidikan sebagai ilmu pengetahuan normatif, merupakan disiplin ilmu
yang merumuskan kaidah kaidah, norma, atau nilai yang akan dijadikan ukuran
tingkah laku manusia yang hidup di tengah tengah masyarakat. Selanjutnya,
filsafat pendidikan yang lahir dari ilmu pendidikan sebagai ilmun pengetahuan
praktis mengandung maksud, bahwa tugas pendidikan sebagai aspek kebudayaan
mempunyai tugas untuk menyalurkan nilai nilai hidup.

C. Pengertian Filsafat Pendidikan


Untuk menjawab pertanyaan tentang apa itu filsafat pendidikan, terdapat
dua pendekatan yaitu sebagai berikut.
1. Pendekatan (hampiran) tradisional.
2. Pendekatan (hampiran) yang bersifat kritis.

5
Pendekatan pertama digunakan untuk memecahkan problem kehidupan
manusia sepanjang perkembangannya. Sedangkan, pada pendekatan kedua,
digunkan untuk memecahkan problematika pendidikan masa kini.
1. Filsafat Pendidikan Bermakna sebagai Filsafat Tradisional
Filsafat pendidikan yang menggunakan filsafat tradisional dalam
bentuknya yang murni, bahwa dialog filsafat dengan topik topik yang
disampaikan terikat oleh metode pendekatan tradisional sebagaimana adanya
sistematika, jenis, serta aliran. Dalam perkembangan tradisi sejarah, filsafat
memang sekadar program usulan atau bandingan usulan, di mana tradisi tersebut
bermula. Menurut aliran tradisional, bagaimana pun sulitnya masalah metafisika
tetap narus ditempatkan sebagai pusat perhatian dalam setiap bahasan filsafat
pendidikan.
2. Filsafat Pendidikan dengan Menggunakan Pendekatan yang Bersifat Kritis
Dalam pendekatan ini, pemikiran logis kritis mendapatkan tempat utama.
Pertanyaan pertanyaan yang diajukan dapat disusun dan tidak terikat periodisasi
waktu, serta dapat menerapkan analisis yang dapat menjangkau waktu saat dan
masa datang. Cara analisis dalam pendekatan filsafat yang bersifat kritis, yaitu :1)
analisis bahasa (linguistik), dan 2) analisis konsep.
Analisis bahasa, menurut Harry S. Schofield adalah usaha untuk
mengadakan interpretasi yang menyangkut pendapat, atau pendapat pendapat
mengenai makna yang dimilikinya. Sedangkan, analisis konsep adalah suatu
analisis mengenai istilah istilah yang mewakili gagasan atau konsep.

D. Peranan Filsafat Pendidikan


Pendidikan adalah sebagai pelaksanaan dari ide ide filsafat. Dengan kata
lain, ide filsafat telah memberikan asas sistem nilai dan atau normatif bagi
peranan pendidikan yang telah melahirkan ilmu pendidikan, lembaga lembaga
pendidikan, dan dengan segala aktivitasnya. Sehingga, dapat dikatakan, bahwa
filsafat pendidikan sebagai jiwa, pedoman, dan sumber pendorong adanya
pendidikan, itulah antara lain peranan filsafat pendidikan.
1. Aliran Empirisme

6
Kata empirisme berasal dari kata empiri yang berarti pengalaman.
Menurut teori ini, kepribadian didasarkan pada lingkungan pendidikan yang
didapatnya, atau perkembangan jiwa seseorang semata mata bergantung pada
pendidikan.
2. Nativisme dan Naturalisme
Nativisme adalah aliran yang menganut salah satu ajaran filsafat idealisme.
Pendidikan menurut aliran ini tidak mempunyai kekuatan sama sekali. Apa yang
patut dihargai dari pendidikan atau manfaat yang diberikan oleh pendidikan, tidak
lebih dari sekedar memoles permukaan peradaban dan tingkah laku sosial.
Naturalisme disebut juga aliran negativisme, karena berpandnagan bahwa
pendidik hanya wajib membiarkan pertumbuhan anak didik saja dengan
sendirinya, dan selanjutnya diserahkan kepada alam.
3. Teori Konvergensi
Aliran ini mengatakan bahwa pendidikan itu serba mungkin diberikan
kepada anak didik. Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan
kepada anak untuk mengembangkan pembawaan yang baik dan mencegah
pembawaan yang buruk. Hasil pendidikan tergantung pada pembawaan
lingkungan.

BAB III : PROBLEMA POKOK FILSAFAT DAN PENDIDIKAN


A. Objek Dan Sudut Pandang Filsafat
Pandangan kita terhadap filsafat adalah positif dan konstruktif. Filsafat
memang mempunyai hubungan dengan kehidupan manusia, karena dari
kehidupan itulah kita menggali filsafat. Jadi, filsafat mempunyai dasar atau gejala-
gejala dari persoalan.
Kemudian, apakah objek filsafat? Jawabnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Objek materi filsafat terdiri atas tiga persoalan pokok.
b. Masalah Tuhan, yang sama sekali di luar atau di atas jangkauan
ilmu pengetahuan biasa.
c. Masalah alam yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu
pengetahian biasa.

7
d. Masalah manusia yang juga belum atau tidak dapat dijawab oleh
ilmu pengetahuan biasa.
2. Objek forma filsafat, yiatu mencari keterangan sedalam dalamnya,
sampai ke akarnya persoalan, sampai kepada sebab sebab terakhir
tentang objek materi filsafat, sepanjang kemungkinan yang ada pada akal
budi manusia.
Dari setiap persoalan pokok besar di atas, juga masih diselidiki oleh
filsafat, misalnya kita mengambil manusia sebagai objek. Manusia, jika kita lihat
dari segi jiwanya saja, maka tumbuhlah filsafat tentang jiwa manusia, yang
disebut Psychology.
Selanjutnya, ilmu pengetahuan itu sendiri menjadi objek filsafat, yakni
filsafat ilmu pengetahuan. Di dalam sejarah pemikiran teori pengetahuan menjadi
sistem filsafat yang membicarakan masalah masalah tentang asal, sifat, kondisi
pengetahuan, dan sebagainya.
Yang berhubungan dengan alat kejiwaan yang lain adalah rasa, maka
timbullah filsafat yang disebut estetika. Mengenai kehendak (alat kejiwaan yang
lain), timbullah filsafat tentang perbuatan manusia yang didorong oleh kehendak
berupa tindakan tindakan susila yang disebut etika. Hasil dari usaha manusia
menyangkut akal, rasa, dan kehendak dapat dijadikan satu, yang disebut filsafat
kebudayaan. Sedangkan filsafat tentang hidup kemanusiaan, disebut filsafat
antropologi.

B. Sikap Manusia Terhadap Filsafat


Untuk memudahkan peninjauan filsafat pendidikan, terlebih dahulu akan
diketahui bagaimana pandangan, pendirian, dan atau sikap orang orang terhadap
filsafat. Sesuai dengan macam macam dan perbedaan pengertian mereka
terhadap arti kata filsafat, maka dapat digolongkan sebagai berikut.
1. Pandangan yang berpendapat bahwa apabila mendnegar kata filsafat
maka terbayanglah di hadapan mereka tentang sesuatu yang ruwet dan
sulit. Mereka berpendapat aliran filsafat merupakan sesuatu alam abstrak,
yaitu alam yang dalam dan luas yang hanya dapat dipelajari oleh orang
orang tertentu saja. Pandangan ini bersifat pesimis terhadap kesanggupan

8
dirinya untuk berkecimpung dalam alam filsafat, dan menyerah begitu saja
sebelum berusaha.
2. Pandnagan yang bersifat skeptis, yakni orang orang yang berpendapat
bahwa berfilsafat adalah suatu perbuatan yang tidak ada gunanya.
Golongan ini memandang berfilsafat tidak ada gunanya, karena mereka
belum mengerti arti filsafat yang sebenarnya.
3. Pandangan yang bersifat negatif karena mengambil manfaat secara negatif,
dengan mengatakan bahwa berfilsafat berarti bermain api, karena
berfilsafat dianggap tidak baik, tidak boleh, dan berdosa. Pandangan
tersebut dapat dikelompokkan pada pandangan negatif ini, karena
pengertian filsafat hanya dibatasi pada pengertian mencari hakikat Tuhan.
Hal itu merupakan perbuatan yang salah dan terlarang dalam agama,
karena mencari hakikat Tuhan dianggap tidak mengenal batas batas.
4. Golongan yang memandang dari sudut yang positif, yakni filsafat adalah
suatu lapangan studi, tempat malatih akal untuk berpikir. Jadi, setiap orang
mempunyai kemungkinan untuk dapat berfilsafat atau menjadi seorang
filosof apabila berfilsafat dilakukan dengan menggunakan sistem dan
secara radikal tentang kenistaan.

C. Problem Esensial Filsafat Dan Pendidikan


Dalam tinjauan dari segi sistematik ini filsafat berhadapan dengan tiga
problem utama, yaitu :
1. Realita ialah mengenai kenyataan, yang selanjutnya menjurus kepada
masalah kebenaran. Realita atau kenyataan ini dipelajari oleh metafisika.
2. Pengetahuan, berusaha menjawab pertanyaan pertanyaan, seperti apa hak
pengetahuan, cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan itu,
dan jenis jenis pengetahuan. Pengetahuan dipelajari oleh epistemology.
3. Nilai, dipelajari oleh cabang filsafat yang disebut aksiologi. Pertanyaan
yang dicari jawabnya, antara lain nilai nilai yang bagaimanakah yang
dikehendaki oleh manusia dan yang dapat digunakan sebagai dasar
hidupnya.

9
Nilai nilai dalam pendidikan bersumber pada filsafat atau ajaran filsafat,
yang telah berakar dalam sosio cultural atau kepribadian suatu bangsa, yang akan
tumbuh sebagai realita dan filsafat hidup. Jadi jelas, bahwa ide ide filsafat
menentukan pendidikan. Pendidikan juga menghadapi persoalan persoalan yang
tidak mungkin dijawab dengan menggunakan analisis ilmiah semesta, tetapi
memerlukan analisis dan pemikiran yang mendalam atau analisis secara filosofis
pula, contohnya seperti di bawah ini.
1. Apakah pendidikan itu bermanfaat atau berguna membina kepribadian
manusia atau tidak? Apakah potensi hereditas yang menentukan
kepribadian ataukah faktor luar? Mengapa anak yang potensi hereditasnya
relative baik, tanpa pendidikan dan lingkungan yang baik tidak mencapai
perkembangan kepribadian sebagaimana diharapkan?
2. Apakah tujuan pendidikan itu sesungguhnya? Apakah pendidikan itu
berguna bagi individu sendiri atau untuk kepentingan sosial; apakah
pendidikan itu dipusatkan bagi pembinaan manusia pribadi, ataukah
masyarakatnya?
3. Apakah hakikat masyarakat itu, dan bagaimanakah kedudukan individu di
dalam masyarakat? Apakah pribadi itu independen ataukah dependen di
dalam masyarakat? Apakah hakikat pribadi manusia itu, manakah yang
utama?
4. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang ideal, apakah pendidikan
(curriculum) yang diutamakan, yang relevan dengan pembinaan
kepribadian, sehingga cakap memangku suatu jabatan di masyarakat?
5. Bagaimana atas penyelenggaraan pendidikan yang baik, sentralisasi,
disentralisasi, atau otonomi? Oleh negara ataukah oleh swasta?

BAB IV : PROSES HIDUP SEBAGAI DASAR FILSAFAT PENDIDIKAN


A. Proses Pendidikan Bersama Perkembangan Proses Kehidupan
Dengan mengambil pengertian pendidikan secara luas berarti masalah
kependidikan mempunyai ruang lingkup yang luas pula, meliputi seluruh aspek
hidup dan kehidupan manusia atau sepanjang pengalaman yang dalam seseorang
sejak ia dilahirkan hingga berpisah dengan dunia kehidupan atau mati. Seseorang

10
mulai mendapatkan pendidikan sejak memperoleh pengalaman dalam
lingkungannya, terutama lingkungan keluarga di mana anak dilahirkan dalam
keadaan lemah tidak berdaya.
Dapat dipahami bahwa proses pendidikan berlangsung bersama dengan
proses hidup dan kehidupan sesorang untuk seumur hidup (life long education).
Oleh karena itu, pendidikan mempunyai kedudukan sebagai bagian yang tidak
dapat dipisahkan dengan hidup dan kehidupan manusia. Sebagaimana
dikemukakan oleh John Dewey dalam analisisnya di bawah ini, pendidikan itu
sebagai :
1. Salah satu kebutuhan hidup,
2. Salah satu fungsi sosial,
3. Bimbingan,
4. Sarana pertumbuhan, dan
5. Mempersiapkan, mengembangkan, dan membentuk kedisiplinan.
Jadi, pendidikan merupakan suatu aktivitas manusia terhadap manusia dan
untuk manusia, atau yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia
dengan segala problematikanya.

B. Proses Hidup Manusia Dengan Filsafat Pendidikan


Di dalam kehidupan manusia yang sederhana, mereka berusaha payah dan
penuh kesulitan yang beragam dalam menghadapi perjuangan hidup, bersama
dengan hewan dan makhluk lainnya dalam memperebutkan makanan dan tempat
tinggal. Dalam hati mereka, mungkin juga timbul pertanyaan sebagaimana
dilukiskan oleh H.V. Loon secara filosofis dalam bukunya, The Story Of Mankink
(Sejarah Umat Manusia), sebagai berikut.
Kita hidup di bawah bayangan suatu tanda tanya yang amat besar.
Siapakah kita?
Dari mana kita datang?
Ke mana kita akan pergi?
Perlahan lahan, tetapi dengan keberanian yang gigih kita telah
berusaha mendorong tanda tanya itu, terus dan terus kea rah garis yang

11
lebih jauh lagi, melampaui garis ufuk, di mana kita mengharapkan untuk
mendapatkan jawaban pertanyaan kita.
Kita tidak akan pergi begitu jauh.
Kita masih mengetahui sedikit sekali, akan tetapi kita telah mencapai titik
di mana (dengan suatu derajat ketepatan yang wajar) kita dapat menduga
pada banyak hal.

Oleh karena itu, wajib bagi manusia menyadari dengan sungguh


sungguh akan pertanyaan pertanyaan seperti yang diajukan tadi, dan mencarikan
jawabannya secara filosofis pula. Dan inilah yang merupakan inti permasalahan
filsafat meliputi umat manusia di jagad raya ini, sejak zaman purba hingga pada
abad cybernetic sekarang ini, yang berkembang dalam otak dan pikiran manusia.
Proses pemikiran manusia seperti ini dalam kehidupan manusia, juga mendasari
perkembangan filsafat pendidikan atau sebagai dasar filsafat pendidikan.
Dalam perkembangan sejarah umat manusia, maka tampillah manusia
manusia unggul yang mengadakan perenungan, pemikiran, penganalisisan
terhadap problem hidup dan kehidupan, dan alam semesta. Yang kemudian
melahirkan beberapa aliran filsafat, sofisme, filsafat klasik yang kemudian
memberikan pengaruh di dalam pendidikan. Dengan adanya kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, maka apakah sistem pendidikan, teori pendidikan,
peralatan pendidikan, filsafat pendidikan, dan sebagainya telah dapat menjawab
tantangan zaman dan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi dunia sekarang ini.
Inilah masalah masalah pendidikan di dunia internasional dan juga menjadi
milik kita untuk dicarikan pemecahannya.
Untuk memberikan jawaban atas problematika pendidikan di dunia
internasional yang juga berlaku di Indonesia tersebut maka tanggung jawab kita
bertambah berat, dan beberapa usaha telah dilaksanakan dalam rangka mencapai
tujuan nasional pendidikan kita (bidang garapan filsafat pendidikan). Berbagai
jenis sekolah dan perguruan tinggi telah kita dirikan, sesuai dengan suasana baru
pendidikan agar kita tidak tertinggal jauh dengan negara negara lain, yang sudah
maju pendidikannya. Kurikulum pendidikan telah beberapa kali disempurnakan,
cara berpikir masyarakat telah berubah maju. Sistem, teori, dan filsafat pendidikan
telah disesuaikan. Dengan situasi pendidikan kondisi abad komputer dan

12
teknologi (cybernetica) sehingga dengan dunia pendidikan kita sendiri akan
melahirkan generasi baru Indonesia, yaitu manusia yang cerdas dan bertakwa
kepada Allah.

BAB V : TUJUAN HIDUP DAN TUJUAN PENDIDIKAN


A. Manusia dan Tujuan Hidupnya
Manusia adalah satu jenis makhluk hidup yang menjadi anggota populasi
permukaan bumi ini. Ia adalah suatu himpunan yang memiliki ciri khas yang tidak
dimiliki oleh sekian juta makhluk hidup lainnya. Manusia, selama ia hidup selalu
berusah dan berjuang untuk memanfaatkan alam sekitarnya dengan cara
menggunakan daya dan tenaga alam untuk kepentingan dirinya.
Disini, pendidikan memberikan makna yang luas dan dalam bagi
perubahan hidup manusia secara individu dan social, mulai dari masyarakat
primitive hingga masyarakat modern, dan kehidupan yang dianggap paling sulit
pada zaman purbakala sampai abad teknologii sekarang ini.
1. Tujuan Hidup Manusia Mengalami Proses Perkembangan
Kehidupan manusia sebagaimana dijelaskan tadi, memerlukan perjuangan
yang keras untuk mempertahankan hidup dalam suasana serba sulit, serba
ketakutan, sengsara, dan tidak merasakan kebahagiaan. Sehingga, tujuan hidup
mereka tidak begitu jelas, atau hampir tidak ada sama sekali. Namun, mungkin
pendidikan dalam pengertian sempit sudah berlangsung bagi manusia pada saat
itu, yakni mengajarkan bagaimana menghadapi hidup berjuan untuk menghadapi
serangan binatang buas, dan sebagainya.
Kini manusia sudah berada pada abad cybernetica, yakni abad ilmu
pengetahuan dan teknologi. Maka, manusia merasa lebih mudah, cepat, dan lebih
merasakan kenikmatan dalam usahanya memenuhi kebutuhan hidup yang belum
pernah dicapai berabad abad sebelumya.
2. Tujuan Hidup Bangsa Indonesia
Pendiri Republik ini telah merumuskan secara jelas tujuan dan cita cita
hidup sebagai bangsa dan negara Indonesia. Karena suatu bangsa yang ingin
berdiri kokoh dan kuat harus mempunyai tujuan hidup yang dicita citakan. Sejak

13
negara Indonesia merdeka, tujuan itu telah ada dan jelas sebagaimana tercantum
dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945.
Tujuan dan cita cita yang ingin dicapai untuk membangun manusia
Indonesia seutuhnya dan seluruh masyarakat Indonesia, tidak akan mungkin
tercapai dalam beberapa tahun, atau beberapa Repelita, atau dalam satu dua
generasi. Yang lebih penting adalah semua upaya pembangunan harus diarahkan
sedemikian rupa, sehingga setiap tahap semakit dekat, dan setiap generasi
mewariskan kepada generasi berikutnya keadaan yang makin mendekati tujuan
tersebut.
3. Tujuan Hidup Manusia Menurut Pandangan Islam
Untuk mennetukan tujuan hidup harus dipahami terlebih dahulu untuk apa
sebenarnya manusia hidup, atau diturunkan Allah ke muka bumi ini menurut
Islam.
Adapun tujuan Allah menjadikan manusia terdapat dalam Surat Al-
Baqarah : 21 yang artinya Hai manusia, beribadahlah kepada Tuhan karena
kamu yang telah menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu, supaya
kamu menjadi takwa kepada Allah.
Sesuai degan pengertian ayat tadi, maka tujuan hidup manusia dan orang
orang yang beriman ialah beribadah atau mengabdi kepada Allah. Sehingga,
menjadi orang yang taat dan mengabdi kepada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha
Pencipta Alam Semesta ini.
Jika tujuan hidup sudah disadari, berarti segala fasilitas dan sarana
disediakan dan digunakan untuk kepentingan tersebut. Dengan kata lain, semua
fasilitas dan sarana tersebut hendaknya selalu ditujukan untuk kepentingan
mengabdikan diri kepada Allah.
B. Tujuan Pendidikan
Setiap kegiatan pendidikan merupakan bagian dari suatu proses yang
diharapkan untuk menuju ke suatu tujuan , dan tujuan tujuan ini ditentukan oleh
tujuan tujuan akhir. Sebagai contoh dapat dikemukakan sebagai berikut.
Tujuan pendidikan di Indonesia
Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjaid manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

14
berakhlak mulia, dehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
demokratis serta bertanggung jawab.
1. Fungsi Tujuan Pendidikan
Menurut Brubacher tujuan pendidikan melaksanakan tiga fungsi penting
yang bersifat normative yaitu sebagai berikut
Tujuan pendidikan memberi arah pada proses yang bersifat edukatif
Tujuan pendidikan tidak selalu memberi arah pada pendiidkan, tetapi harus
mendorong atau memberikan kativasi sebaik mungkin
Tujuan pendidikan mempunyai fungis untuk memberikan pedoman atau
menyediakan kriteria kriteria dalam menilai proses pendidikan
2. Cara Menentukan Tujuan Pendidikan
Menurut John S. Brubacher dalam meetapkan tujuan pendidikan dapat
ditempuh tiga cara atau pendekatan yaitu sebagai berikut
A hystorical analysis of social instutions approach
A sociological analysis of current life approach
Normative philosopy approach
3. Kriteria Kualifikasi Tujuan Pendidikan
Karakteristik tujuan pendidikan yang baik antara lain sebagai berikut
Suatu tujuan pendidikan harus ditegakkan diatas aktivitas dan keperluan
yang sebenarnya dari orang orang tertentu yang harus dididik
Suatu tujuan harus dapat ditterjemahkan menjadi suatu metode kerjasama
dengan kegiatan kegiatan anak yang sedang mengalami pengajaran.
Para pendidik harus berhati hati terhadap tujuan yang bersifat umum dan
meliputi tujuan akhir.
4. Sasaran Tujuan dan Tujuan Tertinggi dalam Pendidikan
Tujuan pendidikan biasanya dirumuskan sebagai atau dalam bentuk tujuan
akhir (ultimate aims of education), karena dalam tujuan kahir meliputi semua
tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan nasional dalam upaya mewujudkan masyarakat budaya
yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka pendidikan nasional harus
berfungsi sebagai alat pengembangan pribadi, warga negara kedudukan, dan
pengembangan bangsa.

15
BAB VI : FUNGSI PENDIDIKAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
SEBAGAI MAKHLUK BIOLOGIS
A. Fungsi Pendidikan Dalam Hidup dan Kehidupan Manusia
Peranan pendidikan dalam hidup dan kehidupan manusia terlebih dalam
zaman modern sekarang ini dikenal dengan abad cybernetica, pendidikan diakui
sebagai satu kekuatan yang menetukan prestasi dan produktivitas di bidang yang
lain. Seluruh aspek kehidupan memerlukan proses pendidikan yang baik di dalam
maupun maupun diluar lembaga formal.
pendidikan melaksanakan fungsi seluruh aspek kebutuhan hidup untuk
mewujudkan potensi manusia sebagai aktualitas. Sehingga, mampu menjawab
tantangan dan memecahkan masalah masalah yang di hadapi oleh umat manusia
dalam dinamika hidup dan perubahan yang terjadi pada masa masa yang akan
datang
B. Peranan Lembaga Pendidikan
Adanya aktivitas dan lembaga lembaga pendidikan merupakan jawaban
manusia atas problema perkembangan manusia itu sendiri. Jika pendidikan akan
membina bentuk bentuk tertentu dengan tingkah laku tertentu dalam keadaan
tertentu, maka lembaga lembaga pendidikan menghendaki perlakuan tertentu
pula. Jika pendidikan itu dikatakan sebgaia suatu profesi, maka anggota pengelola
pendidikan menekuninya karena dorongan tertentu, demikian pula dalam profesi
profesi lainnya.
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang penting setelah keluarga, yang
berfungsi membantu keluarga untuk mendidik anak anak. Di samping itu,
pendidikan dalam keluarga dan rumah tangga akan memberikan ciri dan watak
tersendiri tentang rasa dan tanggung jawab terhadap pendidikan anak anak
mereka.
C. Pendidikan Adalah Suatu Keharusan Bagi Manusia Sebagai Makhluk
Biologis
Tindakan mendidik adalah hal yang khusus hanya terdapat dalam dunia
kemanusiaan. Salah satu ciri yang paling mendasar tentang gambaean manusia
adlah bahwa manusia itu makhluk yang harus dididik, dapat dididik, dan dapat
pula mendidik.

16
Pendidikan itu berusaha untuk mengembangkan potensi potensi manusia
yang utuh, yang merupakan aspek aspek kepribadian termasuk didalamnya
aspek individualitas, moralitas, seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani
dan antara duniawi serta ukhrowi.
Selama manusia berupaya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan
hidup sejahtera, maka pendidikan teatap menjadi penentu dan menjadi satu
keharusan bagi manusia sebagai makhluk biologis.

BAB VII : DEMOKRASI PENDIDIKAN


A. Pengertian Demokrasi Pendidikan
Demokrai pendidikan dalam pengertian luas patut selalu dianalisis
sehingga memberikan manfaat dalam prakteknkehidupan dan pendidikan yang
mengandunh tiga hal sebagai berikut.
1. Rasa hormat terhadap harkat sesama manusia
Demokrasi pada prindsip ini dianggap sebagai pilar pertama untuk menjamin
persaudaraan dan hak manusia dengan tidak memandang jeis kelamin, umur,
warna kulit, agama, dan bangsa.
2. Setiap manusia memiliki perubahan ke arah pemikiran yang sehat
Dari acuan prinsip inilah timbul pandangan bahwa manusia itu harus dididik,
karena dengan pendidikan itu manusia akan berubah dan berkembang kearah
yang lebih sehat, baik, dan sempurna.
3. Rela berbakti untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama
Kesejahteraan dan kebahagiaan hanya akan dapat tercapai, apbila setiap
warga negara atau anggota masyarakat dapat mengebangkan tenaga atau
pikirannya untuk memajukan kepentingan bersama.

B. Prinsip Prinsip Demokrasi Dalam Pendidikan


Dalam setiap pelaksana pendidikan selalu terkait dengan masalah
masalah dibawah ini.
1. Hak asasi setipa warga negara untuk memperoleh pendidikan
2. Kesempatan yang sama bagi warga negara untuk memperoleh
pendidikan
3. Hak dan kesempatan atas dasar kemampuan mereka.

17
C. Prinsip Prinsip Demokrasi Dalam Pandangan Islam
Acuan pemahaman demokrasi dan demokrasi pendidikan dalam
pandangan ajaran islam rumusannay terdapat dalam Q.S Ay Syara : 38 yang
artinya Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara
mereka mereka dan Hadits Nabi yang artinya menuntut ilmu itu adalah
wajib, wajib bagi setiap muslim (baik pria maupun wanita).

D. Demokrasi Pendidikan di Indonesia


Sebenarnya, bangsa Indonesia telah menganut dan mengembangkan asas
demokrasi dalam pendidikan sejak diproklamasikannya kemerdekaan hingga masa
pembangunan sekarang ini.
Hal itu dapt dilihat pada apa yang terdapat dalam Undang Undang Dasar
1945 pasal 31, Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan yang
terdapat dalam Pasal 4, dan Garis Garis Besar Haluan Negara (GBHN) di sector
pendidikan.

BAB VIII : ALIRAN ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN


A. Aliran Progresivisme
Progresivisme identic dengan eksperimentalisme, yang berarti aliran ini
menyadari dan mempraktikkan eksprerimen adalah alat utama untuk menguji
kebenaran suatu teori dan suatu ilmu pengetahuan.
Progresivisme selalu menekankan pada tumbuh dan berkembangnya
pemikiran dan sikap mental, baik dalam pemecahan masalah maupun kepercayaan
dari peserta didik.
1. Ciri Ciri Utama Aliran Progresivisme
Aliran ini mempunyai konsep yang mempercayai manusia sebagi subjek
yang memiliki kemampuan dalam menghadapi dunia dan lingkungan hidupnya,
mempunyai kemampuan untuk mengatasi dan memecahkan masalah yang akan
mengancam manusia itu sendiri. Tujuan pendidikan selalu diartikan sebagai
rekonstruksi pengalaman yang terus menerus dan bersifat progresif. Dengan
demikian, progresif merupakan sifat positif dari aliran tersebut.
2. Progresivisme dan Perkembangannya

18
Aliran progresivisme sebagai aliran pemikiran, baru berkembang dengan
pesat pada ke XX, namun garis linear dapat ditarik ke belakangnyahingga pada
zaman Yunani kuno.
Banyak penyumbang pikiran dalam pengembangan proresivisme, seperti
Francis Bacon, John Locke, Rousseau, Kant, Hegel, dan sebagainya. Tokoh
tokoh pelopor progresivisme yang berpengatuh ternyata banyak bermunculan di
Amerika Serikat, antara lain Benjamin Franklin, Thomas Paine, Thomas
Jefferson, John Dewey, dan William James.
3. Progresivisme dan Pendidikan Modern
Progresivisme juga tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang
terpisah, melainkan harus diusahakan menjadi satu unit dan terintegrasi.

B. Aliran Esensialisme
Aliran filsafat pendidikan Esensialisme dapat ditelusuri dari aliran filsafat
yang menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama, karena
kebudayaan lama telah banyak melakukan kebaikan untuk manusia.
1. Ciri Ciri Utama Aliran Esensialisme
Jika progresivisme menganggap pendidika penuh fleksibilitas, serba
terbuka untuk perubahan, tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu, toleran
dan nilai nilai dapat berubah dan berkembang, maka aliran esensialisme ini
mmandang bahwa pendidikan yang bertumpu pada dasar pandangan fleksibilitas
dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah,
modah goyah, kurang terarah, dan tidak menentu serta kurang stabil.
2. Pola Dasar Pendidikan Esensialisme
Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di
dunia dan di akhirat. Isi pendidikannya ditetapkan berdasarkan kepentingan
efektivitas pembinaan kepribadian yang mencakup ilmu pengetahuan yang hatus
dikuasai dalam kehidupan dan mampu menggerakkan keinginan manusia.

C. Aliran Perennialisme
Perennialisme masih memandang penting terhadap peranan pendidikan
dalam proses mengembalikan keadaan maanusia sekaraang kepada kebudayaan

19
masa lampau yang dianggap cukup ideal dan telah teruji kehandalaanya, dalam
menahan arus cultural lag.
1. Ciri Ciri Utama Aliran Perennialisme
Aliran ini memandang keadaan sekarang sebagai zaman yang sedang
ditimpa krisis kebudayaan karena kekacauan, kebingungan, dan kesimpangsiuran.
Adapun jalan yang ditempuh adalah dengan cara regresif, yakni kembali
kepada prinsip umum yang ideal ang dijadikan dasar tingkah pada zaman kuno
dan abad pertengahan.
2. Prinsip Prinsip Pendidikan Perennialisme
Tujuan pendidikan menurut Aristoteles dalah kebahagiaan. Untuk
mencapai tujuan pendidik ini, aspek fisk, intelek, dan emosi harus dikembangkan
secara seimbang, bulat, dan totalitas.
Thomas Aquinas mengemukakan pandangannya tentang tujuan pendidikan
sebagai usaha untuk meujudkan kpaasitas yang ada di dalam diri individu agar
menjadi aktif dan menjadi aktualitas.

D. Aliran Rekonstruksinalisme
Aliran ini sepaham dengan aliran perennialisme dalam menghadaapi krisis
kebudayaan modern. Bedanya cara yang dipakai berbeda dengan yang ditempih
oleh perennialisme.
Aliran rekonstruksionalisme bercita cita untuk mewujudkan suatu dunia
dimana kedaulatan nsional berada dalam pengayoman atau subordinate serta
kedaultan dan otorita internasional. Aliran ini, juga bercita cita mewujudkan dan
melaksanakan satu sintesis, yakni pepaduan ajaran agama (Kristen) dengan
demorasi, teknologi modern, dan seni modern di dalam satu kebudayaan yang
dibina bersama oleh bangsa bangsa di dunia.

20
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Kajian Isi Buku
BAB I :
Pada bab I buku ini, dijelaskan tentang pengertian filsafat, dimana buku ini
menjelaskan secara lengkap define filsafat, tidak hanya dari segi bahasa tetapi
juga dari segi istilah serta dari definisi konsepsional.
Kemudian, pada bab ini juga dibahas tentang kedudukan filsafat dalam
ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia. Kedudukannya di ilmu pengetahuan,
buku ini memberi contoh tentang perkembangan yang dikemukakan oleh Piaget.
Begitu pula untuk kedudukan filsafat di kehidupan manusia, penulis memberikan
contoh dan kemudian menarik kesimpulan.
Pada bab I ini, menurut saya penyampaian yang diberikan oleh buku ini
sudah bagus, karena sangat lengkap dan mudah dimengerti.

BAB II :
Bab ini pertama tama menjelaskan tentang pengertian peendidikan,
penulis memaparkan berbagai pendapat serta ciri atau unsur yang ada pada
pendidikan. Kemudian, buku ini menjelaskan tentang seluk beluk filsafat
pendidikan, dimana dituliskan bagaimana dulunya filsafat pendidikan itu di
negara negara lain, dan pokok pokok pikiran dasar alasan lahirnya filsafat
pendidikan sebagai suatu cabang ilmu yang berdiri sendiri.
Selanjutnya, buku ini menjelaskan tentang pengertian filsafat pendidikan
dengan penyampaian yang panjang lebar serta menjelaskan tentang peranan dari
filsafat pendidikan.
Pada bab II ini, seharusnya penulis dalam menyampaikan materi
pengertian dari filsafat pendidikan, menuliskan bagian bagian yang penting saja
atau kesimpulan dari pendapat pendapat ahli. Karena, pemaparan yangh
disampaikan terlalu banyak sehingga pembaca kebingungan dalam mengartikan
sendiri apa itu filsafat pendidikan.

21
BAB III :
Bab III pada buku ini membahasa tentang objek dan sudut pandang
filsafat, dimana penulis menyampaikan dengan jelas dan tepat mana yang
dikatakan objek dan mana yang dikatakan sudut pandang. Bab ini juga
menyampaikan tentang sikap manusia terhadap filsafat, serta problem esensial
filsafat dan pendidikan dengan sangat jelas yang dilengkapi dengan contoh
contohnya.

BAB IV :
Pada bab IV ini, dibahas mengenai proses pendidikan bersama
perkembangan proses kehidupan. Dari sini, telah dipahami bahwa proses
pendidikan berlangsung bersama dengan proses hidup untuk seumur hidup,
sehingga pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia.
Selanjutnya, bab ini juga membahas proses hidup manusia dan filsafat
pendidikan. Materi ini membahasa tentang perkembangan yang terjadi pada hidup
manusia (dalam segi pikiran) dan juga problematika yang ada pada dunia
pendidikan.

BAB V :
Pada bab V ini, dijelaskan tentang manusia dan tujuan hidupnya. Dimana,
terdapat tujuan hidup manusia mengalami proses perkembangan, tujuan hidup
bangsa Indonesia, dan tujuan hidup manusia menurut pandangan Islam.
Kemudian, bab ini menjelaskan tentang tujuan pendidikan, dimana terdapat fungsi
tujuan pendidikan didalamnya, cara menentukan tujuan pendidikan, kriteria
kualifikasi tujuan pendidikan, serta sasaran tujuan dan tujuan tertinggi dalam
pendidikan
Pada bab V ini, seharusnya penyampaian materi tentang tujuan pendidikan
dijelaskan secara singkat saja tetapi tepat. Karena, penulis memaparkan sangat
banyak sekali sub materi nya. Padahal initi dari materi tersebut adalah tujuan
adanya pendidikan di Indonesia.

22
BAB VI :
Bab VI ini menjelaskan tentang fungsi pendidikan dalam hidup dan
kehidupan manusia. Dari uraian yang dijelaskan, pendidikan itu melaksanakan
fungsi seluruh aspek kebutuhan hidup untuk mewujudkan potensi manusia
sebagai aktualitas. Bab ini juga menjelaskan tentang peranan lembaga pendidikan
beserta contoh, serta menjelaskan tentang pendidikan bagi manusia sebagai
makhluk biologis.
Pada bab VI ini, seharusnya penulis tidak perlu lagi menjelaskan atau
memaparkan tentang fungsi pendidikan. Karena, sudah dijelaskan secara lengkap
pada bab sebelumnya. Begitu pula pada bahasan pendidikan bagi manusia sebagai
makhluk biologis. Menurut saya, bahasan itu sama artinya dengan fungsi
pendidikan.

BAB VII :
Bab VII di buku ini menjelaskan secara sistematis apa itu demokrasi
pendidikan. Pertama, bab ini membahas tentang pengertian, dimana terdapat rasa
hormat terhadap harkat sesame manusia, lalu setiap manusia memiliki perubahan,
dan rela berbakti untuk kepentingan bersama.
Buku ini juga menyampaikan tentang prinsip prinsip demokrasi dalam
pendidikan dan prinsip prinsip demokrasi dalam pandangan Islam. Pembahasan
ini dijelaskan secara rinci hingga ke surah surah Al- Quran serta hadist
hadistnya. Selanjutnya, buku ini menjelaskan tentang demokrasi pendidikan yang
ada di Indonesia.
Pada bab VII ini, saya berpendapat bahwa seharusnya penulis memberikan
penjelasan tentang kaitan materi ini dengan filsafat pendidikan. Dari yang saya
pahami, demokrasi pendidikan hanya berkaitan dengan pendidikan semata, tidak
mencakup filsafat pendidikan.

BAB VIII :
Pada bab VIII atau bab terakhir ini, penulis menyampaikan tentang aliran
aliran dari filsafat pendidikan, dimana terdapat aliran progresivisme, aliran
esensialisme, aliran perennialisme, dan aliran rekonstruksionalisme. Pada bab ini

23
tidak hanya dijelaskan pengertiannya saja, tetapi juga ciri ciri dari setiap
alirannya.
Menurut saya, pada bab ini seharusnya penulis tidak hanya memaparkan
tiga aliran, tetapi semua aliran yang ada pada filsafat pendidikan. Seperti,
idealisme, realisme, materialisme, dan seterusnya.

3.2 Kesimpulan
Buku ini menjelaskan materi yang ada dengan penjelasan yang sangat
lengkap. Karena penulis menjelaskan suatu materi dilengkapi dengan contoh,
sehingga pembaca mudah memahami apa yang coba disampaikan penulis tentang
materi itu. Tetapi, juga terdapat materi yang penyampaiannya berbelit (banyak
kata pengantar), tidak langsung ke inti materi tersebut. Hal ini bisa membuat
pembaca menyimpulkan hal yang yang belum tepat atau bahkan salah jika tidak
membaca sampai selesai atau sampai ke intinya.

3.3 Saran
Secara keseluruhan, buku ini menurut saya layak atau dapat digunakan
sebagai referensi dalam memahami ataupun mempelajari tentang filsafat
pendidikan. Tetapi, lebih baiknya lagi apabila pembaca mencari referensi
tambahan, tidak terpaku hanya dengan satu buku saja. Hal ini dilakukan agar,
kekurangan yang ada dibuku ini dapat di tutupi oleh buku lainnya.

24